Profil Pengusaha Darren Tenkorang
Pengusaha muda Inggris ini memberikan ide bisnis kamu. Dia menciptakan aplikasi jasa berbershop panggilan. Namanya Darren Tenkorang pendiri Trim It berbasis aplikasi smartphone. Trim It punya konsep layaknya aplikasi Uber, dimana kamu bisa memanggil tukang potong ke rumah.
Tinggal pencet langsung tukang cukurnya datang ke rumah. Didirikan oleh pemuda asal London, dia merasakan betul pengalaman tidak menyenangkan. Bayangkan dia sempat "kecukur" karena masalah sepele. Dia kecukur karena sang tukang tengah asik mendukung klub Arsenal.
Aplikasi Barbershop
"Saya harus menunggu berjam- jam dan ada waktu ketika tukang cukur menonton televisi," ia lalu melanjutkan. Arsenal mencetak gol hingga membuatnya melompat. Si tukang cukur bersorak girang dan mencukur rambutnya.
Ini pengalaman buruk sepenjang pengalaman mencukur. Kemudia dia berpikir mau berbuat apa biar tidak terjadi lagi. Bukan cuma pristiwa "kecukurnya" tetapi juga pengalaman menunggu. Dia sudah tidak betah menunggu lama- lama.
Ia membayangkan cukur rambut seperti membuat baju. Bayangkan dijahitkan khusus buat kamu agar cocok. Pengalaman pelayanan khusus buat costumer langsung datang. Darren bahkan membayangkan menaruh barbershop ke belakang van mobil.
Tukang cukur akan berkeliling menjajakan jasa panggilan. Ini terdengar konyol waktu tersebut tetapi sekarang tidak. Model bisnis nampak tidak baru ketika digabungkan teknologi. Ide bisnis konyol ini tidak masuk akal tetapi logis dalam sisi lain.
Ada lima mobil dengan empat orang pegawai tukang cukur. Trim It ternyata sangat menarik hati para pelanggan. Perjalanan tersebut tidak mudah karena pasti muncul turbulensi. Tanggapan masyarakat yang nampak meragukan hingga masalah komplain.
Perkembangan bisnis Darren telah mencakup pemilik barbershop. Aplikasi tidak hanya lagi memberi tukang cukur miliknya. Tujuannya berubah menjadi memberi saran tempat terbaik, terdekat, hingga memberi nilai tambah. Ia ingin meningkatkan penjualan barbershop yang bekerja sama.
Kredibilitas menjadi permasalah utama bagi dirinya. Bayangan model bisnis ini sekarang sudah bisa diterima. Tetapi apakah dia mampu menaikan pendapatan hingga mengganjar loyalitas. Tidak mudah membuat costumer menjadi pelanggan, hingga percaya bahwa tukang cukurnya berkualitas.
Tidak kurang 320 tukang cukur bergabung dari Amerika sampai Spanyol. "Layanan kami seperti hal Deliveroo, atau Uber Eat, tetapi bukannya mengantar makanan, kami mengantar gaya rambut," ia menjelaskan.
Menjajaki Entrepreneurship
Menjadi entrepreneur atau pengusaha sudah menjadi tren baru. Bagi beberapa pria kulit hitam, pergi ke barbershop termasuk bersosialisasi dan nongkrong. Tetapi banyak membuang waktu. Tidak semua orang butuh nongkrong di barbershop; ini bukan kafe karena kamu bisa tercukur.
Dua warga London ini memandang membutuhkan revolusi. Perpindahan fungsi berbershop menjadi tempat nongkrong tidak sehat. Mereka pun memberikan jasa barbershop panggilan via aplikasi. Nanti orang tinggal memanggil, datanglah mobil van hitam, dibuka akan muncul tempat barber mini.
Itu semua nampak sempurna dengan kaca cukur, kursi, peralatan cuci rambut dan gunting. Banyak varian gunting hingga cocok buat bergaya. Pengemudi adalah tukang cukurnya, akan langsung saja mengambil celemek buat potong, bisa pula memakai cliper elektrik jadi bisa cepat.
"Generasi saya menyukai semua kemudahan diatas segalanya, kamu rasakan sendiri," dia semakin yakin.
Darren tumbuh di Brixton, Selatan London, dimana ibunya bekerja sebagai tukang bersih- bersih dan ayahnya satpam. Pemuda keturunan Afrika- Caribian dengan rambut agak afro. Mereka aslinya dari Ghana yang datang pada tahun 1980 di Inggri.
Kedua orang tuanya bermimpi Darren jadi bangkir atau pengacara. Kuliah merupakan opsi terbaik bagi dirinya. Namun, Darren merasa ini tidak benar, susah menentukan pilihan mana. Dia merasa tidak cocok dengan kedua pilihan itu.
Pemikirannya melayang hingga ingin bercukur rambut. Pikiran konyolnya bertemu dengan suatu tempat barbershop. Uniknya sang pemilik sama dengan dirinya keturunan Caribian. "Saya merasakan saya bisa Ok disini, seperti berasa di rumah," ia melanjutkan.
Afro- Caribbean punya rambut unik tidak sekedar keriting. Butuh ahli khusus yang paham akan seluk beluknya. Dia selalu merasa cukurannya bagus bila dikerjakan sang ahli. Ia lebih senang bila tukang cukur mengakui tidak bisa. Banyak orang tidak mau menolak mencukur bila dihadapatkan ini.
Mereka terlalu "sopan" menolak memotong rambut Darren. Hasilnya cukuran yang sangat buruk dan ini masalah. Memilih mengambil jurusan bisnis membuatnya fleksibel. Lulus dia langsung masuk ke dunia asuransi korporasi. Ini setidaknya memberikan apa orang tua harapkan walau berbeda.
Daripada bekerja masuk ke dunia asuransi apalagi perbankan: Darren memiliki pola pikir bebas sehingga lebih condong wirausaha. Apalagi dia merupakan penderita disleksia maka berat. Bekerja di korporasi dianggapnya berat.
Pada awalnya dia hanya mengira- ngira sendiri. Derren lalu mencari opini profesional, hasilnya benar dia memang disleksia, lalu menyampaikan ke orang tua. Ternyata ibunya telah mengetahui masalah tersebut, bahkan sejak sekolah menengah tetapi tidak menyampaikan.
"Dia berpikir kalau memberi tahu saya akan menjadi penghambat," jelasnya.
Ternyata benar dia mengalami ketakutan akan dunia korporasi. Dengan segala angka- angka yang harus dipertanggung jawabkan. Beban tersebut tidak begitu berarti ketika berwirausaha. Ia memilih jalan entrepreneurship. Cepat- cepat Darren memulai membuka usaha tetapi tidak berkembang.
Ia menciptakan aplikasi algoritma menganalisi orang. Darren mencoba membangun aplikasi bimbel buat pelatihan. Ini kemudian berkembang dilanjut mengikuti ajang entrepreneurship. Dia mendapat hadiah tetapi memilih tidak melanjutkan.
Darren ingin membuat bisnis barbershop online. Bayangan waktu remaja potong rambut ke barber melekat. Ia ingin menciptakan layanan spesialis seperti buat Afro- Caribbean. Kemudian meluncur ke sosial media. Dari kecil dia biasa dibawa ayahnya berkunjung ke barbershop seekitar.
Mereka akan dipotong rambut sembari nongkrong. Berjam- jam keduanya duduk ditemani televisi menayangkan sepak bola. Pengalaman menyenangkan hingga ia memasuki masa dewasa. Darren lalu merasakan ini membuang waktu.
"Saya muak harus menunggu dipotong rambut, terutama ketika Jum'at atau Sabtu," ia menjelaskan.
Generasi sekarang menginginkan kecepatan ketika waktu tidak cukup. Mereka ditekan kesibukan di dunia pekerjaan atau menghabiskan waktu di tempat lain. Bila mau nongkrong maka bukanlah tempat cukur rambut.
Maka hadirlah ide aplikasi booking salon terbaik, memilih tukang cukur, hingga gaya rambut. Awal dia berpikir begitu tetapi tidak aplikatif. Apalagi faktanya tidak banyak barber memiliki keahlian yang spesifik. Dia lebih enjoy mempekerjakan orang langsung dan memakai mobil menjadi salon.
Ia tidak sendirian karena bertemu Nana Darko. Bertemu dengan rekannya ini ketika berlomba di Unversity of Sussex. Almameternya memberikan hadiah 10 ribu pound kepada Darren. Kemudian ia mengajak sesama finalis, Nana Darko, mengerjakan proyek tersebut bersama.
Darren meyakinkan Nana bahwa mereka akan kaya. Sang rival sama- sama keturunan Afrika, yang memiliki mimpi berbisnis di Kota London. Dari semula terbatas spesialisasi Afro- Caribbean, lalu mereka merambah ke semua jenis rambut dan melebarkan sayap jangkauan.
Bekerja keras mereka menghasilkan 2000 booking sebulan. Masalah muncul ketika mereka bekerja sama dengan barber. Banyak orang memberi tanggapan negatif akan rekan barber. Disisi lain mereka mengejar pengembangan hingga tidak mendapatkan untung.
Tahun 2017, Darren memutuskan bekerja di perusahaan multi- nasional dibidang judi olahraga. Dia masih menjalankan bisnis Trim It. Mereka masih berharap bisnis tersebut akan berjalan. Uang modal habis hingga kering bisa membuat bisnis startup gagal total.
Mereka akan lenyap karena gagal menghasilkan pendapatan. "Keraguan dan ego menjadi masalah keseharian saya hadapi," tuturnya. Nana tidak kalah mengalami kerugian. Alih- alih bekerja malah dia harus fokus kepada Trim It, sementara Darren mengais rejeki demi aplikasi tetap berjalan.
Nana mengorbankan banyak panggilan kerja. Ijasanya di bidang teknik sangat digemari perusahaan di masa depan. Mau bekerja pun Nana menghadapi permasalahan diskriminasi rasial. Menjadi sosok pengusaha adalah solusi baik Nana ataupun Darren.
Mereka kemudian lebih mengembangkan sisi lain ini. Pengembangan mobil barbershop diutamakan dibanding rekanan. Mereka mengambil resiko tetapi akan mudah begini. Perusahaan akan mudah hal mengawasi hasil kinerja. Keduanya lantas mengambil pinjaman ke keluarga dan teman- teman.
Total ribuan pound didapatkan buat memulai kembali. Mobil van disulap menjadi salon berbekal listrik dari mesin portable. Juli 2018, mobil ini siap dibooking penuh masyarakat, semua semakin tampak cerah ketika orang khusus datang.
Beberapa selebriti nampak memakai layanan jasa berbershop panggilan ini. Sebut saja nama musisi Charlie Sloth dan Sneakbo, yang punya ratusan ribu follower di sosmed. Ini memang sudah menjadi target Darren dan Nana. Para milenial kulit hitam yang menjadi selebriti dengan banyak follower.
Mereka generasi sibuk yang bekerja tidak cuma satu. Ambil contoh Lewis umurnya sudah 25 tahun dan bekerja. Bila dia masih 15 atau 16 tahun pasti lebih enak ke barbershop. Tetapi Lewis sekarang bekerja menajer properti dan punya bisnis sampingan; tidak punya banyak waktu.
Bila dia rindu akan suasana barbershop tinggal panggil teman. Ada kursi kecil dibelakang mobil buat kumpul dan ngobrol ringan. Sisi sampingan aplikasi Trim It ternyata lebih menghasilkan. Tanpa dia dipusingkan kerja sama, malah menghasilkan 6 digit angka dalam poundsterling.
Alhasil perusahaan Trim It menghasilkan lebih banyak investasi. Mereka menyadari lebih banyak orang kulit hitam di pusat kota. Mereka yang telah sukses baik karir maupun usaha. Para pria kulit hitam yang memiliki lebih banyak uang, tetapi kekurangan waktu buat pergi ke barbershop.
Kedua orang tuanya dulu sekitar 20 tahun lalu tidak setuju. Membayangkan anaknya menjadi tukang cukur sangat buruk. Untung Darren melakukan ini selepas mereguk pengalaman dunia korporasi.
Pemikirannya melayang hingga ingin bercukur rambut. Pikiran konyolnya bertemu dengan suatu tempat barbershop. Uniknya sang pemilik sama dengan dirinya keturunan Caribian. "Saya merasakan saya bisa Ok disini, seperti berasa di rumah," ia melanjutkan.
Afro- Caribbean punya rambut unik tidak sekedar keriting. Butuh ahli khusus yang paham akan seluk beluknya. Dia selalu merasa cukurannya bagus bila dikerjakan sang ahli. Ia lebih senang bila tukang cukur mengakui tidak bisa. Banyak orang tidak mau menolak mencukur bila dihadapatkan ini.
Mereka terlalu "sopan" menolak memotong rambut Darren. Hasilnya cukuran yang sangat buruk dan ini masalah. Memilih mengambil jurusan bisnis membuatnya fleksibel. Lulus dia langsung masuk ke dunia asuransi korporasi. Ini setidaknya memberikan apa orang tua harapkan walau berbeda.
Daripada bekerja masuk ke dunia asuransi apalagi perbankan: Darren memiliki pola pikir bebas sehingga lebih condong wirausaha. Apalagi dia merupakan penderita disleksia maka berat. Bekerja di korporasi dianggapnya berat.
Pada awalnya dia hanya mengira- ngira sendiri. Derren lalu mencari opini profesional, hasilnya benar dia memang disleksia, lalu menyampaikan ke orang tua. Ternyata ibunya telah mengetahui masalah tersebut, bahkan sejak sekolah menengah tetapi tidak menyampaikan.
"Dia berpikir kalau memberi tahu saya akan menjadi penghambat," jelasnya.
Ternyata benar dia mengalami ketakutan akan dunia korporasi. Dengan segala angka- angka yang harus dipertanggung jawabkan. Beban tersebut tidak begitu berarti ketika berwirausaha. Ia memilih jalan entrepreneurship. Cepat- cepat Darren memulai membuka usaha tetapi tidak berkembang.
Ia menciptakan aplikasi algoritma menganalisi orang. Darren mencoba membangun aplikasi bimbel buat pelatihan. Ini kemudian berkembang dilanjut mengikuti ajang entrepreneurship. Dia mendapat hadiah tetapi memilih tidak melanjutkan.
Darren ingin membuat bisnis barbershop online. Bayangan waktu remaja potong rambut ke barber melekat. Ia ingin menciptakan layanan spesialis seperti buat Afro- Caribbean. Kemudian meluncur ke sosial media. Dari kecil dia biasa dibawa ayahnya berkunjung ke barbershop seekitar.
Mereka akan dipotong rambut sembari nongkrong. Berjam- jam keduanya duduk ditemani televisi menayangkan sepak bola. Pengalaman menyenangkan hingga ia memasuki masa dewasa. Darren lalu merasakan ini membuang waktu.
"Saya muak harus menunggu dipotong rambut, terutama ketika Jum'at atau Sabtu," ia menjelaskan.
Generasi sekarang menginginkan kecepatan ketika waktu tidak cukup. Mereka ditekan kesibukan di dunia pekerjaan atau menghabiskan waktu di tempat lain. Bila mau nongkrong maka bukanlah tempat cukur rambut.
Maka hadirlah ide aplikasi booking salon terbaik, memilih tukang cukur, hingga gaya rambut. Awal dia berpikir begitu tetapi tidak aplikatif. Apalagi faktanya tidak banyak barber memiliki keahlian yang spesifik. Dia lebih enjoy mempekerjakan orang langsung dan memakai mobil menjadi salon.
Berbisnis Bersama
Ia tidak sendirian karena bertemu Nana Darko. Bertemu dengan rekannya ini ketika berlomba di Unversity of Sussex. Almameternya memberikan hadiah 10 ribu pound kepada Darren. Kemudian ia mengajak sesama finalis, Nana Darko, mengerjakan proyek tersebut bersama.
Darren meyakinkan Nana bahwa mereka akan kaya. Sang rival sama- sama keturunan Afrika, yang memiliki mimpi berbisnis di Kota London. Dari semula terbatas spesialisasi Afro- Caribbean, lalu mereka merambah ke semua jenis rambut dan melebarkan sayap jangkauan.
Bekerja keras mereka menghasilkan 2000 booking sebulan. Masalah muncul ketika mereka bekerja sama dengan barber. Banyak orang memberi tanggapan negatif akan rekan barber. Disisi lain mereka mengejar pengembangan hingga tidak mendapatkan untung.
Tahun 2017, Darren memutuskan bekerja di perusahaan multi- nasional dibidang judi olahraga. Dia masih menjalankan bisnis Trim It. Mereka masih berharap bisnis tersebut akan berjalan. Uang modal habis hingga kering bisa membuat bisnis startup gagal total.
Mereka akan lenyap karena gagal menghasilkan pendapatan. "Keraguan dan ego menjadi masalah keseharian saya hadapi," tuturnya. Nana tidak kalah mengalami kerugian. Alih- alih bekerja malah dia harus fokus kepada Trim It, sementara Darren mengais rejeki demi aplikasi tetap berjalan.
Nana mengorbankan banyak panggilan kerja. Ijasanya di bidang teknik sangat digemari perusahaan di masa depan. Mau bekerja pun Nana menghadapi permasalahan diskriminasi rasial. Menjadi sosok pengusaha adalah solusi baik Nana ataupun Darren.
Mereka kemudian lebih mengembangkan sisi lain ini. Pengembangan mobil barbershop diutamakan dibanding rekanan. Mereka mengambil resiko tetapi akan mudah begini. Perusahaan akan mudah hal mengawasi hasil kinerja. Keduanya lantas mengambil pinjaman ke keluarga dan teman- teman.
Total ribuan pound didapatkan buat memulai kembali. Mobil van disulap menjadi salon berbekal listrik dari mesin portable. Juli 2018, mobil ini siap dibooking penuh masyarakat, semua semakin tampak cerah ketika orang khusus datang.
Beberapa selebriti nampak memakai layanan jasa berbershop panggilan ini. Sebut saja nama musisi Charlie Sloth dan Sneakbo, yang punya ratusan ribu follower di sosmed. Ini memang sudah menjadi target Darren dan Nana. Para milenial kulit hitam yang menjadi selebriti dengan banyak follower.
Mereka generasi sibuk yang bekerja tidak cuma satu. Ambil contoh Lewis umurnya sudah 25 tahun dan bekerja. Bila dia masih 15 atau 16 tahun pasti lebih enak ke barbershop. Tetapi Lewis sekarang bekerja menajer properti dan punya bisnis sampingan; tidak punya banyak waktu.
Bila dia rindu akan suasana barbershop tinggal panggil teman. Ada kursi kecil dibelakang mobil buat kumpul dan ngobrol ringan. Sisi sampingan aplikasi Trim It ternyata lebih menghasilkan. Tanpa dia dipusingkan kerja sama, malah menghasilkan 6 digit angka dalam poundsterling.
Alhasil perusahaan Trim It menghasilkan lebih banyak investasi. Mereka menyadari lebih banyak orang kulit hitam di pusat kota. Mereka yang telah sukses baik karir maupun usaha. Para pria kulit hitam yang memiliki lebih banyak uang, tetapi kekurangan waktu buat pergi ke barbershop.
Kedua orang tuanya dulu sekitar 20 tahun lalu tidak setuju. Membayangkan anaknya menjadi tukang cukur sangat buruk. Untung Darren melakukan ini selepas mereguk pengalaman dunia korporasi.