Biografi Pengusaha Masri Nur
Nasib hidup seseorang siapa sangka. Ini biografi Masri Nur, pengusaha Minang 1953, yang rela merantau jauh mecari peluang usaha. Dia tidak mau hidup nyaman, lebih memilih hidup bersusah payah. Adalah pengusaha Minang lahir dari pasangan Minangkabau, H. Nurdin dan Hj. Aisyah.
Dia dikenal karena mendirikan Hotel syariah. Konsep pertama yang dibawa ke tanah Medan jauh. Haji Masri juga dikenal sebagai pemilik Plaza Gelora Medan. Yang terkhir dikenal sebagai pendiri Lembaga Pendidikan Darul Ilmi Murni.
Ayahnya bekerja sebagai pedagang kelontong di Pariaman, Sumatra Utara. Sudah merantau ke jauh sejak usianya 16 tahun. Biografi Masri Nur pernah bekerja serabutan di Medan, mulai dari jadi calo bus antar kota, hingga sukses membuka toko jahitan bernama Gelora.
Bisnis menjahit berkembang menjadi konveksi. Bertahap mendirikan komplek Plaza Gelora. Inilah awal dirinya dikenal sebagai pengusaha terpandang. Setelah membuka pasar swalayan, kemudian dia lalu mendirikan plaza menjual pakaian seragam, baju olahraga, pakaian adat, dan pakaian muslim.
Pengusaha Minang Harus Merantau
Pengusaha Minang ini adalah kombinasi kegigihan, kerja keras, dan keyakinan. H. Masri memilih tidak menjadi pegawai negeri seperti kakaknya. Dia memilih merantau ke Medan di tahun 1969. Di ibu kota Sumatera Utara, pernah bekerja menjadi buruh, sampai berprofesi calo bus di terminal.
Berhenti menjadi penjual tike bus tidak kehilangan akal. Masri banting stir menjadi penjahit padahal tidak punya dasar. Insting membawanya sukses dan mendirikan perusahaan konveksi. Papan nama Toko Gelora seolah mengibarkan semangat Haji Masri, menjadi saudagar Minang diperantauan.
Bisnis konveksi semakin berkembang hingga pasar swalayan. Dibawahnya ada tukang jahit sampai 200 orang. Awal tahun 1990 -an, dia membuka komplek plaza, dimana sekarang dia menjadi satu- satunya pengusaha pribumi yang punya pasar swalayan besar di Medan.
Sekian banyak bisnis dijalankan Haji Masri. Paling mengesankan adalah berdiri koko Hotel Madani. Inilah Hotel berkonsep syariah yang memiliki 173 kamar. Ini sempat dipandang sebelah mata oleh semua orang. Apakah mendirikan Hotel syariah akan laku dan sukses disekarang ini.
Hotel Madani tidak serta merta sukses. Banyak orang skeptis akan bisnis Hotel syariah. Bahkan dari beberapa Ulama yang Masri kunjungi. Mereka tidak yakin akan Hotel yang dulunya biasa ini. Orang masih berpikir konsep Masri hanya diluaran saja.
Orang takut kecewa ternyata disuguhi Hotel konvensional. Namun Masri tidak putus asa menjual konsep Hotel Madani. Ia bahkan memperkatat aturan Hotel. Screening dilakukan untuk memastikan tamu sesuai syariah. Tamu yang bukan Muhrim dilarang menginap disini.
Ia mengerahkan pihak keamanan. Aturan syariah Hotel ditulusi besar didepan lounge. Wanita harus memakai hijab. Enam bulan pertama merupakan ujian mental. Pasalnya Masri harus memulangkan banyak pengunjung. "Kami banyak mengeluarkan tamu dari Hotel," jelas pengusaha Minang ini.
Enam bulan pertama banyak orang coba- coba. Mereka mengetest melanggar peraturan Hotel. Atau beberapa juga tidak tau sama sekali. Banyak tamu yang mengajak lawan jenis ketika tengah malam. Masri mempertegas konsep bisnisnya, "Saya yakin Allah akan memberi jalan (kesuksesan)."
Dia meyakini bahwa apa dilakukannya karena Allah. Jikapun tidak ada pengunjung datang menyewa. Haji Masri meyakini apa mungkin Allah membiarkan kegagalan terus. Terutama dibawah usahanya ada nasib ratusan pegawai berkeluarga.
Keyakinan terhadap diri sendiri begitu besar. Sehingga rating pengunjung Hotel menjadi tertinggi di Medan. Memiliki 173 kamar sejumlah 150 kamar pasti terisi. Pihak manajemen Hotel Madani lebih berpikir logis. Mereka percaya keuntungan baru datang setelah dua tahun dijalankan.
Faktanya dalam waktu dua bulan sudah melebihi target. Masri tidak pernah mensubsidi kinerja Hotel miliknya. Pengunjung ternyata tidak cuma kaum Muslim. Tetapi tamu non- Muslim juga menyewa kamar Hotel. Maupun orang TiongHoa maupun ekspatriat yang berlibur di Medan.
Alasannya para istri merasa aman menyewa kamar disini. Merasa lebih aman ketika mereka berlibur di sana. Konsep Hotel syariah Masri ternyata sukses besar. Mereka sering full booked, sehingga nama brand Hotel Madani semakin dikenal masyarakat luar kota.
Mereka tidak perlu mengeluarkan tamu lagil. Otomatis yang kesana sudah mengerti aturan berlaku di Hotel. Menurut cerita depan Hotek merupakan saksi hidup. Ketika Masri pertama kali menginjakan kaki di Medan. Sebelum dibangun Hotel, didepan itu adalah tempat stasiun bis antar kota Medan.
"Saya ini aslinya tukang jahit. Sampai sekarang masih tukang jahit,"ujarnyaDari bisnis menjahitlah membawa namanya meninggi. Tidak berhenti sukses terus membuka usaha lain. Perusahaan garmen Masri mampu membiayai pembangunan Plaza Gelora. Menjadi pusat aneka pakaian seragam, baju muslim, pakaian olah raga, dan pakaian adat.
Bisnis konveksi semakin berkembang hingga pasar swalayan. Dibawahnya ada tukang jahit sampai 200 orang. Awal tahun 1990 -an, dia membuka komplek plaza, dimana sekarang dia menjadi satu- satunya pengusaha pribumi yang punya pasar swalayan besar di Medan.
Sekian banyak bisnis dijalankan Haji Masri. Paling mengesankan adalah berdiri koko Hotel Madani. Inilah Hotel berkonsep syariah yang memiliki 173 kamar. Ini sempat dipandang sebelah mata oleh semua orang. Apakah mendirikan Hotel syariah akan laku dan sukses disekarang ini.
Hotel Madani tidak serta merta sukses. Banyak orang skeptis akan bisnis Hotel syariah. Bahkan dari beberapa Ulama yang Masri kunjungi. Mereka tidak yakin akan Hotel yang dulunya biasa ini. Orang masih berpikir konsep Masri hanya diluaran saja.
Orang takut kecewa ternyata disuguhi Hotel konvensional. Namun Masri tidak putus asa menjual konsep Hotel Madani. Ia bahkan memperkatat aturan Hotel. Screening dilakukan untuk memastikan tamu sesuai syariah. Tamu yang bukan Muhrim dilarang menginap disini.
Penutup Biografi Masri Nur
Ia mengerahkan pihak keamanan. Aturan syariah Hotel ditulusi besar didepan lounge. Wanita harus memakai hijab. Enam bulan pertama merupakan ujian mental. Pasalnya Masri harus memulangkan banyak pengunjung. "Kami banyak mengeluarkan tamu dari Hotel," jelas pengusaha Minang ini.
Enam bulan pertama banyak orang coba- coba. Mereka mengetest melanggar peraturan Hotel. Atau beberapa juga tidak tau sama sekali. Banyak tamu yang mengajak lawan jenis ketika tengah malam. Masri mempertegas konsep bisnisnya, "Saya yakin Allah akan memberi jalan (kesuksesan)."
Dia meyakini bahwa apa dilakukannya karena Allah. Jikapun tidak ada pengunjung datang menyewa. Haji Masri meyakini apa mungkin Allah membiarkan kegagalan terus. Terutama dibawah usahanya ada nasib ratusan pegawai berkeluarga.
Keyakinan terhadap diri sendiri begitu besar. Sehingga rating pengunjung Hotel menjadi tertinggi di Medan. Memiliki 173 kamar sejumlah 150 kamar pasti terisi. Pihak manajemen Hotel Madani lebih berpikir logis. Mereka percaya keuntungan baru datang setelah dua tahun dijalankan.
Faktanya dalam waktu dua bulan sudah melebihi target. Masri tidak pernah mensubsidi kinerja Hotel miliknya. Pengunjung ternyata tidak cuma kaum Muslim. Tetapi tamu non- Muslim juga menyewa kamar Hotel. Maupun orang TiongHoa maupun ekspatriat yang berlibur di Medan.
Alasannya para istri merasa aman menyewa kamar disini. Merasa lebih aman ketika mereka berlibur di sana. Konsep Hotel syariah Masri ternyata sukses besar. Mereka sering full booked, sehingga nama brand Hotel Madani semakin dikenal masyarakat luar kota.
Mereka tidak perlu mengeluarkan tamu lagil. Otomatis yang kesana sudah mengerti aturan berlaku di Hotel. Menurut cerita depan Hotek merupakan saksi hidup. Ketika Masri pertama kali menginjakan kaki di Medan. Sebelum dibangun Hotel, didepan itu adalah tempat stasiun bis antar kota Medan.