25 Jutawan Muda Memiliki Persamaan 7 Hal

Artikel Bisnis Persamaan Entrepreneur Muda


 
Nick Tart mungkin baru berumur 22 tahun kala itu. Tetapi rencana gilanya benar- benar hebat. Dalam waktu singkat namanya disejajarkan jutawan muda. Dia mampu mencetak jutaan dollar lewat sebuah buku. Yaitu perjalanan dia dan patnernya, mewawancarai 25 remaja, mereka adalah para jutawan cilik menghasilkan 6 digit angka lebih.

Keduanya merupakan penulis 50 Interviews: Young Entrepreneurs, What It Takes To Make More Than Your Parents. Kalau penulisa bahasakan sih artinya Pengusaha Muda, Bagaimana Caranya Membuat Lebih Banyak Uang dari Orang Tua. Mereka merupakan entrepreneur cilik memulai usahanya ketika masih remaja. Beberapa bahkan masih berumur kurang dari sepuluh tahun.

Dalam tulisannya, menurut Business Insider, Nick mendapatkan kesimpulan: Entrepreneur jenis ini punya hal yang sama dimiliki. Anak- anak yang berjualan jus lemon di jalan, pulang lebih awal ketika sekolah usai dan memilih mengerjakan proyek bisnis mereka. Mereka merupakan anak- anak yang ngetrennya dipanggil orang, Generation- Y Entrepreneurs.

Jadi, apakah yang membuat mereka sama, sifat- sifat apa yang dibutuhkan anak- anak kita kelak. Apa yang bisa kita pelajari untuk kita pengusaha muda. Berikut ringkasan singkat dari artikel Business Insider pada 2010.

1. Dukungan orang tua dan semangat

Anak- anak ini punya keluarga yang tidak pernah ragu akan ambisi mereka. Ini bukan pula berarti orang tua memberi mereka modal loh. Setidaknya anak- anak ini harus membayarnya melalui berbagai kesuksesan. Ia lantas menjelaskan dukungan ini lebih ke arah emosional. 

Catherine Cook, meski dapat sokongan modal uang, faktanya itu bukanlah uang cuma- cuma dan murni profesional. Ia membangun MyYearbook.com sebagai perusahaan sebenarnya. Nick sendiri menyebut dari 25 entrepreneur tersebut hampir semuanya menggunakan uang sendiri. Ada yang bahkan mengajukan uang pinjaman sendiri seperti uang $10 untuk membeli domain.

Emil Motycka, 21 tahun, punya bisnisnya sendiri yakni usaha jasa. Ia memberikan jasa mengatur taman di Amerika sana. Dia bersama kawan mengambil hutang $8k untuk membeli mesin pemotong rumput. Mereka ini berhasil membayar hutang dalam tempo setahun.

Seperti halnya generasi sebelumnya, orang tua percaya bahwa mereka spesial, apa yang mereka lakukan jadi satu penghargaan mungkin lebih besar dari nilai ujian sekolah.

2. Memulai sesuatu yang bisa dikerjakan

Apakah menulis blog ataupun jasa pangkas rumput. Mereka itu benar- benar melakukan -eksekusi tanpa malu. Mereka mencari sesuatu yang benar bisa dikerjakan. Anak- anak ini membangun reputasinya sendiri sebagai entrepreneur. Mungkin mereka sudah memiliki bisnis berbeda jelas Nick. Tetapi dasarnya adalah berasal dari binis kecil yang mungkin sederhana.

Juliette Brindak, 24 tahun, memulai susuatu yang bisa dijalankan. Dia membangun MissOandFriends.com dan pada akhirnya menguasai bisnis sepenuhnya. Selama delapan tahun mengerjakan bisnis ini, dia mendapat satu investasi dari Proctor & Gamble menghasilkan nilai aset $15 juta. Berjalan waktu, usaha yang mudah ia kerjakan menjadi keahlian khusus.

3. Pekerja keras dan keras hati

Kebanyakan entrepreneur memulai dari konsep trial and error. Adam Horowitz, 18 tahun, menjalanan 30 situs berbeda di 3 tahun pertama sebelum akhirnya sukses. Dia lantas baru bisa menjual produk senilai 6 digit angka. Kemudian membuat produk lagi, menjual kembali, dia lantas menjual lagi itu. Lantas, Horowitz tiba dengan produk senilai $1,5 juta dalam tiga hari.

"Semua tidak akan berhasil tanpa 30 kegagalan diatas," papar Nick.

4. Pengorbanan bahwa dewasa tidak butuh masa remaja

Apa asiknya menjadi anak- anak kemudian remaja. Tidak perlu membayar sewa, tidak perlu memberi anak makan, tidak perlu bekerja. Untungnya jadi remaja ya tidak punya pengeluaran sebenarnya, kebebasan, juga melakukan apa yang mereka mau, dan akhirnya melakukan apapun termasuk entrepreneurship.

Satu hal yang sama dimilik mereka 25 entrepreneur yang diwawancara; mereka tidak punya masa remaja. Nick menuliskan kisah Emil Motycka yang suatu ketika diajak berenang. Tetapi dia tegas menolak undangan temannya tersebut. Motycka memilih bersenang- senang lewat bisnisnya sendiri. Teman remaja normal pasti menolak logika Motycka.

Hasilnya Motycka bisa mempunyai rumah sendiri dan temannya sering "memanfaatkan" nya.

5. Mereka dikatai tidak akan sukses

Tidak ada motifasi lebih baik seperti dikatai kamu tidak bisa melakukan apapun. Kebanyak dari tulisan Nick, 25 entrepreneur muda ini, kebanyakan mendapatkan perlakuan negatif dari guru dan teman. Salah satunya sosok Michael Dunlop yang paling bagus menjadi contoh.

Sebagai remaja disleksia membuatnya kesusahan di sekolah. Guru mengatai anak disleksia ini bahwa dia tak akan sukses. Dia memilih drop- out. Meski dengan kekurangan, Dunlop bekerja keras, mulai blogging dan bisa menghasilkan lewat Incomediary.com. Sekarang situs itu ranking 12.000 di Alexa dan menghasilkan 6 digit angka.

Tulisannya tidak hebat tetapi punya ribuan pembaca tutur Nick. Dunlop punya intuisi tajam soal bisnis dan itu terbukti. Lain lagi kisah Catherine Cook, pembuat MyYearbook.com ini langsung ditawari uang buat menjual situsnya. Dia menolak tetapi malah dikatai, "kamu tidak akan mencapai 3 juta pengguna". Sementara itu, ia terus bertahan dan membuktikan lewat 22 juta pengguna.

6. Mereka memisahkan pribadi dan bisnis

Gen- Y harusnya merupakan generasi narsis. Sementara entrepreneur muda ini memilih menyembunyikan jati diri mereka. Tidak menghubungkan kekayaan mereka dari apa bisnis mereka. Empat dari 25 entrepreneur muda ini mengambil nama alias bukan sebenarnya. Alasan utamanya ya karena bagian dari umur mereka. Lain hal yakni mereka ingin memisahkan antara kehidupan pribadi dan bisnis.

"Ini seperti mereka ingin memulai usaha sebagai sosok palsu," tutur Nick. Paling mencolok adalah kisah dari Andrew Fashion, entrepreneur muda sukses menghasilkan $2,5 juta, yang di ulang tahun ke 22 mendapatkan pelajarannya. Temannya tinggal di rumahnya tetapi tidak mau membayar sewa. Namun ketika ia membawa kendaraan teman mereka hitung- hitungan.

Remaja ini mendapatkan pelajaran bahwa tidak semua bisa dipercaya.

7. Mereka terlahir untuk menjual

Berdasarkan wawancara Nick Tart, kebanyakan mereka sudah berjualan sejak kecil, mulai dari berbagai hal seperti perhiasan kecil. Michael Dunlop memulai dengan berjualan kartu Pokemon. Dia menyadari bahwa ini berharga tetapi bernilai rendah ditempatnya. Keith J. Davis menjual permen karet ke temannya, padahal ini dilarang oleh sekolah. Andrew Fashion merubah pensil mekanis menjadi peluncur roket.

Para jutawan muda ini terus berlatih buat menjual lagi. Apakah entrepreneurship adalah natural atau proses? Anak- anak pada dasarnya memilik uang, tetapi bukan itu alasan mereka mengerjakan entrepreneurship. Mereka bekerja keras mencapai sesuatu, yang pada akhirnya itu entrepreneurship -mereka memiliki hasrat tak terbendung.

Jualan Pomade Mr. Prabs Propsek Bisnis 50 Juta

Profil Pengusaha Pringgodani 



Jualan pomade tengah digemari pengusaha Jakarta. Penulis sendiri kurang tau tetang hal semacam ini. Tetapi diambil dari berbagai sumber, itu loh minyak rambut kental yang berbau harum. Sukses pomade menular ke manapun sempai ke pegawai perusahaan ternama. Adalah sosok Pringgodani, 25 tahun, yang akhirnya banting stir menjadi pengusaha online.

Bermodal cuma Rp.1 juta dimulai lah rencana produknya. Ia mulai membikin pomade sendiri. Kemudian dia menjualnya ke pasaran. Harga jual pomade bikinan Pringgodani seharga Rp.105 ribu sampai Rp.125 ribu. Itu tergantung varian produknya. Pomade bikinan sendiri yang diberinya nama Mrprabspomade pada 2013. "Bisnis saya murni online," tuturnya kepada pewarta online.

Alasan utama pria yang biasa dipanggil Igo ini, ialah fakta akan hobinya terhadap barang- barang tua. Yah, memang pomade merupakan produk jadul, lewat produk ini bisa didapatkan rambut klimis khas jaman dulu. Produk Mr. Prabs ada dua jenis yakni oilbased dan waterbased. Pomade Mr. Prabs oilbased terdiri dari produk bertajuk sexyshine, sexyhold, dan sexyheavy.

Sedangkan waterbased sendiri meliputi watergrease superhold dan watergrease mediumhold. Paling laku di produk Mr. Prabs ya oilbased. "...waterbased baru kita launching," tuturnya.

Jumlah produk pertama kali cuma 100 pcs. Langsung laris dalam waktu lima hari saja, Igo lantas mulai lagi, kali ini lebih serius menggarap pasar onlinenya. Di tahun 2014, ia meluncurkan slogan Dreamer, Fighter, and Victory berusaha memproduksi masal produknya Mr. Prabs Pomade. Ternyata antusiasnya lebih daripada harapan seorang Igo. Pemesanan berdatangan maka lahir lah tim reseller DHM Teamwork.

Pemenuhan kebutuhan pemasanan dilakukan secara online juga. DHM Teamwork artinya itu ya Dealer Hair Machine Teamwork tersebar di 30 kota se- Indonesia. Jangkauan pasarnya telah meliputi Jakarta, Bali, Riau, Pekanbaru, Banajrmasin, Kendari, Surabaya, Depok, Bekasi, Tangerang, Sidoardjo, Yogyakarta, Lombok, Aceh, sampai Tenggarong.

Bisnisnya dijalnkan lewat media sosial. Selain itu, Igo juga memilik satu toko online sendiri, agar lebih mudah yakni di www.mrprabs.com. Omzetnya cukup menggiurkan yakni Rp.50 juta per- bulan. Sebagai tambahan dia mengaku merupakan pemakai pomede. Istilahnya kalau dia suka memakai, kenapa tidak dia sebarkan kesukaanya, kenapa tidak menghasilkan produk buatan sendiri lebih baik.

Pengusaha Gerobak Mungil Waralaba Rombongku

Biografi Pengusaha Wahyu Kharisma



Memiliki hobi mendesain bingung memulai usaha. Pasangan pengusaha muda satu ini mungkin menginspirasi usaha kamu. Berdua mampu melihat dibalik tren bisnis di Indonesia. Ketika musim bisnis waralaba keduanya malah membuka usaha jasa. Tetapi bukan sembarangan jasa, tetapi Wahyu Kharisma beserta istrinya, Dyas Ayu Anindya, membuka jasa pembuatan booth atau outlet waralaba.

Mengusung nama Rombongku, pria yang akrab dipanggil Nobby ini awalnya diminta memenuhi pesanan orang. Dia dan istri mendapatkan permintaan dari beberapa pengusaha lokal. Mereka diminta banyak sekali membuat jasa desain untuk berjualan minuman atau makanan. Awal mula cuma dibikin standar saja, tetapi berjalannya waktu semakin unik dan cocok bagi pemilik waralaba kembangkan.

Pembeli banyak datang dari pemilik franchise. Bahkan keduanya bisa mewaralabakan konsep usaha mereka sendiri. Pemesan pertama paling besar ialah pemilik Kebab Baba Rafi, Hendy Setiono. Dari gerobak bikinan Nobby itulah mengalir kisah ratusan cabang Baba Rafi. Kala itu, ia mengisahkan, Hendy masih berjualan lewat gerobak dorong dari kampung ke kampung.

Pemesan selanjutnya adalah Bakso Kepala Sapi dan Coffe Toffe. "Sekarang kami tidak hanya jual jasa pembuatan rombong saja, melainkan sekaligus konsultasi bentuk dan logo produk yang akan dijual," papara Nobby. Pria kelahiran Banyuwangi, 31 Juli 1979 ini, sepakat memperdalam konsep usahanya lebih lanjut. Ia tidak lagi sekedar membuatkan berdasarkan pesanan saja.

Di rumah berupa workshop desain, yang waktu itu kecil- kecilan, kedua orang ini memulai usahanya penuh semangat. Dimana tumbuh memiliki 10 orang desainer dan 20 tukang. Kalau bicara omzet tidak kalah dari pemilik waralaba yakni Rp.1 miliar per- tahun. Menyasar bisnis kuliner menjadi andalan pasangan pengusaha muda ini.

"Bisnis kuliner adalah bisnis tidak akan pernah ada habisnya, selalu ada dan makin banyak berkembang," jelasnya lagi.

Bisnis gerobak


Lulusan Jurusan Desain Produk Industri ITS, memang Nobby mempunya hobi mendesain ketika masanya di kuliah dulu. Terus berlanjut sampai ia menjadi pegawai di sebuah perusahaan digital printing. Dua tahun jalan hidupnya beralih ketika ia dan sang istri melihat tumbuh pesatnya usaha waralaba. Dan, satu fakta menarik, para miliarder baru ini adalah mereka yang berawal dari gerobak dorong.

Perhatian mereka ialah pedagang kaki lima. Mereka yang penjual makanan atau minuman. Mereka yang baru memulai jalannya di dunia pewaralabaan. Lambat laun workshop mereka yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur, mulai dikenal oleh kalangan kaki lima sampai pengusaha menengah. Ia bermodal satu komputer miliknya ketika masih berkuliah dulu.

Modal uang sendiri didapat dari mengumpulkan honor membuka les privat gambar. Dia juga mengajar anak- anak melukis di Surabaya. Nobby dan Ayu mengakui mereka bermimpi. Usaha tersebut didasari hobi akan dunia desain. Sementara diliputi kesempitan dalam mengumpulkan uang. Awal mereka cuma membuat logo, maskot, kemasan dan brosur. Ditambah kerja keras, kreatitifitas miliknya mampu mencapai Sabang sampai Marauke.

Kecintaan akan desain serta kuliner melahirkan Rombongku. Brand usaha jasa yang ingin menggairahkan si usaha kecil lewat visual Maka grobak buatannya memiliki garis, warna, dan tesktur yang enak dipandang oleh mata. Berjalan waktu usahanya juga termasuk pembuatan media marketing seperti hal brosur, flayer, serta kemasan produk, maskot, sampai mereka mengkonsepkan usaha apa.

Tahun 2005 merupakan tahun modal dengkul pasangan suami- istri ini. Berbekal laptop (komputer) satu- satunya ditambah uang ngumpul Rp.5 juta jalan. Selama sebulan, berjalan waktu, mereka akhirnya mampu mencapai omzet rata- rata Rp.100 juta dan sampai tembus Rp.150 juta. Selama Ramadhan usaha mereka jadi meningkat karena banyak pedagang dadakan.

Pesanan bisa mencapai puluhan unit. Dimana jasa konsultasi desain dan logo, Nobby memberikan harga yaitu Rp.1,5 juta, Rp.2,5 juta, dan Rp.3 juta. Harga tersebut tetapi diluar harga pembuatan grobak. Untuk harga rombong bervariasi Rp.1,5 juta, sampai bisa Rp.20 juta. Rombongku pun telah memasuki sekala kafe dan restoran. Untuk gerobak sekelas kafe lebih mahal karena lebih rumit dan unik dibanding kaki lima.

Nobby dibantu 25 tukang kayu yang merupakan karyawan lepas dari Sidoarjo. Semua melalui proses kreatif juga ditambah bantuan 10 orang tim khusus desain. Satu rombong ukuran sedang akan dikerjakan seorang tukang dan selesai tiga sampai empat kali. Rata- rata permintaan akan rombong bikinan Nobby Rombongku mencapai 20 buah. Adapula yang sekalian konsultasi desaian sekaligus bikn di tempat, tambah Ayu.

Pemesan telah menyebar ke seluruh penjuru Indonesia. Paling jauh pesanan, wanita kelahiran Surabaya, 14 November 1983, ini menuturkan sampai ke wilayah Papua sana. Penawaran dilakukan awalnya lewat blog yang gratisan di www.rombongku.blogspot.com. Klien luar ada juga loh tetapi tidak seramai kebutuhan akan pengusaha lokal yakni dari Dubai meminta burger hotdog, jelas Ayu menambahkan lagi.

Total 400 desain telah dikembangkan siap dibikin. Tiap pemesan bisa beda desainnya, tetapi tidak juga lupa menyiapkan model rombong sebagai dasar. Kalau ada order, ya, tinggal pihaknya memasang merek dagang saja. "Tetapi mayoritas desainnya by order," ujar Ayu. Dibutuhkan desain unik dan cantik agar benar- benar mengangkat produk si pemesan.

Usaha macam pembuatan grobak waralaba ini mulai sengit. Aneka macam upaya dijalankan pengusaha agar menarik perhatian pengusaha waralaba. "Banyak anak muda kreatif yang bisa memulai dari sekarang. Tak perlu modal besar untuk usaha semacam ini karena yang dijual ide," papar Nobby. Bahan baku pun mudah ditemukan di dalam negeri seperi paku, papan, cat, dan pernak- pernik.

Website: www.rombongku.com

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba