Aplikasi Pembantu Rumah Anda Alfred

Profil Pengusaha Marcela Sapone dan Jessica Beck 


 
Mereka berdua baru saja lulus kuliah Harvard University. Arti kelulusan berarti membawa mereka ke dunia finansial sebenarnya. Tetapi Marcela Sapone dan Jessica Beck memilih melanjutkan pekerjaan mereka. Yah mereka sudah memulai itu semenjak bangku kuliah. Bukan tentang keungan tetapi tentang teknologi. Mereka merupakan pendiri startup Hello Alfred.

"Saya bekerja berjam- jam lamanya dan datang kembali ke apartemen yang itu sangat berantakan," Sapone bercerita kepada Business Insider.

Beck dan Sapone sadar tentang berantakannya bekerja keras. Dan, apakah mereka mempunya solusi untuk itu semua. "Jess seorang super, orang yang super berantakan, dan tidak akan pernah mengundang saya ke apartemennya," jelas Sapone. Hingga akhirnya dia bisa berkunjung ke rumah kawan karibnya tersebut.

Dalam delapan bulan sejak berkunjung, ia menemukan tumpukan cucian kotor dan itu seluas meja di dapur apartemen. Dia merasa ini sangat gila. Ini akan sulit hidup dengan cara begini tanpa bantuan orang. Akhirnya mereka menyewa jasa melalui iklan Craigslist. Orang itu akan datang ke rumah mengerjakan cucian dan juga membeli belanjaan mingguan.

Wanita yang disewa mereka, Jenny, datang ke apartemen melakukan permintaan mereka. Inilah awal kisah sukses startup Alfred.

Ini sebuah insiden yang membawa berkah. Mereka menciptakan layanan untuk mereka sendiri. Lantas mulai banyak orang menanyakan hal tersebut. "Hey, apa saya bisa mendapatkannya?" tutur Sapone.

Bisnis online


Alfred resmi diluncurkan di Boston Mei 2013. Di September 2014, mereka meninggalkan kuliah Harvard dan Boston untuk mengikuti ajang TechCrunch Disrupt's Startup. Awal usaha kecil yang dimulai dari langkah menciptakan banyak brosur menawarkan berbagai harga berbeda, dan layanan berbeda. Mereka menaruh mereka dibawah pintu mereka tetangga mereka di Boston.

"Kami sebenarnya berpikir bahwa ini adalah bisnis kecil- kecilan," ucapnya. Mereka mendapatkan pelanggan pertama mereka 10 orang. Melalui langkah tersebut Alfred sekarang bukan lah sekedar layanan normal. Mereka memiliki aplikasi sendiri seperti Uber atau Airbnb.

Mereka pun mulai mempekerjakan banyak orang. Mereka adalah Alfred Client Manager atau cukup Alfreds -menjalankan perintah untuk membeli belanjaan, memilah surat, mengantarkan paket, atau mungkin mencuci pakaian. Alfred memilik perbedaan dibanding layanan lain: rute! Melalui sistem tersebut maka setiap hal itu direncanakan.

Seperti halnya tukang susu yang mengantarkan layanan. Mereka selalu menjalankan rute khusus masing- masing tidak berubah. Seperti halnya mereka mengetuk pintu, mengambil botol kosong, kemudian tinggal taruh susunya. Sapone dan Beck masih kuliah bisnis ketika Alfred jalan; itu tidak mudah. Mereka sempat berpikir berhenti di bisnis ini loh.

Dan, ketika mereka menyatakan hal tersebut ke pelanggan, mereka ketakutan dan "memaksa" keduanya agar bekerja kembali ke layanan mereka. "Seluruh dunia akan menggapai mu ketika kamu menang," inilah dasar berbisnis sebenarnya. Ketika kamu memenangka hati pelanggan dengan layanan terbaik.

Orang membayar $99 per- bulan untuk layanan, dan tambahan untuk uang belanja. Tetapi ketika mendengar mereka akan bubar dan fokus di sekolah; mereka rela membayar $25- 90 per- minggu. Bahkan orang mau membayar $400 untuk layanan awal di Boston. Di November 2014, mereka mendapat uang $2 juta dari perusahaan CrunchFund, SV Angel, Spark Capital, selepas Alfred di New York.

Mereka sebenarnya akan meluncurkan di San Fransisco. Hingga mereka menemukan Kota New York lebih banyak pelanggan. "New York memiliki kepadatan penduduk tinggi dan ketersediaan tinggi dan aksesibilitas dari jenis vendor yang kita ingin gunakan," kata Sapone menambahkan.

Semenjak tuntutan akan "pegawai teta" digulirkan layanan seperti Uber, Lyft, dan Postamate mengalami satu perubahan -bisa dibilang tidak menguntungkan. Modal bisnis tidak terikat akan pegawainya ini memang mulai dipertanyakan oleh lembaga hukum. Tetapi beda dengan Alfred yang menyambut positif hal tersebut. Karena mereka menerapkan konsep berbasis pelanggan dan menyediakan layanan sebenarnya.

Alfred percaya akan pelanggan -gantinya adalah pelatihan, identitas jelas, instruksi, kepada setiap pegawai di Alfred. Total ada 86 Alfred yang mana mereka adalah anak rumahan. Menurut Sapone 70% tinggal bersama ibu dan mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka adalah artis, penulis, aktor, atau mereka yang juga bekerja di kantor.

Sukses Alfred mampu membawa mereka bahkan diatas pesaing. Mereka bahkan akhirnya mengakuisisi si pesaing di New York, WunWun. Mereka memiliki konsep layanan berdasarkan permintaan pertama. Itu juga termasuk data base pelanggan mereka. WunWun juga memiliki teknologi menarik, pada dasarnya sistem yang hampir sama dengan Alfred.

"Sementara mereka menjalankan permintaan, mereka mengelompokan permintaan dulu dan mengoptimalkan rute, yang mana juga dilakukan kami. Kami hanya tidak melakukan hal- hal pada permintaan saja -kita membuat standar rute," papar Sapone. WunWun sendiri mampu mengatasi permintaan komplek dan panjang dari pelanggan.

Hari ini, Alfred memiliki 19 pegawai pusat dan terus tumbuh, dan mereka juga punya visi membuka di San Fransisco, Los Angles, dan berikutnya Washington DC. Sementara Alfred akan fokus di New York dan mulai menggaet pelanggan lebih. Untuk pendapatan it mencapai, di tahun 2014, kasarannya $350 per- member atau $4.500 per- tahun, dan terus tumbuh.

Fakta Pepatah Belajar Sampai ke Negeri China

Profil Pengusaha James Tan


 
Salah satu paling mudah memulai bisnis adalah mengamati budaya lokal. Itulah kiranya yang telah dilakukan oleh seorang James Tan. Pengusaha asal Singapura ini melawati harinya sebagai mahasiswa di Negeri Tirai Bambu. Hingga, ia sukses mendirikan perusahaan sendiri, pendiri dari 55tuan.com ini mencoba menceritakan sedikit kisahnya.

Ia menjelaskan dalam dua atau tiga tahun mulailah menyesuaikan diri. Temukan mereka teman- teman baru di tempat yang kamu tuju. Kemudian kamu akan menemukan orang- orang yang bisa dipercaya. Mereka lah yang mungkin menjadi mitra bisnis kamu kelak. Inilah seklumit penjelasan kenapa Tan getol belajar sampai ke negeri China.

Tan mengaku ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi China. Meski dirinya sudah bekerja mapan di Industri Teknologi Singapura selama sembilan tahun; tidak membuat puas. Dia malah pergi ke China buat berkuliah lagi di China lewat beasiswa IE Singapore. Untuk satu ini beasiswa diberikan bagi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kemudian, ia pun mengikuti program Master Administrasi selama dua tahun sejak 2008.

Kloningan Groupon


Perkuliahan S-2 berjalan ketika Tan bertemu pendiri lain situs 55tuan.com. Waktu itu Groupon masi segar didirikan di tahun 2008. Mereka memulai situs 55tuan.com ketika tahun 2010 tiba. Tidak terlambat karena ia menyasar pasar China yang tengah tumbuh. Dia sama sekali tidak memperhatikan kritisnya situs daily deal. Ia melihat tidak ada Groupon di China (belum ada.red).

Pertumbuhan perusahaan sejalan perkembangan ekonomi China. Dimana mereka mampu menghasilkan uang delapan digit dollar. Situs tersebut tidak terbatas di makanan, tetapi juga produk kecantikan, traveling, dan pakaian. Tumbuh perusahaan ini bisa mempekerjakan 3.9000 orang pekerja dan meluas sampai ke 150 kota di China.

Masalahnya ketika mereka berkembang 5.000 situs sama muncul. Tetapi Tan masih optimis usaha miliknya tetap bertahan. Ia bertahan karena kecintaanya akan dot com. Itu terlahir ketika dirinya memulai kuliah di Universitas Nasional Singapura. Ketika terjadi ledakan dot com langkah pertamanya adalah bekerja paruh waktu di Asia Images sebuah stok foto Asia.

Kala itu, tahun 1999, menjadi jalan Tan memahami seluk beluk internet keseluruhan. Pekerjaan barunya itu sangat menyita waktunya hingga tidak lulus. Dia lantas melompat bekerja di Singapore Computer Systems dan Nets, sebelum ia memutuskan pindah ke China. Dalam program MBA -nya Tan mendapat kesempatan berkunjung ke Silicon Valley.

"Saya bertemu dengan rekan- rekan saya yang sedang belajar ilmu komputer dan merupakan karyawan Google, Apple, dan Facebook," kenang Tan.

Dirinya semakin bersemangat menjalani hidupnya. Di China sendiri belum banyak BUMN yang bergerak dibidang internet. Kue yang dibagi masih milik pencari kesempatan seperti dia. Kebanyakn bisnis internet di China sendiri "meniru" di Amerika. Tetapi tidak semua ide bisa dikembangkan di China seperti halnya kisah Twitter (made in China). Ia berkisah butuh pemahaman dan relefansi akan kebutuhan pasar.

Dia cuma butuh dua minggu agar lisensi web hosting 55tuan.com disetujui. Sisanya adalah kebranian dirinya untuk bisa bernegosiasi dengan hukum, tentu itu dalam tataran legal ya. Ia cuma punya rencana bisnis terus menjalankannya sebaik mungkin.

Menjalankan 55tuan.com bukan perakara mudah. Situs ini sekarang salah satu situs jual- beli terbesar di China. Banyak kloning Groupon bermunculan tetapi tidak mampu bertahan. Mereka tidak bisa bertahan dari pesatnya pertumbuhan Internet di China. Tan pun sudah mengambil ancang- ancang mendirikan perusahaan baru berupa VC atau Venture Capital.

Dia bersama kawan lantas mendirikan QuestVC, sebuah perusahaan pendanaan asal China. 55tuan miliknya menarik banyak pendiri startup. Mereka pemilik eCommerce tentu tidak akan melewatkan satu sesi mentoring. Tan lantas menjelaskan fokus QuestVC adalah investasi angel. Bukti kerja kerasnya ada 6 perusahaan yang berumur 1,5 tahun dan dua perusahaan teknologi asal Singapura, Carousell dan Burpple.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba