Pengusaha Kerupuk Dorokdok Bandung Ucu

Profil Pengusaha Ulfah Nurfebrianti

 

usahadorokdok.png
 

Inilah kisah pengusaha kerupuk dorokdok Bandung. Gadis bernama lengkap Ulfah Nurfebrianti, tidak pernah menyangkan akan sesukses begini. Dia tidak menyangka jualan camilan tradisional ini, akan begitu diminati masyarakat sampai keluar Bandung.


Usaha bernama Dorokdokcu bermula ketidak sengajaan. Dikisahkan dia tengah jalan- jalan sembari live Instagram. Tepatnya, pada Mei 2019, dirinya tengah berjalan- jalan dia menemukan ini. Dorokdok yang dibungkus plastik besar. Dibuat berbuntal- buntal dijajakan di pinggiran jalan.


Kerupuk kulit yang memiliki tekstur renyah. Camilan tersebut renyah dan gurih. Bahan kulit dijual lewat plastik- plastik besar. Unggahan Ucu ternyata menarik perhatian orang. Respon penasaran datang dari teman- temannya diluar Bandung.


Tujuan Wirausaha


Mereka penasaran sampai bertanya kepada Ucu. Mereka minta dikirimin oleh Ucu ke rumah. Ucu lalu mengirim sehingga berkirim sampai kini. Ucu sadar bahwa dorokdok akan menjadi peluang. Dia lalu meminjam modal kepada orang tua.


Uang Rp.1,5 juta dipakainnya buat jualan langsung. Cara pengusaha kerupuk derokdok Bandung terbilang lucu. Ucu datang siang- siang, dan langsung berkata,  "mah, pinjem uang ya, sore ini aku balikin."


Uang tersebut dibelikan 15 kantong besar kerupuk. Buat menarik perhatian pembeli difotonya kerupuk dan diupload. Ucu menawarkan konsep open order. Beruntung permintaan datang seketika tanpa ia kerja keras. Pembeli bahkan diluar harapan Ucu karena melebihi kapasitas.


Ada 34 pesanan tetapi hanya 15 bungkus dijual. Sisanya dia memutar kembali keuntungan berjualan pertama. Singkat ceritanya mampu menjual sampai sekarang. Usaha tersebut masih berjalan sampai menjual 4.200 bungkus perharinya.


Gadis 25 tahun tersebut merupakan pendiri Dorokdokcu. Merupakan gabungan namanya dan kerupuk dorokdok. Ucu tidak pernah bercita- cita menjadi pengusaha. Tidak punya bakat menjadi pengusaha, pasalnya tidak ada satupun keluarganya berwirausaha.


Ia lantas menggandeng Lutfi Azar. Sosok temannya yang lebih paham mengenai kewirausahaan. Dia membantu Ucu kembangkan varian rasa. Dia juga membantu promosi, dan mengkonsep bisnis. Dari dia lah muncul konsep membuka cabang distributor berbagai kota.


Ada 25 kota distribusi Dorokdokcu. Reseller Bandung sudah 200 orang lebih. Pasaranya sampai ke Sumatra dari Lampung dan Palembang. Adapula Kalimantan ada di Banjarmasin. Di Bandung sudah memiliki 5 distributor.


Khusus Jawa, Dorokdokcu tersebar di Jabodetabek, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Malang, Gresik, Pasuruan hingga Sidoarjo. Ucu memanfaatkan program GrabExpress. Dimana dalam sehari 30- 40 sampai 80 persen pesanan perhari lewat GrabExpress.


Varian Dorokdokcu memang berkembang pesat. Ada rasa jeruk pedas, pedas gurih, original, asin gurih, jagung bakar, pedas cikur, dan barbeque. Ditanya soal penghasilkan mereka sepakat tidak menyebut nominal. Tapi mereka sekarang sudah mampu membeli mobil sendiri.


Bayangkan penjualan sebulan 33.000 sampai 50.000 perbungkus. Ucu lewat dorokdok tidak sekedar mencari uang. Berkat produk tersebut dia dapat membantu keuangan orang. Ada teman yang datang bersilaturahmi kemudian menjadi reseller.


Dia senang didoangakan banyak orang. Membuka lapangan pekerjaan lebih penting. Ucu berkata, "itu yang membuat senang dan tenang. Apalagi mendapatkan doa dari mereka."


Tidak cuma membuka lapangan pekerjaan perkotaan. Di pusat dorokdok, di kampungnya mendapat dampak positif kenaikan ekonomi. Pengiriman keluar kota menambah banyak pegawai baru. Uca telah memiliki pabrikan, dimana kebanyakan pegawainya merupakan ibu- ibu rumah tangga.


Mereka tampak senang dan berterima kasih ketika Ucu berkunjung. Antusiasme mereka merupakan energi pengusaha muda ini. Mereka diantara banyak pengusaha yang dipanggil oleh Presiden Jokowi, untuk program #banggabuatanindonesia.

Modal Eksportir Kerajinan Pengusaha Subkhan

Profil Pengusaha Subkhan Nur Raufiq

 
eksporkerajinan.png
 
Pengusaha Subkhan Nur Raufiq cuma belasan ribu. Bayangkan modal eksportir kerajinan cuma Rp.12. 500. Mungkinkan pria 42 tahun tersebut mampu. Bermodalkan segitu pria warga Dusun Sentan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta ini, mampu.
 
Bermodalkan segitu tidak menyangka, bahwa dia bisa menaklukan kota rantauannya. Dimana dulu, Subkhan diketahui masih menjadi buruh kerja di sebuah perusahaan, bukan pengusaha. Ia harus rela pulang malam bergaji biasa.

Suatu ketika dia tengah berjalan- jalan di Malioboro. Disuatu sudut Subkhan melihat- lihat berbagai kerajinan tangan yang dijual di pinggiran. Ide itu memang muncul seketika jelasnya lagi. Muncul ide dibenaknya, bagaimana memanfaatkan batok kelapa di kampungnya untuk membuat gantungan kunci. 
 
Subkhan bercerita bahwa batok kelapa hanya digunakan untuk membuat arang atau bahkan hanya dibuang begitu saja karena kayu bakar masih melimpah di kampungnya.

Berusaha Sebelum Sukses.


"Usai lulus SMA tahun 1992, ketika teman mencari pekerjaan di luar kota, saya hanya jalan-jalan di Malioboro untuk melihat-lihat kerajinan tangan. Setelah itu, muncul ide memanfaatkan batok kelapa untuk menjadi gantungan kunci atau suvenir untuk pernikahan," katanya.
 
Ketika itu pengusaha Subkhan tengah ditemui di bengkelnya. Bengkel yang bernama Chumplung Adji Craff di Dusun Santan, Desa Guwosari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, DIY.

Modalnya cuma Rp.12.500, yang dibelikannya mesin bubut sederhana dan masih manual. Tak disangka- sangka justru alat itulah yang menjadi modal besar membuat berbagai gantungan kunci dan souvenir tersebut. 
 
"Saat itu, pemasarannya masih door to door, sehingga kurang laku di pasaran dan penjualan sangat terbatas," ujarnya tentang modal eksportir kerajinan ini.

Akibat tak begitu laku, dia nekat melakukan promosi produknya ke hotel- hotel yang ada di Yogyakarta. Kala itu, hanya di dua hotel, yaitu Hotel Garuda dan Hotel Ambarukmo merimanya.

Berawal dari coba- coba justru dia bertemu nasib baiknya. Waktu itu ada pembeli dari luar negeri yang mau menawarinya pekerjaan. Dia menawarkan Subkhan untuk membuatkannya sebuah alat musik Marakas. 
 
Alat musik yang berasal dari Kanada. Apa itu? Bahkan Subkhan tak tau benda apa yang diinginkan si bule tersebut. "Mereka memberikan contoh alat musik tersebut dan dengan alat yang masih manual itu akhirnya pesanan dapat dipenuhi dan dikirim ke Kanada," katanya. 

Jadilah bisnis pembuatan Marakas menjadi basisi bisnisnya hingga di tahun 1998, tumbuh semakin besar dan besar. 
 
Saat itu Indonesia tengah mengalami krisis ekonomi tapi produk kerajinan tangan yang dihasilkannya justru malah mendapatkan keuntungan besar karena pasarnya adalah luar negeri dengan transaksi dolar.

"Ketika dolar harganya Rp15.000, sekali kirim hasil kerajinan tangan sesuai dengan pesanan pembeli, maka miliaran rupaiah dapat diraup. Itu merupakan puncak usaha yang saya geluti," terangnya.

Ia mengaku masih punya delapan orang yang bekerja menyelesaikan pesanan dari luar negeri. Mereka yang mengerjakan pesanan dari Eropa, Australia maupun kawasan Timur Tengah. 
 
Namun demikian, jika memang pesanannya cukup banyak, pekerjaan di sub-kan kepada tetangganya yang kini ada delapan kepala keluarga yang mengerjakan kerajinan tangan dengan bahan baku tempurung kelapa atau batok.

Untuk pesanan dari luar negeri memang cukup banyak untuk dipenuhi. Pesanan dari luar negeri itu pun sulit untuk dipenuhi. Dia mengaku pekerja yang memiliki sifat elaten, ulet, dan sabar sangat sulit ditemukan sehingga untuk memenuhi pesanan produk ekspor sulit untuk dipenuhi. 
 
Apalagi, setiap tenaga yang mampu membuat produk, mereka akan "diusir" untuk dapat mandiri dan berusaha sendiri.

"Saya ingin menciptakan bos-bos baru, bukan menciptakan tenaga kerja saja. Ketika banyak bos baru, harapan saya 'one village one product' dapat terealisasi," tuturnya.

Hartini (40), istri Subkhan, menyebut rahasia sukses bisnisnya karena produk mereka yang memang ramah lingkungan. Produk semacam ini memang sangat diminati para pembeli asing dari berbagai negara. "Dalam bulan ini, kita mendapatkan pesanan peralatan makan dari tempurung kelapa. 
 
Mulai dari gelas hingga piring dan tempat nasi atau sayur yang hanya sekali pakai. Pesanan datang dari negara Jepang," ujarnya.

Hartini yang telah dikarunia dua orang putra dari pernikahanya dengan Subkhan mengatakan bahwa pangsa pasar luar negeri, terutama produk yang ramah lingkungan masih sangat terbuka dan tinggal kemauan dan kemampuan SDM yang perlu ditingkatkan. 
 
Sebab, untuk pasokan bahan baku sudah ada yang akan memasok dan tidak akan kekurangan. "Permasalahan yang mendasar saat ini adalah kemampuan SDM, karena untuk permodalan pemerintah dapat memberikan modal tambahan dengan bunga yang sangat ringan," tegasnya.

 Alamat:

Chumplung Adji Craft,

Santan Rt.03 Guwosari Pajangan Bantul Yogyakarta 55751

Email: chumplungadji@yahoo.co.id
          chumplungcraft2santan@gmail.com

Hp   : 085643454575, 081328055857

Rahasia Es Dawet Durian Wirausahawan Rahma

Profil Pengusaha Rahma

 

rahasiaesdawet.png
 

Wirausahawan Rahma tengah melayani sendiri pembeli. Gadis berkacamata tersebut membagikan rahasia es dawet durian. Usaha yang bernama Kedai Dapoer Gentong, menarik puluhan masyarakat Kudus sampai mengantri. Viralnya bisnis Rahma ternyata bermodal nekat bukan sekedar uang.


Dia bercerita sama sekali tidak punya uang. Ia membuka usaha dawet bermodalkan utang dan tabungan. Usahanya dirintis 15 Maret 2020, yang diakuinya menghabiskan uang Rp. 70 juta. Uang segitu digunakan buat menyewa tempat, renovasi, dan membeli bahan baku.

 

Pengusaha Muda

 

"Modal sih ada, tapi sedikit dan masih kurang banyak untuk memulai usaha. Sebab itulah agar cukup modal, kekurangannya saya carikan modal," tuturnya.


Warga Desa Menawan, Kec. Gebog, Kabupaten Kudus, sedari dulu memang menggemari wirausaha. Dia memang cita- cita menjadi pengusaha muda. Kegemaran wirausaha sudah dipraktikan semenjak bangku sekolah.


Disaat SMP, sembari sekolah, ia berjualan pulsa sampai masuk sekolah menengah. Di bangku kuliah, selain jualan pulsa, dia berjualan baju hingga kecantikan online. Jualan Rahma ternyata lumayan dari keduanya, menghasilkan Rp.5 sampai Rp.7 juta perusaha.


Wirausahawan Rahma menambahkan bahwa dirinya suka berkuliner. Maka anak pertama dari empat bersaudara ini, sudah menekatkan buat membuka usaha kuliner selepas sekolah. Namun, disaat dirinya minta ijin orang tua, mereka tidak mengijinkan malah memintanya bekerja.


"Orang tua saya itu inginnya agar saya itu kerja saja. Memanfaatkan ijasah yang baru saya dapat," ia mengenang. Tetapi dia telah bertekat membuka usaha sendiri.


Usaha kulinernya bernama Depoer Gentong. Usahanya menyediakan aneka makanan, ada soto gentong dan soto mie seharga Rp.5 ribu. Andalan Rahma adalah minuman es dawet dan dawet durian. Es yang original dihargai Rp.5000, dan es dawet durian Rp.10.000- 18.000, murah bukan.


Beberapa bulan buka sudah mengajak lumayan banyak. Pembeli banyak datang di akhir pekan, maka kedainya akan ramai, dan menghasilkan. Rahma bertahap mulai membayar hutang. Dia berharap akan usahanya berkembang. Bahkan dia ingin membuka cabang dan membuka lapangan pekerjaan.


"Agar bisa buka lapangan kerja untuk orang lain," jelasnya kepada Betanews.id. Usahanya terletak di Jalan Lingkar Utara, Desa Peganjaran, Kec. Bae, Kabupaten Kudus.


Rahma menjelaskan mengapa laris karena pertama. Satu- satunya es dawet di Kota Kudus komplit. Dari dirilis sudah menarik perhatian banyak masyarakat Kudus. Aneka rasa dawet dikembangkan oleh Rahma, seperti dawet coklat dan hijau, cincau, tape, alpukat, nangka dan durian.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba