Jatuh Bangun Denim Batik Bisnis Lazuli Sarae

Profil Pengusaha Maretta Astri Nirmanda


denim batik

Pengusaha berikut menjadi inovator denim batik real. Berbekal juara runner up ajang Rencana Bisnis Kreatif yang diselenggarakan Kementrian Perdagangan tahun 2010, Maretta Astri Nirmanda bersama kedua sahabatnya jadi percaya diri mengembangkan bisnis mereka.

Tak sampai dua tahun mereka berbisnis sukses. Ia menunjukan bisnisnya kini dapat berkembang pesat dan menjanjikan. Meski kedua orang tuanya bekerja kantoran, ternyata ada darah bisnis yang mengalir dalam dirinya.

Retta begitu penggilan akrabnya memilih wirausaha sebagai jalan hidup. Diusia yang ralatif masih muda, ia mengaku telah berkeinginan kuat buat berbisnis. Bersama sahabatnya, Ivan Kurniawan, keduanya sama- sama punya visi tentang bisnis fasion.

Sejak kuliah jurusan Kriya Tekstil di Institut Teknologi Bandung (ITB), dimana keduanya memang sudah sering berbincang tentang hasrat berbisnis.

"Namun, saat itu, hanya sebatas ide tanpa ada tindak lanjut. Selepas kuliah pun kami langsung kerja kantoran di Jakarta," ujar wanita kelahiran 22 Maret 1986 ini.

Memilih Wirausaha

Ide bisnis muncul lagi ketika Ivan mengontaknya di Juli 2010. Keduanya sepakat mengikuti sebuah lomba untuk mengembangkan ide bisnisnya. Sebuah kontes Rencana Bisnis Kreatif 2010 tersebut diselenggarakan oleh Kementrian Perdagangan.

Waktu itu, Retta setuju saja, tapi ternyata konsep bisnis kuliner miliknya tak bisa diterima. Kala itu konsep bisnis kuliner tidak dimasukan dalam industri kreatif, ia pun mengganti konsep itu. Dia teringat temannya Gilang M. Iqbal, yang membuat tugas akhir bertajuk "Batik on Denim".

"Ide ini menarik. Saat itu batik lagi booming dan batik di atas denim yang sifatnya komersial belum ada," ujarnya. Bertiga, mereka maju mempresentasikan rencana bisnis tentang ‘batik on denim’ (batik di dalam kain jins) tersebut.

Tak disangka, rencana bisnis itu bisa masuk sebagai juara runner up. Atas kemenangan tersebut, mereka bertiga berhak atas hadiah Rp.10 juta. "Lalu, kami putuskan hadiah ini menjadi modal usaha," ujar Retta.

Sebagai langkah bisnis ketiganya melakukan riset ulang. Ternyata, mereka tidak lah punya bekal kuat untuk menjalankan bisnis tersebut. Mereka harus mempelajari teknik pembuatan batik di atas bahan jins ditambah menghitung biaya produksi kembali

"Butuh waktu 3 bulan untuk persiapan. Ternyata membatik di atas denim lebih sulit daripada di atas katun," ungkap wanita yang pernah bekerja sebagai desainer grafis ini. Tak patah semangat, Retta akhirnya berhasil memproduksi beberapa pakaian.

Saat barang itu siap diproduksi, Retta langsung merencanakan pemasaran. Karena terget pasarnya itu anak muda, jadilah bazar di kampus sebagai langkah awal produk dipasarkan. "Tapi sayang, hanya terjual dua potong," ujarnya, ia mengaku sempat terpuruk.

Semangatnya muncul kembali ketika mereka mendapat kesempatan mentoring langsung dari Kementrian Perdagangan. "Kami mendapat arahan dari orang-orang yang sudah sukses di berbagai bidang, seperti Betty Alisjahbana, Rene Suhardono, dan Iim Fahima," jelasnya.

Ia dan timnya mendapatkan banyak bekal untuk berbisnis kembali. Mereka pun menyusun ulang rencana bisnisnya, mereka berbenah. Mereka serius membuat katalog bisnis dengan merek dagang atau clothing line, Lazuli Sarae.

"Lazuli diambil dari kata lazhward, bahasa Persia, yang artinya biru. Sementara sarae dalam bahasa Sunda yang berarti bagus. Jika digabungkan, nama ini terdengar seperti brand luar negeri, dengan tujuan produk kami goes global," jelas Retta.

Tak hanya itu, ia mendaftarkan bisnisnya ini menjadi badan hukum. "Meski menelan biaya belasan juta dari modal kami, dengan dikukuhkan sebagai badan usaha, akan mempermudah transaksi dan memperluas kesempatan bisnis," ungkap Retta. Pada bulan Maret 2011, lahirlah CV Sarae.

Dari sini, Retta mulai fokus, tak mau setengah- setengah membesarkan bisnisnya. Ia dan Ivan telah sepakat untuk berhenti dari pekerjaan masing- masing. Sayangnya, Retta harus sedikit bersabar karena telah terikat proyek dengan kantor lamanya.

"Masa-masa itu, pikiran, waktu, dan tenaga saya benar-benar habis terkuras. Saya bekerja dan menjalankan bisnis bersamaan. Bolak-balik Jakarta-Bandung tiap minggu," ujarnya.

Keputusan resign itu memang berat terasa bagi Retta karena ia harus meyakinkan kedua orang tuanya. Dia terus menepis hal negatif yang dilontarkan teman- temannya.

"Banyak yang bilang, membangun usaha tidak gampang. Namun, tekad saya sudah bulat untuk serius membesarkan usaha sendiri," ungkap Retta.

Resign Kerja


Setelah fokus dan benar- benar total menjalankan bisnisnya, April 2011, Lazuli Sarae mendapat undangan khusus dari Departemen Perdagangan untuk menjadi peserta di pameran Inacraft 2011.

"Pameran ini memberi dampak sangat besar. Saya belajar banyak, terutama membaca keinginan pasar," ujarnya. Menurutnya, Inacraft membuka gerbang bisnisnya. "Produk kami makin dikenal banyak orang. Dalam lima hari, omzet kami lebih dari 20 juta! Ini fantastis," ungkap Retta.

Perlahan namun pasti, brand miliknya, Lazuli Sarae, makin banyak dikenal orang dari berbagai kesempatan.

Gencarnya promosi melalui toko online -Rakuten, Multiply, dan media sosial -Facebook, Twitter, Yahoo Messeger, membuat nama brandnya populer di internet. Karena sasaran mereka adalah anak- anak muda yang melek internet, cara marketing seperti ini benar- benar efektif.

"Internet sangat efektif karena sasaran kami anak muda yang setiap hari menggunakan internet," ungkap wanita peraih Shell Start-up Award 2011 ini.

Melejitny popularitas merek Lazuli Sarea tidak hanya mendapatkan respon positif tetapi juga negatif. Tak jarang kritikan menghadang, saat itu beberapa orang menilai produknya dapat merusak budaya. Tapi, Retta tidak gentar.

"Saya percaya pelestarian batik motif asli akan selalu ada. Apa yang saya kerjakan adalah pengejawantahan dari sudut pandang anak muda saat ini tentang batik. Desain batik saya buat sendiri, tidak mengambil dari motif yang sudah ada," jelasnya.

Konsumen muda tetap memilih ide unik kreasi batik yang dilukis khusus di bahan jeans. Tak hanya itu, Retta juga memiliki kejelian memanfaatkan semua material yang ada sebagai sarana promosi tepat. Produknya telah membuat kagum juri Lomba Wanita Wirausaha Femina 2012.

Pantaslah, jika kemudian ia dinobatkan sebagai The Most Potential Entrepreneur. “Desainnya sangat bagus dan sesuai dengan anak muda,” ungkap Anne Avantie, salah satu juri lomba.

"Ini semua di luar ekspektasi saya. asuk ke dalam 25 finalis saja, saya sudah sangat bersyukur. Saya tak menyangka meraih juara kategori khusus," ujar wanita berkacamata minus ini. Kepak sayap Lazuli Sarae terus melebar.

Produk fashion-nya mulai diterima di berbagai department store, seperti Alun Alun, Pendopo, dan Sarinah. Retta juga sangat berharap ada tambahan modal investasi untuk menggerakkan perputaran roda bisnisnya.

Retta pun bersiap untuk masuk ke regional Eropa untuk mengekspor produknya. Sedang dalam proses survei pasar, kebetulan kami ada teman yang akan memasarkan produk kami di sana," ujar penggemar desainer Musa ini.

Dalam waktu dekat, Retta berencana juga membawa produknya ke regional Asia. “Saya akan membawa Lazuli Sarae ke Hong Kong Fashion Week 2013. Doakan kami bisa menembus pasar Asia," ujarnya kepada Fimela, optimistis.

Koren Denim Jejak Wirausaha Rendi Maulana

Profil Pengusaha Rendi Maulana


koren denim
 
Yuk menelusuri jejak wirausaha Rendi Maulana. Pemilik Koren Denim yang berbisnis sejak kuliah. Dari dunia kampus dirinya merajut asa mimpi menjadi pengusaha. Disaat meninggalkan kota asalnya Tasikmalaya buat kuliah di Bandung, dia tidak punya pikiran lain.

Di tahun 2007, Rendi cuma kuliah kemudian mungkin bekerja menjadi pegawai. Dia memilih jurusan Manajemen Universitas Kristen Maranatha. Hingga Ia diminta bantuan sepupunya berjualan celana jean. Dia diminta membantu pemasaran, sementara tidak paham dunia fashion.

Ia mengakui bahwa kesusahan memasarkan jean. Pasalnya satu jean seharga rata- rata Rp300 ribuan perpotong. Namun Rendi terus mempelajari dan menemukan celah pemasaran. Ia menemukan pasar, mulai aktif mencari relasi, dan membuat konsep produk agar laku terjual.

"Dari pengalaman itu, saya terpikir untuk menjalankan usaha sendiri," Rendi bercerita. Lalu muncul satu kesempatan, datang program Wirausaha Muda Mandiri 2011 ke kampusnya. Ia mendapatkan kesempatan coaching selama 6 bulan.

Memupuk Jiwa Wirausaha


Beberapa mahasiswa termasuk dirinya mendapatkan coaching di gadung Bank Mandiri, Jl. Soekarno Hatta, Bandung. Aneka macam pelatihan ditambah motivasi untuk berbisnis sendiri. Pada September 2011, ia memutuskan mendirikan usaha sendiri bernama Koren Denim.

Mengawali usahanya, Rendi mengerjakan semua proses tersebut sendirian, mulai dari perencanaan, pembuatan konsep, dan penjualan. Dalam proses produksi memanfaatkan jasa makloon atau dibuat pihak ketiga.

Rendi bekerja sama dengan lima mitra penjahit lepas. Dia tinggal membawa file, membuat konsep, bahan kain, cara menjahit dan desain sablonnya. Ia yang harus melakukan finishing sebelum dibawa ke mitra.

Para mitra mengisyaratkan pemesanan 60 buah untuk tiap model. Dalam 6- 12 bulan, biasanya akan hasilkan enam model yang harus habis sebelum model lain. Ketika stok menipis maka akan langsung memproduksi. "Tidak ada waktu lagi menunggu, semua berkesinambungan," ujarnya.

Beruntung Rendi mendapatkan pinjaman kemitraan program Wirausaha Muda Mandiri. Uangnya akan dipakai membeli bahan denim atau menambah produk. Rendi kemudian mempekerjakan dua karyawan bagian produksi dan pemasaran.

Sedari awal Rendi memanfaatkan media online dalam pemasaran. Koren Denim memiliki toko online yang bernama www.korendenim.com, dan beberapa sosial media. Ternyata dalam perkembangannya, proses penjualan lewat reseller atau penjualan langsung memang lebih ampuh.

Rendi mulai merekrut beberapa mahasiswa di sejumlah kampus. Target bisnis mereka adalah anak- anak muda. Reseller diambil dari kampus Universitas Maranatha, Universitas Padjajaran, Universitas Parahyangan, ITB, Akademi Pariwisata NHI, dan Universitas Pendidikan Indonesian.

Rendi memberikan lisensi hingga katalog produk. Dia pun merambah pasar Lampung, Jakarta, Bali dan Makassar. Tiap produksinya menghasilkan 60 buah permodel dan sudah habis terjual. Begitu itu habis maka tidak akan diproduksi ulang semodel; akan digantikan model- model baru.

Agar menarik konsumen maka dibuat tematik permodel. Tujuannya agar selalu berbeda ketika sudah diluncurkan. Sebut tema Katty Perry, Cold Play, Naomi, Changemaker, atau edisi GoGreen. Agar ia selalu mendapatkan desain terbaru, Rendi tidak segan mendapatkan masukan atau kritik pembeli.

Dia menerapkan dua strategi penjualan yakni USP dan ESP. Dimana USP merupakan kepanjangan dari Unik Selling Point. Rendi akan membuat konsep yang unik, agar produk ini dapat terjual dengan keunikan tersebut.

Kemudian Rendi menciptakan ESP atau Emotional Selling Point, atau akan membeli walau tanpa ditawarkan. Produk dijual diharga kisaran Rp.250 ribu sampai Rp.650 ribu. Dia juga memproduksi denim premium seharga Rp.1 jutaan, yang dijual 5 buah permodel dan cuma dijual di outletnya.

Bisnisnya mampu meraup omzet Rp.20- Rp.40 juta perbulan. Dimana Rendi masih kuliah, dan bisa membiayai kuliahnya. Dia tidak perlu bergantung orang lain. Sementara ia tidak merasakan kerepotan antara kuliah dan wirausaha.

"Saya kan orang manajemen, jadi seharusnya bisa membagi waktu dengan baik," jelas Rendi, yang punya jejak wirausaha gagal berbisnis bubur ayam.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba