Membuka Restoran Jepang Pengusaha UGM

Profil Pengusaha Saiqa Ilham Akbar


pengusaha ugm berjaya

Universitas Gajah Mada (UGM) sering merajai kompetisi kewirausahaan. Seperti dua pemuda yang membuka restoran jepang ini. Pengusaha muda yang  berhasil memenangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009. Mereka Saiqa Ilham Akbar dan Sukantyoso Putro pendiri Hotaru Japanese Resto.

Mereka berhasil menyabet juara dua untuk kategori boga. Keduanya sukses menggagas bisnis resto Jepang lokal. Peluang bisnis ini sudah lama diamati Saiqa terutama di Yogya. Banyaknya orang yang antusias akan Jepang. Bisnis ini juga didukung oleh banyaknya komunitas pecinta Jepang.

Bermodal Rp.90 juta keduanya membuka usaha murah meriah. Dibanding usaha sejenis yang dibawa orang. Mereka menawarkan menu seharga Rp.10- 20 ribuan. Alhasil restoran tersebut laris manis didatangi orang. "Kami juga menyediakan segala pernak- pernik dan busana khas Jepang," ujarnya.

Tidak hanya mengandalkan menu makanan sesuai selera. Makanan yang enak seperti asli Jepang juga didukung fasilitas. Mereka bahkan membuka dojo untuk orang berlatih bela diri aslinya. Atmosfer Jepang terbentuk menggaet lebih banyak pecinta budaya Jepang.

Pengusaha pasti lekat dengan kegagalan. Bahkan 60% mahasiswa yang memulai usaha gagal total. Ini tak mudah tetapi Saiqa telah bertekat.

"Sebagai pengusaha tidak boleh gampang menyerah," ia menjelaskan.

Prinsip membuka usaha ialah tidak bisa instan. Semua butuh proses pembelajaran, dan harus jalan dengan penuh kesabaran. Baginya bisnis butuh untuk memberi manfaat orang banyak. Ia mengajak dua temannya, membuka 2 kedai di lembah UGM dan sekitar Jalan Godean.

Saiqa juga membuka tiga cabang di Jakarta, Bekasi, dan Bogor. Mengambangkan bisnis apapun tidak mudah. Mereka butuh pemasaran menarik pelangga, dan masahal sumber daya alam.

Rencana Usaha Ayam Bakar Mahasiswa Sukses

Profil Pengusaha Dymas Tanggul Panudju 


pengusaha mahasiswa
 
Semenjak kecil, Dymas Tanggul Panudju, memang gemar berwirausaha. Renacana usaha ayam bakar mahasiswa ini pun sukses. Bahkan bisnis ini bisa berkembang pesat. Dia, Mahasiswa Universitas Brawijaya, jurusan Teknologi Hasil Pertanian, malah memilih berbisnis ayam bakar.

Mungkin terlihat banyak persaingan tetapi pemuda 28 tahun ini mampu. Menyalip diantara bisnis serupa bukan mudah. Dipicu oleh kekurangan biaya kuliah, Dymas mulai sibuk bekerja sampingan. Ia harus memilih antara bekerja atau berkuliah, tetapi dia memilih berwirausaha dan tetap kuliah.

Pilihan tidak menyenangkan memang. Dia adalah memilih bekerja untuk membiayai kuliah, sekaligus mengumpulkan modal. Dia membuat opsi sendiri dengan mengakali biaya kuliah. Dymas bekerja di sebuah rumah makan, berlanjut karyawan sebuah perusahaan katering.

Bisnis Mahasiswa


Dia mungkin memiliki gaji cukup. Dymas bekerja di sebuah katering ternama. Ia pun bisa lanjut berkuliah. Rangkul hari mu atau seize the day, yakni prinsip bahwa keseharian harus diisi oleh hal- hal berharga. Mangkanya selain sibuk berkerja dan kuliah, dia juga aktif berorganisasi.

Dymas sempatkan diri mengikuti organisasi di kampus. Kemudian Dymas diangkat menjadi steering committee. Mendapat Jabatan bergengsi di organisasi, ia menemukan kasus- kasus unik sebagai celah bisnis. Kasus bahwa organisasi kampus membutuhkan katering yang berkualitas.

Kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa membutuhkan konsumsi buat anggota dan panitia seminar. Ia kemudian mendapatkan tugas buat menyiapkan konsumsi. Tetapi keterbatasan dana menjadi masalah. Ia tetap semangat. Pokoknya tugasnya bagaimana menciptakan makanan murah tetapi berkualitas.

Jujur dia kembingungan menghadapai pesanan tersebut. Dymas lalu berpikir keras caranya untuk memenuhi kebutuhan katering. Disisi lain keinginan menjadi pengusaha katering muncul. Pasalnya karena kebutuhan makanan pesanan memang sangat dibutuhkan.

Memang bisnis kuliner tidak pernah ada matinya bukan. Prospek sebut saja jika 6000 orang hadir, dimana ada tiga hari dalam sepekan, dan dimana kegiatan itu sudah bersifat rencanan tahunan atau sudah pasti ada. Disisi lain, organisasi memiliki 10- 16 program kerja, yang pasti butuh makan.

Dymas mulai hitung- hitungan di atas kertas. Hitungan 36 Universitas di Malang, dimana jika mereka nanti menjadi pelanggan katering yang akan Dymas dirikan. Sudah berapa keuntungan bisa diraih oleh pemuda tersebut.

"Orang yang terbiasa menggunakan otak kanan akan melihat titik finish dimana ada banyak sudut pandang meskipun dalam benang kusut dan hanya 5 meter," ungkapnya dalam blog pribadi.

Masih kuliah Semester 3, dia membiayai semua bisnisnya sendiri bermodal pengalaman. Ia memutar otak agar bisa mendapatkan modal usaha. Pertama mikir mau pinjam bank tetapi pasti tidak dikasih mereka. Dymas mikir lagi apalagi mau minta orang tua, untuk biaya kuliah dan makan aja susah.

Pengusaha Muda Mandiri


Dia juga kayaknya malu kalau pinjam saudara. Maunnya sharing dengan teman satu kosnya. Lalu dia coba sampaikan ke teman- teman kosnya. Tidak disangka ide itu mendapatkan tanggapan baik. Ia pun mendapatkan dana Rp.4,5 juta.

Menurutnya waktu itu, hasil iuran, sudah termasuk banyak dari mereka mahasiswa. Dukungan moril juga diberikan teman Dymas. Ia sendiri berjanji uang tersebut adalah hutang usaha. Jadi bukan sharing modal. Yah teman- teman Dymas ragu tetapi tetap mendukung usaha itu.

Mereka nampak tidak siap untuk berbagi usaha dan percaya bahwa akan sukses. Ia memaklumi hal tersebut. Bisnis yang awal katering, lantas berubah menjadi bisnis ayam bakar, tetapi dia pintar tetap menarget pasar sebelumnya.

Dia mematok ayam bakarnya Rp.7.500. Dengan waktu itu, di tahun 2010 masih sedikit persaingan, dan bisnis ayam bakarnya masuk memenuhi pesanan buat mahasiswa Unibraw. Dymas berani untuk menyiapkan ayam goreng Rp.6.500, dibanding tempat lain sudah murah tuh

Padahal satuanya bisa Rp.10.000 -an di tempat lain. Udah murah dia bikin semakin murah saja. Hasilnya orderan Dymas membludak hingga tak kepikiran nama. Ia baru kepikiran nama usaha di akhir- akhir. Dulu pake nama pemberian teman tetapi dianggap tidak cocok.

Ia teringat asal usulnya. Pelosok Desa Ngimbang, Kabupaten Lamongan, inilah cikal bakal nama usahanya. Dymas ingin mengangkat nama desanya, dan ingin membuat orang tuanya bangga. Uang segitu ternyata tidak mudah loh.

Dia memulai usahanya bermodal dua kompor minyak dan satu penanak nasi. Dymas memang jago mengolah ayam. Bumbu racikan dicari sampai 36 kali hingga rasanya pas. Jadi dia tidak langsung launching bisnis, tidak berani mengecewakan pelanggan bermodal coba- coba.

Modal utamanya adalah ketekunan, keuletan, inilah rahasia dia menciptakan masakan sedap. Ini cara dia menemukan resep sesuai lidah pelangganya. Usahanya berkembang pesat, memasuki tahun 2007- 2009, dia membuka 15 cabang.

"Kalau soal bumbu, itu rahasia, nanti ditiru," selorohnya. Buat menunya ada ayam bakar Ngimbang, ayam goreng mentega, dan bebek halilintar.

Bisnis Ojek Sukses


Tahun 2009 datang masalah tidak terduga. Yakni penyakit flu burung yang merebak. Apalagi daerah Jawa Timur ramai sekali kasus flu burung. Alhasil, penjualan Dymas menurun drastis, banyak cabangnya tutup dan sisa tiga yakni di Malang, Surabaya, dan Lamongan.

Sudah jatuh karena flu burung, pihak mall juga melarang jualan ayam bakar karena asapnya. Agar bisa lepas dari jerat penyakit flu burung. Ia lalu mengedukasi masyarakat bahwa unggas miliknya aman. Dia lalu membuat stiker bebas flu burung, hasilnya per- hari bisa menjual 250 ekor per- hari.

Berawal dari satu outlet di depan Unibraw. Karena permintaan banyak, dia membuka empat outlet di luar kampus, terus hingga cabang di luar kota. Omzet tahun 2007 adalah Rp.60 juta, untung bersihnya sampai Rp.27 juta.

Tahun 2008 membuka empat outlet, hasilnya omzet Rp.128, laba bersih Rp.75 juta. Di 2009, omzetnya naik mencapai Rp.234 juta, dan untung bersih mencapai Rp.166 juta. Tidak berhenti di usaha satu saja, dia lantas membuka usaha ojek motor mengajak teman- teman mahasiswa.

Beberapa sepeda motor nanti dipakai oleh mahasiswa. Ia bahkan memadukan itu dengan teknologi komputer. Sebelum jamannya Gojek dan smartphone, Dymas menggunakan sistem komputer kuno. Dia juga berbisnis jajanan ote- ote, memang usahanya keliatan sepele, tetapi pendapatannya lumayan loh.

Banyaknya pesanan membuat banyak orang minat. Para investor menawari Dymas untuk menjadika usaha ayam bakar miliknya menjadi franchise atau waralaba. Selepas menang Wirausaha Muda Mandiri 2009, dan dapat juara 1, nama Ayam Bakar Ngimbangan.

Kemenangan ini semakin menarik investor untuk menjadi bisnis mereka. Namun, pengusaha muda ini belum kepikiran untuk waralaba, malah lebih fokus membuka cabang sendiri. Fokus ini didukung oleh kemampuan menjaga cira rasa tetap terjaga. Mungkin dia takut kalau nanti kualitas ayamnya menurun.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba