Biografi Luther Kombong Mantan PNS Sawit

Profil Pengusaha Luther Kombong

lutherkombong.png
   
Biografi Luther Kombong, mantan PNS, nama pengusaha yang mungkin sudah familiar untuk warga Kalimantan Timur. Pria kelahiran Rantapeo Sulawesi Selatan, 27 September 1950, yang dikenal sebagai pengusaha kaya raya dan salah satu kader terbaik dari Partai Gerindra. 
 
Seorang politikus, pengusaha terkenal, yang ternyata dulunya pernah mengecap rasanya jadi orang bergaji. Untuk pengalaman politik selain pernah menjadi calon Gubernur Kaltim. Dia tercatat menjadi anggota DPR sejak 2004. 
 
Dua periode sudah dia menjabat menjadi anggota DPR Komisi IV -membadani pertanian, perkebunan, Kelautan, Perikanan dan Pangan. Selain pengusaha dan politik, ia juga mantan PNS di Dinas Kehutanan sejak 1985.

Biografi Luther Kombong


Sebelum menjabat direktur utama PT. Pancakarya Margabhakti dan PT. Dwiwira Lestari Jaya. Sosok Luther ya seperti kebanyakan orang biasa alias bergaji. Cuma bedanya dia cerdik dalam hal berbisnis. Ia bahkan sukses ketika masih berstatus pegawai negeri sipil. 
 
Pengusaha berdarah Toraja dan tumbuh besar di Kalimantan Timur. Merupakan pengusaha lokal bisnis sawit di Kaltim. Unik, jarang loh ada pengusaha lokal sukses di sawit.

Bahkan hampir tidak ada pengusaha lokal sukses disini. Menurut artikel sumber, pengusaha di Kalimantan, kelau pengusaha lokal cuma pemilik hak pengusahaan hutan (HPH). Jadilah cuma beberapa saja yang bisa punya tanah luas. 
 
Jarang sekali pengusaha lokal bisa sebesar Luther Kombong -kebanyakan merupakan perusahaan besar dari luar Kaltim. Sebut saja nama- nama perusahaan besar seperti Astra Argo Lestari, Lonsum, Sinarmas.dll.

Pengusaha yang memulai usahanya dari bawah. Setamat SMA, Luther tak mungkin kuliah karena masalah ekonomi, untungnya ia mampu masuk PNS di Dinas Kehutanan Kalimantan Timur. Berkat kerja kerasnya lah dia bisa mendapatkan pekerjaan. 
 
Terbukti selama bekerja di dinas, tak sedikit usaha sampingan dijalaninya sambil bekerja. Mulai dari berbisnis restoran kecil- kecilan, kantin sekolah, penyewaan mobil, sampai ikut proyek prasarana. Justru dibisnis sampingan lah uang lebih besar berasal. 
 
Hingga ada seorang relasi nyeletuk kepadanya, "kalau jadi PNS terus, kamu tak akan bisa kaya atau cukup." Luther harus menjadi entrepreneur sejati. Seorang yang mampu melihat peluang bisnis. Soal mental sendiri sudah dianggapnya Luther punya. 
 
Tahun 1986, ia baru bisa mengajukan surat pengunduran diri. Disaat mengajukan surat itulah banyak kolega bahka atasan yang menahannya. Sang atasan malah menawarinya cuti di luar tanggungan negara. Sayang, tekadnya menjadi pengusaha sudah bulat. 
 
Ia sempat mengikuti saran tersebut. Tetapi, hasratnya condong ke pengusaha tak tertahan lagi. Selepas tak lagi menjadi pegawai, Luther membangun bisnis konstruksi. Targetnya mengerjakan proyek pemerintah di bidang infrastruktur. 
 
Luther banyak membangun jalan- jalan antar daerah. Proyek pemerintah daerah yang fokus di kawasan transmigrasi. Berjalan waktu ia lantas "bosan" akan tingkah Pemda. Menurutnya pemerintah daerah terlalu birokrasi dan bertele- tele. 
 
Kalau birokrasi mungkin bisa ditunggu, tapi menurutnya kalau soal bertele- telenya; ia tak tahan lagi. Udah bekerja setengah mati tapi uangnya susah keluar. "Kami bekerja tapi seperti pengemis," ujarnya. Perusahaan miliknya sudah tak mau lagi berurusan. 
 
Pilihannya cuma satu bekerja sama dengan perusahaan swasta muni. Berkat kharismanya, kemampuan berbisnisnya memanggil perusahaan besar mendekat. Dia dipercaya oleh perusahaan besar macam Sumalindo. 
 
Ia lantas menjelaskan, "sukses dipercaya oleh perusahaan-perusahaan besar itulah yang membuat saya beranjak naik." Tak cuma naik tapi seperti halnya balon ditiup. Berkat hal apa namanya kepercayaan bisnis ayah dua anak ini moncer. "Seperti balon ditiup," ia menganalogikan.

Meski sukses berbisnis konstruksi justru memunculkan kegalauan. Lantaran fakta dia dan perusahaan sangat tergantung rekanan. Sistem kontrak karya membuat usahanya berhenti, ketika tak ada lagi kontrak kerja sama. 
 
"Ketika kami nggak dipakai lagi, maka kerjaan tak ada. Kami ingin bisnis yang long-term, bukan bisnis kontraktor seperti ini," Luther menjelaskan. Dibenak Luther cuma ada bisnis perhotelan, rumah sakit, perkebunan atau sekolah.

Pengusaha Sawit


Meski banyak ide tak lantas semuanya cocok. Dia membaca itu lewat keadaan Kaltim. Secara umum buat bisnis perhotelan, rumah sakit, dan sekolah belum saatnya. Mau memilih batu bara yang sedang "booming" malah menurutnya terlalu banyak unsur perjudian. 
 
Kurang menarik baginya yang mencari kepastian jangka panjang. Akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa bisnis sawit lah.

"Saya pikir bisnis ini paling cocok untuk Kal-Tim karena alamnya memang memungkinkan," ujar Luther.

Idealisme Luther sebagai pengusaha dicoba seketika. Semasa itu, tahun 1998, dia sempat ditawari ijin HPH. Gampangnya, kamu tinggal tebang pohon atau jug bakar pohon, tanami tanaman sawit dan jadi duit dan begitu seterusnya. Ini tak menggoyahkannya karena fokus ada di tanah perkebunan. 
 
Tanah hak siap pakai tanpa ada jeda waktu. Jika pengusaha kebanyakan sukses di HPH, tidak seorang Luther, sekali lagi bisnis long- term bukan short term! Ini baru kesampaian di akhir 1998 lewat hak pemanfaatan hutan. Total ada perkebunan sawit seluas 20 ribu hektar. 
 
Semenjak punya kebun sawit sendiri kiprahnya sebagai pengusaha bergulir. Di tahun 1999 mulailah proses penanaman. Untungnya waktu itu, ia mendapatkan bibit bagus asal PT. London Sumatera Plantation -yang gagal tanam karena didemo warga. 
 
Modal sendiri menjadi andalannya ketika membangun bendera PT. Dwimitra Lestari Jaya.

"Saya memakai tabungan sendiri dari hasil keuntungan bisnis-bisnis saya sebelumnya," katanya mengenang.

Karena modal sendiri pantas jikalau pertumbuhan bisnisnya tak cepat. Tak secepat pengusaha sawit yang sudah dimodali kredit bank. "Makanya pertumbuhan kami nggak bisa secepat mereka yang menggunakan kredit bank," lanjutnya merendah. 
 
Toh, akhirnya bisnis sawit itu terus berkembang, bahkan sudah mencapai 35 ribu ha di Sangkurilang dan Berau. Untuk konsesi kedua seluas 15 ribu ha dipegang oleh putra pertamanya. Dari kebun pertamanya katanya sudah ditanami 8 ribu ha. Sementara yang sudah bisa berpanen ada 3 ribu ha. 
 
Kebun itu mampu mempekerjakan 1.600 pekerja. Sebagian pekerjanya datang dari desa- desan miskin di Pulau Jawa. Kemudian dibangun juga satu pabrik berkapasitas 30 ton per- jam. Yang mana rencananya akan meningkat sampai produksi 60 ton per- jam. 
 
Cerdasnya Luther mampu memanfaatkan perkebunannya. Ia sempat membangun pabrik kayu lapis dan vinil sekala sedang. Usaha plywood atau pengolahan kayu agar tidak ada limbah. Ketika membuka lahan terlebih dahulu ada pemotongan kayu hutan diameter 20- 30cm. 
 
Agar tidak mengikuti aturan dari pemerintah bahwa tidak ada pembakaran atau limbah. Satu- satunya cara ya lewat adanya pengolahan plywood. Untuk itulah perusahaan bernama PT. Panca Karya Marga Bakti. Usaha kayu lapis yang telah mempekerjakan 400 -an karyawan.

Luther masih merasa dirinya bukan siapa- siapa. Tak hentinya ia bersyukur atas jalannya roda kehidupannya. Seorang anak cuma lulusan SMA sampai akhirnya menjadi pegawai negeri dan seterusnya. 
 
Usaha berkembang menurutnya tak melulu harus punya modal besar. Meski terlihat besar sekarang, parlu kamu tau awalnya ratusan alat pengolahan miliknya adalah hasil leasing. Semuanya berkat kemampuannya membaca meperhitungkan.

Ada aset properti dibelinya di Samarinda Seberang seluas 100 ha, dibeli semasa belum krisis, dan harganya baru Rp.15- 20 ribu per m2. Sekarang tanah tersebut ditaksir seharga Rp.500 ribu per- m2. Nilai asetnya naik sampai satu triliun bukan karena apa. 
 
Tapi karena ia pandai menyimpan uang dan berstrategi. "Padahal waktu krisis saya sempat mengira ini langkah bisnis saya yang salah," ujar Luther, yang rencananya akan membangu hotel disana.

Prinsip bisnis Luther sederhana kok, ada lima prinsip agar kamu bisa jadi the next Luther Kombong:
 
(1) mau bekerja keras, (2) punya keberanian, yaitu berani mengambil keputusan, (3) jujur, agar menarik kepercayaan mitra, (4) memelihara lingkungan, (5) punya manajemen yang baik, termask manajemen uang kamu sendiri buat berinvestasi. 
 
Prinsip kejujuran menjadi andalan seorang Luther Kombong. Istilahnya kalau kamu udah bisa dipercaya kamu telah kaya.

"Karena orang kalau sudah percaya akan berani meminjamkan barangnya atau uangnya kepada kami. Kalau kami tidak dipercaya maka hubungan itu akan putus," tutur Luther yang kini lebih sibuk berpolitik sementara putra pertamanya yang menjalankan bisnis. 
 
Meski bisnis sawit tampak megah diluar. Fakta menurut dia, iklim investasi dibisnis ini lemah. Utama soal ada atau tidak kepastian hukum. Tidak ada political- will memajukan pengusaha. Pemerintah tak serius memilah mana pengusaha yang taat pajak, pengusaha yang membuka lapangan pekerjaan baru, dengan yang mana pengusaha yang sekedar spekulan. 
 
Ilegal dan legal menurutnya di Indonesia itu beda tipis. Birokrat sendiri lebih suka bisnis ilegal yang dilegalkan.

"Kita tertinggal jauh dari Malaysia," tambahnya.

Jaminan keamanan dinilainya lemah banyak perkebunan sawit dirusak warga. Padahal kalau mau pemerintah bisa membuat kebijakan pemberdayaan masyarakat. Belum lagi bunga bank masih cukup tinggi. 
 
"Kalau kondisinya kondusif, kami pasti sudah bisa tanam 20-30 ribu hektar sampai sekarang," tutup Direktur Utama PT Dwimitra Lestari Jaya ini seraya berharap. Sumber: Sudarmadi, Business Journalist and Researcher SWA.

Pengusaha Gila Usaha Briket Kulit Kacang

Profil Pengusaha Edy Gunarto 


pengusahagila.png
 
Pengusaha gila usaha briket kulit kacang. Dasarnya memang menjadi pengusaha keputusan ggila. Ia harus mampu membuat peluang bisnis. Merubah ketidak mungkinan menjadi kenyataan. Termasuk hal- hal paling kecil -remeh temeh, semisal dia mengolah kulit kacang. 
 
Edy Gunarto, cuma warga dusun biasa (awalnya), asli Dusun Plebengan, Desa Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Bantul, dan Yogyakarta, mampu merubah kulit kacang menjadi briket. Edy sudah bisa memasarkan produknya di berbagai kota, seperti Surabaya dan Jakarta.
 

Usaha Briket

 
Lewat kulit kacang saja namanya dikenal diantara pengusaha kelas rumah tangga. Mereka adalah orang- orang yang butuh bahan bakar alternatif pengganti. Gagasan sederhana yang lantas memulai keisengan. 
 
Mulai dari rasa terlalu banyak sampah kulit kacang di desanya. Sampah bertumpuk dibiarkan di pinggiran jalan atau begitu saja di kebun- kebun.

Di rumah Edy sendiri kulit kacang tak kalah banyaknya. Apalagi sang istri ternyata seorang pengepul kacang. Dimana istrinya menerima kacang hasil panen para petani. Setelah itu kacangnya dikupas oleh istrinya, dijual setelah bersih tanpa kulit. 
 
Kacang asal Desa Sidomulyo itu biasanya dijual di pasar tradisional, terutama di pasar Bringharjo, yang mana cuma menyisakan setumpuk kulit kacang di rumah. Semakin menumpuk lagi berkat jasa Edy pula. Berkat mesin canggih buatannya yang mampu mengupas 2 kuintal dalam sehari. 
 
Alat tersebut semakin ganas selepas dimodifikasi ulang. Olehnya, kini, mesin pengupas kacang buatannya mampu mengolah 1,5 ton per- hari. Alat tersebut dijelasnya meniru alat perontok padi karena prinspinya hampir sama.

"Dengan bantuan alat pengupas, kacang tanah yang tertampung semakin banyak," jelasnya. Serta semakin banyak pula kulit kacang tertumpuk di rumahnya.

Berkat mesin itu keuntungan bisnisnya makin menanjak. Tapi bukan karena itu namanya menanjak, menjadi sosok pengusaha inspirasi kamu. Berkat mesin pengupas kacang, petani kacang datang tidak cuma berasal dari daerah Bantul. Tetapi juga petani asal Kulon Progo dan Gunung Kidul. 
 
\Itu membuat usaha istrinya makin pesat saja.

"Dampak lainnya, ya semakin menumpuknya sampah kulit kacang di rumah kami," ujarnya.

Kulit itu bahkan terkumpul sampai bertruk- truk. Kulit itu dijualnya ke pengrajin tahu seharga Rp.30.000- Rp.35.000 per- truk. Kulit kacang tersebut digunakan oleh para perajin sebagai bahan bakar. 
 
Di sanalah ada terbersit ide bagaimana memanfaatkan kulit kacangnya. Kebetulan juga ada pelatihan pembuatan briket di kampung Edy. Ada pelatihan membuat briket serbuk gergaji, yang sayangnya, lebih mudah mencari kulit kacang dibanding kayu.

"... di tempat saya sulit dan yang tersedia kulit kacang, ya saya coba saja," ujar Edy, lantas dicarinya sumber bacaan tentang kulit kacang dan briket. Dia tertarik bagaimana cara membuat briket kulit kacang. Masa eksperimen dilakukan dengan mencampur kulit kacang dan serbuk gergaji. 
 
Lambat laun, akhinya Edy sukses menemukan cara 100% kulit kacang. Pada awal eksperimen, proses pembakaran tidak sempurna jika cuma memakai kulit kacang. Menurut hasil penelitiannya semua bahan organik bisa. Mampu dirubah olehnya menjadi bahan briket. 
 
Begitu pula bahan kulit kacang yang berton- ton tersebut. Cuma butuh diakali dulu sampai benar- benar bisa 100% dari kulit kacang. Hasil penelitian Edy ada cangkang jarak, tempurung kalapa, bahkan bonggol jagung bisa diolahnya jadi briket. 
 
Penggunaan bahan lain digunakannya jikalau stok kulit kacang menipis.

"Karena di daerah sini terkenal sebagai sentra kacang, stok kulit kacang praktis selalu tersedia meskipun pada masa-masa tertentu stok kulit kacang kadang memang agak berkurang," jelasnya.

Pengusaha Gila

 
Selain kulit kacang ada pula bonggol jagung sebagai alternatif. Pabrik briket kecilnya mampu menghasilkan 70kg briket. Setiap 1kg briket membutuhkan 2kg kulit kacang. Dalam sehari dibutuhkan 180kg kulit kacang setiap harinya. 
 
Selain sampah milik sendiri juga dibelinya dari masyarakat sekitar. Dibelinya Rp.50 per- kg, yang mana Edy menjual kemasan 2kg -an. Briket- briket tersebut kemudian dijualnya Rp.2.500 per- kg.

Produksinya masih rendah dibanding permintaan yang meninggi. Kendala paling utama bisnisnya adalah soal peralatan yang masih sederhana. Harapan akan adanya investor akan sangat membantu. Mungkin dia bisa berproduksi setingkat pabrikan. 
 
Mengingat potensi kulit kacang (organik) masih terbuka lebar. Pria lulusan STM 2 Jetis Bantul ini memodifikasi peralatannya sendiri. Ambil contoh pengaduk molen briket meniru kerja mesin pabrik. Alat buatannya seharga Rp.2 juta, kalau beli bisa mencapai Rp.5 juta. 
 
Alat cetak briketnya? Tenang, Edy mengunakan alat pencetak genteng. Itupun sudah dimodifikasi pula Pemanfaatan briket cukup memakai tungku tanah liat seharga Rp.10.000. Memang ini khusus dibuatnya karena belum pernah ada. 
 
"Setelah saya bicarakan dengan para perajin, mereka lalu memproduksi tungku gerabah sehingga konsumen tidak kesulitan mendapatkannya," kata Edy.

Menyalakan briket dalam tungku juga mudah. Briket tinggal ditaruh didalam lubang yang atasnya sudah ada tungku. Dinyalakannya juga gampang cuma pakai secuil kertas atau kain (sudah menyala api). 
 
Tidak sesulit kalau memakai briket batu bara. Uletnya seorang Edy menghasilkan secercah harapan. November 2008, ia memenangkan perlombaan, juara pertama lomba yang diselenggarakan Universitas Indonesia dan Citi Peka.

Ia memenangkan ajang entrepreneurship. Berarti juga ada kesempatan mendapatkan bantuan dana. Atas hal prestasinya diatas briket kulit kacang memenangkan Rp.11 juta. Uang tersebut rencananya akan digunakan buat modal kembali. 
 
Usahanya dirasa akan semakin berkembang lagi. Pasalnya kala itu minyak tanah subsidi mulai langka dipasaran. Tanpa subsidi harga minyak tanah mencapai Rp.8.000 per- liter. Nilai ekonomisnya sudah melebih briketnya.

Ini bisa pula menjadi bahan bakar alternatif pemerintah. Sayangnya, briket ini kalah pamor dengan briket dari batu bara. Apalagi kalau bukan masalah "uang" menjadi hambatan. Briket kulit kacang atau bahan organik lain kalah seksi dibanding briket batu bara. 
 
Terlalu banyak orang masuk dibisnis batu bara dan bisa terusik. Menggunakan briket organik nyatanya ramah lingkungan. Lebih irit kalau dibanding minyak tanah (meski tak secocok tabung gas). 
 
Cocok buat mereka yang memasak nasi, sayur, dan lauk, cocok lagi untuk mereka yang punya usaha pengolahan tahu atau tempe. Satu liter minyak tanah delapan ribuan, sementara briketnya cuma Rp.2.500 per- kg. Ini tidak pula menimbulkan asap mengepul mengotori langit- langit.

Kini, briket kulit kacangnya menjadi idaman industri ruma tangga. Salah satunya industri batik, yang mana nilai 3000 kg bisa buat memasakn satu jam.

Usaha Mabel Rotan Bangkrut Banyu Bangkit

Profil Pengusaha Banyu Widjaya 


usahamabel.png

Sempat usaha mabel rotan bangkrut tetapi tidak menyerah. Pengusaha kelahiran Cirebon, 43 tahun silam, merupakan sedikit dari pengusaha rotan. Tujuh tahun sudah, Banyu Widjaya mempertahankan bisnisnya. Sudah berbisnis furniture rotan sejak 2007 silam. 
 
Kemudian dia buka lapaknya di Jalan Solo Km 12, Mangunan. Dulunya dia buka di Jalan Solo Km 11, kemudian karena alasan tertentu dia akhirnya pindah ke tempatnya sekarang. 
 
Sejak Januari 2015 dia berusaha keras berjuang, dari Cirebon pengalaman pahit pernah dirasa bahwa berbisnis furniture rotan tidak segampang dulu. Apalagi era global sekarang persaingan makin sengit. Ia bercerita, tahun 2004 silam, usaha furnitur di tempatanya dulu, Cirebon, gulung tikar. 
 

Usaha Lagi

 
Banyu bangkit usaha mabel lagi. Perasaingan global menjadi faktor utama. Hanya sedikit pengusaha rotan mampu bertahan. Tinggal 30 persen saja pengusaha rotan mampu berjuang termasuk Banyu sendiri.

Karena itulah dia pergi beranjak ke Yogyakarta, harapan bahwa berbisnis rotan di Yogya lebih baik. Banyu memang berjuang sangat keras. Dia membangun bisnis finishing. Perakitan sudah dilakuakn di Cirebon. 
 
Mulai merangkai rangka, menyamakan jari, mengikat komponen dan menganyam rotan sudah jadi. Di Yogyakarta dia tinggal mengoleskan impra. Tujuannya agar produk awet, tidak juga keliatan lusuh jika kita memandang. Produknya dibuat lebih menarik dengan cara tersebut. 
 
Beberapa bulan jalan akhirnya dia bisa mempekerjakan karyawan. Artinya untung dihasilkan lebih baik dibanding berbisnis di Cirebon.

Kayu rotan sebenarnya bisa menjadi bisnis menjanjikan. Pasalnya kualitas tidak kalah dengan bahan kayu lain. Memiliki umur bahkan lebih awet dibanding beberapa kayu biasa. Selain itu nilai artistik rotan lebih keliatan dibanding kayu lain.

Rotan kan bisa bertahan sampai tujuh tahun. Tergantung perawatan bisa sampai lebih malah. Fokus usaha dia jalankan memang masih sebatas furniture. Mulai dari kursi, sampai perlengkapan makan lengkap dia punya. Juga beberapa pernak- pernik furniture hias. 
 
Bahan mulai rotan alam, Banyu juga memakai rotan sintetis. Dia kini bekerja bersama tiga karyawan. Bekerja jualan dari jam 7.00 sampai 21.00. Berkat usahanya dia mampu membantu orang. Juga mampu memberi makan istri dan kedua anaknya. 
 
Hidup Banyu dipenuhi rasa cukup karena usahanya bertahan sampai sekarang.

Pengusaha Kerajinan Koran Ranny Kreasi

Profil Pengusaha Haerani Erlina Fairida 


kerajinankoran.png
 
Ranny Kreasi pengusaha kerajinan koran.  Tren bisnis daur ulang koran namapnya bisa jadi pilihan. Ini bisa menjadi pilihan sobat pengusaha muda. Unik, lewat lembaran- lembaran koran bekas itu bisa dijadikan aneka produk. Menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi. 
 
Dulu kami pernah membahas kisah sukses FX. Harso Susanto. Lewat tangan dinginnya merubah koran bekas jadi aneka furnitur. Kini, kisah Haerani Erlina Fairida, ibu rumah tangga yang merubah koran bekas jadi aneka pajangan.

Bisnis Kerajinan Koran

 
Pemilik Ranny Kreasi berkisah kepada Moneter.co kapan tepatnya.  Awalanya sih karena timbul rasa ingin memanfaatkan limbah koran bekas. Mau didaur ulang cuma mau dijadikan apa. Diakuinya ini sebagai proses iseng- iseng. 
 
Koran- koran diubahnya menjadi aneka wadah keperluan sehari- hari. Melalui belajar otodidak keahlian Ranny mulai terasah. Lewat teman- teman yang berkunjung, lambat laun karya seni itu diminati, apa dijual?

"...bagus ya ini belum ada di pasaran. Terus dari situ ada pesenan dari beberapa teman dan saudara jadi semangat," kata Ranny menirukan.

Permintaan makin banyak datang. Modal pertama Rp.100 ribu dibantu seorang karyawan. Mereka bersama mencoba memenuhi kebutuhan pesanan. Sayangnya, tak semudah itu menjalankan bisnis karena benar melelahkan. 
 
Ranny sendiri sudah bereksperimen lewat bentuk, warna, dan macam- macam kegunaan. Usahanya semakin diminati, apa yang bisa dilakukannya. Untuk memenuhi permintaan bergabunglah Ranny dengan PKK. Lewat organisasi tersebut didapatkan dana pinjaman lunak. 
 
Modal tersebut digunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan pasar. Tambahan modal dari PKK senilai Rp.500 ribu. Digunakan untuk menambah jumlah karyawan dan membeli bahan perlengakapan. Total ada 3 karyawan perajin, ditambah 20 karyawan produksi sampai sekarang. 
 
Setelah mampu memenuhi kebutuhan apa selanjutnya. Ranny mulai bermanuver mengikuti aneka perlombaan kerajinan. Tahun 2012, ia memenangkan lomba Juara 1 UKM Award dari Kementerian Koperasi dan UKM. 
 
Kemudian Ranny Kreasi juga memenangkan Juara 1 Sapta Pesona Alam dari Dina Pariwisata. Ada pula aneka pameran yang mulai diikutinya hingga sampai ke luar negeri Bangkok International Gift Affair dan Bangkok International House Fair 2012.

"Akhirnya saya dikenal sama Dinas dan Kementrian Perindustrian serta Dekrenas," jelasnya. Usahanya ini memang punya banyak manfaat buat lingkungan.

Pengusaha Kerajinan


Penjualan Ranny Kreasi dimulai lewat orang- orang terdekat. Penjualan beralih lewat penjualan door- to- door. Hasilnya membangun nama dan pesanan meningkat. Soal lomba dimulai dari paling bawah yakni lewat lomba kelurahan. 
 
Lomba itu fokus tentang usaha masyarakat mendaur ulang. Dia pernah menang Ciputra Entrepreneur 2012 loh. Inilah usaha yang dikenal sebagai industri kreatif. Kerajinan dan bisnis yang banyak membantu masyarakat sekitar.

Istilahnya 3R: Reuse, Recycle, dan Reduce, Ranny menjelaskan bagaimana kita memanfaatkan kembali, lalu mendaur ulang bentuk, dan ini mengurangi sampah tak terpakai. Mengurangi sampah- sampah yang merusak lingkuangan. 
 
Oleh dinas penanangan entrepreneurship, dia diajarkan lebih dekat soal marketing. Mereka lah yang memberikannya kesempatan mengikuti bazar, pameran, bahkan membantunya masuk ke mall.

"Seperti kemarin di pameran inacraft belum selesai pameran hanya dalam waktu 4 hari produk habis terjual," jelasnya.

Beda FX Harso Susanto menghasilkan furnitur. Namun, keduanya sama- sama sempat diremehkan. Itu karena produknya dibuat 100% kertas koran. Memulai sejak tahun 2010, produknya dari vas bunga, tikar, tempat buah, tempat payung, tutup saji, tempat tisu, dll. 
 
Harga jualnya dari termurah Rp.5 ribu- Rp.150 ribu. Ranny Kreasi bertempat di Jalan Saaba, Jakarta Barat 11640, perempuan 51 tahun ini awalnya cuma ibu rumah tangga biasa. Konsumen tidak percaya ini koran. Katanya sih tidak memiliki ketahanan lama. 
 
Baik Harso dan Fanny sudah punya resep caranya sendiri. Namanya pengusaha harus bisa menghadapi aneka tantangan. Termasuk soal pandangan sebelah mata pembeli. Ranny membuktikan hal tersebut langsung. Ibu dari dua anak dan sudah punya satu cucu ini sudah mendapatkan pengakuan.

Cara pembuatan sederhana, ambil kertas koran selebar 5cm, basahi dan linting panjang berfariasi sesuaikan panas matahari. Sangat tergantung matahari, kalau pakai pemanas menurutnya hasil keringnya tak akan rata. 
 
Selepas kering bentuk sesuai keinginan modal kertas lem. Setelah itu setelah kering benar barulah difernis biar awet. Total ada tiga cara digunakan oleh Ranny: bubur kertas, bahan kering, dan bahan direndam dulu.

Kendala terbesar bisnisnya ada di panas matahari. Soal membentuk barang cukup pakai cetakan sederhana. Sebut saja ember bekas buat cetakan tempat payung. Bisnisnya juga merambah souvenir pernikahan. Ranny Kreasi bisa memproduksi 500 souvenir tiap bulan. 
 
Dia juga aktif mengajar pembuatan kerajinan kepada ibu- ibu PKK. Seperti di daerah Cakung, ada satu kelompok 30 orang, yang memintanya mengajari mereka cara membuatnya.

"Saya beri pelatihan lewat PKK dan Dharma Wanita. Kemarin ada permintaan dari Kedutaan Malaysia di Indonesia minggu ini untuk melatih ibu- ibu kedutaan," jelasnya kepada Detik.

Masa liburan sekolah dihabiskannya mengajar anak- anak sekolah. Ia berangkat ke Malaysia, atau datang ke anak- anak binaan Bambu Apus. Ranny mencoba membantu anak kena kasus agar, ketika keluar dari tempat itu bisa menjadi mandiri. 
 
Kesenangan menurutnya adalah bisa menghasilkan. Dan, juga bisa memberi manfaat buat orang banyak. Hadapi MEA, Ranny cukup optimis, apalagi permintaan eksporny ada. Dia pernah mendapat pesanan asal Saudi Arabia. 
 
Dua kali pesan tapi jumlahnya sampai 100 buah souvenir. Apalagi bicara Eropa- Amerika yang mulai jenus produk tak ramah lingkungan. Masih ada peluang bagi Ranny dan pengusaha lain. Bahkan orang Tiongkok terheran- heran produknya terbuat dari koran. 
 
Padahal kita tau betul bagaimana raksasa industri ini berkreasi. Wanita berjilbab ini yakin akan kualitas produknya. Kendalanya mungkin dia belum bisa berproduksi banyak memenuhi semua pesanan. Karena memang masih dibuat manual tangan manusia. 
 
Bicara pemasaran buat hadapi pasar bebas ASEAN adanya internet dan workshop sudah dipersiapkan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba