Membuat Tato Temporer dari Foto Instagram Kamu Disini

 
Mau tato temporer keren?

Maka kamu musti coba yang satu ini. Picattoo digadang- gadang sebagai yang pertama dijenisnya. Sebuah layanan pertama memungkinkan kamu mencetak foto di kulit. Mudahnya kamu tinggal memfoto apapun lalu menempelkannya; jadi.

Dikutip dari laman Techcrunch, perusahaan startup ini, berbasis di Belanda merupakan perusahaan fokus pada pengembangan foto. Layanan awalnya yaitu Ink361 dikenal sebagai foto sharing berbasis instagram. Dimana kamu bisa mencari foto dan fotografer, dalam tempo real- time. Langsung ketika seorang fotografer mengupdate fotofolionya di Instagram.

Yang menarik dari Ink361 kamu bisa melihat foto utuh. Dimana foto kamu full- size beda dengan upload di sosial media. Dimana kamu juga bisa berkomunikasi melalui foto- foto kamu. Disini para fotografer juga akan diberi kesempatan menguangkan foto mereka. Semacam sharing- patner antara kamu dan perusahaan penyedia layanan. Kamu bisa langsung cetak dari berbagai negara.

Kembali ke Picattoo, apa sih layanannya, memberikan layanan tato temporer. Kamu bisa menjual foto kamu jadi 12 serial tato baik dari foto kamu sendiri. Ya, untuk layanan ini, haruslah dari Instagram milik kamu sendiri bukanlah milik orang lain. Beda dengan layanan Ink361 disini tak ada marketnya. Setiap tato ini dijual seharga $14,99 per- set.

Ini tato temporer dimana akan hilang setelah seminggu. Disisi lain Ink361 juga menyediakan layanan untuk fotobook ukuran dompet, yang disebut Fastbook. Disini di Fastbook mampu menghasilkan 24 laman sampai 48 halaman. Harganya di Fastbook antara $14,95, oh, untuk layanan antar internasional mungkin akan ada biaya.

Review Negatif Facebook untuk Karyawan

  
Hukumnya tabu membuka sosial media apapun disaat bekerja. Facebook menyadari hal ini dan telah siap di November tahun lalu. Sebuah sosial media untuk pekerja dimana kamu bisa bersosial media dengan atasan, teman sekerja, dan tetap mengerjakan tugas kamu. Perusahaan Facebook telah resmi meluncurkan situsnya ini bernama Facebook at Work seperti dikutip oleh Techcrunch. Tapi apakah ini akan bekerja semacam mesyinya?

Konsep bekerja bersosial sebenarnya sudah bukan hal baru. Dalam dunia startup sosial media beberapa produk menawarkan hal sama: Yammer dan Slack, beberapa nama terkenal. Sekali lagi apakah ini akan berhasil dimana Facebook at Work benar- benar mirip Facebook. Kurang kratif atau apa ada hal lain. Kita ditawari konsep sederhana Facebook. Profilnya meniru Facebook dari profil, branda, bahkan grup sendiri.

Kamu bisa membuat grup di satu divisi. Atau bergabung dengan divisi lain, seling bertanya kabar, atau sekedar bertanya berapa gaji kamu sekarang. Tak mau membuat akun baru kamu bisa mengoneksinya ke akun Facebook biasa. Tenang ini tak akan terhubung dengan profil umum kamu di Facebook. Bedanya dari sistem di Facebook biasa: tidak ada iklan (belum ada) dan tidak akan menscan data kamu.

Tentu aplikasi lain seperi Slack dan Yammer sudah bisa menggantikan email perusahaan. Untungnya kamu para pengusaha menggunakan aplikasi Facebook at Work. Tidak perlu belajar beradaptasi. Disisi lain kamu tidak perlu menggunakan email perusahaan. Semua tingga aktif di jejaring sosial baru ini bahkan untuk kamu para CEO muda.

Analisa Facebook karyawan


Apakah yang jadi kelemahan dari produk satu ini. Social Media Week menyebut kurangnya program pada sistem dokumen. Keperluan suatu perusahaan untuk berbagi dokumen tidak (belum) terpenuhi. Dimana disini tak ada program berbagi dokumen .doc atau .pdf. Dalam aplikasi Android dan iOS, karyawan kamu, akan mendowload aplikasi tersendiri. Disini dikatakan bisa dihubungkan dengan profil akun biasa.

Pertanyaan umum apakah Facebook akan menjual iklan disini. Belum terjawab jelas dari pihak Facebook ungkap situs ini. Sangat dimungkinkan akan ada model subscribe berbayar. Atau dimana kita nanti sebagai seorang pemimpin perusahaan bisa mengawasi karyawannya dalam sosial media ini. Belum bisa dipastikan lagi.

Untuk aplikasi pekerja LinkedIn memiliki aspek berbeda dengan bersosial media di kerjaan. Mereka fokus pada kerja kolaboratif antar profil. Bukan hanya satu perusahaan saja jika di LinkedIn. Disini merupakan kamu sebagai sosok profesional berhubungan dengan profesional lain. Bukanlah tempat pekerjaan, atasan, saling berkomunikasi seperti harapan Facebook at Work. Sementara itu LinkedIn tengah mengkaji konsep sama tapi tak sama.

Mereka tengah mengkaji alat koneksi antar karyawan. Penasaran? Yang pasti disini kamu tak akan bisa menemukan profil seksi atau apapun seramai Facebook asli. Kamu juga akan banyak berbicara formal disini mungkin.

Amilia Agustin Kecil Kecil Peduli Lingkungan

Dia memulainya sekitar beberapa tahun lalu. Amilia Agustin, sosok gadis 14 tahun, siswi kelas IX kala itu yang baru menyadari pentingnya kebersihan. Tak hanya tersadar tapi menemukan solusi tepat. Bangunan di Sekolah Menengah Pertama 11 kota Bandung itu tampak indah. Bersih, dimana setiap rungannya berisi tong sampah hijau dan biru. Kini tak ada lagi sampah berkatnya.

Ia bersama teman, guru, bersama membangun sekolah berbasis "Go to Zero Waste School". Rasa jijiknya pas pertama kali masuk SMP sudah diatasinya. Semua bermula berkat workshop pengelolaan sampah dari Yayasan Pengembangan Bioscience dan Bioteknologi. Ami mencoba mengaplikasikan apa yang didapatnya dari pelatihan. Awalnya dia berkampanye tentang jangan pakai plastik serta kampanye agar teman sekolah jangan buang sampah sembarangan.

Tak puas Ami lantas membangun bank sampah. Uniknya bahkan ia bersama teman- temannya mengerjakan bank sampah.

Pagi cerah


Saat berolah raga ia lari berkeliling taman kota di dekat SMP -nya di Bandung. Tak seperti biasanya Ami mendadak memutuskan sesuatu. Disinilah awalnya dia mau bertindak setelah sekian lama, seperti dikutip di Kompasiana. Ia melewati sebuah tempat pembuangan sampah. Disana tertulis "mulailah memilah sampah dari diri masing- masing". Dia lantas memulainya dari diri sendiri lalu mulai ke lingkungan sekolah.

Dia mengajak teman- teman seide dengannya. Ada 10 orang teman sepakat dengan pemikirannya. Mereka bersama mulai memisahkan sampah- sampah bungkus plastik jajanan. Sejalan waktu kegiatan mereka lalu terus meluas hingga lingkungan sekitar. Sepulang sekolah bukannya bermain dia bersama teman- temanya sibuk mengumpulkan sampah.

Mereka tengah asik memilah- milah sampah organik dan non- organik. Yang plastik seperti bungkus kopi, mie intan, dan lain- lain, akan dikumpulkan dan didaur ulang. Sedangkan untuk organik dijadikan akan pupuk olehnya. Ejekan datang dari teman- teman yang lain. Untungnya ada seorang guru bernama Bu Ani, seorang guru biologi yang ikut mendukung kegiatan mereka. Jadilah mereka satu tim diberi nama "Go to Zero Waste School".

Kegiatan tersebut diatas pun terus berlanjut. Pengumpulan sampah plastik akan diberikan ke ibu- ibu untuk dijadikan tas. Disisi lain mereka sendiri akan memproses daur ulang pupuknya.

 "Awalnya kampanye agar jangan pakai plastik dan buang sampah sembarangan," katanya kepada Kompas. Pertama kalinya mereka, teman- temannya, tak peduli dengan ocehan Ami. "Malah saya dibilang cerewet," pungkasnya lebih lanjut.

Bank sampah


Ami dan teman- temannya memulai bank sampah sendiri. Dibantu oleh Bank Mitra Syariah, mereka lantas menabung sampah- sampah organik yang lantas dijadikan rupiah. Beberapa bulan berlalu dan kegiatan diatas tetap berlanjut. Ami kemudian berinsiatif untuk mengajak teman- temannya membuat karya ilmiah. Mereka mengirimnya ke Young Change Makers dan Ashoka Indonesia. Mereka adalah wadah global bagi mereka para wirausahawan sosial.

Alhasil kelompok ABG ini disuport dana Rp.2,5 juta. Usaha sosial yang awalnya bermodal patungan, serta didukung penjualan pupuk dan lain- lain. Ami kini semakin banyak teman mendukung dirinya. Sampah- sampah kertas itu bisa dibuat buku, komik, berbagai kerajinan, dan lain- lain. Mereka juga didukung oleh organisasi Greeneration Indonesia di program Kebunku, yaitu Kertas Bekasku Hijaukan Bangsaku.

Anak tertua pasangan Agus Kuswara dan Elly Maryana Dewi sangat aktif mensosialisasi program- program pengelolaan sampah di sekolahnya bahkan masyarakat sekitar. Ketika kelas VIII, Ami pun sukses dipercaya menjadi duta pelatihan pengelolaan sampah kepada sekolah lainnya. Sedikitnya sudah ada sepuluh sekolah menjadi binaan Ami, di antaranya SMP Alfacentaury Bandung, SMPN 48 Bandung, SMPN 40 Bandung, dan SMPN 50 Bandung.

Tak berhenti disana ia mulai mengajak ibu- ibu rumah tangga membuat kerajinan daur ulang. Dia bermodal satu mesin jahit. Hasil penjualan produknya akan dibagi hasil. Tak berhenti ia mendapatkan apresiasi yaitu dari Tempo Institute dan mendapatkan penghargaan Indonesia Award. Grupnya diberikan dana dukungan untuk mengembangkan usaha Rp.40 juta. Uangnya lantas dibelikan 5 buah mesin jahit untuk ibu- ibu para pendaur ulang.

Sisinya digunakan olehnya untuk perpustakaan keliling di Tegal Lega. Sisanya bersama aset lain dari konsep yang didirikannya bersama Go to Zero Waste School lantas diserah terimakan. Dia menyerahkan semuanya ke adik- adik kelasnya. Ami sangatlah berharap agar mereka bisa melanjutkan ini. Ami sendiri kemudian melanjutkan masa depannya. Ia dibekali beasiswa ke berbagai negara seperti Australia, Singapuran dan juga Amerika. Dia mendapatkan dukungan dari PT. Astra Internasional.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba