9 Pengusaha Muda Terbaik Indonesia Mendunia

8. Malariantikan Yulianggi Umur 19 tahun Company: Shoyu Pia Cake Ketika ia tengah mencari produk tentang produk lokal. Dia menemukan singkong di anak tirikan. Tapi satu kenyataan, Malarianti menemukan bahwa masih ada beberapa orang menikmatinya. Tapi tidak semua orang menyenanginya. Jadi dia mulai membuat produk modern Shoyu Pia Cake. Dari cuma punya enam pegawai di awal, sekarang, dia bisa memiliki lebih dan lebih banyak lagi pelanggan.

Biografi Mualaf Cantik Pengusaha Batik Trusmi

"Semua pengusaha punya jatah gagal," optimisnya.

20 Wirausaha Muda Mandiri 2015

Untuk kategori industri, perdagangan dan jasa 1. Juara 1: Gita Adinda Nasution (Kolagit -obat diabetes dan komplikasinya) 2. Juara 2: M Zulqarnain A R (Iwearzule -custom clothing) Untuk kategori boga 1. Juara 1: Filsa Budi Ambia (Peyek Kepiting -jajanan peyek daging kepiting) 2. Juara 2: Martalinda Basuki (UD Klasik -minuman coklat murni)

Profil Dea Valencia Pengusaha Batik Kultur

"Desainernya saya sendiri padahal nggak bisa gambar. Imajinasi. Saya ada satu orang yang diandalkan, kerja sama dengan saya. Apa yang ada di otak saya transfer ke dia untuk dijadikan gambar," kata Dea.

17 Pengusaha Muda Indonesia Masuk Forbes

Retail and Ecommerce 1. Carline Darjanto, 28 tahun, Entrepreneur 2. Merrie Elizabeth, 28 tahun, CEO dan Creative Director Blobar Salon 3. Yasa Paramita Singgih, 20 tahun, Pendiri dan President Men's Republic 4. Ferry Unardi, 28 tahun, salah satu pendiri dan CEO Traveloka

Tampilkan postingan dengan label Pengusaha sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Desember 2018

Penemu Pirate Bay Tempat Mencari Download Gratis

Biografi Pengusaha Peter Sunde


penemu pirate bay

Biografi Peter Sunde dan beberapa temannya membangun ideologi. Mereka lah penemu Pirater Bay tempat mencari download gratis. Atau The Pirate Bay adalah mesin pencari mencari file torrent yang tersebar di internet. Kita menyebutnya pengusaha sosial karena menolak kapitalisasi internet dunia.

Mesin pencari The Pirate Bay berfokus dalam pencarian torrent files lalu mengunduhnya hanya untuk kita. Ideologi mereka tentang kebebasan dunia maya tanpa ada batas hak milik. Torrent diciptakan menjadi penghubung folder di upload lebih ringan dan lebih cepat.

Mesin pencari The Pirate Bay sendiri merupakan media pencarian torrent bukan berbentuk file. Ia melanjutkan dalam biografi Peter Sunde. Bahwa disini, kamu bisa mendowload film, lagu MP3 atau jenis lain, atau mendowload bokep lebih mudah. Karena jika berbentuk torrent maka itu akan jadi lebih kecil dan ringan didowload.

Dibaliknya sosok Peter Sunde Kolmisoppi, pemuda kelahiran 13 September 1978, dari Uddevalla, Swedia. Nama aliasnya adalah Brokep, seorang ahli dibidang komputer hacking. Sebelum menjadi penemu Pirate Bay, ia dikenal sebagai karyawan dari perusahaan pengobatan di German.

Kisah Pengusaha Untung Download Gratis


Sebagai pengusaha dia memiliki idealis dalam bekerja.  Tahun 2003, dia menjadi anggota Sweden's Pirate Bureau, sebuah organisasi  pendukung file sharing untuk kebebasan informasi, budaya, dan hasil intelektual. Baginya ini bukanlah tentang uang melainkan kebebasan berekspresi di internet.

Lebih jelasnya, Pirate Bureau merupakan pembicara berbagai hal tentang ambigunya copyright, file sharing, dan produk digital. Tidak ada namanya copyright di dunia internet bung! The Pirate Bay sendiri dijalankan bersama oleh Gottfrid Svartholm, Fredrik Neij dan Peter Sunde.

Mereka membuat file yang katanya bercopyright atau berlisensi agar tersedia di internet, semuanya dari perusahaan film terkenal, seperti Motion Picture of America. The Pirate Bay sebagai perusahaan, berpusat di PRQ, sebuah perusahaan di Swedia, dibuat dan diciptakan oleh Fredrik Neij dan Gottfrid Svarthol.

Pada 30 Mei 2006, situs tersebut tercatat berserver di Stockholm, lalu diamankan oleh polisi Swedish, kemudian ditutup.

Pada 17 April 2009, Peter Sunde dan kedua orang tersebut, ditahan dengan tuduhan serius yakni beberapa pembajakan karya cipta. Mereka ini ditahan dan membayar denda sebesar $4.500.000. setelah 9 hari percobaan. Tetapi sekali lagi ini bukanlah tentang uang melainkan kebebasan Internet.

"Jika pun saya mempunyai uang, saya lebih memilih membakar semuanya yang kupunya dan bahkan tidak untuk abunya. Mereka boleh memilih pekerjaan mengumpulkan itu. Begitulah saya membenci media industri," Sunde menulis surat untuk kedua temanya.

Ini merupakan awal kesuksesan Peter Sunde sebagai pengusaha, dari sinilah sumber kekayaan bagi Sunde dan temanya. Menjadi penemu Pirate Bay, mereka memberikan tempat para pengiklan bagi pebisnis di hasil pencarian.

Lucunya, berdasarkan tafsiran Svenska Dagbladet, pengahasilan iklan bisa mencapai $84.000 per- bulan lebih dari cukup sekedar mempertahankan website. Hasil investigasi lebih lanjut, polisi menyatakan uang dari iklan sebesar $169.000 per- bulan.

Jaksa penuntut menambahkan nilainya bisa lebih dari $1,4 juta per- tahun. Walau, pengacara Peter Sunde menyatakan penghasilannya hanya sebesar $102.000 per- bulan. Di 2008, IFPI menyatakan The Pirate Bay menghasilkan uang banya dan mampu membayar hak cipta, lantas kenapa membajak?

Tetapi, hal ini dibantah oleh Gottfrid Svartholm melalui pernyataan onlinenya.

"Jika kami menciptakan banyak uang, saya, Svartholm, tidak akan bekerja hingga malam di kantor malam ini, saya akan memilih bersantai di pantai, lalu menghitamkan kulit," ucapnya membantah hasil IFPI.

Pengusaha Peter Sunde Berbisnis Halal


Di Agustus 2011, Sunde dan Fredrik membuat situs "legal" berjudul BayFiles dan berbisnis baik. Berbeda dengan The Pirate Bay, BayFiles tidak memiliki koneksi dengan organisasi apapun. BayFiles mengijinkan setiap orang untuk mengupload di server dan membaginya secara "legal".

Orang bisa dengan mudahnya mengakses link tersebut dari seluruh dunia lalu mendowloadnya. Orang hanya akan melihat berdasarkan kategori dan terbatas agar terlihat legal.

Nah, karenanya orang tau sosok si Sunde dan Fredrik adalah pendukung pembajakan. Terjadi masalah di BayFile, orang- orang mengira ini gratis, dan banyak yang tidak tau adanya pengakuan kepemilikan serta muatan bisnis di BayFiles oleh Sunde.

Akhirnya, orang pun menguplod sembarangan, kemudian pihak ke tiga mengakui; BayFiles menghapusnya. Catatan bahwa BayFile ini beda dengan The Pirate Bay karena ini mengikuti aturan U.S. digital copyright atau mudahnya tidak mengedarkan produk digital berlisensi.

BayFiles akan menghapus jika ada satu pengakuan/laporan kepemilikan. Di bisnis lain, Sunde mengerjakan proyek Flatrr.com, yang merupakan file sharing berdonasi. Kali ini, hanya saja, dia dan Linus Olsson menarget musisi dan pembuat film agar masuk langsung sebagai anggota.

Faltrr sendiri memiliki konsep seperti sebuah jejaring sosial bagi musik dan file Indies, dimana mereka akan mencoba menghasilkan karya, membaginya keseluruh dunia di Flatrr dan mendapatkan donasi dari proyeknya.

Faltrr dilengkapi ruang jual beli, tepatnya gabungan antara file sharing, sosial media, dan market.

"Ini merupakan sistem bagi hasil yang baru untuk setiap orang membagi kontentnya! ini juga merupakan kombinasi antara sistem donasi dan kontent berkualitas yang dicari," ucap Peter Sunde di TorrentFreak.com.

Anggota menemukan file baik berupa artikel, musik, atau film. Mereka saling memberikan donasi minimal $2, dan dikumpulkan untuk setiap download serta menjadi support. Flatrr kemudian membagi hasil donasi untuk pembuat file yang juga merupakan anggota.

Dengan kata lain, setiap anggota akan menjadi flatter kontent produksi, flatter ongkos, dan menawarkan keuntungan dari sini. File yang didownload akan terbatas untuk anggota serta tanpa adanya batasan negara.

Flattr berkembang menjadi bisnis berbasis Micro Payment atau Micro Donation berpusat di Swedia. Ini terbukti sangat membantu baik di dunia nyata dan dunia maya. Mereka berguna baik non- komputer dan komputer berbasis donasi.

Mereka membantu mem "flattr-ing" bukan berbasis website, termasuk konten offline, menggunakan data Smartphone malalui code QR. Menggunakan QR setiap pengunjung mudah mendonasikan uang pengguna.

Nampaknya bagi Sunde inilah jadi yang terbaik dimana dia mengakali bukan membenci sistem. Dia tak lagi ngotot untuk melawan sistem satu- per- satu. Disadari atau tidak, karya Sunde, telah mengilhami sistem bisnis berbasis internet sekarang. Dimana semua orang bisa disenangkan disini.

Termasuk kita penikmat produk "freemium" dimana sang pengusaha, programmer, pelanggan, bisa sama- sama untung.

Senin, 24 September 2018

Profil Goris Mustaqim Asgar Muda Pengusaha Muda Dunia

Profil Pengusaha Goris Mustaqim


goris mustaqim pengusaha

Profil Goris Mustaqim, adalah pengusaha muda lulusan Institut Teknologi Bandung. Sosok bertekat memulai wirausaha sejak berkuliah. Sebelum lulus saja Goris sudah mengerjakan berbagai bisnis. Terutama dia mengembangkan bisnis berbasis agro di daerah Garut.

Memilih menjadi pengusaha muda total tanpa melamar. Ketika lulusan Universitas lainm memilih sibuk mencari kerja. Dia sudah memiliki pekerja di perusahaannya sendiri. Goris malah sibuk untuk membuka lapangan pekerjaan baru.

Sosok Goris memang berbeda dibanding pemuda kebanyakan. Dia sudah memilih wirausaha sejak semula. Disibukan membuka lapangan pekerjaan baru, tidak lupa profil Goris sebagai sosok manusia berempati. Dia dikenal humble aktif di berbagai paguyubuan sosial di Garut.

Salah satunya dia menjadi penggagas Asgar Muda. Organisasi kepemudaan fokus mengembangkan wirausaha di Garut. Mereka bertujuan bagaimana agar Garut mandiri. Pengusaha muda yang dikenal sebagai salah satu pendiri PT. Resultan Nusantara, salah satu bisnis utamanya sekarang ini.

Pengusaha Muda Kelas Dunia


"Saya tidak pernah melamar pekerjaan" ujarnya.

Banyak dilewatkan ketika berbicara tentang Garut. Padalah banyak potensi besar ketika berbicara tentang kota tersebut. Goris menyadari bahwa Tuhan sudah memberikan sumber daya alam. Salah satunya tumbuhan akar wangi, yang hanya tumbuh di kawasan Garut, bukan wilayah Indonesia lain.

Tumbuhan inilah kemandirian bagi masyarakat Garut, Jawa Barat. Inilah bisnis sosial dijalankan oleh Goris sekarang. Ia menciptakan kemandirian bagi masyarakat. Akar wangi tersebut diolah menjadi minyak akar wangi.

Minyak akar wangi memiliki fungsi utama pengikat parfum. Efek akar wangi membuat bau parfum terjaga lama. Di dunia ada tiga negara yang memiliki tanaman jenis ini -yaitu negara Tahiti, Borbone, dan Indonesia-, dimana tepatnya hanya ada di daerah Garut.

Selain dikembangkan menjadi minyak akar wangi. Sebelumnya masyarakat sudah mengolah menjadi kerajinan eksotik. Nilai ekonomis akar wangi memang sangatlah banyak. Penduduk Garut awalnya hanya menyerap minyak atau sekedar menganyam akarnya.

Melalui akar wangi penduduk diajarkan wirausaha mandiri. Mereka membuat hiasa dinding, hiasan natal, tas dan sajadah. Bisnis akar wangi terus tumbuh di Garut berkat paguyuban Asgar Muda. Ini salah satu bisnis lokal kembangan Goris Mustaqim.

Paguyuban Asgar Muda terus mendukung, mengembangkan, dan memberdayakan penduduk untuk selalu berinovasi.

Goris memperhatikan hal terkecil dalam berbisnis. Ide akar wangi merupakan perwujudan keahlian tersebut. Bisnis akan wangi terus berjalan, walaupun harga bahan bakar minyak kian mahal. Asgar Muda sebagai paguyuban tidak mau menyerah akan keadaan.

Mereka bekerja sama dengan kampus IPB, membangun sistem pemanasan geothermal sebagai cara pengolahan akar wangi. Tujuannya agar si minyak diolah lebih efisien dalam proses pemasakan. Ini menjadi pengganti minyak tanah, sekaligus mengurangi kebutuhan gas yang terkadang langka.

Wirausaha Serba Usaha

Daerah Garut dikenal akan akar wangi sesuai tujuan Goris. Disitulah penduduk Garut menghasilkan pendapatan tetap. Membahas profil Goris tidak berhenti akan sepak terjang Aasgar Muda saja. Goris mendirikan PT. Resultan Nusantara, bisnis berbasis Join Ventur pertama.

Perusahaan berbasis teknologi, mengerjakan pengembangan program RFID atau SmartCard. Produk utama mereka sistem absensi elektronik, akses kontrol, pembayaran online, dan parkir pintar. Baru dua tahun berjalan, perusahaan mampu menghasilkan $500 juta dan membuka banyak cabang.

"Saya bergaul dengan siapa saja. Saya bergaul dengan tukang gorengan, satpam, menteri, dirut BUMN. Bergaul dengan siapa saja. Jadi punya jaringan dan network yang bagus," katanya, inilah tips sukses wirausaha nya.

Pemuda kelahiran 14 Maret, umurnya masih 24 tahunan, yang mampu mengambil perhatian bahkan kelas dunia. Goris dikenal di kalangan pengusaha serta sosialis. Bukan sekedar eksekutif perusahaan IT besar. Dia dikenal sebagai pengusaha sosial bersama Asgar Muda.

Tidak ayal Presiden Amerika, Barack Obama menemui Goris beberapa tahun silam, inilah kisah sukses pengusaha muda panutan dunia.

Melalui program Presidential Summit Entrepreneurship 2010, dan menjadi yang termuda disejajarkan entrepreneur dunia. Di ajang internasional tersebut, Goris diundang langsung oleh Presiden Barack Obama di Gedung Putih.

Aktifitas PT. Resultan Nusantara bersama teman Alumni ITB, bersama Asgar Muda membuat Goris harus bolak- balik Jakarta- Garut. Bukan perkara mudah dengan segala aktifitas padat tersebut. Dia beruntung karena sudah sukses sejak usia masih muda.

Dia mampu menghadapi halangan fisik. Kelelahan dapat ditanggulangi Goris meskipun capek. Goris sendiri rajin mengajak investor untuk akar wangi. Bisnis IT PT. Resultan Nusantara juga berkembang lewat mandirikan cabang hingga pelosok daerah.

Apa yang ada pada dirinya merupakan semangat pengusaha muda.

"Yang penting kreatif. Itu yang kita jual. Lalu saya akan tawarkan ke orang- orang yang saya kenal sampai ada yang tertarik menjadi investor." jelasnya.

Apa sih harapan terbesar Goris Mustaqim?

Ia mampu menciptakan satu kemandirian daerah di Indonsia. Melalui caranya sendiri menciptakan produk khas daerah setempat. Melalui proyeknya, produk olahan akar wangi, berharap usaha- usaha sejenis bisa bermunculan.

Cara lain lewat mendirikan BMT membiayai usaha kecil masyarakat. Memberikan kredit koperasi menyebarkan prinsip sosial entrepreneur ke semua orang.

Senin, 13 Agustus 2018

Biografi Irvan Kolonas Pengusaha Muda Social Entrepreneurship

Biografi Pengusaha Irvan Kolonas


cerita irvan kolonas

Biografi Irvan Kolonas sang pengusaha muda. Sebelumnya ingin menjadi miliarder orang terkaya. Irvan merasakan apa yang kita impikan. Layaknya anak muda lain mencoba berwirausaha sendiri. Semasa SMA ingin menjadi orang terkaya di Indonesia.

Semua berubah ketika dia menemukan fakta masyarakat. Bukan karena tidak mampu, tetapi Irvan memilih lebih baik. Inilah kisah seorang social entrepreneur. Ia menemukan jiwa kewirausahaan menembus mimpi. Dia ingin membantu orang lain bukan sekedar menjadi kaya raya.

Buku berjudul "Banker to the Poor" karya Muhammad Yunus, sosok Bankir Bangladesh ini mampu menginspirasi perjalanan Irvan. Ia lebih memilih mendalami micro- finance. Bagaimana memberikan kontribus ke masyarakat.

Tujuan utama mencapai profit untuk masyarakat Indonesia. Tulisan tangan M. Yunus, sang pemenang Nobel Peace Prize 2006, sangat berkesan di hati Irvan Kolonas. Biografi Irvan Kolonas, pemuda kelahiran Singapura, 6 Februari 1998, pernah bercita- cita menjadi orang terkaya di Indonesia

Ingin menjadi pengusaha muda terkaya. Berbalik arah memilih mengabdikan ke masyarakat. Irvan ingin membuat kontribus untuk para petani. Dia bukanlah sosok pemuda biasa. Lulusan University of South California, Amerika Serikat, apakah dia mampu turun langsung ke sawah.

Mengambil jurusan Ilmu Politik dan Ekonomi, pulang ke Indonesia malah sibuk mengurusi masalah mikro- finance. Bergabung di Innovative Dynamic Education and Action for Sutainability (IDEAS). Irvan mencoba merubah pola pikir masyarakat kita.

Pengusaha Muda Berisnis mikro


gambar petani lampung

IDEAS meliputi kerja transformasi individu, keluarga, organisasi dan negara, untuk menjadi pelaku micro. Irvan berdiskusi dengan sang ayah, mencari masyarakat dituju. Inspirasi buku milik M. Yunus, dia menemukan bidang agrobisnis, sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Ia mencoba melalui caranya sendiri mengajar mimpi barunya. Biografi Irvan Kolonas memilih ide dari ayah. Para petani Lampung menjadi proyek pertama Biografi Irvan Kolonas. Kenapa memilih masyarakat tani Lampung, karena dekat Jakarta.

Dia mulai membuat model yang spesifik mengenai agrobisnis. Anak sulung dari tiga bersaudara ini, mencoba konsep Human Centered Design (HCD). Yang berarti harus turun langsung menjadi petani. Hal pertama dilakukan Irvan adalah membuat catatan interview.

Mulailah dia menulis kesulitan- kesulitan petani. Biografi Irvan Kolonas, dia tidak ragu untuk tidur beralaskan tikar di lantai tanah. Irvan meninggalkan semua kemudahan di Jakarta.

"Jujur saja, awalnya berat. Tapi, saya bertekad melebur dengan kehidupan petani. Kami menyebutnya soak in atau deep dive," jelas pengusaha yang masih lajang tersebut.

Irvan mencoba mendapatkan penilain paling prespektif. Cerita petani yang kesulitan memberikan pendidikan. Bagaimana sering gagal berproduksi karena faktor tertentu. Atau minimnya pengetahuan tentang bagaimana menabung.

Irvan dan kedua temannya, berhasil untuk mendapatkan profil masalah mereka. Maka, pada Agustus 2013, Irvan mulai mendirikan perusahaan sosial berdasarkan data profil tersebut. Melalui perusahaan bernama Vasham, mereka mencoba menerapkan konsep bisnis micro.

Mereka menawarkan program bernama Konco. Dimana masyarakat mendapatkan pinjaman ringan, berupa perlengkapan pertanian, pelatihan, dan pengawasan. Vasham mengajarkan cara mengakses pasar. Para petani Lampung tidak perlu lagi menjual ke tengkulak.

Irvan juga mengajarkan konsep asuransi bisnis. Menjelaskan kegunaan asuransi untuk menghadapi krisis. Bisnis Vasham memberikan pinjaman ringan, tanpa bunga ke petani Lampung. Biografi Irvan Kolonas, menarapkan konsep kesetaraan ketika menghadapi petani rekan mereka.

Proyek awalan ini mampu menggaet 80 orang petani di lahan 70 hektar. Awal musim pertama, Irvan mendapatkan banyak komplain dari petani. Kritik dan saran ditampung sebagai kendala yang harus dihadapi. Kunci sukses Irvan Kolonas adalah menjadikan mereka mitra.

Memajukan Pertanian Masyarakat

Tidak cuma menampung saran dan kritik petani. Irvan juga menjalankan perbaikan disemua bidang. Menjadikan petani mitra berdiskus dan juga bekerja. Sistem bagi hasil meningkatkan pendapatan petani Lampung. Sejak dulu pekerjaan ini memang dirasa tidak menguntungkan.

Perusahaan mendapat untung melalui konsep bagi hasil. Jika petani tidak untung, maka Vasham tidak untung. Tanpa menjual ke tengkulak lebih untung. Vasham siap menanggung resiko itu, maka mereka menanggung pengangkutan sampai penjualan ke pasar.

Kalau petani menjual ke tengkulak, maka petani Lampung dibayar dibawah harga pasar. Di Vasham bertujuan mengarahkan petani menjual fair. Hasil penjualan harus lebih besar dibanding ke tengkulak. Petani juga mendapatkan aneka penyuluhan pertanian dari pihak Vasham.

Penyuluhan mulai dari bercocok tanam, perawatan, dan penjualan. Penyuluhan tentang harga tebaik  di pasaran. Mitra Vasham akan mendapatkan gambaran komplit tentang apa itu agrobisnis. Seharian petugas perusahaan akan siap stand by untuk konsultasi atau bantuan langsung.

Ada sesi latihan bagi para petani Lampung. Mereka diajarkan menjadi pengusaha. Bagaimana siap menghadapi permasalahan dari penananam sampai panen. Akhirnya Vasham memasuki masa panen pada Januari- Februari 2014. Pada musim kedua hasil panen menurun dan perlu perhatian khusus.

Kendala utama karena hujan jarang turun. Inilah kemunculan Vasham diuji. Panen kedua, pada Juli 2014, ini menjadi pelajaran untuk menstabilkan sistem. Pembeda bisnis Irvan adalah perusahaan selalu meningkatkan sistem untuk petani sendiri.

Vasham selalu memperbaiki sistem. Mereka bertujuan meningkatkan produktifitas petani. Bersama pengusaha sosial lain, biografi Irvan Kolonas tidak enggan bertukar ilmu dan saling membantu. Salah satunya adalah program 8Villages, sms platform membantu petani mendapatkan informasi.

Informasi dibagikan ke semua mitra melalui pesan singkat. Tugiman, satu petani binaan, menyebut hasil panen meningkat 30- 40%. Petani asal Kecamatan Metro Kibang, Lampung Timur, mengatakan harga jual panen juga tinggi

Terjun ke dunia argobisnis dia memang pemula. Biografi Irvan Kolonas tidak punya landasan ilmu tentang pertanian. Hanya pengusaha muda yang harus mampu beradaptasi. Bagaimana belajar sesuatu yang baru ke depan.

Begitu sukses di Lampung, dia berniat masuk ke Jawa, menggarap prospek pertanian disitu. Sekarang dia tengah disibukan riset pertanian dulu. Melalukan penelitian bersama tentang tanaman lain, yaitu singkong. Pengusaha Irvan mengaku dirinya ingin konsisten di bisnis agro.

Menjalankan social entrepreneurship 3- 4 tahun, berharap merubah masyarakat Indonesia. Pengusaha sosial tidak perlu memikirkan keuntungan pribadi. Para pengusaha muda dibidang sosial diharapkan makin tumbuh. Bagaimana cara berwirausaha mengangkat derajat masyarakat Indonesia.

Kamis, 26 Juli 2018

Kepala Desa Merangkap Pengusaha Sosial Nisro

 Profil Pengusaha Salak Nisro


desa penghasil salak

Ceritanya ketika kerusuhan 98 pecah, masyarakat desa juga terdampak hingga rusuh dimana- mana. Mereka mulai menjarahi aset Perhutani. Kerusuhan moneter 1998 berimbah rusaknya tatanan batas hutan. Apakah hutan rakyat ataupun hutan Perhutani terkena perusakan.

Masyarakat desa menjarah lahan dari hutan. Lahan kosong diolah menjadi lahan pertanian. Sisanya hutang menjadi lahan kritis tidak ada apapun. Ketika hutan tetangga dijarah. Untung hutan di Dusun Kalimendong aman. Itu karena masyarakat masih menyadari pentingnya hutan.

Sigap mereka menghadang masyarakat dari luar masuk merusak hutan. Penjarahan besar- besaran itu berhasil dihindari berkat Nisro. Waktu itu, Nisro menjabat Kepala Desa baru setahun, dia sudah rajin menyadarkan warga tentang pentingnya hutan.

Baik secara ekosistem tetapi juga aspek ekonomi. Sukses Nisro berkat menekankan bahwa hutan bisa menghasilkan juga. Selama kita bisa mengolah hutan tetap ada. Disisi lain bisa dimanfaatkan seperti lahan tanpa dirusak. Hutan tetap menjadi hutan. Ada cara bagaimana menghasilkan uang dari hutan alami.
 

Bisnis Pohon Salak


"Hutan tidak hanya menanam pohon," tuturnya. Jika pohon ditanam, dampak pada masyarakat akan sulit dirasakan langsung. Alhasil masyarakat desa tetap miskin, hingga menjadikan hutan jadi lahan adalah pilihan.

Hutan harus juga bermanfaat secara sosial- ekonomi. Nisro menyadari ada komoditas ini. Pohon buah salak memiliki sifat ganda: Melestarikan hutan karena ini dapat ditanam liar. Dan akhirnya, mereka juga menghasilkan uang ketika dijual.

Dia melihat bagaimana hutan Perhutani berubah menjadi lahan salak. Tidak salah. Tetapi perluasan lahan akan mengurangi fungsi hutan. Mangkanya Nisro mengajari masyarakat desa agar tetap bisa menanam. Inilah cara Nisro menghasilkan semangat masyarakat melestarikan hutan.

Hingga hutan kawasan Kecamatan Leksono, termasuk di Desa -nya, tetap asri karena dijadikan lahan hutan yang produktif. Lahan seluas 69 hektar milik Perhutani, dimana ratusan pohon pinus masih utuh. Nisro yang juga merangkap Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), menjelaskan:

Izin menanam salak di bawah tegaknya pohon pinus tiap dua petak, luas tanah 19 hektar. Lahan itu menghasilkan 16.000 harapannya 24.000 pohon. Nisro juga memberikan saran kelompok tani Sido Mulyo, pada tegakan pohon pinus, bawahnya bisa ditanami albasi.

Pohon Albasi tertanam 16.623 pohon. Hasilnya penghasilan tambahan bagi 510 anggota Sido Mulyo. Dalam setahun mendapatkan tambahan Rp.6 juta per- orang. Bertambah penghasilan, maka warga semakin meningkat kesejahteraan, terlepas dari kemiskinan, sementara pohon hutan tetap lestari.

Menanam salah menggunakan teknik tumpang sari. Pengusaha ini mengatakan inilah yang pertama. Menanam salak diantara tegak pohon pinus. Dan hasilnya ternyata mengejutkan kita. Buah dihasilkan lebih sedap, tidak merusak pohon pinus, bahkan masih bisa ditanami tanaman lain.

Umur empat tahun barulah pohon salak berbuah. Hasil panen ternyata baik. Normal menghasilkan banyak buah. Ini mematahkan mitos "gagal menanam salak dibawah pohon pinus". Berkat teknik ia sarankan ini. Nama Nisro menjadi pemenang Kepala Desa Penggerak Pembangunan Hutan.

Nama kelompok tani mereka, Sido Mulyo, menyabet gelar juara kelompok tani hutan berprestasi. Dia yang hanya lulusan SMA. Membuktikan bahwa menjadi pengusaha bukan tentang ijasah. Tetapi cara kita menganalis dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

"Mengajak warga melestarikan hutan harus semangat berbagi," jelasnya.

Hutan asri juga bisa memberikan penghidupan. Bagaimana masyarakat bisa hidup layak. Maka hutan harus dijaga. Tahun 2008 panen mereka mencapai 36.000 pohon dan 60 persen panen. Perlu diketahui pohon salak berbuah sepanjang tahun dengan masa umur 10 tahun.

Sementara usia pohon disana 4- 5 tahun. Cukup buat mengganti pohon baru menjaga ketersediaan. Ia menyebutkan per- pohon menghasilkan Rp.12.500 per- hari.  Satu petani memiliki 25- 50 pohon buah salah. Tahun 2009 akan ada pohon salak baru sampai 1000 pohon.

Sepuluh tahun berjuang melestarikan hutan. Juga memberikan kemaslahatan ke masyarakat. Pohon albanian dan salak menjadi saksi. Nisro memiliki mimpi menjadikan desa wisata. Desa Kalimendong menjadi objek wisata, dengan ketinggian 1.100 diatas permukaan laut, hawa sejuk, 16km dari Kota Wonosobo.

Penduduk desa ada 3.308 jiwa atau 713 keluarga, telah berhasil menjaga kelestarian hutan. Mereka juga menghasilkan penghasilan dari albasia dan salak. Dibanding memilih menjadi petani jagung atau cengkeh, membuka lahan dari hutan, penghasilan mereka lebih baik.

Akhirnya kesadaran menanam pohon salak tersebar ke desa tetangga. Menyebar ke 14 desa di dua kecamatan berbeda, yaitu Desa Leksono dan Sukoharjo. Pihak Perhutani pun diajak bekerja sama. Dari hutan milik pemerintah menghasilkan uang. Dimana warga membiaya 1000 setiap pohon salak.

Di hutan milik negera, yang dijaga Undang- Undang, petani menghasilkan Rp.200 per- pohon dan pihak Perhutani mendapatkan Rp.800. Uang tersebut dimasukan kas LMDH Desa. Kemudian ada 40% albanian buat Perhutani, 20% LMDH, dan Pesanggem 40%.

Sukses menciptakan kondisi lebih baik. Masyarakat yang sangat menghargai hutan. Mereka menjadi lebih peduli tentang hutan. Kemudian mampu meningkatkan perekonomian. Apakah hal lain akan dia wujudkan. Adalah Desa Wisata, ia ingin tamu datang berkunjung menikmati alam dan lezatnya buah salak.

"Saya ingin tak hanya untuk studi banding," jelasnya, ingin orang datang karena ingin menikmati indahnya lereng Gunung Sumbi.

Agar mendukung ini banyak hal dilakukan. Salah satunya, ia mendirikan satu dari tiga gardu pandang di lereng agar pengunjung menikmati pemandangan. Nisro juga merintis usaha kambing ettawa dan kambing lokal. Ternak kambing mencapai 1.800 ekor, memanfaatkan tanaman penganggu buah.

Rabu, 20 Juni 2018

Profil Kerajinan Kain Daun Kain Ulap Doyo Menginspirasi

Profil Pengusaha Myra Widiono


pendiri bisnis kain ulap doyo

Siapa sangka kalau daun bisa dirubah menjadi kain bati. Kreatifitas orang Indonesia memang sudah menembus batas terutama di bidang kerajinannya. Inilah kisah kain Ulap Doyo, satu buahnya dijual Rp.1,5 juta. Batik khas Kalimantan ini merupakan hasil kerajinan sebuah desa bernama Desa Tanjung Isuy.

Pengusaha wanita dibalik sukses mengangkat batik ini. Namanya Ibu Mira Widiono, penggagas batik ulap doyo, pemilik bisnis Rumah Rakuji mengelola hasil karya masyarakat untuk dipasarkan. Bahan dasar berbeda inilah menjadi nilai jual produk miliknya.

Bahan dasar utamanya adalah daun. Prosesnya dimulai dari pengambilan serat pada daun. Seratnya itu dikeringkan kemudian dijadikan benang kemudian ditenun. Kemudian diwarna dengan pewarna alam. Proses selanjutnya menurut Mira sama halnya dengan produksi batik biasanya.

Bertempat di rumah pengusaha Mira, di Rumah Rakuji, setiap kain ukurannya 200cm x 80cm. Ia lalu menjualnya Rp.1,5 juta per- lembar. Ukuran tersebut didasarkan ukuran tenun manusia. Jadi cocok karena ukurannya sepinggang dewasa. Bisnis ini tidak dia jalankan sendiri namun ada dukungan dari orang lain.

Pengusaha asal Jakarta dan Kalimantan membantu Mira. Peminat kain ini juga lumayan sehingga dia optimis bisnisnya ke depan. "...yang kurang suka minatnya ya membeli lembaran," paparnya.

Bisnis passion


Myra Widiono sebenernya bekerja sebagai seorang arsitek. Namun, dengan bakat kreatifnya itu, dari sekedar membuat desain kemudian merambah bisnis fashion. Sekarang bisnisnya sudah memiliki 60.000 pegawai. Bebekal kepercayaan bahwa Indonesia memiliki kekayaan kultur, utamanya kain.

Dia menjadi pengusaha berbekal kepercayaan. Ditambah passionnya akan seni, yang mana dia lihat sudah kurang ketika mengikuti pameran kesenian. Kreatifitas yang dianggapnya dulu tidak begitu mengejutkan. Akhirnya dia membuat sebuah komunitas untuk membuat sebuah kain.

Dari sana mulai dia mencoba membuat kain. Hasil karya kain ulap doyo mulai diperkenalkan. Kemudian lahir sebuah pameran bernama Pameran Tenun Indonesia, yang ternyata menggaet banyak antusias. Jujur dia bukan ahli dalam hal kain. Hanya passion yang membawa Myra hingga sekarang ini.

Kemudian masuk ke pameran tahun kedua. Ia mulai berkenalan dengan para peminat kerajinan kain. Lantas dia berkenalan dengan Dekranas (Dewan Kerajinan Nasional). Tidak hanya kain, Myra mulai tertarik akan dunia kerajinan secara keseluruhan.

Mereka mengadakan aneka pameran, dari kain, kerajinan kayu, keramik,dll. Myra belajar dari sana, dan mengaggumi bagaimana leluhur kita memiliki kearifan lokal dalam berkesenian. Berbekal dari pengalaman tersebut Myra mulai membuat tim kerja.

Dia yang dasarnya senang berpergian. Mulai bersama berkeliling mempelajari kesenian. Bersama Dekranans juga mengadakan aneka pameran kesenian selama 5 tahun. Dia sadar bahwa kesenian kita terlahir karena adanya cinta.

Bisnsi Rumah Rakuji sudah berjalan sebelum dia ikut Dekranas. Dia tertarik tidak cuma kain, tapi juga kesenian tari, lukis, dan musik. Berkat ikut Dekranas dia berkenalan dengan keramik, kerajinan kayu, dan lainnya. Kenyataan bahwa pengrajin Kalimanta terlilit kemiskinan membuatnya semakin bersemangat.

Dia bersemangat untuk memajukan mereka. "Saya hanya bisa melakukan hal kecil, tetapi setidaknya saya melakukan sesuatu," jelasnya pada sebuah wawancara kepada Noesa.co.id

Memulai bisnis kain


Dari Dekranas, dia berkenalan dengan IKN (Industri Kreatif Nasional). Komunitas membawa Myra mengenal pewarna alami. Dia lantas kembangkan bersama workshopnya di Kalimantan, Flores, dan Sumba, mengajarkan masyarakat desa menggunakan pewarna alami.

Setelah keluar dari Dekernas, dia ikut kelompok Gerakan Pewarna Alam, tujuan awal bisnis Myra adalah sosial tidak menarget uang. Semua pameran penjualan tidak bertujuan mencari uang. Tetapi untuk mengembangkan kesenian kita. Termasuk memperkenalkan kepada masyarakat Internasional kita.

Di Kalimantan Barat, dia menemukan kain Ulap Doyo. Berbahan utama daun doyo, sebuah hal yang menyenangkan menemukan satu- satunya daerah menggunakan kain alami. Susah menemukan seni berbahan kain 100% alami. Menggunakan teknik ikat, sudah memiliki motif unik ketika disatukan jadi kain.

Sekarang ini kain tradisional tidak dibuat memuaskan. Kualitas menurun karena permintaan untuk produksi cepat. Masalah utama dihadapi berbisnis kain ulap doyo apa. Hanya ada 30 orang pengrajin di desa, dan hanya ada satu yang benar- benar ahli. Anak muda desa juga ragu untuk belajar ulap doyo.

Solusi produksi dikembangkan dia adalah membagi- bagi prosesnya. Setiap orang akan diposisikan pada posisi produksi tertentu. Dia kemudian mendapat dukuangan dari Pemda. Sayangnya Pemda meminta penggunaan warna kimia karena dianggap lebih cerah; lebih menjual.

Bisnis Myra adalah tentang kebutuhan masyarakat tanpa meninggalkan alami. Fokus bisnis sosial seorang Myra sendiri adalah artisan. Dia mengajak para artis muda, pengrajin muda untuk membuat sebuah pameran tetapi tanpa memaksa. Membangun komunitas lebih diutamakan untuk berbagi pemikiran.

Kenapa tidak memilih pewarna sintetik. Alasan kesehatan menjadi alasan utama. Buruk buat kulit, hingga menjadi polusi ketika usang. Banyak kepercayaan yakin bahwa pewarna alami justru bisa menyembuhkan penyakit.

Minggu, 19 November 2017

Kulit Jagung Jadi Bunga Pengusaha Raup Puluhan Juta

Profil Pengusaha Nina Kartika 


kulit jagung jadi bunga
 
Siapa sangka kalau bungan tersebut dari kulit jagung. Teksturnya yang unik, hampir menyerupai apa bunga aslinya. Inilah kisah pengusaha Nina Karika dan ibunya. Kulit jagung yang tidak bermanfaat, yang sisa, dan menjadi limbah ternyata mampu menghasilkan omzet 30 juta. Bayangkan saja.

Bunga- bunga cantik buatannya sampai ke manca negara. Bersama ibunya bisnis tersebut diberinya nama Innovart Cornhusk Flower. Awalnya, tahun 1987, ibunya Nina berpikir banyak kulit jagung yang tersisih di pasar, butuh sentuhan.

"...daripada dibuang sebaiknya dimanfaatkan," tiru Nina.

Setelah bisnisnya berkembang, maka permintaan melonjak tajam alhasil mereka lumayan keteteran. Jika dulu cukup mengambil di pasar sekarang butuh suplier sendiri. Nina menambahkan apalagi pada jaman itu kertas mahal ditambah kain susah.

Awalnya mereka cuma menggunakan tangan. Lambat laun mereka akhirnya memilih menggunakan mesin juga. Permintaanya banyak sampai tembus pasar Eropa, Amerika, Jepang, Italia, Arab, Jeddah, Spanyol dan Amerika. Dimana bunga- bunga mereka dipajang di toko- toko souvenir mereka.

Tidak cuma toko, mereka masuk supermarket dan home decor. Hingga mereka diundang mengikuti aneka pameran- pameran di luar negeri sampai bisa ekspor terus.

Modal awalnya Rp.50 juta tahun 1987 silam. Bisnis kulit jagung tersebut mampu mengantungi omzet sampai Rp.50- 60 juta per- bulan. Dia juga mampu memproduksi sampai 10.000 tangkai perhari. Ia memulai dari menjual melalui booth kecil di Mall Taman Anggrek dan melalui online.

"Modal awalnya mungkin 50 ribuan ya, kalau omzet sekarang Rp.50- 60 juta," terangnya.

Walau ekspor tidak setiap bulan buktinya di pasar lokal menang. Dia menjelaskan bunga jagung yang mereka jual mampu bertahan sampai 20 tahun. Jujur mereka sedang mengalami kesukaran karena kelangkaan kulit jagung.

Asal tidak kena matahari atau air jaminan 20 tahun kuat. Harga jualnya bervariasi dari Rp.10 ribu hingga Rp.60 ribu per- tangkai. Kendala bertambah apalagi kalau musim hujan tiba, jelasnya kepada pewarta Detik.com

Selasa, 23 Mei 2017

Denim Bekas Bisa Dijadikan Kacamata Gaya

Profil Pengusaha Jack Spencer dan Alex Boswell 


 
Dibanding kamu membuat denim bekas kamu. Kenapa tidak mendaur ulangnya menjadi barang berguna. Ini adalah kisah dua entrepreneur bernama Jack Spencer dan Alex Boswell. Bisnis mereka itu diberi nama Mosevic, yang mana mereka berdua juga pernah berbisnis semacam ini.

Bayangkan mereka merubah denim bekas menjadi kacamata. Koleksi mereka bernama Signature Denim dan Worn Sun Glass merupakan produk laris loh. "Kami membeli denim rusak dari tempat jualan barang bekas untuk amal," tutur Spencer.

Mereka mendapatkan uang buat membiayai kegiatan amal. Uang dari penyumbang pemilik pakaian bekas kemudian digunakan amal. Nah, tidak semua bisa terjual, justru Mosevic membeli yang tidak terjual. Yaitu pakaian denim yang sudah terlanjur rusak atau tidak pantas dipakai lagi.

Caranya adalah menumpuk denim menjadi bentuk. Semua dibuat dengan bahan resin sintetik. Dan nanti akan menciptakan bahan baru yang disebut denim keras. Selanjutnya, dengan komputer, pemotongan dan bentuk tekstur dipertahankan.

Bisnis ajaib


Dengan bantuan kompyter pemotongan akan rapih. Tinggal dipasang frae saja kan. Selain bahannya ramah lingkungan, keren, ternyata produk ini ringan. Setiap produk satuanya unik karena merupakan bahan dari pakaian orang yang berbeda. Ada sejarah tertempel pada tektur setiap denim meskipun sama bahannya.

Proyek ini dimulai Juni 2015 berbekal donasi KickStarter, tapi sebenarnya sudah jauh sebelumnya yaitu empat tahun penelitian.

Spencer memang sangat passion kepada kacamata. Meskipun dia tidak memakai kacamata. Tetapi pikiran dia ingin memulai perusahaan kacamata. Untuk menjadi laris manis, maka dia berpikir caranya agar beda dari kebanyakan orang. Dia sudah pengalaman membuat aneka hal berbekal bahan kimia komposisi.

Hingga dia sadar bahwa resin ternyata bisa digunakan pada bidang kain. Jika kacamata matahari adalah produk mewah, maka ini minimalis, dan mereka berdua sadar bahwa bisnis mereka merubah cara hidup kita dalam memanfaatkan produk daur ulang.

Dan ketika orang suka akan produk mereka, maka pakaian bekas untuk dibuang diminimalis. Kita jangan sampai menjadi generasi pakai- buang. Mereka termasuk entrepreneur yang memahami bahwa menjadi biang perubahan itu harus. Tetapi mereka sadar bahwa mengemas produk sebaik mungkin agar laku dijual.

Tetapi mereka juga ingin kemasan minimalis. Efesiensi tidak cuma pada produk, tetapi kemampuan dalam penjualan lewat internet. Mereka bergerak dari organisasi amal ke perusahaan besar yang punya limbah. Mereka ingin mengubah produk lawas tidak laku terjual.

"Kami berharap produk kami akan meningkatkan kesadaran akan limbah fashion," tutup Spencer.

Minggu, 21 Mei 2017

Menjadi Agent Tagihan Bersama Ruma Buat Rakyat

Profil Pengusaha Aldi Haryopratomo 


 
Namanya Aldi Haryopratomo pengusaha muda bidang sosial. Pemuda yang kini sudah berusia matang, 32 tahun, merupakan kelahiran Jakarta, Indonesia. Merupakan anak orang berada tetapi tidak membuat dia jadi sosok arogan. Pasalnya semenjak usia dini sudah berteman dengan anak- anak yang ekonominya susah.

Empati Aldi kecil tumbuh dengan kesadaran akan lingkungan. Dia tinggal di perumahan untuk pegawai pemerintah. Dimana sekitarnya merupakan kampung- kampung keci. Di sana, justru dia menemukan banyak teman, meskipun lahir dari keluarga berkecukupan bermain ke kampung itu menyenangkan.

"Pengalaman tinggal di dua dunia sangat membentuk saya tumbuh," ujarnya.

Tetapi tidak akan berhasil tanpa orang tua. Dia ingat betul bagaimana dia dan kakaknya dibentuk. Oleh kedua orang tuanya menjadi sosok pengajar kehidupan. Ayah Aldi merupakan pegawai kontraktor khusus membangun jalan negara. Menurut ajaran ayah pekerjaanya adalah untuk membantu hidup orang banyak.

Ayah Aldi percaya bahwa jalan dibangun akan mendorong ekonomi. Semangat membangun tidak cuma buat uang tetapi membangun kehidupan masyarkat Indonesia. Ayah Aldi pekerja keras dengan alasan mulia tak cuma sekedar mencari uang.

Bertahun- tahun Aldi terinspirasi sang ayah. Bagaimana dia juga bisa membangun masyarakat. Tentu saja dengan caranya sendiri. Selepas sekolah menengah di Jakarta, dia melanjutkan ke Amerika, yaitu kuliah jurusan ilmu komputer di Purdue University, Indiana.

Selepas kuliah dia bekerja menjadi teknisi keamanan untuk Ernst & Young. Kemudian dia mengerjakan bisnis untuk UKM bernama Kiva. Dimana Aldi berkeliling Indonesia dan Vietnam, ke pelosok, cuma buat mewujudkan idealismenya. Selepas itu Aldi memilih melanjutkan program MBA ke Harvard Business School.

Bisnis kembali


Tidak berhenti berbisnis sosial. Langkah selanjutnya Aldi ialah Ruma. Dimana dibiayai oleh perusahaan besar Silicon Valley. Dan didukung perusahaan besar asal Indonesia Gunung Sewu Kencana. Ruma lalu mempekerjakan 512 orang, dimana sepertiganya adalah agen lapangan, sisanya bekerja di kantor Jakarta.

Pengusaha muda satu ini bukan mencari uang. Tetapi justru membantu orang lain, sebaik mungkin, agar bisa mendapatkan uang. Pengalaman menjadi pegawai di perusahaan pembiayaan UKM. Maka pada 2009 dia siap meluncurkan bisnisnya sendiri sejenis.

Ruma menyediakan bagi 30.000 perusahaan kecil di seluruh Indonesia kesempatan berbisnis. Mereka akan membantu masyarakat untuk mengakses servis, membayar tagihan, mencari lowongan, dan semuanya dilakukan cukup di aplikasi mobile mereka.

Kemudian para agent merupakan toko- toko kecil yang menawarkan jasa. Ambil contoh sebuah warung dimana orang tidak cuma membeli rokok, tetapi bisa membayar listrik. Dimana dia mengambil inspirasi data Bank Dunia bahwa hanya 16% orang yang memiliki akses ke internet.

Dia selalu memberi semangat kepada agentnya. Mereka pantas mendapatkan hasil dari kerja keras mereka. Hal paling berarti adalah dikelilingi orang yang melakukan hal berarti. Dia beranggapan akan gampang kita sukses jika dikelilingi tim kerja hebat yang memiliki passion pada usaha mereka juga.

Kepercayaan Aldi begitu besar, bahkan tidak segan meninggalkan pengelolaan kepada mereka. Tidak cuma sebentar tetapi sampai dua minggu pergi. Aldi pergi ke pelosok berbekal sepeda motor dan tentu tidak lah mudah dihubungi untuk sekedar meeting.

Apa yang dilakukannya di luar kantor?

Ia akan mengunjungi agent Ruma. Dia akan aktif bertanya kesan dari agent dan juga pelanggan mereka. Dia beranggapan membangun kekuatan dalam mengambil keputusan adalah hal terpenting. Guna menciptakan itu pengusaha harus tau bagaimana perasaan pelanggan, bagaiamana mereka berpikir, rasakan, dan akhirnya butuhkan.

Dia berpikir jika kamu mau jadi anak muda ambisius. Baiknya jangan cuma berpikir bisnis mereka sendiri. Tetapi bagaimana menangani solusi di luaran sana. Entrepreneurship harusnya menginspirasi, bagaimana menyelesaikan masalah, menjadi passion dengan masalah adalah inti dari apa yang kamu butuhkan.

Entrepreneurship adalah sedikit dari banyak cara menyelesaikan masalah. Sayangnya orang menaruh ini dibawah kaki mereka. Menyepelekan kewirausahaan. Akhirnya banyak orang yang bekerja keras akhirnya tidak mendapatkan penghargaan bahkan oleh atasan mereka sendiri.

Meskipun disibukan dengan kegiatan entrepreneurship. Dia tetap meluangkan waktu jalan pagi bersama istri dan anak kembarnya. "Saya berbicara kepada mereka (anak saya) mengenai pekerjaan seperti layaknya orang dewasa," ia menceritakan. Berjalan bersama mereka adalah terapi pikiran Aldi untuk semangat pagi.

Selasa, 09 Mei 2017

Pemuda Aceh Berhasil Menjadi Wirausaha Berkat Ban

Profil Pengusaha Muda Aceh Habibi 


  
Awal tahun 2011 silam, pemuda asal Bireuen- Aceh, bernama Habibi mencoba sesuatu yang baru. Tengah bergulat dengan hasratnya menjadi pengusaha muda. Mahasiswa Universitas Almuslim, berpikir kenapa ban bekas mobil dibuang begitu saja. Mereka cuma berakhir di tempat pembuangan akhir sampah saja.

Sambil menambal ban sepeda motor, pikiran tersebut berjalan dan mahasiswa matematikan tersebut mulai memprhitungkan. Bagaimana dia mengubah menjadi bentuk berguna. Menjadi ramah lingkungan adalah kunci sukses bisnis Habibi. "Alam semakin rusak. Karet ban bekas itu kan tidak bisa dihancurkan," ujarnya.

Mungkin ribuan tahun bisa, tetapi apakah sanggup ketika produksi ban bekas terus- menerus. Hingga di Desember 2015, bekal untung bisnis tambal ban motor miliknya di Keude Jeunib, pergi lah Habibi ke toko membeli pisau pemotong karet. Dibelinya pisau dan batus asah, kemudian bor listri, kuas, dan cat.

Semuanya dibeli berhutang di salah satu toko alat bangungan -atau di Aceh disebut Toko Buso- beruntung karena pemilik toko percaya kepada Habibi. Sekitar dua atau tiga ban bekas dijadikan media untuknya berkreasi. Semua pikiran dicurahkan oleh Habibi membentuk kreatifitas artistik berbahan ban bekas.

Semua karena keuletan dan daya tahan menghadapi ketidak pastian. Tidak mudah meyakininya, bagaimana sebuah ban bekas akan menjadi pot bunga berbagai variasi akan laku. Disebarkan produk tersebut ke sosial media, dimulai dari sosmed, dijadikan lapak pertama pengusaha muda ini.

Sambutan postifi bermunculan melihat produk Habibi. Kemudian usaha tersebut diberi nama Seni Pemuda Desa atau SPD, yang mana merujuk kepada statusnya sebagai mahasiswa pendidikan S.Pd. Menurutnya menjadi guru bukan sekedar di kelas. Jangan berpikir kaku sebagai mahasiswa juga harus melihat banyak kesempatan.

Jangan terperangkan di dalam ruang kelas tambahnya. Jangan terjebak mengajar kepada hanya siswa yang berseragam. Lewat entrepreneurship kita bisa memberikan pengetahuan kepada siapapun. Ini termasuk juga cara bagi guru untuk berdikari tidak fokus menggantungkan hidup untuk menjadi PNS.

Dia dibantu teman- teman putus sekolah mencoba berbisnis. Menghasilkan berbagai produk variasi bahan ban bekas, mulai dari vas bunga bermotif, ember, ayunan, dan meja. Cukup ban dikupas kemudian digulung bulat. Dipaku, selanjutnya diperhalus, dan dilukis, jadilah aneka produk termasuk tempat sampah lucu.

Kelebihan tempat sampah dari bahan ban bekas. Ya bebas hujan karena ban bekas tidak akan masalah jika kena air terus- menerus. Juga tidak akan karatan ataupun pecah. Bermodal seratus ribu, kini, Habibi sudah mampu mengantungi omzet jutaan rupiah.

Jumat, 28 April 2017

Aplikasi Pertolongan Anak Dibully Gampang Kok

Profil Pengusaha Natalie Hampton 


 
Terkadang seorang anak membutuhkan tempat sendiri. Adapula anak yang memang lebih suka menyindiri. Namun jangan biarkan mereka sendiri tanpa teman. Pengalaman menjadi sosok dibully pernah dirasakan oleh Natalie Hampton. Hanya karena dia berbeda bukan berarti malah dijauhi menjadikan semakin sendiri.

Sebagai siswa sebuah sekolah anak perempuan di Sherman Oaks, California, merasakan betul bagaimana dia makan sendirian. Menjadi anak yang duduk di pojokan makan bekal sendiri adalah "prestasi". Sesuatu yang tidak adapat Natalie lupakan sepanjang sekolah menengah.

Gadis 16 tahun tersebut merasakan penolakan, malu ketika mendatangi sebuah meja. Berbeda anak- anak lain Natalie mampu mengendalikan dirinya. Akhirnya dia punya teman berkat keberaniaanya untuk duduk bersama anak lain, walau mata mereka tidak bisa bohong pada awalnya.

Tak kenal maka tak sayang. Natalie kemudian menemukan titik temu. Bagaimana membantu teman- teman seperti dirinya untuk dapat teman. Bagaimana anak lain sadar bahwa mereka yang makan sendiri bukan mau hidup sendiri. Mereka butuh rangkulan dahulu. Mangkanya Natalie membuat sebuah aplikasi bertema makan.

Dia masih ingat karena suka menyendiri. Dia diperlakukan berbeda. Dianggap membedakan diri atau juga dianggap sombong. "Saya diberi tau oleh seorang teman sekelas bahwa saya begitu jelek," sangat lah menakutkan dan semua orang terasa membenci mu.

Makan bersama


Sejak menjadi sosok lebih terbuka, Natalie mulai mengikuti aneka kegiatan membantu anak lain. Ingin memberi mereka jalan agar menjadi lebih baik. Namun dia menyadari bahwa waktunya terbatas. Ketika ia keluar dari kampus tersebut maka tidak akan ada lagi bantuan buat anak korban bully.

"Jadi saya berpikir menciptakan sebuah aplikasi merupakan satu jalan terbaik untuk membantu anak- anak di sekolah dan ruang makan siang baru dan membantu mereka menemukan mereka rumah baru," ia berkata.

Dia kemudian membentuk sebuah tim proyek. Mereka menciptakan aplikasi pribadi. Dimana orang- orang di sekitar akan menyadari keberadaan mereka tanpa mempermalukan mereka. Anak yang duduk sendirian akan tau kalau ada meja kosong tanpa harus meminta tetapi malah diajak lewat layar smartphone.

Dalam seminggu aplikasi buatannya didownload 10.000. Yang mana semakin besar, dan sungguh sangatlah mengejutkan karena sekedar proyek kecil- kecilan sederhana. Jika sebelumnya dia pikir akan hanya masuk ke sekolahnya. Eh, ternyata, malah mengglobal lebih banyak dan umum dipakai pengguna smartphone.

Ada orang dari Maroko, Australia, Inggris, Prancis, yah tidak terbatas di Amerika saja. Ternyata niat baik Natelie tersampaikan.Masalah Natalie memang bukan masalah pribadi. Umum, dibanyak tempat anak- anak terkadang malah duduk sendirian ketika istirahat makan siang atau sekedar jajan.

Aplikasi yang dibuatnya memang bersifat umum buat siapapun. Dia bukan satu- satunya yang merasa sendirian di dunia sekolah menengah. Dan sampai sekarang, Natalie juga masih merasakan hal tersebut loh, tetapi dengan kadar berbeda.

Karena Natalie punya pandangan optimis. Tetapi sekali lagi, tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama sepertinya. Diantara perasaan sendiri Natalie menyadari bahwa di sekolah juga ada anak baik kok. Mereka yang peduli sesamanya dan dipermudah mencarinya lewat aplikasi tersebut.

"Saya baru menyadari berapa banyak orang yang peduli dan membantu setiap harinya di komunitas sekolah sampai saya membuat ini," jelasnya.

Perasaan takut ditolak anak- anak seperti Natalie akan selesai. Karena begitu mereka melihat layar akan terlihat meja mana yang kosong. Dan teman kamu akan memberikan tulisan ajakan, menguatkan untuk tak ragu datang dan duduk bersama. "Jadi tidak ada lagi rasa malu. Tidak ada isolasi. Itu akan jadi lebih mudah."

Meskipun begitu bentuk bully lainnya mengkhawatirkan. Bentuk cyber bullying menjadi masalah Natalie perhatikan akhir- akhir ini. Inilah cara dia menciptakan sosial media yang bersih. Melalui membuat app sendiri untuk menolong anak- anak introvert. Pertumbuhan aplikasi Natalie bagus didukung oleh banyak orang.

Lewat aplikasi tersebut dia punya teman, temannya akan mengajak teman lain di sekolah, Natalie juga dibantu keluarga yang membantu aplikasinya masuk ke sekolah lain. Senang karena tidak ada penolakan dari setiap sekolahan mereka masuki. Harapan Natalie adalah membantu orang lain, meskipun hanya satu.

Kamis, 03 November 2016

Biografi Made Bali Pemilik Bisnis Kayu Bekas

Profil Pengusaha Made Sutamaya 



Jika orang ke pantainya Bali bersenang- senang. Disebuah sudut, ada sosok Made Sutamaya, yang tengah asik mencari sampah. Barang tidak berguna tersebut dirubahnya menjadi emas. Loh, bagaimana caranya, ya dengan merubahnya menjadi barang daur ulang. Inilah kisah pengusaha asal Bali.

Made mengingat semua bermula puluhan tahun silam: Made tengah asik melamun memandangi tumpukan sampah di tepi pantai. Dia mengingat ada puluhan potong ranting, potongan kayu juga ada, aneka ukuran menumpuk seperti gunung. Tiba- tiba kepikiran mengumpulkan mereka.

Dikumpulkan kemudian dirubah menjadi sesuatu. Made dari sekedar iseng mampu menghasilkan jutaan rupiah.

Bisnis sampah


Alkisah dia bercerita pernah bekerja di galeri seni. Made paham soal mabel, terutama bagaimana membuat kerajinan furnitur. Lantaran tragei bom Bali 2002, bisnis perusahaan tempatnya bekerja mengalami masa sulit. Sepi maka berdampak kepada penghasilan Made pribadi.

Ketika dia melihat tumpukan kayu limbah di tepi pantai. Muncul lah ide membuat furnitur berbahan dasar kayu bekas. Dia memang bukan ahli desain interior. Namun kreatifitasnya melalang buana lebih jauh. Jika penulis istilahkan melampaui mereka yang berpendidikan tinggi.

Bayangkan membuat furnitur berbahan bekas?

Bahannya gratis. Ia tinggal mengumpulkan dan dibawa pulang. Selain itu juga membantu lingkungan pula. Ia menceritakan penuh semangat -sambil memunguti ranting pohon, namun awalnya dia sama sekali tidak membayangkan bentuknya, bahan kayu- ranting bekas mau dibikin apah.

Dia memungut kayu bekas sampai dua kantung. Dibawanya ke rumah, lantas dimasukan ke galeri kecil- kecilan miliknya. Ayah empat anak ini lantas membongkar- bongkar ranting tersebut. Seolah seperti satu permainan puzzle hingga Made menemukan bentuk tepat.

"Saya menjadikan ranting- ranting itu penghias pinggiran kaca rias," jelasnya. Setelah itu Made akan mulai menawarkan dan laku Rp.200.000.

Ia menuturkan terbantu akan pamor Bali. Kerajinan tangannya begitu tersohor dikalangan wisatawan asing. Ya mudah baginya menjual hasil karya tersebut. Mereka bahkan meminta lebih variatif soal model. Inilah peluang usaha dibayangkan Made. Makalah dia pulang, semakin bersemangat buat mencari limbah kayu.

Ia akhirnya mendesain hiasan dinding, meja rias, harganya bervariasi dari ratusan ribu sampai bisa jutaan rupiah. Mungkin terlihat gampang tetapi tidak juga. Made lantas bercerita kepada Indotrading.com soal perjalanan bisnisnya. Dimulai tahun 2003, sempat bekerja di perusahaan mabel sampai 23 tahun lamanya.

Bisni Kiosk Gallery ternyata susah- susah gampang. "Ya saya memang punya mimpi ingin sekali menjadi pengusaha," Made semangat. Modal awalnya memang murah, tinggal kantung plastik, kayu bekas, dan juga paku. Sangat beruntung pengalaman bekerja di toko mebel begitu berasa mendukung bisnisnya kini.

Punya galeri sendiri


Ia yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Mendadak menjadi jutawan bermodal sampah. Kayu didapat gampang ketika musim hujan. Kan kayu akan hanyut dari asalnya lewat sungai lalu ke laut. Kemudian dia mengumpulkan mereka jika sudah terbawa ombak ke pantai.

Ia menjelaskan bahan dikumpulkan ialah patahan kayu dan ranting. Membangun bisnis tidaklah mudah. Ia ingat betul awalnya dia cuma ngontrak. Dari uang jerih payah menawarkan kesana- kemari. Uang tersebut dibuat ngontrak satu rumah, yang disulapnya menjadi workshop sederhana. "Awalnya saya ngontrak dulu..."

Sukses kemudian penghasilan Made dijadikan rumah. Membeli rumah, kemudian Made kembali menjadi "pemulung" dipinggiran pantai. Dengan jarinya merakit sendiri produknya. Kebanyakan kayu tersebut ia katakan masih layak pakai. Tinggal dikeringkan karena habis terendam di laut lumayan lama.

Dirakit dulu kemudian barulah didesain bentuk. Kayu dijadikan berbagai perkakas rumahan. Kalau sudah bentuk interior dianggapnya paling susah. Dia menyebutkan butuh lebih dari sekedar merakit. Desain yang dia rencanakan harus detail termasuk penggunaan bahan kayu apa.

Dilanjutkan mau bagaimana agar konstruksinya kuat. Beda jika dia membuat patung burung, ya tinggal ia pakai imajinasi.

Bebekal pengalaman bekerja sebagai pegawai furnitur. Dia juga memiliki pengetahuan tentang desain interior. Kioski Gallery cuma berbekal paku dan kayu bekas. Potongan kayu panen ketika musim hujan tiba. Namun ketika musim panas, makalah dia kebingungan ketika harus mencari kayu- kayu bekas.

Dia hanya memilih kayu terbaik. Interior desain bikinan Kioski Gallery tidak disangka. Wujudnya seolah dibuat oleh lulusan sekolah desain. Keperluan interior produknya ekslusip, harganya bervariatif ya dari bernilai ratusan ribu sampai jutaan. "Macam- macam ya hingga Rp.6 juta," paparnya.

Konstrukis kayu kuat. Ketahanan luar bisa. Dia sudah memilah dahulu. Kayunya keras sekali, kenapa keras ternyata ada rahasia alam, bayangkan saja ikan keras terendam air laut. Ikan diawetkan pakai garam kan? Nah, prinsip ini diaplikasikan kekerasan kayu tersebut, kayu- kayu terendam sampai berpuluhan tahun bisa.

Konstruksi kayu terbentuk karena proses kimiawi. Terombang- ambi di air kemudian mengawetkan produk buatannya tanpa pelapis kayu! Ketahanan kayu menurut Made sampai 20- 30 tahunan. Bisnis yang dijalankan Made merupakan hobi. Jadi senang lah menekuni bisnis tersebut dan menghasilkan uang.

Bahannya kayu bekas di pinggiran pantai. Sambil menyelam minum air laut. Sambil menjadi pengusaha juga menjaga lautan. Sambil menghasilkan uang lingkungan terselamatkan. Beruntung Made tinggalnya di pinggiran panta jadilah kepikiran. Pria kelahiran 10 Oktober 1967 ini memang bukanl sembarangan orang.

Bisnis Eropa


Macam desain interiornya sudah merambah Eropa. Dari lampu sampai meja rias, semuanya adalah hasil pemikirkan kreatif Made Sutamaya. Sejak didirikan 2003 silam, kini, bisnisnya sudah merambah sampai ke Eropa, mulai Belanda, Prancis, Italia, sampai Afrika.

Pertama kali berbisnis dia membayangkan. Dia menunggu sambil melamun di galerinya, di Tegalalang, Bali. Karena sepi sangat dia terpaksa bergerak. Made bergrelia mencari pembali sendiri. Jalan terbaik ia mengikuti aneka pameran. Inilah alternatif mencari pembeli dan meningkatkan brand awerness nya.

Berawal dari pameran satu, ke pameran lainnya Kioski Gallery mulai mendapatkan pesanan. Made sangat menyarankan buat pengusaha pemula seperti kita: Ikutilah pameran bisnis dimanapun. Sukses menjual di event atau pameran, dia banting stir memanfaatkan sosial media Facebook, Twitter, dll.

Made mulai dikenal sebagi desainer interior kayu bekas. Omzetnya mampu nembus Rp.300 jutaan loh. Ia menyabet banyak penghargaan berkat itu. Sebut saja Prama Karya Award 2015 oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Dibantu oleh 30 orang karyawannya, yang kebanyakan merupakan putus sekolah.

Ibu- ibu pengangguran direkrutnya. Ia membina dan mempekerjakan mereka. Kemudian dia memiliki 250 mitra bisnis tersebar di seluruh Indonesia, ada di Bali sendiri, Lombok, Jawa Timur, dan Sumbawa. Dia sendiri aktif mengajak anaknya menjadi penerus bisnis sekarang. Ia mengikutkan banyak pameran bersama dia.

"...mereka juga dilibatkan dalam pembuatan seni ini," Made berharap usahanya tidak akab berhenti disini. Akan ada penerus buat bisnis kelak yakni anak- anaknya.

Tantangan buat Made ialah bahan baku ada ketika naik air. Ketika banjir bahan kayu akan banyak kumpul. Maka ketika musim panas maka dia menyiasati. Termasuk mengumpulkan kayu tersebut dahulu. Saran dari Mada bahwa pengusaha harus agresif memasarkan. Janganlah menunggu pelanggan datang tetapi datangi.

Selasa, 01 November 2016

Kaya Karena Jualan Bros Untungnya Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Novi Indah 



Sukses Novi Indah memang sangat sederhana. Cuma berbekal "sampah" disulapnya menjadi uang puluhan juta. Bayangkan dari kulit ikan dijadikan omzet Rp.14 juta per- bulan. Umur 29 dia nekat keluar pekerjaan karena ingin menjadi pengusaha.

Berwirausaha memang sudah menjadi tujuan akhir. Awalnya dia mendapatkan cibiran loh. Tetapi dia dapat buktikan bahwa dia mampu. Ide merubah sisik ikan menjadi bros berhasil. Jadilah ibu satu anak ini mampu menghasilkan uang berbekal limbah ikan.

Dia putuskan berhenti pekerjaan. Walaupun begitu tidak mudah, bayangkan apa mungkin hobi mengkoleksi limbah ikan menjadi uang. Tidak terbayangkan dibenak pikiran orang biasa. Tetapi pikiran pengusaha Novi membawanya ke arah kewirausahaan.

Ide bisnis Novi sangat simple kok. Dibenaknya apa buatanya unik. Tidak semua orang terpikirkan akan membuat bros darisana. Orang bilang dia mengerjakan bisnis ecek- ecek -bisnis murahan. Bisnis sampah karena memang begitu bahannya. Namun di luar sana ternyata lebih banyak orang menghargai usahanya ini.

"...saya dihina tapi saya jalan terus," Novi mengenang awal mulanya.

Lantas dia memberinya nama Vay Craft Indonesia. Cara membuat bros kulit ikan gampang nih. Awal- awal sisik ikan dicuci sampai bersih 2 kali pencucian. Dia menggunakan diterjen biasa. Lantas dicuci kembali dan dikeringkan dengan diangin- anginkan.

Ia mengatakan tidak menggunakan sinar matahari. Kemudian diberi pemutih atau pewarna tekstil sesuai selera. Harga jualnya Rp.20- 30 ribuan. Usaha dimulai sejak 2008 menghasilkan omzet Rp.6 jutaan diawal bisnis. Wanita asal Sidoarjo tersebut lantas melebarkan sayap bisnisnya sampai ke penjuru Indonesia.

Kemudian dia merambah produk lain. Limbah kain perca dirubahnya menjadi bisnis. Dia membuat aneka bros sampai tas. Harga tas berkisaran Rp.115- 200 ribu per- buah. Untuk jualan tas sendiri omzetnya ia dapat Rp.4 jutaan. Bros kain perca kisaran Rp.10- 15 ribu dan omzetnya mencapai Rp.4 jutaan.

"Saya akan total berwirausaha," paparnya. Dia sendiri meyakinkan dirinya membesarkan. Total semu

Minggu, 25 September 2016

Mengolah Bekas Semen Menjadi Batik Pekalongan

Profil Pengusaha Harris Riadi 



Nama Harris Riadi merupakan salah satu maestro di bidang batik. Pengusaha batik yang menekankan akan pentingnya memanfaatkan lingkungan. Harris sebelum menjadi pembantik dikenal sebagai seorang pelukis.

Lambat laun dia ingin membuka usaha batik sendiri. Sebelum berbisnis batik, ia sudah pernah bekerja jadi desainer perusahaan batik, yang mana dilakoni sekitar enam tahun. Sedangkan menjadi pelukis ia lakoni selama 15 tahun berkelana sampai ke Bali, Jakarta, dan Solo, kemudian menjadi pembatik sambilan saja.

Pria kelahiran Pekalongan, kemudian pulang kampung dan membuka usaha sendiri di Pekajangan, Kab. Pekalongan, tahun 1997. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa Yogyakarta, lulus 1979, dimanan lanjut ke Akademi Seni Rupa Indonesia -sekarang Institut Seni Indonesia, tetapi ternyata dia tidak tamat.

Bisnis cerdik


Usaha bernama Bintang Batik juga buka di Desa Jeruksari, Tirto, Pekalongan. Karena berlatar belakang seni lukis maka dia tidak asal. Dia ingin menciptakan batik bukan sekedar komersial. Bintang Batik tidak memproduksi masal batik. Semua pekerjaan dilakukan dengan pemikiran agar menjadi master piece.

Tahun 2006 ketika ada Piala Dunia, inspirasi mendadak muncul, yang kemudian dia tuangkan lewat 100 lembar batik tulis. Motif batik menendang bola dan bola menjadi andalan. Dimana kemudian pesanan batik datang dari Bandung, Jakarta, Semarang, sampai Jerman.

Kemudian ketika ada musim valentine tahun 2007, tiba- tiba Harris meluncurkan motif batik bergambar kodok sedang bercinta. Pokoknya motif batik Harris benar cerdik. Bukan sekedar membuat aneka motif baru saja. Untuk pemawarnaan dia lebih memilih ke pewarna alami buatan sendiri.

Alasan utama kenapa ya karena mencemari lingkungan. Harri mengamati bagaimana industri batik sudah mencemari sungai Pekalongan. Contoh pewarna alami batik pengusaha batik Pekalongan ini: Warna merah dari kulit bawang, warna ungu dari bunga sepatu, kulit biji jelawe buat hitam, kayu mahoni warna coklat.

"Saya tidak ingin menambah beban lingkungan," tandasnya.

Walaupun begitu tidak dipungkiri Harris juga memakai. Bahan kimia dia gunakan serendah mungkin yakni 40% -an.

Semengat merubah bahan kimia menjadi alami. Membawa Harris semakin berinovasi mengurangi tingkat penggunannya. Cara paling kreatif menggunakan bahan limbah. Tahun 2006 dia membuat warna berbahan kotoran sapi dan kulit tebu dan rumput sebagai pewarna batik.

Obsesi batik


Tidak cuma terobsesi akan warna alami. Hal lain memenuhi pemikiran Harri ialah daur ulang. Walaupun cerita tentang kotoran sapi menjadi pewarna miring. Tanggapan masyarakat tersebut dianggapnya menjadi tantangan. Alhasil, memasuki aal 2007, dia membatik diatas kertas dan kantong bekas bungkus semen.

Bayangkan kantung bekas semen menjadi batik. Limbah yang dijual murah perkiloan ternyata jadi uang dan banyak. Kemudian produk tersebut diubah menjadi sarung bantal, tas, sandal, sampai gorden. Jikalau orang bicara kenapa tidak dijadikan pakaian, Harris lebih menjawab karena alasan estetika saja.

Batik kantong semen dibuat ya seperti batik biasa. Dia bercerita batik kantung semen mewujudkan cita- citanya. Yakni batik 100% berbahan alami. Pasalnya kalau memakai bahan kimia maka kantung akan rusak hancur.

Bayangkan pengusaha ini sebulan memproduksi 200 lembar. Penjualan utama ada di Jakarta yang mana ia jual antara puluan ribu sampai ratusan ribu.

Ada dua cara membatik diatas kantung semen. Pertama yaitu dibersihkan dulu kemudian baru dibatik langsung. Kedua dibentuk tali, dirajut, barulah dibatik diatas yang  sudah jadi. Ingat kualitas kertas bekas semen harus samalah kualitas. Kalau sudah jadi ternyata produk buatan Harris dapat dicuci loh.

Kisah batik kantung semen terinspirasi pemulung. Dimatanya tampak tidak berharga. Kreatifitas langsung mengusik memunculkan ide spontan. Seperti cerita- cerita sebelumnya Harris langsung praktik. Alasan lain karena mengandung timah. Dan di Jakarta, dibakar, kemudian membuat lingkungan tercemari olehnya.

Sejak Juli 2009 sudah mulai tuh memunguti sampah bekas semen. Bahan yang diduga mengandung timah dijadikan produk permanen. Produk terbaru seperti tas laptop, kotak tisu, gesper.dll. "Kalau bumi tidak diselamatkan dari limbah, ini berbahaya," tutur Herris penuh keyakinan.

Tidak berhenti disitu, dia masih ingin mengolah limbah lain menjadi batik. Banyak jenis limbah mengotori lingkungan. Cuma berpindah tangan tanpa solusi penyelesaian. Cara terbaik menurutnya adalah bagaimana memperpanjang masa pakai. Caranya menjadikan limbah menjadi produk permanan dapat dipakai terus.

Ia sadar tidak mudah limbah menjadi batik. Butuh ketelatenan serta masa trial dan error baginya. Namun ia meyakini selama memiliki keyakinan pasti bisa. Memang membuat produk batik bahan limbah tidak akan sebanyak batik biasa. Justru disanalah kelebihan produk batik karya Harris karena tidak ada duanya.

Ia berharap pembatik sadar lingkungan. Kenapa dia sukses membuat batik bekas bungkus semen ya karena dia dekat dengan pemulung. Dia memang lebih ke arah seniman. Sosok ayah pernah menentang pilihan Harris, Chairil Kasmuri seorang tentara, namun melihat sosial Harris malah mendukung dirinya.

Dia mendukung Harris menjadi pembatik. Bukan sekedar menjadi pembatik mandiri menghasilkan uang sendiri, tetapi berguna bagi masyarakat. Harris ingat dia anak ke empat dari sembilan bersaudara. Dan, ia sudah sukses berkat membatik.

Jumat, 16 September 2016

Merubah Nasib Lewat Wirausaha Eceng Gondok

Profil Pengusaha Sambina Alfrina 



Keinginan merubah nasib membawanya. Ini kisah Sambina Alfrina. Ia hidup sebatang kara di Tangerang. Dia ditinggalkan sang suami. Tidak memiliki pekerjaan. Dia adalah perantauan asal Purbalingga. Semua ia lakukan untuk mencukupi kebutuhan, tidak ada keinginan muluk ketika memulai usaha eceng gondok.

Bahkan dibenaknya apakah mungkin berhasil. Keraguan tersebut dibayar melalui aneka pelatihan. Untung karena PT. HM. Sampoerna tengan mensponsori acara. Sebuah acara pelatihan wirausaha oleh Dewan Kerajinan Nasional atau Dakernasda.

Dimulai tahun 2013 dengan bermodal seadanya. Dia mendapatkan pelatihan: Bahwa eceng gondok punya kemampuan diolah menjadi kreasi tanpa batas. Yang dibutuhkan Sambina Alfrina hanya imajinasi dan kreatifitas. Bermodal uang Rp.1 juta dan peralatan dari Sampoerna dimulai lah.

Bisnis sederhana


Dia bersama beberapa ibu bekerja sama. Mereka memanfaatkan limbah enceng gondok. Memang daerah mereka banyak ditumbuhi tanaman gulma ini. Dari membuat kerajinan tas tangan, pot bunga dan sepatu. Ia mampu menghasilkan untung Rp.2 juta per- bulan. Ini sudah mencukupi tanpa mengandalkan pendapatan suami.

Tidak gampang tertulis diatas. Ia merasakan masalah datang. Kebutuhan biaya produksi menjadi kendala utama. Kembang kempis dia mencoba bertahan pertengahan 2013 silam. Untungnya dia tidak berhenti di tengah jalan. Meski berhenti sesaat, dia langsung bangkit dan memulai kembali usaha.

Tidak cukup uang buat menyetok eceng gondok. Apalagi ketika musim penghujan tiba. Dia terpaksa buat berhenti. Alhasil dia tidak menjual dan menggaji pegawai susah. Awalnya dia membuat produk tempat tisu dan tas. Sambina tidak patah arang terus belajar membuat lebih komplek.

Disisi lain, dia juga memberikan pelatihan kepada masyarakat, mereka bersama terus meningkatkan daya jual mereka. Tahun 2014 dirinya dikirim menjadi instruktur di Madagaskar. Uang memberi pelatihan ia gunakan kembali menjadi modal usaha.

Ia kemudian menyetok bahan baku. Mengkombinasikan dengan bahan baku lain. Sambrina telah mampu menciptakan produk diversif tidak monoton. Bahan lain syaratnya harus ramah lingkungan. Mulai bahan kain batik daur ulang, tali tegel, ataupun pralon bekas. Pegangan tas, contohnya dibuat dari pralon bekas loh.

Proses pembakaran dilakukan agar pralon lunak. Ataupun cukup diamplas saja. Dia membuat produknya jadi sebagus mungkin. Kualitas produk sudah dipahami wanita ini. Semua produk bagus, tentu juga relatif, tergantung persepsi pembeli tentang produknya.

Bisnis untung


Usaha dibawah bendera Putri Eceng. Sedikit banyak membantu membersihkan rawa dan saluran irigasi. Ia juga menciptakan karpet eceng godok darisana. Produk karpet lumayan diminati masyarakat. Bahannya jadi empuk serta tidak panas ketika cuaca panas. Benar- benar cocok buat kamu yang mau jalan- jalan.

Meski sederhana semua dijamin. Ina, begitu panggilan akrabnya, mampu mengkonsep produk semenarik mungkin. Bukti sukses Ina ya salah satu anggota DPR RI, Indah Kurnia, menggunakan produk Ina. Ketika ia melihat produknya langsung diborong loh.

Dua tas langsung dibeli dia loh. "Salah satunya adalah tas eceng gondok dengan pegangan dari pipa pralon yang dibakar," imbuhnya senang.

Harga jual produknya terbilang tidak mahal. Ya satu tempat tisu dijual seharga Rp.20.000. Untuk tas harga jual Rp.150.000 dan karpet sampai Rp.350.000. Bersyukur Sambina kini dibantu delapan orang pegawai. Kalau ramai mengajak tetangga lewat lima kelompok pengrajin membantu.

Meski sudah sukses dirinya tetap mengajar sesama. Ia mengajak semua orang menjadi pengusaha bidang sosial sepertinya. Wanita kelahiran 1974 ini banyak mengajak warga sekitar rumah. Dia langsung tidak ragu membagikan pengetahuan. Baginya membagi ilmu menjadi salah satu media beramal mudah.

Total satu kuintal eceng gondok dipakai. Mereka diangkat dari rawa, dikeringkan sampai kadar air hilang, diperas sampai benar kering. Kemudian Ina bersama pekerja akan menganyam. Produk dibutuhkan waktu 1- 2 hari kalau mudah. Paling sulit ialah membuat karpet dari bahan eceng gondok karena ukurannya.

Dalam sebulan usahanya menghasilkan 15 item- 20 item. Ia mengaku untuk sekarang omzetnya mencapai Rp.10 juta. Ini berkat penjualan sampai ke Jakarta, Bandung, Cianjur, Tasikmalaya, Surabaya, bahkan ke Makassar. Ia juga membuka showroom di gedung SME Tower Jakarta.

Konsumen asing benar- benar tertarik dengan karpet. Salah satunya pembeli asal Jepang menjadi langgana karpet.

Minggu, 11 September 2016

Cuma Lulusan SMA Tetap Semangat Jadi Pengusaha

Profil Pengusaha Sukses Herdian 



Bisnis kreatif memang soal bagaimana menciptakan. Kita adalah seniman dalam berbisnis. Tidak ada pula batasan pendidikan berbisnis kreatif. Inilah Herdian, pria 30 tahun yang merambah bisnis miniatur, yang mana omzetnya mencapai Rp.15 juta per- bulan.

Tidak murah Herdian mengawali. Modal Rp.50 juta digelontorkan buat bisnis. Dibantu 12 orang karyawan dirinya mantap berbisnis miniatur. Pengusaha satu ini memang sudah dikenal. Dia menghasilkan uang dari menjual figura, dan kini, berjualan miniatur gitar difigura.

Pengusaha asal Lembang, Bandung Barat, ini hanyalah lulusan SMA. Sejak lulus sudah banyak usaha telah ia jalankan. Tidak ada minat bekerja menjadi pegawai. Hasil usaha disisihkan buat menjalankan usaha lain. "Karena ingin menciptakan lapangan kerja," Herdian menuturkan.

Sajak 2005 dia sudah berbisnis sendiri. Ia kritis kenapa banyak orang menganggur di kampungnya. Kenapa mereka tidak membuka usaha jika tidak diterima kerja. Alhasil banyak pengangguran bahkan usia tua juga ada.

Usaha Herdian membuahkan hasil. Biaya produksi juga mengandalkan daur ulang. Tujuannya agar bisa memproses bahan tidak terpakai di kampungnya. Limbah kayu mahoni menjadi bahan pembuatan miniatur. Sebulan sudah bisa memproduksi ulang 1- 2 ton limbah kayu mahoni.

Ia memproduksi sampai 300- 500 pcs figura gitar dan 2.000 miniaturnya. "Banyak dikampung saya," ia menjelaskan. Limbah tidak terpakai banyak, dan masih memiliki nilai ekonomis jika dipasangkan dengan ide kreatif. Dibantu 12 orang memproduksi di sebuah galeri kawasan Taman Wisata Gunung Tangkuban Perahu.

Jualannya diminati kebanyak dari orang luar negeri. Utama pesanan datang dari Malaysia dan Singapura. Ia tidak takut karena kompetitor lumayan. Harga jual dipatok Rp.50 ribu sampai Rp.1,5 juta buat figur gitar. Dan buat miniatur agak lebih mahal yakni Rp.100 ribu sampai Rp.1,5 juta.

Pengerjaan antara tiga hari sampai dua minggu. Herdian menetapkan minimum pemesanan Rp.5 juta. Ia dibantung pemerintahan Jawa Barat makin maju. Ia pun berpesan bahwa anak muda jangan cepat menyerah menjadi pengusaha. Dia sendiri merintis dari nol besar tanpa ijasah sarjana.

"Usaha apapun harus dijalani asal tekun," tutupnya.

Senin, 16 Mei 2016

Mengolah Limbah Kayu Pinus Hasilkan Fulus

Profil Pengusaha Retno Astuti dan Suami 


 
Pasangan suami istri ini dikenal sebagai pengusaha sukses. Keindahan hasil produk kayu milik mereka sudah dikenal sejak tahun 2013 silam. Awalnya mereka berbisnis menjual kebutuhan rumah tangga berbahan kayu. Kesini, usaha mereka meliputi membuat aneka pernak- pernik berbahan dasar limbah kayu.

Pasangan Retno Astuti (53) dan Heri Budianto (57) sudah berbisnis sejak tahun 1992. Heri sendir adalah seorang arsitek. Bermula dari banyaknya limbah kayu disekitar rumah mereka. Dimana Retno lantas minta pemilik pabrik buat limbah kayunya. "eh, dikasih. Ya, sudah kami berkreasi saja dengan kayu- kayu limbah itu."

Dari limbah kayu tersebut diubah menjadi aneka produk. Mulai produk tempat tisu, tempat pensil, gantungan kunci, gantungan pakaian, aneka souvenir, tempat sabun, sampai figura foto. Bahan mereka ya kayu bekas itu sendiri. Namun, paling menarik, ialah pasangan imenggunakan bahan kayu pinus tetapi bukan mudah loh.

Retno juga membuat garpu. Unik memang menjadi konsep bisnis mereka berdua. Retno lantas memasukan unsur wanita dengan aneka gambar bunga cantik ataupun buah- buahan. Ia suka gambar stroberi dan bunga matahari. Retno cukup melukiskan sendiri gambar tersebut menjadi anaka macam barang.

Untuk catnya cukuplah menggunkaan cat vernis biasa. Cuma masalah karena katu bekas maka terkadang ia mendapatkan potonga- potongan kecil. Awal- awal maka mereka cuma membuat barang kecil lalu lama- lama semakin besar.

Bisnis kreatif


Semakin lama usahanya semakin membesar. Dari cuma kotak- kotak kecil, bisnis mereka membuat seperti lemari, tempat tidur, meja, dan kursi kayu. Retno mulai melayani pesanan TK, ataupun buat permintaan dari pribadi. Agar tidak menganggu ekosistem Retno memilih membeli kayu dari PT. Perhutani, bukan kayu baru.

Walau telah dikenal bisnis GS4 Wood Craft tidak menarget luar negeri. Retno dan suami lebih memilih untuk memenuhi kebutuhan lokal. Untuk pasar lokal saja sudah kwalahan dibuatnya. Mereka memproduksi untuk retail juga supermarket sejumlah kota di Indonesia.

"Sistemnya jual putus, saya tidak mau konsinyasi," tuturnya.

Karena belum berpengalaman jadi permintaan membludak. "...sampai 60 ribu pieces produk kerajinan kayu pinus," terang dia. Kalau ekspor kan kualitas barang lebih ketat haru sama kualitasnya. Memang ada harapan untuk berbisnis ke luar negeri tetapi belum.

Untuk sekarang Retno memilih menjual ke pasar lokal. Karena dari pasar lokal pun kwalahan karena terus berdatangan. Alasan kesulitan mengontrol kualitas namapknya masih menjadi alasan. Sekarang Retno tidak mau muluk- muluk. Tujuan utama mereka sekarang hanyalah bagaimana bisa menguliahkan anak- anak.

Lebih dari 20 tahun sudah bisnis mereka menarget pasar lokal. Faktor kualitas selalu ditingkatkanya. Apalagi tumbuh pesaing di usaha sejenis. Harga jual produk daur ulang mulai Rp.60.000 sampai Rp.125.000. Tidak termasuk produk kayu baru seperti lemari ataupun meja.

Workshopnya yang terletak di Jl.Gondosuli 4, Malang, atau Kota Malang, di Jl. Semeru 14, memenuhi pesanan dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Palembang, Aceh, Bontan serta kota lain di Indonesia Timur. Ibu tiga anak ini sekarang sudah mulai ekspor ke Jamaika dan Singapura sejak 2003.

Untung dikantungi oleh bisnis GS4 Wood Craft sampai Rp.20- 25 juta per-bulan loh. Untung besar buat satu usaha yang bermuara dari bisnis mengolah limbah. Kini, keduanya tidak cuma dikenal sebagai pengrajin tapi juga pembuat mabel handal dari kayu sisa.

Berbagi tugas


Ketika awal melihat daripada kayu dibuang percuma. Budi berpikir keras kenapa tidak kayu- kayu bekas disekitaran dimanfaatkan. Ia lantas meminta ijin ke pemilik pabrik, yang kebetulan temannya. Bolehkan dia membawa kayu bekas tersebut ke rumah. "Teman saya itu, memperbolehkan. Malah senang," kenang dia.

Pria berkacamata ini lantas membawa kayu tersebut ke sang istri. Tanggapan istri positif dan mulailah mereka berbagi tugas. Karena Budi merupakan arsitek, maka tugas dia adalah mendesain produk kecil- kecilan dulu. Sementara Retno bertugas untuk mewarnai dan menggambar. Keduanya bekerja sama sebagai pengusaha baru.

"Jadi, kami selalu berdua membuat hasil olahan kayu," tutur Retno. "Kalau tidak begitu, rasanya ada yang aneh dan hilang," imbuhnya tersenyum malu- malu.

Modal awal mereka berdua bisa dibilang nol. Karena mereka membawa dari sisa perusahaan mebel. Dosen Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka (Unmer) ini, juga meminjam peralatan dari kenalannya. Jadi semakin mengukuhkan usaha mereka bermodalkan nol rupiah.

"Kami juga tidak menyangka mendapatkan omzet sebesar ini," imbuh Budi. Memang berwirausaha tidak mengenal usia.

Contoh nyata ya pasangan suami istri Retno dan Budi. Dalam keterbatasan jangan berarti berhenti buat jadi kreatif. Siapa tau, nanti kamu bisa menghasilkan produk istimewa seperti usaha mereka. "Asal, usaha yang dikerjakan, benar- benar serius ditekuni." Jangan menyerah ketika penghalang datang seperti ketika mereka dulu.

Perlu kamu tau keduanya pernah hampir bangkrut. Tahun 1998, karena krisis moneter keduanya sempat mau bangkrut karena harga cat naik. Padahal orderan dengan harga awal ditetapkan dulu. Dengan rasa tidak menyerah membuat mereka bangkit. Maka disaat ekonomi aman seperi sekarang, mereka sudah siap sedia.

"Tidak berpengaruh, malah penjualan meningkat," tukas Retno. Dan ia dan suami menyarankan buat kalian para pemuda jangalah takut berwirausaha kelak.

Sabtu, 14 Mei 2016

Jual Buah Sayuran Sisa Tetapi Masih Segar

Profil Pengusaha Evan Lutz 



Masalah Amerika adalah membuang- buang makanan. Fakta meski masih banyak orang kelaparan, negara besar masih banyak membuang- buang sayuran dan buah dengan berbagai alasan. Sudah banyak pengusaha mencoba untuk mendobrak tradisi ini mulai tran organik dan jus buah.

Salah satunya, Evan Lutz, pengusaha muda berumur 23 tahun yang masuk acara Shark Tank. Itu loh acara seperti Berani Jadi Miliarder. Bisnisnya bernama Hungry Harvest yang fokus mendistribusikan kembali buah dan sayuran sisa -tetapi masih layak dimakan orang. 

Masalah mereka, buah dan sayur itu, terlalu jelek buat dimakan, kok bisa?

Bisnis unik


Tradisi untuk selalu mengambil produk terbaik. Ketatnya pemilihan sayuran membuat buah dan sayur tidak cantik akhirnya terbuang tidak terjual. Petani menjadi pemilih karena memang distributor diharuskan untuk memilah sayuran dan buah- buahan berfisik bagus, selain tidak ditumbuhi penyakit.

Alhasil petani tidak akan mendistribusikan buah jelek. Tradisi ini pula yang menyebabkan tidak mudah bagi pebisnis agro dari negara seperti kita masuk ke Amerika. Susah karena sangat ketat. Sementara itu aneka makanan fast- food mudah didapatkan. Aneh.

Kembali ke Evan Lutz, pengusaha muda asal Baltimore, dengan bangga menunjukan bisnis miliknya yang kita bisa bilang sederhana. Setiap bok buah dan sayuran jelek maka akan disisihkan satu bok buat disumbangkan ke orang kelaparan. Visi -nya tidak ada lagi makanan terbuang dan orang kelaparan di Amerika Serikat.

Fokus mengambil makanan jelek, dirinya dan beberapa tim Hungry Harvest mampu mendistribusikan sampai 1,2 ton produk untuk dipasarkan. "Kenapa mendonasikan jika kamu tidak menghasilkan?" ujar salah satu juri Shark Tank, Kevin O'Leary.

Memang Kevin terdengar tidak memiliki fokus mengolah. Ia lebih memilih mendistibusikan makanan jelek itu kembali. Hitungan 40% makanan Amerika tidak dimakan sebenarnya cukup. Itu karena distributor mall tidak mau menjual buah atau sayur dengan warna kurang segar, tidak berbentuk bagus, padahal kalau dimakan ya aman.

Model bisnis Hungery Harvest ialah membeli langsung ke petani dan juga distributor besar. Dimana satu bok akan dihargai Evan $15- $55 per- minggu (tergantung ukuran) dan itu sudah termasuk aneka bahan- bahan bumbu. Sebuah perusahaan fokus mengurangi makanan terbuang sia- sia di tempat sampah.

Dalam seminggu penjualan, Hungry Harvest mampu menjual $37.000 sampai $104.000. Sayangnya, jika kita hitung Hungry Harvest sama sekali tidak untung bersih. Bahkan tekor $20.000 padahal kala itu jumlah pelanggan sudah 500 orang. Salah satu juri Shark Tank lantas mengomentari lebih dalam tentang bisnis ini.

Barbara Corcoran mengkritik dia terlalu mencintai ide dan tidak rakus. Maksudnya bisa penulis jelaskan ia terlalu menikmati menjadi orang sosial, bukan pengusaha. Sosok yang terlalu menikmati mengurangi jumlah makanan terbuang dan kelaparan, tetapi disisi lain tidak mempedulikan keberlangsungan perusahaan itu.

Evan dalam acara tersebu sebenarnya hampir kalah. Karena ia menunggu Kevin O'Leary agar mau memberi modal. Dalam proposal diajukan ia menawarkan 5% saham atau senilai $50.000. Dan beruntungnya salah satu juri yaitu Robert Herjavec tertarik, dan memberikan $100.000 atau senilai 10% saham perusahaan.

Bisnis sosial


Sejak awal dia memang ingin menjadi pengusaha. "Saya ingin menjadi seorang pengusaha sepanjang hidup saya," katanya. "Tapi lebih dari itu, tujuan saya adalah untuk menjadi pengusaha sosial, untuk memberikan kembali kepada masyarakat dalam beberapa cara."

Sebelum masuk masa senior kampus University of Maryland's Robert H. Smith Business School, Evan sudah dikenal dengan aktifitas sosial, termasuk menjadi pekerja di organisasi Food Recovery Network. Dia mengambil makanan sisa di tempat makan kampus dan mendonasikan itu ke penampungan.

Dimana kemudian organisasi tersebut mengadakan dana CSA, mereka menciptkan tempat berjualan yang menjual aneka makanan sisa. Sepuluh hari berlalu, 500 mahasiswa membeli dari sana, dan inilah awal ide ia miliki sekarang.

" Saya menyadari ini adalah jauh lebih besar dan dapat ditingkatkan ke model bisnis untuk -profit," katanya. " Toko kelontong akan menolak seluruh produk jelek di truk, dan itu gila karena mereka penuh dengan hal fantastis, buah- buahan segar dan sayuran."

Memang sudah banyak perusahaan mengambil cara berlangganan. Seperti ada BirchBox buat kosmetik dan StitchFix untuk pakaian. Hungry Harvest akan memberikan tiga bok dengan aneka buah dan sayur langsung ke depan pintu. Tiga bok akan dipilih pelanggan satu bok berisi buah dan sayuran.

Perusahaan akan menawarkan apa yang ada. Karena itu pelanggan akan dapat memilih buah dan sayur jika tidak sesuai bisa bilang. Sayur atau buah yang membuat alergi tentu bisa ditolak. Untuk satu bok pembelian maka ada dua pound untuk diberikan ke masyarakat lewat organisasi Moveable Feast dan Maryland Food Bank.

Hungry Harvest juga mengadakan pasar petani bebas di tempat seperti Barat Baltimore. Dimana perusahaan sudah naik 700 pelanggan. Hal tersulit baginya meyakinkan bahwa sayur dan buah dijual segar. Menurut dia alasan sayuran ditolak karena ukuran dan bentuk random sekali. Padahal bisa saja apa yang dijual Evan lebih segar.

Dia sendiri sudah sering ngomong dengan investor. Tetapi untuk berbicara dengan pengusaha sekelas juri di Shark Tank beda. Ini sama halnya seperti mengajukan proposal investasi, bahkan tanpa editing karena reality show, jadi butuh dramatisir. "Ini merupakan pekerjaan mereka untuk membuat dramatis," tutur dia.

Selasa, 10 Mei 2016

Tas Bungkus Kopi Ebibag Berbisnis Lingkungan

Profil Pengusaha Edy Fakar Prasetyo 



Sampah menjadi masalah sekaligus berkah. Pasalnya mereka dibuang seenaknya di jalan. Siapa mau ambil mereka maka gratis. Dan salah satunya yang ikut mengambil mereka adalah Edy Fakar Prasetyo. Mengambil jurusan Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta.

Pengusaha muda satu ini terobsesi akan masalah sampah. Sisanya Edy terobsesi akan UKM. "Saya, inginya menulis skripsi tentang pembiayaan UKM," paparnya. Maka tidak heran jika dirinya menjadi pengusaha. Ia kebetulan termasuk pemerhati lingkungan.

Ia ingin merubah sampah menjadi berkah. Ditangan kreatifnya bungkus kopi, teh, dan sampah plastik lain, ia rubah menjadi gantungan kunci, dompet, dan yang terindah dompet wanita. Tahun 2013, dimulailah ide bisnis tentang merubah sampah di sekitaran lingkungan kampus, bagaimana ya agar sampah bisa dijual.

Lantas pemuda berkacamata ini menemukan konsep upcycle. Jika sampah plastik dibuang maka akan dia rubah menjadi barang jadi. Daripada dibuang ke sungai, terus mengalir ke laut, sampah plastik bisa- bisa merusak ekosistem kelautan. Karena kamu tau sampah bisa termakan ikan atau menghalangi sinar matahari.

Edy jujur tidak mudah. Uang modalnya memang cuma satu jutaan. Tetapi dia tidak berkembang sampai di tahun 2014. Setahun sudah Edy mencoba merintih usaha pengolahan sampah, hanya kok sepertinya gagal. Ia tidak berputus asa dan terus berjuang.

Masalah dianggapnya adalah bagaimana meyakinkan orang. Edy berusaha bagaimana meyakinkan sampah plastik dapat diolah menjadi bahan bernilai jual. Anak muda kelahiran September 1992 ini terus berusaha ya dengan terus mengedukasi serta memberikan contoh.

Bisnis fasion sampah


"Prosesnya tidak gampang, kita awalnya tidak mendapatkan antusias," ujar dia.

Akhirnya dia mampu mengajak ibu- ibu sekitar berkreasi. Dengan ketekunan mampu mengajak keluarga di sekitar kampus masuk. Bersama mereka mengerjakan bisnis fashion sosial mereka.

Mereka membayar warga Rp.50- 80 persaset. Tidak sedikit cuma mau diberikan produk karya Edy. Total ada 10 orang ibu membantu. "Kami tidak menyebutnya pegawai," tegasnya. Prinsip bisnis Edy ialah Women Empowering untuk menuhi pesanan datang. Edy juga memberdayakan mereka menjadi trainer ketika sukses.

Sukses ia mampu menciptakan produk fasion. Produk terkenalnya mulai dompet, tas, dan souvenir dengan corak menarik. Siapa menyangka bahwa produk tersebut dulunya plastik bekas kopi. Dalam sebulan dia mampu memproduksi 30 sampai 50 item. Untuk menembus pasar maka ia rajin mengikuti pameran selain toko online.

Tidak cuma di dalam negeri, tetapi produknya sudah sampai ke luar negeri. Melalui berbagai ajang pameran termasuk di Malaysia. Produk bernama Ebibag memiliki selera fasion. Maka tidak salah jika menjadi satu produk laris hingga memenangkan penghargaan juara tiga kategori sosial.

Omzetnya dibilang lumayan sampai jutaan. Edy tidak menyebut angka pasti. Tapi dia memberi sinyal angka 14 juta mampu dikantongi.

Mungkin karena pasarnya masih terbatas. Jadi meski Edy membuat tidak dalam jumlah banyak hasil dari penjualan tinggi. Edy sendiri lebih memilih mengedukasi dibanding sekedar untung. Salah satunya lewat satu program bernama Petaka atau Pemberdayaan Tenaga Kreatif. Dia mengedukasi lalu memberi bantuan dalam pemasaran.

Harga murah untuk souvenir yakni Rp.5000, sampai Rp.350 ribu buat tasnya ukuran besar. Untuk penjualan lewat toko online www.ebibag.com. Walaupun khan berjualan di luar negeri besar, prinsip edukasi yang ia tengah tonjolkan. Jadi dia memilih mengedukasi pasar dan memasarkan produknya di dalam negeri.

Ambil contoh ada seorang mahasiswa Belgia, tengah melakukan kegiatan musim panas, dan memborong banyak sekali buat dijual kembali. Pasar internasional diakui olehnya memang masih besar.

Bisnis komunitas


Dia tidak berorientasi bisnis semata. Buktinya mahasiswa semester 7 ini mengajak teman sekampus. Lewat satu program bernama Eco Business Indonesia (EBI). Komunitas bisnis kecil berbasis lingkungan. EBI ialah bisnis hijau atau green business dimana memiliki konsep sendiri. Mengusung tema 3P, yaitu People, Planet, dan Profit.

Penjabarannya People berarti berbisnis pemberdayaan manusia. Tidak ada namanya pegawai tetapi semua orang bekerja bersama. Planet sendiri berarti fokus pada kepedulian akan lingkungan. Bagaiman upaya yang besar berkontribusi akan pelestarian lingkungan. Upaya mengurangi limah plastik memperpanjang daya guna.

Melalui daya upcycle menjadi kerajinan tangan, dari tas aneka ukuran, dompet, soft case, dan masih banyak lain.

Kalau Profit apalagi kalau bukan menghasilkan komersialisasi. Bagaimana memutar roda bisnisnya melalui pengembangan pemberdaya luas. Tidak sekedar menghasilkan keuntungan sebesar- besarnya. Tapi juga satu sinergi dengan Planet dan Peoplenya. Bagaimana melestarikan lingkungan serta membedayakan manusia.

Edy sendiri aktif memfasilitasi pelatihan pengusaha. Lewat GEO atau Green Entrepreneur Organizer bagi mereka pengusaha muda bidang lingkungan. Menjadi wirausaha merupakan jati diri seorang Edy. Meski ini bukanlah usaha beruntung tinggi. Tetapi dia menyadari bisnis hijau merupakan sebuah bentuk sedekah lingkusngan.

Dulu, sejak bangku sekolah dasar, menjadi wirausaha merupakan hal biasa. Ia pernah menjual stiker ketika bersekolah dasar. Masuk SMP, Edy tidak malu menjual kopi dan gorengan di sekolah. Ketika masuki ke masa SMA dia menjadi penjual nasi uduk di kelas. Maka di SMA dirinya didaulat menjadi siswa berprestasi berwirausaha.

Anak kelima dari enam bersaudara sempat tidak ingin jadi pengusaha. Orang tua tidak mendukung secara finansial. Jadi lepas SMA dia berharap menjadi pegawai bergaji biasa. Apalagi menjadi wirausaha banyak ketidak pastian. Ditambah dia masih punya banyak saudara. Hidup Edy mencoba lebih realitis dikedepan hidup.

Masuk Ujian Nasional, Edy mulai ikut Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Dia mengaku tidak memiliki persiapan khusus. Selepas lulus SMA, perlu kamu tau dia sudah bekerja dan berniat masuk kuliah sambil kerja. Jadi dia tidak punya waktu buat seleksi masuk perguruan tinggi; Edy sibuk kerja.

Dia tidak ikut bimbel. Mengakali keadaan maka Edy belajar dari teman yang ikut bimbel. Bermodal itulah ia berharap bisa lulus. Agar peluang makin besar maka dia mengambil jurusan yang jarang. Menurutnya jurusan itu sangat jarang dilirik mahasiswa. Tidak disangka dia diterima di UIN Jakarta.

Tahun 2012, dia menyabet juara Bank Indonesia Green Entrepreneur. Tahun sama menjadi juara Wirausaha Mapan diadakan oleh Pemkot DKI Jakarta. Dia juga masuk dalam finalis Social Entrepreneur Academy tahun 2014. Walapun sukses begitu masalah SDM dan modal menghantui kinerja usahanya.

"Secara teknik, kami masih butuh tenaga ahli," ujar dia. Edy bersama empat rekan bersama sibuk juga soal pelatihan ibu- ibu PKK. Hingga berdirilah E- bi Institute dan kaderisasi ISIS (istri sukses idaman suami). Ia mencetak ibu menjadi kaum kreatif berwirausaha mandiri.

Untuk hitungan masih belum gaji. Ia menyebut upah, atau insentif berupa produk sama bagi hasil. Nilainya 30:70 merupakan penghasil beberapa produk. "...kita tambah upah," ujarnya. Insentifnya tergantung pada hasil produksinya. Dengan sumber bahan baku banyak dan tidak jarang gratis, maka omzetnya berlipat.

Mungkin masalah utamanya diedukasi bagaimana menjual. Penjualan memanfaatkan Instagram dan Twitter yaitu @Ebi-bag. Kemudian ada website edukasi bernama www.menebarmanfaat.com. Hasil karyanya tidak cuma produk, termasuk edukasi hijau, praktik prakarya limbah, "per-bulan 2- 3 juta," imbuhnya.

"Fluktualif, pemasukan lebih besar dari edukasi, sekitar 60:40," ungkap dia. Masalah pertama dia hadapi yaitu mencari bungkus kopi dan SDM buat produksi.