Pemilik Rocket Chicken Bisnis Waralaba Sederhana

Biografi Pengusaha Nurul Atik 


pemilik rocket chicken

Kehidupan telah memaksanya menjadi pengusaha tangguh. Takdir Tuhan membawa pemilik Rocket Chicken ini sukses bisnis waralaba. Inilah kisah Nurul Atik, namun sebelumnya Atik harus merangka dari tingkat terendah berkutat dengan kain pel.

Bermodal kerja super keras jabatannya bisa melompat tinggi. Nurul Atik telah bekerja menjadi pegawai bertahun -tahun di California Fried Chicken (CFC). Dia hidup pas- pasan karena hanyalah seorang cleaning service.

Dia terus- terusan memutar otak bagaimana caranya memenuhi kebutuhan saban bulan. Ia tak jarang meminjam uang dari teman sekantornya. Untuk menghemat biaya, dia lebih memilih kos- kosan yang hanya berjarak lima kilometer dari tempatnya bekerja.

Tak jarang demi makin irit, ia memilih berjalan kaki menuju tempatnya bekerja."Kalau saya lelah, saya baru naik angkot," terangnya.

Hidup Kerja Keras


Kamar kosnya sendiri terlihat lebih memprihatinkan. Coba bayangkan, Nurul harus tinggal di kamar seluas cuma 3x3 meter, dimana kamar tersebut bahkan tidak berprabot apapun atau sekedar kasur. Dia bertahan di tempat tersebut selama lima bulan.

Dan, untungnya perusahaan memberinya tempat tinggal bersama karyawan lain. Karirnya semakin menanjak seiring waktu berlalu. Nurul memutuskan menikahi Emy Setiawati, seorang karyawan di sebuah swalayan di Yogyakarta.

Keduanya memang tengah berpacaran selama dua bulan terkahir. "Saat itu, saya sudah menjadi menejer di CFC Yogyakarta," ujarnya. Namun, tetap saja, ternyata gaji diterminya tidak lah sanggup menutupi kebutuhan bulanan.

Apalagi ditambah mereka langsung dianugrahi momongan. Sang istri akhirnya juga ikut membantu keuangan keluarga dengan membuka usaha roti. Nurul memiliki satu impian yang tak pernah padam. Ia sangat ingin membukan usaha sendiri, meski posisinya di perusahaan sekarang telah membaik.

Puncaknya ketika terjadi krisis moneter 1998; dia memutuskan keluar dari perusahaan. Dia merasa "mentok" 10 tahun bekerja di rumah makan cepat saji, dan telah cukup baginya dijadikan modal usaha kelak. "Saya mantap keluar karena ingin mandiri," ujarnya.

Pada saat itu, seorang teman mengajaknya membuka bisnis makanan capat saji juga, dan langsung diterimanya. Mereka kemudian sepakat mengusung tema ayam goreng. Kala itu Indonesia sedang menjamur bisnis aneka makanan capat saji.

Berbekal pengalaman bekerja di KFC, Atik telah mantap menjadi perencana bisnis baru tersebut. Sedangkan sang teman sibuk menjadi pemodal. Usaha keras itu kini berhasil dimana bisnisnya telah memiliki 86 cabang. Jalannya waktu, ia tergelitik membuat bisnis sendiri berkonsep ayam goreng.

Kali ini berbeda dari bisnisnya kala itu yakni menyasar pasar menengah atas. Pria kelahiran Jepara, 25 Juni 1966 ini, awalnya berbisnis menyasar kelas menengah bawah. Ia lebih memilih pasar dimana kurang diperhatikan oleh pengusaha lokal ataupun asing.

Dibidang makanan cepat saji, bisnisnya akan memiliki pasar yang lebih besar apalagi keadaan ekonomi Indonesia. Pada 21 Januari 2010, Nurul baru membuka restoran cepat saji pertama bernama Rocket Chicken di Jalan Wolter Monginsidi, Semarang.

Mulanya Atik meminta sang kakak membuka restoran bernama Rocket Chicken. Namun, Nurul akhinya ikut sendiri aktif mengerjakannya sendiri. Dia benar- benar mengkonsep bisnisnya termasuk tentang meracik bumbunya.

Jadilah ia membuka cabang Rocket Chicken, restoran cabang dari restaurant kakaknya tepat di Wolter Monginsidi. Ia mulai memperkenalkan brand tersebut ke masyarakat luas. Omzet cabang pertamanya mencapai nilai Rp.5- 7 juta.

Atik lantas menggunakan konsep baru  waralaba atau franchise. Ia mengembangkan konsep waralaba bukanlah tanpa alasan khusus.

"Saya punya tujuan "mau berbagi", karena itulah saya pakai konsep franchise agar bisa mendorong para pengusaha- pengusaha baru dengan modal terjangkau.

Dengan modal terjangkau mereka bisa punya suatu usaha di bidang makanan yang dapat dikelola oleh perorangan atau badan hukum" terang ayah tiga anak ini. Melalui sistem tersebut Rocket Chicken bisa tumbuh sangat cepat.

Rocket Chicken telah berhasil membuka sekitar 128 cabang di berbagai wilayah di Indonesia. Jika dilihat total investasi, pewaralaba akan dikenakan biaya Rp.150 juta- Rp.160 juta itu belum biaya gedung.Terwaralaba akan dikenakan biaya Rp.20 juta dalam jangka waktu 5 bulan.

Ia menarik fee 5% atau bagi hasil senilai 25% dan 75%. Ia meyakinkan orang setiap cabang akan menghasilkan omzet Rp.65 juta. Dia telah memastikan waralaba miliknya lebih murah dibandingkan waralaba ayam goreng lain, terutama dibanding waralaba dari Amerika.

Bisnisnya terbukti tidak cuma menjual konsep semata. Tapi menjual bukti dari kerja keras seorang Nurul Atik seperti yang kamu baca sekarang. Itulah kisah pemilik Rocket Chicken, pebisnis waralaba sederhana tetapi menghasilkan ratusan juta.

Sukses Jualan Tas Branded Second Karen Widjaja

Profil Pengusaha Karen Widjaja


jualan tas branded second
 
Enaknya jualan tas branded sudah dirasakan Karen Widjaja. Pebisnis sekaligus sosialita yang sudah berkutat selama 20 tahun. Ia sudah orang kenal sebagai pakarnya berbisnis tas branded second. Pada dasarnya dia mencintai dunia fashion dan brand. 

"Kalau dukanya saya rasa tidak ada." ia lanjutkan. Masalah sosial media sendiri tidak dianggapnya kesulitan. Belum adapun dia telah memiliki sahabat dan teman- teman. Mereka menyukai tas branded namun enggan untuk membuangnya.

Karen sendiri juga enggan menumpuk tas tersebut. Ia lebih memilih membagi kebahagiaan atas tas yang pernah dimiliki. Cita rasa kuat dan pengetahuan memang penting, buat kalian sukses jualan tas branded second ini, sekedar tau merek tidak cukup.

Bayangkan bukan barang baru tetapi malah makin mahal. Ditambah dia memilih tas- tas unik tidak sekedar branded. Pengusaha wanita penggemar Louis Vuitton dan Chanel ini bercerita. Sehari dia bisa menjual satu tas, bisa satu sampai dua dengan harga relatif tinggi.

Karen melanjutkan menanggapi persaingan bisnis tas second. Ia santai menanggapi karena dia tau kualitas. Berbisnis tas second memang menggoda untungnya besar. Apalagi barang branded menjadi bentuk investasi. Pemilik brand sendiri sangat terbatas dalam mengeluarkan produk ke pasaran.

Anehnya dia sendiri bukan peminat tas branded baru. Dia lebih memilih tas branded second juga. Di sana terdapat cerita dibalik perburuan tas keluaran tertentu. Ambil contoh ketika dia pernah ingin beli tas Chanel boy kulit jeruk yang caviar, eh mau beli dia malah kehabisan.

Maka dia urungkan niat malah menemukan teman. Dia mau jual tas tersebut kepadanya langsung ingin dijualkan. Ya, Karen langsung beli, alih- alih menjualkan malah dibeli sendiri. Dia memberi saran buat para kompetitor, baiknya lebih kreatif menanfaatkan sosial media seperti Instagram.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba