Biografi Bachtiar Karim Pengusaha Sawit Terkaya

Biografi Pengusaha Bachtiar Karim


biografi bachtiar karim
 
Perjalanan salah satu pengusaha sawit terkaya di Indonesia. Biografi Bachtiar Karim, bermuara dari bisnis sang ayah dan kakeknya. Usaha yang bermula produksi sabun namun melebisi ekspetasi. Ini berkat unsur kimia terkandang dalam usaha dirintis sang kakek.

Bachtiar sudah belajar mengenai kimiawi semenjak usia belia. Dia lantas diberi kepercayaan buat mengelola usaha kakek dari ayah. Dia bersama saudaranya, Anwar Karim, lantas menjalankan usaha sejak 1981.

Usaha yang bernama pabrik Nam Cheong kemudian bernama Musim Mas. Didirikan tahun 1932 di Medan, dimana sejak dini dua dari empat bersaudara ini telah dilatih. Baik Bachtiar dan Anwar saat mengenal Nam Cheong baru berusia 12 tahun.

Bisnis Keluarga


Barulah ayah mereka memasrahi keduanya ketika berusia 20 tahunan. Pabrik sabun tersebut lantas dirubah menjadi usaha refinasi. Tahun 1972, Anwar Karim menamai usaha mereka Musim Mas, yang sempat bernama PT. Lambang Utama.

Namanya berasal dari ibu mereka dalam bahasa China. Kalau diartikan bahasa nama lengkapnya jadi Musim Semi Emas. Sejak tahun 1988, usaha mereka menjadi bisnis sawit dengan fokus pengolahan refinasi. Sabun sendiri membutuhkan minyak sawit namun ternyata menyulitkan.

Harapan mereka menguasai sektor hulu tidak muluk. Hanya Musim Mas diharapkan bisa memenuhi kebutuhan semua produksi. Alih- alih sekedar pendukung usaha hilirisasi, malah bisnis minyak sawit mereka menjadi salah satu yang terbesar.

Adalah Anwar yang menginisiasi pembangunan kilang minyak di tahun 1970. Mereka melawan apa disebut "takdir" bisnis sawit. Bila Sinarmas atau Wilmar bersusah- susah membangun kebun dan pengolahan, kemudian dipusingkan produk turunan; Musim Mas malah berkebalikan.

Perusahaan beru punya kebun pada 1988 atau lebih dahulu kilang. Pengusaha sawit bersaudarfa ini juga barulah memiliki 120.000 hektar. Mereka mampu melewati kejamnya krisis moneter setahun kemudian. Rahasiannya ya karena mereka telah memiliki produk turunan sawit ketimbang ekspor.

Malahan Musim Mas ekspansif ketika krisis moneter mereda. Barulah mereka memiliki daya jual ekspor keluar. "Kami selalu berusaha berinvestasi sekecil apapun selama periode krisis tersebut," ujar Togar Sitanggang, Senior Corporate Affairs Manager, disampaikan kepada Kontan.co.id

Selain mereka membangun bisnis hilir buat mendukung hulu. Musim Mas juga merambah perhotelan melalui Hotel Mikie Holiday di Brastagi, Sumut, yang dibangun 2000 silam. Melalui PT. Megasurya Mas, mereka masih memproduksi sabun, seperti Harmonie, Lervia, Lark dan Champion.

Menjadi perusahaan keluarga mereka tidak menolak perubahan. Tahun 2008 menjadi masalah lain bagi mereka menjalankan bisnis. Pasalnya, minyak sawit merupakan minyak nabati paling murah dan digemari. Banyak negara "menolak" atas dasar standarisasi dan berbagai alasan kemudian.

Negara- negara penolak tersebut merupakan penghasil varian nabati lain. Masalah tersebut segera diatasi melalui sertifikasi Roundtable Sustainability Palm Oil (RSPO) sejak 2004. Musim Mas telah menjadi perusahaan yang menerapkan inovasi berkelanjutan.

Total Musim Mas Group memiliki pekerja 37.000 karyawan di 13 negara, dari Asia Pasifik, Eropa dan Amerika.

Minyak sawit ramah lingkungan dan sehat. Produk turunan harus dibuat sebagus mungkin memiliki standar dan diversifikasi. Biografi Bachtiar Karim merupakan sosok rendah hati. Tahun 2006, terjadi penurunan produksi sawit, dimana menjadi tantangan tersendiri baginya.

Pengusaha sawit yang menerapkan kualitas diatas kuantitas. Produk utama mereka minyak goreng telah dikirim ke berbagai negara. Pasar ekspor mereka mulai dari India, China, Uni Eropa, Amerika Serikat, Pakistan dan Banglades.

Perusahaan juga mulai menjajaki Timur Tengah, Eropa Timur, Amerika Latin dan Afrika. Perusahaan juga melirik produk biofuel dan biodisel. Kehadiran program 20% biodisel untuk solar subsidi atau B20 sangat dimanfaatkan perusahaan.

Siomay Kang Cepot Yogyakarta Cerita Bisnis

Profil Pengusaha Mudiarjo

 
siomay kang cepot yogya

Siapa pemilik Siomay Kang Cepot Yogkarta bukanlah nama asli. Ini cerita bisnis pengusaha bernama asli Mudiarjo. Kang Cepot cuma nama bisnisnya saja, tidak pula berarti dia asli suatu daerah di Palau Jawa. Kalo dilihat dari nama bisnisnya pasti menyangka asalnya dari Jawa Barat; namun kamu salah.

Siomay Kang Cepot, bisnis jajanan khas Bandung yang telah dibukan sejak tahun 1987, tapi bukan asli dari Kota Bandung. Sang peracik selalu mempertahankan rasa siomaynya. Hingga sekarang rasa si siomay masih terasa enak. Rasanya masih sama seperti pertama kali Bapak Mudiarjo pernah buat.

Mudiarjo kelahiran Purbalingga. Dari tahun ke tahun, pria yang akrab dipanggil pak Mudi ini, selalu mencoba mengolah sendiri siomay dan memastikan rasa khas miliknya. Sejak kecil ia dilahirkan dari keluarga yang sangat sederhana pekerja keras.

Ia ikut serta membantu memenuhi kebutuhan keluarga sejak kecil. Hingga menginjak usia remaja, dia ikut orang untuk berjualan siomay ke Bandung. Setelah belajar cukup banyak, Mudi  lantas memilih kembali ke Purbalingga disaat pemilihan lurah.

Lalu Mudi meminta bantuan modal kepada lurah terpilih. Tujuannya tak lain untuk berjualan siomay lagi. Alhasil dia berhasil juga mendapatkan modal sebesar Rp.250 ribu. Bermodal pinjaman 250 ribu, jadilah pak Madi berjualan siomay seperti impiannya.

Dia lalu berjualan dengan gerobak lengkap dengan perlatannya. Dari situ, dimulailah usaha barunya berjualan siomay dan berkembang kian harinya. Dia dapat melunasi pinjaman modalnya. Namun usahanya tak jarang sepi pembeli, ini bukan perkara mudah ternyata.

Sang pengusaha pun mengakali penghasilan hariannya dengan sekedar mengayuh becak. Pada tahun 1987, atas ajakan seorang teman, lelaki kelahiran Banjarnegara 54 tahun ini memilih mencoba peruntungan di kota lain, Yogyakarta.

Hijrah ke Yogya


Di Yogja pun masih berjualan siomay dan sekali- kali bekerja lain. Dia masih mengayuh becaknya, dan beberapa kali jadi buruh tani. Pengusaha pemilik Siomay Kang Cepot belum sukses. Ia terus bekerja demi menghidupi istri serta enam orang anak.

Selain Yogya, dia berjualan siomay di Pekalongan, Semarang dan Solo.  Namun pada tahun 1994 -an, akhirnya Pak Mudi beserta segenap keluarga mengontrak rumah dan memilih menetap di Yogyakarta saja. Rumah kontrakan tersebut sekaligus digunakan sebagai tempat berjualan.

Mulai tahun 1994, ia tak mau lagi berjualan berkeliling sambil mendorong grobak. Dia memilih membuka warung menetap di satu tempat saja. Kini Siomay Kang Cepot dapat dijumpai di Jalan Kaliurang KM 8,5 Dayu Sinduharjo Ngaglik, Sleman.

Jika dulu pak Mudi menamai usahanya Siomay Super, setelah itu memiliki tempat sendiri, beliau memberi nama usahanya "Siomay Kang Cepot". Aneh memang terbukti nama tersebut memberi hoki tersendiri.

Nama Cepot merupakan tokoh wayang khas Jawa Barat begitu melekat. Semuanya masih dikerjakan sendiri olehnya dari membuat bumbu hingga meracik siomaynya. Jika sakit itu datang menemui badan tuanya, maka dua orang karyawan yang menggantikan.

Siomay dijual Kang Cepot ada 2 jenis rasa; rasa biasa dan spesial. Dikatakan spesial karena full tengiri jadi rasanya sangat yummi. Siomay rebus dan goreng dijualnya Rp 1000/ biji, sedangkan untuk siomay super/ tengiri, ia jual seharga Rp 2.500/biji.

Isinya selain siomay tengiri yaitu ada tahu, kubis/kol, pare, telur rebus dijual sama Rp 1000/bijinya. Pembeli pun dipersilahkan memilih sendiri menu siomaynya. Siomay Kang Cepot sekarang sudah sangat dikenal oleh masyarakat Jogjakarta.

Pak Mudi bisa mempekerjakan 15 orang dengan upah Rp 600ribu sampai Rp.900 ribu. Diantara karyawannya bahkan ada yang sudah 11 tahun membantunya membangun usaha tersebut. Siomay Kang Cepot akan buka setiap hari pukul 9 pagi hingga jam 10 malam.

Mudi mengaku omzet bisnisnya sekarang bisa mencapai Rp.4 juta/hari. Dari usaha itu pula, Pak Mudi sukses menyekolahkan dua putranya di sekolah kedokteran di Solo dan Purwokerto. Dengan latar belakang pendidikan kelas satu SD, Pak Mudi bermodal tekat serta kerja keras memulai bisnis.

Tekat lain yang membawanya yaitu keinginan agar anak- anaknya bisa bersekolah tinggi. Dia, sosok yang yakin bahwa Tuhan lah yang menentukan rejeki bagi dirinya dan keluarganya.

Kisah Ayam Lepaas Wirausaha Suparno

Biografi Pengusaha Suparno


pemilik ayam lepaas
 
Pernah mendengar nama rumah makan Ayam Lepaas. Inilah kisah wirausaha Suparno. Sosok berkaca mata yang pernah terpuruk hidupnya. Dalam tiga tahun semenjak bangkit hasilkan 80 gerai. Pria asli Deli Serdang, yang pernah merasakan dampak ketidak kondusifan Aceh.

Dia sempat menjadi pengungsi dua kali sejak 1990- 1998. Pada konflik 1998, dirinya menetap di wilayah Aceh, sementara kedua orang tua mengungsi ke Binjai, Medan. "Saya bertahan karena mau kuliah," imbuhnya.

Demi mendapatkan uang harus bekerja tidak boleh diam. Suparno menyadari hidupnya sulit dalam perantauan. Maka Suparno mengajak tujuh teman membuka usaha bimbel. Mereka membuka usaha les privat sempoa pada 2001. Mereka berhasil menggaet 1.500 siswa cuma bermodal Rp.500.000.

Semangat Wirausaha


Namun terjadi perselisihan diantara mereka, alhasil Suparno memutuskan hengkang dari usaha sejak 2003. Suparno banting stir menjadi agen asuransi. Selanjutnya, ia membangun koperasi namun lagi- lagi usahanya gagal.

Tahun 2004 sampai 2005, status darurat militer Aceh membuat ekonomi masyarakat terpuruk. Tetapi ia merubah keadaan menjadi lebih baik. Suparno menjalankan koperasi simpan pinjam. Tujuannya untuk menggerakan ekonomi masyarakat Aceh.

Di tahun 2006 itu, ia mengurus segala dokumen mengenai mendirikan koperasi. Dokumen siap malah datang tsunami Aceh. Seketika rencana batal meluluh lantahkan kehidupan masyarakat. Warga tidak lagi memikirkan keadaan ekonomi mereka pasca bencana.

Warga tengah mencoba bangkit menata kehidupan. Disisi lain bersyukur, ada orang baik yang minat memodali Suparno, uang yang digelontorkan Rp.2 miliar dan menggaet 2000 orang nasabah. Sial Suparno mendapati 95% kredit digelontorkan macet.

Meskipun demikian, dia tidak berputus asa sembari mencoba membuka usaha lain. Dia pun ikutan waralaba ayam bakar senilai Rp.50 juta.

"Usaha ini cukup berhasil. Saya mencoba membuka usaha serupa dengan nama sendiri. Modal yang saya disiapkan Rp.500 juta untuk membangun dua rumah makan," tuturnya.

Eh, belum terwujud bangunan sudah kecewa, gagal karena uang lenyap dibawa temannya. Suparno sempat stress karena telah ditipu temannya sendiri. "Saya stress luar biasa, butuh enam bulan untuk bangkit," kenangnya.

Sungguh malang Suparno kena tipu sampai Rp.15 juta lenyap. Kemudian ketika coba menjajal bisnis mebel, malah dia kena tipu Rp.1,3 miliar. Sungguh terlalu, dalam kurun waktu lama, mulai dari tahun 2007 total dia ditipu sampai Rp.3 miliar.

Belum cukup nih, di tahun 2008, masalah kembali datang selain ditipu orang kembali. "Kompletlah apa yang saya rasakan, tertipu, kecelakaan, dan tahun 2008 rumah makan dengan sistem waralaba yang saya ikuti itu pun putus kontrak," kenangnya.

Suparno bingung bukan kepalang. Ketika dia berhasil menggaet pembeli. Malah dia tidak bisa bikin ayam bakar seperti dulu. Lantaran dia sudah tidak memakai waralaba melainkan masa sendiri. Kan kalau waralaba sudah ada resep, dia tidak perlu dipusingkan membuat ayam bakar tinggal campur.

Waktu itu, sengaja tidak melanjutkan kontrak kerja sama, Suparno mendirikan usaha sejenis namun resep nekat seadanya. "Bingunglah saya karena tidak tahu resep sama sekali," ujarnya sembari tertawa lepas. Dia bingung namun usaha terlanjur berdiri harus dilanjutkan.

Apalagi dia sudah memiliki pelanggan dari usaha sebelumnya. Ya terpaksa dia menggunakan resep sendiri yang belum diuji coba. "Kami minta maaf ke pelanggan karena rasa ayam goreng kami belum konsisten," tuturnya kepada Kontan.co.id.

Di 10 November 2009, Suparno resmi memakai nama Ayam Lepaas sebagai bendera usaha. Modal bumbu sederhana ternyata mampu bertahan sampai lama. Resep yang dikembangkan menyangkup bumbu enak, walau dibalut penyajian sederhana dan tampilan biasa.

Ia berprinsip orang butuh makan enak. Tetapi Suparno mengingatkan pentingnya kecepatan dalam penyajian. Harga juga harus cocok dikantong semua masyarakat. Berkat perjuangannya, wirausaha muda Suparno mampu memiliki lebih dari 30 gerai dan terus berkembang.

Masalah Hukum


Pengusaha asli Deli Serdang, 31 Desember 1976, yang telah melebarkan sayapnya sampai ke pulau- pulau lain, meliputi Yogyakarta, Bali, dan bahkan luar negeri ke Malaysia. Usaha yang total punya 50 gerai cabang tersebar ini, memakai prinsip penanaman modal agar berkembang.

Ini bukan konsep waralaba atau franchise ya. Modal investor Rp.300 juta sampai Rp.500 juta untuk mengembangkan gerai. "Di awal usaha, omzet usaha ini hanya ratusan ribu rupiah perhari. Sekarang, ya sesuai targetlah," ucap ayah dari lima anak ini.

Suparno bercerita sedari kecil sudah mandiri. Ia belajar berbisnis semenjak SMP karena kebutuhan. Dia merupakan putra tenaga kontrak perkebunan. Sejak SMP sampai SMA, dia sudah pernah jualan berbagai macam, dari kue, tempe, hasil bumi, dan kaus.

Alkisah Suparno berusaha keras membangun bisnis ayam tersebut. Sial, Suparno malah mengalami kerugian sampai hampir bangkrut. Datanglah Ahmad Syaiful Bachri datang menawarkan bantuan modal. Ia menggelontorkan Rp.50 juta bersyarat keduanya bekerja sama.

Mereka sepakat membranding usahanya warung Ayam Lepaas. Gerai pertamanya di Lampriet, Aceh, pada 2009 silam. Kemudian Syaiful membuka gerai Ayam Lepaas di Malang. Delapan bulannya, ia membuka gerai di 9Walk, Bintaro, bersama Ade Mukhtar.

Dia kemudian membuat 5 gerai di berbagai tempat di Aceh. Selepas bisnisnya mapan, Ayam Lepaas mampu membuka banyak gerai di Kalimalang, Rawamangun, Kelapa Gading, Cililitan, Pondok Gede dan Cakung. Ini berkat keputusan Ayam Lepaas membuka usaha berbasis franchise atau waralaba.

Suparno dan Syaiful lanta membangun PT. Rozzo Dewe Jayakarta pada Maret 2011. Memasuki tahun 2011, Ayam Lepaas makin memanjakan warga Jakarta dan Surabaya. Warga Jakarta bisa menikmati ayam di Kranji, Bintaro Utara dan Cimanggu.

Warga Surabaya bisa menikmati Ayam Lepaas di tiga titik Jalan Kisamaun Tangerang. Belakangan masalah datang, sepihak Suparno mendaftarkan sepihak ke Dirjen HKI pada 2013 silam, tanpa ada sepengetahuan Syaiful.

Atas itulah, Syaiful menggugat Suparno melalui Pengadilan Niaga Medan. Pada 17 Juli 2013, Majelis Hakim memerintahkan Dijen HKI mencabut merek Ayam Lepaas dari daftar. Suparno tidak terima keputusan. Dan dia mengajukan kasasi melalui Mahkamah Agung.

Hasilnya Mahkamah Agung menolak permintaan Suparno. Alasannya dia tidak beritikad baik, dan pihak Hakim telah meneliti sejarah Ayam Lepaas semenjak awal. Mereka berpendapat bahwa pihak Suparno tidak menghargai rekan bisnisnya sejak awal.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba