Biografi Nadiem Makarim Bos Gojek Siap Menderita

Biografi Pengusaha Nadiem Makarim


nadiem pendiri gojek
 
Dunia startup memang keras bahkan menuntut pemiliknya berpuasa dulu. Walau biografi Nadiem Makarim ini sangat bagus bukan berarti langsung sukses. Pengalaman di perusahaan asing seperti McKinsey langsung mentah.

Gojek belum memiliki fitur peta canggih kemana saja. Mereka masih menggunakan cara kuno yakni ojek pangkalan. Bedanya Nadiem membuat pengguna bisa mengundang jasa mereka. Tak perlu lagi berjalan jauh panas- panasan mencari ojek.

Bisnis Ojek Pengkolan


Pada tahun 2015, kemacetan Jakarta semakin parah dan banyak solusi hadir. Salah satunya pekerja dadakan berbekal montor mengantarkan orang. Transportasi umum memang tidak nyaman. Begitu pula ojek masih jadul tetapi mempunyai kelebihan luar biasa.

Nadiem menyadari bahwa motor bisa melewati macetnya Ibu Kota. Selain itu tidak perlu berdesakan dalam ruangan sempit pengap. Ojek pangkalan sendiri masih berkumpul di tempat- tempat tertentu, alhasil orang harus berjalan sampai jauh demi naik ojek.

Tidak semua penumpang memiliki kendaraan bermotor sendiri. Disisi lain kehidupan pegawai butuh ketepatan waktu. Nadiem menjadi pemakai layanan gojek tersebut. Nah, dari sinilah dia menemukan ide, ada masalah yang perlu Nadiem perbaiki ke depan mengenai ojek.

Pernah bekerja untuk McKinsey dalam bidang global riset dan konsultasi. Nadiem tertarik masuk ke dalam usaha startup melalui ini. Apalagi dia sempat menjadi managing director Zalora, dimana kerja sama dengan Rocket Internet, mengembangkan salah satu startup eCommerce.

Lain Gojek membutuhkan banyak sentuhan langsung pendiri. Nadiem sempat terseok lantaran ojek bukanlah transportasi masal berijin. Awal dia memiliki 20 orang tukang ojek, call center, dan lewat pemasaran sangat tradisional.

Idenya ojek dapat dipesan kapanpun, dimanapun, dan memiliki tarif jelas. Demi memahami sistem mereka bekerja. Nadiem tidak segan berkumpul dengan mereka tukang ojek. Gojek ini bukan sekedar berada di waktu tepat dan situasi tepat.

Melainkan Nadiem menemukan kesempatan diantara kemajuan teknologi. Nadiem berhenti bekerja di Zalora dan mendirikan Gojek pada 2011.

Ia lebih senang memakai ojek ketika pulang dan pergi kerja. Padahal dia mempunyai kendaraan roda empat pribadi. Padahal memakai mobil lebih nyaman dan aman dibanding ojek. Tetapi faktanya ia malah kecelakaan ketika memakai taksi hampir 5 kali.

Naik ojek aman Nadiem sepakat karena pengalaman pribadi. Dia sempatkan waktu bertemu mereka di pangkalan. Sembari mengobrol diketahuilah kebanyakan mereka cuma menunggu. Waktu mereka habiskan mangkal. Ia juga menyadari bahwa tukang ojek memiliki solidaritas tinggi sesamanya.

Rahasia mengapa Nadiem tidak kecelakaan karena naik ojek. Para tukang ojek pangkalan melakukan sistem gantian. Satu orang yang belum mendapatkan tarikan maka akan diberi. Sudah giliran, malah kebanyakan sepi, dan masih pula diragukan soal keamanan naik ojek ini.

Ia melakukan riset menemukan semua kelemahan ojek. Jaman dulu masih ponsel makan manfaatkan itu untuk mencari penumpang. Orang tidak perlu lagi datang menuju pangkalan. Belum lagi tingkat keamanan ditingkatkan karena memiliki perusahaan bernaung.

Tukang ojek tidak harus mangkal dan sudah pasti terdaftar jelas. Tingkat keamanan ditinggikan jadilah lebih dipercaya. Orang yang pesimis mulai melihat ojek memiliki fleksibilitas. Tidak terasa pria yang lulusan Harvard Business School, menjadi juragan 10 karyawan dan 20 tukang ojek.

Kembangkan Gojek


Dia memang mencintai ojek sebagai kendaraan harian. Berkat sistem tepat, ia mampu mengolah ini menjadi angkutan berkualitas layaknya taksi. Awal Gojek belum memakai sistem ponsel pintar ya karena belum ada. Begitu teknologi mencukupi maka Nadiem langsung merubah cara berbisnisnya.

"Saya rasa banyak orang- orang dulu tidak percaya ojek bisa seprofesional sekarang dan terpercaya seperti ini," ujarnya kepada Liputan6.

Inilah cikal ide pengembangan bisnis ojek ke depan. Nadiem sempat frustasi diawal- awal memberi keyakinan. Tidak dipungkiri citra ojek dijaman dulu memang kurang baik. Dari segi kebersihan, dan lagi keamanan termasuk sistem ongkos yang asal tembak.

Nadiem telah mengenal mereka secara personal hingga berempati. Ia sadar bahwa sektor ini punya nilai keluhuran. Awal dia harus ahli dalam bidang perojekan barulah memakai teknologi. Beruntung belum banyak pengusaha melirik ojek dan memiliki tekat seperti Nadiem.

Nadiem terus mendorong teknologi masuk ke dalam perusahaan. Bahkan mengajak ahli IT untuk bisa bersaing dengan industri lain. Kita bisa lihat industri keuangan telah memiliki teknologi canggih. Di taksi juga, namun Nadiem ingin lebih cepat melesat melebihi apa diberikan mereka ke konsumen.

Teknologi smartphone memberikan peta serta ketepatan pemesanan lebih tinggi. Bertahap dia mulai melirik jenis usaha lain yang bisa dionlinekan. Ada intertainmen, jasa pengantaran makanan dan barang, jasa kebersihan, dll.

Diwaktu bersamaan bisnis angkutan taksi aplikasi meraja lela. Termasuk Grab, yang dibesut oleh temannya bernama Anthony Tan, dan disinilah Nadiem berkaca. Teknologi merupakan cara terbaik memperbaiki keruwetan sistem ojek.

Bila pengusaha diluar fokus mengerjakan kendaraan roda empat. Nadiem mengaggap gojek lebih masuk akal untuk kemacetan Jakarta. Setelah itu, pria kelahiran Singapura, 4 Juli 1984, yang tidak segan masuk ke bisnis angkutan roda empat.

Ia bahkan mampu memaksa Anthony Tan masuk bisnis ojek. Padahal di negara lain angkutan seperti ojek hampir tidak ada. Pasalnya orang masih menganggap motor tidak aman. Anthony yang memaksa Nadiem terus berkembang.

Persaingan sengit yang sebenarnya dilakukan dua orang saling mengenal. Bumbu- bumbu berita itu memang memanaskan. Gojek tidak jauh dari sosok Kevin Aluwi. Sosok dibalik teknologi terdepan perusahaan terintegrasi.

Kevin memiliki latar pengolahan data dan business intelegent dalam dunia bisnis. Kevin baru masuk ke Gojek pada 2013 silam.

Roihatul Jannah Pengusaha Boncengan Anak

Profil Pengusaha Roihatul Jannah

   
usaha jualan boncengan anak

Nama Roihatul Jannah pengusaha boncengan anak. Pengusaha 29 tahun yang mendadak terkenal kala itu setelah inovasinya menang perhargaan. Dia dulu memenangkan lomba Shell LiveWIRE Business Start-Up Award 2008, pada 11 April 2008.

Berkat inovasi Helmiat Bonceng Bocah, cita- citanya menjadi pengusaha sejak lama akhirnya tercapai juga. Konon saat itu, Iat (nama panggilan) tengah menghadapi sulitnya menemukan kursi untuk membonceng putrinya yang duduk di playgroup.

Dia berkreasi sebisanya agar sang putri bisa duduk nyaman. Ia berkisah pada saat itu keluarganya tinggal di kelurahan Sukamaju Baru, Depok, Jawa Barat. Dia sering mengantar anaknya, Hasnah, yang masih 3 tahun ke playgroup di Kelapa Dua dimana jaraknya mencapai 6km.

"Hasna (anak bungsunya) sekolahnya jauh karena memang mencari yang bagus," jelasnya. Iat pun mengantar anaknya dengan sepeda motor. Tetapi ternyata si kecil sering terlihat mengantuk ketika duduk.

Mencari Solusi Masalah


Demi keamanan, ia meminta saudara untuk menjaganya tetapi tidak bisa setiap hari. Mulailah terpikir membeli kursi balita. Tetapi ternyata tidak ada orang menjual produknya khusus dipasang di sepeda motornya. "Saya tanya ke toko hingga nyari di internet, nggak ada yang jual," tuturnya.

Dia memang memiliki bakat desain sejak masih sekolah dasar, bahkan sampai sekarang. Ketika akan membeli kursi atau meja, maka ialah yang mendesain.

Dia pun segera mendesain alat keamanan khusus motor itu.

"Saya melihat di motor, kira- kira alat ini bisa dipasang di bagian yang mana. Ternyata ada peluang, lalu saya minta tolong ke bengkel las. Desainnya seperti ini, bahannya dari satainless. Tapi kan harus ada bantalnya, biar enak. Awalnya sederhana," terangnya, melalui Tabloid Nova.

Akhirnya Iat mendesain sendiri kursi itu buat si bungsu, "proses mendesainnya sangat cepat, sehari jadi," katanya. Setelah itu dia membawa desainnya tersebut ke tukang las untuk dibuatkan,  esoknya kursi bonceng bocah sudah jadi. Ia memakainya untuk mengantar si-bungsu Hasna ke playgroup.

Menurutnya selama enam bulan, dan ia hanya  memakai kursi itu untuk mengantar putrinya. "Belum terpikir peluang bisnis," katanya. Nah, selama itu sudah ada tanda-tanda permintaan cukup tinggi.

"Kalau lagi berhenti di lampu merah banyak yang nanya kursi itu belinya dimana?" Iat mengingat kembali. Namun produk itu belum punya sistem keamanan yang paten. Ia tidak mempedulikan betul tentang itu; ia hanya menggunakan gendongan bayi diikat ke badan.

Terus produk itu digunakan untuk mengantar anaknya ke sekolah. Banyak orang memperhatikan terutama ketika lampu merah. "Bu, beli dimana," tanya seseorang di jalan.

Ia pun mendapatkan keyakinan oleh pertanyaan tersebut. Dia bisa memulai bisnisnya dari inovasinya ini. Wanita 30 ini kemudian memberi nama produk barunya bernama Helmiat Bonceng Bocah, dan menjadi produk laris manis.

Produknya tak langsung sempurna, perlu beberapa kali desain kembali. Dia menjualnya melalui brosur yang dibagikan teman- temannya. Melalui acara bertajuk Shell start- up, bisnisnya semakin dikenal serta mendapatkan suport sebagai bisnis baru.

Mereka kala itu mencoba mencari usaha start-up oleh mahasiswa, yang mungkin digunakannya setelah lulus. Iat kemudian mendaftarkan produknya berlomba, lalu masuklah ke tahap seleksi hingga jadi salah satu pemenang.

Melalui perlombaan mendapatkan modal 20 juta untuk membangun bengkel. Bengkel yang telah dua bulan itu berdiri kini menjadi sorotan media. Sejak masuk televisi, Iat mengaku tidak bisa berhenti menerima panggilan. Ketika mengantar anaknya ke sekolah, ada 14 nomor berbeda di layar.

Perkembangan Bisnis


Sejak itu, ia mulai menyadari perbedaan hidupnya kini. Ia telah resmi masuk ke dunia bisnis. Dia pun keluar dari pekerjaannya sebagai asisten dosen. Itungannya seminggu, bengkel sanggup berproduksi sekitar 50 unit. Itupun baru dari bengkel sendiri, belum bengkel orderan.

Satu Helmiat akan dijualnya seharga Rp. 250.000 per- unit. "Saya enggak mau nurunin harga dengan nurunin kualitas. Kami pakai bahan stainless steel," jelasnya. Produk tersebut akan disesuaikan jenis motornya. Dan, warna boncengan akan disesuaikan si anak; laki- laki atau perempuan.

Untuk memperluas pasar, dia telah memiliki sekitar 50 distributor, dan setiapnya diberi 50 unit. Ia menargetkan barang yang dijual akan naik agar tidak ada kekurangan stok di distributor.

Distributor sendiri masih dalam tahap penjajakan ada di Medan, Surabaya, Jakarta. Sedangkan produknya sudah sampai ke Lampung, pekan baru, palembang, padang, Samarinda, Balikpapan, Pare-pare, Bali, NTB, NTT, Ambon, Papua. Bahkan, ada pembeli, warga Indonesia yang memesan dari Jerman.

Iat pun memiliki website sendiri untuk berpromosi, yaitu helmiat(dot)com. Ia menjalaskan dalam menjalankan bisnis tidak hanya satu bengkel saja. Iat bekerja sama dengan bengkel- bengkel lain, yang utama bengkel pertama kali produk dibuat, dan tentu ada perjanjian di atas materai.

Perjanjian tersebut agar produk yang dibuat harus dipesan dulu ke dirinya. Saat ini ia telah memiliki enam karyawan, seorang di administrasi, pekerjaan umum, dan bagian perakitan dulu. Selain itu, ada karyawan part time yang ikut bekerja disana.

Bengkel di jalan Bakti Abri No 112, kelurahan Sukamaju Baru, Kecamatan Tapos, Depok. Kini tidak lagi hanya satu tipe. Mereka memproduksi 3 tipe yaitu standar, luxi, dan ross. Harga tipe standar yaitu Rp.300 ribuan, luxi dan ross lebih mahal sampai Rp.350 ribuan.

Perbedaan keduanya hanya pada konsep sandaran belakang. Pada standar ketinggian sandaran sampai punggung, sedangkan yang lain sampai leher. Menurutnya kendala terbesar ada pada jenis jok motor. Walau sama merek atau jenis, joknya bisa jadi lebih luas.

Untuk mengatasi hal itu, dia menyiapkan untuk berbagai motor. Iat menambahkan sistem purna jual yaitu garansi satu tahun. Dalam hal ini, dia jadi sering mengalah karena pembeli ibu- ibu pasti tak mau rugi. Dia tau pasti karena begitu pula dirinya.

Misalnya ada yang minta garansi, namun ternyata sudah pernah dibawah ke bengkal lain bahkan dilas kembali. Sikap profesional pula lah yang mengantarkan dirinya menjadi salah satu finalis Asia’s Best Young Entrepreneurs Award 2009 versi majalah Business Week.

Usaha Food Suplier Biografi Elizabeth Liman

Biografi Pengusaha Elizabeth Liman


biografi elizabeth liman
 
Usaha food suplier modal terbatas conteklah pengusaha ini. Biografi Elizabeth Liman, bukanlah anak orang kaya, tidak mewarisi usaha atau uang miliaran rupiah. Bertahap dia membangun bisnisnya sampai dikenal para usahawan restoran, hotel, dan supermarket.

Sosok suplier seafood yang tumbuh dan tidak terpisahkan dari Makassar. Disana dia tumbuh bersama kedua orang tua. Semenjak muda, Elizabeth  menyukai tantangan dan mudah merasa bosa dengan keadaan monton. Dia senang apapun yang menantang namun belum memutuskan usaha.

Bosan Jadi Pegawai


Pasalnya dia telah diterima Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Berjalan setahun Elizabeth malah pindah fakultas ekonomi. Namun belum sama sekali pikirannya mau wirausaha. Tidak tahan berkuliah kembali maka diputuskan berhenti.

"Saya merasa tidak ada tantangan dengan pekerjaan kuliah yang monoton seperti itu," ia jelaskan.

Alasan sepele dia merasakan tidak terdapat tantangan. Aneh memang sampai- sampai pindah jurusan tiga kali; dia sama sekali tidak puas. Lantas apakah dia akan memilih bekerja dahulu. Jawabannya ada ketika dia berangkat ke Jakarta.

"Saya pikir kenapa kok terdiam hanya sebatas di Makassar saja, padahal tantangan ditempat lain begitu luas," ujarnya. Cukup lama dirinya tinggal di Jakarta entah melakukan apa. Mungkin dia lebih memilih bekerja karena orang tuanya bukan pengusaha.

Tidak betah kembali dia memilih pindah tetapi sekarang pindah kota. Tidak tanggung- tanggung nih, ia memutuskan pindah ke New York, Amerika Serikat, guna memperluas pandangan. Disini orang- orangnya welcome kepada orang Asia.

Tidak seperti di Eropa yang kurang ramah kepada orang- orang Asia. Meskipun begitu cuma tahan dua tahun tinggal disini. Nah, inilah cikal bakalnya dia memulai wirausaha pertama kali, ada perasaan jenuh yang ternyata juga muncul ketika menjadi pegawai bergaji.

Dia sepakat mendirikan usaha dibidang food makanan tetapi apa. Pandangannya luas tetapi tidak punya pengalaman usaha. Hasilnya dia langsung mendirikan perusahaan bernama Indoguna. Dimana bidang usahanya semua jenis usaha pernah dia kerjakan dulu.

Bosan jadi pegawai memilih menjadi bos perusahaan sendiri. Elizabeth mendirikan perusahaan pada 1982 di Jakarta. Perusahaan yang didasarkan pengalaman menjadi pegawai dulu. Tetapi tidak persis seperti digelutinya ketika masih di New York dulu.

Dia menyukai bisnis makanan karena suka. Usaha food suplier modal terbatas hanya menyewa satu ruang kerja di Jl. Gajah Mada, Jakarta Pusat. Elizabeth awal mempunyai empat karyawan. Boro- boro dia berpikir akan menjadi pengusaha sukses, bertahan hidup saja sudah sangat melegakan.

Elizabeth berbisnis dititik terendah alias untung bisa makan. Beruntungnya Jakarta mulai membaik dari segi ekonomi. Banyak turis asing berdatangan tertarik akan keindahan Indonesia. Kalau di sini, khususnya orang Jepang, Perancis, dan Korea, yang mana lebih menetap karena juga bekerja.

Mungkin mereka sudah di Indonesia tetapi selera masih sama. Inilah kebutuhan yang tengah diceruk Elizabeth. Dimana Indoguna berperan mengekspor bahan makanan dari negara asal. Dia pun aktif memasukan daging ekspor ke hotel- hotel.

Ia menjadi ahli memilih bahan makanan terutama daging untuk ekspatriat. Bagi pengusaha ini adalah hal baru belum banyak. Kalau ada dia meyakini hanya satu sampai dua orang. Elizabeth tidak gengsi masuk dari pintu ke pintu. Dia menawarkan barang sekaligus berkenala dengan para chefnya.

Kebetulan sekali, suatu hari Hotel Hilton membutuhkan suplier daging eskpor, nah Indoguna menjadi solusi memilih daging. Mereka membutuhkan daging ekspor empuk yang berkualitas. Dimana ini tak mereka dapatkan ketika membeli sapi lokal.

Bisnis Terus


Hotel membutuhkan daging terutama untuk diolah steak. Khusus orang Jepang mereka menyukai olahan khas tepanyaki. Dari situlah dia mulai belajar mengolah daging ekspor. Tidak tanggung dia belajar dari ahlinya para chef hotel berbintang lima.

Dia diajari, "kalau you bawa daging seperti ini, nanti jadinya seperti ini. Begini hasilnya nanti." Tak belajara tanggung mengenai mau diolah apa tetapi ikut masak. Presider utama PT. Indoguna Utama ini belajar melalui chef buat mengetahui kualitas daging serta cara memasaknya.

Pergaulan luas membawa orderan daging meskipun jumlah kecil. Walau cuma memesan 10 kg, dia mau melayani bahkan sebaik pemesan kelas besar. Perusahaan lain cenderung mengacuhkan pesanan kelas kecil. Elizabeth tidak mengejar jumlahnya, melainkan kebutuhan dan berapa dapat disediakan.

Ia selalu mengusahakan membawa daginya langsung. Mangkanya pembeli senang bahkan menjadi langganan. Mereka percaya hingga mulai membeli orderan partai besar. Elizabeth selalu melayani dengan baik. Prinsipnya ialah menjalankan usaha sekalian belajar melalui pengalaman ini.

Pesanan meluas semakin banyak maka dibutuhkan pelajaran baru. Itu akan disesuaikan kebutuhan hingga perusahaan tumbuh bertahap. Pasar berkembang sesuai kebutuhan dari masyarakat sendiri. Ia selalu mengingatkan apakah kamu mempunyai market.

"Sebenarnya kalau memulai bisnis, harus kembali ke pertanyaan apa ada marketinya," jelasnya.

Bila sudah menemukan market maka benahilah diri kita sendiri. Berusalah memenuhi kebutuhan tapi tetap memegang komitmen dan jujur. Bila kamu menjanjikan produk kualitas A, maka kirimlah yang kualitasnya A. Kamu jangan menjual produk diluar warga wajar.

Bertahap namun pasti namanya menjadi andalan seluruh hotel Jakarta. Tidak berhenti di satu tempat, Elizabeth mendirikan cabang di beberapa kota, dari Bali, Yogyakarta, dan Bandung. Ia pun mampu membuka cabang diluar negeri.

Rupayanya para chef yang dulu bekerja di Indonesia masih ingat. Ketika pindah keluar negeri, lantas mereka mengecek apakah Indoguna ada. Mereka mengubunginya mengapa tidak membuka di sini. Para chef membutuhkan bantuan karena lebih mudah, berkualitas, dan dapat dipercaya.

Indoguna membuka di Hong Kong, Singapura, Dubai, Australia, Kazakhtan, Taiwan, Malaysia, dan Amerika Serikat. Dia kembali mengaplikasikan apa dahulu dilakukan. Mulai dari kecil- kecilan dulu lalu bertahap membesar. Usaha food suplier mereka bukan sekedar pelengkap ketika diluar negeri.

Indoguna Pte. Lrd. termasuk pemasok bahan makanan besar. Di sana, Elizabeth membuat perkebunan sendiri dan rumah potong sendiri. Khusus Jakarta, pada 1992 ia memindahkan pusat usahanya ke Jalan Gajah Mada daerah Pondok Bambu, Jakarta Timur, yang dekat rumah tinggalnya.

Dengan ini energi dikeluarkan Elizabeth akan mudah terisi penuh. Dia pun tidak kehabisan waktu di jalan karena macet. Tahun 1992 pula, Elizabeth membuat cold storage penyimpanan, yang luasnya mencapai 25.000 m2.

Terdapat mesin frezer raksasa buatan luar negeri dan canggih untuk menyimpan. Dulu mereka yang dari pintu ke pintu menawarkan, sekarang pelanggan datang sendiri karena profesionalitas. Sang pemilik memang memiliki visi jauh termasuk membuat storage yang jarang di Indonesia.

Usaha ini membutuhkan 95% frezer dimana daging disimpan. Produk andalan mulai dari daging sapi muda dan tua. Bila dalam negeri sapi muda tidak dipotong. Diluar negeri, sapi muda dipotong dan harganya sangat mahal. Bisnis ini terbilang langka semakin menjadi langka karena kebanyakan pria.

Kunci sukses menurut biografi Elizabeth Liman, "apa yang saya janjikan, saya lakukan. Meski ada komitmen". Lebih dari itu harus memiliki kecintaan akan bidang usaha. Apapun kamu lakukan dengan rasa cinta, maka akan terasa seperti menjalankan hobi menyenangkan.

Menjadi pengusaha tidak bekerja untuk hidup melainkan passion. Dalam menjalankan usaha apapun, Elizabeth mensyaratkan jangan berangan ingin ini, harus itu, agar usahanya membesar. Tidak begitu tetapi kamu harus mampu melihat kebutuhan pasar.

"Anda tidak akan bekerja lagi untuk hidup, karena seakan- akan hanya akan main- main dan senang- senang saja," ucap perempuan yang kecilnya tomboy ini.

Dia mencintai pekerjaan ini, meski awal- awal dia harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Perlu dilewati karena ujungnya pasti ditemukan tidak buntu. Besarnya bisnis ditentukan kebutuhan market kamu. Kebutuhan market bertambah, skala usahanya ditambah, termasuk jumlah karyawan.

"Saya membiasakan diri dibesarkan oleh market," tuturnya. Bukan dirinya yang mencetak perusahaan ini, melainkan usaha inilah yang mencetaknya. Bob Sadino pemilik Kemang Food atau Kemfood, melihat sosok Elizabeth memang pengusaha tangguh.

Gigih dalam menghadapi masalah dan cepat mengambil tindakan. Bob Sadino memujinya menjadi sosok wirausaha untuk ditiru. Pengusaha wanita aktif digambarkan Arya Abadi, Direktur Operasional PT. Indoguna Utama, mengatakan Elizabeth berprinsip "harus bisa, pasti bisa!".

Waktunya dihabiskan berkeliling dunia menjalankan bisnis. Pertemuan dengan Arya dilakuakn satu bulan sekali. Jadi Elizabeth hidupnya pindah- pindah memastikan semua cabang aman. Ia pun punya bisnis restoran, yakni Angus House dengan 6 gerai dua diluar negeri.

Restoran dengan niat membantu salah satu karyawan ekspat Jepang. Waktu kotrak kerjanya jadi chef habis di Jakarta. Keduanya lantas berkongsi membangun usaha restoran. Kemudian ya berkembang pesat dengan prinsip win- win. Dia memperlakukan baik rekan, karyawan, dan pelanggan mereka.

Dia berprinsip karyawan berhak merasakan keuntungan. Tujuannya agar mereka betah dan bekerja maksimal. Loyalitas diutamakan bagi Indoguna, dimana karyawan terbaik mereka selalu betah dan bertahan disini. "We care for them. Saya perlakukan mereka seperti manusia," tutur Elizabeth.

Misalnya ketika krisis 98, ia menyuruh pembantunya datang ke kantor Indoguna, disuruhnya untuk memasak makanan enak. Tujuannya menghemat uang saku mereka karena ekonomi tak menentu. Dia rela mengambil anggaran dari gajinya untuk memberi bonus tambahan.

Prinsipnya selama dia baik sama seseorang, maka akan mendapatkan kebaikan balik. Elizabeth pun melebarkan sayapnya ke Australi. Melalui Mulwarra Export Pty. Ltd. ini mampu memenangkan penghargaan terbaik Australia, dalam hal pengembangan dan ekspor produk daging sapi.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba