Pengusaha Properti Muda Terinspirasi Ciputra

Profil Pengusaha Msg Syaiful Fadli


pengusaha properti muda

Syaiful Fadli dikenal sebagai sosok pengusaha properti muda. Ia berkata semua karena terinspriasi dari Ciputra. Wajahnya berseri- seri tampak selalu tersenyum dan mudah tertawa. Dia orangnya tuh supel, terlihat ramah dan banyak memiliki kenalan.

Relasi Fadli memang luas dikalangan pebisnis properti. Msg. Syaiful Fadli, usianya baru 31 tahun, tetapi dia telah memiliki usaha properti beromzet Rp.10 miliar per- tahun. Perusahaan bernama CV. Sehati, yang fokus membangun komplek perumahan Kencana Hati yang ke delapan.

Bukan mudah karena dia butuh perjuangan membangun ini. Tidak semudah untuk membalik telapak tangan. Pengusaha almuni pertambangan dari Universitas Srwijaya (Unsri). Mengaku pernah usaha rental komputer bahkan jualan majalah.

Prospek Bisnis Properti


"Sejak kuliah saya sudah mulai usaha. Saya pernah usaha rental komputer dan jualan majalan," tutur pebisnis muda ini.

Unik karena dasarnya dia bahkan tidak punya komputer. Berkat komputer pinjaman teman, dia bisa membuka jasa rental untuk dipinjamkan ke orang lain. Mungkin dari sinilah nampak bakat Syaiful soal properti muncul.

Sosok Ciputra merupakan inspirasi bagi banyak pengusaha muda. Hanya saja, tak banyak yang nekat memilih properti, apalagi orang bilang bisnis ini membutuhkan modal besar. Syaiful tidak takut bila harus memulai dengan modal minimal.

Gemar membaca buku kewirausahaan dan motivasi diri. Ciputra menjadi sosok entrepreneur yang mumpuni dimata Syaiful. Ia makin bersemangat untuk memulai membuka usaha. Nama Robert T. Kiyosaki kemudian melengkapi tekatnya untuk berwirausaha.

Begitu lulus kuliah sembari menunggu kelahiran anaknya yeng ke 2, Syaiful lansung tancap gas membuka perusahaan properti. Dia bersama kawan- kawan yang memang memiliki pengetahuan soal bangunan. Mereka para arsitektur muda dan teknik sipil yang membutuhkan pengalaman kerja nyata.

Mereka menarget bisnis renovasi properti. Tidak ada modal mumpuni buat membuka usaha. Tetapi ia tidak mundur, malah nekat meminjam uang buat modal. Total dia mendapatkan Rp.30 jutaan dari pinjaman teman- teman.

Klien awal Syaiful adalah para dosen Unsri sendiri. Mereka meminta renovasi rumah lewat tangan dingin Syaiful. Dari 2005- 2009, dia mampu bertahan dan bisnisnya berjalan terus. Tentu saja banyak lika- liku yang dihadapi Syaiful sebagai pengusaha properti muda.

Usaha dia berkembang ketika dipercaya pengembang kelas kakap. Berawal dari diminta membuka satu rumah katering. Bahkan demi memenuhi kebutuhan ini, Syaiful berani menggelontorkan uang untuk mendirikan CV. Sehati. Bayangkan proyek senilai Rp.600 juta di tahun 2007 silam.

Syaiful telah membangun sekitar 200 unit rumah dan ruko di seluruh Palembang. Harga per- untinya saja berkisaran Rp.200-700 juta.

Syaiful mengenang pernah berhutang 3 juta untuk membayar tukang. Waktu itu hari Jum'at sementara Sabtu sudah harus bayar. Dia pun pergi mencari- cari pinjaman kemanapun. Padahal istrinya tengah mengandung sembilan bulan dan posisi hujan.

"Alhamdulillah sorenya saya dapat pinjaman," tuturnya.

Mungkin tampak sepele tetapi menjadi pengalaman tak terlupakan. Untuk mencegah hal- hal yang tak terduga, Syaiful memindahkan jadwal pembayaran menjadi Senin. Menurutnya bisnis bukan sekedar modal, tetapi justru kepercayaan dan kejelian sehingga apa dijalankan bekerja.

"Serta, harus memiliki mimpi untuk menjadi orang sukses," tutupnya.

Bisnis Kedai Kopi Javapuccino Pengusaha M. Asmui

Profil Pengusaha M. Asmui Kammuri 



Dia bukan pengusaha sejak usia belia. Juga bukan lah pengusaha karena punya modal besar. Justru keterpaksaan mungkin yang membawanya menjadi pengusaha. Pria kelahiran Semarang, 24 Oktober 1985, yang mulai ketagihan membuka usaha sendiri semenjak satu bisnis kedai kopi.

Bahkan hobi M. Asmui Kammuri sekarang, bisa dibilang hobinya adalah membuka aneka usaha. Bukan perkara mudah memulai usaha mandiri. Pertama kali ia membuka usaha yang paling mudah, waktu itu, ya membuka bimbingan belajar atau bimbel.

Semenjak berkuliah di Universitas Islan Negeri (UIN), otomatis dia membutuhkan lebih banyak uang untuk kebutuhan kuliah. Keluarga Asmui bukanlah keluarga berlebihan uang. Ia yang mengambil jurusan akutansi, dorongan untuk membiaya kebutuhan kuliah sendiri semakin kuat.

Membuka Usaha Sendiri


Asmui kembali mendirikan usaha bimbel kembali. Nama bimbel itu adalah Smart Collage, yang tentor didatangkan dari teman- teman Asmui. Hasil dari bimbel ternyata lumayan cukup untuk membiayai kuliah. Ia terinspirasi  sukses bimbel Bintang Pelajar, tempatnya praktik mengajar dulu.

Cukup bermodal pribadi mereka bergeriliya menjadi guru les privat. Sukses itu ternyata memiliki konsekuensi tersendiri. Bagi Asmui yang sibuk berwirausaha itu berarti tidak fokus berkuliah. Alhasil cuma sebentar, sekitar dua tahun perjalanan, maka bubar lah bimbel miliknya tersebut tidak bersisa.

Padahal hasilnya lumayan bisa menambah buat biaya kuliah kan. Menjalankan usaha membuatnya terbuai dalam kesibukan. Asmui jadi jarang berangkat dan masuk ke kelas. Ditambah lagi nilai- nilai akademisnya malah menurun berarti dia gagal.

Padahal kedua orang tua Asmui bukan lah orang berada. Mereka cuma petani yang secara finansial kerepotan menguliahkan dia. Gagal berbisnis, dan tuntutan kebutuhan, ia tidak mau menyerah untuk mencari kesempatan berbisnis.

Bisnis sebagai tambahan merupakan cara lain untuk melunasi hutang. Itu juga caranya agar dia bisa menyelesaikan kuliah. Pokoknya dia harus bisa berwirausaha jalan, tetapi kuliah juga jalan dengan nilai memuaskan.

Suatu ketika, dia mencoba usaha minuman, yang dirasanya mudah dikerjaka serta murah. Untung pun terhitung besar dibanding usaha lain. Kenapa tidak coba usaha makanan, ternyata ada perhitungan sendiri hingga ia urung. Terutama karena dia merasa ribet tiap kali mengerjakan pesanan makanan.

"Apalagi, makanan juga lebih mudah basi. Kalau tidak laku, malah merugikan," jelasnya.

Minuman Kopi Waralaba


Usaha minuman pertama kali ialah jualan es teh. Sembari dia berkuliah dan juga mengajar anak les privat; dia berjualan minuman es teh. Hingga lahirlah minuman teh spesial bernama Josstea. Tetapi masalah timbul dari nama es teh yang dia jajakan tersebut.

Sayang, Asmui tidak berhasil mendapatkan hak paten atas nama, maka tutuplah usaha itu tanpa tidak lanjut. Yang berhasil justru usaha minuman kopi yang lantas diberi nama Javapuccino. Usaha yang ia serius kemudian sukses besar menghantarkan namanya.

Ia tidak mau sembarangan meracik kopi. Sebelum berbisnis, Asmui sempatkan dulu untuk kursus barista kepada seorang bartender. Pada 2 Februari 2008, pengusaha muda ini memberanikan diri untuk membuka kios kopi di Ciputat, yang mana modalnya Rp.3 juta untuk sewa grobak dan tempat.

Tanpa disangka, ternyata kopi racikannya disukai sampai laris manis. Sembari tetap berkuliah, dia menjalankan bisnisnya tanpa saling menganggu. Ia mengakali ini dengan menggaji karyawan untuk jualan. Jadi Asmui bisa lebih mudah berkuliah tanpa mengurangi nila- nilainya.

Karena berjualan di pinggir jalan, layaknya PKL lain, Asmui menghadapi aneka bentuk premanismen di jalanan. Mereka kerap meminta jatah keamanan kepada Asmui. Selain itu gerobak yang dititipkan juga kena jarah sampai ludes.

Suatu hari bisa kotak penyimpanan es raib, atau blender yang hilang entah kemana, tetapi yang pasti dia tidak pernah berhenti berjuang. Setahun berjalan usahanya makin maju, hingga Asmui merambah aspek lain. Karena sukses dia semakin bergairah membangun bisnis- bisnis lain.

Terbukti lewat inovasi aneka minuman ice blend coffee juga aneka teh. Ia juga menambahkan aneka bubble drink dan smoothies. Bahkan sebelum setahun berdagang kaki lima sudah bisa naik kelas. Ia telah memiliki tempat sendiri.

"Persaingan orang untuk bisa masuk kantin memang luar biasa," jelasnya.

Bertahap namun pasti bisnis kedai kopi bisa menjalar ke beberapa kantin lain, mulai dari kampusnya, lalu kantin Universitas Trisakti, Universitas Tarumanegara, Universitas Padjadjaran, Universitas Sumatra Utara dan sejumlah kampus lain.

Tahun 2009, ia total memiliki 26 kedai berbentuk booth, lalu menjalar ke kantin- kantin. Semuanya itu dijalankan oleh teman, saudara, dan bahkan ada dosen, yang menjadi patner bisnis Asmui. Target dari jualan Asmui adalah para mahasiswa sebagai anak muda.

Lewat lokasi kantin maka masuklah ke sekolah, kampus, dan perkantoran pula. Alasannya merambah kantin lagi, karena bisnis ini murah, sementara menyewa tempat di kantin lebih hemat. Padahal lewat kantin target pasarnya begitu terbentang lebar.

Untuk pegawai tinggal memanfaatkan mahasiswa. Mereka yang mau bisa bekerja setengah hari. Hingga ia menawarkan biar si mahasiswa sendiri yang mencari tempat. "Saya kasih fee sesuai target," jelas pengusaha M. Asmui.

Menyasar aneka instansi digencarkan olehnya. Sampai, di tahun 2009, bisnis miliknya resmi terdaftar atas merek dagang. Juga termasuk pendirian perusahaan bernama PT. Javapuccino Coffee. Selepas itu, ia sendiri masih berhasrat lebih lagi, target berikutnya adalah membangun usaha kafe.

"Belum banyak persaiangan di gedung perkantoran. Biasanya di satu kantor hanya terdapat satu kafe," jelasnya.
 

Merambah Bisnis Lain


Dia menjelaskan padahal di Jakarta masih banyak. Yah, masih banyak gedung perkantoran yang bahkan belom punya kafe. Di tahun 2011, ia telah menyelesaikan kuliah dan siap berbisnis lebih, untuk itulah maka lahir konsep bernama Island Kafe.

Pada pertengahan 2012, Asmui sudah mempunya lima kafe sendiri bukan kantin seperti dulu. Produk kafenya masih tetap sama seperti dulu ditambah aneka makanan. Menu andalah miliknya yaitu aneka makanan dan snack khas Jawa dan Italia.

Asmui juga menawarkan kerja sama berbentuk franchise loh. Berkat kerja kerasnya, dia meraih aneka penghargaan Wirausaha Muda Sukses Terbaik 2011 dari Menteri Koperasi dan UKM, Indonesia Franchise Award 2011 Kategori Fastest Growing Franchise, dan Juara Wirausaha Muda Mandiri 2010.

Ini merupakan pengembangan usaha berbentuk booth alias kaki lima. Nama Javapuccino Coffe berkembang jadi Javapuccion itu sendiri. Sejak 2008 berjualan kaki lima, tahun 2012, usahanya sudah merangkak sampai sekala kedai kopi hingga menjadi bisnis kafe.

Untuk usaha booth masih dipertahankan hingga dijadikannya model franchise. Usaha booth lantas bermetamorfosis di 2011 menjadi Solopuccino. Harapan sang pemilik adalah agar bisa mengembang ke segala arah. Perubahaan nama ini dampaknya tidak mengurangi minat franchisor untuk mendaftar.

Jumlah totalnya ada 200 booth Javapuccino, dan 100 booth milik Solopuccino, yang dipegang para franchisor. Bisnis restoran akhirnya bisa Asmui realiskan lewat Javachicken akhir 2012. Konsep restoran ini seperti milik si Colonel Sanders, yang difokuskan buat pasar Kalimantan dan Sulawesi.

Sampai di 2013 saja sudah mampu menargetkan 5 restoran Javachicken. "Buka pertama di Sampit. Di sana belum ada kompetitor. Lokasi yang memang bagus, kita konsep restorannya ala Jakarta. Pertumbuhannya bagus sekali," bangganya kepada pewarta SWA.

Ia sendiri belum bisa berkata banyak. Masih perlu banyak penyesuaian katanya dan memang butuh waktu. Hal lain, Asmui ikut masuk ke bisnis sepatu, yang mengusung nama Della Luce diproduksi di Bogor. Tak tanggung- tanggung, pasar sepatu milik Asmui ini menyasar kalangan menengah atas loh.

Untuk usaha fashion digandeng lah sang istri, Wiwi Winarti, sebagai ujung tombak dari bisnis PT. Pancaksuji Makmur.

Pengusaha Ridwan Abadi Tawarkan Waralaba

Profil Pengusaha Ridwan Abadi


motivator ridwan abadi
 
Brand Cincaupuccino pernah mengalami masa- masa jayanya. Sosok dibalik itu pengusaha Ridwan Abadi tawarkan waralaba. Prinsip minuman ini ialah kemasan segala musim. Bila capucino kurang laku dikala musim panasa. Cincaupuccino dijual dingin- dingin untuk menghilangkan dahaga kita.

Inovasi bisnis yang datangnya dari Kota Malang, Jawa Timur. Ridwan mengambil hati pelanggan lewat iklan yang gencar. Menawarkan advertising menarik yang bikin ngiler aja. Nanti kalau orang lewat depan gerai Cincaupuccino akan langsung tergiur akan rasanya.

Ridwan Abadi merupakan sedikit dari pengusaha yang maju. Usahanya terbilang lancar walau terlihat sering gonta- ganti. Padahal kalau dicermati Ridwa hanya melakukan kebanyakan pengusaha. Ia telah menciptakan beberapa produk, hingga menjadikan banyak cabang passive income.

Pengusaha Serba Waralaba


Membayangkan Cincaupuccino terasa manis dan dingin di mulut. Segar bila diminum ketika musim panas dikala terik matahari. Iklan Ridwan nampak berhasil hingga menarik pelanggan untuk mampir. Berkat iklan outletnya didatangi beberapa masyarakat dan semakin banyak.

Ridwa meyakinkan rasa Cincapuccino enak eksklusif. Komposisi rasa terjamin karena telah memiliki standarisasi. Soal pengemasan pun menarik untuk dipesan segera. Kalau dilihat kemasannya seperti minuman kopi Starbucks. Bermodal sekitar 10 jutaan tetapi omzet Rp.200 juta berkat satu trik.

Ridwan menawarkan konsep waralaba yang terstruktur. Tawaran waralaba meliputi aneka jenis paket investasi. Dari investasi waralaba biasa Rp.7,5 juta, exclusive 15 juta, dan super mitra Rp.35 juta. Dia berhasil membangun 50 cabang berkat franchise.

Bisnis lain Ridwan ialah batagor dengan konsep ala Jepang. Bisnisnya diberi nama Batagor Jepang Takashi Mura (BJTM). 

"Soalnya batagor saya banyak peminat dan menjadi menu favorit," tukas pengusaha Ridwan Abadi.

Tahun 2008, dia mendirikan restoran Dapur Unik, sedangkan Cincapuccino dibawah PT. Era Mulia Abadi Sejahtera. Pokoknya semua bisnis pengusaha ini memiliki citra unik. Bila batagor Bandung itu terbuat dari tahu putih, berisi adonan tengiri, udang, dan tapioka.

Maka batagor Jepang memakai ikan tuna dan tepung katsu. Selanjutnya ia menggunakan saos teriyaki alih- alih sekedar saus kacang. Untuk melengkapi keunikan tersebut, ia menambahkan cireng, siomay, telur rebus, dan kentang. Ridwan punya pendapat sendiri menyikapi makanan ala Jepang.

Dia berpikir kita telah diserbu makanan asing seperti burger, pizza, dan fried chicken. Makanan asli Indonesia nampak diserang hingga terpuruk. Harapannya dengan memanfaatkan booming makanan asing. Bertahap Ridwan akan membalikan serangan itu menjadikan batagor sampai ke luar negeri.

Pengusaha Ridwan Abadi tawarkan waralaba dalam aneka bentuk. Aneka camilan berasa restorang dengan harga kaki lima. Ridwan sendiri memiliki pandangan dalam membangun bisnis. Ia lebih ke arah Timur, seperti Surabaya, Malang, Makassar, dan Balikpapan, yang memiliki cita rasa berbeda.

Kue Bingka Bakar Bisnis Kerja Keras Wisnu

Profil Pengusaha Rosnendya Wisnu Wardhana


bingka bakar batam
 
Tidak mudah baginya mencapai posisi Wisnu sekarang. Kue bingka bakar, ide bisnis kerja keras yang tak terbayangkan. Rosnendya Wisnu Wardhana sempat berpikir bisnis konvensional. Dia pernah jadi penjual pulsa konter. Wisnu juga pernah membuka usaha cuci helm, cuci motor, dan angkirangan.

Itu semua gagal tetapi justru ketemu kue tradisional tersebut. Coba dipikirkan kok bisa kue bingka bakar menghasilkan omzet ratusan juta rupiah. Sukses itu tidak didapat dalam sekejab tetapi butuh perjuangan.

"Karena kelolanya tidak fokus. Alhamdulillah, semua usaha saya akhirnya tutup," ia mengenang dulu sebelum jualan bingka.

Pengusaha yang tidak pernah putus asa. Sampai dia bangkit kembali dan memulai usaha lain. Ia lalu merintis usaha pembuatan kue bingka dan bilis. Jualan aneka kue tradisional yang dimodali Rp.5 juta saja. Ia ingat waktu itu tahun 2009, uang segitu dibelikan mixer, loyang, dan cetakan kue.

Pengusaha Kecil- Kecilan


Begitu sudah membeli bahan baku tinggal mencari tempat. Alih- alih menyewa tempat, Wisnu lebih memilih stan ukuran 2x3 di kawasan Pasar Mega Lagendang, Batam. Begitu menyewa tempat kecil itu sudah habislah modal. Biaya sewa yang dia keluarkan Rp. 390.000 per- bulan yang cukup murah.

Membayangkan berjualan aneka jajanan pasar di Batam. Kota industri itu dirasa cukup besar buat dia berjualan. Dia menjual berbagai camilan yang dijual di pasar. Awalnya dia menjual banyak sekali jenis tidak fokus, seperti kerupuk ikan, keripik talas, hingga keladi pedas.

Hampir dua bulan berjualan tanpa dia paham mau jualan apa. Wisnu akhirnya fokus membuat bingka bakar. Di awal berjualan, kue buatanya tidak begitu laris dan terjual cuma 15 loyang. Padahal ia ingat betul harnya murah cuma Rp.8000 per- loyang.

Berbeda dengan sebelumnya dia malah semakin bertekat. Ia merasa kue bingka bakar bisa menjadi oleh- oleh khas. Ia gencar mempromosikan produk itu ke sejumlah acara, baik kelurahan, kecamatan, dan bahkan provinsi. Bahkan acara khataman Al Quran dan penyuluhan keluarga berencana tak lolos.

Kerja keras Wisnu berbuah hasil dengan mulai datang pesanan. Pada 2009, Pemerintah Kota Batam mengajaknya ikutan acara Asia Food Festival di Singapura. Berkat mengikuti acara tersebut namanya semakin dikenal. Kue bingka bakar bikinan Wisnu pun semakin laris diborong masyarakat Batam.

Wisatawan mulai mengikuti tidak pulang Batam tanpa bingka bakar. Awalnya Wisnu sempat minder bila wartawan mengunjunginya. "Karena kecil- kecilan, seperti konter pulsa gitu," ia melanjutkan. Di tahun 2010, dia memindahkan gerainya ke ruko, yang lebih besar dan bersih dibanding dulu.

Kue tradisional kalah pamor dibanding produk makanan impor. Aneka roti asing sudah menguasai pasar Kota Batam. Tetapi Wisnu meyakinkan diri untuk tetap menjual kue bingka. Selama ini di Kota Batam telah diserang aneka kue coklat, baik dari Singapura atau Malaysia.

Kue Bingka Bakar mampu menjual sampai 11.000 loyang perhari. Harga jual 20.000 per- loyang atau omzetnya mencapai ratusan juta. Cukup buat menghidupi keluarga dan 60 orang karyawan. Semakin lama produknya dikenal, semakin banyak wisatawan yang membawa sebagai oleh- oleh khas.

Popularitas kue ini bahkan sampai ke Negara Singapura. Ia memperkenalkan produk ini ketika aktif mengikuti pameran di Singapura. Produk kue bingkanya telah dimodifikasi sehingga sesuai selera pasar. Pilihan rasa begitu variatif sampai memiliki 12 rasa, termasuk mochacino, durian, hingga buah naga.

"Saya bereksperimen mengembangkan varian rasa kue yang dibantu keluarga," pengusaha muda ini menuturkan.

Selain bingka Wisnu juga berjualan blackforest berbahan pisang. Ia berharap aneka produk kue ini akan menjadi khas Batam. Kue Bingka Bakar Nayadam diharapkan bisa membuka cabang di Jakarta. Wisnu pun menggaet UKM lain untuk bekerja sama dalam pengembangan oleh- oleh.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner Fajar Handika

Profil Pengusaha Fajar Handika


pengusaha fajar handika

Nama Fajar Handika sudah terbiasa akan kegagalan. Jatuh bangun pengusaha kuliner ini bisa menjadi contoh. Aneka bisnis pernah dilakukan Fajar dan kesemuanya gagal. Dia pernah membangun usaha warnet. Ia pernah pula membuka angkirangan, bahkan kafe anak muda dengan modal besar.

Kesemua bisnis tersebut gagal total tidak tersisa. Namun dia tak menyerah dalam menjadi wirausaha. Ia sangat bergairah ketika membahas kewirausahaan. Meskipun usahanya belum berhasil, dia tak mau menyerah, untung dari hobi makanya keluar ide bisnis baru.

FoodFezt merupakan pengembangan dari bisnis antar makanan. Sistem FoodFest Integrated Kitchen System, mampu menawarkan solusi perhitungan pemesanan. Ini akan mengefisiensi SDM dan juga kertas yang dipakai. Pasalnya penjual akan terhubung melalui jaringan internet bukan manual saja.

Pelanggan akan lebih praktis dan mudah memesan. Selain itu FoodFest juga menawarkan manajerial waktu yang mumpuni. Ada perhitungan real time yang akan dipantau pembeli. Sistem ini menjadi memudahkan proses transaksi pembeli dan penjual.

Mengembangkan Sistem Bisnis


Bisnis kuliner tidak hanya mengenai makan atau minum enak. Jatuh bangun pengusaha kuliner Fajar Handika memberikan pandangan. Bayangkan pesanan kamu terkoneksi dengan internet sampai real time. Tiap hari tidak kurang 400- 500 porsi kuliner dipesan dari restoran miliknya.

Mereka pembeli merupakan kalangan menengah. Rentang usianya diantara 30 -an dan beruang. Dia mampu menggaet mereka. Restoran dengan sistem food court tetapi dengan layanan antar. Food Fezt juga mengajak pengusaha kuliner lain dalam satu tempat.

FoodFezt bertempat di Pandega Karya, Jalan Kaliurang KM 5,5, Yogyakarta. Mereka memiliki tidak kurang 11 dapur atau tentant. Tiap tentant mempekerjakan tidak kurang 3 orang. Konsep yang bisa menampung 80 orang karyawan, benar- benar membuka lapangan pekerjaan.

Tiap tentang milik mitra dirinya mengambil 20 persen untung. Hasilnya Fajar mampu mengantongi omzet Rp.400 juta. Untuk mengembangkan usahanya, Fajar terus mengevaluasi layanan dan tentu menu makanan. FoodFezt mampu menyajikan lebih dari 100 menu dengan variasi makanan.

Varian makanannya mencangkup khas India, Timur Tengah, Eropa, dan Jawa. Pilihan lain meliputi menu vegetarian, mi hitam, nasi kebuli, sate kambing buntel, dan sebagainya. Layanan pesanana, waktu itu, FoodFezt melayani lewat email Yahoo Massager dan GTalk.

Fajar memiliki visi jelas dan segera diterapkan. Ia mengembangkan bisnis dengan terstruktur. Dia juga selalu berinovasi dalam pelayanan dan produksi. Tiap ada pembeli yang datang selalu diberikan layanan maksimal. Inovasi produk meliputi kemasan mudah hancur untuk pembelian.

Fajar memang pengusaha yang memiliki wawasan. Dia kini juga membuka usaha bidang perikanan dari nila dan udang. Spesifikasi bisnis Fajar meliputi aneka pengolahan pasca panen. Tahun 2011, ia juga mengeluarkan brand makanan olahan, dan kenaikan omzet sampai tiga kali lipat.

Andi merambah bisnis minuman bersama Nestle. Dia juga menggaet pakar kuliner Bondan Winarno, yang mengerjakan bisnis Kopi Tiam Oey di Yogyakarta. Kedai kopi ini dijumpai di semua cabang FoodFezt.

Pengusaha Juragan Katering


Dia kemudian membuka bisnis bernama Kulina. Ini untuk menyambut pasar FoodFezt yang mulai menggeser ke platform baru. Sebagai satu penggagas bisnis kuliner berbasis IT, FoodFezt berevolusi menjadi bisnis startup berbasis iOS atau Android, masih dengan tema yang sama.

Alumni Jurusan Ilmu Komputer. Universitas Gajah Mada (UGM), yang juga membuka startup aneka kerajinan. Kulina sendiri masih seperti FoodFezt yang menawarkan katering online. Jadi nanti orang bisa berlangganan makan siang lewat subscribe dari marketplace digital.

Kulina berbeda dengan pendahulunya tidak mengutamakan fisik. Lewat Kulina pembeli dapat cari- cari kuliner macam apa. Pemesanan sampai 5000 boks makan siang sampai ke 2000 tempat diseluruh Jakarta. Fajar menjelaskan boks tersebut merupakan milik lebih dari 12 perusahaan katering mitra.

Untuk bisnis kerajinan Fajar bekerja layaknya makelar. Orang akan melihat gambar di aplikasi, lalu dia yang akan memesankan ke toko mitra. Bisnis lain yakni Kopi Tiam Oey terbilang tidak beruntung karena tutup. Sementara Food Fezt sendiri "ditutup" hingga dintegrasikan melalui Kulina App.

Sejak dulu, hingga 2015, Fajar selalu melihat prospek dalam bisnis kuliner berlayanan antar. Dia lalu melihat polanya lebih luas melalui revolusi digital. Aplikasi seperti Google Maps banyaknya lebih membantu dalam penerapan. Maka pada tahun yang sama dia membangun makandiantar.com sebagai bisnis lain.

"Negara kita sudah memasuki era startup," ujar Fajar bersemangat.

Aplikasi Kulina sendiri merupakan rintitas dua orang. Bila Fajar Hidayat ahli soal sudut pandang dari produsen atau pemilik kuliner. Rekannya, Andy Hidayat, akan membantunya melihat dari sudut pandang konsumen. Dia mengatakan pengguna Kulina tak perlu memiliki tempat berjualan fisik.

Awal 2016, mencatat 45 rekan kongsi dengan Kulina, kebanyakan mitra merupakan mereka yang belum profesional. "Satu dua bulan pertama, pesanan yang masuk hanya satu dua kotak perhari, tidak seperti yang diharapkan," kenang Fajar.

Karena rekanan Kulina kebanyakan masih pemula. Kualitas rasa mereka masih tidak konsisten, sekarang enak, besoknya bisa tidak. Kulina sendiri belum punya standarisasi. Mereka ada yang pakai kardus atau styrofom.

Kulina belum memiliki standarisasi menu. Mereka menyerahkan ke pemilik mitra. Alhasil mitra bisa menawarkan aneka jenis makanan bebas. Akhirnya Fajar pun menstandarisasi menu makan siang yang sama. Walau dapurnya berbeda, makanan disuguhkan sama dengan pengemasan yang sama pula.

Proses berbulan- bulan membuahkan pesanan ratusan perhari. Kulina sendiri memiliki tim ahli gizi yang menentukan menu. Ada algoritma khusus yang membuat orang memilih mitra yang terdekat. Ini akan mengurangi biaya logistik, apalagi menu makan siang telah disamakan walau beda dapur.

Kulina membandrol Rp.20.000 per- boks untuk basik, Rp.30.000 untuk delux, dan sudah termasuk ongkos kirim. Paket makanan dibantu kerja sama dengan suplier ayam, daging, tahu, dan beras. Ini alhasil mengurangi biaya produksi sekaligus meningkatkan untung.

Jatuh Bangun Pengusaha Kuliner


Bisnis Kulina membesar mengakibatkan Fajar semakin sibuk. Alhasil dia pun menjual empat buah restoran milikny. Dia ingin fokus mengerjakan bisnis Kulina. Sebagai pemilik startup, baginya tidak mudah menghasilkan kesuksesan. Ia bahkan harus mendanai dengan menjual 4 restoran tersebut.

Tidak cukup, Fajar pun mendapatkan pendanaan pada awal 2017. Satu tahun mengandalkan kantong sendiri bukan mudah. Suntikan dana dari Monk's Hill Ventures, East Ventures, Coffee Ventures, dan mendapatkan dana $700.000 atau Rp.9,8 miliar.

Tahun 2018, Kulina terpilih mengikuti program Google Launched Accelerator, yang memberikan 6 bulan pelatihan. Bootcamp program ini memberikan pelatihan dengan tim dari Google. Mentornya datang dari Silicon Valley, Amerik Serikat.

Kulina sendiri mulai ekspansi ke daerah- daerah lain seluruh Indonesia. Fajar telah menyebarkan dari Depok, Denpasar, Tangerang dan Bekasi. Mereka belum berencana memasarkan keluar negeri. Agar lebih variatif, Fajar juga merambah ke makanan ringan yang unik.

Mereka tak segan menggandeng pengusaha jajanan ringan. Yang dijual jajanan anti- mainstream yang memiliki citara rasa dan tak mudah ditemukan. Melalui ekspansi menu dan produk, Fajar berani untuk menarget pesanan dua kali lipat, pesanan 100.000 boks perhari siap dipenuhi aplikasi Kulina.

Fajar menjamin makanan yang diterima adalah segar. Sistem algoritma memastikan makana dipesan dari tempat terdekat. Mitra juga sudah diberikan pelatihan hingga standarisasi. Pengantaran pesanan juga dibatasi tidak boleh lebih dari dua jam, sebelum jam 12 siang, atau tidak pelanggan dapat gratis.

Usaha Fotografi Alvin Fauzi Menginspirasi Kita

Profil Pengusaha Alfian Fauzi


usaha fotografi
 
Tahun 2007 tidak banyak orang mencoba berbisnis ini. Usaha fotografi miliknya layak mendapatkan penghargaan. Maka pada 2010, Alfin Fauzi bersama beberapa rekan memenangkan ajang, Wirausaha Muda Mandiri mengakui keberadaan usaha mereka.

Era digital yang mulai menggeliat tahun itu merubah. Bila dulu bisnis fotografi dikuasai oleh hanya sekedar orang. Sekarang kita bisa membuka usaha tersebut bermodal minim. Kamera yang dulunya dianggap mahal, sekarang sudah di layar handphone.

Semua orang bisa menggunakan teknologi kamera. Aneka pelatihan pun tersedia buat mereka yang berminat. Usaha fotografi Alvin Fauzi bermula sebuah studio kecil di Yogyakarta. Akhir tahun 90' an dapat dihitung ada berapa studio foto, sepuluh tahun kemudian bermunculan banyak studio foto baru.

Wirausaha Mengambil Resiko


Studio Alvin Photography (AP) memakai nama sang pendiri sendiri. Sudah membuka usaha sejak 2007, Alvin menyasar pasar kaula muda berbekal cita rasanya sendiri. Maka ia mudah baginya untuk menganalisa pasar. Alvin memiliki strategi bisnis menggunakan internet agar lebih terkenal.

Memanfaatkan teknologi sekaligus memahami pangsa pasar. Alhasil anak muda akan lebih memilih ke AP. Melalui akses internet AP menempati halaman utama di Google. Sebut saja ketika anak muda mencari kata kunci "fotografi pernikahan Yogya", "fotografi prewedding Jogja", dan lain- lain.

Ia juga menggunakan promosi mulut ke mulut. Tetapi AP sangat mengandalkan promosi online, dan juga memulai sosial media. Alvin blak- blakan membuka kunci suksenya pada kekuatan internet. Dia memulai dengan masuk ke komunias fotografi, dan menyerap apa yang dibutuhkan masyarakat kini.

Dia ikut forum fotografer dari forum besar seperti Kaskus. Alvin belajar banyak dari otodidak dan lebih kekinian. Itu yang tidak dimiliki oleh studio foto pada tahun 90' an. Antusias anak muda yang tinggi memberikan peluang usaha. Ia banyak belajar bahkan tak segan untuk mengeluarkan uang.

Alvin menggabungkan teori dengan pengalaman praktik. Pertengahan 2000 -an, dia diajak oleh orang untuk membuka usaha fotografi, Alvin pun antusias menggarap pasar anak muda. Dalam tempo dua tahun saja dia berhasil balik modal dan untung.

Kerjasama antara dirinya dan si pemodal tetap berjalan. Mereka menggunakan sistem sharing untung hingga kini. Bila Alvin tak memiliki passion mungkin tidak akan sama. Pengusaha muda Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, merasa bahwa fotografi merupakan seni bukan sekedar foto.

Dunia seni memang sangat terikat dengan menciptakan rasa. Mereka seniman juga cenderung untuk mengerjakan sesuai mood. Padahal masyarakat membutuhkan ketepatan waktu. Inilah yang coba dia berikan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Ia menggabungkan seni dan perusahaan dalam satu wadah. Ini lebih baik dibanding mereka yang hanya menawarkan jasa cuci foto. "Makanya jam kerja kami unik, dari jam 11.00 s/d 19.00," tutur pengusaha ini.

Alvin memulai dengan menempatkan studionya tepat. Ia membangun di Condong Catur, Sleman Yogyakarta. Ini adalah tempat ramai yang merupakan poros penghubung. Studionya menjadi poros penghubung Yogyakarta dan Kota Sleman, disekitaran kampus perguruan tinggi di Yogyakarta.

Alvin menegaskan semua orang bisa saja menjadi fotografi. Semua orang bisa membuka usaha foto, bisa saja studio foto dimana- mana. Orang yang jago memfoto juga banyak tetapi Alvin beda. Ia lebih memberikan apa masyarakat butuhkan, dari estetika sampai produk berkualitas.

Soal pemilihan fotografer saja Alvin sangat pemilih. Tidak hanya sekedar profesional memfoto tetapi juga cita rasa. Ia juga memberikan pelatihan bagi calon fotografer di studio AP. Baginya usaha foto memiliki pasar yang luas, dari foto wisuda, penikahan, ulang tahun, acara kantor, dan lain- lain.

Untuk wedding saja harga yang dibandrol rata- rata 7 juta. Sementara perusahaan baik berupa acara gathering, AP Studio menawarkan harga 20 juta rupiah, dan omzetnya telah mencapai 60% dari target pasar. Dia mengaku mampu mengantongi omzet sampai 100 juta berbulan.

Masa Depan Animator Memilih Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Achamad Rofiq


pengusaha animasi
 
Tidak ingin terjebak dunia kerja membuat Achmad Rofiq galau. Menjadi lulusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Negeri Malang, dirinya cemas. Apakah dia akan berakhir menjadi pegawai terus selama hidupnya. Alih- alih terus galau Rofiq memilih membuka usaha animasi sendiri.

Dia tak ingin terjebak dunia kerja. Apalagi kalau membayangkan kerja diluar bidang. Ingin rasanya ia tetap menggeluti dunia animasi. Passion akan dunia animasi berubah menjadi ambisi. Pemuda yang sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Miftahul Ulum ini, ingin melakukan perubahan.

Berawal dari ambisi pribadi hingga memikirkan nasib bangsa ini. Membayangkan animasi sekelas Captain Tsubasa bisa menginspirasi orang. Ia membayangkan begitu pula karyanya kelak. Captain Tsubasa begitu populer, hingga mampu menggairahkan sepak bolah negara Jepang.

Perjalanan Wirausaha


Lantas apa yang bisa dilakukannya selain menunggu. Ya, ia mengajak beberapa rekan animator dan ilustrator. Bersama- sama mereka mendirikan CV. Kdeep Animation di 2005. Kemudian berkembang menjadi PT. Digital Globab Maxinema, yang awal- awal menggarap kebutuhan perusahaan lain.

Mengikuti beberapa ajang menadi jalan memperkenalkan pasar. Satu judul Bio Zone, animasi buatan mereka memenangkan juara 1 dan 2 dari Best Viewer Choice Animation Award, dari Universitas Parahyangan, Bandung, dan Best Animation Malang Film Video Festival, Malang.

Mereka walau sudah mendapatkan pasar belum cukup. PT. DGM juga memproduksi beberapa judul film animasi. Hingga karyanya dilirik insititusi dan stasiun televisi swasta. MNC TV menjadi salah satu pembuka kesempatan, animasi berjudul Songgo Rubuh pernah tampil pada 2012 silam.

Animasi ini menjadi pemecah kebuntuan akan nasib film animasi. Disusul beberapa judul lain yang dikerjakan perusahaan lain. Rofiq sendiri merasa tak ada persaingan sengit. Televisi secara otomatis akan menaikan kualitas studio animasi lokal. Bahkan budget animasi -nya mampu setara produksi sinetron.

Menjadi animator termasuk mempengaruhi masyarakat untuk mencintai negeri, budaya, dan sepak bola. "Itulah yang membuat saya merasa tepat memilih animasi sebagai jalan hidup, tepatnya sebagai creativepreneur," tuturnya.

Songgo Rubuh dikerjakan serius oleh para ahli animasi. Soal skrip bisa memanfaatkan para penulis skrip sinetron. Perkembangan animasi dunia memicu semangat ambisius Rofiq. Selain nama animasi Captain Tsubasa, ia juga terinspirasi Steve Jobs, sang pendiri Pixar membuktikan semua orang bisa.

Masalah finansial menjadi kendala tersendiri baginya. Tetapi ia menyadari masalah itu bukanlah halangan bagi wirausahawan. Seniman harus tetap berkarya walau tak menghasilkan. Apalagi bagi pengusaha kegagalan harus diselesaikan. Masalah finansial juga pernah dirasakan Steve Jobs ketika itu.

"Siapa yang tidak ingin seperti itu (memproduksi animasi kelas dunia)? Pastilah finansial adalah hal kecil didalamnya. Setidaknya, Steve Jobs pernah mewujudkannya," ia menjelaskan.

Sang pengusaha muda tidak membatasi diri atau idealis. Perusahaanya juga mengambil pasar iklan layanan masyarakat, komersil, dan profil perusahaan. Dirinya mengelak sebagai animator tetapi jadi pemilik usaha. Perusahaan miliknya diisi oleh banyak talenta berbakat dalam bidang animasi.

Pengusaha muda yang menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Ini merupakan pekerjaan bersama untuk menghasilkan karya. Wujudnya pun beragam selama bisa membantu karyawan. Ia mengatakan pada 2011, DGM mampu menghasilkan Rp.1 miliar lebih dan terus naik.

Kantor mereka yang dulu berpusat di Malang, kini diboyong ke Jakarta, dan membangun lagi di Surabaya. DGM telah mempekerjakan tidak kurang 20 animator berbakat. Proyek besar seperti film animasi, salah satunya berjudul Kukurockyou, film yang akan dipasarkan secara global.

Perusahaan DGM sendiri sekarang lebih berbuka untuk berkembang. Mereka bermintra dengan pihak pemasaran, distributor, pengelola lisensi dan merchandise. Tujuannya agar film animasi makin lebih banyak di Indonesia. Ini juga akan membangun ekosistem bisnis yang mumpuni di kawasan Asia.

Sebagai penutup Rofiq mengajak para santri untuk berkreasi. Apapun medianya kita bisa menyebar kebaikan. Ia memandang pendidikan hanya membaca buku. Sementara diluaran sana masalah yang sebenarnya terjadi. Para santri harus bisa mempraktikan buku manual yang telah mereka pelajari.

Mahasiswi Pengusaha Evi Marlina Fokus di Kerajinan

Profil Pengusaha Evi Marlina


mahasiswi pengusaha souvenir
 
Evi Marlina satu dari mahasiswi pengusaha yang peduli. Fokusnya kepada kerajinan asli Suku Anak Dalam. Dia tidak hanya mengambil keuntungan tetapi sosial. Tetapi Evi juga mengajarkan kerajinan lain, semua agar suku anak dalam menjadi produktif dan mengikuti pangsa pasar.

Bermula dari pembicaraan ringan dengan teman mahasiswa. Pembicaraan intelektual yang mengarah ke kewirausahaan. Mereka membahas apa yang unik dari Jambi. Para mahasiswa FKIP, Universitas Jambi, saat itu di tahun 2009, yang sebenarnya iseng kemudian berkembang menjadi niatan.

Niatan untuk mengunjungi suku anak dalam di Dusun Senami, Kabupaten Batanghari. Dari keinginan mencari yang unik, mereka ingin mensurvei kehidupa seperti apa mereka. Berjalan 60 km dari Kota Jambi untuk melihat apa yang bisa mereka lakukan.

Mereka menemukan berbagai hal unik dalam kewirausahaan. Produk- produk unik yang dihasilkan mereka bisa dimanfaatkan. Awalnya anak suku dalam hanya berkreasi seni melalui produk kerajinan. Evi menemukan beberapa benda hasil dari survei pada Mei 2011 itu.

Bisnis Sosial


Dia menemukan satu kerajinan bernama Ambung yang unik. Produk rotan yang biasa digunakan masyarakat suku anak dalam. Itu biasanya digunakan untuk membawa barang- barang. Mereka juga bisa memproduksi tikar rumbai dari rotan.

Ide kreatif lalu muncul dari benaknya untuk memperkenalkan itu. Ia ingin memodifikasi itu agar bisa menjadi khas Jambi. Ambung sendiri biasanya besar, lalu dia perkecil seukuran gelas, dan dimasukan ke dalam kaca. Di gelas tersebut lalu ditulisi asal mula ambung beserta asalnya dari suku anak dalam.

"Yang kita tuliskan adalah, ambung itu apa dan biasa digunakan suku anak dalam untuk apa," ia bercerita.

Mahasiswi pengusaha ini kemudian memilih berbisnis. Evi memodifikasi udang- udangan menjadi gantungan kunci. Ia kemudian mengkombinasikan itu dengan ambung. Hasilnya mengejutkan karena itu diminati oleh Pemerintah, kemudian dijadikan plakat untuk seminar- seminar pemerintahan Jambi.

Kreatifitas Evi tak berhenti salah satunya membuat bunga rota. Evi juga mengajarkan ini kepada para anak suku dalam. Ada produk bungan rotan berbentuk bung lili air dan melati. Kerajinan rotan yang memodifikasi dari anak suku dalam tersebut masih banyak.

Evi mengatakan ada puluhan variasi yang bisa nanti dikembangkan. Mengusung nama SAD Rangke- Rangke atau dalam bahasa menarik- menarik. Benar saja namanya mampu menarik khalayak ramai.Ia memasarkan produk kerajinan tersebut dari door- to door, dari satu instansi ke instansi pemerintah lain.

Tidak peduli instansi pemerintah atau milik swasta dia datangi. Evi juga rajin mengunjungi pameran, termasuk yang diselenggarakan Bank Mandiri. Dia juga bekerja sama dengan Jambi Express untuk promosi. Evi memanfaatkan banyak cara seperto media blog, website jual- beli dan Facebook.

Perbulan rata- rata ia mampu meraup omzet Rp.6- 7 juta. Kerja kerasnya tak terbuang sia- sia, karena produk Evi mulai dikenal hingga dipasarkan keluar Jambi. Evi tidak diam kemudian ikut aktif untuk mensosialisasi. Dia melakukan pelatihan bagi anak- anak dari suku anak dalam yang terpencil.

Menjadi Pengusaha Sosial


"Saat ini terdapat 11 suku anak dalam yang fokus mengerjakan kerajinan ini," tuturnya.

Bermula pengabdian untuk lebih mengenal suku anak dalam. Evi berserta beberapa orang merubah ini jadi usaha. Para mahasiswi pengusaha yang fokus mengerjakan kerajinan. Mereka pun sepakat untuk mengangkat derajat suku anak dalam.

Bermodal uang Rp.5 juta hasil lomba Dikti, Evi dan kawan membangun bisnis ini dan memasarkan aneka kerajinan. Hasil lomba kemudian dijadikan modal membangun galeri pameran. Mereka lalu mengajak lebih banyak suku anak dalam, mereka bekerja sama membuat aneka produk kerajinan.

Aneka kerajinan dan replika mereka cukup murah dari Rp.2000- Rp.250 ribu. Permintaan datang dari Jawa. Mereka juga menjual sampai ke luar negeri seperti Cheko. Orderan datang dengan jumlah yang besar. Evi mengatakan omzet tidak besar sekitar Rp3- Rp.6 juta, pemesanan bersifat waktu tertentu.

"Biasanya mereka (suku anak dalam) menggunakan kata Rangke ini untuk mengatakan sesuatu atau seseorang yang dianggap cantik," Evi menjelaskan.

Didirikan 2010 silam, bisnis mereka merupakan kumpulan mahasiswa yang bersatu. Bermula dari lomba yang diadakan DIKTI atau Direktorat Penelitian Pendidikan Tinggi. Awalnya mereka tengah melakukan penelitian sembari membahas kewirausahaan.

Mereka melakukan survei kemudian pelatihan bagi anak suku dalam. Pemberdayaan dan pelatihan itu kemudian diikutkan perlombaan di Bali. Hasilnya produk mereka berhasil menarik perhatiaan para pengunjung. Meskipun penelitian telah selesai, SAD tidak berhenti malah semakin berkreasi saja.

Mereka memasarkan ke banyak tempat. Evi mengatakan beberapa teman membantu. Para mahasiswa terkadang membawa souvenir bikinan milik mereka. Tujuan awalnya untuk kegiatan sosial, bukan untuk bisnis atau profit. Mereka mengajak lebih banyak masyarakat menjadi bagian dari tim mereka.

Bimbingan Belajar SSC Bisnis Melaju Dengan Mutu

Profil Pengusaha Sony Sugema 

  
pengusaha bimbel ssc

Maraknya bisnis pendidikan memberikan harapan manusia lebih baik. Bimbingan belajar SSC bisnis yang melaju dengan mutu. Bagi mereka yang membutuhkan pendidikan alternatif, ketika merasakan kesemrawutan pendidikan formal. Pengusaha Sony Sugema hadir untuk membantu kita lewat konsep bisnis SSC.

Banyak bisnis pendidikan menawakan konsep waralaba. Terbukti sistemnya mampu mempercepat pertumbuhan sekolah. Tidak semua berhasil sih, beberapa malah layu sebelum berkembang, walau mereka telah diwaralabakan. Kegagalan tidak mematahkan semangat pebisnis daerah mencoba.

Contohnya pengusaha sukses bernama Sony Sugema. Dia mungkin hanya pria lulusan SMA Negeri 3 Bandung. Tetapi Sonny memulai bisnis pendidikan lebih awal. Semenjak ditinggal sang ayah ketika di bangku sekolah itu, ia mulai berpikir bagaimana menjadi mandiri maka bukalah bisnis bimbel.

Pengusaha Bimbel Masa Depan


Ia menjalankan bisnis les privat, dimulai teman- temannya sendiri. Biaya lesnya hanya Rp.5000 per- bulan tetapi jadi titik balik. Pengalaman mengajar itulah membuatnya semangat membangun lembaga pendidikan sendiri. Bukan bimbel tetapi sekolah walau bersekalah sangat kecil waktu itu.

Bermodal 1,5 juta, Sony membangun idenya yang kemudian bernama Sony Sugema Collage (SSC). Ia menggunakan modalnya untuk membayar pegawai dan menyewa ruangan belajar. Sebuah lembaga pendidikan yang berkonsentrasi menghadapi ujian masuk universitas.

Metodennya diberi nama fastest solution dan learning is fun. Sekolah SCC berupaya membantu calon mahasiswa baru. Sony tertarik akan dunia pendidikan, dari SMA hingga kuliah di jurusan teknik mesin ITB, ingin membangun lembaga pendidikan sendiri.

Ia lalu memutuskan mengajar sebelum mendirikan SCC. Sonny pernah mengajar matematika di salah satu SMA Swasta. Berlanjut dia mengajar di lembaga pendidikan hingga membangun sendiri. Dia percaya melalui metode SCC buatannya, siswa akan lebih cepat belajar.

Siswa yang menganggap matematika, atau fisika sebagai momok akan terbantu. Metode belajar  yang dimiliknya nyata menghasilkan siswa berprestasi. Kesukses mereka menjadi media pemasaran viral yang efektif. Para siswa lah yang menjadi testimoni nyata keberhasilan Sonny Sugema dan SSC

Siswa- siswa yang mengikuti bimbingan SCC semakin bertambah. Sampai 1991 Sony memutuskan untuk membuka cabang di Jakarta. Momen tersebut menjadi lompata bisnis SSC di Indonesia. Butuh waktu dua puluh tahun, barulah dia mereguk keberhasilan dari bisnis tersebut.

Ia sukses memiliki empat perusahaan berbasis pendidikan Segudang penghargaan menghampirinya atas keberhasilan mengembangkan bimbingan belajar ternama di Indonesia. Sony memang memiliki tekat kuat untuk berjalan langkah demi langkah hingga mencapai puncak keberhasilan.

Solusi Wirausaha Dojo Box Siap Membantu UKM

Profil Pengusaha Indra Haryadi


pengusaha konsultan bisnis

Banyak cara membantu UKM Indonesia berkembang ketika era digital. Solusi wirausaha Dojo Box, didirikan oleh Indra Haryadi, sudah lama memberikan solusi internet. Mereka menangani klien- klien UKM dan sekala perusahaan, dari Rumah Makan Mbah Jingkrak hingga PT. Prima Andalan Group.

Para klien Dojo Box adalah mereka yang membutuhkan sistem bisni. Indra memberikan solusi untuk menghindarkan kesalahan dan kerugian. Ia juga merencanakan agar menaikan omzet dari klien. Indra memilih untuk membantu pengusaha Indonesia, yang katanya masih dikisaran 1% dari populasi.

Bisnis Konsultan UKM


Banyak upaya dilakukan pemerintah guna membantu pengusaha. Tujuannya baik dari menaikan skala  usaha sampai mempertahankan pendapatan. Banyak mereka yang gagal bertahan, karena baik secara kualitatif ataupun kuantitatif tidak siap, dan membutuhkan pihak ketiga.

Indra menyadari hal tersebut memilih untuk membantu. Bagaimana agar mereka lebih kompetitif dari pemenuhan permintaan. Juga cara menjaga kualitas dan pelayanan dari pemilik usaha. Maka hadirnya Indra bersama Dojo Box, seolah menjadi seperti pelatih sasana bela diri yang mengajari.

Menurut banggaberindonesia.com, Indra Haryadi terinspirasi untuk membuat proposal bisnis, lalu Dojo Box diberi bantuan dana hibah Rp.50 juta. Mereka memenangkan Program Studentpreneur BRI yang memberikan tantangan waktu 12 bulan.

Dojo Box memanajemen baik sistem hingga scaling bisnis. Di sistem manajemen, Indra dan timnya menawarkan sistem bernama Symesro Resto Box. Ini diperuntukan bagi pebisnis kuliner untuk hal manajemen dapur, penyajian, dan kasir, yang menggunakan sistem IT terintegritas.

Mereka mengajarkan urutan penyajian hingga manajemen waktu. Sistem Dojo Group mengajar dari staf pelayan dan kasir. September 2012, dari dana hibah itu dipakai Rp.17 juta, untuk menyiapkan resto box dan marketer box untuk Rumah Makan Mbah Jingkrak dan PT. Prima Andalan Group.

Kemudian kwartal kedua Dojo Box menggelontorkan Rp.21 juta. Klien mereka adalah CV. Miconas Transdata Nusantara, Rumah Makan Waroeng Poetri, dan ADiTV. Disusul Rp.8,5 juta untuk biaya pengembangan cleaner box bagi Rumah Makan Ambarukmo Magnum, Resto dan Wisma Joglo.

Dojo Box berhasil membantu dan menghasilkan omzet. Kuartal pertama Indra menghasilkan omzet Rp24,9 juta bulan pertama, Rp.86 juta kedua, dan bulan ketiga Rp.57 juta. Ternyata dana hibah yang diberikan BRI berhasil. Dojo Box menghasilkan omzet Rp.166,9 juta untuk tiga layanan bisnis.

Bisnis Waralaba TK Alternatif Wirausaha Kita

Profil Pengusaha Rahmi Salviviana 


bisnis waralaba tk sd

Pernah "booming" bisnis waralaba TK masih alternatif. Buat pengusaha yang ingin memulai usaha pendidikan. Ini alternatif wirausaha yang semua orang butuhkan. TK juga tidak ada kewajiban berupa ujian nasional. Alhasil sekolah memiliki otoritas untuk menghasilkan siswa yang seperti apa.

Niatnya membantu kebutuhan keluarga berbuah manis. Melalui ketekunan serta kemampuan melihat peluang usaha, Rahmi Salviviana sukses berbisnis di bidang pendidikan. Dia yang berdomisili di Pekanbaru, Riau, melihat bahwa bisnis taman kanak- kanak sangat menjanjikan.

Berbekal pengalaman pribadi, ia telah merubah arah hidupnya menjadi lebih baik. Vivi yang merintis usahan ini semenjak tahun 2008 menjelaskan awal mula. Saat itu, Vivi bukanlah pemilik waralaba, melainkan patner pewaralaba yang memiliki brand.

Dia bekerja sebagai frenchiser atau pengguna waralaba milik orang lain. Ia sama sekali tak memiliki sekolah sendiri. Fokus dua tahun, ia lalu memberanikan diri untuk membuka brand waralaba sendiri, Alifa Kids. Vivi lebih fokus pada bisnis pendidikan anak usia dini sebelum TK.

Prospek Bisnis Pendidikan


Bisnis waralaba TK miliknya memiliki visi pribadi.. Sekolah ini mempersentasikan "Amanah, Loyal, Integritas, Fatonah, Cerdas, Adil, Kerja sama, Inisiatif, Disiplin, dan Santun. Ia selalu berharap anak- anak didiknya di TK Alifa Kids menjadi anak pintar dan berakhlak selain siap masuk SD.

Lulusan Hubungan Internasional Universitas Riau ini mengaku, bahwa bisnisnya Alifa Kids berawal dari keinginan membantu keluarga. Di sendiri mempunyai seorang putri berumur empat bulan belum masuk TK. Vivi ingin agar tetap produktif sekaligus mendidik putrinya sendiri dari waralaba.

Melalui Alifa Kids dia sudah memiliki bisnis sendiri. Ia jadi lebih mudah membantu orang tua lebih banyak. Pasarnya mereka yang memiliki keterbatasan waktu untuk berinteraksi dengan anaknya. Vivi mengajarkan lebih dari Intelligence Quote (IQ), tapi bagaimana pembentukan karakter.

Kesuksesan menurut Vivi, 85% -nya berasal dari karakter anak itu sendiri bukan sekolah. Melalui kurikulum yang fokus dan konsep matang, Alifa Kids mendapatkan berbagai penghargaan. Kini Alifa Kids memiliki lebih dari 350 siswa, dimana tiap bulannya bertambah berbeda- beda.

Vivi menyediakan dua jenis pendidikan dan keduanya memiliki biaya berbeda. Untuk siswa setengah hari, orang tua membayar Rp.375.000, dan siswa satu hari penuh membayar Rp.800.000. Alifa Kids mengambil biaya tahunan Rp.4 juta- 5 juta jadi cukup terjangkau

Usaha ibu 30 tahun ini telah mendapatkan penghargaan Honda Youth Start Up, baik tingkat regional dan nasional oleh Mark Plus. Bank Mandiri kemudian menghantarkan Vivi sebagai finalis nasional di Wirausaha Muda Mandiri. Ini bukan perjalanan sebentar melainkan penuh tekad dan visis kedepan.

Alifa Kids total telah memiliki 60 pegawai dibawah bendera Alifa Management. Ia selalu mendorong pegawainya untuk mandiri bahkan mendorong mereka berwirausaha. Mereka, pegawai Alifa Kids, sepulang mengajar mereka akan sibuk menjalankan usaha kelompok; seperti berjualan pakaian.

Wirausahawan mandiri


Rahmi Salviviani mengaku merintis bisnisnya di tahun 2008 dengan modal terbatas. Ia dikala itu meminjam uang dari beberapa saudara hingga terkumpul 50 juta. Tetapi modal usaha tersebut tidak lah bertahan lama meski bisnis telah berjalan, tidak ada keuntungan menyokong.

Vivi pun memutar otak, meminta uang suaminya untuk ikut membantu. Sang suami bahkan keluar dari pekerjaannya agar lebih fokus. Mereka berdua menjalankan bisnis tersebut bersama. Hasilnya Alfia Kids untung dan balik modal, uang itu lalu diputar kembali mengembangkan bisnis agar lebih besar.

Mereka tidak segan mengikuti seminar kewirausahawan pendidikan. "Investasi terbesar kami adalah mengikuti seminar pelbagi," tuturnya. Kendati telah mendapatkan banyak pengetahuan terbukti tidak menjamin tidak adanya halangan.

Halangan itu pasti ada, tetapi justru itu yang membuat bisnisnya menjadi lebih baik. Yang terpenting adalah sumber daya manusia, ia tidak menganggap sepele akan hal tersebut. Vivi bahkan mengadakan pelatihan untuk pengajar baru. Tujuannya agar sejalan dvisi dan misi dalam program pengajaran.

Melalui Alifa Management, para guru mencoba membentuk pribadi diri lebih baik, tujuannya agar juga mampu membentuk pribadi siswa. Mereka mengajarkan jiwa kewirausahawan sejak usia dunia. Vivi juga mengajarkan pegawainya untuk berbisnis setelah mengajar; seperti berjualan pakaian.

Sukses bisnis pendidikan usia dini, Vivi berencana merambah bisnis sekolah dasar. Ia terus berencana membuka beberapa sekolah dasar di Pekanbaru. Untuk TK sendiri, ia berharap melalui masuk lebih dalam ke seluruh penjuru Indonesia.

Beberapa orang telah menawarinya berwaralaba tetapi tidak untuk sekarang- sekarang; ia merasa membutuhkan persiapan. Tetapi ini bisa menjadi bisnis waralaba TK alternatif kamu.

"Pada dasarnya, saya tidak mau merugika pihak yang tertarik untuk bermitra atau menjadi franchise Alifa Kids," ungkapnya.

Sembari menuggu kesiapan waralaba, Vivi telah bergerak membangun sekolah dasar di Pekanbaru. Dia memperkirakan terbangun dua sampai tiga tahun lagi. Ia juga menyebut tidak boleh tergesa- gesa dalam hal berekspansi.

"Godaan untuk masuk sektor usaha lain seringnya menjadi "racun" bagi sebagian besar pengusaha terutama pemula," tuturnya. Ia yakin beberapa pengusaha gagal karena melihat bisnis lain. Dia juga percaya selalu menganggap pegawainya sebagai mitra. Oleh karena itu, sekolah harus menghargai jasa gurunya makanya bisnis tidak instant.

Travel Khatulistiwa Bisnis Wisata Outbond Traveling

Profil Pengusaha Tri Wahyudi


bisnis travel outbond

Wisata outbond traveling tengah digandrungi masyarakat. Travel Khatulistiwa menjajal bisnis wisata dan sukses besar. Pengusaha Tri Wahyudi mendapatkan juara 2 Wirausaha Muda Mandiri 2009. Lalu bagimana kisah sang pendiri, pria yang biasa dipanggil Tri memperkenalkan wisata asli Indonesia ini.

Ia berbisnis wisata berbasis pendidikan. Pengalaman outbond traveling dikemas penuh tradisi. Dia tak hanya menunjukan arena bermain. Tetapi Tri juga mengajak ke museum batik, UMKM, belajar mengenai produksi, dan kegiatan edukatif lain.

Omzet tahunannya mencapai Rp.1 miliaran dan membuka lapangan pekerjaan. Ia memiliki 18 orang pegawai tetap. Ini benar- benar pencapaian yang hampir tidak mungkin. Ya, mendirikan biro travel tidak mudah, apalagi kamu harus memahami kebutuhan masyarakat jaman sekarang.

Analisa Sang Pengusaha Muda


Tri termasuk tipikal pengusaha analitik mengenai objek wisata. Jadi ketika dia ingin membuka biro tour,  dibutuhkan waktu tersendiri. Ia harus mempelajari Bali sebagai objek wisata pertama. Analisa mengenai destinasi wisata mana yang selalu ramai. Dia belajar dari biro tour lainnya dengan tujuan Bali.

Survei kecil- kecilan dbuat untuk mengenalisa tujuan wisata. Dia pelajar seluk- beluk, serta link agar mempermudah urusan detail. Pengalaman berkunjung di Bali memang memberikan inspirasi bagus. Tri mempelajari mengenai budaya, tradisi, dan literatur mengenai destinasi.

Dia mendapatkan ide untuk bukan sekedar traveling. Ragam kebudayaan bisa menjadi prospek bisnis traveling. Brand travel Khatulistiwa Tour and Travel, langsung terjun menawarkan layanan walau terbatas. Dia terus melalukan branding untuk meyakinkan bahwa ini berbeda.

Tri menyadari bahwa produk miliknya beda. Khatulistiwa Travel memberikan pengalaman edukatif profesional. Pengalaman sang tour guide diuji melalui bisnis tersebut. Butuh waktu lumayan lama, apalagi bisnis milik Tri masihlah bayi, awal- awalan saja sudah banyak halangan menghadang.

Tidak hanya kerikil yang menghadang tetapi batu dan tembok. Pernah sekali dia memprospek satu calon yang ingin traveling. Dia mencoba mempresentasikan tetapi tidak menghasilkan. Tanpa putus asa selama tiga bulan baru pecah telor. Dia akhirnya berhasil menggaet tidak hanya satu tapi banyak.

Mereka adalah mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponogoro. Tri dan tim harus membawa mereka ke Bali. Mereka harus bisa menggabungkan wisata pendidikan, dan destinasi populer Bali. Pelayanan terbaik disiapkan mereka walau di akhir tetap mengalami kerugian.

Pasalnya mereka salah hitung, bukannya untung Rp.3 juta malahan kehilangan Rp.5 juta. Tetapi itu hanya dijadikan pelajaran bukan dibawa perasaan terus. "Kami harus detail dalam perhitungan dan persiapan di lapangan," ujarnya, walau gagal tetapi senang karena klien mereka puas akan pelayanan.

Dia bersama tiga rekannya terus berjuang. Akhir tahun pertama mereka berhasil menghasilkan omzet Rp.250 juta. Keuntungan mereka mungkin cuma Rp.10 juta tetapi senang. Mereka berhasil melewati masa sulit, dan memutuskan inilah konsep bisnis yang mereka pakai ke depan.

Tips Pemilik Bisnis Traveling


Tri selalu berinovasi untuk mengembangkan layanan jasa. Tahun 2009, dia menyadari bahwa bisnis ini harus berbeda dari pesaing. Tri memilih berbisnis travel berbasis edukasi. Travel Khatulistiwa memberikan layanan edukasi, baik bagi mereka profesional terutama para pelajar.

Berbagai rapat diadakan untuk menentukan program- program terbaru. Mereka sepakat memprogram tour edukasi merupakan inti. Program mereka meliputi wisata outbound berbasis wisata. Namanya program Achievement Motivation Traveling, yang dibutuhkan perusahaan agar fun tetapi learning.

Mereka fokus ikut mengembangkan sumber daya manusia. Jadi nanti mereka memberi perjalanan traveling sekaligus memberikan pelatihan. Program lainnya bernama Students Road to Campus dan Entrepreneur Traveling, salah satu kegiatannya seperti lomba memungut sampah di pantai Kuta.

Program- program yang dirancang mereka harus unik. Ini akan menimbulkan kesan dalam hati para traveler. Tanggapan dari kalangan profesional dan pelajar tampak positif. Mereka pun makin giat untuk memasarkan program tersebut, baik di Facebook dan Twitter dengan website profil perusahaan.

Mereka merencanakan paket perjalanan sekolah. Program- program yang diadakan juga variatif, tak monoton yang diselingi pelatihan. Tahun 2010 usahanya berkembang, itu berkat keikut sertaan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2009, yang tidak hanya menang tetapi mendapat pelatihan.

Tri termasuk sosok mahasiswa panutan dengan prestasi. Salah satunya masalah manajeman untuk kemahasiswaan. Pada 2009 sendiri, ia tercatat menjadi wakil UNDIP untuk rangkaian pelatihan. Dia menang lomba debat Undang- Undang BHP (Badan Hukum Pendidikan) se- Universitas Diponegoro.

Dia menjadi kader terbaik dalam Sekolah Kader Bangsa UNDIP. Maka tak salah bila bisnis travel miliknya cocok. Ia semakin bersemangat dengan travel pendidikan ini. Pengusaha muda yang sudah memiliki pandangan, berbeda dari travel lain ingin rasanya membuka cabang keluar negeri.

Ingin membangun cabang perusahaan di pusat aktivitas manusia, mulai dari Singapura, Tokyo, Paris, London, dan Mekkah. Mimpi- mimpi ini kemudian dibagikan kepada teman seperusahaan. Ini jadi visi perusahaan. Mereka akan menjadi perusahaan travel edukasi berkelas internasional.

Ia juga bermimpi membangun brand transportasi udara. Dia ingin layaknya pendiri Virgin Airlines, dengan nama brandnya sendiri Khatulistiwa Airlines. Mimpinya selalu disampaikan kepada rekan di perusahaan. Ini kemudian menjadi mimpinya menjadi visi atau program dalam perusahaan tersebut.

Inovasi yang dikembangkan berikutnya Travel Nurse. Ini akan meyakinkan kesehatan bagi pengguna jasanya. Tri selalu mengupayakan peningkatan demi penguatan brand. Pasalnya dia berada di bisnis dengan persaingan kompetitif. Inovasi dibutuhkan kalau tidak ia tak akan bertahan di sini.

Bayangang uang panas menyertai mereka ketika tender. Betul, karena perusahaan ini menyangkut badan usaha lain, Tri terkadang mengikuti tander wisata. Mereka akan ditugasi memberikan pelatihan kepada pegawai atau pelajar. Ini sangat rawan uang panas, jadi Tri selalu mengingatkan untuk jujur.

Pengalaman Pahit Pengusaha Larva Ikan Bawal

Profil Pengusaha Ance Trio Marta


kisah pahit pengusaha bawal
 
Tidak mudah menjadi wirausahawan sejati selama mungkin. Pengalaman pahit pengusaha larva ikan bawal ini contohnya. Pria bernama lengkap Ance Trio Marta, yang tak menyangka akan sesusah ini menjadi pengusaha. Beruntung dia telah melalukan usaha sejak lama hingga sukses suatu ketika.

Terlahir dari keluarga berada Ance putra seorang kontraktor. Ayahnya berbisnis di Riau tetapi malah bangkrut. Hidupnya lalu berbalik 180 derajat ke titik terendah. Ayah Ance menjual semua aset untuk menutupi kebangkrutan. Dari tinggal di kota kemudian mereka sekeluarga pindah ke kampung.

Saat itu Ance masih kecil kira- kira usia anak kelas 3 SD. Di kampung, kedua orang tuanya bekerja menjadi petani menggarap kebun sepetak. Orang tuanya bekerja menanam cabe, tomat, dan lain- lain untuk bertahan hidup. Ance lalu mencoba berwirausaha ketika masuk kelas 6 Sekolah Dasar.

"Saya menjual apapun, seperti gorengan di sekolah. Saya juga jual sayuran, orang tua saya tidak tahu- menahu soal itu," pengusaha muda ini berkisah.

Jiwa Wirausaha Ditempa


Uang hasil penjualannya kemudian dibuat beli buku. Ance juga pernah menjadi kondektur angkutan. Ia pernah bekerja menjadi guru privat Bahasa Inggris juga. Ketika itu dia masih SMA, dan uangnya pun tidak seberapa, tetapi dia mengatakan bahwa semangat kerja itu lebih penting.

Berapapun uang Ance tetap berjuang berwirausaha sendiri. Walau menjalankan aneka usaha, prestasi akademinya tidak mengecewakan. Ketika SMP Ance masih juara umum, dan masuk SMA juga masih lima besar. Kondisi ekonomi keluarga Ance pun tidak mematahkan semangatnya berwirausaha juga..

Dia berhasil masuk bangku kuliah di Institut Pertanian Bogor (ITB). Untuk berhemat, Ance memilih membawa pakaian dan sepatunya masa SMA ketika berkuliah. Ance lalu memutar otak ketika telah masuk Bogor. Masuk di Semester 1 tahun 2005, dia jualan roti keliling kos- kosan mahasiswa lain.

Wirausaha merupakan darah daging Ance Trio Marta. Pengalaman pahit pengusaha larva ikan bawal ini terbukti. Ketika Sekolah Dasar, Ance sudah berjualan gorengan demi bisa membeli keperluan. Dia pernah menjual sayuran, bekerja jadi kondektur, mengajar les privat dan akhirnya jualan kue.

Tetapi tidak satupun bisnis tersebut menjadi kesuksesan Ance. Berkuliah jurusan perikanan membuat Ance berpikir. Apakah dia juga membuka usaha perikanan seperti budidaya bawal. Hanya banyak mahasiswa perikanan yang gagal, bukan satu dua dia pernah melihat sendiri temannya berguguran.

Ance yakin bahwa bisnis perikanan "seksi" untuk dicoba. Meskipun banyak mahasiswa perikanan yang akhirnya gagal. Mereka terjebak dalam kolam ikan tanpa perkembangan berarti. Tetapi Ance nekat, tidak pernah terpikir untuk berhenti, walau ya akhirnya dia gagal- gagal juga.

Ia berkali- kali gagal tetapi tetap semangat. Pandangan Ance mengenai bisnis perikanan karena satu kecelakaan. Dia mengantar teman membeli tanah pada 18 September 2007. Ance ketika berkunjung ke Desa Cibuntu Kulon, Kecamatan Ciampea Bogor, Jawa Barat, bertemu pemandangan tak biasa.

Dia menemukan bak sampah diatas kolam ikan yang tak terawat. Kemudian ia menyewa bak sampah itu seharga Rp.300.000 per- tahun. Luas kolam tesebut sekitar 500 meter persegi dan layak pakai. Dia lalu menebar lele. Gagal Ance harus kehilangan bibit lele karena mati, hingga empat kali berturutan.

Ance lalu pindah ke bak ikan lain dan berhasil. Pengusaha muda ini lalu mencari tau kenapa gagal. Ia menemukan bak air pertama terlalu dingin. Itu tidak cocok bila disebar bibit ikan lele. Kemudian dia menebar bibit ikan bawal. Ance mungkin berhasil untung dari lele, tetapi harus melewati rugi Rp.120 juta.

Pengalaman Pahit Pengusaha


Ia sempat putus asa untuk membudidayakan ikan. Sempat dia merasa putus asa karena tidak punya modal. Tahun 2008, Ance iseng membuat profil perusahaan di web direktori usaha. Tempat dimana para pengusaha memamerkan usahanya.

"Saya sebutakan saya jual aneka bibit ikan. Dari internet itu, ada yang mengontak saya, order bibit ikan," jelasnya.

Ance sempat kaget karena bukan ahlinya. Dia lalu mulai belajar alur budidaya ikan keseluruhan. Dari proses pembibitan, pembesaran, dan pemasaran, dia pelajari sendiri. Di situ, dia menemukan apa kebutuhan konsumsi ikan dan pasokan ikan.

Selama tiga bulan dirinya menjadi calo bibit ikan. Usaha yang dijalankan tersebut mendapat untung lumayan. Kemudian uangnya dia akan gunakan untuk modal budidaya sendiri. Sayangnya, sial tidak dapat ditolak, bibit ikan miliknya tersebut dicuri padahal hasil tabungan terakhir.

Dia berhasil menghasilkan bibitan ikan sendiri. Ance mungkin untung, tetapi bibit indukannya dicuri orang. "Uang saya ludes, tersisa Rp.300.000. Dari jumlah itu, yang Rp.200.000 saya berikan kepada pegawai," ucapnya. Bisnis ini menguntungkan tetapi uang modal hilang semua karena dicuri.

"Saya tak punya modal karena indukan dicuri," jelasnya kepada Pak Mantri, pegawainya. Tanpa mau menutup- nutupi Ance menawarkan kerja sama.

Ia bertanya apakah Pak Mantri mempunya sertifikat tanah. Apakah dia rela meminjamkan itu sebagai modal. Beruntung Pak Mantri setuju meminjamkan sertfikat tanah sebagai agunan. Tahun 2008, dia mendapat modal kredit 10 juta, yang lantas dipakainya untuk membeli bibit indukan.

Kemudian Ance membelikan indukan 3 kuintal, atau sekitar 300 ekor. Ia pun lebih konsentrasi untuk penyedian larva ikan bawal. Bila teman- temannya menjual ikan yang telah dewasa. Ance memilih metode lain. Target saat itu tidak muluk hanya biar untung, dan bisa mengembalikan semua utang.

Ia mengenang ketika pertama kali tiba di Bogor. Pengusaha muda ini berjualan roti seharga Rp.500 dari Rp.300. Bertahap dirinya berkembang menjadi pembudidaya ikan, hingga dikenal sebagai sosok penjual larva bawal. Banyak hutang dia hasilkan hingga menghasilkan keuntungan cukup.

Ance mampu mengembalikan hutang teman- teman. Ia menghasilkan 200.000 anakan dengan harga Rp.10 per- ekor. Kunci suksesnya adalah membuat sistem bisnis dahulu. Prinsipnya mencari tau dari konsumen yang akan membeli, lalu mencari pembudidaya yang beli larva, dan seterusnya.

Dia pahami dulu pengetahuan dari hulu ke hilir. Ance bukanlah ahli pemijahan atau pembesaran ikan. Teknik yang dikuasai belajar dari rekan pembudidaya. Dia menyatukan jaringan bisnis perikanan, dari pembibitan, pembesaran, dan penjualan. Ia menerpkan konsep inti plasma bersama para petani sekitar.

Ance mengajak mereka membesarkan dan membibit ikan. Lalu pengusaha muda inilah yang akan mengurusi penjualan. Ia lalu melebarkan sayapnya dalam bisnis pengolahan ikan. Ance membuka restoran ikan. Dia juga membuka area pelatihan di dalam bisnis wisata yang dimiliki.

Dia telah merekrut 12 orang plasma dan 25 petani larva. Dibawah bimbingannya mereka tidak hanya berproduksi. Ance juga menampung produk mereka untuk diolah. Bisnis ini nampak manis bila kamu tekuni. Pengalaman pahit pengusaha Ance, baiknya dipelajari dan memotivasi untuk tak menyerah.

Bisnis Online Real Surya Adhitama Lewat Aplikasi

Profil Pengusaha Theo Surya Adhitama


pengusaha bisnis teknologi
 
Ketika mendengar bisnis online real kita membayangkan simple. Jasa membuat website, desain logo, desain grafis atau marketing online. Tetapi bagi Theodosius Surya Adhitama lebih dari itu, bahwa bisnis online real bisa mencangkup lebih dari sekedar produk digital.

Ia menciptakan layanan via digital. Mendigitalisasi produk layanan hingga tersedia dimanapun. Theo berkisah dirinya memang cinta teknologi. Sudah menjadi passion -nya hingga menghasilkan pundi- pundi uang. Pria kelahiran Pati, 1983, keluarganya pedagang tradisional menjual kebutuhan sehari- hari.

Jadi dia memiliki pandangan bagaimana menjual barang. Soal ekonomi keluarga bisa dibilang dia berkecukupan. Theo bersekolah dengan mulus tanpa hambatan. Dia pun dibelikan barang elektronik dan teknologi terbaru.

"Peluang usaha di bidang ini cukup menjanjikan," ia melanjutkan. Padahal dulu dia hanya melihat ini sekedar hobi bukan usaha.

Berpikir Membuka Usaha


Theo sama sekali tidak berpikir membuka usaha. Sebagai mahasiswa, ia aktif berorganisasi terutama di Kelompok Pecinta Elektro (KPE). Ia menekuni embedded system. Sebelum dia mulai berpikir buat membuka usaha. Ia memilih fokus mengerjakan skripsi agar kuliahnya selesai.

Dia juga bekerja menjadi manajer promosi di Imprium factory outlet, Bandung. Bekerja sementara di sana, tetapi dia belajar banyak dari sang bos, Perry Tristianto. Inilah modalnya membangun kerajaan bisnis sendiri. Dia mulai memandang teknologi sebagai prospek bisnis masa depan.

Hasratnya mengotomatis layananan dan produk lewat teknologi. Dunia membutuhkan teknologi kita untuk berjalan. Dia yang menekuini embedded system, meyakini ini akan membawa perubahan baru. Bayangkan kamu tengah asik menikmati minuman, sementara mesin bekerja otomatis sendiri tanpa distir.

Seperti mesin cuci yang bisa mencuci dan bilas sendiri. Kamu cukup memasukan sabun cuci diterjen ke dalam. Contoh lain, ketika kamu ingin mengambil uang cepat, tak perlu mengantre tetapi langsung dari mesin ATM. Inilah bayangan pengusaha muda Theo, yang kala itu berada di tahun 2009- 2010.

Zaman dimana teknologi belum secanggih sekarang. Theo telah menginisiasi bisnis teknologi berupa aplikasi. Dia bersama rekannya, Joseph Stephanus Aditamaputra, membuka usaha yang bernama CV. Newtronic Solution bermodal Rp.50 juta.

Bisnis ini menjanjikan karena dalam tiga bulan omzetnya berlipat. Mereka menghasilkan miliaran rupiah, tiga sampai lima miliar pertahun dan untung bersih Rp.700- 1,2 miliar. Theo lulus Fakultas Teknik Elektro ITB tahun 2006, begitu lulus sudah berpenghasilan dan tak perlu melamar pekerjaan.

Ia berkisah tak mudah berbisnis ini. Tantangan pertama datang berupa pesanan sistem antrian untuk tiga bulan. Dalam kurun waktu tersebut, dia membuat riset desain, dan melalukan uji coba. Sebuah tantangan besar baginya untuk memenuhi kebutuhan klien dalam kurun waktu.

Kegagalan Usaha Sudah Biasa


Dia pernah tidak dibayar oleh klien yang ditangani. Proyek- proyek awal dianggap paling susah ya karena tidak berpengalamanan. Dalam 3 minggu hingga deadline, bahkan Theo dan kawannya belum selesai hingga memindahkan pesanan. Dia melempar pesanan tersebut ke perusahaan yang lain.

Ini memincu dirinya belajar lebih keras. Theo ingin produk pesanan selesai tepat waktu. Senyum dari klien dianggap nomor satu. Ia pun menagih menggunakan cara baik- baik. Harus menggunakan sistem kekeluargaan. Lalu CV. Newtronic Solution kembali membuat produk sistem antrean terbaik.

Theo memastikan pemimpin perusahaan bisa mengawasi pegawai. Ia juga membuat megatron untuk beriklan. Mentalnya yang ulet mampu memenuhi kebutuhan klien. Apa gunanya pendidikan tinggi jika tidak diimbangi kerja keras dan ulet.

"Sebagai pengusaha kita menjadi pemimpin diri kita sendiri. Itu lebih susah dari memipin orang lain bekerja," sarannya.

Kepada pengusaha muda sekarang harus menggeluti serius. Kuasai lah bidang yang kamu mulai, geluti bidang yang kamu senangi dan segmentasikan. Etos kerja harus dipupuk semenjak dini, kamu harus memiliki sifat melayani disamping selalu berinovasi.

Orang tua mengajari Theo untuk jujur dalam berbisnis. Dukungan mereka pada tahun- tahun awal begitu penting. Theo sempat jatuh karena kurang termotivasi. Pengusaha muda menurutnya harus memiliki sosok mentor. Baginya Perry Tristianto, merupakan mentor yang memotivasinya membuka usaha.

Ia menyadari bahwa bahwa teknisi kita masih lemah. Susah baginya mencari mereka yang kompetern di bidang ini. Teknologi selalu berkembang pesat melebihi peningkatan keahlian. Maka ia tak ragu mengajak kerja sama lembaga pendidikan.

"Buat saya, lebih mudah mencari bahan baku material dibanding sumber daya manusia," jelasnya.

Beberapa bahan baku memang masih impor. Tetapi Theo mengatakan masih bisa dipenuhi dari dalam negeri. Masalahnya ketika dia harus merekrut orang yang mampu, bagaimana mereka bisa menaruh teknologi tersebut dalam terapan.

Walau banyak orang berpikir DNA Theo merupakan pedagang. Kedua orang tuanya sudah mewarisi kemampuan itu. Penelitian lebih lanjut membuktikan tidak ada hubungan sama sekali. Wirausaha berasal dari prilaku keseharian, bagaimana kita bisa membangun koneksi dengan siapapun nanti.

Pendiri Sekolah Stella Maris STEMA Berwirausaha

Profil Pengusaha Pierre Sanjaya 


pendiri stella maris

Patut dicontoh pendiri sekolah Setella Maris, atau STEMA yang mengajarkan berwirausaha. Bahwa apapun bisnis kamu lakukan benar. Bisnis pendidikan masuk dari satu kategori yang menjanjikan di Indonesia, salah satu pengusaha muda yang berhasil adalah Pierre Sanjaya.

Memulai bisnis pendidikan bukan tanpa ilmu bisnis. Dia bukanlah jago sampai mendirikan sekolah bertaraf internasional. Semuanya berawal keprihatinan ibunya, yang prihatin akan pendidikan anak- anak yatim, ibu Pierre lah yang membuka sekolah cikal- bakal STEMA itu.

Cita- cita mulia ibunya berhasil membawa nama Stella Maris bersinar.  Apa itu sekolah Stella Maris? Stella Maris merupakan jaringan sekolah yang mengelola TK (taman kanak- kanak) hingga sekolah menengah atas (SMA).

Cikal bakal Stella Maris bermula lembaga yatim piatu, Padang Gembala. Sekarang, Stella Maris dibawah kepemimpinan Pierre, telah memiliki dua sekolah sendiri hingga dua sekolah waralaba. Di tahun 2010 saja, sekolah yang dikembangkan Pierre menghasilkan omset hingga Rp.100 miliar.

Bisnis pendidikan


Seperti Purdi E Chandra, nama Pierre Sanjaya memang menempati tempat khusu. Pasalnya dia merupakan pengembang bisnis pendidikan sangat jarang. Dimana dia juga mewaralabakan sekolahnya tersebut. Bukan tanpa halangan jalannya, ia harus berjuang keras yang semuanya dari nol besar.

Alam yang mengajarkan dan menempa bakat Pierre. Dia diharuskan tetap fokus di pendidikan tetap melakukan bisnis di sela- sela kesehariannya. Ayah dan ibu Pierre adalah orang yang mementingkan pendidikan, terutama ibunya pelopor Stella Maris.

Jadi ibu selalu mengingatkan Pierre untuk pendidikan dulu. Biar urusan mengelola sekolah menjadi urusannya. Tetapi Pierre tak mau tinggal diam dan berpangku tangan. Dari panti asuhan yang bernama Anak Gembala, sang ibu membangun Stella Maris di kawasan Serpong sekitar tahun 1995.

Ibu Pierre mulai dengan dua ruko; yang satu untuk umum, satu untuk anak yatim. Fokusnya kala itu hanya pendidikan TK dan SD belum menyangkup tingkatan lain. Tahun itu Pierre masih bersekolah SMA, dan berniat untuk membantu Ibunya.

Dia pun diserahi tanggung jawab membagi- bagikan brosur. Pierre juga memasangkan spanduk Stella Maris di pasar sampai pusat perbelanjaan.

"Selama enam bulan kami berpromosi secara tradisional. Syukur, responnya cukup bagus. Kami mendapatkan 200 murid," kenang pengusaha muda ini.

Setelah itu, dua ruko berkembang menjadi empat ruko, bahkan sampai delapan ruko di 1999. Sekolah Stelle Maris lalu merambah SMA dan SMP. Disaat kuliah akuntansi di Universitas Bina Nusantara mengambil jurusan akuntansi, Pierre diserahi tanggung jawab keuangan dan administrasi di Stella Maris.

"Saya padatkan kulai menjadi empat hari seminggu supaya bisa mengurus Stella Maris,"ujarnya.

Anak kedua dari dua bersaudara ini ditugaskan membenahi sistem informasi agar lebih mudah dan cepat pelaporannya. Lulus kuliah di 2001, ia memilih bekerja menjadi programer sekaligus pengurus Stella Maris.

Dia melanjutkan kuliah S-2 di Universitas Pelita Harapan mengambil jurusan Teknologi Pendidikan. Di bank Lippo, Pierre hanya bertahan satu tahun saja, kemudian pindah di PT. Rimba Dana sebagai pegawai system analysis selama satu tahun. Setelah itu sisinya ia konsentrai ke Stella Maris total.

Fokus Berwirausaha Sendiri


Selain sekolah formal di Stella Maris, ia juga punya bisnis pendidikan karakter, pendidikan karir, dan bisnis konsultan pendidikan. Namanya Asia One Consulting dan Success Academy Indonesia, yang telah telah membantu 20 sekolah di 2010 -an, yang diluar pengelolaan Stellah Maris.

Pierre pendiri Stella Maris terus berjuang. Di tahun 2004, sekolah Stella menggunakan sertifikat ISO 90001:2000. Ia melakukan studi banding hingga Singapura dan Australia. Pierre menggunakan sistem International Baccalaureate (IB) serta kurikulum Cambridge yang menitik beratkan kemampuan akademik.

Sekolah Stella sudah memiliki sekitar lebih dari 2.500 siswa. Pierre sukses dengan sekolahnya siap melakukan ekspansi. Dia mencoba masuk ke raah sekolah internasional. Bukan perkara mudah, ada dua hal mengganjal bisnisnya, pertama adalah mutu pengajar serta kurikulum.

Pierre melakukan perjalanan studi ke luar negeri sebagai solusi. Selain itu, ia mencoba mengajukan kredit pengembangan. Bukan pengusaha kalau tanpa masalah, inilah ujian lain yang dihadapi Pierre ketika telah berkembang pesat/

"Untuk membangun sekolah ini, kami membutuhkan modal puluhan miliar, aliran pendapatan tentunya tidak akan mencukupi," ujarnya, menceritakan proses panjang bisnis miliaran rupiah. Dia mencoba pinjam ke bank tapi ditolak.

Dua bank yang ditemuinya menolak proposal Pierre. Dia mulai belajar lagi, mencoba mengajukan kedua kalinya. Pierre belajar macam bisnis diminati oleh bank. Hasilnya, dia mendapatkan modal dari bank swasta, itu berkat melihat arus kas lancar dan jumlah murid terus bertambah.

Ia juga menemukan kendala lagi, setelah uang masuk, dia harus menghadapi warga karena lahan yang dibangun di kawasan Summarcon Serpong.

"Hanya karena kesalah pahaman, mereka mendemo. Tapi syukur, bisa diatasi." ucap Pierre.

Kesuksesan membuat beberapa berharap mewaralaba sekolah Stella Maris. Di 2004, pendiri Stella Maris merasa siap menerima resiko waralaba. Dia menargetkan 5 cabang dari waralaba. Salain pendidikan, dia juga memiliki bisnis jasa leasing sepeda motor besar, dan penjualan villa di Bali.

Apa Resiko Menjadi Pengusaha Bersama Brian

Profil Pengusaha Brian Arfi Faridh


resiko jadi pengusaha
 
Nama lengkap Brian Arfi Faridh, kelahiran 31 Mei 1986, Surabaya. Apa resiko menjadi pengusaha maka tanyalah dia. Ketika usianya 18tahun, Brian sudah berjualan parfum di depan kampus Institut Teknologi Sepuluh September (ITS).

Mahasiswa baru itu tidak malu ketika bertemu teman sefakultas. Mereka terkadang mencandaai Brian tetapi cuekin saja. Brian juga pernah berjualan jus pinggri jalan. Kalian tau satu- satunya yang bisa membuat Brian sedih: Ketika jualannya tidak laku, maka dia tidak akan mendapatkan keuntungan.

Dia orangnya tidak suka kekalahan. Maka begitu dirasa tidak berkembang dan terums merugi; Brian ganti profesi. Ia akan langsung mengganti jualan lain. "Sedih sih kalau gagal karena saya orangnya tidak suka kekalahan," ucapnya.

Pengusaha muda yang akan langsung bangkit ketika gagal. Kepribadiannya ialah pekerja keras dan konsisten. Tetapi Brian tidak suka pekerjaan ruti monoton. Mangkanya menjadi pengusaha dianggap solusi, pasalnya dia akan menemukan hal baru ketika menjajakan jualannya.

Kunci Sukses Konsisten


Meskipun dia berkali- kali bangkrut jualana. Dia sama sekali tidak menyerah. Dalam pikirannya tak berminat mencari pekerjaan. Brian juga tak pernah berpikir akan lulus kuliah. Menggali- gali ide baru berjualan merupakan passion -nya. Dia orang yang memiliki pandangan luas ke masa depan.

Ia juga berani menikah muda. Usianya 18 tahun sudah memiliki tanggungan, padahal dia pun belum selesai kuliah. "Kalau mau usaha tidak perlu mikir modal. Yang penting tekad kuat. Gila dan nekat," ua menjelaskan. Dia lalu membuka usaha toko online berbekal website buatan sendiri.

Brian membuka toko online baju muslimah. Ia juga membuka bisnis web developer. Cukup bermodal kemampuan istrinya sendiri, yang jago programer. Itu cukup bermodal sebuah komputer, printer, dan koneksi internet. Setelah itu dia langsung meluncurkan bisnis- bisnis tersebut ke khalayak.

"Modal lain, siap dimaki- maki konsumen, kerja keras dan harus memiliki mental juara," lanjutnya.

Target akhir 2010 bisnisnya semua berjalan lancar sesuai target. Agar dia bisa membawa istri dan anaknya pindah ke Jakarta. Dunia online Indonesia masih tumbuh terutama di Jakarta. Menurutnya disanalah ada peluang besar. Ia akan menyiapkan tenaga- tenaga ahli dibidangnya tersebut.

Menjadi pengusaha bukanlah mudah bagi orang- orang. Harus siap gagal lalu bangkit kembali untuk berjualan. Tidak semua orang bisa bertahan menjadi wirausaha terus. "Pengusaha harus siap bekerja keras, tidak gampang menyerah, harus memiliki mental juara dan siap dihina orang," jelasn Brian.

Menembus ajang Wirausaha Muda Mandiri dan menang. Bukan berarti dia selamanya menjadi sosok juara. Dalam sebuah kesempatan ketika membuka stan, Brian memajang piala ajang Wirausaha Muda Mandiri dan profil perusahaan. Dia pemilik PT. Dhezign Online Solution dan tidak selalu juara.

Ada seorang wanita bertanya- tanya mengenai perusahaan. Dia memuji Brian menang ajang besar dari Bank Mandiri. Bukannya menyombong, malahan dia mengakui data- datang yang terpajang itu salah. Loh, kok pemenang salah, ternyata ia mengakui data yang disampaikan tidak akurat tepat.

Tahun 2008 dia tercatat untung tetapi sebenarnya merugi bukan untung. "Loh, kok pemenang WMM bisnisnya merugi?" Brian menjawab, "Loh, Bu, namanya pengusaha harus berani merugi. Tahun lalu, kami untung dua kali lipat. Tapi karena kami melakukan ekspansi, kami merugi," jelasnya.

Apa sumber pendapatan Brian hingga menang ajang. Ia mendapatkan dari bisnis pakaian muslim dan konsultan online. Bisnis IT -nya mencangkup menolong orang mempromosikan bisnis. Biaya yang ditawarkan Rp.20 juta untuk membuat web, tapi Brian memberi garansi uang kembali bila tidak puas.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba