Marketing Jualan Kambing Lewat Salon Gobing

 Pengusaha Sukses Margo Santoso


jualankambing.png
 
Marketing jualan kambing lewat salon. Ini ide bisnis yang berhubungan dengan hari raya Idul Adha. Kalau jualan kambing atau sapi sudah biasa. Tetapi pengusaha ini menciptakan marketing jualan kambing jenius. Ide bisnis yang layak kamu ikuti ketika masuk Idul Adha nanti.

Bagaimana cara memanjakan si hewan kurban sebelum pergi ke surga nanti. Kanapa kita tak sedikit memanjakan mereka toh pahalannya buat kita sendiri. Dibanding cuma beli beberapa hari sebelum berkurban, disembelih, kemudian dipotong- potong. 
 

Marketing Jualan

 
Atau kita bisa biarkan mereka untuk beberapa hari menikmati layanan premium. Di saat Hari Raya Kurban, maka para penjual akan menawarkan layanan terbaik. Di Semarang ada seorang pengusaha bernama Margo Santoso menawarkan layanan berbeda. 
 
 
Salon hewan kurban bernama Gobing, yang mana fokus merawat si kambing. Dari perawatan bulunya dibersihkan layaknya rambut manusia, lalu dimandikan layaknya spa, hingga disisir rapi hingga tampak elok ketika dikurbankan.

Pria 36 tahun ini membuka salonnya di Jalan Arjuna Raya No. 61 RT 5/2, Pandrikan Kidul, Semarang Jawa Tengah, dimana sudah 14 tahun menggeluti bisnis ini. Gobing sendiri merupakan satu singkatan dari Margo Kambing. 
 
"Kalau tidak untuk Idul Adha, biasanya untuk Aqiqah," kata Pak Margo. Disana ada satu tempat mandi besar buat memandikan kambing- kambing. Dengan senang hati dirinya mengajak pewarta dari Metro melihat ke dalam.

Sejak 2009, bisnisnya terbilang cukup sukses, mampu melayani 25 ekor kambing di salonnya. Meski begitu tak mudah memandikan kambing loh. Ketika diliput Margo tengah mengambil satu kambing dari kandang yang terbuka. Meski melawan ketika sudah diguyur air. 
 
Kambing itu jadi tenang dan tak berontak lagi. Ia pun lantas mengambil sabun dan sampo.

"Sabun dan samponya biasa. Memang agak susah kalo kambingnya berontak," ujar Margo.

Unik karena salon Gobing tak memungut biaya. Alias gratis, tentunya buat kamu yang membeli kambing dari Margo. Air sampai samponya merupakan cara uniknya memasarkan bisnisnya. 
 
Tidak cuma ada salon juga ada layanan pemeriksaan kesehatan langkap, pemeriksaan mata, kontrol keberisahan telinga, dan kuku. Dan kuku jika tak dibersihkan akan menimbulkan kutu. Nah, si kutu itu menjalar ke telinga membuat bawah telinga gatal. 
 
Jikalau cuaca panas dan tidak disalonkan itu bisa membuat menyebar sampai ke tubuh. Alhasil kambing jadi penyakitan dan tak mudah gemuk. Hasil akhirnya apalagi kalau bukan tak layak dikurbankan. 
 
Hal lain dilakukan oleh Margo adalah pemberian nutrisi lengkap, berupa sentrat, tetes tebu, garam, vitamin, dan obat cacing. Lagi- lagi ia menkankan tidak ada biaya tambahan! Ia akan tetap menjual kambing serhaga Rp.2 juta- Rp.4 juta. 
 
Bahkan pihaknya mau menjamin gratis ongkos buat mengirim kambingnya. Untuk memasarkan konsep bisnisnya ternyata tak butuh biaya mahal. Cukup lewat konsep mulut- ke mulut. Daya tarik bisnisnya ada pada salonnya. 
 
Hasilnya ialah penjualan mampu capai 250- 300 ekor kambing di Musim Haji. Pembelian juga berfariasi dari perusahaan atau perorangan.

Pengusaha Mancit Bisa Bikin Duit

Profil Pengusaha Ismanto


pengusahamancit.png

Pengusaha mancit atau "pengusaha tikus" begitu Kompas memberitakan. Memang bagi kebanyakan orang tikus itu menjijikan. Tak jarang binatang pengerat ini menjadi sasaran sandal. Apalagi para petani pasti benci sekali namanya tikus yang perusak tanaman. 
 
Beda orang, beda kisah Ismanto, pria 38 tahun yang sengaja menternakan tikus. Ia buka sekedar mengembangkan tikus biasa. Tapi ini tikus putih atau mancit (Mus Musculus), yang termasuk dalam keluarga rondentia.
 
Mungkin buat kamu sedikit membingungkan. Begitu juga penulis tak begitu paham arti istilah- istilah biologi tersebut. Hanya saja warga Jalan Merbabu, Kampung Jambon Tempel Asri, Kelurahan Cacahan, Kota Magelang ini, tau betul bahwa tikus putih menghasilkan duit. 
 

Penjual Tikus

 
 
Masih keluarga dekat hamster, gerbil, tupai dan hewan pengerat lainnya, jika diperhatikan baik- baik tikus putih tak terlalu buruk.

Semula usahanya cuma hobi belaka. Tanpa ada embel- embel niatan menjual tikus- tikus putihnya. Karena dari keseharian Ismanto sudah tercukupi dari bisnis keluarganya. Sebuah bisnis bakmi warisan orang tua dia rasa cukup. Dari sisa makanan yang bisa jadi mubazir. 
 
Dibelikanlah beberapa ekor tikus, diberinya makan dari sisa jualannya. Tepatnya di tahun 2002, Ismanto membeli beberapa ekor tikus putih dan hitam seharga Rp.10.000.

"Sayang sekali sisa makanan itu kalau dibuang begitu saja. Biasanya memang untuk pakan ayam, tetapi masih sisa," ujar Ismanto.

Entah datang dari mana ide tentang tikus putih tersebut. Hanya berpikir bagaimana kalau itu dijadikan pakan tikus saja. Tikus tersebut dimanfaatkan buat menghabiskan makanan sisa. Selain buat tikus, ternyata selepas tikus itu kenyang, mereka dimakankan ke ular- ular peliharaannya. 
 
Eh ternyata bukan cuma tikus, Ismanto juga memelihara kucing, ayam, burung, serta aneka reptil. Setahun beternak tikus sendiri buat sendiri. Ternyata kebutuhan akan mancit oleh sesama pecinta reptil ikut datang. Mereka menghampiri Ismanto memintanya menjual. 
 
Selain dari mereka ada pula permintaan dari para mahasiswa, yang katanya buat media penelitian. Sejak saat itulah dirinya mulai berpikir menyeriusi ini sebagai bisnis baru. Beternak tikus menjadi alternatif bisnis lainnya. Dalam perjalanan ia mulai berani kawin silangkan tikus.

Hasil kawin silang beberapa tikus berbeda ternyata menganggumkan. Ini menakjubkan baginya karena lahir berbagai tikus yang berwarna unik. "Ada warna emas, perak, belang-belang, bentuknya lebih lucu dan menggemaskan," jelasnya. Ayah dari tiga orang anak ini merasa beruntung karena istrinya, Sri Lestari (37), beserta anaknya ternyata tak takut tikus.

Mereka malah mendukung bisnis baru ayahnya. Pria gondrong yang ternyata alumnus STM Penerbangan ini. Memang melenceng jauhnya dari apa yang ia jalani. Dari penjual bakmi menjadi pengusaha mancit. Berkat kejeliannya mampu membaca peluang. Bisnis ini juga tak terlalu mahal loh. 
 
Tikus mancit itu suka biji- bijian dan pelet makanan ayam. Untuk kandangnya ia perhatikan sangat dibersihkan sekali seminggu. Alasnya cukup memanfaatkan sekam padi. Pelanggan datang baik dari pecinta reptil, mahasiswa, hingga masyarakat umum. 
 
Soal cara marketingnya, Ismanto tak spesifik caranya cuma lewat sosial media, ada website, Facebook, dan lain- lain. Ketua dari Komunitas Reptil Magelang ini menyebut untungnya lumayan. Dia bahkan mampu mengirim ke daerah lain di Pulau Jawa. 
 
Tiap bulannya ada saja pesanana. Padahal awalnya cuma sebagai pemenuh hasrat hobinya. Kini, tikus mancit jualannya itu bisa dihargai per- ekornya Rp.3000, untuk warna unik hasil kawin silang bisa Rp.25.000- Rp.100.000.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba