Mau Usaha Cendol Kisah Pengusaha Tatang Kusbina

Profil Pengusaha Tatang Kusbina

 

cendoldesa.png
 

Mau usaha cendol simak kisah pengusaha berikut. Ini Tatang Kusbina merupakan pemilik bisnis Cendol Desa. Usaha yang dirintis semenjak 2009, dan telah memiliki 10 kios mini atau gerobak. Cendol Desa pun mantap menjajakan bisnis lewat waralaba.


Bila cendol lain sangat bergantung kepada lahan atau lapak jalan. Maka Cendol Desa memberikan konsep gerobak. Usaha waralaba dengan biaya Rp. 3,9 juta sampai Rp. 9,5 juta. Beda keduanya terletak pada kelengkapan varian rasa, besar kecil gerobak dan material.


Minuman bervariasi rasa namun tetap cendol. Tatang menjual Rp. 3.500- 4000 pergelas. Bila lelah kamu tinggal menumpang di depan toko. Gerobak akan memudahkan tanpa harus membangun tenda. Mau usaha cendol tanpa franchise khusus Jabodetabek.


"Kompetitor tetap ada, karena rasa dasarnya cendol tidak jauh beda," ucapnya. Memang prospek usaha cendol selalu menggiurkan pengusaha pemula. Dikisahkan permulaan Tatang menjadi pengusaha. Dia berpikir kenapa tidak membuka usaha.


Dia ingin membuka lapangan pekerjaan. Daripada pusing memikirkan tuntutan hidup makin berat. Dia mau membuka usaha sembari bekerja. Tatang berasal dari Jawa Barat dan cendol khas disana. Orang- orang juga sudah mengenalnya. Minuman tradisional ini sangat terbuka dinikmati masyarakat umum.


Cendol sudah mendarah daging menjadi minuman masyarakat. Ia juga merasakan usaha cendol lebih mudah diaplikasikan. Prospek cendol aman karena memang diminati. Orang seperti tidak bosen minum cendol. "Selain itu, modal enggak terlalu mahal, jadi bisa ngajak banyak orang berbisnis," imbuhnya.


Tatang belajar mengolah cendol dari penjual jalanan. Pengusaha ini bermodal browsing racikan cendol yang digemari. Ada proses penelitian buat mendapatkan cendol bercita rasa luar biasa. Kebetulan, sang istri juga pintar membuat cendol, dan kata orang cendol buatanya khas Jawa Barat.

Kerajinan Limbah Kaca Ide Bisnis Menjanjikan

Profil Pengusaha Suyanto

 
 
usahalimbah.png
 
Ide bisnis menjanjikan tidak harus kuliner. Kerajinan limbah kaca ternyata menghasilkan. Pengusha ini mengolah kaca limbah menjadi produk. Pria asal Yogyakarta, Suyanto, mengaku memang tertarik usaha pengolahan limbah non- organik ataupun organi.
 
Pilihannya jatuh kepada mendaur ulang limbah kaca. Bakat seninya sangat membantu usaha tersebut. Ia sudah 3 tahun menjalankan. Akhirnya dia menghasilkan jutaan rupiah berkat limbah kaca. Satu buah hiasan bervariasi sampai Rp.1 juta.

"Saya mengolah limbah anorganik dan organik berupa furniture (bekas), limbah rumah tangga, dan toko," ujar Suyanto.
 

Ide Bisnis Menjanjikan


Sebelumnya ia bekerja di satu perusahaan ekspor impor dan aksesoris. Setelah merasa cukup lama pengalaman bekerja selama 17 tahun; ia memutuskan berwiraswasta.

"Saya lebih tertarik untuk berwirausaha untuk mengembangkan bakat saya," kata pria lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini.

Modal bisnis Rp15 juta cuma cukup digunakan untuk membeli mesin pemotong kaca, mesin ampelas, dan juga mesin pemotong kayu, ia kemudian membuat kerajinan hiasan mozaik dari kaca, cangkang, telur dan tempurung kelapa. Suyanto dibantu oleh dua orang karyawan saat itu.

Dia mencoba membuat vas bunga, nampan, lalu membuat kaligrafi, alas gelas, dan tempat tisu. Fokus usaha kecilnya ialah hiasan fungsional yang biasa digunakan di rumah. 
 
Sarjana geologi ini mengatakan lebih lanjut, bahwa tantangan yang dirinya hadapi dalam berbisnis ini bahwa kerajinan tak bisa diproduksi massal. Setiap produknya merupakan buatan tangan (hand made) dan membutuhkan cita rasa untuk menghasilkannya. Itu juga berarti harga jualnya tinggi.

"Ini adalah produk ini hand made, ada feeling dalam pembuatannya. Tidak seperti produk pabrik, ini tidak bisa dipesan banyak," kata Suyanto.

Pembuatannya juga cukup rumit, memulai dengan memotong kaca sesuai pola yang diinginkan. Selanjutnya kaca itu dihaluskan bagian sisinya agar tidak terlalu tajam. Kemudian Suyanto menempelkan kaca itu pada media kayu dengan lem. 
 
Tahap penempelan pecahan kaca inilah yang memakan waktu lebih, setelah kering barulah kaca itu diberi pewarna kaca.

"Penempelan kaca tidak bisa sehari kering," kata dia

Dia mengaku mampu menghasilkan hiasan yang menarik, dimana harganya sangat bervariasi. Ia menjelaskan satu produk bisa saja terjual Rp15 ribu hingga Rp1 juta. "Kalau yang Rp15 ribu itu seperti tatakan gelas. Kalau yang Rp1 juta seperti guci," kata Suyanto.

Soal omzet? Ia tak mau mengungkapkannya.

Menurutnya ia tidak berorientas ekspor meski produknya diminati oleh konsumen asing. Suyanto memang lebih tertarik membuat produknya mengakar di pasar di dalam negeri, namun bisa dibeli oleh peminat dari manca negara juga. 
 
Dia tak membatasi hal itu tapi tetap fokusnya tidak mencari pembeli dari luar negeri. "Ada yang pesan orang Jerman, Spanyol, Meksiko, dan Nikaragua," kata dia.

Suyanto pun mempersilakan bagi peminat kreasinya untuk mengunjungi bengkel dan outlet-nya di Sanggar Kerajinan Kaca Surya Kencana Mozzaic yang berlokasi di Semoyan, Singosaren, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Apabila tidak sempat berkunjung, untuk komunikasi mengenai produk dan pemesanan dia bisa diemail melalui zakaseluler@yahoo.com.

Kisah Startup Berbisnis di Masa Pandemi Corona

Profil Pengusaha Agus Suhendar

 

startupmypin.png
 

Berbisnis di masa pandemi Corona tidak mudah. Namun, sesuai kisah startup berikut, bisa menjadi suatu awalan yang baik ketika menjajal akan sesuatu. Masa- masa awal usaha memang diawali keringat dan darah. Kita berkorban dan di masa pandemi Corona akan dicepatkan.


Artinya kamu akan melewati masa sulit tersebut lebih awal. Bahkan mungkin kamu malah akan mendapat keuntungan. Seperti Agus Suhendar yang malah mendapatkan banyak pesanan. Kisah startup hantarannya mampu menerbas sulitnya masa pandemi.


Bisnis Menolong

 

Berawal dia adalah karyawan tidak digaji dan dirumahkan. Pada awal Juni 2020, Agus harus berhentik kerja dari perusahaan retail Bali, ya karena pemasukan perusahaan menurun drastis. Begitu keluar ia lalu menjajal usaha hantar- menghantar barang belanjaan.


Berbekal ongkos kirim murah dia mengendarai motornya. Pengusaha asal Bogor tersebut mendirikan aplikasi MyPin. Dimana orang akan memesan makanan atau barang lewat online. Ini sangat membantu pengusaha UMKM mitra.


Ia memantu tidak kurang 300 mitra UMKM se- Bali, meliputi wilayah Badung, Jimbaran, Nusa Dua, Denpasar, Tabanan, dan Gianyar. Ongkos kirim diambil Agus murah cuma Rp.1.250. Ongkos kirim murah juga akan membantu UMKM mitar berkembang dan tumbuh.

 

Agus melihat peluang memanfaatkan masa sulit pandemi. "Saya melihat ini sebagai peluang untuk membangun jasa kirim dengan ongkos kirim yang ekonomis," ujarnya. Agus berharap akan ikut buat membantu pelaku usaha kecil.

 

Agus tidak fokus buat meraup keuntungan semata. Di masa pandemi Covid 19, usaha UMKM banyak sekali merumahkan karyawanya di Bali. Bahkan mereka yang bekerja di hotel, restoran, travel agent, dan tempat wisata, macam dirinya harus rela berhenti tanpa dibayar.


"Perubahan pola konsumsi masyarakat untuk menjaga stok makanan di rumah, dan akan berkorelasi dengan kebutuhan makanan olahan (pre- cook) seperti makanan siap saji, dan makanan beku," jelasnya lagi.


Jujur pengusaha berikut menyadari akan aspek ongkos kirim. Makin murah ongkos kirim akan ikut membantu pengusaha mitra. Dia menyadari ongkos kirimnya akan membantu UMKM Bali. Agus lalu berharap akan banyak orang merintis usaha dikalan pandemi.


Pengusaha harus mampu melihat celah peluang dalam masalah. Ia memiliki 10 mitra driver berstatus karyawan MYPIN. Mereka juga merupakan korban pandemi dan unpaid leave. Agus berharap bahwa wisata akan kembali normal. Pariwisata akan dibuka dan akan banyak pengusaha UMKM muncul.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba