Kemasan Gelas Kertas Omzet Uang Ratusan Miliar

Profil Pengusaha Catur Jatiwaluyo


 
Krisis ekonomi 2008 menjadi titik balik menjadi pengusaha. Waktu itu dia sebenarnya sudah menduduki jabatan enak di Detpack. Perusahaan kemasan asal Australia, yang mempercayainya jadi country manager. Ceritanya semua karena rajukan dua temanya, yaitu Dillion Sutandar dan Philip Sumali. Mereka manawari Catur Jatiwaluyo kesempatan.

Mereka mengajak Catur berbisnis bersama. Dimana keduanya tengah mengalami goyah di bisnisnya karena krisis. Mereka kehilangan banyak pesanan, baik pasar impor ataupun ekspor. Kebetulan usaha keduanya itu sama dengan kebisaan Catur. Mereka adalah pengusaha kemasan tetapi tidak jalan.

"Teman saya lagi kebingungan, sebab dia punya aset tetapi tidak jalan," tuturnya. Catur merespon keberatan karena sudah merasa nyaman. Namun, dua temannya tetap membujuk mengajak usaha bersama, dimana dia diajak ikut patungan berbisnis.

Cukup intens keduanya mengajak Catur berbisnis bersama. Alhasil, dia pun luluh menuruti kemauan mereka ikut nyemplung berbisnis. Sajak 2011, ia resmi mengundurkan diri, lantas mendirikan perusahaan bernama PT. Peperocks. Uniknya pelanggan mereka pertama datang dari kenalan Catur. Jadilah mereka yang seperti teman sendiri menguatkan Catur.

Pertama kali masuk, Catur ikut urunan senilai Rp.200 juta, dimana uangnya digunakan untuk membeli bahan baku. Untuk mesin produksi memanfaatkan mesin sang teman. Mesin yang kebetulan sudah vakum bekerja sejak 1998. Komposisi saham waktu yakni 30% saham miliknya. Sementara sisanya milik kedua temannya itu.

Bisnis bersama

Modal dikeluarkan Catur terbilang cukup banyak. Mulai dari modal uang sampai jaringan pelanggan buat usaha baru mereka. Tetapi lain cerita kalau soal impor, nah, inilah mungkin kelemahan Catur yakni di bidang ekspor. Mungkin dia punya banyak jaringan di lokal tetapi tidak soal luar negeri. Ini menjadi kendala diawal tetapi bisa terselesaikan berkat Dillon.

Dillon sendiri pernah bekerja di Detpack sama halnya Catur. Bedanya, dia kebagian menangani soal pasar ekspor, ketika Catur memang tidak memiliki jaringan pelanggan di luar. "Saya yang network -nya ada di lokal," jelasnya. Memang diawal berdiri memang menggarap pasar lokal. Alasan utamanya karena sedang terjadi krisis ekonomi.

Tetapi berjalannya waktu, ada saatnya, perusahaan mereka pasti mengerjakan pasaran internasional. Catur sendiri cukup mengalami kesulitan ketika menangani pemasaran. Tetapi berkat fokus di mengerjakan pasar lokal, perusahaan dibawah kerja tim meraup pelanggan industri kemasan di dalam dan luar negeri. Ia tidak menampik bahwa mereka cepat berkembang.

"Saya ini sudah 11 tahun di industri yang sama, sebenarnya teman- teman sendiri yang bantuin," jelas Catur merendah.

Pemasaran memang berhasil tetapi tidak mudah. Dia harus mampu berkeliling ke daerah- daerah. Ia rela menemui relasi bisnis satu per- satu. Istilahnya mungkin menjemput bola. Tahun 2012, ia bahkan belum bisa menembus pasar Surabaya, padahal disana lah pintu gerbang masuk ke pasar Jawa Timur.

Pemasaran lokal dikencarkan melalui aneka cara. Mulai cara menjemput bola ketika diperlukan. Dia agak sulit membangun kepercayaan pelanggan. Namun, dirinya pantang menyerah mendekati mereka, alhasil dia sukses melakukan branding. Bukti nyata lambat laun daerah- daerah mulai mempercayai perusahaan. Salah satnya datang dari Surabaya, Jawa Timur.

Padahal, seperti diceritakan diatas, tahun 2012 tidak ada sama sekali penjualan produk Paperocks. Hingga, ia menemukan perusahaan asal Surabaya tersebut. Di tahun 2013 bahkan penjualan bisa melonjak ketika ia telah masuk ke pasar lebih dalam. "Di 2013, penjualan setahun hampir Rp.2 miliar," tuturnya.

Marketing sederhana


Cara terbaik menurutnya itu sederhana. Dia membawa sampel kemasan ke pelanggan baru mereka. Cuma saja, sebagai catatan, perusahaan sebelumnya telah berhasil menggaet perusahaan besar. Ia penuh percaya diri menyodorkan contoh kemasan Burger King dan Nestle. Nah, disetiap sample tersebut, ia menunjukan inilah buatan perusahaan Paperocks.

Dengan melihat logo mereka didepan mata, biasanya calon pelanggan akan langsung memesan. "Biasanya langsung ngomong harga," jelas Catur.

Menurut Catur, marketing menggunakan sample produk sangatlah penting. Karena hampir semua calon pasti menanyakan hal tersebut. Lantaran pesanan dari lokal kebanyak UMKM maka jumlah pesanan terbilang itu sedikit. Tetapi Catur tetap menjalankan tugasnya meski dibawah batas order Paperocks. Siapa satu kelak mereka menjadi perusahaan besar, kan.

Pemesanan cup, contohnya, Paperocks sebenarnya membatasi pemesanan untuk 25.000 cup. Tetapi Catur membolehkan UMKM memesan diangka 5000 cup. Agar tidak tetap berjalan pesanan maka bisa diakali saja lewat partial delivery. Maksudnya Catur dan perusahaan cukup memproduksi di angka sama. Tetapi akan memberikan bertahap sejalan pembayaran.

"Ibaratnya dia menyimpan barang di gudang saya," jelas Catur. Strategi marketing macam ini memang punya resiko tersendiri. Cuma Catur tetap menjalankan karena begitu keadaanya. Alhasil, dia meminta agar para sales lebih seksama selektif menyaring pelanggan. Karena UMKM bisa saja nanti malah gulung tikar dalam perjalanan pemesanan.

Kedepan sendiri tantangan sales akan semakin berat karena lahir banyak pesaing. Mereka para pemain baru di bisnis kemasan memberikan tekanan. Kendati beratnya, ia optimis perusahaannya bertahan berbisnis kemasan. Kunci sukses adalah tetap mempertahankan kualitas. Untuk menambah cakupan dibuka lah divisi baru, agar tidak cuma melayani kemasan makanan dan minuman saja.

"Apa yang ada di restoran, kafe dan bakery, harus bisa kita suplai," jelas Catur. Ambisi memperbesa pangsa pasar benar ditekankan oleh sosok berkacamata ini.

Dia adalah presiden direktur PT. Paperocks Indonesia. Perusahaan kemasan kertas yang sudah beroperasi sejak 2011. Yang pusatnya ada di kawasan industri Newton Techopark, Lippo Cikarang, Paperocks yang sukses mamasok kemasan kertas dan plastik hampir ke 100 perusahaan.

Produknya meliputi gelas kertas, kertas pembungkus plastik, kotak kertas, mangkuk sop, gelas es krim, juga tatakan dan alasa makanan. Yah, hampir disetiap gerai makanan siap saji, tempat kafe yang telah menjamur di kota besar saat ini. Contoh perusahaan besar seperi Nestle, KFC, Burger King, merupakan pelanggan asing.

Untuk lokal banyak UMKM sudah menjadi pelanggan Paperocks. Seperti perusahaan Kopi Brontoseno dari Kediri. Meski begitu dari segi persentase penjualan masih relatif sama. Pasar ekspor meliputi ke Jerman dan Australia serta beberapa negara lain. Cara kerja ekspor yaitu produk dikirim terlebih dahulu ke para distributor di sana. Lantas distributor tinggal melanjutkan pengiriman ke perusahaan lain.

Hal terbaik selama menjalankan perusahaan: Dia bisa masuk ke maskapai penerbangan seperti Singapore Airlines dan Etihad Airways. Padahal, dia menjelaskan bahwa perusahaan penerbangan sulit buat dimasuki. "...itu ketat sekali," jelasnya lagi.

Ia mengamati bahwa masyarakat luar lebih ke bungkus kertas. Berbeda masyarakat Indonesia yang masih nyaman menggunakan bungkus plastik. Modal pabrik seluas 5.000 meter persegi diharapkan bisa mencapai ekspansi lebih. Catur cuma bisa berharap keadaan ekonomi membaik. Maka jumlah usaha makanan dan minuman juga ikutan naik.

Omzet perusaah Catur telah mencapai Rp.18 miliar per- tahun. "Jika ditambah ekspor, omzet bisa mencapai angka Rp.40 miliar," akunya. Permintaan kemasan sendiri masih meningkat signifikan. Catur masih yakin bisa mencapai pertumbuhan 40% sampai 50% per- tahun.

Kaos Kaki Wudhu Soka Berbekal Keluhan Pelanggan

Biografi Pengusaha Aman Suparman


 
Punya hobi aneh malah menjadi usaha menghasilkan. Ini kisah Aman Suparman, yang sejak remaja hobinya mengumpulkan kaos kaki. Aneka bentuk dikoleksinya serta aneka motif menghiasi. Hobi mengumpulkan kaos kaki dari aneka bentuk, aneka motif, dimana Aman sendiri tidak tau pasti kenapa bisa begitu. Kenapa dia suka mengoleksi kaos kaki bahkan sampai kuliah.

Jika ditanya oleh pewarta kenapa hobi mengumpulkan kaos kaki. "Saya juga gak tau kenapa senang koleksi kaos kaki," jawabnya. Karena aneh dirinya kerap mendapatkan cemooh. Aneka ejekan berupa panggilan nyeleh datang dimasa- masa remaja, seperti sebutan Si Pengumpul Kao Kaki Bolong dan Bau. Atau lainnya, tetapi tidak membuat Aman menjadi berhenti.

Hobi Aman mendapatkan tempat malah ketika masuk ke dunia kampus. Tentu di kampus, anak muda bisa bereksperimen dengan penampilannya termasuk aneka jenis kaos kaki. Ia percaya diri saja memakai aneka kaos kaki bermotif aneh. Motifnya kadang berupa gambar kartun lucu, salur, atau pun motif lainnya yang tak biasa.

Setiap keluar negeri pun, dia akan mencari- cari koleksi kaos kaki terus. Perasaan membuka usaha kaos kaki muncul ketika memang susahnya hidup di kampus. Wajar saja, karena di kampus, dalam kehidupan di kampus membutuhkan banyak biaya.

Kaos kaki bolong


Pucuk dicinta ulam pun tiba dihadapan Aman. Waktu itu, ketika masih di kosan, kebetulan sekali salah satu penghuni mempunyai usaha kaos kaki. Dia tertarik hingga menyodorkan diri bergabung. Jadilah sejak Januari 2002, ia resmi menjadi distributor aneka jenis merek kaos kaki berbagai perusahaan. Namun, si patnernya ternyata harus pindah rumah, jadi lah dirinya harus memutar otak menjalankan usaha lagi.

Untuk pertama kalinya dia berpikir layaknya pengusaha. Memutar otak sendiri bagaimana melanjutkan usaha kaos kaki ini. Dia melihat peluang, pangsa pasar besar di bisnis kaos kaki, sayangnya dia tidak cukup buat menimba ilmu distributor cuma dua tahun. "Dan saya memanfaatkan peluang itu untuk dijadikan lahan usaha," paparnya.

Tidak menemukan jawaban akhirnya Aman nekat bikin sendiri. Modal Rp.2 juta dikeluarkan berbekal dari hutang ke orang tua. Uang tersebut dibelikannya kain di Cigondoweh, pusat grosir kain terkenal di Bandung. Soal jahitan diserahkan kepada orang lain lewat biaya produksi. Untuk motif dan desain pun dikerjakan dia sendiri berkaca dari hobinya.

Di 24 Mei 2004, resmi lah berdiri perusahaan bernama CV. Al- Amin. Usaha bernama sama dengan nama di kaos kakinya. Dia lantas jualin kaos kakinya lewat internet. Tetapi dia tidak lupa tidak berhenti dengan cara pemasaran konvesional dari orang- ke orang. Aman lantas menciptakan gebrakan lewat kaos kaki jempol yang terkenal itu.

Dimana kaos kaki bisa dikenakan buat dipakai dengan sandal. Kaos kaki yang punya lekukan diantara ibu jari dan jari kedua telapak kaki. Ini digunakan guna memudahkan kaum muslimin memakai kaos kaki tanpa mencopot jika tidak bersepatu. Kaos kaki Al- Amin namanya menggelora jualannya sampai tidak hanya di Bandung, tetapi menjalar sampai ke kota- kota lainnya.

Namun berjalannya waktu, ternyata banyak produsen kaos kaki meniru modelnya. Produk Al- Amin sudah memiliki banyak pesaing di pasaraan saat itu. "Modelnya hampir sama, tapi harganya lebih murah, dan kualitas dibawahnya," tutur Aman. Alhasil, dirinya mendapatkan keluhan dari agen resminya, tetapi berkah lain datang.

Ia sangat bersyukur karena menemukan keluhan. Berkat itulah usahanya bisa terevaluasi hingga tumbuh. Dia menyebut inspirasi, inovasi, kualitas produk. Ini semua didasarkan reaksi pengusaha terhadap lingkungan, ya termasuk dari keluhan mereka. Saat itu tahun 2004, keluhan datang dari seorang pelanggan bernama Ima, yang baru pulang dari berangkat haji.

Susahnya membuka dan memasang kaos kaki saat berwudhu membuat ide bisnis. Ia akan menciptakan saja kaos kaki wudhu. "Ada kaos kaki yang bolong gak? Jadi, kalau wudhu kaos kakinya gak perlu dilepas," kata Aman menirukan. Aman tidak membuang waktu merencanakan produk tersebut di dunia nyata. Pria asli Bandung, kelahiran 15 Januari 1982 ini, lantas melakukan serangkaian uji coba.

Kaos kaki Islami


Kaos kaki yang nyaman meski dipakai berwudhu sekalipun. Di tahun 2007, lahir lah produk bernama kaos kaki praktis, sayangnya nama tersebut kurang "ngeh" sehingga tidak laku. Sampai ia memutuskan memakai nama "kaos kaki wudhu". Inilah awal naiknya usaha miliknya kembali setelah sempat turun karena peniru- peniru produk Al- Aman.

Intinya kaos kaki dirancang sedemikian rupa hingga ada lubang di telapak kaki. Jelasnya, tinggal dilipat saja ke atas ketika mau mengambil wudhu. Sukses kaos kaki wudhu lantas dipakainnya brand kaos kaki Soka. Perusahaan mampu menghasilkan 12 ribu pasang setiap pemasanannya. Jika musim haji tiba maka akan naik sampai 3- 4 ribu lusin kaos kaki.

Jumlah sebanyak itu berkat para distributor, khususnya dari luar negeri, ya perusahaan Aman telah sukses di luar negeri menjual sampai Singapura dan Malaysia. Dua distributor saja sudah mampu sampai ke Kota Suci Mekah. "Saya dapat kabar dari teman yang pergi haji ke Mekah. Mereka melihat kaos kaki Soka sudah ada di sana," tututnya bangga.

Meski jumlahnya tidak banyak tetapi menjadi kebanggan sendiri. Tidak cuma musim haji, tren dari kaos kaki Soka bahkan tumbuh sejalan tren hijab, dan pada akhirnya kaos kaki Soka menjadi kaos kaki muslimah. Ya dimana banyak wanita mengenakan kaos kaki biar gampang ber- wudhu. Lalu di dunia haji, nama kaos kaki Soka juga memiliki tempat tersendiri yakni kaos kaki haji.

Aman senantiasa optimis meski usahanya mendapat masalah. Meski usaha perdana tetapi bisa langsung dia bikin sukeses, habat! Aman bahkan tercatat memiliki berbagai perusahaan bisnis, yakni ada PT. Mitra Niaga Internasional (MNI), PT. Soka Cipta Niaga (SCN), CV. Al- Amin, CV. Amini Sejahtera. Perusahaan kaos kaki tersebut memilik basis 55 distributor serta 144 agen tersebar di Indonesia dan luar.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Kaos Kaki Indonesia (APKKINDO) juga menjadikan ini ajang dakwah agar memudahkan kaum muslimin. Ia ingin kaum muslimin menutup aurat memakai pakaian yang nyaman. Lantas lewat distributor dan keagenan bisa dijadikan ladang Muamalah olehnya. "..menguntungkan dunia dan akhirat," tutup ketua III Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba