Sukses MLM Pemulung Sunarno Kerjas Keras

Kisah Nyata Sukses MLM

 
sukses mlm

Sukses MLM pemulung Sunarno berkat kerja keras.  Dia sampai sekarang tak pernah memungkiri siapa dia dulu. Ia jujur adalah mantan pemulung, yang sekarang menjadi orang kaya berkat berbisnis multi level marketing.

Bisakah?

Begini ceritanya dari awal, dulu sekali, dia harus mengais- ngais sampah, kini sukses berkat usaha MLM Forever Young Indonesia. Pria kelahiran Solo, 5 Agustus 1961, lantaran dari keluarga miskin, Sunarno hanya mampu tamat Sekolah Dasar.

Harapan Pemulung Sunarno


Sejak kecil ia sudah menjadi pembantu ikut orang dari satu kota ke kota lain. Dia pun tinggal di tempat kumuh sejauh 500 meter dari tempat pembuangan sampah. Karena dekat tempat pembuangan sampah, tak ayal Sunarno ikut masuk ke tempat itu.

Dia menjadi seorang pemulung -mengais botol- botol plastik, mengumpulkan barang bekas, lalu menjualnya. Dari sinilah, Sunarno bisa mencukupi kebutuhan sehari- hari buat hidup. Begitu mobil- mobil pembawa rejeki (truk sampah) itu tiba, semua orang termasuk dirinya berlari.

Para pemulung berebut sampah yang akan laku dijual. "Saya bosan jadi kacung yang selalu disuruh- suruh. Jiwa saya ingin kebebasan," ungkapnya.

Plastik atau kardus menjadi barang- barang incaran para pemulung. "Apalagi yang namanya balung (tulang sapi). Itu ibarat emas bagi kami. Nilainya tinggi saat dijual," jelas ayah dua anak ini. Yang paling diingat bagi seorang Sunarno itulah ketika sukses mendapat sampah idaman.

Ia pernah mendapatkan sebuah bonggol kubil (kol). Sampah ini pula menjadi idaman tiap para pemulung. Sunarno harus berebut dengan pemulung lain dan berhasil.

"Hati saya bangga dan puas karena itu suatu prestasi," katanya tersenyum.

Pria setangah baya ini telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Sejak itupula memang sudah terbiasa hidup susah. Baginya apapun usaha selalu dikerjakan sebaik- baiknya. Baginya hidup berarti adalah perjuangan, berlari ketika truk- truk sampah itu terlihat di ujung mata.

Ada satu hal lagi membuat Sunarno gembira selain menemukan sampah idaman. Ia bercerita itulah tentang mendengarkan radio di bawah kolong jembatan. "Sayangnya tak terkira, sama bahagianya seperti naik Mercy atau Volvo," tambahnya.

Di 1994, ia mulai berkenalan namanya bisnis multi- level marketing. Saat itu, seorang tetangga mengenalkan itu pada Sunarno. Dia lulusan sekolah dasar hanya ngangguk- ngangguk saja. Ia sama sekali tak paham apa itu tengah dijelasakan oleh si tetangga.

Maklum cuma lulusan SD saja. Jangankan mengerti, mengeja kata MLM saja kesusahan karena berbahasa Inggris.

"Seminggu belum hafal," katanya, disusul tawa lepas.

Dia tak mau memikirkan itu, namun karena telah sering mendengar, ia akhirnya mengingat istilah itu sendiri. Setelah dia ditempa oleh seminar dan pelatihan, keyakinan itu tumbuh semakin besar dalam dirinya. Dia masihlah bekerja sebagai pemulung di pagi hari.

Sementara di siang harinya, Sunarno berangkat memprospek orang, setelah mandi tentunya. Di usaha apa saja selalu ada tantangan begitu pula usaha Sunarno kini. Dia bisa dibilang ngeyel atau ngimpi ketika memulai sukses MLM.

Tapi sial tak berkecil hati oleh ucapan tersebut karena sejak kecil tantangan telah menjadi bagian hidupnya. Persaingan tempat sampah membuatnya menjadi tahan banting.

"Saya sendiri tidak membayangkan, setelah menemukan usaha ini ternyata kok lebih cepat daripada rekan-rekan yang lebih mapan dan berpendidikan," akunya.

Menurutnya orang gagal itu biasanya tidak mau menghadapi tantangan apapun. Kalau sudah begitu dengan keras Sunarno menyarankan berhenti atau merubah sikap. Kunci sukses menurutnya ialah sebuah keyakinan.

Agar ikut sukses makan dia harus dekat orang- orang sukses, agar ketularan suksesnya. Kata- kata motivasi dari pria masih betah memulung ini: kalau orang lain bisa, kenapa saya tidak bisa. Pasti bisa!.

Lucunya, dulu karena tinggal di tempat kumuh, sebagian orang belum mau menerima ajakannya.

"Kalau kamu berhasil, baru saya mau ikut," kata mereka.

Namun setelah berhasil di MLM, Sunarno menagih janji mareka berkata itu. Mereka menjawab, "Lha iya, terang saja Pak Narno sekarang sudah berhasil kok." Jadi lagi- lagi dia disalahkan katanya sembari tertawa kecil. "Itu soal mental. Semua itu kembali ke pribadi masing-masing." tegasnya.

Bila teringat akan kehidupan masa lalu, Sunarno masih diliputi rasa haru. Jadi ketika dapat fasilitas rumah dari MLM, Sunarno sengaja memilih di Mojosongo, daerah yang ia huni dulu agar tidak lupa sejarah.

Tapi bila dulu orang meremehkannya sekarang jadi lain, "Kalau lingkungan butuh sesuatu, saya yang lebih dulu dimintai sumbangan," ujarnya.

Prestasi diraihnya memang paling cepat dibanding yang lain. Hanya dalam kurun 27 bulan, Sunarno berhasil menempati peringkat Senior Network Director, posisi tertinggi di MLM Forever Young. Jaringannya kini telah mencapai lebih dari 100 ribu orang, tersebar di seluruh Indonesia.

Seiring waktu, penghasilan di atas Rp15 juta per- bulan, sepeda motor, ada mobil, rumah, dan berbagai bonus wisata ke luar negeri telah bisa dinikmatinya.

Hanger Laris Manis Musim Hujan Bisnis Menggiurkan

Profil Pengusaha Ahmad Sholeh


jual hanger laris manis

Bisnis hanger laris manis ketika musim hujan. Ternyata berbisnis sepele begini menggiurkan juga. Ia adalah Ahmad Sholeh, menjadi pengusaha hanger merupakan pilihan tepat. Tak meleset, omzetnya mencapai puluhan juta berbekal produksi 400 lusin berbulan.

Musim hujan membuat ibu- ibu lebih banyak menggantung baju. Pasalnya hujan tidak cuma hasilkan banjir tapi pakaian tak kunjung kering. Menurut Ahmad menjalankan bisnis hanger tidak pernah sepi pembeli. Pemilik industri rumahan tersebut mengaku banyak kecipratan rejeki.

Hanger Laris Manis


Usahanya berlokasi di Desa Jogoroto, Kecamatan Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Bisnisnya sudah dimulai sejak 1996, dimana tidak membayangkan akan sebesar sekarang. Dia hanya berharap bisa dipakai modal dapur mengepul.

Ahmad cerdas lantaran melakukan penelitian dahulu. Dipelajarinya bagaiman satu pabrik besar telah memproduksi ribuan hanger. Usaha besar tersebut menjadi rujukan Ahmad produksi. Dia bahkan nih sempat membongkar habis hanger buatan salah satu pabrik tersebut.

Kemudian dia membuat alat buat mempermudah produksi. Hasilnya dia menciptakan lima alat yang mempermudah produksi. Dari pembuatan bahan mentah sampai dibentuk hanger sudah bisa. Alat itu dibuat dibantu seorang kawan, nah tinggal mencari bahan baku buat produksi.

Ahmad menjelaskan bahan baku mudah dan gampang dicari. Ini akan membantu mengurangi biaya produksi. Sisat Ahmad ialah membeli bahan sisa produksi pabrik kertas. Ada pabrik kertas punya limbah kawat untuk tali palet.

"Bahan baku tersebut kami anggap paling murah, karena merupakan limbah pabrik," ucap Ahmad.

Berbekal bahan baku tinggal memproduksi langsung. Ahmad kini dibantu 20 pekerja membentuk hanger buat dijual di pasar. Mereka bekerja mulai dari meluruskan kawat, membentuk pola dasar, membuat lengkungan, dan penyelesaian berupa pewarnaan chrome.

Dia mempekerjakan tetangga sendiri. Ia sengaja mengajak tetangga sendiri demi membantu. Tujuan Ahmad mengurangi tingkat pengangguran di desanya. Disaat itu, ibu rumah tangga tidak memiliki pekerjaan menghasilkan.

Sehari- hari mereka memproduksi tidak kurang 400 lusin hanger. Namun menurutnya, dalam proses produksi bahan baku menjadi produk jadi membutuhkan waktu. Proses cukup panjang dimana dalam sehari 400 lusin selesai.

Namun belum selesai, Ahmad juga merambah bisnis keset kawat dan gantungan baju jenis lain. Tapi, sayangnya, kalau masuk musim panas produksinya cuma menumpuk. Ahmad akan masukan semua kedalam gudang.

Namun, dikala musim hujan, produk buatanya akan laris manis diburu pembeli. Bahkan, bila sudah produksi kembali, semua tidak akan sempat parkir alias langsung laris manis. Dikala musim hujan ia mengaku kwalahan memenuhi kebutuhan.

Begitu selesai, diwarnai chrome, langsung dibawa diangkut melalui mobil dikirim ke pemesan. Bila kamu bertanya omzet maka mencapai 70% penjualan. Pengusaha hanger yang mematok harga jual Rp.6000- 7000.

Menurut dia, walau nampak murah, ternyata mampu mengantongi untung besar. Kawat ukuran 2,3 mm dijual Rp.6000 dan untuk ukuran 3 mm, dijual Rp.7000. Ahmad sendiri mengaku memiliki masalah permodalan. Tidak mendapatkan bantuan pemerintah daerah setempat.

Kalau Ahmad mendapatkan pinjaman modal lunak. Maka dia akan menambah pegawai dan mampu meningkatkan produksi. Kini Ahmad tengan berangan- angan produk lain akan diproduksi. Bila dia berhasil maka ada target lain, yakni membidik seluruh Jawa menjadi pasar.

Jualan Pot Kayu Wirausaha Puluhan Juta

Profil Pengusaha Helmi Suhemi


jualan pot kayu

Helmi Suhemi menjajal jualan pot kayu. Wirausaha asal Cipondoh, Tangerang, yang tidak membuang kayu bekas segera. Berkat tangan terampilnya merubah sesuatu menjadi luar biasa. Pot berbahan kayu bekas siapa sangka sangat diminati.

Helmi membuat pot- pot bunga. Pola kayu nampak eksotis bila dipadankan ruang tamu. Bahkan dari perhotelan sangat menyenangi pot buatan Helmi. Siapa sangka bahwa pot- pot kayu tersebut dibuat dari bahan bekas. 

Hasil kreasi Helmi telah memenuhi sudut- sudut ruangan perhotelan dan perkantoran di DKI. Urat- urat kayu nampak terlihat indah dan alami. Ini memberikan kesan berbeda dibanding memakai pot lain.

Awalnya pengusaha 57 tahun ini memulai produksi pot kulit kayu. Ternyata bahannya sangat susah didapatkan. Helmi mulai mengakali pot kayunya menggunakan kayu. Tetapi dia memilih kayu bekas karena lebih gampang ditemukan.

Setelah dilempar ke pasaran ternyata pot kayu buatannya laris. Hingga Helmi semakin giat sampai 4 tahun sudah berkreasi. Dulu perajinnya sedikit sekarang banyak sekali pembuat pot kayu. Heli sendiri tidak merasa terbebani akan sengitnya persaingan.

Ia telah memiliki toko- toko khusus penerima pasokan pot. Terutama toko bunga di kawasan Jakarta memakai jasanya. Dia dibantu Sri Sunarsih, membantu produksi walau banyak saingan tetap yakin rejeki sudah diatur.

"Saya percaya rejeki itu dari Allah, jadi tinggal berusaha mencari ide baru agar usaha ini bisa tetap jalan," tuturnya.

Bahan pot Helim unik lantara sisa hasil produksi pabrik tatakan kayu. Ia menggunakan limbah kayu atau pelet. Potongan kayu tersebut bukan sembarangan. Karena merupakan kayu jati Belanda dan cocok dibuat pot karena punya urat- urat nampak.

Namun satu kekurangan, bahwa pot kayu cuma dipakai tanaman plastik, ya karena kalau kena air terus maka kayu lama- kelamaan rusak. Ukuran pot beragam mulai ukuran tinggi 50 x 24 cm, dan yang terkecil ukuran 9 x 6 cm.

Dari bentuk beraneka ragam mulai bentuk trapesium, kotak, kubus, segi lima, dan segi enam. Usaha ini merupakan contoh kesuksan bisnis rumahan kita. Wirausaha puluhan juta atau tepatnya beromzet minimal Rp.15 juta. Pesanan pot makin ramai ketika datang musim lebaran, natal, dan tahun baru.

Helmi jualan pot kayu tidak cuma di Jakarta, tetapi merambah Surabaya dan Pontianak. Di Jakarta, Helmi memasarkan sendiri potnya ke sejumlah toko di kawasan Pasa Pagi dan Mangga Dua. Harga jualnya murah dari Rp.3000 sampai Rp.45.000.

Helmi telah membuat aneka pot semenjak 1998. Ini membuktikan bahwa wirausaha butuh ketekunan. Tidak dipungkiri, bahwa inovasi wajib dimiliki siapapun, namanya usaha harus mampu beradaptasi dengan keadaan.

Bisnis Es Krim Ragusa Kabaikan Berbalas Kebaikan

Profil Pengusaha Hj. Sias Mawarni 


es krim ragusa

Bisnis  Es Krim Ragusa telah 80 tahun berdiri. Bukan perkara mudah, buat mempertahankan bisnis ini seperti melihat getirnya Indonesia. Hj. Sias Mawarni menjadi sosok yang paling penting disini. Dari tangan dinginnya lahir berbagai kelembutan es krim aneka rasa.

Sudah hampir 8 dekade Ragusa meski berkonsep sederhana tapi rasa selalu juara. "Konsisten menjaga harga, inovasi produk dan maintain Sumber Daya Manusianya (SDM) adalah kunci dari kesuksan Es Krim Ragusa," ungkap Sias Mawarni.

Acungan jempol untuk Sias karena diusia senjanya masih tetap bersemangat. Wanita yang fasih berbahasa Mandarin ini seseorang yang tak pernah kehabisan energi untuk mencari hal yang baru bahkan sampai ke luar negeri.

Belum lama ini, Sias baru saja berkeliling ke Yunani, Shanghai, Hawaii, Amerika Serikat, Kanada, Jepang, Korea dan Hongkong. Tentu saja travelingnya ini bukan sekedar bertamasya, melainkan update pengetahuannya dalam berbisnis.

 "Saya memang banyak belajar dari luar negeri," papar Sias.

Bisnis Es Krim



Sejak 1972, ia secara resmi menjadi pewaris tahta kejayaan es krim khas Italia, Ragusa. Dimulai dari satu tempat, Sias sukses berekspansi hingga mencapai 22 cabang berbeda di berbagai sudut Jakarta. Maski pasca kerusuhan menyisaan 4 cabang, dirinya tak berhenti.

Dia tetap bergeming mempertahankan yang masih ada hingga mampu membiayai 100 anak asuh. Budi pekerti yang baik menjadi modal seorang Sias Mawarni. Wanita kelahiran Jakarta yang telah berusia 70 tahun, karena kebaikan dalam dirinya itu, kebaikan berbalas kebaikan.

Pemilik es krim khas Italia,Vizenzo Ragusa, telah menghibahkan usaha yang dibangun sejak jaman Belanda tahun 1932 kepada Sias. "Di tahun 1972, Mr. Ragusa menghibahkan usaha es krim Ragusa kepada saya dan beliau kembali ke Italia," ucap Sias.

Berapa beruntung dirinya dan oleh karena itu pula ia tetap mencoba istiqomah. Baginya berbuat baik kepada orang lain akan berbuah kebaikan.

Tahun ke tahun, es krim Ragusa yang berpusat di Jl. Veteran No 1 Jakarta Pusat pun terus berkembang mengikuti perubahan jaman. Dalam perjalanannya, bahkan Sias bisa mendirikan 22 cabang tanpa pinjaman modal.

"Untuk membuka satu cabang, modalnya cukup besar. Dan modal itu saya dapatkan dari hasil penjualan es krim sebelumnya, saat itu barangkali masa-masa kejayaan saya." ungkapnya.

Dikatakannya saat itu, omset satu cabang per bulannya mencapai 50 juta. Dan, inilah yang dibuktikan Sias, sebuah realita bisnis tanpa modal.

"Modalnya cukup dengan sikap baik kita kepada orang lain. Dan itu yang selalu menjadi prinsip hidup saya. Jika kita berbuat baik pada orang maka orang pun akan baikin kita. Inilah yang terjadi pada saya, saya bisa berbisnis karena diberi hibah, gratis," lanjutnya.

Namun musibah tak bisa ditolak. Disaat bisnisnya melejit tinggi dengan 22 cabang di penjuru Jakarta, satu kejadian merubah segalanya. Kerusuhan 1998 telah membuat bisnis es krimnya hancur lebur dan babak belur. Spontan, Sias pun dirundung duka dan rugi besar karena hal itu semua.

Tapi dia tak patah semangat, pasca kerusuhan itu ia pun melanjutkan 'puing-puing' bisnisnya yang masih tersisa. Dari empat cabang itu dia mencoba menulis ulang sejarah.

"Tahun 1998, Etnis Tionghoa memang menjadi incaran. Semua cabang bisnis saya hangus terbakar. Kini hanya tersisa empat cabang," kenang ibu tiga anak yang banyak mendedikasikan diri di dunia pendidikan itu.

Meski duka itu belum pulih namun hidup tetap harus dilanjutkan. Dengan hanya empat cabang, Sias sukses membuktikan es krim Italia miliknya masih sangat digemari dan tak lekang jaman.

Bahkan kini, ia banyak menyajikan varian rasa dalam es krimnya. Seperti vanilla, durian, coklat dan lain sebagainya. Yang menggoda, adapula spaghetti eskrim, coup de maison, tutti frutti, cassata sicialiana dan banana split.

Tak heran jika kini penggemar eskrim Ragusa kaian bertambah. "Dalam sehari di satu cabang, ya diatas 100-an pengunjung, dari kalangan berbecak hingga bermobil, tua dan muda," aku wanita yang telah mempekerjakan lebih dari 50 karyawan ini.

Pernah berpikir waralaba Ragusa?

Sempat terpikir dibenaknya untuk mengikuti jejak pengusaha lain. Ia kala itu melihat bagaimana bisnis berbasis waralaba atau franchise begitu maju. Sempat berpikir untuk membuat franchise untuk es krim legendaris miliknya, tapi urung.

Sias mengaku dirinya masih trauma pasca kerusuhan 1998 yang membuatnya tepuruk. Tapi tak mau berkecil hati, ia telah menyiapkan es krim Ragusa agar selalu terdepan dan selalu ada yang baru.

"Saya masih trauma dengan kasus penjarahan pada tahun 1998 dimana pada tahun itu 17 gerainya habis akibat penjarahan. Terlebih lagi kondisi perekonomian Indonesia saat ini belum stabil, jadi saya takut hal tersebut terulang lagi. Mungkin ketika kondisi perekonomian sudah stabil Es krim Ragusa akan membuka franchise," jelas Sias.

Untuk mendekatkan diri kepada karyawan Sias punya trik khusus. Ia rela berbagi perjalanan ke luar negeri dengan karyawannya satu per- satu. Dari 30 karyawan itu, tiap ada kesempatan akan bergiliran menemani dirinya bertraveling.

Selain dengan karyawan Sias juga sering bertraveling dengan kerabat dan suaminya. Satu hal ini menjadi hobi hingga kini. "Kedekatan kepada karyawan menurut saya merupakan faktor terpenting langgengnya sebuah usaha," jelas Sias.

Selain berbisnis, diusianya yang tak lagi muda ini, ia masih berperan di dunia pendidikan khususnya dunia tari. Tak jarang hasil dari bisnisnya ia gunakan untuk mendanai pendidikan yang dikelolanya. Disebutkannya, saat ini ada sekitar 100 anak asuh yang menjadi asuhannya melalui sebuah yayasan yang didirikannya.

"Selain bisnis, saya juga fokus di dunia pendidikan. Mengajar di perguruan tinggi untuk mata kuliah Bahasa Mandarin dan SMA untuk dunia tari," jelas magister lulusan STIE Supra, Jakarta ini, kepada bakerymagazin.com

Kecintaannya di dunia tari patut diacungi jempol. Karenanya, tak jarang ia berkeliling dunia untuk membawa misi kebudayaan Indonesia. Dalam catatan kiprahnya, setidaknya ia pernah mementaskan seni tarinya di beberapa negara seperti Beijing, Korea Selatan dan Singapura.

"Melalui bisnis dan kegiatan seni yang saya lakukan, saya bermimpi bisa menyatukan potensi anak bangsa untuk pembangunan kesejahteraan rakyat Indonesia," ujar peraih medali emas Spring Festival Korea Selatan ini.

Petani Singkong Lampung Kisah Sukses Transmigrasi

Profil Pengusaha P. Nyoman


petani singkong lampung

Petani singkong Lampung itu bernama P. Nyoman. Inilah kisah sukses transmigrasi pemerintah jangan ragu. Selain bekerja sebagai guru SMA, Nyoman sekarang sukses menjadi petani singkong di daerah Lampung sana.

Nyoman telah bertransmigrasi sejak tahun 60- an dan telah mengolah ratusan hektar sawah. Dia bermitra petani- petani lain dalam kelompoknya. Mereka khusus menggarap tanaman singkong. Dia juga menjadi agen buat menjembatani penjualan hasil singkong ke pabrik- pabrik di sekitar lahan.

Singkong- singkong tersebut biasa digunakan untuk industri tepung tapioka maupun minyak ethanol. Saat ini, Singkong seperti produk agro lain, sedang digiatkan menjadi sumber bahan bakar alternatif. Bisnis Singkong ini bahkan diperkirakan akan menyamai produk lain; sawit, karet, dan tebu.

Singkong memang telah terbukti menjadi sumber bahan bakar bio fuel. Bahkan dari pihak pemerintah berinisiatif untuk budidaya sekala besar.

Petani Kaya


Pengalaman puluhan tahun membuatnya mudah mendapatkan jaringan. Dia telah memiliki jaringan dibawah kuat bersama para petani singkong lainnya. Terutama bersama mereka yang sama- sama asal Bali. Mereka seolah memiliki hubungan kekerabatan kuat dangan Nyoman.

Sebagai agen dari perusahaan, ia akan ditugasi mencapai target harian tertentu. Ini tidaklah mudah karena setiap hari ditargetkan ada 100- 500 ton harus terpenuhi tiap hari. Berapa duit didapatkan menjadi seorang agen?

Omzetnya bisa dihitung dari permintaan harian dan akumulasi semua dalam satu bulan. Kita bisa menghitung omzet baik sebagai petani maupun kordinator saja. Dengan makin banyak pabrik- pabrik di sekitar tanah garapan; permintaan akan singkong sangat tinggi.

Di sisi lain, perkembangan luas lahan sangatlah lamban ditambah kompetisi produk pertanian lain; sawit, tebu, dan karet, oleh karena itu, harga singkong pastilah akan naik tinggi.

Ketika permintaan singkong itu tak sesuai stok tersedia. Kondisi ini menyebabkan harga singkong bisa naik drastis. Sebagai petani, Nyoman mampu menjual singkong ke pasar di rentangan harga sebelumnya Rp.200- 200 /kg pada 2006.

Di tahun berikutnya, tahun 2007, harga singkongnya naik menjadi Rp.400- 500 /kg. Di tahun 2008, singkong telah mencapai harga kisaran Rp.650 /kg di pasaran, dimana asumsi kenaikan berkala. Singkong tersebut diolah menjadi makanan ringan selain di jual tepung tapioka.

Jika asumsi harga singkong di Rp.450, Nyoman bisa mengantongi Rp.42.500.000 tiap 100.000 kg. Itupun belum dari total harian pabrik yang beroperasi 25 hari dalam satu bulan. Jika dihitung- hitung ulang maka dari satu pabrik bisa mencapai omzet Rp.1.062.500.000 /bulan.

Pakem usaha tersebut ialah petani- agen- pabrik jadi agen bisa mendapatkan tambahan. Nyoman mendapatkan tambahan fee sebesar Rp.10- 15. Jikalau target 100 ton/hari, 25 hari kerja pabrik menghasilkan asumsi fee Rp.25 juta /bulan.

Angka menjadi agen ditambah penjualan hasil pertanian sendiri, inilah rahasia yang membuat Nyoman menjadi petani kaya raya. Tentunya untuk mencapai ini semua dibutuhkan bantuan keluarga, saudara, dan sesama petani lain.

Sebagai gambaran biaya budidaya singkong, per- hektar rata-rata memerlukan modal kita Rp. 4.5 juta/Ha. Rinciannya: Sewa tanah senilai Rp. 1,000,000 /Ha, pengolahan Lahan Rp. 1,000,000, pemupukan Rp. 1.600,000, dan juga tenaga kerja Rp. 900.000.

Nyoman menyebut keberhasilan menjadi petani terletak pada kualitas. Dia selalu menggunakan pupuk tepat dan menjalan perawatan periodik. Hasil pertanian miliknya bisa mencapai 30 ton/ha dengan rendemen 24% untuk waktu penanaman 10- 12 bulan.

Harga di pabrik-pabrik di Lampung saat ini berkisar di angka Rp. 450/kg….maka untuk hasil panen 30 Ton/Ha akan menghasilkan 30,000 kg x 450 = Rp. 13,500,000, masih dipotong ongkos transport dan cabut Rp. 100 x 30,000 = Rp 3,000,000.

Hasil bersihnya ada Rp. 10,5 juta dengan modal awal Rp. 4,5 juta. Itupun jika asumsi lahan sewaan, kalau lahan sendiri hasil akan lebih besar lagi. Keluarga P. Nyoman sendiri memiliki lahan 15 ha, hanya dari singkong, keluarga petani ini bisa memperoleh Rp. 90 juta /panen atau setahun.

Kegiatan kordinator atau agensi menghasilkan Rp.10 untuk setiap kilo hasil panen singkong yang dibawanya. Nyoman kini berancang- ancang membeli mobil baru menggantikan mobil Suzuki Katana tuanya.

Ia berencana ber- off road ria dengan mobil baru yaitu Nissan Terano untuk menjelajahi setiap sisi sawahnya. Petani singkong Lampung punya masa depan selagi berusaha keras. Mimpi orang menjadi sukses transmigrasi masih terbuka.

Pengusaha Pendiri Groupon Ekspansi Bisnis Dunia

Profil Pengusaha Brad Keywell


pendiri groupon
 
Brad Keywell memang memiliki visi mengenai ekspansi bisnis dunia. Pengusaha pendiri Groupon banyak sudah melakukan akuisisi. Tindakan yang dikenal mengambil alih perusahaan lain. Groupon telah memiliki banyak cabang melalui pengambil alihan usaha lain.

Groupon merupakan platform merupakan pusat eCommerce. Dimana lebih dikenal melalui aneka promosi diskon. Groupon menjual aktifitas (tempat rekresasi.dll), traveling, jualan produk, dan aneka layanan lain di 15 negara.

Brad bukan merupakan sosok kunci bisnis Groupon. Tetapi ia lebih dikenal sebagai pendiri di Uptake Technology, yang mengembangkan aneka produk berbasis AI. Bisnis Artificial Intelegent memang tengah banyak dikembangkan.

Uptake sendiri termasuk diperhitungkan karena sahamnya dimiliki Caterpillar. Perusahaan Caterpillar merupakan perusahaan peralatan berat. Mereka mengembangkan sistem monitor dan meningkatkan tidak kurang 3 juta mesin Caterpillar.

Ekspansi Bisnis Dunia


Brad mantan pegawai intern di Sam Zell's Equity Group Investment. Tahun 1999, dia bertemu Eric Lefkofsky, dan pada Februari 2005, keduanya mendirikan bisnis Echo Global Logistic. Perusahaan yang fokus mengerjakan manajemen transportasi berbasis teknologi.

Echo Global tercatat dalam saham NASDAQ di Juni 2009. Brad kemudian menjadi pimpinan sampai tahun 2017.

Brad Keywell tumbuh di Blooomfield Hills, Michigan, dan masuk Cranbrook Schools. Dia belajar di London School of Economic di 1990. Ia mendapatkan sarjana bisnis administrasi di University of Michigan pada 1991.

Mendapatkan gelar Doctor cum laude di 1993 dari University of Michigan Law School. Dia tercatat menjadi anggota Michigan Bar Association dan State Bar of Illinois.

Brad memang menyandang nama serial entrepreneur. Paling dikenal ya dia adalah sala satu pendiri bisnis Groupon. Uptake merupakan sedikit dari banyak bisnis dibidang AI dunia. Dan Brad Keywell mampu menciptakan diantara kerumitan artificial intelligent.

"Entrepreneur bukanlah entrepreneur, karena itu adalah sesuatu yang mereka putuskan akan lakukan. Itu karena itulah yang meraka harus lakukan," ucapnya ketika mendapat penghargaan dari EY World Entrepreneur of the Year 2019.

Sejak berdiri 2014, Uptake telah memiliki 550 staf dengan nilai aset $2 miliar. Brad bercerita awal ide bisnis ketika masalah teknis pesawat. Padahal dia tengah berpergian dengan anak perempuannya. Sistem pada pesawat terganggu hingga tidak menemukan solusi permasalahan tersebut.

Sistem Uptake nanti akan cepat memprediksi detail kesalahan akan terjadi. Sistem AI -nya memakai data science terprogram memprediksi kesalahan. Perusahaan ini membantu perusahaan lain hemat sampai miliaran dollar perawatan.

Ini akan mengurangi biaya perawatan dan menurunkan waktu penyelesaian. AI mereka telah dibuat untuk Caterpillar, Rolls Royce, dan US Army. Mereka memiliki platform untuk industri lebih jelas ke depan. Membantu industri lebih dipercaya, produktif, dan lebih aman.

Perusahaan yang terbantu termasuk pertambangan, manufaktur, energi dan penerbangan. "AI akan merubah kemanusiaan. Itu akan merubah kemanusiaan lebih baik," jelasnya kepada Financial Times.

Brad mengenang memulai berbisnis sejak enam tahun. Dia awal sekali menjual kartu ucapan salam. Ia yang sukses juga membantu anak- anak menjadi entrepreneur. Dia meluncurkan usaha non- profi Future Foundation, yang membantu lingkup kotanya menjadi pengusaha.

Dia bersama Lefkofsky kemudian mendirikan MediaBank. Bisnis mereka meliputi periklanan digital dan pembelian media pada 2012. MediaBank marger dengan Donovan Data Sytem membentuk satu perusahaan, Mediaocean.

Pada 2014, perusahaan bernama Vista Equity Partners membeli Mediaocean senilai $1,5 miliar. Ya Brad memang bukan tipikal pengusaha idealis. Tahun 2007, dia menjadi co- founder ThePoint.com, atau situs diskon, di 2008, menjelma menjadi Groupon yang juga memberikan ruang jual- beli.

Brad mendirikan perusahaan investasi dan pengembang teknologi bernama Lightbank. Banyak lagi perusahaan lain didirikan Brad Keywell. Yang akhirnya  mendirikan Uptake, bisnis program AI yang kemudian menjadi unicorn startup asal Illinois senilai $2,3 miliar.

Rejeki Jualan Ayam Pengusaha Selalu Untung

Biografi Pengusaha Bambang Krista


bambang krista ayam kampung
 
Pengusaha selalu untung begitu julukan bisnis ayam. Bambang Krista mereguk rejeki jualan ayam. Tapi bukan berarti berbisnis ini tanpa kendala. Ia sempat bangkrut dan kembali ke ayam. Jualan ini sangat diminati terutama memenuhi kebutuhan ibu kota.

Bambang pemilik Citra Lestari Farm asal Bekasi, Jawa Barat, merupakan salah satu penyuplai ayam kebutuhan Jakarta. Ia mampu memasok 5000 ekor dan 10.000 butir telur perakhir pekan. Dia sukses berkat menjual ayam kampung, padahal dulu sempat berjualan ayam boiler.

Ayam kampung memang bukan primadona peternak ayam. Pasalnya kita tau bahwa kualitas daging dan telur kecil. Belum lagi daginya tidak sepulen ayam boiler buat digoreng. Tetapi Bambang mampu membentu pasarnya walau membutuhkan waktu.

Jatuh Bangun Usaha


Dikisahkan Bambang sempat beternak ayam boiler dulu. Dengan kemasan yang baik, Bambang bisa menjual telur ayam kampung 50% lebih mahal. Selepas dia sukses menekuni bisnis daging dan telur ayam, saatnya Bambang membuka peternakan sendiri.

Dia mencoba menggabungkan praktik dan teori. Alumni Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP), Semarang. Pria 46 tahun yang sempat dipercaya untuk menjadi asisten dosen. Dia sempat dulu mengajar beberapa mata kuliah. 

Alhasil Bambang tidak pernah memiliki bayangan akan menjadi peternak. Dulu, ketika masih kuliah, Bambang tidak punya cita- cita beternak. Bahkan nih, waktu kuliah ia malah memilih mata kuliah mengenai sapi bukan unggas.

"Saya dulu bercita- cita menjadi peternak sapi, seperti di Eropa," tuturnya kapada Kontan.co.id

Bambang sama sekali tidak menyukai ayam. Takdir berkata lain, pada tahun 1989, dia perkasa untuk meniti karir menjadi tenaga ahli peternakan ayam di Kramat Jati, Jakarta Timur. Dari sanalah dirinya tertarik menekuni bisnis ayam. Dia melihat fakta bahwa perputaran uang dalam bisnis ini luar biasa.

Bayangkan, cuma butuh umur 25 hari sampai 40 bulan atau sehari lahir sudah menghasilkan uang ketika dijual. Kita menyebutnya day old chicken atau DOD. Untung langsung dapat diraih tanpa capek- capek membesarkan.

Bahkan pembeli datang sendiri ke kandang bukan dicari. Tidak perlu memasarkan DOD sudah cukup hasilkan uang. Rejeki jualan ayam memang banyak sumber tetapi bukan mudah. Bambang sempat jatuh bangkrut lantaran krisis moneter 1998.

Masalahnya, ketika itu, para peternak harus gulung tikar lantaran harga pakan naik tajam sampai ke langit. Sementara itu, malahan harga ayam menurun mengikuti daya beli masyarakat yang menurun drastis, kita tidak bisa jual mahal- mahal karena tidak akan terbeli.

Peternakan ayam boilernya gulung tikar alhasil dia menganggur. Bambang kehilangan pekerjaan. Ia lantas bantang stir menjadi pedagang sembako. Berjualan sembako tidak berlangsung lama. Tahun 1999, datang seorang temannya mengajak bekerja di usaha pembibitan ternak atau breeding farm.

Walaupun dia telah bekerja bukan berarti berhenti wirausaha. Sang pengusaha selalu untung karena tidak lupa asal. Bambang masih berternak ayam boiler walau tidak banyak. Jumlah ayamnya sudah mencapai 100 ribuan.

Sayangnya, nasib seolah kembali mendorong Bambang jauh, dimana malang tidak dapat ditolak ketika krisi kembali menerpa. Pada 2003, krisis melanda Asia, peternakan Bambang kembali runtuh hingga rugi besar.

Dia rugi sampai semua hartanya habis menutupi kerugian. Kegagalan kedua menyadarkan, bahwa ini sangat beresiko tinggi, beternak ayam boiler gampang runtuh ketika pakan mahal. Maka Bambang melirik ayam kampung, walau dimasanya pamor ayam kampung kalah jauh dibanding ayam ras.

Bambang nekat membudidaya walau tidak punya pandangan. Tidak memiliki pasar jelas, namun si ayam kampung lebih tahan akan penyakit dibanding ayam buras (bukan ras). Ayam tahan penyakit sekaligus biaya pemeliharaan murah.

Perawatan murah karena tidak dengan sistem intensif seperti beternak boiler. Masuk 2008, Bambang makin mantap berbisnis ayam kampung, dimana dia memelihara buat diambil telurnya. "Awalnya sulit untuk mempromosikan telur ayam kampung," tuturnya.

Tidak kehabisan ide, dia mulai mengemas telur ayam sebagus mungkin, sampai layak masuk pasar retail. Dia mampu memasukan telur sampai ke supermaket. Caranya memang jitu, tak sampai satu tahun, ayam kampung kemasan miliknya laris manis karena berkualitas.

Bambang mampu menjaga kualitas sampai untung 50% lebih. "Dengan pengemasan yang lebih baik, saya bisa untung lebih banyak," tuturnya.

Sukses mengembangkan bisnis penjualan telur ayam sekarang apa. Bambang mulai mengembangkan peternakan ayam. Resiko bisnis pembibitan ayam lebih besar dibandingkan menjadi peternak. Tetapi, taukah kamu, bahwa pebisnis pembibitan ayam kampung sangat beresiko tinggi.

"Karena itu saya yakin bibit saya akan laku," Bambang meyakini. Dengan menjadi penyuplai bibit maka dia tidak perlu bersaing ketat dengan peternak lain.

Bambang menjual DOD ayam kampung sebanyak 7000 sampai 10.000. Omzetnya mencapai Rp.200 juta perbulan. Telur ayam kampungnya mampu menyuplai pasar tradisional dan modern. Kebutuhan DOD atau bibit ini datang dari sekitaran Jabodetabek dan beberapa peternak di Jawa Barat.

Keuksesai pengusaha asal Solo tersebut didukung pamor ayam kampung. Makin masyarakat sadar akan kualitas gizi ayam kampung, maka semakin banyak orang mengkonsumsi. Bahkan sekarang ada pandangan bahwa ayam kampung lebih mahal daripada boiler.

Walau mahal, toh orang tetap membeli karena memang lebih bergizi dan sehat. Sebelum kamu coba, ada baiknya meniru Bambang melakukan riset terlebih dahulu. Carilah bibit ayam kampung yang berkualitas diternakan. Dia meniliti dengan baik induk unggul hingga telur ayam layak ditetaskan.

Tidak Lupa Diri


Berkat ketekunan, ia menemukan DOD ayam kampung unggulan yang diberi nama DOD ayam super. Keunggulannya dapat dipanen lebih cepat dibanding DOD ayam kampung biasa. Dibutuhkan enam kali perkawinan silang untuknya menemukan ayam ini.

Dibutuhkan waktu empat sampai enam bulan membesarkan DOD. Dimana miliknya bisa dipanen dalam tempo dua bulan. Setelah ia menemukan ini barulah mantap membuka peternakan ayam. Ini lalu dijual ke peternak lain guna dibesarkan.

Nama Bambang Krista populer diantara peternak ayam kampung. Kualitas DOD -nya begitu bagus untuk dikembang biakan. Harga jual ayam kampung dibanding ayam buras sekarang. Ayam buras perkilogram Rp.16.000 dibanding ayam kampung yang Rp.25.000 per- kilogram.

Menjadi pengusaha sukses tidak boleh melupakan orang lain. Bambang mengajak 20 peternak binaan di daerah Jonggol, Bogor. Mereka tadinya menggantungkan hidup melalui berdagang saja. Peternak ini mendapatkan pasokan DOD dari Bambang.

Para peternak Jonggol mampu hasilkan 5000 ekor ayam siap panen. Selain membina peternak, dia juga aktif memberikan seminar ke berbagai kota bertemu sesama peternak. "Motivasi saya adalah berbagi ilmu," ujar Bambang.

Menggabungkan beternak ayam modern dengan kampung menghasilkan. Bila dulu, peternak butuh waktu sampai tiga bulan lebih untuk panen, sekarang bisa panen dalam 45- 60 hari. Namun demikian, peternak ayam kampung besar masih dapat dihitung dengan hitungan jari.

Peternak ayam kampung kebanyakan sekala menengah dan kecil. Banyak orang beranggapan ayam kampung bisnis recehan. Padahal Bambang menjelaskan ayam kampung lebih stabil dan mampu bertahan di masa depan.

Masa depan cerah karena beternak ayam kampung juga tahan penyakit. Harganya lebih mahal bila dibandingkan ayam boiler. Soal kelemahan masa panen panjang sudah dapat teratasi. Ayam kampung hasil penelitian Bambang memang super.

Mempercepat masa panen berarti memperkecil biaya produksi. Ini juga mengurangi resiko kematiaan karena jangka perawatan panjang. Harusnya orang lebih tertarik akan beternak ayam kampung. Maka Bambang gencar membagika ilmunya mengenai ayam kampung.

Dia mengajarkan cara beternak ayam kampung efisien. Ia rutin memberika pelatihan beternak di daerah Cibubur dan Bekasi. Tidak hanya itu, dia kerap diundang menjadi pembicara mengenai ayam kampung. Sembari Bambang membangun jaringan usaha sesama peternak ayam kampung.

Mereka berkomunikasi agar memastikan harga tidak jatuh. Harus saling membantu karena sama- sama punya kepentingan. Bambang pun memberikan pelayanan gratis ke berbagai daerah. Bambang paling mewanti- wanti mengenai kebersihan kandang.

Tempat kotor akan menjadi rentan virus penyebab kematian. Sirkulasi udara juga harus bagus, agar kandang mempunyai sirkulasi udara. Pastikan kandang dan lingkungan steril sebelum melepaskan bibit ayam.

Jangan biarkan ayam berada di lingkungan tidak tenang. Ayam harus dilingkungan tenang dan tidak dimasuki sembarang orang. "Karakter ayam itu sensitif dan gampang stress kalau ada perubahan disekitar," jelas Bambang.

Meski sudah berpengalaman dia masih sempat merugi. Pernah dia tidak hati- hati hingga bibit yang akan dijual mati seketika. Setelah diteliti, itu ternyata karena virus yang berkembang biak di dalam kandangnya. Alhasil Bambang menjadi berhati- hati sekalipun telah menjadi peternak besar.

Disela waktu dia sibuk menulis buku tentang beternak ayam kampung. Total ada tiga buku pernah ditulisnya yang laris diserbu pembeli. Buku- buku tersebut dibeli baik untuk kepentingan beternak atau keperluan studi. Buku tersebut ditulis untuk memenuhi keinginan masyarakat mengenai ini.

Kuli Bangunan Miliarder Pengusaha Asli Sleman

Profil Pengusaha Sukses: Joko Sriyatno


kuli bangunan miliarder

Ini kisah pengusaha asli Sleman yang tidak bermimpi muluk.  Kuli bangunan miliarder bukan karena mimpi tetapi bekerja keras. Setiap orang bisa menjadi pengusaha kok, bahkan tanpa berpikir macam- macam.

Mengalir seperti air istilahnya. Seperti halnya Joko Sriyatno, seorang kuli bangunan, tak pernah terpikir akan menjadi seorang pengusaha kelak. Ia masih sibuk mengerjakan peralatan kasar.Ketika ide bisnis itu muncul seketikan.

Bukan ide bagaimana membuk usaha pembuatan batako di rumah. Dia mengenang usahanya itu kecil cuma berjualan batako; itupun secara tak sengaja. Tepatnya di tahun 1987, ketika Joko muda bekerja di sebuah bengkel mobil di Kota Jakarta.

Setelah beberapa bulan bekerja, ia tak kunjung mendapatkan upah. Merasa diperlakukan semena- mena oleh sang pemilik usaha; Joko pun lantas minggat. Ia memilih bekerja serabutan agar bertahan hidup.

Cara Bertahan Hidup


Yang ada dibenaknya saat itu, hanya tentang bagaimana agar bisa makan dan pulang kampung. Joko lalu bekerja menjadi kuli bangunan.

"Saya butuh duit, jadi saya terima pekerjaan kasar itu," terangnya.

Tapi tak disangka, melalui pekerjaan itu, seorang pria biasa bisa menjadi seorang pengusaha sukses. Selepas empat bulan bekerja sebagai kuli bangunan, ia bisa kembali ke kampung halamannya di Sleman.

Di kampung ia bekerja bersama kakaknya sebagai pekerja kasar lagi. Dia terdorong akan semangat hidup mandiri. Joko memutuskan membuka usaha bangunan sendiri. Bermodal Rp.350.000 dari hasil sumbangan pernikahannya, suami Istuti Ening Setiawati ini, memutuskan membuka bisnis sendiri.

Joko menggunakan uangnya buat membeli 100 sak semen. Ia mengolah bahan mentah tersebut menjadi 400 buah batako.

"Untuk cetakan, saya pinjam dari kakak," ujarnya tersenyum. Ke- 400 batako tersebut kemudian dijual, menghasilkan Rp.1,2 juta.

Uang tersebut tidak digunakan kebutuhan keluarga di rumah. Joko langsung saja memutarkan uang tersebut menjadi modal. Ia kemudian membeli semen serta pasir diubah menjadi bis beton kembali. Tak disangka ternyata produksi Joko kembali laris- manis dibeli.

Prinsip bisnisnya cuma satu yaitu kualitas terjaga baik. Pembeli menyukai beton- beton bikinan Joko karena kualitas serta cara penjualannya baik. Ia mudahnya memberikan hutangan kepada pembeli.

Beton buatannya sudah ditunggu banyak pelanggan bahkan sebelum kering betul terkena panasnya matahari. "Bahkan sebelum sempat kering, orang sudah antre beli bis beton," ucapnya sembari tertawa terkekeh.

Ia menyebut modal utama berwirausaha yaitu kemauan ditambah keberanian mengambil resiko. Dia cuma bermodal Rp.350.000, menyulapnya menjadi Rp.1,2 juta. Dia memiliki modal pengetahuan bahwa bisnis juga tentang konsep.

Lelaki yang kini berumur 40 tahun ini cuma lulusan STM. Joko, kini, telah sukses terlahir kembali menjadi seorang pengusaha sukses. Keseharian hidupnya antara mengurusi bisnis sendiri serta jalan- jalan berkendara mobil barunya.

Joko memilih mengendarai Mercedes-Benz bernomor lucu J 0 KO. "Kemarin saya juga barusan naik haji," tuturnya.

Joko dulunya hidup di rumah berukuran cuma 2x6 meter selama 10 tahun, kini tinggal di rumah megah, yang berdiri kokoh di atas tanah seluas 6.000 m2. Adakah kesulitan? Tentu, sukses Joko bukan tanpa kendala sedikit pun.

Ia yang telah mapan berbisnis beton berniat mengembangkan bisnis. Dipilihlah bisnis tegel menjadi sasaran ekspansi bisnisnya. Tapi, ternyata, permintaan ubin atau tegel tersebut justru menurun. Dia salah memperhitungkan bahwa tren bisnis berubah sesuai waktu.

"Waktu itu orang lebih memilih memakai keramik ketimbang ubin buat membangun rumah," tutur lelaki kelahiran Klaten ini.

Otak kreatifnya lalu berpikir agar bisnisnya tak merugi besar. Ia pun segera mengutak- atik mesin pembuat tegel tersebut. Joko merubah fungsi mesin yang sebelumnya sebagai pembuat tegel menjadi pembuat batako. Alhasil, ia terselamatkan karena sekarang produksi batakonya meningkat.

Di sisi lain, kemurahan hati sang juragan batako melalui sistem pembayaran kredit berbuah kesialan. Di tahun 2009, bisnis batakonya merugi besar senilai Rp.240 juta.

Para pengambil hutang ternyata mangkir tak mampu membayar cicilan. Ia mau menagih hutang lucunya malah diancam balik. Banyak preman yang kemudian datang ke rumah kenangnya getir. Gempa Yogyakarta juga menghancurkan fondasi bisnisnya.

"Pas gempa, batako saya hancur dan menimpa mesin," kenangnya. Ia harus merugi Rp.100 juta. Meski begitu Joko tak mau menyerah dan belajar dari kegagalannya. Untunglah ia termasuk orang yang rajin menabung.

Di tahun 2006, bisnisnya masih tahap pemulihan, belum kembali normal sediakala. Joko cuma bisa membeli motor secara kredit berbiaya angsuran Rp.250.000, tetapi harus rela menjualnya setelah dua tahun lunas. Motor itu dijualnya buat membayar muka mesin pembuat genteng.

Ya, Joko kini mulai membidik produk lain selain tetap pada batako. Ia yang kini berhasil memulihkan bisnisnya secara perlahan masih tetap sama. Joko tetap menjadi seorang hidup sederhana tidak pernah berubah. Ia selalu mengenang bagaimana susahnya dulu.

Joko tidak hidup segampang sekarang melalui perusahaannya, UD Marga Jaya. Bisnisnya kini bernilai Rp.2 miliar rupiah dari perusahaan didirikan sejak 1999. Ia masih ingat betul bagaimana susahnya ketika akan masuk Sekolah Pendidikan Guru (SPG), dan berkahir di STM.

"Tinggi badan saya tidak cukup," candanya. Di sana pula, ia selalu menghargai jenjang pendidikan apapun itu, terutama mereka yang hanya lulusan SD.

"Saya banyak mengambil pekerja lulusan SD," kata bapak tiga anak dari satu istri ini.

Perusahaan kecilnya telah mempekerjakan pekerja sekitar 140 orang dan 14 truk pengangkut. Pelanggannya meliputi perusahaan kontraktor perumahan swasta di Semarang, Tegal, Yogyakarta, dan Solo.

Joko dulu hanyalah seorang kuli bangunan bisa berubah menjadi seorang juragan batako terbesar di Sleman. Melalui bisnis inilah kuli bangunan jadi miliarder. Meski begitu, sang pengusaha asli Sleman tak tercatat di buku pengusaha sukses apapun.

Pernah Miskin Mau Makan Susah Kini Pengusaha

Profil Pengusaha Lailatin Afiffah


pernah miskin sukses
 
Dulu, dia pernah miskin, bahkan mau makan susah karena tidak punya uang. Kini pengusaha opak yang hasilkan omzet rata- rata 30 juta. Lailatin Afiffah (36) dan keluarganya pernah berhutang beras untuk makan sehari- hari. 

Tapi kini, dia merupakan pengusaha sukses berkat jualan camilan opak. Warga Dusun Srimulyo, Kliber, Mojotengah, Wonosobo, yang tak menyangkan begini. Karena ekonomi susah dia sama sekali tidak berpikir sukses.

Kehidupan Afiffah bekerja buat bertahan hidup. Ekonomi keluarga begitu sulit, namun suatu hari malah terkena masalah melebihi batasan. Masalah tersebut apalagi kalau bukan mengenai kesehatan anak. Dia terkenang terpaksa berhutang untuk imunisasi anak.

Orang Miskin


Awal kehidupan rumah tangga sudah diderita kekurangan. Ekonomi mereka rendah bahkan cuma sisa uang Rp.3000 di dompet. Padahal anak ketiganya harus melakukan imunisasi segera. Ia yang peduli kesehatan anak harus berjuang.

Afiffah sempat lantas berhutang beras ke tetangga. Kendati sulit, dia pantang menangis dan mengeluh di hadapan suami. Ia tak mau mengeluh urusan dapur. Afiffah tak mau membebani dan menambah pusing sang suami. 

"Saya tak ingin mengeluh urusan dapur di depan suami.... Jadi, saya tetap berupaya mencari solusi sendiri," jelasnya.

Tidak punya uang namun harus memastikan kesehatan sang anak. Dia sempat menangis berdoa ke Allah. Afiffah meminta tolong kepada -Nya karena terdesak. Pertolongan apa saja, dari siapa saja, asal dia bisa menyelesaikan masalah dapur dan kesehatan.

Tidak lama berselang tiba- tiba seekor burung datang masuk ke rumah. Burung entah milik siapa, langsung masuk ke ruang tamu dan bertengger di atas meja. "Ya, memang aneh. Barangkali karena kala itu dinding rumah saya masih berlobang- lobang (yang terbuat dari anyaman bambu)," tuturnya.

Aneh memang walaupun memungkinan burung nyasar, tetapi kemungkinan langsung bertengger di atas meja mustahil. Kalau tidak ada kehendak Allah mana mungkin begitu. Afiffah meyakini bahwa burung ini adalah doanya kepada Allah Ta'ala.

Dan ternyata benar, begitu ditangkap sang suami kemudian dijual harganya lumayan. Burung yang berjenis anis laku terjual sampai Rp.100 ribu. Uang itu dipakai membayar hutang beras tetangga. Saat itu pertama kalinya Afiffah menangis dihadapan suami.

Berawal kisah tersebut membuat Afiffah makin meyakini perubahan. Ia semakin rajin berdoa kepada Allah SWT. Afiffah pun mendorong sang suami lebih bersemangat bekerja. Suaminya, selain bekerja menjadi tukang bangunan, bila sepi juga mulai mengerjakan pembuatan perabotan rumah tangga.

Suami sambilan membuat kursi, meja, lemari, dan kusen pintu/ jendela. Selain dia membuat aneka barang rumah tangga, juga menerima jasa reperasi. Silih berganti orang datang membetulkan prabot kayu yang rusak.

Ditengah kondisi perekonomian yang mulai positif membaik. Masalah kembali mendatangi pasangan suami istri ini. Rumah mereka kecurian sampai semua alat pertukangan kayu suami diambil. Total kerugian mencapai Rp.1,7 juta.

Ironis perlengkapan pertukangan tersebut ternyata berstatus hutang. Rumah yang bertembok bambu tersebut memang banyak celah. Loba- loba tersebut dimanfaatkan pencuri mengambil peralatan kayu itu. Tanpa alat pertukangan maka otomatis sang suami menjadi pengangguran.

Beruntung pasangan suami istri ini malah menemukan ide bisnis. Mereka memutuskan berjualan opak singkong. Semua bermula ketidak sengajaan ketika dipesani opak oleh adik Afiffah. Sang adik meminta diambilkan opak 15 kg seharga Rp.85 ribu.

Adiknya berumah di berbeda kecamatan dengan Afiffah dan penjual opak. Afiffah diminta membawa opak yang dijanjikan dibayar. Namun ketika dia menemui sang pembuat opak malah kosong. Dia pergi dan opaknya tidak bisa diambil.

Karena sudah keburu waktu, Afiffah memilih improfisasi dengan memilih mengambil opak di tempat lain. Nah, inilah malahnya, si pemilik opak merasa dirugikan karena sudah dijanjikan akan dibayar. Ia kecewa akan Afiffah karena berharap opaknya dibeli.

Masalah tersebut diselesaikan dengan Afiffah mengganti rugi. Ia terpaksa membeli opak bermodal pinjaman. Afiffah kasihan kemudian membeli opak- opak tersebut. Setelah dibeli, opak tersebut lalu dikemas berbagai ukuran, lantas ia mengajak suami berkeliling menjajakan.

Sungguh diluar dugaan opak tersebut laku keras bahkan untung. Opak seharga Rp.85.000 malah bisa untung sampai Rp.55.000.

Rahasia Sukses


Pernah miskin mau makan susah sekarang pengusaha. Afiffah mereguk untung dengan bermodalkan kemasan. Opak kucai nikmat berjejer rapih dipajang di pusat oleh- oleh. Bermerek Afiffah dengan berat 3,5 ons dijual seharga Rp.5000 perbungkus.

Sejak dua tahun lalu, bersama lima pengrajin opak di kampungnya, Afiffah agresif berproduksi dan memasarkan kemana- mana. Awalnya mereka menjual produk opak tanpa kemasan. Afiffah lantas mencari celah agar semakin laku.

Afiffah mulai mempelajari kebutuhan konsumen. Dalam konsepnya bahwa orang menengah bawah memilih isi. Tetapi orang kelas menengah atas malah memilih kemasan. Ibu tiga anak ini mempunyai kesimpulan bulat.

"Orang belanja di pasar tak peduli kemasan, yang penting isi. Tapi, kalau orarrg menengah atas yang dilihat pertama pasti kemasannya," jelasnya kepada Kompas.com

Kemasan opak dibuat ekslusif kemudian dibubuhi merek namanya. Setelah kemasan ekslusif, harga masuk di pasaran malah berubah, dari Rp.5000 per- kg menjadi Rp.5000 per- 3,5 ons. Perbulannya Afiffah menyetok untuk pusat oleh- oleh khas Wonosobo.

Semua opak aneka varian terjual habis sampai 1000 buah perbulan. Omzet masuk Rp.5 juta perbulan hasil penjualan. Keuntungan bersih Afiffah mampu mencapai Rp.1,4 juta perbulan. Uang sisanya dipakai mulai dari beli bahan baku, dan membayar karyawan.

Dikala musim liburan atau lebaran penghasilan naik tiga kali lipat. Omzet tersebut baru didapat dari wilayah Wonosoba saja loh. Khusus di Bali, opaknya dibuat lebih mahal Rp.2000 demi menutupi ongkos kirim. Opaknya di Bali mampu menghasilkan keuntungan Rp.2,2 juta perbulan.

Dia secara rutin mengirim 1000 bungkus perbulan ke Bali. Afiffah sebenarnya berniat menjual untuk Jawa Tengah. Namun terkendala daya beli, dimana bagi orang Jawa Tengah harga Rp.5000 sudah kemahalan, padahal itu mepet belum ditambah biaya transportasi ke sana.

Ketika ditanya mengapa Afiffah tidak memasok ritel modern. Dia tidak sanggup untuk membiayai uang panjer. "Wah, tidak bisa membayar uang panjer," celetuknya. Kualitas opak miliknya empuk dan bisa langsung digoreng.

Afiffah bahkan sudah mematenkan Dinas Perdagangan. Ia juga punya ijin Dinas Kesehatan setempat. Opaknya dijamin sertus persen halal dimakan. Baru dua kota, Afiffah telah menunjukan geliat baik ke depannya. Dari Wonosobo dan Bali sudah cukup membiaya produksi sekaligus hasilkan untung.

Jual Kerupuk Padang Pasir Wirausahawan Sukses

Profil Pengusaha Bambang Suparno


pengusaha kerupuk pasir
 
Bapak Bambang Suparno menjadi wirausahawan sukses. Pria berusia 49 tahun yang masih bekerja keras walau usia tak muda. Dia adalah mantan buruh migran Indonesia. Sudah tidak lagi bekerja di luar negeri, mungkin kamu bisa meniru bisnis yang dijalankan Suparno.

Dia berbisnis kerupuk goreng pasir. Namanya begitu spektakuler kerupuk padang pasir. Pekerjaan dia adalah menggoreng kerupuk tanpa minyak. Warga Dusun Jeruk, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, ini mengantongi omzet 90 juta.

Ia mengganti minyak dengan pasir halus hasil penyaringan. Pasir dipanaskan dengan api yang akan memanaskan permukannya. Alhasil walau tidak pakai minyak sudah bisa mekar. Kerupuk digoreng gini bila dirasa- rasa memang berbeda.

Rasanya berbeda dibandingkan digoreng pakai minyak. Tetapi ini sama enaknya kok, bahkan orang beberapa berpendapat jauh lebih enak, lebih gurih dan krenyes. Karena digoreng tanpa minyak maka tidak mengandung kolesterol. 

Proses pembuatan pun lebih hemat alhasil menekah biaya produksi. Jadi kamu bisa mengantongi nilai omzet lebih tinggi. Bahkan nih, bila kerupuk biasa mudah mlempem maka ini tidak, semua karena kerupuk padang pasir bisa didaur ulang

Suparno memiliki cara agar produknya kekinian. Dia menciptakan aneka varian rasa kerupuk. Ada 7 varian rasa dikembangkan Suparno. Antara lain kerupuk pedas, manis, pedas manis, terasi, rujak, sledri, bawang serta ubi.

Pemberian rasa ada dua cara: Kerupuk diberikan bumbu rasa sebelum digoreng. Atau diberi bumbu setelah digoreng. Kerupuk selepas digoreng dimasukan plastik ukuran setengah kilogram dan panjang 30- 40 cm.

Ukuran besar dijual Rp.1000- Rp.2.500 dimana tiap rasa pengaruhi harga. Kerupuk tersebut lantas dikirim ke agennya yang tersebar, seperti di Kediri, Nganjuk, Kartosono, Jombang, Bojonegoro, Tuban, Ngawi, Malang dan Sidoarjo.

Para agen berjualan di pusat oleh- oleh daerah masing- masing. Bapak Bambang Suparno memang dikenal wirausahawan sukses. Pengusaha ulet yang mengerjakan semua sendiri dari nol. Usahanya kini memiliki empat pekerja pria.

Para pekerja bekerja dari proses produksi, penjemuran dan digoreng. Pengemasan dilakukan istri dan enam anaknya dibantu tenaga borongan. Tetangga dipekerjakan untuk membantu mengemasi. Lalu tugas Suparno mengatur pengiriman kerupuk ke beberapa kota.

Bisnis kerupuk padang pasir Arofa membuka mata kita. Bahwa usaha sederhana menghasilkan nilai berlipat asal tekun. Awalnya dia mengenang memproduksi cuma 30 kilogram krupuk. Itupun lakunya dalam beberapa hari.

Karena permintaan selalu ada maka dia memutuskan melanjutkan usaha. Suparno bereksperimen soal rasa hingga makin terkenal. Perusahaan Suparno kini mampu memproduksi sampai 2,5 kuintal. Kalau omzet ya perkilo Rp.12.000, dikalikan 250 kilogram, dan dikalikan 30 hari.

Menemukan bisnis ini membutuhkan waktu pengalaman lain. Suparno pernah berbisnis lain seperti berjualan bakso. Wirausahawan sukses ini juga pernah menjadi kuli di negeri sebrang. Pernah dia mau berjualan pelumas diajak temannya, namun urung dilakukan.

Dia berjualan kerupuk lantaran melihat saudara berjualan ini. Suparno lalu mempelajari bisnis ini, lalu meyakini bahwa kerupuk punya prospek.

Usaha Jamur Ir. Eddy Pengusaha Teknik ITB

Biografi Pengusaha Ir. Eddy Santoso

ir. eddy usaha jamur

Pengusaha teknik ITB ini membuka usaha jamur. Namanya Ir. Eddy W. Santoso, sosoknya menjadi catatan penting dalam bisnis hortikultural. Eddy, begitu sapaanya, bukan hanya sukses dalam bidang akademis namun di dalam berbisnis.

Memulai berbisni ketika krisis moneter juga masuk catatan tersendiri kita semua. Pada awalnya lelaki lulusan Teknik ITB ini tak tertarik ikut- ikutan terjun menekuni usaha jamur. Dia lebih berminat pada bisnis komputer sesuai latar pendidikannya.

Sayangnya, bisnis itu harus gulung tikar ketika krisis moneter. Eddy harus rela bisnis 15 tahun telah digeluti itu hilang oleh kejamnya krisi moneter di tahun 1997.

Memulai Bisnis Jamur


Ir. Eddy sempat memulai usaha lain sebelum jamur. Kegagalan bisnis komputer tak membuat Eddy patah semangat. Dia kembali mencari- cari bisnis lain, mencoba bangkit kembali. Saat itu permintaan akan komputer berhenti total.

Eddy setiap hari meriset pasar dan mulai belajar banyak dari pengusaha sukses di berbagai sumber. Setelah cukup lama mengamati pasar, ia akhirnya memutuskan menekuni bisnis jamur sebagai usahanya. Budidaya jamur terbilang mudah dilakukan pemula -mudah dipelajari pula.

Menjadi pengusaha teknik ITB malah memilih usaha jamur.  Ini karena tempat tinggal Eddy memang memiliki iklim sesuai buat budidaya. Meski begitu tiap jamur tetap memiliki pengaturan suhu khusus dan berbeda- beda loh.

Ambil contoh jamur kuping akan tumbuh optimal di suhu 22 0C dan kelembaban 93 %, jamur tiram akan tumbuh dengan optimal pada suhu 27 0C dan kelembaban 60 %, jamur lingzhi akan tumbuh dengan optimal pada suhu 25 0C dan kelembaban 65 %, jamur shiitake akan tumbuh dengan optimal di suhu 16 0C dan kelembaban 97 %.

Jika kamu melihat potensi bisnisnya budidaya jamur sangat menguntungkan. Untuk jamur merang saja, para petani di sekitar Jawa Tengah, Yogya, Jawa Barat, bahkan Jakarta telah masuk pasar ekspor.

Jawa Tengah saja bisa menghasilkan ekspor tercatat sebesar 11.800 ton atau senilai $12,1 juta ke Amerika, Australia, Taiwan, Korea Selatan, Saudi Arabia, dan Kanada. Milihat permintaan jamur (hiartake dan lingzhi) yang terus menerus meningkat, Eddy optimis bisa menjalani bisnis tersebut.

Meski melenceng dari latar belakang pendidikan tak membuat minder. Bahkan sukses memanfaatkan kurang lebih 1 hektar lahan yang ada di Lembang. Eddy menggandeng para pemuda pengangguran di sekitar lokasi tersebut.

Dia turun tangan mengajari mereka budidaya jamur. Ia kemudian membangun PT. Teras Desa Intidaya sebagai bendera bisnis, mengajak pemuda- pemuda itu menjadi pegawai tetapnya. Setelah tiga tahun berbisnis ternyata pilihannya memang tak salah.

Bisnisnya kini maju pesat meski hambatan itu masih ada. Pada 1994 saja tecatat bisnis ekspor jamur terlihat menurun dari tingkat jumlah. Hal ini telah berlangsung cukup lama. Namun optimisi itu masih ada mengingat permintaan itu tumbuh kembali.

Eddy tak ambil pusing akan hal ini. Ia masih memiliki pasar lokal untuk digarap. Dia bahkan menambah jaringan bisnis jamur melalui sistem plasma. Ini akan membantu memenuhi jumlah permintaan dalam negeri yang cukup tinggi.

Di pasar swalayan lokal, harga eceran jamur merang khususnya berkisar antara Rp.11.000- Rp.12.500 per- kg. Sementara dari petani sendiri harga jamur berkisar Rp.5.800 per- kg. Asumsinya petani memiliki satu kumbung (tempat budidaya) mengantungi untung Rp.600.000 per- bulan.

Asumsi tiap petani memiliki delapan kumbung berarti mencapai Rp.4,2 juta per- bulan. Perusahaan milik Eddy bisa mendapatkan nilai dua kali lipat jika satu petani binaan memiliki delapan kumbung; sebuah simbiosis.

Sejarah Kamera Canon Pengusaha Yoshida Goro

Profil Pengusaha Yoshida Goro


sejarah kamera canon
 
Kita tidak pernah mendengar pengusaha Yoshida Goro ini. Siapa sangka dia dibalik sejarah kamera Canon. Bermula dari pekerjaannya sebagai tukang betul elektronik. Yoshida tertarik akan kamera asli Leica, yang konon pada masanya sangat mahal karena suatu sebab.

Yoshida kelahiran Hiroshima, Jepang, dan merantau sampai ke Tokya. Di sana, Yosida bersekolah sampai tamat pendidikan menengah. Dia dulu sempat magang di perusahaan perbaikan dan renovasi film. 

Dua tahunan, di pertengahan 1920 -an, pertumbuhan dunia film membuat hidupnya penuh kesibukan baru. Dia bisa berkali- kali berkunjung ke Sanghai, China. Usianya masih 20 -an dengan kemampuan mengaggumkan. Ia lantas dipasrahi mengelola kamera besutan perusahaan asal Jerman, Leica.

Membesarkan Perusahaan


Leica Model II diperkenalkan pada tahun 1938, kemudian disusul Contax Model I diperkenalkan di 1933. Teknologi kamera merupakan kebanggaan bangsa Jerman. Bahkan sebutan kamera kerajaan karena dianggap paling memuaskan hasilnya.

Teknologi terbaru ini membuat semangat penggemar kamera di dunia. Untuk membuat kamera kelas tinggi ukuran 35mm dibutuhkan keahlian. Yoshida bercerita dirinya dipasrahi kamera tersebut. Dan ia sengaja mengutak- atik bahkan sampai melihat ke dalam.

"Saya hanya membongkar kamera tanpa rencana khusus, tetapi hanya sekedar ingin melihat isinya," ia menjelaskan.

Dia bertanya- tanya mengapa kamera tersebut begitu mahal. Tidak ada mesin spesial disana, bahkan imajinasi liar kita membayangkan ada berlian tidak terbukti. "Saya begitu terkejut ketika barang tak mahal ini dimasukan menjadi kamera," lanjutnya.

Isinya kuningan, alumunium, besi dan karet. Yoshida "marah" karena material murahan dijual dengan harga terlalu tinggi.

Yoshida kemudian memiliki ide gila membangun bisnis. Pengusaha Yoshida Goro mengajak adik iparnya, Uchida Saburo. Mereka awalnya hanya melakukan riset terlebih dahulu. Keduanya mencari tau cara membuat kamera berkualitas

Mereka lalu memunculkan ide gila membuat kamera sendiri. Tujuannya menciptakan kamera 35mm berkualitas. Pada Juli 1934, mereka mengeluarkan produk kamera pertama bernama "Kwanon". Yang namanya diambil dari nama Dewa di agama Budha.

Kemudian mereka memberi nama lensanya Kasyapa, dari nama murid Budha bernama Mahakasyapa. Mereka meluncurkan tiga produk Kwanon. Sayangnya, ketiganya tidak satupun dijumpai di pasar, nama- nama ketiga produknya merupakan model kamera.

Ada Kwanon Model D yang ditemukan 1995, produk tiruan yang persis Leica Model II dan bukanlah buatan Yoshida. Perusahaan besutan Yoshida tidak mampu memproduksi sendiri. Alhasil mereka ini membuat namun tidak dipasarkan.

Kwanon mulai aktif ketika berdiri Precision Optical Instrument Laboratory. Di 1937, sosok Takeshi Mitarai bergabung, yang memiliki latar belakang optikal. Ada empat orang dalam Precision Optical Instrument Laborartory, ialah Takeshi Mitarai, Goro Yoshida, Takaeo Maeda, dan Saburo Uchida.

Mereka bekerja sama dengan Nippon Kogaku Kogyo atau Nikon Jepang. Kerja sama yang memberi kesempatan Kwanon memakai lensa Nikon. Mereka bekerja sama membangun produk Hansa Canon, yang meluncur pada Februari 1936 tetapi sudah ada di Oktober 1935.

Test pasar mungkin bila kita istilahkan. Keberhasilan Canon nampak nyata namun serba tanggung. Ini karena Precision Optical Instrument Laboratory belum lengkap. Mereka belum bisa membuat apa isi kamera Kwanon -kemudian bernama Canon.

Dulu Yoshida dan kawan- kawan hanya membuat prototipe. Itupun isinya merupakan produl Leika. Perusahaan mereka sekarang sudah memiliki semua aspek. Precision Optical Instrument Laboratory menggarap focal- plane sutter, rangefinder, dan merakitnya dengan brand Canon.

Sementara Nippon Kogaku atau Nikon mengerjakan lensa Nikkor 50mm, mount lensa, opical system, viewfinder, dan rangefinder. Nama Kwanon diganti Canon berdasarkan nama standar script Alkitab. Uniknya, ketika Hansa Canon diluncurkan, nama Precision Optical Instrument Laboratory tidak ada.

Alisa nama perusahaan Yoshida tidak dicantumkan. Karena memang ini bukanlah perusahaan resmi atau tidak punya jaringan penjualan. Precision Optical lantas bekerja sama dengan perusahaan Omiya Shasin Yohin, Co, yang bertugas menjadi penjual produk.

Ingat Nippon Kogaku sendiri hanya kerja sama material. Maka Shasin Yohin yang memang bisnisnya penjual dan toko, menjalankan tugas penjualan. Shasin Yohin sendiri memegang kamera Omiya. Nah, lantas "Hansa" menjadi merek dagang Omniya, yang namanya berasal dari perjanjian Uni Eropa abad pertengahan.

Membingungkan bukan ketika kamu membuat produk tetapi tidak jelas. Kamu memiliki usaha tetapi hanya brand sementara tanpa perusahaan. Proses penjualan pun "dititipkan" melalui perusahaan lain lagi.

Bulan Juni 1946, nama Precision Optical Instrument Laboratory berubah nama, lebih tepatnya cuma diberi nama Jepang di depannya. Usaha asal daerah Meguro mulai muncul ke publik. Melalui sebuah majalah bernama Asahi Camera, namanya muncul bersamaan produk "Hansa Canon" ini.

Perkembangan bisnis pengusaha Yoshida Goro bagus. Bahkan mereka telah mampu memproduksi lensa sendiri. Tahun 1937 bernama lensa "Serenar" dan mulai memiliki status kuat. Mitarai ditunjuk menjadi Presiden Direktur perusahaan yang baru ini.

Takeshi Mitarai teman Yoshida melakukan perubahan besar. Nama perusahaanya diubah menjadi Canon Camera Co., Ltd. Nah, semenjak itu namanya menjadi Canon, semua produk dilabeli nama Canon sebagai brand asli.

Uniknya perusahaan Canon juga membuat produk kalkulator. Mereka terinspirasi usaha perusahaan asing Bell Punch. Mereka meluncurkan Canola 130, dimana menjadi kalkulator Jepang pertama yang memiliki 10 kunci.

Canon memfokuskan ke produk elektronik. Terciptanya produk kalkukaltor bukan berarti mereka ganti arah. Justru perusahaan ini semakin menstabilkan dirinya dalam bisnis kamera. Lebih jelasnya mereka mulai menguasai bisnis image meliputi produk turunan kamera lensa.

Mereka membuat scanner, binocular, digital kamera, film SLR, digital SLR kamera, lensa, video cam, dan unit layanan digital visual. Canon juga menyediakan business solution untuk produk printer mereka.

Canon memiliki brand Lasser meliputi aneka produk. Dari produk perkantoran sampai medis, antara lain mesin x- ray. Mereka juga menjadi pemain di bisnis broadcasting dari lensa, semi konduktor, display, dan digital mikro film scanner.

Yoshida Goro diakui menjadi sejarah kamera Canon. Namun, sepanjang hidupnya, tidak merasakan keuntungan perusahaan sampai 3 triliun yen. Hidupnya sederhana namun menghasilkan aneka produk membantu manusia.

Pengusaha Sepatu Agit Sudah Usaha Sejak Sekolah

Profil Pengusaha Agit Bambang Suswanto


pengusaha sepatu kulit

Membuka usaha sejak sekolah merupakan pilihan terbaik anak. Pengusaha sepatu Agit telah mantab mengekspor sepatu sampai keluar negeri. Siapa sangka, dulu, dia harus meniti jalan naik- turun jadi wirausaha muda. Dua kali gagal membangun bisnis tidak membuatnya jera.

Agit Bambang Suswanto sudah menjajal wirausaha sejak sekolah menengah. Ia belajar dari dua kali kegagalan. Aneka strategi bisnis diterapkan Agit guna bangkit. Dia tidak malu menyebut dua bisnis gagal tersebut walau sungguh berantakan.

Dia tidak pernah lupa mereka yang setia mendukung. Berkat dorongan mereka, Agit bangkit menjajal usaha sepatu kulit buatan sendiri. Agit bercerita semasa SMA dulu, bisnisnya sederhana yakni jasa membuat pin. Dia juga nyambi jaga warnet.

Bisnis Pertama


Ketika Kota Bandung ramai bisnis distro, Adit seolah tidak mau ketinggalan trend, maka dia menjajal bisnis kaos distro. Adit mendesain kaos lantas dijual- jualkan ke distro Bandung. Empat bulan jalan, usahanya tutup, Adit menyadari bahwa dirinya pengetahuan manajemen dan pemasaran.

Soal desain sendiri memang belum hebat. Namun Adit nampak kurang puas maka belajar kembali. Di masa kuliah, ia memperdalam dunia desain otodidak dan membuka bisnis sampingan. Adit berbisnis sampingan menjadi desainer website dan desain grafis sebuah majalan di Bandung.

Uang hasil bisnis sambilan bisa dipakai menambah biaya kuliah. Itu juga bisa dipakai modal usaha berikutnya. Semangat Adit berwirausaha memang tidak pernah padam. Buktinya dia langsung tancap gas membuka usaha. 

Dia mengajak dua temannya berbisnis wafel. Namun hanya bertahan enam bulan, pasalnya kedua teman Adit memilih berhenti. Dia menyebut kedua temannya itu tidak berniat berwirausaha. "Mereka tidak serius," tuturnya.

Agit meyakini kegagal merupakan pengalaman berharga. Dari sanalah, pengalaman berharga tersebut mengajarkan cara membuka usaha. Pengalaman juga mengajari Adit kapan bekerja sama atau tidak membangun usaha.

Ketika berbisnis wafel, dia sangat rajin datang wara- wiri pertemuan komunitas dan pameran. Tujuan Adit hanya satu memperkenalkan produk bikinannya. Dimanapun dia akan membuka stand baik di acara musik maupun seni budaya.

Namun berbeda, ketika dia menjalankan usaha sepatu sekarang, maka lebih pilih- pilih tema pameran dan acara. Dia pernah diundang ikut acara fashion di Jakarta; Adit menolak. Itu lantaran tema acara dan penonton tidak sesuai citra produk ekslusif dan mahal.

Dia memang sekarang sukses berjualan sepatu. Namun, awal Agit memasarkan sepatu tidak mudah, bingung merupakan kata kunci pertama. Dia bingung mau diapakan tiga pasang sepatu pertama. Di Bandung, concept store yang menjual khusus sepatu kulit memang telah menjamur.

Uniknya, mereka hanya memajang sepatu kulit impor, belum sepatu lokal dan apalagi sepatu kulitnya belum tenar. Dia lalu mencoba berjualan melalui situs jual- beli Kaskus. Tak disangka, tiga pasang laku terjual, sepatu kulitnya diminati hanya dalam waktu sehari.

Agit makin percaya diri memproduksi beberapa pasang lagi. Semua terjual habis dalam tempo waktu sekejab. Pada masa itu, Adit mengenang melakukan semua sendiri, mulai dari pemasaran, produksi serta pemotretan produk.

"Saya mengambil foto sepatu yang akan dijual di belakang rumah," tuturnya.

Agit menjual produknya melalui website www.amblefootware.com. Dia dibantu dua pegawai sewaan bagian produksi. Adit berhasil memasarkan melalui dunia maya. Berikutnya, Adit menawarkan brand Amble kepada toko- toko sepatu di Bandung.

Karena memang produk sepatunya telah laku di pasaran online. Mereka toko- toko sepatu di Bandung setuju. Dalam sepekan, toko- toko yang dititipi meminta dipasok kembali sepatu. Untuk mendukung manajerial, Adit mengajak dua temannya yang memiliki latar belakang ini.

Berkembang, bulan berikutnya toko -toko Jakarta tertarik menjual. Permintaan dari toko toko lainnya masuk mulai dari Surabaya, Yogyakarta, dan Balikpapan. Walaupun dia telah berhasil menjual lewat beraneka macam jalan. Adit pun tidak pernah melupakan forum tercinta Kaskus kita.

Dia masih berjualan melalui di Kaskus. Ia masih berjualan sepatu kulit produksinya di sana. Adit pun masih menjalin komunikasi dengan sesama anggota forum.

Bangga Menjadi Pengusaha


Umurnya masih muda tetapi sudah berhasil berbisnis sepatu. Tidak terbayangkan membuat sepatu yang tak kalah dari merek luar. Agit memang memiliki jiwa wirausaha kuat. Usia 21 tahun sudah memiliki omzet ratusan juta.

"Selain ulet, untuk menjadi seorang yang sukses berwirausaha juga membutuhkan pendidikan dan kreativitas," ia melanjutkan.

Mengapa dia memilih sepatu padahal sempat berbisnis kuliner. Ia mengenang sempat kesulitan cari sepatu lokal pada 2009 silam. Bukan karena tidak ada produksi luar negeri. Adit yang hobi koleksi sepatu, menganggap harga sepatu kulit luar negeri terlalu tinggi.

Adit berpikir bahwa kita bisa memproduksi produk berkualitas. Bahwa kita mampu bersaing dalam hal sepatu kulit. Pengusaha 21 tahun ini mulai mendesain sepatu sendiri. Kecil- kecilan ia produksi tiga pasang yang dijual di komunitas Kaskus.

Tetapi itu dulu, sekarang sang mahasiswa manajemen bisnis Universitas Widyatama Bandung ini, telah memproduksi tidak kurang 300 pasang sepatu. Total omzetnya mencapai Rp.60 juta sampai Rp. 85 juta.

Pada Desember 2010, dia mengekspor 200 pasang sepatu kulit buatannya ke Eropa, Jerman, dan juga Perancis. Pendapatan dari ekspor sepatu mencapai Rp.20 juta sampai Rp.60 juta. Omzet yang dapat dicetak Agit mencapai Rp.100- 145 juta.

Agit sangat serius menggarap pasar ekspor. Pasalnya pembeli diluar membayar kontan bukan tunggu laku. Dikisahkan si eksportir merupakan asli Eropa yang tengah kebingungan. Ia tengah mencari sepatu kulit buatan Asia dan Amerika Latin.

Kebetulan dia menemukan website milik perusahaan Agit. Kebetulan sang eksportir tengah bingung, mencari produsen yang memproduksi produk berkualitas berstandar internasional. Agit sendiri telah menjual ke negara tetangga dari Malaysia, Singapura, dan Australia.

Sayangnya, penjualan di sana melalui penjualan ritel, kadang laku banyak atau sekedar mendapatkan Rp.6 juta. Amble memiliki dua lini produk antara lain Premium dan Seasonal. Seasonal merupakan produk yang akan berganti musiman atau enam bulan sekali.

Produk premium berharga Rp.1 juta sampai Rp.1,5 juta per- pasang. Produk seasonal harganya dari Rp.450 ribu- Rp.600 ribu. Pasar ekspor dia mematok harga $135- $170 untuk premium dan seasonal $65- $85.

Perdesain diproduksi hanya 200 pasang sekali produksi. Ia menjaga agar produknya tetap ekslusif. Sampai sekarang dia telah memproduksi 400- 500 pasang perbulan, meskipun maksimal 700 pasang sepatu. Pembatasan dilakukan agar tidak over stock atau membanjiri pasar.

Agit menjelaskan karena dijual mahal perlu menjaga kualitas. "Karena dijual dengan harga mahal, jadi kita tidak perlu mengejar kuantitas untuk mencari untung," tuturnya.

Dia memiliki 12 keryawan bagian produksi dan empat manajemen. Bengkel kerjanya terletak di Kota Bandung, Jawa Barat. Harga sepatu Amble mahal sebanding dengan kualitas yang unggul. Bahan bakunya 100% kulit asli.

Bagian dalam sepatu Ambel menggunakan kulit kambing. Desain dibuat maksimal dengan 70%  nya produksi tangan. Agit memasok bahan kulit dari pengrajin Tangerang, Bogor, dan Surabaya. Ia cukup selektif soal bahan baku. Ia menuntut bahan baku dengan mutu dan warna tertentu.

Agit tidak pernah mencontoh desain lain. Ini karena tujuannya menjadikan Ambel brand trend setter sepatu. Dia rajin membaca majalah fashion dan terinspirasi. Produk sepatu Ambel bikinannya sudah 100% bahan baku asli Indonesia.

"Jadi, memang 100% Indonesia, dari bahan bakunya sampai proses pembuatannya," ujarnya kepada Kontan.co.id, bangga.

Koleksi sepatunya coba meruntuhkan bayangan bahwa sepatu luar lebih berkualitas. Agit bercerita, bahwa dulu orang senang sepatu impor, tetapi aslinya bahan baku kulit didatangkan dari Indonesia sendiri. Orang Indonesia bangga pakai sepatu impor padahal kulit asli Indonesia.

Agit tidak berasumsi loh. Dia kenal sendiri para pengusaha pemilik pabrik pengolahan kulit. Sepatu Ambel memiliki semangat cinta Indonesia. Terbukti setiap sepatunya, akan nampak tulisan "Made with Produk in Indonesia".

Jujur Agit memang sangat sibuk bahkan pendidikannya tersendat. Namun, ia memastikan bahwa soal pendidikan berjalan semua, dan sangat penting. Di kuliah, memberikan dasar yang baik, karena Agit mengambil jurusan bisnis sesuai apa diaplikasikan.

Namun tidak bisa dipungkiri, Agit merasa beberapa ilmu diberikan tidak bisa teraplikasikan di dunia nyata. "Seharusnya, setiap pelajaran dapat diaplikasikan di dunia nyata," jelasnya. Baginya namanya mahasiswa harus mampu mengaplikasikan ilmu, bukan cuma hadir dan mengikuti ujian saja.

Ketika mempelajari manajemen pemasaran Agit begitu mendalami. Ia langsung aplikasikan pelajaran ke bisnis- bisnisnya. "Dengan begitu, ilmunya tidak sia- sia," ujar Agit. Selain ilmu bisnis, Agit juga mendalami desain, dimana kratifitas merupakah hal mutlak dalam berbisnis sepatu ini.

Kreativitas diperlukan guna menambah produk baru. Selain memproduksi sepatu, ke depan Agit akan menjajal produksi dompet dan sabuk kulit. Kedua produk tersebut diproduksi sebagai tambahan agar mensuport penjualan. Alasan lain, karena produk sabuk dan dompet kulit lebih mudah diproduksi.

Bisnis Teknologi Pengusaha Muda Asal Australia

Profil Pengusaha Michael McCoogan


bisnis uber global
 
Pengusaha muda asal Australia ini bernama Michael McCoogan. Dia yang begitu dekat dengan bisnis teknologi. Bermula dari kesenangan mengutak- atik komputer, McCoogan sering dipanggil teman- temannya membantu. Dia dimintai tolong bila ada kerusakan pada komputer milik mereka.

Usianya masih 14 tahun mendapatkan banyak permintaan tolong. Dari bermain internet dia mampu menghasilkan uang karena menjual jasa. McCoogan membantu semua hal termasuk membuatkan situs web. Dia menyadari bahwa banyak usaha kecil membutuhkan bantuan online.

Bisnis Teknologi Internet


McCoogan mulai membantu usaha kecil berjualan online. Dia mendapatkan 500 dollar membantu orang- orang. Bila pemilik usaha membutuhkan admin tinggal bayar 50 dollar perbulan. "Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat," tuturnya.

McCoogan beruntung pintar internet sehingga dibutuhkan banyak orang. Jaman itu usianya masih 16 tahun, hingga mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, dimana mengerjakan otoritas sungai Murray- Darlin Basin.

Pemerintah Australia dilarang berhubungan dengan bisnis individu. Maka dia mendirikan perusahaan sendiri. Usianya masih 16 tahun, tentu tidak boleh menjadi pimpinan perusahaan, lantas apa solusi bagi pengusaha muda ini. McCoogan kebetulan menemukan tetangganya yang baru pensiun.

Pria bernama Michael Massop baru pensiun pegawai negeri. McCoogan lantar menawari sebagian dari saham perusahaan. Massop pun dilantik menjadi direktur utama, sampai McCoogan berumur 18 tahun. Massop merupakan sedikit dari orang tua yang mendukung McCoogan.

"Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang yang saya temui," ia melanjutkan.

Uniknya Massop malah meminjamkan uang $15.000 untuk modal. Uang tersebut merupakan iuran keluarga lain. Massop pun masih bekerja ketika usia McCoogan memenuhi syarat. Bisnis yang diberi nama UberGlobal.

Ayah McCoogan mampu melihat anaknya begitu memiliki visi. Bahkan dia setuju ketika suatu hari anaknya datang meminjam uang. Tepatnya, sang ayah membiarkannya memakai rumah senilai Rp.1,5 miliar untuk modal. Uang tersebut dipakai buat membeli perusahaan saingannya di bidang internet.

UberGlobal melakukan akuisisi pertama dilanjut perusahaan lain. Total omzet yang didapat mencapai $13,3 juta pada 2011. McCoogan semakin bersemangat dengan jumlah total klien 500 lebih. Upaya akuisisi ini terbukti menjur menambah kekuatan dan daya saing berbisnis ini.

UberGlobal menjadi perusahaan layanan internet dan webhosting terbesar di Australia. McCoogan membuka lapangan pekerjaan buat tiga sahabatnya. Diusia 18 tahun, dia telah memiliki rumah sendiri dan mobil bernilai Rp.2,5 miliar, dan membagikan saham 20% untuk keluarga dan sahabatnya.

Usianya masih 14 tahun ketika membuka usaha reseller webhosting Amerika. Dia membantu menjual dan membuatkan website untuk warga Australia, memakai layanan Amerika. McCoogan melakukan semua melalui kamar tidurnya pada 2002.

Usaha tersebut diberi nama McGooHQ dan dalam tiga tahun naik daun. Kemudian ia merubah nama menjadi AussieHQ. Usaha ini membesar karena diawal- awal sedikit sekali persaingan. Alhasil dia berhasil membuat layanan website terbesar bernama UberGlobal.

Hingga perusahaan bernama Melbourne IT menawar pembelian. Mereka membayar $15,5 juta untuk perusahaan, dengan memberi pendapatan sebelum pajak bagi pemegang saham. Total dikeluarkan dari pembelian tersebut $2,1 juta.

Melbourne IT memang tengah naik daun dibanding UberGlobal. Meskipun membeli nyatanya nilai UberGlobal cuma menghasilkan kecil. Usaha Melbourne sendiri mengalami lonjakan pendapatannya 14% dari 2014 senilai $124 juta.

Ini berarti bahwa McCoogan gagal menjadikan usahanya lebih besar. Nampaknya semakin terbuka internet membutuhkan lebih banyak kerja keras. "Kami hanya masyarakat menengah- kebawah, jadi ini cerita menarik untuk kisah sukses Australia miskin menjadi kaya," ujarnya.

Dia menangis ketika harus menjual perusahaanya itu. Usaha tersebut dilepas 2013, dimana melewati waktu yang panjang, bayangkan modalnya berbekal iuran keluarga. McCoogan berhasil mengangkat nilainya sampai lebih dari $20 juta.

Sayangnya, tidak mudah membesarkan perusahaan, bahkan McCoogan pernah lima kali bangkrut karena UberGlobal. "Semua pelajaran dari pengalaman merupakan paling bernilai untuk dibawa," ujar dia. McCoogan sendiri sekarang menjadi pimpinan perusahaan Crucial, sesama usaha hosting.

Lantunan Musik Bar Bisnis Tak Pernah Mati

Profil Pengusaha Edward Chia


bisnis bar musik

Mau tau bisnis apa tak pernah mati maka ini. Lantunan musik bar mengiringi pengusaha muda. Pria bernama Edward Chia, usianya baru 27 tahun, yang sudah menempati posisi strategis. Kebanggaan bagi pria seusianya memiliki karir dan bisnis sendiri.

Chia menempati posisi manajer direktur dan pendiri suatu perusahaan tercepat pertumbuhannya di Singapura. Bukannya terbang ke Boston University, dia memilih menetap tinggal di Singapura bukan berkuliah, kemudian menginvestasikan uangnya ke bisnis sendiri.

Ia, seorang pria ambisius yang menemukan bisnisnya di Singapura. Inilah bisnisnya Timbre Group, kelompok bisnis dimulai dari sebuah bar kecil bernama Timbre @ the Substation. Chia yang lulusan ilmu politik dan ekonomi di National University of Singapore, lebih memilih tak berkuliah kembali.

Bisnis Live Musik


Malah ia secara spontan menggunakan uang kuliahnya. Dia memilih mengerjakan bisnis musik bar bersama seorang teman, Danny Loong. Timbre Group memiliki misi sosial mengembangkan musik Singapura. Mereka membantu musisi lokal tampil dan menumbuhkan penggemar.

Edward Chia telah memulai bisnis musik sedari nol dari umur 23 tahun. Dia bersama patner bisnisnya, Danny Long, 39 tahun, kini telah sukses menjalankan 11 jenis bisnis. Bisnisnya meliputi bar, makanan dan minuman, dari cocktail bar sampai festival musik.

Dan, yang terakhir, ia mengerjakan bisnis pendidikan bernama music academy. Bisnisnya dimulai dari Timbre@the Substation, sebuah bar berkonsep live music, di umur masih 21 tahun. Dia kala itu masih berkuliah. Memulai bisnis bahkan ketika baru memulai kuliah pertama di universitas.

Chia, awalnya, kesulitan membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Dia mengaku lebih ke kuliah sampingan (seperti hal kerja sampingan) daripada sangat serius kuliah penuh. Ia selalu melewati beberapa mata kuliah penting, kemudian mengejar pertemuan guna memenuhi absensi.

Hasilnya? Ia tidak terlalu mampu mengimbangi. Chia bahkan menyebut menyelesaikan kuliah sama seperti keajaiban. Bayangkan saja dia hanya mampu mendapatkan skor rata- ratanya dibawah 3 dari 5.

Akan tetapi, janjinya kepada kedua orang tua untuk tak berhenti membuatnya harus tetap berkuliah. Sejak itu pula, mereka, orang tuanya, sanggup menaruh harapan buta akan bisnis Timbre. Chia tak mau setengah- setengah selepas lulus kuliah.

Meski hati itu berkata akan memulai bisnis, nyatanya ia tak memilih jurusan bisnis. Ia justru memilih jurusan ilmu politik dan ekonomi, pilihan tersebut telah dipikir masak.

"Itu adalah hal yang sangat praktis, karena saya selalu merasa bahwa bisnis adalah sesuatu yang sangat nyata -anda harus belajar di jalanan dan melalui pengalaman praktis," katanya.

Apa diajarkan di sekolah bisnis hanyalah teori di matanya. Contoh mudahnya, dalam bisnis, semua hal bisa berubah sangat cepat; bisnis sekarang bisa jadi tidak sesuai besok. Prinsipnya bahwa bisnis selalu akan tumbuh karena mengikuti arah pasar bukan mengikuti jumlah lembaran buku.

Dia menambahkan bisnis masa depan mungkin belum terpikirkan hingga saatnya. Dan, kamu akan melihatnya dan bergumam tentang kenapa tak terpikirkan.

"Bagi saya, itu hanya mendapatkan dasar yang tepat. Banyak teori-teori bisnis ekonomi oleh alam, dan bagi saya yang terbaik untuk hanya menghabiskan waktu dengan bijaksana dan belajar sedikit dasar-dasar," katanya.

Berjuang dari nol


Memulai bisnis di usia muda memberikan berbagai rintangan dan tantangan. Utamanya Chia harus berdiri antara mengerjakan bisnis sambil berkuliah. Dia lalu menggunakan uang melanjutkan kuliah senilai $80.000 sebagai modal kembali.

Bukan tanpa masalah, uang tersebut bukanlah miliknya melainkan milik kedua orang tuanya. Dia harus membujuk keduanya agar mau memberikan uang tersebut. Syaratnya? Ia harus membayar $1.000 tiap bulannya dan tak boleh meminta uang apapun lagi.

Sebagai pengusaha muda, ia punya hasrat agar sukses itu cepat di tangan. Dia mulai mempekerjakan banyak pegawai lebih tua (lebih berpengalaman) darinya. "Cara saya menghadapi situasi seperti itu hanya dengan bersikap humble," dia berkata.

"Saya ikut berkerja langsung... saya melakukan segala sesuatu dari mencuci toilet, membersihkan kantor, menjalankan bar, dan kadang-kadang saya membantu di dapur juga."

Pengetahuan akan bisnis menjadi penting bagi bisnis baru. Chia selalu meluangkan waktu berdiskusi, bekerja, dan belajar dari mereka. Jika kita bersikap tulus hanya butuh waktu mereka mendekat bukanlah kebenaran, terangnya.

Melalu belajar praktik, membuat bisnisnya bisa tumbuh hingga sekarang memiliki ekosistem bisnis kuat. Di akademi buatannya, para musisi berlatih masuk ke berbagai lini usaha Timbre Group.

Mereka bisa saja masuk ke Timbre @ Old School, Timbre @ the Art House, atau Timbre @ the Substation. Mereka para "siswa" di Timbre Academy akan menunjukan kretifitas mereka di dalam bermusik.

Dan, bagi yang telah sukses akan mendapatkan jadwal mingguan. Chia bersemangat mengadakan festival musik setempat melalui Beerfest Asia dan Timbre Rock&Roots. Dia menjelaskan melalui Yahoo! Singapore bahwa bisnis ini tidaklah tentang uang.

Secara garis besar, Chia menyebut tentang menciptakan ekosistem musik di dalam tubuh Singapura. Inilah bisnis tak pernah mati. Chia menciptakan lantunan musik bar melalui berbagai nama.

Profil Timbre Group sini 

Website: Timbregroup.asia

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba