Kisah Aburizal Bakrie Pernah dHidup Miskin Melebihi Pengemis

Artikel Bisnis Kisah Aburizal Bakrie


sukses aburizal bakrie
 
Dari sumber tidak terduga lantas sosoknya menceritakan kisah hidupnya. Aburizal Bakrie pernah hidup miskin melebihi pengemis. Dia lebih miskin dari para pengemis jalanan. Pada suatu acara di Universitas Islam As Syafiiyah, dia ditanya salah satu santri mengenai sepak terjangnya dulu.

Tegas Ical berkata tidak bisa hanya membaca buku. Berwirausaha merupakan pengalaman praktik bukan teori. Bangku kuliah ia anggap hanya mengajarkan teorinya. Fakta di lapangan berbeda bahkan buat pengusaha sekelas Aburizal Bakrie.

Orang tidak perlu mengejar S3 bila mau menjadi pengusaha. Bahkan dia mencontohnya, dirinya saja berkuliah sampai jenjang S1, sisanya Ical lebih aktif mempraktikan. Orang hebat terlahir dari mimpi besar dan membuktikan.

Bisnis Tanpa Modal


Ia mengatakan tidak berani bermimpi tidak usah buka usaha. "Kalau anda mimpi saja tidak berani, ngapain buka usaha," ia menjelaskan.

Tentu tidak sekedar bermimpi agar menjadi kenyataan nanti. Kamu harus bekerja keras mewujudkan mimpi tersebut. Bangunlah dari mimpi kamu kemudian mulai bekerja. Pikirkan mimpi kamu serta apa yang hendak kamu lakukan kemudian.

Ia menyadur ucapan terkenal Donald Trump, "If you think, think big. Pikir yang besar, pikir jadi Presiden, jangan yang kecil- kecil".

Buatlah rencana kemudian buatlah tabel. Yang terpenting kamu harus menjalankan rencana tersebut. Ia berkata doa itu sangat perlu. Tapi perencanaan juga perlu. Doa saja tanpa ada perencanaan maka Ical merasa tidak akan berhasil.

Ical mengenan ketika dirinya masih berkuliah. Dia akan membuat jadwal, pertama bangun buat sholat Subuh, dilanjut latihan karate, kemudian tidur lagi sampai pukul 10. Dia akan bangun pukul 11 buat belajar. Perencanaan akan membantu kamu menyelesaikan semua dengan baik.

Begitupula ketika Ical telah tercatat sebagai orang terkaya Indonesia. Dia mampu menyelesaikan 10 tugas dalam sehari. Mulai dari mengurusi perusahaan, memimpin partai, mengikuti seminar, pukul sekian menjadi pembicara.... "Kadang 10 masalah bisa saya selesaikan setiap hari," tuturnya.

Banyak pengusaha muda mengeluh mengenai uang. Mereka merasa tidak memiliki modal. Banyak orang tidak mau memulai usaha karena tidak punya modal. Pengeluh ini juga mengaggap Ical enak, bapaknya pengusaha, maka dirinya diberkahi dengan modal usaha.

Padahal dia tidak memiliki uang disaat memulai usaha. Disaat Ical akan membeli Kaltim Prima Coal (KPC), Ical mengaku juga tidak memiliki dana. Maka Ical menawarkan calon kontraktor kerjasama yang menguntungkan. Dia menegosiasi agar calon kontraktor mau memberinya dana.

Ical juga mendatangi bank mengatakan hal sama. Dari uang pinjaman itulah, Ical membeli KPC dan membesarkan menjadi perusahaan ternama. Kamu jangan pernah bicara tidak memiliki dana. Uang akan datang ketika ide besar ditambah kesempatan terlihat.

Billa Gates juga tidak memiliki uang, tetapi dia memiliki ide bagus. Dia tidak lulus kuliah, bukan anak orang kaya, tetapi dari garasinya dia mampu menciptakan Microsoft. Misal kamu memiliki ide tetapi cuma menghasilkan 10%, tidak masalah daripada tidak melakukan sama sekali atau 0%.

Biasakan kamu tidak melihat rejeki orang, jangan lihat keuntungan orang lain, tetapi urusi kantong kamu sendiri. Karena ketika kamu memulai usaha pastilah banyak masalah. Itu kan memang bagian dari hidup kita yang akan terus datang.

"Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu keadaan perekonomian sulit, semua pengusaha dan perusahaan juga sulit. Saat itu saya jatuh miskin, bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki hutang yang sangat besar. Hutang saya saat itu sekitar USD 1 miliar," tuturnya.

Biasanya mereka teman- teman, sahabat, dan rekan akan menjauh. Disaat sulit itulah, kamu harus tidak menunjukan wajah terpuruk. Kamu jangan perlihatkan tengah gelap melihat masa depan. Ayah Ical, Achmad Bakrie sendiri, yang mengajarkan itu jangan biarkan dirimu di tempat gelap.

Jangan terjebak karena bayangan pun akan meninggalkan mu. Tegar hadapi kesulitan dengan optimis masa depan. Kamu jangan tunjukan keterpurukan. Berkat tersebut Ical ditunjuk menjadi ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) kedua kalinya.

Padahal dia tengah menyimpan hutang begitu banyak. Kalau dia tunjukan keterpurukan, tentu kolega bisnisnya akan mengangkap itu dan gagal menjadi ketua. "Kalau saat itu saya tunjukan keterpurukan, mana mungkin mereka memilih saya," ucap Ical menambahkan.

Ketika kamu terpuruk maka bangkit kembali. Kamu harus menemukan jalan. Jika tidak bangkit maka tidak akan seperti Aburizal Bakrie. Dia rela melepaskan saham dari 55% perusahaan menjadi cuma 2,5%. Ical juga ngotot mencari pinjaman kesana- kemari termasuk ke bank.

Tahun 2001 dirinya telah melihat titik terang kebuntuan. Kebangkitan Ical mampu melunasi hutang yang bernilai Rp.1 triliunan itu. Bisnis perusahaan kembali normal karena tidak terbebani. Dalam kalimat penutupnya, pada acara seminar tersebut Ical Bakrie menyampaikan kisah Colombus.

Suatu saat Colombus menantang orang- orang mendirikan telur. Tidak ada satupun mereka mampu mendirikan telur. Kemudian Colombus maju, memecahkan bagian bawah telurnya, alhasil berdirilah si telur karena bawahnya pecah. "Ah kalau begitu saya juga bisa," ucap orang- orang tersebut melihat.

Ical menyamakan dirinya sebagai Colombus. Dia menunjukan cara bagaimana kamu berusaha. Lalu kamu akan berusaha dan sukses, kemudian mengatakan ucapannya benar. "Saya senang anda sukses, karena semakin banyak orang sukses, semakin maju bangsa ini," tutupnya.

Biografi Medina Zein Pengusaha Klinik Kecantikan

Biografi Singkat Pengusaha Medina Zein 


medinazein.png
 
Membahas biografi Medina Zein pengusaha klinik kecantikan. Bernama panjang Medina Susani Zein, adalah seorang pengusaha muda bisnis hijab. Punya cerita tersendiri dibanding pengusaha lainnya. Di umurnya masih 19 tahun, wanita cantik Kota Kembang, Bandung, sudah dikenal pandai berbisnis. 
 
Apakah yang melatar belakangi dia menjadi pengusaha. Ketika orang tua berharap dia menjadi dokter. Medina justru mau berbisnis kecantikan saja. Orang tua itu sangat berharap anak kedua -dari dua bersaudara- ini menjadi seorang dokter. Pokoknya menjadi dokter tidak yang lainnya. 
 
Namun namanya jalan tidak bisa dipungkiri, hingga membawa Medina jadi pengusaha. Dia tidak bisa menjadi dokter. Medina pilih mengambil jurusan Akademi Kebidanan Stikes Budi Luhur, Bandung, tetapi cukup membuat orang tua senang. 
 

Bisnis Klinik

 
Dia mengikuti jejak orang tua yang juga bekerja bidang persalinan tersebut. Meskipun mereka diarahkan berkuliah; Ia tidak merasa terbebani. Justru dia mengambil sisi wirausaha dari berkuliah di bidang kesehatan. 
 
Ketika dia ditawari kuliah kembali, Medina memilih belum. Di hatinya ia menginginkan menjadi pengusaha muda Ia ingin membuka klinik kecantikan. Ingin sukses berdasarkan minatnya yakni berwirausaha. 
 
Ketika lulus kuliah, wanita kelahiran 23 Mei 1992 ini, kemudian mulai mengikuti kursus singkat estetika. Faktanya di keluarga diarahkan orang tua menjadi profesional di bidang kesehatan, Medina enteng pengen berbeda!

Medina pengen punya klinik kecantikan. Namun orang tua sangat menentang akan keputusan tersebut. "... mereka juga sempet ngambek," paparnya. Rasa ingin membuktikan bahwa dia akan sukses kuat. Disela- sela kuliah dia mengikuti aneka pelatihan di bidang impiannya.

Dia mulai menabung. Ingin membuka usaha sendiri tanpa bantuan orang tua. Diantara kesibukan berkuliah, dia memutuskan menikah muda

Medina menikah umur segitu tinggal di kosan. Suami hanya bekerja jadi pegawai hotel. Maka benar- benar sukar buat menambung. Diantara kesibukan mengikuti aneka pelatihan. Dia juga berjualan kecil- kecilan produk kecantikan. 
 
Memang kekurangan sisi finansial bukan alasan kamu berhenti menjadi pengusaha. Dulu dia kerap gonta- ganti produk kecantikan. Untung keluarga Madina kebanyakan adalah tenaga bidang kesehatan. Termasuk seorang dokter estetika, menawarkan produk skin care buatan sendiri ke Medina. 
 
Ia menanggapi dengan senang hati. Hasilnya ternyata cocok tidak meragukan membuat dia betah memakai. Beberapa waktu teman- teman wanita melihat. Mereka membicarakan kulitnya kinclong. Inilah cikal- bakal dia ingin wirausaha. 
 
Dia jualan produk kecantikan milik omnya -yang dokter kecantikan wanita. Dia membagi antara uang saku, ditabung buat bisnis, begitu terus sambil mengikuti kuliah dan pelatihan.

Selanjutnya dia mencoba jualan lewat online shop. Hasilnya lumayan dan diseriusi sambil berkuliah. Dia mengumpulkan Rp.50 juta, dan pada 2015 membuka klinik sendiri. Awal dia kerja dibantu empat orang karyawan, dimana dia merangkap jadi pegawai beautician.

Mematangkan Bisnis


Tidak mudah memang apalagi dia juga ibu rumah tangga. Awal dia masih jualan aneka produk dari omnya. Dia mulai bergriliya. Termasuk mencoba dapat endorse seleb- Intagram. Cara lainnya, dia menjaring para pelanggan menjadi distributor atau reseller. 
 
Memakai brand sendiri Lazata Skincare usahanya terus maju bertahap. Eh, ternyata, permintaan malah membludak, awal tahun 2015 menjadi puncak bagi usahanya. Disinilah dia mulai mencari jalan menciptakan sendiri. Dia bertemu seorang dokter kecantikan. 
 
Dia diajari membuat produk sendiri. Dia juga mengajak kerjama sama dokter kecantikan dan juga apoteker. Jadilah sebuah pabrik dimana dalam sebulan menghasilkan 10 ribu. Jika awalnya berjualan lewat online, kini, orang datang sendiri membeli atau mau menjualkan. 
 
Kalau dulu dia mengantarkan sendiri jika ada pesanan. Sekarang memakai jasa antar TIKI atau JNE, lebih gampang menyebar ke penjuru Indonesia. Ketika mengantar sendiri, dia sewa motor atau mobil, begitu suami pulang langsung diantar- antarkan saja. 
 
"Dalam usaha itu harus berani ambil resiko," Medina mengingatkan. Alasan kenapa harus mahal- mahal buka klinik dulu di 2012. Ternyata sebagai pendongkrak kepercayaan orang akan kualitas produknya kini. Tantangan terbesar bisnis bukan cuma itu. 
 
Sebagai ibu rumah tangga memiliki anak menjadi tantangan. Dia nekat meninggalkan anak. Agar anak tidak dekat pembantu maka dititipkan neneknya. 
 
Tetapi pemikiran ia balik "kalau jadi ibu rumah tangga saja. aku tidak akan sesukses ini", mangkanya ada pengorbanan dahulu. Awal usaha dia memakai nama Beauty Lady Care. 
 
Hanya kok namanya terlalu umum dipakai usaha sejenis. Dia memutar otak menamai aneka produk kencatikan tersebut. Lama- kelamaan namanya menjadi Lezata -perubahan nama sederhana tersebut berpengaruh besar-, usahanya makin menanjak berkat nama.

Sudah sukses tantangan lainnya: Produk buatannya banyak ditiru. Produk baru bahkan ditiru, tidak jarang memakai atas namanya. Banyak konsumen terjebak memakai produk tiruan. Inovasi apapun ditiru oleh mereka plagiat. 
 
Untuk mengatasi plagiat dia serius meningkatkan kualitas tidak cuma pada merek seja. Ditipu juga menjadi tantangan. Tetapi sudah dianggap makanan utama pengusaha. Di awal membangun kerajaan bisnisnya, Medina mengaku pernah ditipu pembeli. 
 
Puluhan juta lenyap diikhlaskan olehnya. Sempat dikirimi bukti transfer uang palsu belum seketat jualan sekarang. Pernah ditipu sampai Rp.10 juta oleh pelanggan. Padahal dia memegang uang sendiri tidak dititipkan ke karyawan. 
 
Bisnis Medina terus meningkat sampai menyentuh miliaran. Gelar hijaber miliarder juga dia dapatkan. Namanya sudah disejajarkan pengusaha muda dibidang fashion hijab -seperti Dian Pelangi dsb.

Manfaat membuka klinik dan ganti nama begitu berasa. Apalagi ditambah dia gencar mencari endorse dari Instagram. Awal jualan harga produknya kisaran Rp.100 ribuan, omzet awal Rp.20 juta, dari 3- 4 paket yang berisi sekitar 20 varian produk. 
 
Varian meliputi skin care, krim malam, face wash, krim pagi, sun block. Sekolah kebidanan mendukung juga. Seolah orang langsung percaya padahal kan kulit dan kebidanan dua hal berbeda. Untuk menambah kepercayaan diri, dia juga mengikuti aneka pelatihan cepat. 
 
Om Medina juga ikutan menjadi tenaga medis dia. Awal saja sudah bisa menabung Rp.6 bulan setiap bulan, hebat kan?

Pengusaha Klinik Kecantikan


Bisnis miliknya semakin tinggi, bisa nabung Rp.10 juta, dari omzet Rp.30 juta setiap bulan. Tabungan itu kemudian diputar dijadikan klinik baru. Fokus bisnis Medina memang tidak cuma bisnis online. Total ada 3 klinik tersebar di Bandung. 
 
Rencana akan buka cabang di Jakarta sampai Bekasi tahun selanjutnya. Medina juga punya pabrik sendiri di Bekasi. Produk varian sudah sampai 150 macam. Tidak cuma bisnis kencatika, Medina merambah bisnis lain- lain. 
 
Lewat perusahaan bernama PT. Medina Global Travelindo, mendirikan butim hijab Medinazein Beautiqeu. Meski awalnya sempat tidak setuju. Orang tua Medina -terutama sang ibu-, ikut memberikan semangat dia berkarir. Bisnis merupakan karir bagi Medina Zein. 
 
Suami Medina juga ikut membantu sejak awal. Dia sekarang bertuga mengembangkan bisnis travel dan butik. Lewat berbisnis mereka berkomunikasi saling kompak.

Sudah ada ratusan reseller dan 14 distributor besar. Tidak cuma Indonesia juga merambah negara lain. Ada kisah dibalik biro travel miliknya. Alasan utama ternyata adalah kemudahan administrasi. Bukan cuma buat orang lain umroh atau haji tetapi juga buat diri sendiri.

Kedepan ingin mengumrohkan seluruh karyawan. Total sekarang sudah ada 150 orang karyawan. Gampang sudah dia mengumrohkan karyawan. Tiap enam bulan sekali ada dua karyawan ke Tanah Suci. Pokoknya semua karyawan akan dapat jatah. 
 
Selain buat omroh juga menjadi brand ambassador juga loh ternyata. Bisa buat mengirim orang pemotretan brand. Bisa membawa nama brand sendiri buat dikenalkan ke orang banyak. Tidak cuma bisnis travel, ataupun bisnis fasion, ingin rasanya membuka usaha bidang pendidikan. 
 
Tapi bukan sekolah umum tetapi sekolah gratis. Tidak jauh- jauh cukup seperti Playground, TK, atau SD. Dia merasa tidak tega melihat banyak anak tidak sekolah, pas jamannya tinggal di rumah ibu, di Ciwidey dulu.

Jika dirunuk kebelakang banyak perkembangan dia lakukan. Meskipun tanpa ilmu manajemen khusus, ia membuktikan mampu berbisnis.

Dari sekedar pakai dokter umum, sekarang bisnis Medina mempekerjakan dokter SpKK. Perizinan semua lengkap sudah dilengkapi sejak awal. Memang susah membuat perijinan membuka klinik. Bikin ijin klinik satu buat enam bulan saja. 
 
Setiap cabang dibuka sudah pakai perijinan, IMB, semuanya dilengkapi dulu. Ketika beberapa orang menyinggung dia tidak berpendidikan dokter. Senyum simpul mengembang. Dia memang ingin berkuliah kembali tetapi jurusan manajemen bisnis. 
 
Memang orang tua, terutama kakek itu keras kepala karena keluarga kebanyakan bekerja di bidang kesehatan -utamanya menjadi dokter apapun. Dulu ada rasa kesal ketika dia berkuliah. Tetapi justru jurusan kesehatan membuka peluang usaha. Ia kini mensyukuri saran keluarga. 
 
Sudah ada tawaran sebuah Universitas asal Bandung buat kuliah kedokteran. Tapi dia masih asik berbisnis utamanya mengembangkan jaring- jaring bisnis ke bidang lain. Sempat berpikir nanti kalau kuliah bisnis keteteran. Jadi dia memilih mengembangkan bisnis dulu. 
 
Soal dokter, perusahaan mempunyai tim kedokteran solid. Si adik kan kuliah kedokteran mungkin bisa menjadi bagian dari bisnis Medina. Manajeman bisnis dianggap penting buat dia dibanding kedokteran. Belajar pengalaman semua keuangan tercatat. Keluar masuk sudah ada catatan sendiri. 
 
Perusahaan juga ia perkuat keluarga sendiri. Tantangan yang masih menjengkelkan adalah pemalsuan. Kesal, pastilah kesal, tapi dia meyakinkan diri akan terus meningkatkan kualitas agar konsumen yakin terus mempercayakan. Kesibukan lain sekarang dia juga seorang motivator. 
 
Utama bagi pengusaha muda, terutama mereka para wanita yang mau berbisnis. Aktifitas tersebut sangat dinikmati Medina Zein. Soal public speaking dia lebih senang orang lain ngomong dulu, kemudian terpancing hingga bercerita lengkap tentang pengalaman.

Biografi Pendiri OYO Ritesh Agarwal Booking Hotel

Biografi Pengusaha Ritel Agarwal

  
biografi pendiri aplikasi oyo
 
Pendiri aplikasi OYO berikut perjalanan sejarahnya. Pria tersebut bernama Ritesh Agarwal, memiliki passion di bidang internet. Bisnis online akan terus tumbuh dimana hal baru bermunculan. Ada bintang cerah di negara- negara berkembang, termasuk India. 
 
Ini menjadi daya tarik tersendiri di negeri asal Bollywood. Tiap orang baik muda maupun tuaberbondong- bondong. Di tahun 1990 an, bisnis berbasis IT telah menampakan satu geliat yang sama. Perusahaan berbasis teknologi, dan "rumahan" ala IBM atau Accenture sangat menginspirasi.

Pengusaha Muda Online


Pertumbuhan ini selaras dengan kehidupan masyarakat melek terknologi. Pengusaha muda satu ini, Ritesh Agarwal, 19 tahun, memiliki cerita yang kurang lebih sama. Lahir di era digital membuat Ritesh muda paham mengenai "bagaimana website bekerja". 
 
Tak perlu berlama- lama bocah 13 tahun ini telah berani untuk membangun bisnisnya. Hingga di umur 19 tahun, ia tercatat sebagai pendiri sekaligus CEO perusahaan internetnya sendiri, Oravel.com.

Itu adalah sebuah situs sosial media untuk berbagai layanan kamar. Sebut saja sosial medianya mereka yang memiliki penginapan, paket perjalanan, atau layanan privat lainnya. Ada dua hal yang menjadi motivasi menjadi pengusaha startup seorang Ritesh. 
 
Pertama, ia pernah bekerja sebagai salesman, menjual produk orang lain. Perjalanan menjadi satu hal yang wajib baginya meski masih 13 tahun. Kedua, kenyataan bahwa pelayanan dalam satu perjalanan itu sangatlah buruk.

Suatu saat dia harus ke tempat yang tak nyaman dan menjual lebih banyak. Atau kebalikannya tempat yang nyaman tapi menjual lebih sedikit. Perjalanan panjang sebagai salesman inilah yang menginspirasi berdirinya Oravel. 
 
Ia berhasrat menciptakan sebuah sosial plaform untuk kita berbagi informasi tentang tempat dan layanan terbaik di India.

"Beberapa masalah umum adalah pendanaan, pemasaran, menjangkau pemilik properti dan investor. Aku punya reaksi beragam dari teman dan keluarga di sekitar saya, beberapa dari mereka percaya pada saya dan beberapa dikritik dan khawatir jika aku bisa membuatnya. Tapi sekarang mereka semua tersenyum dengan penghargaan," jalasnya.

Membangun bisnis tanpa dukungan finansial cukup sulit, seorang wirausahawan muda atau wirausahawan pelajar. Itu akan sangat beresiko. Anda tengah memasuki dunia yang saling berlomba dimana ketepatan jadi satu faktor. 
 
Beberapa hal yang mendukung akan menjadi taktik jitu. Wirausahawan pelajar umumnya akan gagal pada dukungan -dukungan mental dan finansial. Apa yang mereka harapkan dari bocah 13 tahun? Ini mungkin menjadi perhitungan kamu memulai.

Sejarah OYO

 
 
Tapi memulai bisnis lebih awal berarti menjadi sukses lebih dini.

Di India yang menjadi faktor landasan nilai dimana semua bergantung pada pendidikan universitas. Tidak ada yang bisa disalahkan ketika memilih pendidikan atas kewirausahaan. Namun orang tua pasti akan sadar jika kita berusaha meyakinkan mereka; ada peluang disana. 
 
Di tahun 2013, Ritesh memasukan proposal bisnis Oravel ke Thiel Fellowship, sebuah ajang kewirausahaan di bidang teknologi. Pesaingnya sangatlah berat yaitu dari berbagai negara besar, namun Oravel masuk dalam salah satu kendidat final.

The Thiel Fellowship adalah sebuah program dua tahun dimana rekan-rekan akan menerima $ 100.000 dan bimbingan dari jaringan yayasan pengusaha teknologi, investor dan ilmuwan (termasuk orang-orang seperti Mark Zuckerberg, Larry Page, Elon Musk dan jelas Peter Thiel). 
 
The Fellowship didirikan oleh kapitalis ventura Peter Thiel untuk memberikan mereka anak muda di bawah usia 20 alternatif selain melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Mereka diajarkan untuk mengejar ide- ide inovatif dalam ilmu pengetahuan dan bisnis. 
 
Dalam kebanyakan kasus ini berarti menjatuhkan pilihan untuk keluar dari sekolah tetapi ada hal-hal yang tentu lebih besar untuk mereka para finalis. Karena batasan umur harus dibawah 20 tahun setidaknya ada kompensasi dari umur mereka; mereka masih bisa mengejar pendidikan nanti. 
 
Ritesh pergi ke perguruan tinggi untuk jangka waktu yang sangat singkat dan tidak pernah kembali; tepatnya, ia menghadiri kuliah selama 2 hari.
 
Catatan: artikel asli dipublish pada 2014. Ritesh Agrawal merupakan pendiri aplikasi OYO. dan jadi pengusaha muda terkaya di India.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba