Anak Profesor Jadi Pengusaha Alas Laptop

Profil Pengusaha Juananda Sutan Assin


pengusaha jual alas laptop
 
Namanya Juananda Sutan Assin seorang pengusaha alas laptop. Anak profesor yang mengembangkan produk sendiri. Alas laptop bernama lapTopper disebut unik karena menjadi konseptor. Konsep ini didapat dari daya pikirnnya menebak pengguna laptop melonjak.

Ia memang sudah merasakan peluang pasar membesar. Ini kunci sukses pengusaha jaman sekarang, butuh inovasi dan kreatifitas mencari celah pasar. Juananda atau dipanggil Nana menebak masyarakat akan makin banyak memakai laptop.

Ide Bisnis


Perempuan kelahiran 11 Agustus 1960, memprediksi memakai laptop akan menjadi hal lumrah. Ini ditambah dengan banyaknya laptop berharga murah. Orang pasti membeli laptop kelak, nah sekarang, apa yang dibutuhkan Nana mencari aksesoris yang paling mudah diproduksi.

Dia menciptakan bantalan laptop. lapTopper dimaksudkan agar kita enak memakai komputer jinjing. Tidak perlu ditaruh di atas meja karena ini bukan komputer. Ide ini datang ketika Nana melihat sang putri bermain laptop diatas pahannya.

Si anak merasa panas ketika sudah berlama- lama. Laptop memang mudah panas bila dipakai terus- terusan. Nah, dia ternyata pandai mengambil buku buat dijadikan alas, inilah ide awal menciptakan alasan laptop. Nana sendiri memakai buku bila sedang menjalankan laptop ketika tiduran.

"Saya berpikir untuk menciptakan alas laptop yang trendi dan nyaman," kenangnya.

Melalui PT. Juara Radya Kencana membuat bantalan alas laptop. Nana ingin membuat bantalan yang dipangku dan nyaman. Ia mengeluarkan modal Rp.20 juta hasil menabung. Dia mulai membangun usaha ini. Bentuk trendi lapTopper membuatnya diminati masyarakat pemakai laptop.

Putri Alm. Profesor Sultan Assin, sosok guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang telah menjual sampai keluar negeri ke Singapura, Brunei Darussalam, Swedia, Prancis, Spanyol, dan Australia.

Nana terlahir dari keluarga yang mengutamakan pendidikan. Nana terbiasa belajar dan bekerja keras untuk sesuatu. Dia sangat bekerja keras untuk mencapai hal diinginkan. Tahun 1976 sampai 1979, ia bersama saudari kembarnya Lilian Stuan Assin, bersekolah menangah atas di Belgia.

Selulus SMA, ia berhijrah ke Amerika Serikat, melanjutkan kuliah di jurusan akuntansi Connecticut State University. Sejatinya, istri dari Ramelan Kosasih, menyukai hal- hal berhubungan dengan ilmu matematika. Namun dia juga menyukai desain interior namun tidak ada metematikannya.

Dua hal saling bertentangan ini, suka desain tetapi ia tidak menemukan matematika di kuliahnya. Dia kemudian memilih masuk ke jurusan Akuntansi. Nana menjadikan akuntansi kuliah utamanya. Lulus kuliah 1984, Nana bekerja untuk PriceWaterhouse Coopers (PWC) sebagai konsultan.

Tiga tahun dia menjalankan karirnya dibidang perbankan. Karir Nana bertahan lima tahun sembari ia membeli waralaba. Nana menjajal bisnis waralaba food & beverages di Waterboom, Bali. Sayangnya, bisnisnya tidak berhasil, hanya menyelesaikan kontrak lima tahun tanpa niatan memperpanjang.

Di antaranya, pada 2007 -an, ketika bisnisnya meredup maka Nana mencari- cari peluang bisnis lain. Ia menemukan bantalan ini. Segera Nana mengeluarkan modal untuk membeli mesin jahit. Lalu, dia merekrut dua penjahit untuk menjahit desain, dan sisanya dibelikan material busa, kayu, dan pelapis.

Ide bisnis ini bukanlah hal baru tetapi pernah dia jumpai. Tetapi Nana pernah melihat pelapis seperti itu ketika berkuliah di Amerika Serikat. Hanyalah, Nana menjelaskan bantalan tersebut di sana pakai bahan plastik.

Inilah inovasi Nana menggunakan butiran styrofoam sebagai isi bantalan. Awalnya tidak mudah, ia telah mencoba aneka macam desain sampai tiga bulan. "Saya bolak- balik merubah desain sampai 10 kali," terangnya kepada Kontan.co.id

Sampai ia meyakini desain telah terbaik barulah memproduksi. Awal dia membuat 50 buah bantalan yang dibawa ke Cilandak Town Square, Jakarta Selatan. Di sini, pesanan berdatangan sangat banyak, dan menjadi kejutan bahwa ternyata animo masyarakat tinggi.

Nana sempat kwalahan menangani permintaan. Di pasaran, lapTopper sangat dikenali karena punya bahan katus berkualitas bagus. Bentuk unik berupa hurum U yang pas ditaruh ke pinggang. Ditambah gagang kayu yang cocok berbaur motif macam- macam.

Motifnya cantik bermacam- macam dengan tambahan kipas angin. Ukuran bantalan S (40 x 30 cm) seharga Rp.195.000, ukuran M (40 x 50 cm) harga Rp.235.000, dan ukuran L (40 x 60 cm) yang dijual seharga Rp.285.000 perbuah.

Produk ini bisa dijumpai di gerai penjual laptop seperti eStore Apple, EMAX, dan Office2000. Dan punya reseller di Malaysia, Brunei, dan Singapura. Nana mampu memproduksi 2000 unit perbulan, dan omzetnya Rp.200 jutaan. Semakin murah harga laptop maka produknya akan semaki diminati.

Waralaba Murah Laundry Kisah Pengusaha Solo

Biografi Pengusaha Sasi Kirana 


waralaba murah

Apa kamu sedang mencari waralaba murah laundry. Cobalah usaha besutan pengusaha Solo bernama Sunpretty Laundry. Inovasi waralaba atau franchise telah memasuki wilayah pribadi. Rahajeng Sasi Kirana (32) awal- awalnya sekedar iseng membangun bisnis luandry diwaralaba.

Dari laundry Sun Pretty Laundry, ia sukses membuka 22 gerai bisnis laundry di berbagai kota. Usaha jasa pencucian pakaian ini telah menjadi buruan mereka pekerja sibuk. Orang tidak usah pikirkan tentang cucian segunung karena Sun Pretty Laundry siap sedia kapapun.

Ia pernah bekerja di LBB Primagama Yogyakarta sebagai accounting sekaligus tentor. Sasi, begitulah sapaan akrab wanita cantik satu ini memulai bergelut dengan tumpukan cucian.

Prospek Bisnis Laundry


"Dulu waktu saya di Jogja, melihat banyak sekali tempat laundry yang semuanya ramai. Dari situlah berpikir kenapa nggak buka bisnis laundry saja," terangnya. Bisnis laundry ini didirikan 2010 silam telah berkembang pesat.

Bisnis ini bermodal Rp.2 juta ditambah sebuah mesin cuci pinjaman ibunya. SunPretty Laundry pada awalnya membuka gerai sendiri di Jl Kalingga VII No 18 Solo. Sasi harus siap berusaha menarik pelangganya melalui sistem delivery service; menjadi tantangan tersendiri.

Dimana baju kotor diambil dari tempat pelanggan kemudian dibawa ke gerai kemudian diantarnya kembali ke pelanggan setelah bersih.

"Awalnya, saya ambil sendiri cucian kotor pelanggan dengan motor dan saya taruh di depan. Seringkali karena banyaknya cucian wajah saya sampai tertutup," kenang wanita kelahiran 28 Oktober 1980 ini sambil tersenyum.

Jerih payah itu ternyata menghasilkan ketika bisnisnya mulai dikenal. Beberapa bulan setelah melakukan launching barulah pelanggan berdatangan. Menurut Sasi sukses tak lain lantaran tempat digunakan olehnya sangatlah strategis.

Gerainya ada di sekitar kampus dan merupakan wilayah kos- kosan. Tentunya akan banyak mahasiswi memilih mencucikan disana. Apalagi Sasi sendiri menjalankan konsep bisnisnya agar seramah mungkin.

Bisnisnya menempati bekas kos- kosan milik sang kakek menjadi kunci keberuntungan tersendiri. Konsep bisnisnya simple ditambah cukup unik menggunakan paduan konsep warna- warni khas. SunPretty Laundry selalu menghangatkan dalam pelayanan.

Bisnis ini benar- benar menarik perhatian terutama bagian bahan- bahannya. SunPetty Laundry menggunakan bahan khusus di setiap cucian. Prinsipnya yaitu berbagai masalah laundry harus bisa diatasi.

"Kami juga menawarkan jasa cucian hanya dalam waktu 4 jam, namun tidak mengurangi kualitas sedikit pun. Ini juga yang menjadi kelebihan kami," ungkap Sasi.

Ia melihat persaingan cukup ketat nekat mencari mitra bisnis. Sasi membuka peluang bagi siapa saja buat kita menjalankan bisnisnya melalui sistem waralaba.

"Mitra bisnis pertama saya adalah Ibu Zulkarnain dari Makassar. Sekarang setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, bersyukur sudah 22 gerai yang buka," ujarnya bangga.

Gerai Sun Pretty Laundry telah tersebar diantaranya di sekitar Surabaya, Tulungagung, Semarang, Sragen, Jakarta, Banjarmasin, Makassar, Batam, dan Bali.

Melalui bisnis waralabanya ini, yang manarik, ketika dia tidak mengambil royalti fee. Jadi bisa dibilang bisnis ini begitu murahnya bagi pewaralaba. "Semua keuntungan yang diraih mitra, menjadi 100% milik mitra. Ini tentu sangat menguntungkan," jelas Sasi.

Sun Petty Laundry menawarkan berbagai macam paket franchise yaitu antara lain paket cute, charm, smart, dan briliant. Bagaimana modal waralabanya? Ia menjelaskan dari paket tersebut nilainya Rp.20 juta sampai Rp.70 juta.

Sasi hanya mengandalkan situs jejaring sosial agar bisnisnya semakin dikenal. "Sekarang twitter, facebook, dan website terbukti ampuh sebagai media promosi. Buktinya, tak hanya di Solo, Sun Pretty Laundry ini juga bisa dikenal di berbagai kota di Indonesia," aku Sasi.

Ia patut berbangga hati ketika Mentri UKM dan Koperasi memberinya penghargaani the Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA) 2012. SunPretty Laundry sukses pengusaha Solo bisa masuk kategori Industri Kreatif Berkembang tahun 2012.

Memang layak disebut pengusaha wanita kreatif dan berkembang. Sasi telah mengembangkan konsep delivery order, waralaba atau franchise, lalu terkahir ini, bernama Spa Laundry.

Apa itu? Ini bisa dijelaskan sebagai mencuci satuan khusus beraroma therapy. Melihat respon orang positif terhadap layanannya, ia mantap terus berprestasi.

"Alhamdulillah, ini merupakan kado teristimewa dari Kementerian UKM dan Koperasi Republik Indonesia. Kami sempat tidak menyangka akan mendapatkannya," ungkap Sasi merendah.

Kini merek miliknya yaitu SunPretty Laundry tidak hanya dikerjakan sendiri. Ia mengajak sekalian sang adik, Virina Ayu Wulan, dan berpresentasi hingga keluar kota Solo. Saat ini baru enam orang ikut masuk ke dalam sistem warlabanya ketika artikel ini ditulis.

Jika kamu mau menjadi mitra cukup mudah dan ringan biaya. Ada beberapa paket yang ditawarkan kepada, jumlah investasi sangat terjangkau antara lain Paket Cute investasi Rp 11.900 ribu, Paket Charm investasi Rp 14.900 ribu, Paket Smart Rp 20.900 ribu, dan Paket Brilliant dengan investasi Rp 45 juta.

Mahal? Tentu bisa dibilang tidak karena kamu bisa mensave untung 100%. Waralaba murah laundry ini siap kamu coba.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba