Pemilik Foremost Biografi Fauzan Adhima Efwandaputra

Biografi Fauzan Efwandaputra


pemilikforemost.png
 
Pemilik Foremost bercerita mengenai semangat anak muda Bandng. Mereka memang dikenal memiliki selera fashion tinggi. Dan merea juga memiliki semangat entrepeneurship. Layaknya anak lain, Fauzan Adhima Efwandaputra, punya hobi jalan- jalan terutama di kawasan Jalan Trunojoyo, Bandung. 
 
Hobi jalan yang sudah dilakukan sejak sekolah menengah atas. Ia pun hobi menghabiskan uang di distribution store atau distro. Efwan, begitu sapaan akrab pemuda ini, mulai timbul perasaan lain. Imajinasi liarnya membawa ke sebuah mimpi wirausaha. 
 
Bilamana dia mempunyai distro dan memajang brand fasion hasil karyanya sendiri.
 

Mendirikan Bisnis


"Waktu itu, ya kami suka ngabisisn duit," ujarnya. "Biasalah, pingin ini pingin itu." Impian Efwan baru terwujud ketika usia 23 tahun. Ketika itu, dirinya masih berstatus mahasiswa Jurusan Hubungan Masyarakat Unpad. Wujud dari usahanya ialah mengajak teman- teman sekampus.

"Karena kami menyukai sepatu, kami jadi tahu kualitas sepatu yang baik seperti apa," jelas Efwan tentang usaha pertamanya.

Tanpa disangka baru sajalah memulai usaha tersebut menarik perhatian. Di awal 2010, Efwan mulai menekuni usaha fashion tetapi modal coba- coba. Mulai coba menjual produk seperti ini. Kemudian membuat aneka produk sendiri seperti sepatu, dompet, dan kaos. 
 
Dia juga aktif mengajak beberapa kawan membantunya. Dari satu patner bisnis tidak cocok, ke patner bisnis lain bisa sangat cocok. Kemudian Efwan resmi berpatner dengan rekan sejawat bernama Yusuf Ramdhani. Keduanya berjalan searah berbisnis brand sepatu. 
 
Usaha yang sebelumnya tidak punya merek sama sekali. Sekitar Oktober 2010 usahanya terbilang cukup moncer dengan sepatu dan kaos.  Lama kelamaan usahanya semakin dikenal karena barangnya menarik di pasaran. 
 
Mereka sepakat mengambil nama brand. Intinya sebuah usaha pembuatan sepatu bot homemade. Ada nilai tambah lain adalah footprint -nya.

"Awalnya saya membuat sepatu kets dan kasual," terang Efwan.

Ia menjelaskan tentang aksara Sunda di footprin. Yang kalau diterjemahkan nanti berarti "Indonesia Pride". Itulah pula yang dianggapnya menjadi alasan kemenangan Foremost di ajang Wirausaha Muda Mandiri. 
 
Dia lanta  mencetak sejarah lewat ajang bernama Wirausaha Mandiri 2011. Dari sana, namanya tercatat menjadi pengusaha muda sukses dikategori kreatif.

Usahanya tersebut bahkan mendapatkan perhatian pemodal. "Nilai tambah dan keunikan ini yang mungkin membuat kami menang," akunya bangga.

Efwan memulai usaha berjualan lewat online. Karena produk bersifat handmade maka tidak sama yang ada di pasaran. 
 
Alhasil usaha sepatu ini dijalankan hampir tanpa modal berarti. Istilah Efwan cukup memasang foto, uang masuk ke rekening, dan orderan tinggal dikerjakan. Namun cara ini malah membikin dirinya jadi super kwalahan.

"Pusing. Banyak yang rewel," kenang Efwan. Mereka terlanjur pegang uang sementara produksi masih dalam proses berjalan. 
 
Nah, para pembeli ini rewelnya minta ampu meminta kapan produknya jadi. Untuk itulah muncul ide memakai konsep ready stock. Produk itu diproduksi dahulu kemudian baru dipostingkan. Produk kemudian difokuskan di sepatu kulit. Ia juga mulai mengeplorasi bentuk sepatu. 
 
Efwan mulai mencari ciri khas produknya. Cirinya yaitu memakai kulit sapi berkualitas baik. Juga dibuat secara handmade (buatan tangan) jahitan rapih. Foremost juga menambahkan spons insole agar memberikan kenyamanan ekstra.

Sementara outsole -nya dibikin original sole berbahan dasar karet matang. Mengenai rujukan gaya mengambil fashion western yang digemari anak muda. Untuk menonjolkan adanya kesan etnik maka ditambahlah aksara Sunda. 
 
Dipatri ditulis dibawah sole Foremost yang membentuk bentuk kepulauan Indonesia.Efwan menginginkan Foremost -nya menjadi brand terkemuka Indonesia; tidak masalah jika modal cekak.
 
 
 
Menurut bahasa Foremost sendiri berarti terkemuka, kalau diturunkan ke Indonesia berarti mengemukakan Indonesia kepada Dunia. Memadukan cita rasa barat agar mudah diterima siapa saja diluar.

Sementara itu juga bisa masuk ke dalam hati masyarakat Indonesia.

"Tulisan aksara Sunda itu sebenarnya bertuliskan Indonesian Pride. Kita ingin menjadikan Foremost sebagai kebanggaan orang Indonesia," jelasnya lebih dalam, ternyata Efwan tidak main- main soal mimpinya.

Dia menyebut sepatunya dirancang senyaman mungkin bagi para pengguna. Pengalaman panjang dan hobi sepatu membuatnya kuat. Agar tidak jenuh, adanya produk seperti dompet, jaket, dan kaos menjadi tambahan. 
 
"Rata- rata 30- 40 pieces melalui online dan 30 pieces untuk offline," terang Yusuf, patner Efwan yang fokus pada marketing.

Target panjang Yusuf menjelaskan untuk Foremost adalah menguasai pasar Internasional. Termasuk sukses buat masuk ke Asia, utamanya di Singapura. Mereka mengcampaign Foremost for the People. Kata- kata itu artinya adalah meng- foremost- kan orang. 
 
Atau ingin aktif dibicarakan, dikenal, dan dipakai tuturnya lagi.

Dia bersama Efwan terus mencoba menggebrak lewat brand lokal cita rasa internasional. Menurut Efwan sendiri keilmuan menjadi kendala utama pebisnis. Sebagai pengusaha muda, rentan untuk bermasalah di manajemen dan keuangan. 
 
Dia sendiri memfokuskan hal tersebut selama perjalanan bisnis. Dia bahkan belajar merancang rencana keuangan sendiri. Proses marketing sendiri dibuat isitilah zona market  horizontal. "Kalau ini tidak terlalu bermasalah asal tak bodoh banget tentang Facebook dan Twitter," katanya.

Sukses lewat sosial media tinggal masuk ke pasar offline. Untuk ini dibutuhkan pusat distribusi- distribusi yang kuat. Lain hal dengan maen online dimana uang datang barung barang. Dia mencoba memanfaatkan pasar yang bersifat curated market atau pasar terkurasi. 
 
Untuk itulah ia mulai rajin membawa masuk ke ajang pameran. Disana terseleksi sendiri sesama brand lokal. Ajang curated market bidikannya adalah pameran Trademark dan Brightspot. Pemasaran Foremost mengikuti tiga market menggiurkan. 
 
Selain itu menarget pasar anak muda, Foremost ingin menyasar wanita, pengguna internet umumnya atau mereka orang tua yang mau bergaya masa kini. Tetapi fokus produk sepatu bot kulit ini tetap di pasar anak muda. 
 
Khususnya anak muda mahasiswa, terspesialnya buat anak- anak cowok. Putusan tersebut dirasa tepat karena segmen pasarnya. Plus tim kerjanya adalah seratus persen itu cowok. Jujur Efwan belum berani betul melangkah masuk ke pasar perempuan.

"Kalau cowok seumuran ini, kitalah yang paling mendalami," jelasnya. Takutnya mereka "ngeblur" ketika berhadapan dengan pasar cewek. 
 
Dia juga menambahkan produk lain sebagai bentuk fokus. Difersifikasi barang macam dompet dan kausnya itu seolah menegaskan konsepnya. Untuk pasar sendiri, maka seperti hal produk lain, Efwan telah siap semua kalangan.

Segmen menengah bawah akan diisi oleh McMaker. Brand dibawah Foremost ini memang berharga murah meriah. Tetapi rata- rata penjualan menembus 300 pasang. Disisi lain, produk Foremost -nya memang harus diakui lebih ke musiman. Foremost cuma menembus angka 200 pasang sebulan pada musim tertentu.

McMaker merupakan bantalan agar modal berputar. Namun, karena sambutan baik, maka jadilah salah satu produk utama dijual Rp.120- 300 ribu. "Kalau Foremost seperti menjual Mercy, McMaker seperti jualan Avanza," lurus pria kelahiran 11 Agustus 1989 ini.

Usaha Sampingan Tak Perlu Resign Pekerjaan

Profil Pengusaha Kartini 


usahasampingan.png

Usaha sampingan tak perlu resign pekerjaan. Dia yang awalnya cuma mencoba- coba. Lama kelamaan, Kartini keterusan mengerjakan usaha barunya tersebut. Bayangkan saja dalam dua bulan sejak dibuka. Dia sukses mereguk untung bahkan bisa balik modal  langsung. 
 
Usut- punya usut ternyata jiwa wirausaha sudah lama. Kini, modal itulah yang dibawa membesarkan usaha siomay Mommy's Kitchen.
 

Tak Perlu Resign Pekerjaan


Bukan hal baru bagi wanita kelahiran Tanjung Pinang, 21 Maret 1972 ini. Kartini sudah biasa berdagang sejak dini. Dulu ketika sekolah dasar sudah berdagang kue. Sejak SD, dia telah terbiasa bangun pagi, dibawanya kue- kue bikinan ibunya ke warung. 
 
Kemudian ketika sore tiba dikunjunginya warung lagi. Tangan kecil itu sudah biasa menghitung keuntungan. Tidak hanya berjualan kue. Ketika ibu membuka warung nasi, dia juga ikut membantu.

Kartini akan ditugasi berbelanja ke pasar. Sejak subuh, sebelum matahari tampak, anak seusia itu sudah ada di pasar berbelanja. Dia tidak merasa dipaksa oleh keadaan tersebut. Selepas belanja barulah berangkat ke sekolah. 
 
Ketika pulang sekolah, Kartini akan membantu sang ibu menjaga warung miliknya. 

"Kasihan tak ada yang menemani dia," kenang Kartini.

Dari usaha tersebut, Kartini kecil mendapat tambahan uang jajan. Dia mendapat beberapa ribu buat membeli buku cerita atau baju baru. Itulah awal jiwa wirausahaan Kartini terus tumbuh. Perasaan senang ketika kerja kerasnya dihargai. 
 
Bukan soal uang sih, tentu karena anak sekecil itu tidak paham soal untung rugi. Dalam benaknya ada kesenangan bisa membantu dan apa itu penghargaan.

Jiwa wirausaha membawa Kartini berbisnis kembali. Sambil berkuliah di Akademi Bahasa Asing Lampung, Kartini memulai berbisnis sendiri. Sambil sibuk berkuliah sambil berjualan kosmetik. Teman sekampus pun merespon baik. 
 
Itu membuatnya semakin besemangat. Ketika berkuliah di London School, Jakarta, dia lalu mulai berbisnis kembali. Prinsipnya jalankan apa saja asal menghasilkan. Alhasil tidak ada bisnis yang bisa berjalan awet. 

Kebanyakan berganti- ganti setiap ada kesempatan. Dia belum berpikir menyeriusi usaha apapun. Selepas kuliah dan bekerja, dia kembali mencoba berbisnis kembali cuma berbeda dari sebelumnya. Cuma dia sudah menyadari bahwa tidak bisa sembarangan. 
 
Kartini memilih untuk masuk ke seminar. Dia mencoba mencari tau ide bisnis sampingan awet. "Dari seminar itu saya mendapatkan ilmu bahwa bisnis harus dilandasi dari hobi kita," terang Kartini.

Usaha Sampingan


Selain mengenai bisnis harus mengikuti passion. Kartini belajar banyak tentang manajemen bisnis UKMKU. Sekembalinya dari sana, Kartini mantap mau memulai usaha kembali. Ibu dari satu anak bernama Kanzie ini tidak menarik kata- katanya. 
 
Dia langsung membuat aneka makanan seperti mie, empek- empek, bakso, dan siomay. Pokoknya apa saja yang itu disukai masyarakat umum. Sebelum dijual ke masyarakat umum. Hal pertama dilakukan Kartini menjualnya ke keluarga terdekat. 
 
Dia tidak percaya diri akan hasilnya. Dia sempat takut kalau- kalau makanan itu tidak akan laku. Untung respon mereka ternyata positif bisa dijual. Karini pun semakin bersemangat mengembangkan usaha ini. 
 
Enam bulan kemudian dijualah semua itu ke masyarakat. Marketing awal cukup membagikan brosur ke tetangga dan dekat kantor.

"Kebetulan tempat tinggal saya dekat dengan kampus," terusnya. 
 
Ia tidak meninggalkan kesempata tersebut. Dia mulai menjajakan daganganya disana. Ia memberi nama bisnis ini Mommy's Kitchen. Dari kos- kosan terdekat mulai mendatangi kosan teman. Begitu seterusnya menjalar jauh sampai ke berbagai arah. 
 
Di tempat kos 30 kamar tersebut dibagikan lah brosur lagi. Ternyata menghasilkan, terbukti melalui pesanan yang mulai ramai datang. Modal Rp.7 juta kembali modal bahkan untung dibulan kedua. Sang suami ternyata juga membantu dia agar bisa begini. 
 
Dia ikut menawarkan makanan itu ke teman- teman kantor. Dari situ pulalah pesanan bertambah datang banyak. Berkat usaha tersebut rata- rata menghasilkan uang tambahan Rp.10 juta/bulan. Dia cuma mengerjakan aneka makanan/jajanan khas. 
 
Seperti hal pempek, lumpia, pisang goreng, bakso, tekwan, mie ayam, dll. Untuk siomay paling mendapatkan sambutan baik. Seminggu saja orderan khusus siomay berkali- kali. Oleh karena itulah diadakan layanan kirim. Kartini memberikan minimum pembelian buat satu ini. 
 
Siomay akan siap diantar ke rumah kamu masing- masing. Minimal order mencapai 300 buah untuk perusahaan. Perorang minimal Rp.25 ribu tapi cuma kawasan Kuningan dan Sudirman.

Apakah dia berhenti bekerja?

Ternyata tidak sama sekali. Malah Kartini membuka lapangan pekerjaan. Dia mempekerjakan empat karyawan sehari- hari. Tiga orang diplot menjadi juru masak dan satu orang menjadi kurir antar. Kedapan, apa lagi yang bisa dilakukan 
 
Kartini buat usaha sampingan ini, ia mau membuka bisnis kantin. Bayangkan kantin sekolah atau kantor khusus menjajakan masakan bikinan Mommy's Kitchen.

Penemu Metode Jarimatika Septi Peni Wulandani

Kisah Penemuan Metode Matematika 


penemujarimatika.png

Penemu metode Jarimatika bukan sembarang ibu rumah tangga. Perempuan asli Salatiga yang menghabiskan sekolah menengah disana. Ia lantas hijrah sampai Semarang berkuliah di Universitas Dipenogoro. Septi Peni Wulandani mengambil jurusan Ilmu Gizi. 
 
Rencana menjadi pegawai negeri sipil sudah terbuka luas. Pasalnya, Septi masuk jalur kedinasan, dan sayangnya, rencana itu buyar gara- gara suami. Sang suami meminta agar fokus mengurusi rumah tangga saja.
 

Ide Jarimatika


Gagal menjadi PNS, Septi cuma menjadi ibu rumah tangga biasa. Pesan sang suami masih terngiang jelas di telingan perempuan berjilbab ini. "Anak itu mendapatkan pendidikan langsung dari orangtuanya, bukan dari orang lain" kenangnya. 
 
Keputusan mengikuti kehendak suami cukup menyentak. Terutama kedua orang tua Septi. Mereka menganggap PNS adalah pekerjaan yang terjamin di hari tua.

Tahun 1995, Septi diboyong suami yang pegawai bank ke Jakarta. Mereka harus menetap di Depok, Jawa Barat. Ia sendiri sebenernya selalu iri melihat kehidupan wanita karir. Sudah setahun tidak lagi bekerja, Septi masih ingin bekerja. Diskusi panjang pun terjadi diantara pasangan ini. 
 
Ia terngiang ucapan sang suami jelas waktu itu, "kesuksesan seorang perempuan dimulai dari dalam rumah tangga dan akan tampak hasilnya di luar."

Hasrat bekerja meredup ketika putri pertama lahir. Dialah Nurul Syahid Kusuma, mulai membuat Septi jadi menikmati peran ibu rumah tangga. Pekerjaan yang tidak bisa disepelekan. Tidak semua orang bisa menjadi ibu yang baik. Ibu menurut Septi bukan golongan second class. 
 
Mereka bukan yang cuma berpakaian daster seharian. Justru perempuan musti bangga ketika menjadi ibu rumah tangga. Ini profesi mulia dan alami bagi seorang ibu.

"Bayangkan kita harus mengelola semua urusan rumah," ujarnya.

"Bekerja" menjadi ibu rumah tangga bukan berarti diam. Dia aktif mencari tau soal beraneka macam. Tujuan akhirnya bagaimana agar menjadikan rumah kantor. Septi mulai menyusun jadwal kerja. Dia mulai banyak baca buku tentang parenting. 
 
Juga aneka buku inspiratif buatnya ibu rumah tangga. Dia bahkan ikut kuliah umum tentang pendidikan. Jadwal kerja tersebut dimulai dari pukul delapan pagi sampai empat sore.  Bahkan, kalau di rumah, Septi percaya diri berpakaian rapi layaknya wanita kantoran. 
 
Ia menjadikan rumah menjadi kantor. Di jam kerja termasuk belajar berbagai keterampilan buat sang anak. Bahkan, kala itu, jika tetangga mengajak mengoborol di jam tersebut; Septi menolak. Secara bertahap pula dirinya menumbuhkan jiwa entrepreneurship. 
 
Jiwa itu diuji ketika krisis ekonomi 1998 dimana banyak perbankan mulai gulung tikar. Termasuk, tempat kerja sang suami, yang mau- tak mau turun tangan keluar dari zona nyaman.

Jiwa Entrepreneurship


Hal pertama dibenaknya adalah berdagang. Berbisnis merupakan pilihan tepat. Untuk membantu ekonomi keluarga jadilah Septi berjualan pakaian muslim. Ini sesuai passion -nya di pakaian muslim. Wanita berjilbab ini mulai keluar berjualan door- to- door. 
 
Modal sepeda motor berkeliling sekitar komplek. Ia senidir dapat stok dari rekan yang memiliki toko di Tanah Abang Jakarta. Modal uang? Dia dapat dari sisa uang tabungan suami.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank semua zaro," kenang Septi.

Sang anak pertama sebenarnya telah membuka kesuksesan. Lewat putri pertamanya menjadi jalan pembuka lahirnya Jarimatika. Ya siapa Septi Peni Wulandari adalah penemu metode Jarimatika. Ketika Enes (nama panggilan putrinya) mulai dewasa dan mampu menggerakan jarinya. 
 
Ia mulai berpikir tentang bagaiman cara mengajar agar lebih mudah. Sebagai seorang ibu rumah tangga profesional harus memperlihatkan hasilnya. Septi memilih berdagang baju muslim. "Karena passion saya di busana muslim, saya berjualan baju muslim," terangnya. 
 
Dimana barang tersebut dibawa dari seorang teman yang punya ruko di Tanah Abang Jakarta. Ia mulai berjualan lewat door to door. Berkendara motor berkeliling komplek menawarkan baju muslim. Modal uang didapat dari sisa tabungan suami. Dia mengaku semua tabungan mereka ludes.

"Sampai kami pernah merasakan rekening yang ada di bank zero," beber dia.

Sambil berdagang sambil mengajari anak. Dia mengajari Enes membaca menghitung. Enes menggerakan jari- jari kecil itu mengeja angka. Langkah awal ialah bagaimana menghitung angka satuan. 
 
Masalah muncul ketika mulai menghitung puluhan. Meski berhitung jari lebih menyenangkan. Butuh solusi lebih lanjutan agar  anak bisa menghitung lebih banyak. Itulah mengapa terbersit ide membangun Jarimatika darisana.

Perjalanan tiga tahun lewat trial and error. Aneka cara sudah pernah dicoba seorang Septi. "...tapi kami tetap semangat," kenang dia. Tahun 2000 barulah konsep Jarimatika mulai diajarkan. Jarimatika terlahir dari rasa sayang terhadap sang anak. 
 
Untuk mencukupi kebutuhan ekonomi Jarimatika mulai dipasarkan. Awalan dipasarkan ke tetangga dan teman yang tertarik. Bermodal pengalaman berdagang, Septi menyusuri jalanan ibu kota.

Dia naik turun bus berkeliling kota. Keluar masuk sekolah atau lembaga pendidikan. Adapun prinsip metode ini ialah belajar bertahap. Tahap awal, anak Septi diajarkan metode membaca menyenangkan. Anak tidak diajarkan membaca, duduk, kemudian membaca lagi. 
 
Benar menyenangkan sampai tidak terasa anak bisa membaca di usia 9 bulan. Usia dua hingga tiga bulan sudah bisa membaca koran. Ini merupakan proses yang menyenangkan.

Metode membaca tersebut lantas dikembangkan lebih lanjut. Nama metode ini adalah Abaca Baca. Kini ibu lebih gampang mengajarkan membaca. Tahap kedua yakni mengajarkan berhitung. Inilah awal metode utama Jarimatika. 
 
Kalau kamu bertanya Jarimatika atau Abaca Baca duluan? Jawaban ada di Jarimatika, untuk satu ini lebih sulit pengembangannya, butuh waktu lama bahkan mencoba aneka metode terlebih dulu.

"Setiap ada ide baru, kami tulis diatas kertas dan ditempel," jelasnya.

Septi selalu mengganti cara berhitung anak. Banyak metode telah digunakan termasuk lewat peraga. Cuma masalahnya si anak itu tidak aktif. Ketika alat peraga rusak anak akan enggan memakai lagi. Ketika jari anak mulai terlihat aktif. 
 
Ia dan suami melihat sebuah cara mengajar. Ingin mengoptimalkan jari sebagai alat bantu hitung. Rumus- rumus mulai dieksperimen lewat jari jemari. Dia bahkan membawa atribut Jarimatika lengkap. Dari satu bus ke bus lain menyusuri lembaga pendidikan, menawarkan metode ini. 
 
Di rumah, Septi menerapkan metode home schooling dulu buat anaknya. Menurut pemikirannya inilah saat membangun karakter si anak. Di sekolah justru tempat anak bersosialisasi. Karakter menurut dia adalah kemampuan agar si anak percaya diri. Diumur 1 tahun bisa membaca pasti anak semangat.

Usia nol sampai 12 tahun masa tepat membangun karakter. Terutama diawal ketika kita masih bisa pegang sendiri. Umur 13 tahun anak sudah siap bersekolah di luar rumah. Singkat, anak akan bisa hidup mandiri jika sudah berumur 15 tahu. 
 
Prinsip lain adalah anak harus ditangani ahlinya. Hasil kerajin datang ke seminar- seminar pendidikan membuahkan hasil. Agar bisa mengikuti seminar di kampus bahkan membubuhi jabatan dia.

Dia menulis "ibu rumah tangga profesional". Lewat kartu nama unik inilah bisa mengikuti sampai anaka kuliah umum. Tambahan lain menurut dia kalau anak dari kelas 1-6 di SD sama; ini bukan sosialisasi. Menurutnya anak akan minder jikalau masuk ke lingkungan baru. 
 
Sebuah komunitas sama dalam waktu lama itu dianggap tidak efektif. Padahal konsep tersebut dijalankan baik di desa sampai di kota.

Merintis Usaha


Melalui marketing dibukukan Jarimatika menyebar. Bak virus tanggapan masyarakat luas ternyata antusias. Tapi apakah menguntungkan? Tentu, lewat buku tersebut metode ini menjual, di tahun 2003 bertemulah dia dengan seorang wanita. 
 
Inilah awal Jarimatika menyebar lebih ke tingkat selanjutnya. "Kita enggak kepikiran sampai sejauh itu," ujarnya. Dia sendiri waktu itu bahkan tidak punya komputer. Mulai satu per- satu rumus dijadikan satu.

Dia mulai mengumpulkan flip card berisi rumus. Jadilah sebuah buku dan mulai dijual ke masyarakat luas. Sampai kita sekarang mengenal apa itu Jarimatika. Lewat buku Jarimatika, Septi mulai diminati untuk maju menjadi pembicara aneka seminar. 
 
Buku Jarimatika bahkan terjual 130.000 eksemplar di pasar. Namanya sudah wara- wiri di aneka seminar Jabodetabek. Tahun 2005 Jarimatika sudah dipatenkan buat melindungi hak cipta.

Di tahun 2006, kabar tidak enak datang, ketika itu sang ibu mertua sakit. Dia harus dibawa ke rumah sakit Elizabeth Semarang. Didasari karena keluarga Septi lebih mudah bergerak. Septi kembali ke Salatiga untuk merawat sang ayah selama satu bulan. 
 
Tinggal di Salatiga usaha miliknya mulai dari nol kembali. Pasalnya uang tabungan habis untuk merawat ayah mertuanya. Ia mengalami keraguan akan masa depan Jarimatika.

Beruntung media mulai meliput sukses Jarimatika. Beruntung lagi, suami menenangkan berkata, "Bersungguh-sungguhlah kamu pada Allah, Rasulullah, bapak dan ibu. Ketika kamu bersungguh-sungguh, maka masalah dunia, Allah yang mengatur." 
 
Berkat media masa nama Jarimatika masih bergaung. Menggaung sampai ke Pantura, dari Solo, Bali dan Nusa Tenggara Barat. Bisa diterima siapa saja, bisa cepat tersebar 33 kota (saat itu). Waralaba tidak pernah terpikir oleh Septi. Untuk itulah biaya waralaba Jarimatika sangat murah. 
 
Namun ada hal untik terjadi ketika biayanya terlalu murah. Ketika waralaba cuma 3 jutaan malah komitmen mitar turun. Bahkan dianggap bukan lagi investasi bisnis. Ini membuat mereka bekerja setengah hati. Justru ketika naik sampai Rp.9 jutaan malah berbalik. 
 
Melalui waralaba sudah bisa membantu jalan dan bahkan membayar hutang. Hutang bank untuk pengembangan Jarimatika terbayar lunas. Dia berani mempersentasikan bisnis ini ke bank untuk menutup hutang. 
 
Tiga bank dikunjungi olehnya dan dua menolak, alasannya apalagi kalau bukan Septi tidak punya agunan. "Saya tidak menyangka bunga bank sangat memeberatkan," ujar Septi. Dia bisa bolak- balik Salatiga- Semarang. 
 
Tidak perlu modal proposal cukup kliping media masa. Hingga ada satu bank yang mau. Bahkan bank tersebut memberi bantuan tanpa agunan. Utang sudah tertutup tinggal bagaimana membesarkan Jarimatika. Inilah jalan penemu Jarimatika yang menjadi pengajar dan sekaligus pengusaha sukses.

Strategi Bisnis Asuransi Generali di Pasar Indonesia

Profil Pengusaha Edy Tuhirman


strategibisnis.png

Startegi bisnis asuransi Generali di Indonesia. Mereka menunjuk  Direktur Utama yang baru. Direktur utama sekaligus penguat keberadaan perusahaan di negeri Indonesia. Dia adalah seorang mantan engineering di Papua sana. 
 
Sampai akhirnya, Edy Tuhirman tersesat masuk ke dunia perbankan dan asuransi. Pria kelahiran 19 Maret 1964, yang punya trik jitu membangun ide baru.

Bisnis Asuransi

 
Dia mensarankan kamu perbanyakkah traveling dan ide itu akan datang sendiri. Hasilnya bisa dilihat dari kinerja asuransi Generali Indonesia. Meski persaingan asuransi Indonesia terbilang ketat. Generali termasuk terkuat. 
 
Salah satu ide bisnisnya yaitu lewat asuransi traveler. Enaknya menurut Edy besar premi tergantung panjang perjalanan. Lewat iTravel ini diharapkan mampu mengkover traveler. Ini sejalab dengan hobi travel Edy.

Layanan iTravel meliputi layanan rawat inap, perawatan gigi paca kecelakaan, evakuasi, pemulangan, dan lain- lain.

"...pemegang polis dapat langsung menghubungi nomor telepon yang kami berikan dan orang kami akan memandunya," kata Edy.

Tahun 2008, ketika dirinya dan keluarga jalan- jalan, dari sana ditemukanlah produk unitlink. Lewat traveling Generali Indonesia mampu maraup untung besar. Traveling juga termasuk caranya menatap masa depan dari ekonomi Indonesia. 
 
Istilahnya semakin baik ekonomi semakin banyak orang berpikir membeli asuransi. Nah, selain mencari ide bisnis, traveling menurut Edy juga hobi. Disana dia belajar tentang fotografi dan menikmati hidup.
 
Generali Indonesia sebenarnya sudah berdiri sejak 1994. Dimana namanya saat itu masih Asuransi Jiwa Arta Mandiri. Hingga 1999, nama perusahaan berubah Asuransi Jiwa AMP Panin Life. Kemudian berubah lagi ketika diambil alih oleh Generalis Asia N.V. 
 
Sosok Edy sendiri menjadi dibalik bangkitnya Generali dari nol. Dia dulunya adalah mantan teknisi di Papua. Masuk ke perbankan dan Asuransi dipercaya ekspansif untuk Generalis.

"Saya mulai di industri asuransi sejak 6 tahun lalu, memulai Generali dari nol hingga membesarkan sampai sekarang," tuturnya.

Dia menyebut sukses bisnis dimulai dari bermimpi. Kemudian kamu harus punya sebuah bisnis model. Apa yang tengah kamu kerjakan dan akan capai kelak. Edy mengibaratkan usahanya seperti tim sepak bola. Ia lantas menambahkan, "cari orang yang tepat di posisi tersebut." Prestasi terbesar? 
 
Dia mengisahkan tentang kisahs seorang pengusaha siomay asal Semarang. Berkat Generali, dia sekarang bisa sukses bahkan punya mobil. Mimpi Edy layaknya CEO lain yakni membesarkan perusahaan. Utamanya tentang bagaimana asuransi bisa mengkover semua hal. 
 
Dia meyakini lewat asuransi keluarga akan kuat. Jikalau keluarga telah terlindungi dari asuransi maka Indonesia akan kuat. Perusahaan asuransi asal Italia ini memang bertumbuh pesat.  Sejak mulai masuk 2009, lewat tangan dingin dari Edy, peringkat Generali masuk enam besar dan premi tumbuh sampai Rp.500 miliar. 
 
Tumbuh dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Dari September 2011, menurut Edy kepada Majalah SWA, pendapatan premi dari Generali mencapai Rp.400 miliar. Atau itu tumbuh 95% dibanding harapan Edy Tuhirman dari tahun sebelumnya.

Untuk mencapai angka lebih tinggi. Dia mengatakan Generali akan fokus mengambangkan satu- per satu. Ia tidak langsung menggarap saluran distribusi yang sudah ada. Untuk pertama kali, Generali langsung tancap gas lewat asuransi kesahatan employee benefit. 
 
Cuma bermodal fokus itu saja sudah bisa masuk ke 6 besar perusahaan asuransi. Tahun 2010 Generali mulai menggarap channel asuransi seperti kerja sama dengan satu bank. Melalui strategi cabang asuransi lewat bank terbukti manjur. 
 
Kerja sama ini menaikan premi 55% dari pihak mitra banka. Untuk saat ini, Generali fokus bermitra dengan empat bank, utamanya yaitu ANZ, DBS, dan BTPN. Edy menekankan ini bukan kerja sama jangka pendek. Generali aktif menyeleksi calon mitra bank sendiri. 
 
Di tahun 2011, konsep agensi asuransi dikembangkan dan booming besar. Total 2000 agen berlisensi resmi.

Hobi Makan Bisnis Restoran Jepang

Profil Pengusaha Fransisca Tjong


hobimakan.png

Hobi makan bisnis restoran Jepang. Mengawali bisnis kuliner karena hobi makan. Fransisca Tjong mencoba membuka wawasan baru kita soal masakan Jepang. Melalui restoran Roba Yakitori, Fransisca mengaku awalnya cuma coba- coba. 
 
Mulai berbisnis kuliner dan ternyata malah mampu membuka banyak peluang. Sukses Roba membawa namanya menjadi salah satu CEO dari group bisnis terkemuka.
 

Usaha Hobi Makan


Dia adalah salah satu pendiri Pancious Group. Bersama PT. Tri Samudra Sentosa baru- baru ini membuka anak usaha lain. Usaha masakan Taiwan waralaba asal Singapura, Xi Men Ding di Senayan City. 
 
Bisnis berumur 18 tahun yang dibawa Fransisca, mencoba menjadi pioner restoran Taiwan. Setelah sebelumnya sukses Roba Yakitori lewat aneka masakan Jepang. Fransisca mengaku memulai usaha kuliner karena coba- coba saja. 
 
Dia memang hobi makan. Bahkan bertraveling keliling Indonesia, bahkan dunia cuma buat makanan. Tetapi berbeda dengan kita kebanyakan membuahkan hasil selera kuliner. Ia yakin membuka usaha masakan Jepang berdasar lidahnya.

"Saya memulai bisnis kuliner dari hobi coba-coba semua makanan dari satu kota ke kota lain hingga luar negeri," tuturnya kepada Bisnis.com

Dalam artikel, Fransisca mengaku sebelum mantap, usaha pertama dilakukanya adalah mencicipi aneka rasa. Ia menjajal aneka makanan baik tradisional ataupun asing. Dia tau jenis kuliner apa diinginkan olehnya. Tahap selanjutnya adalah memilih diantara sekian banyak. 
 

Bisnis Restoran Jepang

 
Siska menyebut tidak cuma selera pribadi. Dia harus tau apa yang belum ada dipasaran. Bersama saudara berkeliling menikmati aneka kuliner. Dia bersama saudari kembarnya, Veronica; adik laki- lakinya, Fredy; dan seorang sepupu bernama Siska. 
 
Mereka sepakat pergi bersama makan- makan berkala. Hingga mereka mulai menyadari kegiatan mereka membuang waktu. "Buang- buang waktu" tetapi tidak menghasilkan. Padahal ketika Fransisca mulai membuka matanya lebar- lebar; ia melihat peluang bisnis ada disana.

Mereka hobi makan bahkan sampai ke Australia. Bersama, tidak cuma mencari cita rasa, tetapi tempat menarik dan pelayanan. Tanpa terasa mereka mendapat banyak ilmu tentang caranya mengelola restoran. "Kami banyak ilmu, inspirasi, untuk membuka usaha kuliner," jelasnya. 
 
Dan, untungnya mereka juga hobi memasak selain makan. Sekembalinya ke Indonesia, di tahun 2006, Fransisca mulai mengajak berbicara bisnis serius.

"Kami membuat konsep, yang dijual pancake," lanjutnya. Dibuka tahun 2007, usaha pancake sederhana tersebut ternyata langsung booming. Bahkan mereka mantap meminjam uang modal masing- masing. Uang modal dari orang tua dijadikan cabang kedua di Pacific Place. 
 
Walau terkesan cepat sukses tetapi jalan itu tidak semuanya. Fransisca menjelaskan membuat pancake penuh trial and error. Masa mencoba tersebut diabadikan lewat kenangan. Dia menyabut dulu tidak punya resep khusus. 
 
Pengusaha wanita ini memang termasuk orang yang percaya faktor X. Mau dihitung ataupun direncanakan kalau tidak ada faktor tersebut; tidak jadi. Rumus faktor X tersebut baru bisa kamu lihat ketika dijalani.

Usaha bernama Pancious ini semula cuma dikerjakan seminimal mungkin. Dimana mereka memilih agar tidak punya banyak karyawan disana. Sehingga di cabang kedua, dia bersama saudaranya harus rela ikut masuk ke dapur. 
 
Urusan cuci piring hari ini, besok Fransisca giliran menjadi kasir, atau siapa saja bisa bergantian terus. Selama empat bulan pertama cabang kedua menjadi lumrah. Passion hobi mereka menjadi landasan kuat.

So, meski susah tetap dijalani dengan ceria lewat senyum, alhasil Pancious sukses memiliki 10 gerai selama 8 tahun dan menjadi satu group usaha.
 
Menurut Fransisca paling penting kita musti tahu dimana. Letaknya bakat kita itu dimana, lantas dimatangkan lagi sedetail mungkin. Aplikasikan hal tersebut di bisnis real kita. Kalau bicara modal memang menjadi satu alasan banyak pengusaha. 
 
Fransisca sendiri menganggap soal modal bisa bersumber dari mana saja. Bisa jadi lewat rekanan, pinjaman bank, dan lain sebagainya.

"Tapi, punya banyak uang sebanyak apapun, akan percuma kalau tidak tahu mau apa," jelas Fransisca.

Secara jujur awal sekali Pancious memang modal kecil. Berkat kerja keras munculah kepercayaan baik dari orang tua atau pihak ketiga. Adapun soal manajeman perusahaan, Fransisca mensiasati melalui perekrutan orang- orang profesional dibidangnya. 
 
Selepas bisnis kita berjalan baik. Ada baiknya mulai memikirkan mau dibawa kemana. Termasuk memasuk tenaga dalam jajaran kepimpinan perusahaan kamu. Ini dibuktikan lewat perjalanan Pancious menjadi group bisnis. 
 
Setelah 8 tahun eksis, dari Pancious Group, di awal tahun 2015 -an, membidik pasar bisnis kuliner Jepang. Pancake yang kebaratan dipadukan kuliner khas Jepang. "Kebetulan kami lumayan sering ke Jepang," kenang Fransisca. 
 
Kesenangan akan kuliner Yokitari itu lalu diabadikan lewat usaha baru. Ya, bisnis baru Fransisca selanjutnya adalah sate khas Jepang. Kesolitan tim kerja pendiri Pancious terbukti. Lewat pembicaraan bersama terbentuklah kesepakatan untuk menyajikan masakan Jepang. 
 
Manajeman matang menjadi perusahaan makin ekspansif juga. Termasuk mau mendatangkan chef asli Jepang. Ini dimaksudkan agar tersaji masakan berkualitas. "Ini berkaitan dengan maintaining, tentang kualitas makanan yang harus dijaga," ujarnya. Adapula training agar standar perusahaan terjaga.

Baggu Bags Jualan Online Shop Melegenda

Kisah Sukses Toko Online Tas


onlineshop.png
 
 
 
Jualan online shop melegenda Baggu Bags. Menurutu empunya bisnis tas tidak ada rugi. Tidak akan pernah mati sepanjang jalan. Tentu saja kita harus siap secara matang untuk persaingan ketat. Itulah penjelasan singkat Ion tentang bisnis Baggu Bags. 
 
Wanita yang belum jelas kami ketehaui identitasnya. Namun, menurut Warta Wirausaha, adalah ibu satu orang anak yang dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan tas.
 

Bisnis Online Shop


Mengetahui untungnya, dia bersama sang suami memulasi usaha ini dari nol. Dia bermodal kepercayaan saja. Bisnis tas kulit produksi sendiri yang punya pasar tersendiri. Ion mendirikan perusahaan tas pada 2001. 
 
Ia berbekal ilmu pengetahuan dari pengalaman masa lalu. "Asalkan kita terus berinovasi dan memiliki strategi pemasaran yang baik," jelas Ion.

Apakah semudah itu?

Fakta Ion tidak lah semudah dibayangkan. Perjalanan selama tiga tahun, Ion harus rela berkeliling door-to- door. Berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Dia mengadaptasi startegi marketing klasik. 
 
Dia menuturkan meski klasik atau kuno tetapi ampuh. Startegi lain adalah penguatan bahwa produk Baggu Bags merupakan hasil rancangan sendiri. Bahkan, Ion meyakinkan orang mereka punya perusahaan sendiri. 

Ini menjadikan tas mereka tidak pasaran. Alhasil, penjualan Baggu Bags diluar dugaan, sukses door-to-door kemudian disusul menyambangi perusakaan lain.

"Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak punya jaringan waktu itu. Kira- kira 15 kantor yang aku sambangi" kata Ion.

Kunci sukses Baggu Bags ada pada keyakinan sang pemilik. Untuk klien pertama tuturnya, ada perusahaan yang bernama ACE Hardware. Awalan mereka menjual tas milik Ion dengan mereka mereka. 
 
Ya, diawal itu produk Baggu Bags belum tercipta. Nama tersebut kemudian disematkan sendiri. Tentu agar bisa menunjang konsep bisnis mereka selanjutnya.

Pemasaran berikut meliputi pameran- pameran dan online. Namun, menurut Ion waktu terbuang percuma ketika mengadakan pameran. Dia memutuskan menjual melalui online saja. 
 
Bagi wanita yang juga pernah bekerja sebagai marketing ini, menjual lewat online membuatnya mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga. Baggu Bags memang tidak memiliki model umum. Ion merancangnya aneka model menurut konsep sendiri.

Untuk meyakinkan konsumen termasuk memberikan garansi. Selama satu tahun kalau produk Baggu Bags rusak; langsung diperbaiki.

"Kalau resleting atau aksesoris lainnya rusak kami bisa memperbaikinya," tutur Alumni Universitas Indonesia Jurusan Hukum.

Tidak menyakiti kepercayaan konsumen merupakan kunci Baggu Bags. Semua produk merupakan yang terbaik dan terjangkau. Baggu Bags dijual antara harga Rp.150- 350 ribu. Variasi Baggu Bags buatan Ion, meliputi pemilihan bahan kulit domba, kambing, dan sapi. 
 
Untuk berproduksi Ion dibantu oleh 15 karyawan. Dalam sebulan menghasilkan laba Rp.10 juta- Rp.15 juta. Seminggu ia memproduksi 400 buah tas aneka bentuk.

Tetapi itu semua belum memuaskan hasratnya dalam berekspansi. Meski sudah punya banyak reseller masih belum cukup. Selanjutnya, adalah keinginan untuk memiliki galeri sendiri khusus Baggu Bags. 
 
Ia masih yakin betul akan bertahan, karena Baggu Bags memang memilik ciri khas dibanding produk luaran sana.

Catatan: ketika kami mencari siapa sosok Ion. Hal mengejutkan kami temukan bahwa "online shop ini sudah tutup". Bahkan ditengarai terlibat penipuan dari testimoni Facebook. Melalui akun Baggu Bags di Facebook, kami menemukan situs toko onlinenya www.baggu-bags.com sudah tutup. 
 
Atau, apakah ini ada hubungan dengan pemilik merek Baggu milik Emily Sugihara.

Jual Kerupuk Ceker Usaha Tanpa Merek

Profil Pengusaha Nyoman Wahyuliani


usahakerupukceker.png
 
Usaha tanpa merek atau berjualan sistem curah. Ia jual kerupuk ceker tanpa merek. Kreatifitas memang tanpa batas. Bisa menjadi penopang kehidupan kita sampai esok. Tidak sedikit jiwa kreatifitas terlahir dari kesederhanaan. 
 
Bisnis kreatif yang mengambil ceruk pasar meski dalam kekurangan. Contoh nyata ya Nyoman Wahyuliani, seorang ibu muda yang bertahun- tahun menggeluti satu usaha sendiri; usaha pembuatan cemilan kerupuk ceker.
 

Usaha Tanpa Merek


Melalui sentuhan tangan Wahyuliani menjadi epik. Usaha turun- temurun yang diwariskan oleh sang mertua bisa tetap bertahan. Jika dilihat kemasannya sederhana, tetapi tidak pernah tidak laku di pasaran. Pasar tidak jenuh akan produk kerupuk ceker ini. 
 
Bahkan permintaan terus meningkat setiap tahun. Serbuan cemilan asing atau lokal berkemasan modern tidak menyurutkan. Mereka tidak mampu menggeser gurinya kerupuk ceker.

Selama kualitas produk terjaga dan tidak tergantikan. Kemasan memang tidak masalah, jika kamu pandai- pandai mengambil pasar. Wahyuliani memilih berjualan dari warung ke warung. Menjual kerupuk ceker tanpa ada merek dagang. Usaha tersebut menyasar mereka kelas menengah ke bawah. 
 
Hasilnya? Dia tidak pernah telat mendapat bayaran.



Wahyuliani tidak memaksa harus masuk ke supermarket. Dalam benaknya masuk pasar supermarket butuh modal besar. Tetapi keluarnya tidak mencukupi kebutuhan produksi. Harus memasang merek dan membuat kemasan baik. 
 
Tetapi disisi lain, dia tidak bisa mendapatkan uang sebelum dagangan laku. Bahkan meski ia dibujuk bantuan modal; tidak bergeming. 

Koperasi Srikandi pernah menawari ibu emapat anak ini modal. Dengan syarat harus mau memperbaiki dari segi kemasan. Namun itu belum juga kesampaian. Soal modal sendiri tidak menjadi kendala. Sekali produksi membutuhkan modal Rp.120 ribu. 
 
Itu untuk membeli 10- 12kg ceker ayam. Juga sudah termasuk pembelian bumbu. Ia juga cukup memakai peralatan dapur biasa. Untung yang bisa didapat sekali berproduksi Rp.100 ribu.
 
Mendapatkan bahan baku ceker ayam tergolong mudah. Dia mendapat dari tempat pemotongan di  sekitar Paguyungan. Bahan baku sudah tersedia dalam jumlah cukup. Harga bahan baku juga sudah terjangkau. 
 
Dia membandingkan dengan harga daging ayam; ceker ayam jauh lebih murah. Ditingkat pengecer harga jualnya kisaran Rp.10 ribu per- kilo. Harga semakin murah jika punya koneksi membeli langsung.

"Bahan baku selalu saya dapatkan di tempat pemotongan ayam. Dalam sekali produksi saya hanya bisa mengolah 10-12 kg ceker ayam mentah," tutur Wahyuliani.

Pembuatan kerupuk ceker akan dikerjakan oleh dia dan kaluarga. Dari proses paling awal hingg akhir sudah dihafal diluar kepala. Dimulai dari membersihkan ceker dari kotoran, kuku, kulit yang berwarna kekuningan, yang terkadang terbawa dikulit ceker. 
 
Usai dicuci bersih tinggal masuk tahap perebusan. Tahap inilah yang menjadi tahap penting dalam proses pemasakan. Ceker ayam musti direbus dengan tingkat kematengan pas tidak kurang. Kalau kurang matang maka akan susah memisahkan tulang. 
 
Kalau terlalu matang Wahyuliani mengingatkan itu akan hancur. Selepas direbus kemudian ditiriskan sambi diangin- anginkan. Barulah selepas itu masuk ke tahap pemisahan tulang. Menurut wanita 38 tahun ini, menjadi bagian tersulit dan memakan tenaga lebih banyak. 
 
"Biasanya saat mengerjakan proses ini saya dibantu oleh suami," tuturnya.

Proses pembubutan tulang itulah paling susah. Dia menyebut bahwa ini tersulit, apalagi ketika pesanan datang banyak. Ceker ayam yang telah bersih dari tulangnya diberi bumbu. Proses pembumbuan gampang loh cuma pakai bawang putih, garam, dan penyedap. 
 
Setelah dibumbui kemudian dijemur. Kemudian kamu campur itu dengan tepung beras agar teksturnya lebih baik. Usai itu tinggal digoreng, dikemas, kemudian bisa langsung dijual.

"Ceker tidak bisa langsung digoreng dihari yang samam," tutur Wahyuliani kepada Tabloid Galang Kangin.

Ketika direndam air bumbu maka baru besoknya digoreng. Tujuannya apalagi kalau bukan agar bumbunya meresap. Dia menjual kerupuk ceker ayam itu ke warung- warung terdekat. 
 
Disekitar tempat tinggalnya, namun kerap juga Wahyuliani menerima pesanan, yang mana akan diambil langsung oleh konsumen di rumahnya. Meski dijual tanpa merek tetap berjaya.

Kue Kering Bisnis Bulan Puasa Menjanjikan

Profil Pengusaha Yeffi Rahmawati 


bisnisbulanpuasa.png
 
Bulan puasa menjanjikan keberkahan berupa rejeki. Kue kering bisnis musiman tetapi hasilkan banyak keuntungan.  Pemilik usaha kue kering ini akan menceritakan kiat suksesnya. Yeffi Rahmawati pemilik bisnis Evita Cakes, bercerita ke Kompas.com apakah bisnis musiman ini, benar- benar menghasilkan. 
 
Maka jawabanya adalah "Iyah". Awalnya bisa dimulai dari hobi membuat kue ketika lebaran. Kemudian lewat marketing mulut ke mulut kisah lezatnya kue buatan Evi menggaung.
 

Rahasia Sukses


Hingga sekarang, kalau Ramdhan tiba, Evi akan siap sedia aneka peralatan membuat kue. Berawal sekedar hobi membuat kue dan aneka parsel. Dia memulai memenuhi kebutuhan pesanan teman. Juga menjalar ke kerabat, sampai  tetangga juga keluarga. 
 
Kue enak yang dibuat berdasarkan pesanan terlebih dahulu. Istilah kata Ramdhan bulan berkah termasuk soal pemasukan. Usaha apa saja yang menjelang Ramdhan pasti akan laku.

Tetapi apakah benar begitu adanya. Dia merasakan potensinya dalam dua tahun berjalan. Usaha kue kering bisa sukses asal punya tekat. Lezatnya kue bikinan sendiri bisa terbawa sampai nanti tahun berikutnya. Evi menyebut banyak orang tak mau repot membuat kue sendiri.
 
 "Solusinya adalah mereka mencari penjual kue kering," ujarnya singkat.

Aneka kue kering khas Ramadhan dijual Evita Cakes. Seperti kue nastar, putri salju, kue kacang, kastangel, kacang mede, kacang mede pedas manis asam jawa, dan cheese stick. Itu semua memang andalan produk Evita Cakes. 
 
Jenisnya memang sama dengan yang ada di pasaran. Resep sukses bisnis kue Ramdhan alanya ada di tidak perhitungan soal bahan. Kemudian lebih murah setengah kilo dibanding lainnya.

Alhasil kue kering karyanya menjadi lebih kaya rasa meski murah. Untuk lebih mengurangi biaya produksi, ia juga memilih menjual ketika ada pesanan. Dia akan langsung membuat fresh from the oven. Harga akan dia sesuaikan antara Rp.37.500 sampai Rp.150.000 per- toples. 
 
Kalau mau jenis cheese stick yang notabennya paling laris dicari. Evi menjualnya pakai kantong plastik.

"Karena banyak permintaan yang tidak ingin pakai kemasan, saya jual dengan menggunakan kantong plastik kemasan ukuran ¼ kg dan 1 kg. Harga perkilo Rp 140.000," terangnya.

Bisnis ini sudah dijalankan olehnya sejak masih gadis. Diumur 22 tahun, masih berkuliah, dan sudah memulai bisnis kue khas Ramadhan. Dia awal sekali menjual kue- kue berat. 
 
Macam kue brownies, cake tape, atau banana cake, lalu mencoba sampai ke kue kering. Evi menjajakan kuenya ke teman kuliah, sampai akhirnya dia bekerja, dijajakan teman sekantor. Nama Evita sendiri datang dari nama panggilan Evi dan suami Tata. 
 
Menurut penuturan Evi, bisnis kuenya ini sudah dikenal masyarakat luas. Tidak cuma Jakarta bahkan menyambar sampai Malaysia. Saking banyaknya sampai harus ada pegawai membantu memenuhi pesanan. Di rumah Evi sendiri sudah ada 20 orang pegawai pembuat kue.

"Semenjak ada internet (sosial media) orderan kue terus bertambah," ujarnya. Mereka yang membeli dari sosmed kebanyakan pelanggan. Kemudian merambah ke orang lain lewat saran mereka. Evi menyebut harus ada sikap mempertahankan kualitas. 
 
Harus memiliki standarisasi agar bisnis musiman khas Lebaran ini tetap berjaya. Kemasan menarik juga meningkatkan minat pembeli. Dia menyebut bahwa apa yang diperhatikan oleh pembeli adalah kemasan luarnya. 
 
Evi menyebut pula kalau mau bahan pengawet dan pewarna, harus pakai yang khusus makanan. Untuk pemilihan bahan baku maka gunakan bahan- bahan berkualitas. Jangan lupa perhatikan tanggal kadaluwarsa. Kita tidak boleh membahayakan kesehatan masyarakat.

"Kue kering saya kebetulan tidak pakai bahan pengawet karena masih fresh," jelasnya. Menurut Evi untung berjualan kue kering mampu awet enam bulan tanpa bahan pengawet.

Dia fokus pada kemasan agar menarik masyarakat mencoba. Sementara itu kualitas rasa yang mumpuni bisa menarik mereka menjadi pelanggan tetap. Dia menggunakan berbagai macm bentuk toples kedap udara.
 
Atau juga menggunakan kertas mika yang ditutup rapat kedap udara pakai plaster transparan. Evi juga tak lupa menambahkan hiasan dan nama merek diatasnya.

Fotokopi Percetakan Xerography Bisnis Prima

Profil Pengusaha Harjanto Sudarsono 


bisnisprima.png
 
Bisnis prima fotokopi percetakan Xerography. Pengusaha. Bernama Harjanto Sudarsono begitu asing ditelinga kita. Apasih bisnis pengusaha muda yang satu ini. Dia cuma seorang pengusaha fotokopi. Lantas apa hebatanya dari usaha tersebut. 
 
Usaha yang katanya merupakan satu warisan keluarga. Sebagai seorang penerus bisnis keluarga ceritanya sangat menarik. Dimulai ketika usia Harjanto masih 22 tahun di 1992.

"Saya mendapatkan warisan usaha itu setelah ayah saya meninggal dunia tahun 1992," kenang Harjanto lagi.
 

Pengusaha Fotokopi Percetakan


Terpaksa itulah kata pertama terucap dari mulutnya. Terpaksa dijalankan, awalnya usaha fotokopi ini ya seperti fotokopi biasanya. Tidak memiliki perbedaan dibanding pesaingnya. Orang tua Harjanto menyewa satu tempat di kawasan pasar tradisional di Bogor, Jawa Barat. 
 
Usaha fotokopi standar dimulai sejak 1987 dan benar- benar tidak menarik perhatian Harjanto. Lebih- lebih dia harus meninggalkan bangku kuliah. Padahal masih ada dua orang kakak, yang pada akhirnya menyerah tanda tak sanggup. 
 
Ya, dia pun terpanggil melanjutkan, menghadapi tantangan dari bisnis sebagai orang super awam. Ditambah fakta sang ayah punya tanggungan hutang Rp.100 juta. Tidak mau patah arang mulailah dari nol lagi. Hal pertama dilakukan olehnya kala itu adalah membongkar sendiri mesin fotokopi tua.

Jadilah mesin fotokopi menghasilkan kopian bagus. Untuk menekan biaya produksi, dia memilih membeli mesin fotokopi bekas. Diperbaikinya sendiri kemudian dijadikan layaknya baru. Soal satu ini dia mau belajar sendiri karena terpaksa. 
 
Mau gimana lagi, Harjanto memang awam soal bisnis fotokopi, istilahnya kalau pun ditipu mekanik, dibelikan suku cadang palsu, ya alamat nasib sial. Untung semangat belajar Harjanto masih kuat.
 
Semua belajar otodidak dari menjalankan dan sampai bisa memperbaiki mesin fotokopi. "Saya terus belajar sampai bisa bongkar pasangs sendiri," jelasnya. Bisnis fotokopi memang masih menjanjikan kala itu. 
 
Dalam rentang waktu cukup singkat sudah bisa tumbuh stabil. Hingga, tahun 1996, Harjanto mantap membuka satu cabang di Cibinong, Bogor. Terus berekspansi bahkan sampai ke luar kota. Dia resmi mendirikan perusahaan PT. Xerography Indonesia. 
 
Dilakukan bersamaan pembukaan cabang fotokopi pertama di Jakarta. Terus berekpansi sukses Xerography mampu meluniasi hutang sang ayah. Dia membayar melalui sistem mencicil. Barulah terlunasi ketika masuk ke tahun 2000 -an. 
 
PT. Xerography sendiri berkembang tidak cuma fotokopi. Bisnisnya telah merambah bisnis percatakan.

Kunci Bisnis Prima

 
Kunci sukses bisnis fotokopi alanya: pelanggan harus terpuaskan. Layanan prima selalu ditonjolkan seorang Harjanto Sudarsono. Prinsip jujur pantang menyerah menjadi cara pemilik dari PT. Xerography ini. 
 
Alhasil, dia menakankan pelayanan menjadi modal utama. Ambil contoh kisah seorang artis yang datang ke tempatnya. Dia memintanya membuatkan buku mewah. Soal anggaran sang artis sama sekali tidak ambil pusing.

Soal anggaran tidak masalah asal hasilnya bagus. Terkejut, sang artis mendapati Harjanto menyarankan dia memakai kertas murahan. Kertas HVS berawarna kuning tersebut pasti membuat bergidik. Tetapi ia terus mencoba meyakinkan bahwa ini cocok. 
 
Pada akhirnya sang artis terkesan atas penjelasan Harjanto soal pilihan tersebut. Dia berpikira kalau buku perjalanan karir baiknya pakai kertas ini.

"...pakai kertas HVS kuning yang menimbulkan kesan kuno," kata Harjanto.

Tentu bukan serta mereta begitu. Awal dibuatlah dua versi buku yaitu kertas mahal dan HVS kunging murah tersebut. Ternyata terlihat "wah" justru kertas berwarna kuning tersebut. Dia meyakini meski pelanggan bisa mahal; harus bisa tidak berasa kemahalan. 
 
Intinya memberikan pelayanan meyakinkan. Kalau mahal tetapi ternyata cuma bua mengambil untung besar dan hasilnya jelek. Sampai sekarang sang arti itu menjadi pelanggan tetap. "Intinya saya tidak ingin pelanggan merasa kemahalan dan memikirkan keberlanjutan," pungkasnya. 
 
Selain itu, ia juga menyampaikan layanan cek ulang file dicetak. Meyakinkan bahwa barang dibawa oleh pelanggan benar. Itu sudah termasuk satu layanan konsultasi bahan kertas paling tepat. Dia menuturkan proses awal ini penting karena 70% biaya tergantung bahan cetak.

Harjanto menyarankan bahwa desain mewah tidak tergantung bahan mahal. Efek mewah muncul kalau saja bahan itu sesuai penggunaan. Selain itu sudah termasuk aspek penghematan biaya. Pentingnya konsultasi jadi andalah usaha fotokopi miliknya. 
 
Usaha lain, dia menyiapkan tim tersendiri, yakni satu tim desain yang sudah punya pengalaman mendesain. Buktinya ialah kemanangan atas ajang desain bertingkat Asia kategori Art Fotobook. Dia cuma berharap apa yang dilakukanya mampu memuaskan pelanggan. 
 
Layanan prima menjadi andalan utama seorang Harjanto. "Dengan begitu bisnis bisa berkembang," ujarnya singkat. Dia juga percaya diri bisa memenangkan sengitnya persaingan bisnis fotokopi.
 
Kalau mungkin di bisnis lain pegawai adalah aset. Menurutnya pegawai merupakan rekan kerja yang harus diajak kerja sama. Dia pun tidak segan mengadakan pelatihan dan pendidikan bagi mereka. Bahkan sampai ke luar negeri segala. 
 
"Pernah dua orang, kami training sampai ke Singapura," paparnya. Adapula yang bisa sampai ke Jerman mengunjungi pameran mesin fotokopi. Sekitar 20% karyawan sudah menikmati aneka pelatihan ini.

Semua penting bagi perkembangan si karyawan sendiri dalam bekerja. Ia bahkan tidak memandang bulu tentang siap orangnya. Ambil contoh seorang office boy cerdas yang diberinya kesempatan belajar bahasa Inggris.
 

Kualitas Pegawai

 
Ini fakta bahwa pegawai bukanlah aset seperti didengungkan. Pria kelahiran Bogor 1969 ini sendiri turun tangan memberi penilaian. Ia tengah membayangkan tim kerja masa depan PT. Xerography Indonesia (XG).

Ia masih punya sejuta mimpi bersama XG. Itulah mengapa dirinya begitu getol memperkuat garis depan dari perusahaan. XG bukan sekedar tempat kerja jelasnya. Kebijakan memberika pelatihan dan pendidikan juga membuat kesal. Lantara pegawai yang sudah belajar malah bekerja di tempat lain. 
 
Ia mengaku hal tersebut sudah sangat sering terjadi. Termasuk pegawai yang sudah mendapat training mesin fotokopi di Singapura itu. Dia sadar bahwa perlu pembenahan di SDM. Agar tidak siapa keluar dari XG akan merasakan rasa ingin kembali lagi. 
 
Sukses di bisnis fotokopi merambaha digital printing. Apalagi hal ingin dicapai seorang Harjanto adalah bisnis XG Cyber. Ia ingin mengembakan percetakan lewat dunia maya. Dia juga berancang membuka waralaba XG. 
 
Itu untuk jangka panjangnya sih. Tetapi dia sudah mempersiapkan betul semua kemungkinan tersebut.

"Kami akan fokus pada percetakan laporan tahunan perusahaan, majalah internal institusi, hingga pelbagai buku," tutupnya.

Kampung Kue Buruh Pabrik dan Pengusaha

Biografi Pengusaha Choirul Mahpuduah


buruhpabrik.png
 
Menjadi buruh pabrik dan pengusaha. Kampung kue merupakan perwujudan pemberdayaan. Ia pernah dipecat perusahaan. Itu tak membuat Choirul Mahpuduah atau Bu Irul  terpuruk. Ia pun menjadi sosok penggagas kampung kue yang terkenal itu.

Dia pernah diliput media asing loh. Ternyata usut punya usut, bukan cuma soal itu, ternyata sosok Irul merupakan satu aktifis buruh. Apa yang dilakoninya sekarang tidak jauh dari buruh dan kaki lima. Terus gimana sih ceritanya? Berikut kisahnya:
 

Buruh Pabrik Jadi Pengusaha


Jauh sebelum dia pernah bekerja menjadi buruh pabrik. Apes karena harus menerima PHK sepihak. Irul bercerita kenapa perusahaan memecat dia. Tahun 1990, dia bekerja menjadi buruh aneka macam di wilayah Rungkut, Surabaya. 
 
Namun tahun 1993 akhir, diberhentikan oleh perusahaan sepihak dan semua karena dia terlalu vokal. Yah, seperti penulis jelaskan dia adalah seorang aktifis. Dia sering menyerukan hak- hak buruh wanita.

Dia menyerukan soal cuit haid dan sebagainya. Irul juga dikenal "profokator" teman- teman buat berdemo. Irul memang getol mengajak buruh bersuara atas hak mereka. Perasaan kecewa berat ketika ia sadar bahwa dirinya dipecat. 
 
Dia merasa yang dituntut telah sesuai peraturan pemerintah. Awal tahun 1994, ia bersama tiga orang kawan mengajukan tuntutan pengadilan. Karena tidak punya uang Irul dan kawan sempat bingung.

Irul lantas mengajukan biaya pengadilan dibebankan ke negara. Hakim sempat menolak hal tersebut. Tetapi berkat kegigihan Irul dan kawan, dibantu pihak wartawan, masyarakat luas dan lembaga swadaya; mereka akhirnya menang.

Irul dan kawan bisa bersuara di peradilan secara gratis. Meski biaya keadilan ditanggu negara tidak semudah itu. Mereka buta akan hukum perburuhan. Untuk itulah, ia aktif belajar sendiri tentang UU buruh dan lain hal soal peradilan. 
 
Dia banyak dibantu para aktifis, LBH, atau wartawan. Kala itu dia sendiri apalagi "musuhnya" punya 6 orang pengacara. Beryukur karena padah akhirnya gugatan tersebut bisa dimenangkan oleh hakim.

Memenangkan tuntutan berarti pemecatan Irul tidak sah. Meski perusahaan menuntut ulang atau banding, sampai Mahkamah Agung butuh waktu sepuluh tahun. Berkat tuntutan dipenuhi oleh Hakim maka Irul bisa bekerja kembali. 
 
Selain itu perusahaan diwajibkan membayar ganti rugi Rp.3 juta. Sayang, kenyataanya, dia tidak bisa bekerja kembali karena berbagai dalih. Uang ganti rugi tiga juta itu juga keluar beberapa tahun kemudian.

Dia tidak mempermasalahkan hal tersebut. Menurutnya ini contoh bagi sesama buruh agar tetap berjuang. Ia juga berharap mereka tidak takut maju ke pengadilan. Untung berkat jaringan aktifis buruh miliknya. Dia tak perlu menganggur berlama- lama. Irul bisa bekerja kembali. 
 
Bukan bekerja menjadi buruh, tapi ikut aktif di seminar buruh, advokasi, membantu buruh lain. Dari sanalah ada uang transport, uang saku, dan sebagainya. Hidup di dunia pergerakan buruh, Irul masih seorang wanita biasa, hidup bersosial dengan ibu- ibu lain di lingkungan sekitar. 
 
Ia tinggal di kawasan sederhana di kawasan Rungkut Lor Gang 2, Surabaya. Di kampung itu kebanyakan berisi pekerja kasar atau kelas menengah bawah. Suatu hari, ia melihat 5orang ibu tengah menjajakan kue. 
 
Mereka berjualan kue cukup lama yakni lima tahun. Sayang tidak kunjung berhasil menjual banyak. Iseng, Irul lantas memanggil mereka diajak berdiskusi. Dibukalah topik tentang usaha apa yang mereka bisa kembangkan di kampung. 
 
Menurut pribadi di kampung yang mayoritas pendatang ini, tersimpan satu potensi tersembunyi. Dalam diskusi tersebut mengerucut tiga hal bisa dilakukan: Membuat aneka kue buat dijual, membuka usaha jahitan, dan membuat sabun cair. Bersama 9 orang ibu dibukalah jahitan khusu jahit celana pendek.

Sayang, setelah berjalan beberapa waktu, usaha jahitan tidak berjalan seperti diharapkan. Setelah memikir ulang apa masalahnya. Dia memutuskan melanjutkan ke bisnis keduanya. Dan mereka mulai membuat aneka kue buat dijajakan. 
 
Cuma berbekal pengetahuan pas- pasan langsung beraksi. Irul mengumpulkan ibu- ibu lewat pos kamling. Seolah aktifis buruh ini tengah mengajak berdemo. Padahal dia cuma mau membahasa masalah ini.
 
Dia memang tengah berdemo di pos kamling. Padahal mengajak berdemo memasak. Pertama kali sekali, Irul cuma membuat jajanan sederhana, yakni jajanan tahu crispy. Ternyata warga kampung antusias apalagi ini hal baru. Tahu crispy terlihat sederhana namun menghasilkan. 
 
Modal dikeluarkannya pun tidak terlalu besar. Ia mulai merayu warga terutama ibu- ibunya. Mereka menanggapi ide Irul antusias. Ini membuat Irul jadi lebih semangat lagi. Pemahanam penting bagi bisnis kue miliknya. Dia sadar bahwa jajanan sederhan penting. 
 
Terutama bagi para warga pendatang Ibu Kota. Kalau tak sempat sarapan, tentu kue ringan bisa menjadi solusi melewati jalanan Jakarta. Kue bisa dijadikan pengganjal perut sebalum bekerja. Para ibu mulai rajin menjual kue buatan sendiri di depan rumah. 
 
Irul juga tidak mau kalah. Jualan kaki lima dilakoninya sebagai bentuk penyemangat. Diawali dari berjualan di depan pagar sekolah. Tepatnya sekolah di sekitar Kelurahan Rungkut Surabaya. Kue buatanya cukup laku disana. 
 
Sayang, ketika Ibu Tri Rismaharini menjadi Kepala Dinas Kebersihan, dia harus menatap kecewa. Pasalnya kebijakan membersihkan trotoar berimbas di bisnis kecil Irul. Program lahan hijau Risma mengganggu karir yang baru dirintis.

"Kesal juga rasanya, pelanggan sudah banyak, kemudian dirobak," luap Irul.

Tetapi ia mengambil hikmah saja peristiwa tersebut. Tidak bisa berjualan tidak membuat menyerah. Apalagi dia menjadi contoh bagi ibu- ibu sekampung. Karena sudah pelanggan bahkan sampai rumah dicari. Mereka mencari Irul sampai ke rumah. 
 
Karena pesanan membludak, tidak segan Irul mengajak ibu- ibu tetangga buat membantu menyetok kue.Semua dilakoni baik pesanan lama atau dadakan. Pagi buta sudah memasak kue, Irul sudah dibantu ibu- ibu kampung mengerjakan kue- kue tersebut. 
 
Mulai dari jam 02:30 sampai 06:00 WIB dimana pelanggan tetap para penjual kue. Dari pedagang kue kaki lima kini menjadi juragan kue. 
 
Hidup Irul berubah 180 derajat dari sebelumnya. Mereka pedagang kue keliling menyebarkan kue buatan Irul sampai pelosok.

"Lumayan, sekarang keuntungan per- hari mencapai Rp.20 juta," ujar Irul.

Ada pula yang cuma dititipkan di Pasar Soponyono, Rungkut. Ditambah pesanan dari acara besar seperti hal pernikahan. Memang bisnis aneka kue ini menggiurkan apalagi dikerjakan gotong royong.

Menjadi Pengusaha

 
Namun, kamu jangan membayangkan akan semudah diatas. Awal sekali, Irul kesusahan membangun jiwa wirausaha dihati mereka. Apalagi ditambah uang modal tidak mencukupi. Sebagian besar warga kampung itu pegawai kelas menengah kebawah. 
 
Ibu- ibu mengeluh kesulitan mencari modal. Irul lantas mengajak mereka patungan Rp.50.000 setiap orang. Uang tersebut digunakan untuk siapa saja yang butuh modal. Beberapa saat akan ada ibu yang meminjam uang tersebut. Ibu itu meminjam Rp.100.000 buat membeli wajan katanya. 
 
Selepas wajan terbeli hingga berproduksi. Selepas uang terkumpul dikembalikan lagi dan lagi dipinjam ibu lain. Begitu seterusnya modal berputar- putar ditengah. Pada akhirnya, usaha tersebut malah jadi satu koperasi bersama. Irul sempat bersedih ketika pinjaman bank ditolak. 
 
Karena kebanyakan bukan warga asli.

"Tidak punya KTP Surabaya, dan disebut tidak punya agunan," kenang Irul. Cara lain dilakukan olehnya ialah lewat PT. HM Sampoerna Tbk, berupa pelatihan pengembangan usaha Sampoerna. Atau mendapat satu sponsor dari PT. Bogasari; Irul agaknya bisa bernafas lega.

Berkat bantuan sana- sini, mereka berhasil sedikit demi sedikit mengangkat nama Kampung Kue. Sudah berbentuk koperasi modal pun lancar masuk. Sampai mereka sudah punya modal uanng Rp.20 juta. 
 
Uang tersebut diberdayakan termasuk lewat berdirinya sebuah perpustakaan. Ia bercerita semua berawal di tahun 2004. Dia pernah diperkenalkan kepada pengurus perpustakan keliling milik perusahaan tertentu.

Melalui pembicara serius ternyata si pengurus berminat. Ia berencana membantu warga kampung. Caranya ialah lewat meminjamkan aneka buku bacaan. Kesempatan itu tidak diabaikan seorang Irul. Bahkan selain buku anak- anak, adapula buku ibu- ibu. 
 
Idenya ialah membangun kamus resep mereka. Hasilnya mereka semakin variatif soal jenis kue. Perpustakan keliling tersebut selalu dibanjiri ibu- ibu ketika datang waktunya. Mereka dibiarkan bereksperimen sendiri. Aneka kue dibuat menurut keinginan masing- masing. 
 
Mereka juga saling mengevaluasi hasil eksperimen. Semua penuh optimisme, warga kampung semakin bergairah berjualan. Irul bersama 60 orang anggota semakin mantap menatap. 
 
 
Apalagi semenjak ada bantuan Taman Bacaan Masyarakat dari sosok Walikota Surabaya sendiri. Yah, Tri Rismaharini kembali "berbenturan" dengan sosok Irul. Warga kampung mendapatkan harapan baru menambah penghasilan. 
 
Disisi lain, lewat adanya TBM juga ikut mencerdaskan anak- anak perkampungan ini. Satu pos kampling telah disulap oleh Pemkot dijadikan taman bacaan. Disana juga dipasangi akses internet membuat lebih mudah. 
 
Kalau sebelumnya para ibu akan datang sesekali (ketika mobil perpustakaan datang). Kini, mereka sudah bisa datang kapan saja bebas membaca buku resep. Mereka juga bisa membaca resep lewat browsing di internet. 
 
Alhasil Kampung Kue semakin bersemangat untuk membuat aneka resep baru. Kampung mereka mulai dikenal luas oleh masyarakat luas. Banyak warga kampung lain datang memesan kue. Warga Kampung Kue pun tidak perlu berjualan di luar kampung lagi. 
 
Justru penjual kue keliling yang datang ke kampung mereka. Sejak dini hari sudah terlihat aktifitas produksi kue.

Sejak pukul 04:00, para penjual kue keliling sudah berjubel menunggu. Mereka menunggu kue mereka siap diedarkan. Untuk nama Kampung Kue, sejak 2010, resmi diresmikan sendiri oleh sang penggagas Choirul Mahpuduah. Semenjak itupula nama kampung pendatang itu berubah nama. Pemberian nama itu memang sengaja dilakukan sebagai bentuk brand awareness. Lewat kesepekatan warga, nama Kampung Kue makin diresmikan.

Jumlah produsen kue total 65 orang. Cakupan produsen tidak lagi menyebar di satu gang. Sudah mengular merembet ke gang- gang sekitarnya. Perputaran uang di tempat ini mencapai Rp.25 juta. Varian kue sudah mencapai 70 jenis, seperti onde- onde, lemper, terang bulan, tiwul, ketan, lapis, putri ayu, roti kukus, dan bermacam kue kering. Adapula nasi kuning kotakan seharga Rp.1000- Rp.3000. Pembelian juga termasuk untuk hajatan.

Ibu- ibu Kampung Kue juga sering dipanggil menjadi pembicara. Mereka mengajari cara pembuatan aneka kue enak. Honor dari kegiatan tersebut akan dimasukan ke kas kampung. Menurut suami Irul, Riyadi, yang menikahinya sejak 2001, yang dulunya juga buruh pabrik menyebut usaha mereka lebih menjanjikan. Lebih dari sekedar menjadi buruh pabrik perusahaan. Ia rela keluar perusahaan agar bisa membantu Irul membuat kue.

Sementara itu Irul sendiri masih aktif menjadi aktifis. Meski sibuk mengurusi Kampung Kue, dia tidak lupa akan vokalnya, bahkan diangkat menjadi ketua serikat pekerja rumahan. Sosok tepat untuk digambarkan sebagai pengusaha sosial. Menurutnya, makna dari Serikat Pekerja Rumahan, menyangkut dua karir yang digelutinya: Pertama, mengurusi pekerja rumahan seperti pembuat kue ini. Kedua ya pekerja buruh diluaran sana.

Usaha Keripik Sayur Sederhana Omzet 9 Juta

Profil Pengusaha Sunarsih Hariwati 


usahakeripik.png

Usaha keripik sayur sederhana memberikan harapan. Buat ibu- ibu kalau sudah bosan keripik aneka buah. Pengen mendapatkan penghasilan tambahan, maka jualan keripik sayur merupakan pilihan. Dari jualan keripik wortel, sayur kubis, kacang panjang atau wortel bisa,
 
Dikutip dari Koranjitu, seorang pengusaha asal Jaten, Karanganyar, sudah sejak 1997 -an, Ibu Sunarsih Hariwati memulai usaha aneka keripik sayuran. Dibawah label Chrisna Snack, Sunarsih awalnya cuma memproduksi keripik daun bawang. Bisnis pertama yang masih level rumahan.

Jualan Keripik Sayur

 
 
Ibu Sunarsih memulai dari jajanan bernama luncang. Atau, bisa juga disebut jajan cumi- cumi atau kalau kamu bingung. Itu adalah keripik daun bawang khas, yang sayang tidak cukup memuaskan. Para pelanggan inginkan hal berbeda dari Sunarsih. 
 
Jawaban atas itu ada di potensi daerah yang penghasil sayur. Ia menciptakan inovasi dibidang keripik. Kalau di Malang terkenal keripik buah, maka ini keripik sayur khas Karanganyar.

Daerah tersebut memang penghasil sayur mayur. Sayang, banyak miris karena dia banyak melihat banyak orang dewasa tidak suka sayur. Kalau yang tua saja tidak suka sayur. Tidak dibayangkan Sunarsih apa yang terjadi kepada generasi muda. 
 
"...jadi saya bikin bentuk keripik," pungkasnya. Disela- sela kegiatan produksi keripik dia bercerita.

Memang masih tergolong usaha rumahan atau home industry. Pekerjaan produksi juga masih dikerjakan oleh keluarga sendiri. Jumlah ada empat orang karyawan (masih keluarga) selain dirinya. 
 
Kendala terbesar keripik ini menurutnya cuma masalah mesin saja. Oleh karena itupula dirinya enggan mengangkat karyawan lain. Dia masih betah dengan usaha nan sederhana. Wanita kelahiran 17 Desember 1962 ini belum punya mesin besar buat berproduksi.

Sekitar 6- 7 tahun lalu, ada kegiatan jalan sehat yang dihadiri Bupati Rini Iriani, melihat sukses Sunarsih yang mampu mengangkat potensi daerah. Tanpa segan pemerintah daerah menawarkan pembinaan. 
 
Ini disambut baik olehnya melalui ikut serta pembinaan. Dampak dari pembinaan ialah terjalin kerja sama antara produk Sunarsih dan Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kab. Karanganyar. Rina sendir tertarik akan usaha ini.

Usaha Sederhana


Sunarsih memilih sayuran terbaik di daerah Karanganyar. Dipilih terlebih dahulu barulah dibuat keripik sayur. Untuk keripik daun kenikir pilihan harus berdaun hijau tua. Ini mengandung anti- oksidan tinggi bila dikonsumsi. 
 
Adapula wortel berawarna cerah diambil dari daerah bernama Cepogo. Dipilih yang berwarna orange cerah. Kemudian keripik kacang panjang yang hijau cerah. Ia mengaku tidak mengalami kesulitan bahan baku.

Cukup dibeli di pasar terdekat semua tersedia. Setelah terkumpul, sayur kenikir, wortel, dan kacang panjang langsung diblender halus. Adonan dihaluskan diberi bumbu biar terasa gurih dan dicampur tepung. Selepas itu kamu bisa campur hingga kalis. 
 
Adonan siap dipotong- potong berbentu sesuai keinginan. Adonan keripik tinggal digoreng saja hingga kering. Selepas itu, Sunarsih biasanya akan segera mempacking agar tidak cepat rusak.

Sebelum dipacking jangan lupa ditimbang dulu ya. Chrisna Snack menghabiskan 10kg sayuran untuk empat jenis keripik. Packing kemasan terdiri dari ukuran 175gram, 1,5kg, dan 3kg. Untuk ukuran 175gram seharga Rp.9000. 
 
Kemasan 1/2kg seharga Rp.17.000 dan kemasan 3kg seharga Rp.105 ribu. Buat kamu yang mau jadi reseller ada kesempatan besar. Tentu Sunarsih sudah menyiapkan harga grosir atau potongan. Soal pemasaran sementara sekitar Surakarta, lewat toko roti, toko oleh- oleh, dan reseller perorangan. 
 
Kalau ada tamu dari luar kota datang di Karesidenan Karanganya, maka Sunarsih siap menyetok kebutuhan makanan khas. Dari situ sudah mengantongi omzet Rp.9 juta per- bulan. Tambahan pemasukan meningkat jika sudah masuk di musim lebaran.

Kendala maka ada dua: kendala permodala yang masih mengganggu. Istri dari Kristianto Wicaksono ini, yang kerap merasakan namanya di PHP soal modal usaha. "Waktu pelatihan katanya ada bantuan tapi sampai sekarang belum ada kejelasan," jelas Sunarsih. 
 
Karena minim modal kalau ada yang minta sistem titip. Sunarsih harus berpikir dua kali kalau tidak laku. Bayangkan kalau tidak laku mau modal apa produksi lagi.

"Padahal saya butuh uang untuk perputaran modal," keluhnya. Ibu Sunarsih memang selama ini turun tangan langsung.

Jika tidak maka rugi apalagi tidak punya karyawan. Hitunganya rugi juga kalau memakai sistem titip. Padahal mimpi Sunarsih termasuk memberdayakan petani. Sistem titip maka uang datang ketika barang laku terjual. 
 
Dia juga berharap bantuan berupa mesin. Saat ini cuma mesin kecil berproduksi terbatas. Bila saja mesin besar tentu bisa berproduksi sampai luar Surakarta. Dan, itu akan membuka lapangan pekerjaan baru di sekitar.

Alamat: Chrisna Snack Perum. Josroyo 19 RT 7 RW 20, Jaten, Karanganyar
Telepon : 085647229748

Pengusaha Sendal Kelom Geulis Merambah Eropa

Profil Pengusaha Junjun Arif Nugraha 


pengusahakelom.png
 
Menjadi pengusaha sendal kelom menjanjikan. Kini Kelom Geulis merambah Eropa, berkat kegigihan dan kecerdasan memanfaatkan dunia digital.  Arif termasuk generasi kedua usaha keluarga. Sejak lulus dari kampusnya, mata Junjun Arif Nugraha sudah tertuju kepada sendal kelom. 
 
Usaha pembuatan sandal tradisional khas Jawa Barat. Maklum saja, usaha ini sudah digeluti kedua orang tuanya sejak 1980 -an. Oleh karenanya Arif merasa terpanggil meningkatkan nilai sandal kelom dimata masyarakat. Lewat internet marketing usahanya tersebut ternyata tidak sia- sia.
 

Jadi Pengusaha Sandal Kelom


Usaha sandal geulis dirintis kedua orang tuanya dari toko eceran di kawasan Pasar Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka awalnya pedagang yang mengambil dagangan. Mengambil aneka kerajinan dari para perajin sekitar wilayah Tasikmalaya untuk dijual kembali. 
 
Ayah Arif bahkan bisa memasok sampai ke Bogor hingga Jakarta. Kios kecil milik mereka terus tumbuh. Sebagai pedangan kedua orang tuanya termasuk jeli dalam mengambil pasar.

Terbukti, dari perjalanan permintaan pelanggan akan sandal geulis semakin banyak saja. Di wilayah Bogor khususnya sudah beberapa tempat dipasoknya, seperti di Pasar Cisarua dan Cipanas. Untuk wilayah Jakarta sendiri sudah masuk sampai ke Pasar Jatinegara. 
 
"Saat itu, saya sering bantu- bantu orang tua jaga kios," imbuh Arif. Karena jumlah permintaan semakin meningkat, kedua orang tua Arif memilih membuka bengkel sendiri.

Tepatnya di tahun 1995, orang tuanya membuka bengkel pembuatan sendal khas Tasikmalaya tersebut. Selain memproduksi selom geulis juga memproduksi sendal kulit. Kemudian dibawah bendera PD Zunzun semakin berjayalah usaha mereka. 
 
Berjalannya waktu modal kedua orang tua Arif semakin kuat. Sampai berdiri satu bengkel lagi memperkuat kapasitas produksi mereka. Sumber daya manusia pun naik menjadi 40 perajin berpengalaman. 

"Usaha orang tua saya menunjukkan kemajuan pesat saat krisis 1998, saat itu banyak pesanan yang masuk," kenangnya.

Arif menjelaskan kebanyakan pesanan datang untuk pasar ekspor. Sedangkan pemasaran dalam negeri terbatas Jawa Barat dan Jakarta. Kisah ini semakin berjalan apik ketika Arif mengambil alih bisnis. Jika cerita pengusaha banyak unsur kesedihan dan kegagalan. 
 
Justru kedua orang tua Arif semakin sukses berbisnis. Hingga, di tahun 2006, karena faktor usia mereka mewariskan ini ke tangan seorang Junjun Arif Nugraha.

Merambah Eropa


Usaha Arif terbilang makin memoncerkan PD Zunzun. Itu juga termasuk berkat pengetahuan selama kuliah di kampus Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sosok Arif dianggap sebagai generasi kedua yang perlu kamu contoh. 
 
Di tangannya produk mampu merambah daerah- daerah lain. Bahkan sudah sampai ke tanah Eropa berkat internet. Tahun 2007 fokusnya adalah membangun internet marketing. Upayanya itu tidak sia- sia.

Tahun itu permintaan akan produk Kelom Geulis naik. Ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Pesanan bahkan naik sampai 200 persen. Semua orderan masuk melalui website buatannya. Arif bahkan mengaku kwalahan. 
 
Alhasil pemenuhan pesanan terkadang terkendala dan terpaksa harus dia tolak halus. Untuk saat ini, PD Zunzun hanya mampu memenuhi permintaan Kelom Geulis untuk 2000 pasang per- bulan.

Harga jual Kelom Geulis diantara Rp.15.000- Rp.25.000 per- pasang. Omzet penjualan mencapai Rp.160 juta- Rp.200 juta per- bulan. Soal laba bersih Arif blak- blakan menyebut 10 persennya. Pelanggan darinya sendiri adalah para pedagang grosir asal daerah masing- masing. 
 
Biasanya, ia menjelaskan mereka akan jual menjadi Rp.50.000 per- pasang. Untuk eceran jumlah permintaannya jauh lebih besar. Arif bahkan tidak sanggup lagi. Terobosan dalam marketing menggunakan online menjadi kunci. 
 
Namun ingat memperbaiki manajemen dan kualitas harus berjalan beriringan. Itulah kunci sukses Arif lewat pembelian 40 unit mesin jahit baru berbagai jenis dan ukuran. Adapula mesin pendukung lain yang lebih modern. 
 
Seperti mesin cangklong, mesin press otomatis, mesin penipis kulit, ruang oven, mesin oven elektrik, gergaji besar, penyedot debu, dan peralatan lain. Bahan dasar pembuatan sandal Kelom Geulis sendiri dari kulit sintetis atau kayu. Seluruh produksi sudah ada standarisasi satu atap. 
 
"Sehingga lebih gampang mengawasi quality control dari produk kami," ujar Arif lagi. Jadi tidak salah kalau namanya menjadi salah satu pengusaha muda rujukan. PD Zunzun meski kecil tetapi sudah memiliki berbagai inovasi dalam produksi. 
 
Tahun 2007, PD Zunzun mendapat pengakuan Dji Sam Soe Award.

Secara pribadi, Arif juga pernah mendapatkan penghargaan bernama Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 dari Bentoel.

Sejak mengambil alih dari kedua orang tua, sejak 2006, fokus Junjun Arif Nugraha ialah memperbaiki brand miliknya. Lewat penjualan interaktif berbekal media sosial digalang. Terobosan tersebut memang tidak sia- sia. Dia sukses membangun image kembali Kelom Geulis. 
 
Pesanan bahkan naik 200% dan semua orderan masuk lewat website toko online milik perusahaan. Trobosan lain adalah memperbaiki variasi desain dan bentuk kelom. Modal dan bentuknya Kelom Geulis menjadi lebih bervariasi. Bahkan motif mega mendung khas Cirebon sudah dimasukan. 
 
Selain itu, adanya ukiran cantik dari bahan kayu semakin menarik kaum hawa. Jadi tidak monoton berbahan kulit sintetis saja.

"Harga sandal ini menjadi mahal," tutur Arif.

Sandal khas Tasikmalaya ini makin moncer. Tidak cuma dikenal di dalam negeri tetapi hingga Eropa sampai ke Spanyol. Kalau dulu paling mentok sampai pasar Jakarta. 
 
Ditangan Arif, Kelom Geulis sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, sampai pula ke Indonesia Timur, seperti Sulawesi Tenggara, Manado, Gorontalo, Bali dan ke Pulau Sumatra. "Saya juga memasarkan kelom geulis hingga ke Sumatra," tutupnya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba