Pendiri Joger Biografi Joseph Theodorus Wulianandi

Biografi Pengusaha Joseph Joger


biografi pendiri joger

Kisah pendiri Joger Bali usaha pakaian terunik dunia. Biografi Joseph Theodorus Wulianandi, tentu asing diletinga kamu, tapi bicara produk, siapa yang tak kenal produk merek Joger. Ya, kali ini kita berbicara tentang pendiri sekaligus otak dibalik tulisan nyeleneh.

Joseph Theodorus Wuliandi, atau bisa juga Mr.Joger.BAA.BSS, singkatan dari Bukan Apa-Apa dan Bukan Siapa-siapa. Dia lah sang maestro dibalik produk- produk unik, aneh, dan gila, bahkan kata- katanya terkadang "menipu", tapi entah mengapa kita begitu menyukainya.

Pemilik pabrik kata- kata mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki kemampuan berbahasa khusus dan dia bukanlah orang pintar hanya orang yang memiliki tekad untuk maju terus. Minimal tidak menjadi seorang pengangguran atau kemudian menjadi sampah masyarakat di negeri tercintanya ini.

Menjadi Pengusaha


Itulah motivasi utama Mr. Joger. Dia hanya mempunyai keyakinan dan keberanian sebagai modal awal untuk membangun karya- karyanya. Pria kelahiran Denpasar, 9 September 195, yang menyebut dirinya memang berbeda sejak kecil.

Hidupnya ialah merdeka, tidak terikat, dan unik, persis seperti karya- karyanya kini. Karakter ini pula yang melekat dalam produk Joger hingga sekarang. Baginya "Sedikit itu lebih baik asalkan cukup" daripada "banyak tapi masih merasa kurang."

Tapi akan lebih menyedihkan jika miskin tidak bahagia pula. Alkisah, Pak Joseph ini atau kemudian dikenal dengan Mr Joger di sekitar tahun 1970an, yang sedang menempuh kuliah di Hotelfachshule, Bad Wiesee, Jerman Barat, berkenalan dengan Mr. Gerhard Seeger.

Keduanya menjadi kawan akrab yang sangat baik seperti saudara mungkin. Saking baiknya, saat Mr Joger menikah dengan istrinya Ibu Ery Kusdarijati, Mr Gerhard Seeger rela memberikan hadiah uang sebesar USD 20.000. Uang yang banyak itu, jika di rupiahkan, akhirnya dipakai untuk modal usaha.

Awalnya sih tak terpikirkan nama apa, tapi karena mengingat kebaikan sang sahabat, jadilah Pak Joseph menggunakan nama Gerhard dalam bisnisnya. Joseph berinisiatif menggabungkan namanya dan Mr. Gerhard menjadi satu.

Jadilah nama Joger tersebut, jika dilihat seksama merupakan gabungan Joseph dan Gerhard. Bermula dari satu toko souvenir kecil di Jalan Sulawesi, Denpasar, di depan Pasar Badung, nama Joger resmi dilahirkan tanggal 19 Januari 1981.

Nama Joger ini melekat terus, hingga akhirnya pada tanggal 7 Juli 1987, Joger membuka satu toko souvenir besar di Jalan Raya Kuta, Bali, yang semakin ramai, sampai sekarang. Tadinya yang hanya berencana membuka satu toko besar akhirnya memilih membuka satu lagi.

Alasanya karena membludaknya pengunjung yang mengejutkan si pemilik sendiri. Mereka sampai memenuhi jalan di depan toko, membuat kemacetan, dan tempat parkir kecil itu selalu penuh oleh berbagai kendaraan bermotor.

Setiap hari, ribuan pengunjung mendatangi pusat kata- kata Joger. Bahkan, kalau hari libur nih, untuk masuk tokopun mesti antri saking banyaknya orang yang akan masuk.

Dan bermula dari kaos, sekarang ini di Joger banyak sekali item produk yang bisa dibeli, mulai dari souvenir kecil, tas, batik, kaos, stiker, jam aneh yang memutar tidak searah jarum jam biasa, bahkan hingga sandal dan sepatu. Semuanya laris manis diburu pengunjung, terutama kaos khasnya.

Perjuangan hidup


Ternyata dibalik kesuksesan besar itu ada proses yang perlua dijalani. Kala sekarang, Joger sudah punya beberapa mesin sendiri, dengan proses digital yang cepat, bahkan hampir tak pernah berhenti karena saking banyak pesanannya.

Saat awal mula sekali, Joger merupakan perwujudan kerja keras Joseph dan istrinya, yang kala itu hanya berbisnis sovenir biasa. Belum punya mesin membuat Mr. Joger tak putus asa. Dia melakukan semuanya sendiri dari pembuatan dan penciptaan kata- kata unik itu.

Karena belum ada mesin, desain tersebut akrhirnya ia "orderkan" kepada orang lain yang punya mesin. Saat itu, semuanya dicetak manual. Desain dan kata-kata original khas Mr Jogerpun akhirnya mulai dijajakan di tokonya. Di salah satu sudut ruangan toko berbaris produk karyanya.

Tantangan selanjutnya membangun merek, sekaligus merebut kepercayaan orang untuk membeli produknya. Mr. Joger tetap pantang berputus asa. Mr. Joger memanfaatkan beberapa koneksi untuk menjajakan produknya pada wisatawan lokal maupun asing.

Joseph bergerilya dari mulut ke mulut, dari satu tourist guide ke tourist guide yang lain, mengabarkan kepada mereka agar mau merekomendasikan produk Joger kepada mereka para wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.

Lambat laun tapi pasti, kerja kerasnya mulai mendapatkan hasil. Dengan keunikan produknya yang memang berbeda dari biasanya, ia mulai mendapatkan perhatian dari banyak pihak, termasuk media masa. Mereka mulai meliriknya menjadi sumber berita.

Muncul lah profilnya di berbagai media masa, baik itu lokal maupun nasional. Sejak kemunculannya di berbagai media inilah, tidak pelak lagi, Joger mulai menancapkan kakinya menjadi salah satu barang souvenir wajib yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung ke Pulau Dewata.

Yang menarik dari Joger adalah kreativitasnya yang seakan tidak pernah surut di tangan Joseph. Konsep kata-kata yang digunakan begitu orisinil, unik, menggelitik, dan penuh sindiran. Tetapi tidak bisa dipungkiri, kata- kata yang terkesan konyol itu sangatlah filosofis, dan penuh permenungan.

Kreativitas itu pun sepertinya tidak pernah berhenti disitu. Konsep pemasaran yang tidak biasa yang dijalankan Joger sangat berhasil (Istilah kerennya Anti Marketing).

Orang biasanya selalu hanya ingin mengungkapkan hal-hal baik pada dirinya, tetapi sejak awal, Joger bilang: "Joger jelek, Bali bagus". Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras.

Joger bukanlah berhasil dengan tiba-tiba. Keberhasilan Joger berasal dari upaya kerja keras terus menerus dari pemiliknya, dan juga tim kerjanya. Mereka melakukan berbagai cara dan upaya agar tokonya bisa besar.

Mereka terus mencoba konsisten agar produk buatannya tetap kreatif, dapat diterima, dan semakin dapat memberikan manfaat.

Usaha Ikan Bakar Babe Lili Penuh Perjuangan

Profil Pengusaha Babe Lili


ikan bakar babe lili

Usaha ikan bakar Babe Lili memang fenomenal. Rasanya sudah tidak terbantaskan, diulas berbagai media masa. Tak aneh memang, namanya begitu melejit tidak hanya di kalangan masyarakat, tetapi artis, dan para pejabat. Rasanya enak mumpuni memiliki cita rasa khas.

Restoran miliknya yang berdiri di jalan Wahid Hasyim tak pernah berhenti bau ikan dibakar. Aromanya begitu kuat dari alat- alat pembakaran ikan itu, tapi siapa sangka itulah, restoran yang berdiri sejak 1996 hanya bermodal Rp.38.000 sudah besar

Berkat kegigihan restoran tersebut telah bermetamorphosis menjadi restoran besar. Usaha ikan bakar Babe Lili bukan kaleng- kaleng.

Bisnis serabutan


Pekerja serabutan, begitulah kehidupan pria yang bernama asli Mardji, sebelum akhiranya berdagang. Sejak usia 11 tahun, Babe Lili keluar dari rumahnya, hidup sendiri tanpa bantuan keluarga. Ia dikala masih mudah adalah seorang pengelana yang hidup tanpa tujuan.

Hidupnya berantakan bahkan sempat dianggap sudah tiada atau meninggal. "Pekerjaan apapun saya jalani, dari satpam dan supir bajaj, semua pernah saya lakukan, hingga terjebak di dunia hitam, mengkonsumsi obat-obatan," ucap bapak berusia 74 tahun ini, kalem.

"Pokoknya haram jadah!," ucapnya mengenang masa lalunya. Di tahun 2006 bisa dibilang masa dimana ia mendapatkan kesadaran dan pemikiran baru. Sebabnya, Babe Lili merasa sakit hati bukan kepalang

"Saya sakit hati melihat orang bule bisa berbisnis makanan mereka di Indonesia. Anehnya, orang kita malah menyukai makanan mereka. Saya berpikir untuk menciptakan makanan khas laut di tengah kota. Ikan bakar laut pilihan saya," kisahnya bersemangat.

Babe Lili tak cuma bersemangat tapi nekat memulai bisnis. "Ya, 38.000 modal awalnya. Dulu, saya sering menjajakannya dari rumah ke rumah. Saya keliling ke tiap perumahan untuk menawarkan ikan bakar buatan saya," lanjut sang pengusaha.

Harga jual masih murah yakni Rp.2000 perekor tidak seperti sekarang. Nah, dari sanalah ikan bakar buatannya mulai digandrungi orang. Bukan hanya dari kalangan bawah, artis dan pejabat pun banyak tertarik. Pengusaha yang memiliki 20 -an karyawan, mengaku bangga mampu menginspirasi orang.

Tak aneh jika restoran ini mampu mengabiskan 60- 70 kilogram ikan laut. Kata Babe Lili, ikan bakanya itu dibumbui setelah dibakar setengah matang. Hal tersebut agar bumbu meresap ke dalam. Di restoran H. Babe Lili ada 8 jenis ikan serta sambal dan lalapan yang dapat dinikmati bersama. 

"Ya, ada sekitar 8 jenis ikan laut yang dijual disini. Sebutlah, ikan kambing-kambing, baronang, kerapu, kakap, kue, bawal, hiu dan ayam-ayam. Selain itu, saya pun menyediakan berbagai olahan udang dan cumi," ucapnya.

Harganya pun masih terbilang cukup terjangkau, dari 35 ribu – 45 ribu rupiah. Kini bisnisnya itu telah bercabang 2 lokasi di Jakarta. Hasilnya, ia pun bisa naik haji dan keliling Eropa bersama istri dan anak tercinta.

"Sebelumnya, saya tak pernah berpikir bisa naik haji dan keliling Eropa. Alhamdulillah, ini berkah," ucap ayah 3 anak ini penuh syukur. Setelah hampir 14 tahun berlalu, Babe Lili pun memilih untuk istirahat dari bisnisnya.

Hidupnya kini tak jauh dari sajadah. Ia hanya sekali-kali terlihat di restoran induk, di jalan Wahid Hasyim, karena lokasinya yang berdekatan dengan rumahnya. Sementara, cabang-cabang restorannya ada di daerah Dharmawangsa dan Bintaro dikelola oleh anak-anaknya.

Inilah bisnis dimana kamu bisa mewarisakan sesuatu untuk dikenang dan jadi tumpuan. Usaha ikan bakar Babe Lili mengajarkan kebangkitan tanpa pandang bulu.

Usaha Angkringan Menguntungkan

Profil Pengusaha Pak Agus


usaha angkirang menguntungkan

Usaha angkringan menguntungkan terbukti muncul disemua daerah. Sudah bukan lagi dikuasai oleh daerah tertentu.Bila biasanya kita melihat bisnis- bisnis semacam ini sebagai khasnya Yogyakarta, itu salah.

Makanan angkringan telah berkembang, menjadi layaknya warung makan Tegal yang tersohor. Masih bisakah diandalkan? Ya, bisnis semacam ini dapat ditekuni dan divariasi sesuai keinginan kamu.

Bisnis tetaplah bisnis, meski sama- sama warung tegal pastilah beda antara yang di Jakarta dan kota kecil Semarang.

Makanan angkringan telah masuk kota Tangerang dan telah banyak pengusahanya. Salah satu pengusahanya adalah pasangan Bapak Agus dan Ibu Juweni.

"Mungkin karena dari sisi harga sangat terjangkau, itu yang kami jual, menyediakan makanan murah meriah, dengan kualitas tetep terjaga," ungkapnya. Disamping murah, lapak jualannya memberikan suasana berbeda dibanding warung makan biasa.

Usaha Kecil Menguntungkan


Warung angkringan yang berkonsep lesehan dimana hanya butuh tikar dan penerangan tradisional. Dari berbagai catatan, meski angkringan kebanyakan berkonsep jajanan malam, ada juga yang dijual di siang hari.

Kita tak bisa pungkiri keuntungan dari para pekerja kelaparan di siang hari. Sebuah grobak bisa jadi awal yang baik bagi anda yang berminat berbisnis angkringan. Mereka, para pembeli pastilah akan datang jika memang enak makanannya.

Inilah yang membuat keduanya yakin bisnisnya berjalan awet. Dari semula satu lapak, pasangan ini akhirnya mendapatkan tawaran seorang kolega untuk bekerja sama.

"Kemudian kami merekrut tenaga masak dari kampung kami, sekaligus tenaga-tenaga penjualnya di masing-masing lapak sampai saat ini kami memiliki 20 lapak," imbuh pasangan dari Klaten, Jawa Tengah ini.

Bagi pasangan suami istri ini, sukses punya arti kedisiplinan menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam perkembangan bisnis mereka. Mereka juga meyakini soal disiplin mengelola keuangan.

"Kami punya prinsip yang kami pegang dari pesan orang tua kami, bahwa ketika memelihara ayam itu jangan dimakan induknya tapi makanlah telurnya," ungkapnya.

Arti ungkapan tersebut diatas, menurut mereka berdua, adalah bahwa dalam menjalankan usaha ini mereka telah berusaha sekuat tenaga. Mereka sekuat mungkin agar tidak menggunakan uang modal untuk kebutuhan konsumtif, tapi mereka gunakan untuk diputar kembali.

Benar sekali, kebanyakan usaha baik baru atau lama gagal karena seenaknya sendiri menggunakan modal. Si pengusaha tak mampu memisahkan antara omzet yang didapat dengen keuntungan bersih. Ditambah lagi jika usaha belum jalan, tapi modal telah habis.

Ketika ditanya soal persaingan, dimana terdapat usaha sejenis, pasangan ini mengaku tidak takut. "Untuk persaingan, kami punya prinsip bahwa selama kami tidak menyerang dan bikin rusuh di usaha orang, Insya Alloh kami juga tidak akan diganggu," terangnya.

"Yang penting kami tetap bekerja keras menjaga kualitas serta rasa makanan yang kami tawarkan itu tadi, pembeli akan terus datang," imbuh pasangan ini.

Bisnis angkirangan membawa keduanya, Ibu Juweni dan Bapak Agus, saat ini tidak lagi menumpang hidup di rumah saudara.

"Alhamdulillah saat ini kami telah memiliki aset berupa tanah, rumah, mobil untuk operasional usaha," mengenai pendapatan bersih perbulan dari usaha angkringan menguntungkan, sambil malu-malu pasangan ini menyebutkan angka, rata-rata Rp 30 juta.

Sebuah angka yang fantastis untuk usaha sederhana seperti angkringan. Namun yang menjadi kebanggaan dan kebahagiaan batin bagi pasangan ini  adalah ada 35 orang karyawan yang hidup dari usaha ini.

"Kami sangat bahagia dan bangga secara batin bisa membantu menaikkan taraf perekonomian karyawan kami," tegas keduanya, inilah yang disebut kerja bukan soal jadi kaya.

Kuliah Sambil Usaha Kenapa Tidak Bisa

Profil Pengusaha Jessica Ekstrom


kuliah sambil usaha

Sembari kuliah, beberapa orang sibuk mengais uang, sekedar mencoba bertahan di minggu- minggu akhir bulan. Kuliah sambil usaha kenapa tidak bisa. Bayangkan kamu makan- makanan instan, dan sangat sibuk tenggelam disela- sela rak buku, sembari memulai sebuah perusahaan atau usaha.

Sudah pasti kamu tidak terbayangkan sedikitpun mahasiwa manapun. Dikutip dari entrepreneur.com, Jessica Ekstrom memulai bisnis disaat masih sibuk di kampus, bisnis bernama headbandsofhope.org.

Memulai bisnis dari kampus, kenapa kamu harus bilang tidak untuk jadi sukses lebih awal. Alasan untuk tidak memulai bisnis saat masih sekolah karena kesibukan kuliah, menjadi omong kosong belaka. Kamu akan selalu menemukan kata yang sama, tak ada waktu untuk memulai hal baru.

Entrepreneur Dimanapun


Dalam hidup kamu akan selalu ada kata "sekarang bukan waktu yang tepat". Jessica berbisnis bando atau hiasan rambut untuk si kecil, dan setiap pembelian akan didonasikan untuk kangker anak. Cara penjualan yang baik, sekaligus mengingatkan kita bahwa mahkota itu berharga.

Bisnis ini lebih baik daripada bisnis lain yang mengandalkan produk tidak jelas. Perlu diingat, dia bukanlah seorang pengusaha sejak semula, hanya seorang mahasiswi sebuah universitas.

Untuk kalian yang memilih menyelam atau tidak, berikut alasan kenapa kamu harus memulai bisnis saat ini juga. Alasan yang sama dan ditulis ulang oleh Jessica, berikut adalah alasannya memulai bisnis:

1. Kamu punya sumber modal. Ketika memulai Head Bands of Hope, ia tidak memiliki modal khusus tentang kewirausahaan, dari pengetahuan sederhana soal marketing ataupun membuat produk. Ia pun sadar akan satu hal: bahwa dirinya dikelilingi orang- orang hebat.

Ketika di kampus, profesor mu pasti mempunyai sesuatu tentang pengetahuan wirausaha. Konsultasi pertama Jessica membawa langkah pertamanya memulai sebuah bisnis kecil.

2. Membangun jaringan dan suport. Apapun yang kamu lakukan disekitar kamu adalah mereka yang sama dengan kamu, mahasiwa. Bagi mereka apapun itu jika menyangkut tentang menjadi sukses, bersama- sama kenapa tidak bisa?

Bagi Jessica siapapun kamu dan mereka, ini soal membangun sebuah koneksi, bertujun untuk sebuah kesuksesan atau melakukan sesuatu.

Pasar pertama Head Bands of Hope ialah mereka yang ada di kampus, kemudian ceritanya mengalir dari mulut ke mulut,  dari teman ke keluarga. Tujuannya adalah menciptakan efek ripple, mengalir dan tersebar luas.

Sebagai tambahan, menurutnya, mereka yang dikampus mengenal sosial media dan mencari sesuatu yang dianggap menarik, ini menjadi fondasi kamu dalam berbisnis.

3. Menjadi egois bisa diterima. Kenyataan kamu punya tanggunga jawab di kampus. Tapi, kamu memiliki sebuah tanggung jawab lebih besar setelag lulus dan di dunia nyata. Apa yang kamu punya sebagai anak kuliahan? Adalah sifat egois tentang mengerjakan tanggung jawab kamu lebih dahulu.

Kamu memiliki semua modal lalu mulai investasikan, persiapkan jiwa dan hati, lalu masuki dunia yang kamu inginkan. Bisnis bukanlah apa yang kamu khawatirkan daripada nilai ujian kamu, lakukan tahap awal tak ada salahnya jika gagal, lanjutkan jika sukses besar.

4. Kamu punya reputasi untuk menangkis. Jika jaman sekarang anak muda identik dengan obsesi kepada sosial media, malas, tak tau tentang kerja keras, bisa jadi bermanfaat. Tanggapan miring ini bisa jadi senjata ketika kamu tau itu bukanlah kamu, diri kamu adalah pengusaha.

Kamu akan disorot kamera ketika sukses itu nyata, bayangkan kamu adalah seorang entrepreneur muda ketika teman kamu sibuk bersosial media selain hidup di kampusnya.

Kamu berbeda, Jessica membuktikan sebuah bisnis bisa begitu efektif dalam marketing di jaman sekarang. Menjadi pengusaha muda itu ada untungnya dijaman yang identik dengan tanggapan miring.

5. Tak masalah jika gagal. Ia menyukai masa- masa kuliah ketika melakukan segala sesuatu diluar kotak. Kamu tak perlu takur gagal terangnya lebih lanjut. Jika saya merasa terlalu nyaman dan tak merasakan rasa ditolak, artinya saya tidak berusaha menarik diri saya cukup keras, jelasnya.

Jika kamu gagal, kamu bisa jadi seorang mahasiwa kembali. Tapi, jika kamu telah masuki dunia kerja, tak ada jalan kembali.

Yang terbaik dari semuanya adalah tentang pengalaman, satahun atau dua atau mungkin empat dan lima tahun lebih pengalaman daripada mereka yang tidak memulai sama sekali.

Sewa Mobil Mewah Pengusaha Mantan Loper Koran

Profil Pengusaha Aryanto Mangundiharjo


mantan loper koran

Pengusaha mantan loper koran yang melewati asam- manis kehidupan. Aryanto Mangundiharjo telak menemukan kenyataan pahit. Walau kelahiran asli Jakarta, kejamnya Ibu Kota sama menghajar sosok Aryanto sejak muda.

Usia 15 tahun terpaksa berhenti sekolah dan bekerja. Dia tertarik menjual koran ketimbang berkutat tugas sekolah. Arya juga jarang pulang membuat khawatir. Tumbuh dijalanan membuatnya kuat, dari sanalah dia belajar mengenai konsep anti- kemapanan dan berani ambil resiko.

Dia sudah memiliki modal keberanian tinggal kreatifitas. Keluarga Arya ini sebenarnya merupakan sosok berkecukupan. Ayahnya, Wiyoto Mangundiharjo punya usaha mapan, punya usaha penyewaan alat berat di Jakarta.

Aryo lebih memilih bekerja di jalanan. Bekerja loper koran ternyata tidak membuatnya puas. Maka ia dipaksa memutar otak. Dia merintis usaha jasa pertama. Bukan memakai sosial media atau aplikasi dari smartphone.


Bisnis Rental Mobil


Pada 1991, jamannya pager dimana cuma bisa mengirim secuil pesan singkat. Itupun dia tidak punya tetapi terdapat cara. Arya berkenalan dengan sosok pemberi pinjaman jalanan. Dia memberikan Arya remaja pinjaman Rp.300 ribu.

Dibelilah pager yang kemudian dipakai menjual jasa antar. Arya lalu menuliskan nomor pagernya ke secarik kertas. Itu lantas diselipkan disetiap koran yang akan dijualnnya. Arya pun semakin bekerja keras menjual koran.

Makin banyak orang membeli maka nomornya semakin tersebar. Berkat itu tinggal menunggu orang menghubungi. Bertahap banyak orang menyimpan nomornya dan berlangganan. Dengan sigap, Arya berangkat mengantarkan majalah atau koran langsung ke rumah.

"Sejak kecil, saya terbiasa melihat bagaimana orang tua saya berbisnis," celetuknya. Berpikir kreatif diasah Arya demi bertahan hidup dijalanan. Startegi langganan berjalan manis hasilkan lebih banyak pembeli.

Arya memang supel. Pandai bergaul dan berbicara membuat semua orang senang. Dalam tiga tahun saja, dia telah mendapatkan sertus pelanggan membeli lewat jasa antar. Arya lantas bekerja sama dengan jasa kurir.

Dia mengajak adiknya membantu pengiriman majalan dan koran. Usaha keagenan koran berbekal jualan keliling. Arya menjadi bos sampai kerjanya cuma duduk- duduk. Ia pun menyerahkan usaha itu ke adiknya; Dia ingin mencari tantangan baru.

"Saat itu saya mikir, saya masih muda, kok kerjanya sekarang duduk- duduk saja, enggak ada lagi tantangannya," imbuhnya. Itu sekitar tahun 1988, dimana usianya masih 18 tahun, jiwanya bergejolak sampai rela menjadi satpam atau sekuriti.

Pekerjaan satpam bukanlah pilihan terakhir. Dia ingin bisa mengendarai mobil. Kebetula ia bekerja di tempat jualan air mineral. Ada beberapa mobil pikap terparkir di tempat kerja. Beruntung dibolehkan pemilik belajar mengendarainya.

Arya belajar menyetir kemudian bekerja di tempat air. Dia ditugaskan mengantar air keliling. Setahun bekerja, Arya pindah profesi menjadi pengemudi taksi Blue Bird. Tapi, di tahun 1999, dia dikirim ke Bali dipindah tugaskan.

Bekalnya kemampuan bahasa Inggris lumayan. Arya pun ditugaskan menjadi sopir Golden Bird di Bali ini. Golden Bird sendiri merupakan anak usaha Blue Bird. Pasarnya penumpang kelas atas yang diantar memakai mobil mewah.

"Saat itu, saya pegang mobil Volvo," kenangnya. Di Bali, pergaulannya termasuk dengan pengusaha mobil rental. Inilah cikal usaha sewa mobil mewah sang pengusaha, Arya Mangundiharjo.

Bom Bali I meledak menyebabkan kekacauan dimana- mana. Bom meledak pada 12 Oktober 2002, yang memaksanya pulang kampung ke Jakarta. Dia tidak tinggal diam. Langsung saja berbisnis rental mobil. Dia cuma bermodal uang simpanan Rp.3 juta.

Arya cukup meminjam mobil Toyota Kijang dari kenalannya. Kemudian ia lempar ke orang yang membutuhkan sewa. Buat menggaet penyewa, Arya rela merogoh kocek demi menyewa sudut iklan surat kabar. Ternyata rencana tersebut berhasil menggaet banyak pelanggan.

Pesananan mengalir tetapi belum punya mobil. Pamor naik makin banyak teman yang mau menitip mobilnya. Bisnis rental melonjak drastis sampai berani mengikuti tender. Dimana dia ikut penyediaan mobil untuk perusahaan obat nyamuk cair.

Dia menang. Disewalah 14 unit mobil Toyota Kijang selama 3 bulan. Arya menang sewa harian. Tapi taukah kamu, bahwa Arya ternyata menyewa mobil dari orang lain, sewa bulanan kemudian disewa perusahaan obat nyamuk harian. Untung besar sampai dia sanggup membeli mobil kijang sendiri.

Wajahnya berbinar ketika menceritakan kontrak- kontrak besarnya. Dia bercerita, bahwa pernah ada perusahaan ponsel menyewa 48 unit beberapa tahun. Bisnis berlanjut, pengusaha mantan loper koran tersebut menemukan pasar mobil mewah.

Arya menemukan pasar tersebut pada 2006 silam. Dikisahkan dia menerima keluhan pengusaha asal Rusia. Dia kesulitan menemukan penyewaan mobil mewah di Jakarta. Dari rental mobil biasa lantas banting stir menjadi mobil mewah.

Sewa Mobil Mewah


Nama Jakarta Bahana berubah menjadi Jakarta Limousin. Arya nekat menjual semua mobil- mobil kijangnya buat mobil mewah. Pergaulan luas membuatnya mudah berkenalan siapapun., Dia kenal beberapa pengusaha pemilik mobil mewah.

Proposal penyewaan mobil mewah langsung dikirim kemana- mana. Dititipkan ke perusahaan besar, dari sektor migas sampai batu bara. Sewaan kemudian datang mengalir begitu mudah. Pelanggan baik pemimpin perusahaan, sampai mereka yang mau menikah, suting iklan, atau suting film.

Banyak orang kedutaan negara sahabat datang menyewa mobil. Pejabat juga menyewa mobil mewah milik Jakarta Limousin. Aneka kegiatan besar seperti KTT Asean sampai Sea Games, ikut menyewa mobil mewah milik Arya Mangundiharjo.

Tidak berhenti sampai selebriti luar negeri ikut menyewa. Ketika mereka datang, dari Linkin Park, Rihanna, Beyonce, Ketty Perry dan Justin Bieber memakai mobilnya. Arya menjelaskan, buat mereka akan lebih rumit pasalnya permintaan spesifik jenis mobil, warna, dan banyak sampai satu kru.

Alasannya biar penggemar tidak menemukan mereka dimana. Warna dan jenis mobil akan membuat penggemar menebak- nebak. Mobil mewah paling laris disewa pribadi adalah Toyota Alphard. Lalu Marchedez Benz laris disewa perusanaan dan kedutaan.

Berapa harga sewa mobil mewah ketika disewa. Harganya bervariatif antara Rp.3 juta untuk Alphard, dan Merchedez Benz antara Rp.5- 15 juta tergantung jenis. Harga sewa mobil supermewah malah bisa lebih selangit.

Kemudian ia juga memiliki Frerari Spider Seraph Rp.30 juta, Bently Flying Spur Rp.32 juta, dan Hummer H3 Limousine Rp.37,5 juta. Mobil paling mahal ya Roll Royce. Dimana mobil diatas harga Rp.10 miliar disewakan Rp.50.

Uang tersebut buat 12 jam sewa. "Tapi, itu semua bisa nego kok," tuturnya. Harga sudah termasuk buat bahan bakar, sewa sopir, minuman dan makanan ringan, buku bacaan, majalah, dan surat kabar. Ia menambahkan beberapa mobil bahkan menyediakan boday dan kaca anti- peluru.

Kelebihan Jakarta Limousine adalah memiliki sopir profesional. Mereka mahir berbahasa Inggris, diambil dari jasa keamanan, sehingga ketika datang masalah langsung dihadang. Mereka mampu melindungi kita sewaktu ada perampokan atau terjebak kerusuhan.

Buat pelanggan yang merasa butuh keamanan ekstra: Disedikan sopir bersenjata api, dimana Arya meminta bantuan Brimob dan Kepolisian. Optimisme mengalir akan masa depan jasa sewa mobil mewah.

Arya sudah melebarkan sayap ke Semarang, Surabaya, Denpasar, Solo, Jogja, Medan, Pekanbaru dan Banjarmasin.

Es Kimo Es Ketan Hitam Diwaralabakan

Profil Pengusaha


es ketan hitam eskimo

Mencari usaha kuliner yang diwaralabakan memang banyak pilih. Paling diminati minuman es sebab disukai siapa saja.  Es bukan hanya sekedar penghilang dahaga, tapi sudah seperti gaya hidup. Dari warung- warung kecil, atau kafe- kafe di mal besar menjajakan aneka olahan es.

Peluang bisnisnya pun masih berkibar tak kunjung reda. Berbagai inovasi telah dihadirkan para wirausahawan salah satunya Es Kimo.

Hari Maulana, pemilik merek dagang Es Kimo, berasal dari Purwokerto menjajal bisnis kuliner bertema waralaba. Es Kimo sendiri secara garis besar ialah campuran minuman dingin ketan hitam.

Ada beberapa varian rasa untuk Es Kimo milik Hari. Diantaranya rasa original yaitu ketan hitam yang manis berpadu teburan es sebagai toping, ditambah baluran susu kental manis putih atau coklat. Hari membrandol es miliknya seharga Rp.5.000 hingga Rp.7.000 per- cup.

Bisnis yang telah berdiri sejak 2010 ini telah siap menawarkan sistem kemitraan atau waralaba. Kini, Es Kimo telah memiliki tiga gerai yang tersebar di Solo dan Surabaya.

Prospek Diwaralabakan


Dengan rinciannya, "Satu milik mitra yang ada di Solo, dan sisanya milik mitra yang ada di Surabaya," kata Hari.

Hari menawarkan paket investasi untuk bisnis Es Kimo senilai Rp.7,5 juta. Investasi sebesar itu punya rincian bahwa mitra akan mendapatkan perlengkapan sangat lengkap ditambah pelatihan.

Mitra atau pewaralaba akan mendapatkan booth, tempat es, peralatan lengkap, alat promosi seperti banner dan spanduk. Hari sih mengklaim belum ada peluang bisnis semacam ini. Peluang bisnis minuman berbahan dasar ketan hitam yang seperti Es Kimo berbeda.

"Paling tidak yang memiliki rasa seperti ini jarang," ujarnya lagi. Es berasa ketan hitam ini memang selain sedap, segar, juga sehat.

Es Kimo bisa dinikmati berbagai kalangan dan umur. Hari menambahkan es -nya ini sehat untuk mereka yang masih anak- anak. Faktanya ketan hitam memang mengandung energi sebesar 356 kilokalori diamana protein 7 gram, dan zat besi 1 miligram.

Selain itu di dalam beras ketan hitam juga terkandung vitamin A, vitamin B1 dan vitamin C, lebih baik dari beras biasa.

Mengacu pada gerai miliknya sendiri, dalam sehari Es Kimo bisa menghabiskan sekitar 30 hingga 50 gelas. Hari berujar bahwa target penjualan maksimal akan ada bila gerai ditempatkan di tempat strategis seperti di sekitar sekolah atau minimarket.

Hari memproyeksikan satu gerai bisa meraup omzet sekitar Rp 4,5 juta–Rp 6,3 juta setiap bulan .Setelah dipotong biaya sewa tempat, lalu membeli bahan baku, dan biaya operasional, mitra bisa mengantongi laba bersih sekitar 35%.

Ia berujar lagi bahwa modal balik untuk waralaba miliknya mencapai jangka waktu sekitar tiga hingga empat bulan. Hari tidak mengutip biaya royalti dari mitra. Namun mitra wajib membeli bahan baku seperti ketan hitam yang sudah menjadi es dari pusat.

"Agar kualitas rasa terjaga," katanya. Tahun ini, Hari menargetkan sekitar 50 mitra yang bergabung dengannya. Dia sendiri optimistis bisnisnya akan terus tumbuh.

Usaha Cuci Mobil Biografi Henry Indraguna

Biografi Pengusaha Henry Indraguna


biografi henry indraguna

Biografi Henry Indraguna mempelopori usaha cuci mobil salju. Bermula kepusingan ketika hadapi musim hujan. Ia harus bolak- balik cuci mobil karena genangan air. Belum lagi nanti, dari air hujan mengandung asam berlebihan akan menyebabkan cat memudar dan besi karatan.

Ia menyadari bahwa mobil butuh lebih dari sekedar cuci. Idenya usaha cuci mobil lengkap bak salon manusia. Maka Henry mendirikan usaha Auto Bridal pada September 2002. Pengusaha kelahiran 28 Agustus 1971, yang mana menginisiasi adanya sabun khusus seperti salju.

Namanya The Auto Bridal Indonesia, tempatnya kendaraan bermotor dicuci pakai "busa salju" Ia bukan pengusaha baru. Banyak usaha dijalankan namun menemukan kegagalan. Dia selalu bangkit walau merangkak dari nol kembali.

Wirausaha Inovatif


Ia pernah bekerja menjadi salesman. Biografi Henry Indraguna adalah alumni Universitas Maranatha Bandung. Bisnis merupakan passion -nya, walau bermodal cekak. Dia pernah berjualan ayam goreng. Hendry sudah berusaha semenjak kelas 2 SMA.

Hendry pernah menjadi broker mobil. Pernah dia bersama dua koleganya mendirikan usaha startup. Yakni mendirikan kartu diskon berjaringan internasional; dia kembali gagal. Berikutnya dia mencoba peruntungan di usaha cuci mobil ini.

Tetapi dia merasa tidak mudah mengangkat bisnis ini. "Saya banyak mendapat cibiran orang, menurut mereka tidak akan mendatangkan banyak uang," kenang Hendry. Ia bersikukuh menjalankan bisnis cuci mobilnya.

Modalnya nekat sampai Rp.250 juta, uang dari hutang semua, dan dia gunakan membeli peralatan dan bahan cuci. Dia nekat menyewa tempat gedung di kawasan Setiabudi, Bandung. Hasilnya? Awal- awal membuka, tentu saja tidak ada seorang pun datang mencucikan mobilnya.

Hendry bukan tanpa kreatifitas mengerjakan semua. Contoh brand building coba dijalankan melalui promosi mencolok. Dia pernah mencuci pesawat didepan umum. Pernah Hendry mencuci gedung mal seluas 7.500 meter persegi. Dia berhasil mencuci 370 mobil bersamaan dalam tiga jam.

Itu semua demi menarik perhatian semua masyarakat. Cara membangun brand -nya memang sangat "wah" didepan umum. Alhasil dia mampu menarik perhatian Museum Rekor Indonesia. Auto Bridal langsung masuk daftar rekor mereka.

Semua membuat perhatian masyarakat tertuju kepada mereka. Auto Bridal memang masih berupa bisnis biasa. Mereka cuma pakai air dan sabun, diguyurkan ke permukaan lantas dipoles. Usahanya masih memakai konsep sama dengan pesaing.

Hendry mengatakan butuh inovasi atau akan stagnan. Ini dibuktikan lewat kerja kerasnya mencari rahasia sabun cuci. Dia menciptakan formula sabun sendiri. Kemudian menciptakan tempat cuci yang bersih dan nyaman didatangi.

Persepsi mencuci kendaraan di tempat kotor, berkubang oli, dan berlokasi di pinggiran benar- benar dihapus. Dia menyulap usaha ecek- ecek menjadi bak salon kecantikan.

Terbukti mampu mendirikan 50 gerai besar diseluruh Indonesia. Hendry kemudian membuka gerai kecil, sejumlah 250 gerai berdiri di berbagai SPBU Petronas se- Malaysia. Hasilnya Henry mampu mengantongi omzet sampai Rp.750 miliar perbulan.

Dia mampu mengemas semua secara elegan. Inovasi lain berupa layanan pijat, lulur, dan bahkan spa untuk mobil. "Seperti kulit manusia, cat mobil juga memiliki pori- pori. Jadi, ketika karyawan kami memijat bodi mobil, bahan pemoles akan meresap lebih dalam," jelasnya.

Hendry menciptakan Medical Treatment dan Car Spa Massage: Tujuannya menghapus cat lama dan biar memunculkan warna segar dari cat mobil. Dia, di tahun 2007, meluncurkan ice cream wash yang memiliki pilihan rasa, mulai dari green tea ice cream dan durian ice cream car wash.

Ice cream ini mengandung vitawax dan megawax. Henry mampu menarik gagasan unik tersebut ke benak pecinta otomotif. Henry juga memastikan tiap gerai memberikan layanan, termasuk memberi kudapan, demo layanan dan menu book untuk memahami layanan gerai mereka.

Bahkan mereka memberikan layanan pijat gratis. Rahasia lain, ialah adanya layanan costumer service mumpuni sesuai kebutuhan. Karena pelanggan mayoritas pria, maka diberilah costumer service yang cantik- cantik, dan mampu memberikan informasi seksama soal palayanan.

Kendati menarget pasar kelas menengah atas, Auto Bridal secara keseluruhan memberikan layanan terjangkau. Dimana mereka cuma mematok harga standar Rp.25.000. Bila mau lengkap, tinggal bayar Rp.75.000, dimana Henry mengatakan setidaknya 30 buah mobil datang setiap hari.

Dia tidak memungkiri bahwa untung besar. Total modal semobil cuma Rp.5000 tetapi dijual sampai puluhan ribu. Hendry mampu mengantongi omzet Rp.30 juta perbulan- pergerai. Ini berkat menjadi sosok pelopor usaha cuci mobil.

Prospeknya masih terbuka lebar karena jumlah kendaraan terus bertambah. Dia juga membuka usaha cuci motor bernama Motor Bridal. Dia juga membuka usaha Auto Express, menarget pasar cuci cepat yang datang ke SPBU, halaman mall, dan apartemen.

Karir Pengacara 


Ternyata dia bukan cuma pengusaha melainkan juga pengacara. Nama Henry Indraguna sudah sering kita lihat. Dia salah satunya menjadi pengacara buat Roy Kyoshi. Nah, ternyata baru sadar kan, inilah biografi Henry Indraguna dalam bidang pengacara.

Dia dikenal pekerja keras. Sejak muda, dia memang senang berbisnis atau wirausaha. Hasratnya akan kewirausahaan memang tinggi. Dia walau bangkrut beberapa kali tetap bangkit. Seperti dikisahkan di atas, dia pernah berjualan ayam goreng, tetapi juga jualan mainan anak dan barang elektronik China.

Dia pernah berjualan kartu telephon internasional. Pernah menjadi agen ditributor Telkomsel. Satu ini lumayan menghasilkan bagi sosok mahasiswa. Namun, walau hasil keuntungan banyak, itu semua dihabiskan Henry buat berfoya- foya.

Henry memang pekerja keras dari nol, tetapi kesuksesan malah membutakannya. "Kondisi saat itu membuat saya terkenal. Saya hedonis. Akibatnya, ketika saya menikahi istri saya malah dikasih kado utang ratusan juta rupiah," kenangnya.

Ya Henry ternyata senang memakai uang buat keperluan tidak perlu. Alhasil ketika memulai usaha Auto Bridal tanpa modal. Ia total memimjam semua hasil modal. Kebiasaan berfoya- foyanya sudah berhentik ketika menikahi istrinya, Fangky Christiana Hartati pada 2003.

Bukan cuma pengusaha tetapi pengacara ternama. Henry dikenal memang mendampingi artis- artis papan atas. Dia membuka firma hukum Henry Indraguna & Patners, yang bersertifikat legal Certificat Legal Auditor Association (CLA), dan serifikat kempetensi Certificated Indonesian Lawyer.

Walau dia dikenal menjadi pengacara papan atas. Dia juga melalui firma hukumnya, membantu orang biasa yang membutuhkan. Aneka kasus ditangani seperti masalah konstruksi, keuangan, dan masalah asuransi.

Dia berprinsip bahwa masa lalu merupakan pembelajaran. Maka Henry tidak akan membedakan si kaya atau si miskin. Semua dilayani dalam firma hukumnya selama menjalankan karir.

Biografi Susi Pudjiastuti Pengusaha Pendiri Susi Air

Biografi Pengusaha Susi Pudjiastuti


biografi susi pudjiastuti

Biografi Susi Pudjiastuti, pengusaha pendiri dan President Direktur PT. ASI Pudjiastuti, perusahaan yang bergerak di bidang perikanan dan PT. ASI Pudjiastuti Aviation yang jadi operator penerbangan Susi Air.

Bukan hanya itu, bahasa Inggris nya sangat fasih ketika berbincang dengan mereka pilot- pilot bule dari Susi Air. Susi -penggilan akrabnya- juga menggunakan bahasa Sunda dan sesekali bahasa Jawa kepada pembantu- pembantunya.

Wanita kelahiran Pangandaran, 15 Januari 1965 tersebut, telah memiliki 50 unit pesawat berbagai jenis. Di antaranya jenis Grand Caravan 208B, Piaggio Avanti II, Pilatus Poter, serta Diamond DA 42. Kebanyakan pesawat itu dioperasikan di luar Jawa, seperti Papua dan Kalimantan.

Karir Susi Pudjiastuti


"Ada disewa. Namun, ada yang dioperasikan sendiri oleh Susi Air. Biasanya dipakai di daerah-daerah perbatasan oleh pemda atau swasta," jelas wanita yang betis kanannya ditato gambar burung phoenix dengan ekor menjuntai itu.

Pertama kali ingin pinjam ke bank dianggap gila. Akhirnya ia menjual cincin dan perhiasan lain untuk modal bakul ikan. Keputusannya untuk keluar dari sekolah di umur 17 tahun, sangat disesalkan oleh kedua orang tuanya.

Namun, berkat keuletan dan kerja kerasnya, kini Susi sudah punya 50 pesawat terbang dan pabrik pengolahan ikan yang berkualitas melayani kebutuhan ekspor.

Tidak tamat sekolah bukan berarti berhenti berbuat. Susi memang punya bakat bisnis bahkan sejak masih belia. Pendirian kuat dan kemauannya yang keras mulai terlihat sangat jelas ketika memasuki umur 17 tahun. Dia memutuskan keluar dari sekolah ketika masih kelas II SMA.

Lalu memutuskan untuk keluar dari rumah, bukan karena menyesal, Susi tak ingin numpang hidup dan ingin mencoba hidup mandiri. Tapi, kenyataan itu tak semudah yang dibayangkan.

"Cuma bawa ijasah SMP, kalau ngelamar jadi apa saya. Saya enggak mau yang biasa- biasa saja," ujarnya. Kerja keras itu pun dilakoni wanita Susi saat itu. Mulai dari bejualan baju, bed cover, hingga yang manarik ia menjual hasil bumi seperti cengkeh.

Setiap hari, Susi tak berhenti bekeliling kota Pangandaran berbekal sepeda motor untuk memasarkan barang dagangannya. Hingga suatu saat, ia menyadari satu hal tentang kota itu, potensi terbesarnya ada pada bidang perikanan.

"Mulailah saya pengen jualan ikan karena setiap hari lihat ratusan nelayan," tuturnya. Di tahun 1983, berbekal Rp.750 ribu hasil penjualan perhiasan berupa gelang, kalung serta cincin miliknya, Susi mengikuti jejak para wanita Pangandaran menjadi bakul ikan.

Tiap pagi di jam- jam tertentu, dia nimbrung bareng yang lain untuk berkurumun di TPI (tempat pelelangan ikan).

"Pada hari pertama, saya hanya dapat 1 kilogram ikan, dibeli sebuah resto kecil kenalan saya," kengangnya. Tak cukup hanya di Pangandaran, Susi ingin mengembangan bisnisnya hingga kota besar seperti Jakarta.

Dari sekedar menyewa, ia pun sukses membeli truk dengan sistem pendingin es batu dan membawa ikan- ikan segarnya ke Jakarta.

"Tiap hari, pukul tiga sore, saya berangkat dari Pangandaran. Sampai di Jakarta tengah malam, lalu balik lagi ke Pangandaran," ucapnya mengenang pekerjaan rutinnya yang berat pada masa lalu.

Bicara bisnis beda jika berbicara soal asmaranya. Susi mengaku gagal dalam hal asmara. Wanita pengagum tokoh Semar dalam pewayangan mengaku telah tiga kali menikah. Tapi, biduk yang telah dia arungi bersama ketiga suaminya tak sebiru laut Pangandaran. Semua karam.

Dari suaminya yang terakhirlah, Christian von Strombeck, sang Wonder Woman ini mendapat inspirasi untuk mengembangkan bisnis penerbangan.

Bisnis Susi Air


"Dia seorang aviation engineer," lanjutnya. Christian merupakan seorang ekspatriat yang pernah bekerja di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nusantara yang sekarang bernama PT DI).

Awal perkenalannya dengan lelaki asal Prancis itu, terjadi saat Christian sering sekali bertandang ke Restoran Hilmans milik Susi di Pantai Pangandaran. Berawal dari perkenalan singkat, Christian akhirnya melamar Susi.

Bersama Christian lah Susi berangan- angan memiliki sebuah pesawat dengan tujuan utama mengangkut hasil perikanan ke Jakarta. Satu- satunya jalan, lanjut Susi, ialah mendirikan landasan- landasan pesawat di desa- desa nelayan tersebut.

"Jadi, tangkap ikan hari ini, sorenya sudah bisa dibawa ke Jakarta. Kan cuma sejam," tegas ibu tiga anak dan satu cucu tersebut.

Berbeda dengan menggunakan jalur darat tentunya dimana bisa memakan waktu sembilan jam perjalanan. Jadi bisnis penerbangan ini bukan hanya berbicara tentang mengangkut manusia.

Bayangkan waktu sembilan jam dengan satu jam, sembilan jam pastilah membuat ikan- ikan ini mati. Mau pake es? Beda nilainya, kita tau sendiri ikan dinilai dari tingkat kesegarannya. Jika mati, ujar Susi, harga ikan setiapnya bisa jadi anjlok setengahnya.

"Kami mulai masukin business plan ke perbankan pada 2000, tapi nggak laku. Diketawain sama orang bank dan dianggap gila." terang Susi.

"Mau beli pesawat USD 2 juta, bagaimana ikan sama udang bisa bayar?", ujar Susi melanjutkan. Barulah pada 2004, Bank Mandiri percaya dan memberi pinjaman sebesar USD 4,7 juta (sekitar Rp 47 miliar) untuk membangun landasan, serta membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan.

Namun, baru sebulan dipakai, terjadi bencana tsunami di Aceh."Tanggal 27 kami berangkatkan satu pesawat untuk bantu. Itu jadi pesawat pertama yang mendarat di Meulaboh. Tanggal 28 kami masuk satu lagi. Kami bawa beras, mi instan, air dan tenda-tenda," ungkapnya.

Seperti cerita kebanyakan menjadi pengusaha tidak melulu soal uang. Awalnya, Susi berniat membantu distribusi bahan pokok secara gratis selama dua minggu saja. Tapi, ketika hendak balik, banyak lembaga non-pemerintah yang memintanya tetap berpartisipasi dalam recovery di Aceh.

"Mereka mau bayar sewa pesawat kami. Satu setengah tahun kami kerja di sana. Dari situ, Susi Air bisa beli satu pesawat lagi," jelasnya.

Ternyata dari bantuan nama bisnisnya semakin terdengar. Banyak permintaan menyewa pesawat jadilah ini bisnis sewa menyewa jasa penerbangan.  Utang dari Bank Mandiri sekitar Rp 47 miliar sekarang tinggal 20 persennya.

"Setahun lagi selesai. Tinggal tiga kali cicilan lagi. Dari BRI, sebagian baru mulai cicil. Kalau ditotal, semua (pinjaman dari perbankan) lebih dari Rp 2 triliun. Return of investment (balik modal) kalau di penerbangan bisa 10-15 tahun karena mahal," katanya.

Susi tak hanya mengepakan sayap di bisnis penerbangan atau sekedar menjaring ikan di laut. Sekarang pun, ia telah merambah bisnis perkebunan. Meski begitu, ia mengaku ada banyak rintangan yang haru dilalui.

"Perikanan kita sempat hampir rugi karena tsunami di Pagandaran pada 2005. Kami sempat dua tahun nggak ada kerja perikanan," tuturnya.

Untuk rute penerbangan Jakarta- Pangandaran, Bandung- Pangandaran dan Jakarta- Cilacap, Susi mengaku masih merugi. Sebab terkadang hanya ada 3-4 penumpang saja. Dengan harga tiket senilai Rp.500 ribu, itu tak cukup untuk membeli bahan bakar saja.

"Sebulan rute Jawa bisa rugi Rp 300 juta sampai Rp 400 juta. Tapi, kan tertutupi dari yang luar Jawa. Lagian, itu juga berguna untuk mengangkut perikanan kami," ujarnya dalam biografi Susi Pudjiastuti.

Susi harus mengutamakan para pembeli ikannya, karena mereka sensitif soal kesegaran ikan. Sekali angkut dalam satu pesawat, dia bisa memasukkan 1,1 ton ikan atau lobster segar. Pembelinya dari Hongkong dan Jepang setiap hari menunggu di Jakarta.

"Bisnis ikan serta lobster tetap jalan dan bisnis penerbangan akan terus kami kembangkan. Tahun depan kami harap sudah bisa memiliki 60 pesawat," katanya lagi, kali ini penuh optimisme sang pengusaha.

Website perusahaan: fly.susiair.com

Pengusaha Kue Kering dan Basah

Biografi Nazliana Lubis


bisnis kue kering basah

Berkah tak terduga datang selama berusaha. Pengusaha kue kering berikut melihat prospek dalam kuliner. Bisnis kuliner memang tidak pernah ada matinya. Dia lah Nazliana Lubis, wanita asli Medan, Sumatra Utara.

Berkat kerja keras juga ditambah ketekunan jadilah bisnisnya tumbuh. Dia berhasil mengembangkan usaha kecilnya, dari sebuah toko kue kecil menjadi bisnis ratusan juta rupiah. Salah satu andalan dari tokonya yang selalu habis, yaitu cake pisang.

Nazwa kemudian memberinya nama Blondi Pisang Barangan. Toko kue ini milik Nazalina atau kerap dipanggil Nazwa yang di Jl. Kapten Muchtar Basri No. 110, Medan itu cukup kondang di Sumatra Utara.

Diphk Kerja


Beberapa hotel berbintang di Medan sudah menjadi pelanggan tetap, seperti Hotel JW Marriot, Hotel Ina Dharmadeli, Hotel Tiara, Hotel Danau Toba, dan Madani Hotel. Hotel- hotel tersebut memesan sedikitnya 500 potong sekali acara saja.

"Padahal, saban hari, satu hotel bisa menyelenggarakan sampai tiga kali event," jelasnya. 

Bukan hanya hotel, Nazwa juga rutin mendapat pesanan dari beberapa bank, perusahaan swasta, sekolah, dan instansi pemerintah di Sumatra Utara. Ia sekarang bisa menghabiskan  3.000 telur dan 8 karung tepung atau sekitar 200 kilogram (kg) tepung per hari.

Selain kue ternyata tokonya juga melayani pemesanan nasi boks. Perusahaan atau pemda biasanya memesan 1.000 hingga 1.800 nasi boks.

Sebelum sibuk berjualan kue wanita berkerudung lulusan D3 Pariwisata Universitas Sumatra Utara tahun 1989 ini, sempat bekerja di bagian tiketing di sebuah biro perjalanan selama tiga tahun. Tahun 1991, dia lalu pindah ke perusahaan maskapai penerbangan Simpati.

Jabatan terakhirnya lumayan tinggi, menjadi seorang supervisor. "Kerja di perusahaan penerbangan itu memiliki gengsi tersendiri. Saya punya kesempatan untuk jalan-jalan ke berbagai daerah," kata perempuan kelahiran Medan, 23 Januari 1965 ini.

Sayangnya kebanggan ini hilang karena industri penerbangan tempatnya bekerja tak lagi hidup. Nazwa harus menerima kenyataan pemberhentian hubungan kerja (PHK) karena Simpati tak lagi beroperasi sejak tahun 1997.

"Saya sempat stres dan labil, malu sama teman-teman dan lingkungan," ujarnya. Selama enam bulan itu, Nazwa depresi. Akhirnya, dia menemukan semangat setelah menyadari lingkungan rumahnya yang berdekatan dengan kampus Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara

"Saya perhatikan, kok di kawasan kampus tidak ada yang jual jajanan berat semacam kue. Saya pun terpikir untuk buka usaha kue," kenangnya. Nazwa pun mulai mengulak-alik aneka buku resep masakan di depannya untuk mencari dan belajar mengolah aneka kue. Maklum, dia tidak punya keahlian memasak sehingga hanya mengandalkan buku resep.

"Saya pilih jualan donat sebab proses pembuatan lebih mudah ketimbang membuat kue yang lain dan di sekeliling kampus belum ada yang jualan donat," ujar istri dari Fadlin ini. Akhirnya, di Juli 1997, Nazwa berani nekat jualan donat bermodal kurang dari Rp 100.000.

Kala itu, dia menjual sepotong donat seharga Rp 350. "Omzetnya baru Rp 70.000 per hari. Rasa dan bentuk donatnya pun belum konsisten karena saya masih belajar membuatnya," katanya sambil tertawa. Ia pun semakin mengasah kemampuannya mengolah berbagai produk kue.

Dia setia mengikuti aneka kursus pembuatan kue di Medan hingga Bandung. Karena usaha kue itu belum menghasilkan pendapatan besar, Nazwa menerima tawaran mengajar mahasiswa D3 dan D1 Pariwisata di salah satu perguruan tinggi di Medan.

Dia mengajar mata kuliah pelayanan di perusahaan penerbangan. Setengah tahun berjalan barulah Toko Nazwa mengalami peningkatan. Meski begitu jalan itu tak selamanya lancar karena cenderung merugi ketika krisis moneter 1998.

"Saya tidak menghentikan usaha ini meski rugi. Ini demi eksistensi usaha," katanya.

Nazwa mulai berani menawarkan kue- kuenya ke toko- toko kue lain. Dari sini, omzet dan produksinya jadi meningkat. Tahun 2000, ia berhenti mengajar, fokusnya untuk mengelola toko kue miliknya dan mulai dari sana mengajukan proposal ke berbagai hotel.

Pada tahun 2003, Nazwa berhasil mendapatkan pesanan dari sebuah hotel. "Meskipun pesanan hanya bika ambon setengah loyang, 20 potong tahu isi, dan 20 potong kue lumpur, saya menerima pesanan itu," ujarnya.

Ia tetap gigih memasok kuenya ke hotel yang memesan meskipun hanya dalam jumlah kecil. Menurutnya, yang terpenting adalah kepercayaan dari konsumennya, meskipun dia harus menerima bayaran dua bulan sekali dari hotel.

Suatu saat, hotel JW Marriot Medan memiliki acara seminar untuk Ikatan Dokter Indonesia selama seminggu dan mengorder aneka snack ke Nazwa. Ia harus memasok 22 item jajanan pasar dengan jumlah 2.600 pieces per item.

"Dari situ, pesanan besar dari hotel mulai berdatangan. Nazwa Aneka Kue mulai dikenal dan dipercaya konsumen," jelas pengusaha kue kering ini. Dia pun mulai mendapat order katering untuk pesta yang nilainya Rp 40 juta hingga Rp 50 juta per klien.

Jejak Pengusaha Otomotif Nasional Soebronto Laras

Biografi Pengusaha Soebronto Laras 


biografi soebronto laras
 
Jejak pengusaha otomotif nasional pencetus Suzuki Indonesia. Biografi Soebronto Laras yang dikenal orang menyukai dunia ini. Dia lulusan SD sampai SLA di SD Perguruan Cikini, Jakarta, dari 1958- 1961. Ia lanjut SMA Harapan Kita, Jakarta, pada 1964.

Dia lanjut pendidikan rekayasa mesin di Pasiley Collage for Technology, Scotlandia, 1969. Pendidikan berlanjut jurusan manajemen bisnis ke Hendon Collage for Business Management, London, United Kingdom, pada 1972.

Di London, dia berkenalan dengan Roesmin Noerjadin (Menteri Perhubungan ), dan Benny Moerdani (Pangab). Yonto, begitu sapaan akrabnya, pernah menjabat staf lokal atase Pertahanan KBRI di London. Yang mana perkenalan tersebut membuka koneksi ke beberapa orang.

Yonto berkenalan dengan sosok pengusaha terkenal, Atang Latif. Pertemuan tersebut terjadi ketika kembali ke Inggris pada 1972. Atang Latif sendiri dikenal sebagai pengusaha dan pemilik beberapa kasino.

Menjadi Pengusaha


Anak ke dua dari empat bersaudara, yang diberi kesempatan emas karir bergengsi. Dari kedekatan tersebut membawa Yonto dipercaya. Atang Latief memberia pekerjaan, menjadi Direktur PT. First Chemical Industry, usahanya bergerak dibidang formika, alat- alat plastik, dan perakitan kalkulator.

Belum, Yanto masih berkutat di dunia diluar otomotif kesayangannya. Empat tahun kemudian dia jadi Direktur perusahaan perakitan motor mobil bernama Suzuki.

"Saya berani karena didukung penuh Pak Atang Latief," kenangnya.

Jejak pengusaha otomotif bersebut berlanjut masuk perusahaan Liem Sioe Liong. Dimana pada 1981, yang disusul naik jabatan di 1984, dirinya diangkat menjadi Direktur Utama PT. National Motors. Co dan PT. Unicor Prima Motor.

Kedua perusahaan tersebut merupakan perakit mobil Mazda, Hino, dan sepeda motor Binter. Dasar Yonto yang gemar otomotif bukan sekedar karena karir. Disebutkan dalam biografi Soebronto Laras, telah menyukai dunia ini lewat menjadi pembalap remaja.

Dia menjadi pembalap bersama sosok Tinto Soeprapto. Disaat libur, sang Direktur masih sempatkan buat jalan bersama teman motornya. Ia mengendarai Suzuki 1000 cc sampai keluar kota. Kalau ada rakitan kendaraan baru, Yonto tidak segan turun gunung menjajal kendaraan tersebut di jalanan.

Yonto kemudian menikah dengan Herlia Emmi Yani, putri Almarhum Jendral Ahmad Yani, yang kemudian dikaruniai dua anak. Dia sempatkan waktu buat jogging, tenis, renang, rally, dan bulu tangkis.

Visi Subronto Laras ialah mobil berkualitas terjangkau masyarakat luas. Bagi masyarakat Sulawesi sudah akrab bersama Suzuki. Bermula dari Medan, Sulawesi Utara, dimana mereka menjual mobil pickup untuk kebutuhan panen pada 1978.

Instingnya menjual Suzuki ST 120 terbukti mampu merajai mobil masyarakat. Bertahap, nama brand Suzuki dikenal keluar, tidak cuma di wilayah Sulawesi namun sampai ke daerah lain. Bahkan mampu masuk pasaran Pulau Jawa yang sesak ini.

Taukah kamu, pada 1970 -an, nama Suzuki cuma dikenal sebagai produsen sepeda motor. Bahkan namanya mulai tenggelam karena brand lain. Namun berkat Yonto, masa depan Suzuki bangkit lewat penjualan mobil hingga penjualan moto kembali sejak era 70 -an.

Tak ayal, dia "dihadiahi" saham 90% dari perusahaan Suzuki Motor Corp, Jepang. Dengan nilai saham segitu otomatis dia lebih berkreasi. Jiwa nasionalnya terpanggil sampai merencanakan mobil nasional bersama Suzuki APV.

Dia melalui PT. Indomobil Suzuki Internasional menaikan nama Suzuki SX-4 versi CKD. Akhir tahun 70- an, nama Suzuki disebut menjadi pemain besar dunia otomotif Indonesia. Pengusaha yang membesarkan nama Suzuki telah menguasai pangsa pasar otomotif.

Namanya dikenal pula sebagai seorang nasionalis sejati. Liat saja, dari bajunya minimal logo merah putih berupa pin. Yonto sendiri tidak terlepas dari kontroversi. Termasuk penggunaan mesin 15000 cc pada kendaraan APV nya.

Dikisahkan bahwa angka tersebut merupakan batasan minumun 20% pajak. Penggunaan mesin 16000 hanya akan menambah harga berpuluh juta. Putra sosok pengusaha juga, Almarhum R. Moerdowo, eksportir mobil Citroen, Tempo, dan Combi di tahun 1949.

Baru- baru ini dia telah mengakuisisi KIA mobil. Produsen asal Korea tersebut diambil alih bahkan sampai 100%. Maka usaha apapun dijalankan sekarang melalui Indomobil, dan membentuk usaha patungan PT. Sarimitra Kusuma Ekaja atau PT. Kreta Indo Artha.

Taukah kamu bahwa perusahaan miliknya hampir bangkrut. Berkat usaha dan kerja kerasnya mampu bangkit beromzet Rp.150 miliar dan aset Rp.90 miliar.

Jualan Keripik Sukun Pengusaha Hasnah

Profil Pengusaha Hasnah 


jualan keripik sukun


Pengusaha sukses tersebut bernama Hasnah. Dia memiliki usaha sederhana sekali. Hasnah adalah pembuat keripik sukun asal Manggar, Belitung, yang telah merintis usahanya sejak 1996. Bukan produk revolusioner namun masih menjadi favorit berbagai kalangan.

Gurih, renyah dan rasa gurihnya tak pernah membosankan. Alasan inilah yang membuat Hasnah untuk memilih bisa sederhana ini.

Hasnah bisa mencapai nilai omzet hingga Rp.50 juta perbulan. Menurutnya meski pasokannya tak banyak, tapi jumlah sukun selalu stabil. Ia juga berinovasi sedikit dengan keripik jenis biasa, keripik sukun jenis lebar, dan keripik jenis stik.

Dalam pembuatannya, adapun variasi terletak pada umur buahnya, jadi untuk keripik stik dan biasa menggunakan buah yang tua. Untuk yang jenis lebar, Hasnah menggunakan buah sukun yang masih muda.

"Bagian dalam buahnya dijadikan bahan pembuatan stik sedangkan bagian luar dijadikan bahan pembuatan kripik jenis biasa", jelasnya. Walaupun bisnis sederhana kalau ditekuni menghasilkan angka menakjubkan.
 
Saat ini Hasnah hanya dapat membuat 500 bungkus per- harinya. Produk yang diberinya nama Nuansa Baru dipatok dengan harga Rp.15.000- Rp.20.000 per- bungkus. Sayangnya ia hanya sanggu memasarkan produknya di sekitar daerah Bangka dan Belitung saja.

Karena pasokan buahnya tergantung dengan musim dan tidak rutin. Ia sudah memasarkan produknya di sekitar daerah itu- itu saja. Jika saja masalah bahan utama bisa diatasi Hasnah, yang sangat berniat mengembangkan usahanya.

Apalagi produk olahan buah sukun ini punya daya tahan tinggi yaitu tiga bulan tanpa bahan pengawet. Begitulah hidup Hasnah dan bisnisnya bila saja ada usaha pasti akan ada jalan. Usaha cemilan biasa yang belum diberdayakan betul tapi menghasilkan Rp.50 juta.

Jika kamu lebih kreatif kenapa tidak membuatnya? Membuat berbagai varian, namun pastikan jumlah bahan utama akan selalu ada.

Hasnah tidak akan menyangka rejekinya mengalir dari buah sukun. Yang dikenal memiliki buah tebal mirip daging. Tidak memiliki rasa manis layaknya buah- buahan. Sukun lebih terasa mirip umbi- umbian. Inilah cikal mengapa itu lebih banyak dijadikan bahan keripik.

Jualan keripik sukun memiliki tantangan varian produk. Dia pun mengakali melalui aneka bentuk olahan. Hasnah membuat keripik berbentuk lebar, keripik biasa, dan bentuk stik.

Bagian luar kemudian dijadikan stik jadi semua dimanfaatkan. Keripik sukun rasanya gurih dan unik dibanding keripik singkong. Cocok dimakan sembari menyeruput kopi dan menonton televisi. Dia sendiri sudah membuat sukun sejak tahun 1996.

Buah sukun mungkin tidak banyak dibudidayakan. Namun jumlahnya selalu stabil dibandingkan dari umbi- umbian. Keripik biasa menggunakan bahan buah muda. Yang tua kemudian dijadikan keripik lebar. Daging bagian dalam kemudian dijadikan bahan membuat stik.

Sehari Hasnah menghasilkan 500 bungkus olahan buah sukun ini. Kemudian dia membubuhi nama produknya Nuansa Baru. Perbungkur keripik sukun dijual antara Rp.15.000 sampai Rp.20.000. Dia mampu mendulang omzet sampai Rp.50 juta.

Namun, dia hanya membatasi penjualan di kawasan Belitung dan Bangka. Pasalnya dia belum bisa mendapatkan pasokan bahan stabil. Pasokan suku sangat dipengaruhi musim, dimana ketika musim hujan akan mendapatkan jumlah pasokan lebih banyak dan bagus.

Jualan Ikan Asin Bikin Kaya Damrah

Profil Pengusaha Damrah 


jual ikan asin

Tak disangka usaha begini bisa bikin kaya. Penghasilan jualan ikan asin sampai melebihi gaji UMR. Ia adalah Hajjah Damrah, sosok ibu- ibu yang mampu naik haji berkat berjualan ikan asin. Memang nampak mustahil namun begini apa adanya.

Menelusuri kisah sukses pengusaha memang tak bakal habis. Hal tampak mustahil mampu dicapai berkat kerja keras. H. Damrah membuktikan bahwa ikan asin menjanjikan. Olahan ikannya memang digemari dan telah dikenal.

Tidak semua orang tau cara membuat ikan asin. Inilah kuncinya menjadikan Damrah pemain besar dalam bisnis. Pengusaha ikan asin yang merupakan warga asli Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara. Dia sudah sepuluh tahun bekerja begini melanjutkan usaha keluarga.

Orang tuanya berjualan ikan asin kemudian diturunkan. Wanita 46 tahun yang baru 10 tahun mulai menjalankan usaha. Kedua orang tuanya telah merintis usaha semenjak tahun 1975.

"Orang tua saya mulai usaha dari tahun 1975 -an juga sudah membuat ikan asin. Ya saya mah tinggal ngelanjutin aja," ujarnya.

Tidak memiliki bekal pendidikan alias tidak bersekolah. Damrah lebih memilih bekerja sedari masih kecil. Ibu rumah tangga yang memiliki empat orang anak. Membagi waktu antara mengurus rumah dan usaha keluarga.

Terbukti ia mampu menghasilkan kesuksesan jualan ikan asin. Bahkan berkat ini, Damrah berangkat ke Baitullah memakai dana pribadi. Dia juga sudah berangkat umroh beberapa kali. Meskipun dia tidak sekolah, bukan berarti ia membiarkan anak- anaknya ikutan tidak bersekolah.

Ia mampu menyekolahkan empat anaknya sampai jenjang SMA lanjut. "Kalau saya mah enggak sekolah. TK aja enggak. Tetapi Alhamdulillah, anak empat lulus sekolah semua. Ya sampai lulus SMA dan SMK," celetuknya.

Berkat kerja keras bisnis ikan asing digarap serius. "Saya naik Haji dua kali. Umrohnya juga sudah dua kali. Ya dari hasil ini (ikan asin)," ujarnya. Meskipun terbilang sukses, ada masalah utama yang selalu menghadang yakni tangkapan nelayan.

Ketika tangkapan nelayan menurun tentu produksi ikan asing mengikuti. Bila banjir (banyak ikan) maka sampai 10 ton didapat. Keuntungan didapat berapa ketika jualan ikan asin. H. Damrah sebutkan paling sedikit 5 juta untung bersih.

Bila banyak, Damrah hasilkan keuntungan sampai Rp.20 juta sungguh menjanjikan. Kemampuan turun menurun menjadi rahasia kesuksesan Hajjah Damrah. Dia menempa kemampuan membuat ikan asin langsung. Praktik langsung ditengarai mengapa dirinya mampu sesukses sekarang.

Usaha keluarga yang digeluti sampai turun- temurun. Proses dimulai ketika nelayan turun membawa tangkapan. Damrah langsung membeli dari nelayan kemudian diproses. "Dibeli ikan mentahnya terus ikannya kita bawa ke sini (untuk dikelola)," tuturnya.

Ikan ditampung dalam wadah besar buat direndam air garam. Dibutuhkan waktu sehari semalam biar garam meresap. Daging ikan akan menyerap asin garam dalam semalam. Kemudian, produksi lanjut pembelekan, dikasih garam kembali (garam pasir), abis itu dicuci dan ikan dijemur kembali dua hari.

Damrah begitu selesai langsung dipasarkan. Ia tidak sekedar mengasini ikan. Jenis produknya juga banyak dari ikan tongkol, mayung, remang, dan lain- lain. Tiga sampai empat hari pemrosesan lantas dijual.

Sekali panen membutuhkan empat hari pemrosesan. Hasilnya 15 sampai 20 kardus, dimana sekardus berisi rata- rata 60 kilogram. Perkilogram dijual dengan aneka harga sesuai jenis, mulai dari tongkol seharga Rp.14.000, ikan remang seharga Rp.18.000, dan seterusnya.

Pelanggan tidak cuma datang dari Jakarta, tetapi sampai luar kota seperti Bogor, Parung, Bekasi, dan Bekasi.

Usaha Cemilan Mekarsari Ibu Rumah Tangga

Profil Pengusaha Ida Widyastuti


usaha cemilan mekarsari
 
Ibu rumah tangga ingin punya bisnis sampingan. Coba usaha camilan seperti kisah berikut ini. Usaha cemilan Mekarsari bermula berjualan biasa. Berkat ketekunan ditambah kemampuan beradaptasi, dia mampu melewati masa sulit berjualan opak dan keripik.

Ida Widyastuti berusia 31 tahun mengalami kebosanan hidup. Pasalnya, semenjak menikah, dia cuma ibu rumah tangga biasa dan tinggal di rumah. Kebetulan Ida memiliki kemampuan memasak yang mumpuni. Dia lalu membuat opak dan keripik dengan camilan lain.

Dari produksi sedikit sampai hasilkan ratusan aneka macam camilan. Maka berdirilah Roemah Snack Mekarsari, Sidoarjo, yang punya lebih dari 100 macam camilan. Dia selain memiliki produk utama juga ikut membantu usaha kecil menengah.

Bisnis Sampingan


Dia bantu pengemasan dan promosinya. Produk utama Roemah Snack adalah keripik pisang. Yang sudah laku terjual keseluruh penjuru Indonesia. "Saya bosan, karena sudah terbiasa bekerja sejak kecil," ujarnya, menjelaskan alasan mendirikan usaha Pisang Mekarsari

Usaha cemilan ternyata memiliki penghasilan mengejutkan. Ida awalnya membuat emping melinjo sebagai camilan. Kemudian dia membuat keripik pisang dan ternyata digandrungi. Bermodal Rp.600 ribu sekarang menggurita sampai keseluruh Indonesia.

Produknya sudah masuk ke Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Total 80% jajanan berasal dari usaha cemilan Mekarsari ini. Pengusaha wanita tersebut tidak menjelaskan berapa omzet. Pasalnya banyak hitungan dalam produksi sampai indikator lain.

Perharinya dia mampu memproduksi lima ton pisang, bahkan ketika panen sampai 10 ton pisang. Ibu rumah tangga ini membuktikan semua bisa.

Bermula bisnis sampingan malah mampu menguasai pasar. Ida dulu pernah bekerja menjadi pegawai di perusahaan Jepang. Suaminya, M. Haris Setiawan, berusia 41 tahun yang selalu bekerja pindah- pindah. Jabatan suaminya mapan yakni manajer di sebuah perusahaan otomotif.

Ida rela melepaskan pekerjaan menjadi ibu rumah tangga. Ketika usaha camilan ini dimulai, dirinya tengah menggendong anak pertama mereka. Sehari- hari kegiatannya sibuk mengurusi anak pertama pertama mereka. Dia jenuh karena sampai tiga tahun cuma tinggal di rumah.

Suatu ketika, Ida berkunjung ke rumah saudaranya di Demak, yang ternyata memiliki usaha emping melinjo. "Di sana ia punya usaha rumahan emping melinjo. Tertarik aku pun lantas membuat usaha serupa di rumahku yang ada di bilangan Waru, Sidoardjo," ceritanya kepada Nova.id

Ternyata salah, bayangan mudahnya jualan emping melinjo malah meleset. Setelah disurvei sendiri ternyata harga bahan baku mahal. Beli bahan emping kering ternyata mahal ketika dibeli ke pasar. Ia pun mengakali dengan membeli melalui sumbernya.

Dia membeli emping basah langsung ke Demak. Ida lantas mengeringkan melinjo tersebut sendiri. Di tahun 2001, dijualnya emping buatannya ke Pasar Gedangan, Sidoarjo. Ia berjualan sembari masih menggendong putrinya, Nabil Hilmi Dafa, yang berusia masih enam bulan.

"Aku dijuluki Ida Bakul Emping oleh pedagang toko," kenangnya. Memang sehari -hari kegiatannya berkeliling menjajakan emping. Berangkat dia naik becak, turun kemudian ditawarkan ke toko- toko jajanan.

Ia mengenang, "kalau hari hujan, tak jarang aku akan berbecek ria mendagangkan emping mentah, baik yang manis maupun pedas."

Kualitas rasa enak dan harga terjangkau membawa pertumbuhan. Bahkan hampir seluruh pedagang di pasar Sidoarjo menjadi langganan. "Kalau berangkat aku naik becak, lalu jalan kaki menawarkan ke toko- toko di pasar," jelasnya.

Harga terpaut lumayan, sampai Rp.3 ribu perkg maka laris manislah dagangan Ida dibeli. Dia punya startegi jitu menarik perhatian pelanggan. Kemudian dia membuka usaha lain, seperti berjualan toko sembako namun kurang berkembang sampai berhenti begitu saja.

Suatu hari, sang suami akan ditugaskan kembali ke daerah lain. Namun Ida bersikeras menolak untuk ikut dipindahkan. Dia tidak ingin melepaskan bisnis ini. Tetapi Ida lebih mengutarakan bahwa karena sudah betah. Pasangan sumai tersebut kemudian berdiskusi membahas mengenai nasib mereka.

Mereka sepakat setuju bahwa bisnis melinjo menjanjikan. Karena suami enggan bekerja pisah dengan keluarga. Dia memutuskan ikut membantu Ida berjualan melinjo. Padahal mereka tengah mencoba merencanakan masa depan buah hati.

Sumi setuju menjadi sopir pribadi memakai mobil lama mereka. Berkeliling tanpa lelah, ia menyupiri istrinya memasarkan ke berbagai tempat. Mereka kemudian menyewa sopir buat mengantar keluar daerah. Suami Ida harus rela mengangkut berbal- bal emping ke toko- toko manapun.

Kalau dilihat mereka tengah turun pangkat biasa duduk manis. Mereka layaknya salesman berkeliling menjajakan emping melinjo. Keduanya sepakat kalau gagal, maka keduanya akan bangkit bersama sampai sukses.

Usaha Kawanku


Sebelum memakai nama Mekarsari dipakailah nama usaha Kawanku. Di tahun 2003, Ida menguasai pasaran Malang dan Probolinggo, bahkan permintaan meraja lela sampai Kalimantan. Emping merek Kawanku dikenal murah dan enak.

Alhasil mereka dalam setahun memproduksi lebih dari 500 ton. Entah kenapa timbul perasaan aneh, dia memang merasa senang dan kaget, tetapi sulit mempercayai. Dalam benaknya timbul ketakutan kalau permintaan akan menurun drastis.

Ditambah Ida berpikir apakah melinjo mengandung kolesterol dan asam urat. Kepikiran kalau akan merusak kesehatan pembeli. Tak mau mengambil resiko, karena memang kesadaran akan kesehatan semaki nampak. Ida pun memutuskan mencari produk andalan lain.

Tahun 2004, sudah punya karyawan dan modal bertambah, kemudian suami- istri ini berangkat buat keliling Jakarta dan kota- kota di Jawa Barat. Hasrat mereka menemukan suplier besar untuk diajak kerja sama. Mereka akan membantu mensuplai jajanan khas dari seluruh daerah.

Belum apa- apa, mereka malah ditolak lantaran mereka merupakan pemain lama. Mereka diremehkan sampai kecewa berat. Namun Ida bertekat tidak menyerah sampai terlaksana. Akhirnya, Ida memilih menghubungi produsennya langsung, atau membeli langsung ke sumber.

Selama dua minggu, keduanya rela berkeliling pasar ke pasar di Bandung, Cirebon, Cianjur, Ciamis, Kuningan dan Indramayu. Di Ciamis, mereka langsung ke pasar tradisional terbesar, dan sempat mencicipi aneka camilan sedap.

Begitu mereka menemukan camilan enak, langsung mencari tau sumbernya, dimana mereka dapat bertemu produsennya langsung. Tidak mudah, terkadang mereka tidak menemukan jawaban dari pemilik toko. Terkadang detail merek sampai sumber produknya tidak tertera dalam kemasan.

Alhasil mereka akan berkunjung ke Dinas Kesehatan setempat. Atau pihak terkait manapun, buat mereka langsung mengunjungi dimana sumbernya tersebut. Tidak takut walau menyusuri sampai ke pelosok daerah.

Mereka habiskan masa dua tahun menyusuri produsen camilan seluruh pulau Jawa. Setahun pertama, mereka fokus mencari camilan enak. Berikutnya mereka mencari kesesuaian rasa yang diminati oleh masyarakat.

Ia bahkan mendorong pembuat camilan asal Indonesia Timur. Mendorong mereka berkreasi bahan dan rasa agar diterima pasaran luas. Total sudah 50 UKM berada dalam naungan usahanya sekarang ini. Usaha Roemah Snack berjalan sampai ikut memodali pengembangan produk.

Juragan Camilan


Mereka dimodali biar mampu memproduksi dalam jumlah besar. Ida dan suami bahkan sudah tidak mempedulikan tabungan habis. Berapapun camilan dibuat, maka ia akan beli buat diputar dipasarkan ke seluruh wilayah.

Keduanya menjadi penolong UKM biar produk tidak mengendap. Bila kualitas ternyata tidak sesuai permintaan ditributor Ida. Maka dirinya ikut bertanggung jawab menalangi. Uang terus digelontorkan demi membuat UKM berjaya dan produktif.

Satu UKM membutuhkan setidaknya modal Rp.50 juta sekali produksi. Dimana mereka hasilkan 700 bal dimana sebal beratnya 4- 5 kg. Pemberian modal diberikan berencana bertahap. Pertama Rp.20 juta buat bahan baku, berikutnya Rp.20 juta selepas produksi, dan disusul Rp.10 juta modal akhir.

Ida bahkan menyediakan sebuah gudang di kawasan Sidoarjo. Soal merek, mereka membuat sesuatu unik, mudah diingat seperti nama Kawanku. Namun suatu ketika, keduanya berkunjung ke rumah nenek. Ia mengatakan nama Kawanku kurang memiliki hoki atau mujur.

Nenek menyarankan nama Mekarsari, yang memiliki filosofi selalu tumbuh atau akan mekar walau ada masalah. Logo bunga pun dirancang menyiratkan makna khusus. Ada 9 kelopak bunga yang menyimbolkan angka sempurna atau tertinggi.

Kemudian terdapat gambar panah ke atas menunjukan kenaikan menanjak. Siapa sangka benar, pada 2004, usahanya terus menanjak sampai mempunyai jangkauan ke Bali dan Kalimantan. Masuk ke Pulau Bali, tentu mereka menghadapai masalah dimana sudah terdapat pemain lama bercokol.

Nama Mekarasari masih belum dikenal buat masuk Bali. Usaha cemilan Mekarasari terus berlanjut walau anak baru. Ia pun memiliki strategis khusus melalui pasar pinggiran. Disini Mekarasari masuk ke pasar daerah sekitar tepatnya kawasan Karangasem dan Anyar.

Bertahap mereka mulai memperkenalkan cemilan Mekarsari. Permintaan membludak sampai masuk ke pusatnya, Denpasar. Bahkan distributor lain terkejut melihat pesatnya arus masuk produk. Jumlah produk membludak dikirim melalui armada bus Sidoarjo- Bali.

Saking banyaknya sampai armada tersebut kwalahan. Permintaan barang masuk terlalu tinggi bukan omong kosong. Ahlasil Mekarsari sepakat membangun gudang ditribusi penyimpanan. Bahkan kini separuh nafas Mekarsari datangnya dari Bali.

Di Jakarta, suplier sempat menolak kedatangan produk mereka, kini malah mereka sendiri yang mau didatangkan. Mekarsari pun ikut mendorong UKM berproduksi kecil. Tanpa memaksa memperbesar, Mekarsari lebih ikut membantu memesarkan agar tetap berkualitas.

Produk yang masa kadaluarsa singkat langsung dihabiskan. Tak banyak pengendapan, begitu masuk langsung dilempar didistribusikan langsung ke pelosok daerah. Tak ayal, usaha cemilan Mekarsari mampu menjadi raja di negerinya sendiri.

Ide Waralaba Tela Krezz Bahan Baku Kue Kekinian

Profil Pengusaha Firmansyah Budi Prasetyo


pengusaha tela krezz

Jauh sebelum demam kue kekinian meraja lela. Ide waralab Tela Krezz telah menjadi polopor bahan baku ini. Di zaman dulu bila mendengar cerita kakek dan nenek ketela sudah menjadi penyelamat. Ketela menemani hidup mereka dikala susah, di masa peperangan.

Saat itu jarang sekali ada beras untuk bisa dikonsumsi oleh mereka atau jika ada harganya bisa sangat tinggi. Jadilah ketela yang cukup ditanam batangnya bisa tumbuh subur. Cerita kali ini Firmansyah Budi Prasetyo mampua mengolahnya.

Kali ini ketela atau singkong menjadi penyelamat sang pengusaha muda. Berbekal ketela, ia sukses menghasilkan pundi- pundi uang jutaan rupiah.

Orang bilang singkong tidak bisa bersaing dengan kentang. Popularitas kentang goreng sudah mendunia. Dijual diberbagai waralaba, singkong juga tak kalah ditangan seorang Firman. Bisnisnya bernama Tela Krezz rasanya enak dan khas Indonesia yang dibungkus ala kentang goreng.

Penghasilan jutaan


Kalau saja kala itu dirinya percaya saran ayahnya mungkin hal ini tak akan pernah terjadi. Selepas lulus dari Univeristas Gajah Mada, di Fakultas Hukum, dia pun sudah diwanti- wanti untuk langsung bekerja tetapi tidak.

Kalau saja kala itu dia menuruti saran itu, mungkin kini gajinya hanya jutaan rupiah. Namun berkat intuisi tajam serta semangat kewirausahaan kini dia mengantongi puluhan juta. Bahkan sekarang setelah namanya dimuat diberbagai pemberitaan omzetnya bisa mencapai miliaran rupiah.

Berdagang singkong? Apa Firman berjualan keliling kampung menjual singkong- singkong rebus. Tentu saja bukan begitu bisnisnya. Dengan jeli dan banyak percobaan dia sukses merubah singkong jadi emas.

Ditangan itu singkong diubahn jadi cemilan yang tak sekedar direbus, juga tidak sekedar digoreng. Ia punya strategi khusus untuk memasarkan ketela gorengnya yang bernama Tela Krezz. Sebenarnya bisnis ini bukanlah ide miliknya sepenuhnya.

Ternyata bisnis ini sudah diawali oleh ibunya dengan mengusung nama Homy Tela. Rupanya bisnis ini tak jadi sukses karena promosi yang kurang bagus dan gencar ditambah pengolahan yang masih konvensional. Jadi sebelum toko ini ditutup jadilah ia langsung mengambil alih.

Menyusun strategi pemasaran sendiri yang bisa dianggap lebih mengena dan lebih kreatif. Ia menginginkan inovasi baik di rasa maupun marketing. Singkong sendiri merupakan bahan makan yang lumrah di tempatnya Yogyakarta. Jadi seharusnya bisa lebi mengena.

Singkong adalah makanan yang biasa di Yogyakarta, juga mudah didapat karena mudah ditanam di hampir seluruh wilayah Indonesia. Pengolahannya bisa dilakukan dimanapun oleh siapapun.

Di Yogyakarta sendiri, Firman biasa mendapatkan 300-500 kilogram perhari dan menghasilkan produk 2000 bungkus tergantung pada kualitas singkong yang ia dapat. Ia melakukan uji coba beberapa kali sampai menemukan resep untuk menghasilkan singkong yang lunak seperti kentang.

Produknya sangat simple, singkong dibersihkan lalu dipotong seukuran jari kelingking. Setelah itu tinggal digoreng lalu dibumbui hingga rasanya bervariasi seperti gurih, pedas dan manis serta campuran. Kini ada sekitar 14 macam rasa yang unik.

Firman juga mencoba invasi panganan baru yang rasanya unik tapi tetep berbahan dasar singkong. Modal awalnya hanya sekitar 3 juta rupiah. Dan dia memiliki cara berpromosi sendiri salah satunya dengan rajin ikut pameran UKM.

Melalui pameran UKM ia bisa berkomunikasi langsung dengan konsumen sekaligus memberikan masukan untuknya sendiri langsung. Setelah mengikuti pameran pesanan terus mengalir dari Yogya dan luar Yogya. Ia mulai berpikir memfranchise atau mewaralabakan produknya.

Ida Waralaba


Setelah berjalan beberapa tahun, Tela Krezz memang menghasilkan banyak laba dan modalnya kecil. Untuk waralabanya Firman mematok angka yang terhitung kecil cuma 3,5 juta hingga 5 juta.

Uang itu sudah termasuk biaya pelatihan usaha, termasuk juga bagamana cara memilih singkong yang baik. Firman menerapkan sistem bahwa di setiap kota hanya boleh satu pembeli waralabanya, ini dilakukan untuk mencegah terjadinya persaingan tak sehat.

Dia tak hanya memikirkan kesuksesan usaha dan dirinya saja namun ia juga ingin membuka lapangan usaha sebanyak mungkin. Dia adalah sosok yang percaya bahwa orang Indonesia sebenarnya memiliki etos kerja yang bagus yaitu ulet dan kreatif jika diberikan kesempatan.

Saat ini, Tella Krezz telah memiliki 400 outlet lebih yang tersebar diseluruh nusantara yang omsetnya bisa mencapai miliaran rupiah. Firman juga mengembangkan usaha lain dibawah bendera PT Homy Group yaitu laundry, warnet dan rental komputer.

Untuk bisnis yang berbau kuliner Firman konsern pada produk olahan singkong atau ketelah saja. Tapi bisa dipastikan ini adalah bahan baku utama dimana rasanya pastilah penuh inovasi setiap kalinya.

Salah satu bisnis kulinernya yaitu ketela cake. Mengusung nama Cokro Tela Cake, produk telah diakui sebagai salah satu tujuan wisata kuliner di Yogya. Cake nya dianggap makanan khas Yogya memang sumber produsen singkong atau ketelah.

Peraih penghargaan ISMBEA (Indonesia Small Mediun Business and Entrepreneur Award) dari Kementerian Koperasi & Kewirausahaan ini memang telah merintis usahanya sejak November 2006 dan sukses mendirikan berbagai usaha berbasi ketela.

Kini Tela Krezz dan Cokro Tela Cake menjadi satu dari beberapa usaha miliknya, yang lantas berada dibawah naungan Homy Group, seperti warung internet dengan nama Homynet, yang menyajikan suasana seperti di rumah sendiri, jasa laundry 6 TO 9, hingga usaha kuliner Chicken Chick’S.

Usut punya usut, sebelum sesukses sekarang, ia pernah tinggal di perbatasan tepatnya di Kuching, Malaysia karena tugas kampus. Saat itu matanya tebelalak melihat para TKI ilegal menyebrang. Dari sana pula jiwa kewirausahaan semakin jadi untuk membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain.

Pengusaha Rempeyek Kacang Omzet Ratusan Juta

Profil Pengusaha Kustinah


jualan peyek kacang

Menjadi pengusaha rempeyek kacang berapa dia hasilkan. Tiap orang memiliki tujuan sendiri ketika menjadi pengusaha. Beberapa berpendapat tentang ini dan itu, tetapi kembali ke diri mereka masing- masing. Dan jangan remehkan usaha kecil menengah karena dari sanalah semua bermula.

Kustinah (37), baginya usaha yang dijalani hanyalah usaha sampingan. Dari usaha rempeyek, ia bisa meraup omzet Rp.300 juta per- bulan. Bukan bisnis sampingan lagi. Pasar produk buatannya ada di Yogyakarta, namun menjalar hingga Jakarta dan Bekasi.

Bisnis rempeyek kala itu masih jadi bisnis sampingan bagi seorang Sutinah. Ia tidak akan pernah menyangka, bisnis pembuatan cemilah yang renyah itu bisa berkembang pesat seperti ini. Dari bisnis rumahan seperti ini omzet mencapai ratusan juta adalah sangat fantastis.

Usaha Peyek Kacang


Di kampung asalnya, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Kustinah sudah biasa memproduksi rempeyek bersama tetangga- tetangganya. Tak hanya mencukupi kebutuhan sehari- hari, dari bisnis sampingan ini, ia bisa membeli kendaraan bermotor bahkan mobil.

Kustinah dulunya hanya ibu rumah tangga biasa. Sedangkan suaminya bekerja menjadi penggali sumur. Tapi usaha sang suami bersifat pasang surut, artinya kadang- kadang ada atau tidak ada. Dia pun segera mencari cara sendiri mendapatkan penghasilan tambahan.

Kustinah akhirnya bekerja sebagai penggoreng rempeyek di satu produsen rempeyek di kampungnya. Setelah cukup mendapatkan pengetahuan tentang menggoreng rempeyek; ia memutuskan membuka usaha sampingan sendiri.

Ia mengerjakan bisnis satu ini bermodal coba- coba. Kini, Sutinah berhasil menjual 5.000 rempeyek tiap hari seharga Rp.2.700 per- bungkus. Setiap bungkus berisi delapan rempeyek.

Untuk memproduksi rempeyek- rempeyek itu, ia membutuhkan pasokan 550 kg kacang tanah dan 175 kg tepung beras. "Bahan baku saya dapat dari pasar Beringharjo," katanya. Selain membuat rempeyek kacang tanah, dia juga membuat rempeyek kedelai hitam dan kedelai putih.

Untuk rempeyek kedelai, harga sebungkus menjadi Rp 2.400. "Paling laris rempeyek kacang tanah," ujarnya.

Kustinah lalu memberi produknya merek sendiri sama dengan nama suaminya, Santoso. Dia menjual produk olahannya ke pasar Yogyakarta, lalu tembuh sampai pasar tradisional di Temanggung, Jawa Tengah, dan akhirnya sampai ke Jakarta dan Bekasi.

Dari semua pasar rempeyek Santoso, di kota Temanggung lah yang paling besar permintaannya. Tiap hari, dia bisa mengirim setidaknya 2.500 bungkus rempeyek ke agen yang datang dan membayar langsung.

Sedangkan untuk pasar Jakarta, dia mengirim 1.000 bungkus rempeyek per hari atau 7.000 bungkus per minggu. Jika dia menerima pembayaran langsung dari agen untuk yang di Temanggung, untuk yang di Jakarta, rempeyek itu akan dibayar setelah produk olahannya itu sampai.

Karena Kustinah haru ikut menanggung biaya pengiriman jadilah harga pasarnya naik jadi Rp.3.400 per- bungkus.

Ibu satu ini dikenal sebagai juragan rempeyek karena paling sukses di Desa Palemadu, Bantul. Dia memiliki 10 tungku penggorengan dan 35 pekerja. Tak hanya kaum perempuan yang bekerja di dapur milinya, ia juga mempekerjakan pria untuk memasak rempeyek.

"Laki atau perempuan sama saja," jelas pengusaha rempeyek kacang ini.

Agar memastikan kualitas ia sendiri ikut terlibat dalam proses produksi. Selain membeli bahan baku, dia juga mengawasi penggorengan. Permintaan membludak, membuat jumlah jam kerja selama delapan jam sehari tidak sanggup memenuhi permintaan.

Karena itu, sejak tahun lalu, Kustinah mengalihkan sebagian produksi ke para tetangganya. Namun, agar produk yang dihasilkan sama, campuran daun bawang dan kacang tetap diracik sendiri oleh Kustinah.

Sukses Septian Suryawirawan Menjadi Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Septian Suryawirawan


sukses septia suryawirawan

Ikuti kisah sukses Septian Suryawirawan berikut. Kisah menjadi pengusaha muda penuh tantangan. Ia menyadari hal tersebut, dan memilih bekerja lebih keras sampai menjadi miliarder. Dia merupakan mantan kru magician, Romy Rafael.

Pria kelahiran 4 September 1988 yang pernah menjadi kru magician Romy Rafel. Semenjak kecil dia tinggal bersama nenek di Surabaya. Ia terlahir prematur disaat usia kandungan enam bulan. Ibunya yang melahirkan Tian, malah pergi ketika melihat batapa kecilnya bayinya tersebut.

Sang nenek kemudian turun tangan bertanggung jawab membesarkan. "Mama saya melarikan diri dari rumah sakit, dengan alasan kecilnya saya itu sudah gak layak dilihat," kenangnya. Nenek lalu merawaknya tinggal bersama di sebuah rumah di gang sempit.

Nasib Siapa Tau


Ukuran rumahnya cuma 3x7 meter tanpa perabotan lain, bahkan kursi. Nenek Tian bekerja menjadi penjual sate keliling. Hingga suatu hari, neneknya mengeluh sudah tidak sanggup lagi bekerja jualan sate. Maka Tian bertekat bertanggung jawab meskipun sama sekali tampak buram.

Dia pusing. Tidak pernah dibayangkan akan bekerja diusia muda. Disisi lain, masa depan pendidikan Tian dalam ujung tanduk. Dia cuma bisa berdoa. Sampai telephon masuk dari saudara menawarkan kerja menjadi badut.

Tian bekerja menjadi badut di Tanjung Plaza Surabaya pada 2002- 2003. Dimana dia cuma dibayar Rp. 35 ribu perhari. Selepas itu, dia langsung berangkat ke Jakarta, mengikuti ajang magician yang bernama The Master; tetapi dia gagal.

Tian beranggapan mungkin karena tampangnya tidak menjual. Pulang tangan kosong namun ketemu kesempatan lain. Dia bersyukur bahwa master Romy Rafael memberi kesempatan. Dirinya dijadikan marketing sekaligus bantu- bantu.

"Saat itu saya kerja sama Romy cuma bantu- bantu. Saya liat dunia magician sedang naik daun," tutur Tian. Menjadi pengusaha muda bukanlah optional tetapi kerja keras. Dia menemukan jalannya justru dari bisnis MLM.

Dibesarkan nenek, Tian cuma sekolah sampai di bangku sekolah kelas 3 SMP. Dia tidak melanjutkan sekolah. Tian lebih memilih bekerja. Berbisnis MLM saja ternyata menghasilkan uang sampai sejuta dollar. Tian yakin bahwa perusahaan yang menangungi memiliki kredibilitas dan kemampuan.

Sampai ia mampu memiliki 2 buah rumah, 7 apartemen yang tersebar di beberapa kota, dari Jakarta, Bandung dan Surabaya, dan beberapa mobil mewah.

Sempat dia akan digugurkan ibunya karena sebab keuangan. Kemungkinan karena dia tidak disangka akan jadi. Tian ini merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Ibu seperti tidak mau memiliki anak lagi.

Sukses Septian Suryawirawan


"Saya ingin (hampir) digugurkan, tetapi Tuhan berkehendak lain," Tian bersyukur. Walau bekerja keras nasib sempat seolah tidak memihak. Ia habiskan waktu sekolah cuma buat menjadi badut. Dia bahkan hampir pingsan. Menjadi badut jalanan merupakan pilihan sempit buat bekerja.

Pasalnya dia tidak memiliki kemampuan ekonomi buat melanjutkan. Ijasah SMP dijamannya tidak terlalu berarti. "Pertama- tama saya sampai pingsan (jadi badut), karena enggak kuat. Tetapi saya kembali, karena kalau enggak kerja kasihan nenek saya," ucapnya.

Setelah mempelajari badut maka dilanjutkan belajar sulap. Dia sempat menjadi penjaga toko sulap sampai 2 tahun. Akhirnya dia berkecimpung di dunia sulap dimana lebih menjanjikan. Dilanjut dia masuk program Lecture oleh Dedy Corbuzier pada 2004- 2005 di Surabaya.

Tian yang sudah belajar sulap mengalami perubahan hidup. Ketika musim sulap redup maka sempat membuatnya sempat khawatir. "Saat magician sempat turun, saya pikir bahaya nih, karena saya gak akan dapat uang," ucapnya.

Beruntung dia memiliki bakat berjualan hingga dipakailah. Dia sempat menjadi promotor musik di era "booming" boyband dan girlband. Akhirnya dia menjajal berbisnis promotor musik bermodal uang Rp.1 miliar.

Dia bermodal mulut menjual idenya kepada orang kaya. Dan akhirnya mereka mensuport bisnis ini kedepan. "Padahal saya gak punya skill event," celetuk Tian. Berlanjut setiap event yang dijalankan ternyata berjalan lancar dan sukses.

Tian mulai menekuni dunia promotor kedepan. Dia lantas berpikir dana pensiun. Pikirnya dia bisa hasilkan banyak uang menjadi promotor. Tetapi dia harus terus bekerja buat hasilkan uang. "...saya bisa kaya tapi tidak bisa pensiun. Saya cari solusi pekerjaan bisa buat pensiun saya," ucapnya.

Ia kemudian bertemu sahabatnya, Marcel Halim, penulis buku best seller di Nasi Cumi Pasar Atung. Marcel melihat Tian bekerja keras tetapi berhenti. Dia hasilkan uang tetapi selalu cuma mencukupi kebutuhan. Telah bekerja keras tetapi Tian tidak kaya- kaya.

Ia mengundang Tian berbisnis talk fushion. Inilah usaha berbasis teknologi yang hasilkan miliaran rupiah. Komisinya dollar walau dikerjakan dari Indonesia. Sistemnya terbentuk hingga mampu kita hasilkan miliaran rupiah. Inilah cara Septia menjadi pengusaha muda kaya raya.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba