Kerajinan Limbah Pisang Laku Jutaan

Profil Pengusaha Sholikin 

 
kerajinan lukisan pisang
 
Untung kerajinan limbah pisang laku jutaan. Itulah yang tengah dicoba seorang Sholikin. Dan hasilnya, sebuah lukisan cantik, dari batang pohon pisang yang biasanya dibiarkan membusuk dan jadi limbah setelah buahnya dipetik. 
 
Dia hanyalah warga kampung Desa Combongan, Kecamatan Sukoharjo, yang punya cita rasa seni bagiaman agar limbah pohon pisang bisa dimanfaatkan. Caranya bagaimana? Bagaimana cara mengolah batang pisang menjadi lukisan. 
 

Usaha Lukisan Pelapah Pisang

 
Pertama- tama, Sholikin mengumpulkan pelepah pisang yang banyak di belakang rumahnya. Pelepah itu dikumpulkan, kemudian dikeringkan. Setelah benar- benar kering barulah diubah menjadi lukisan. Untuk membuat satu lukisan kamu cukup membutuhkan dua- tiga buah pelapah pisang. 
 
Semuanya telah diseleksi dan dibentuk sesuai keinginan. Setelah pelapah pisang cukup. Cukuplah Sholikin menempelkan mereka diatas sebuah papan. Lantas ia memberikan lem pada pelapah pisang yang disusun sesuai desain lukisan. 
 
Satu- persatu itu ditempelkan hingga membentuk gambar. Jika dilihat kita tak akan menyangka bahwa itu terbuat dari pelapah pisang. Sebuah usaha yang telah dilakoninya sejak 1980, dimana ia sukses membantu berbagai gambar lukisan dari bentuk masjid, pemandangan alam, dan bentuk lain.

Pelanggan setianya datang dari tetangga, tidak jarang mereka meminta lukisan khusus. Ayah dari satu anak ini bisa membuat dua buah lukisan kecil dan satu lukisan besar dalam sehari. Ia menyebut sebenarnya bisa saja menggunakan bahan lain. 
 
Tapi kelembutan serat pisang membuat lukisannya mudah dibentuk. Hasilnya juga lebih bagus dari bahan umum dengan limbah kayu contohnya. Selain itu proses pembuataany juga jatuh lebih mudah dan murah. Semua cuma butuh ketrampilan dan kreatifitas.

Harga perlukisan dipatoknya seharga Rp.30.000 dan termahal Rp.300.000. Semuanya akan tergantung akan tingkat kesulitan, ukuran, jenisnya. Tidak hanya berhenti di usaha lokal. Ia juga telah merambahkan usaha lukisan pelapah pisang hingga berbagai daerah di Jawa dan Bali. 
 
Selain sibuk membuat berbagai hal dengan limbah pisang. Ternyata, sosok Sholikin juga dikenal sebagai pembicara, utamanya itu tentang bagaimana mengolah berbagai kerajinan dari bahan limbah.

Prospek Usaha Green Souvenir Ramah Lingkungan

Profil Pengusaha Fathul Maki

 
usaha green souvenir
 
 
Pengusaha sukses Fathul Maki tampatnya tak menduga. Awalnya sih, dia mau mengolah limbah saja, nyatanya usaha barunya ini terjual puluhan ribu. Green Souvenir, kiranya itu nama usahanya kini, produk kreatifitas dari tanaman yang kian populer untuk dibisniskan. 
 
 
Ditengah penjualan tanaman hias umum yang terus menurun, adanya green souvenir Maki setidaknya memberikan harapan baru.  Memanfaatkan hangatnya isu pemanasan global. Menjual tanaman hias yang kecil, mungil, dan imut, dimana kamu gak perlu repot merawatnya. 
 

Usaha Green Souvenir Viral

 
Seperti tagline souvenir, berarti produk satu ini bisa dijadikan oleh- oleh atau hadiah, beda dengan tanaman pot besar lain. Biasanya tanaman yang menggunakan konsep dari green souvenir antara lain adenium, kaktus dan sukulen, adapula soka, melati, serta aglaonema.

Hasilnya cantik, dan dengan kretifitas Maki, hasilnya bisa sangat dekoratif untuk diletakan di meja ruang tamu. Pria yang bekerja sebagai Marketing Manager Istana Alam ini, menunjukan kita usaha ini bisa dikemas apapun. 
 
Adapun dia menjelaskan kamu bisa menggunakan rotan, pot keramik, plastik, mika, atau bahkan kita bisa kemas dengan gelas, jelasnya. Pemanfaatan media berupa hidro gel sangatlah membantu. Pengaplikasian berbagai media inilah yang sukses membuat green souvenir lebih terjual. 
 
Maki juga menambahkan kreasi lain, melalui limbah steorofom, yang menumpuk. Limbah- limbah tersebut dibuat sekreatif mungkin olehnya menjadi produk menjual. Harganya? Kamu bisa mendapatkan harga sesuai kreatifitas dan jenis tempatnya selain harga tanaman pada umumnya.

Sebut saja ada souvenir adenium, melati dan soka ditawarkan Maki jadi seharga Rp 6.500,00 sampai Rp 11.500,00/pot. Sedangkan jenis kaktus bisa lebih mahal yang dihargai Rp 7.000,00- Rp 12.000,00/pot, dan untuk souvenir aglaonema dipatok harga Rp 10.000,00 sampai Rp 15.000,00/pot. 
 
Untuk pasaran produknya itu umum jadi bisa dijual untuk siapa saja, bahkan si kecil. Target pasarnya dari ibu rumah tangga, sampai perusahaan- perusahaan di Indonesia.

Biasanya, produk green souvenir akan ramai diburu konsumen, biasanya untuk souvenir pernikahan, souvenir acara seminar atau talk show dan workshop, serta sering pula dipesan oleh instansi dan lembaga pemerintah yang didalamnya mengusung Go Green. 
 
 
Harganya yang terjangkau, cara pembuatannya sederhana, maka bisa dibilang ini bisnis cukup menjanjikan. Untuk produk yang banyak dibeli, Maki menjelaskan produk yang menggunakan bahan mika paling laris. Mika itu akan dibuat menjadi tabung dengan bantuan pralon. 
 
Kemudian tabung itu akan dilem dan dilas dengan steorofom. Kamu cukup menambahkan pemanis pita dan tali untuk menenteng souvenir. Peluang dari usaha ini menurutnya masih bagus, hasilnya, Maki sukses memasarkan produknya ke berbagai penjuru daerah. 
 
Nama produk ini juga mulai terdengar, menggaung membuatnya banyak dicari masyarakata luas. Jadi bagi kamu yang punya ide buatlah green souvenir kamu sendiri, atau jadikan ini usaha.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba