Aplikasi Bullying Menang Ajang Internasional

Profil Pengusaha William Lautama


pengusahasosial.png
 
Pengusaha tidak melulu soal cara menghasilkan uang. Inilah kisah aplikasi bullying menang ajang internasional. Definisi entrepreneur sudah beralih dari mereka pencari untung semata. Kisah kali ini datang dari seorang mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). 
 
Ia telah mengharumkan nama Indonesia di aneka kancah internasional baru- baru saja ini. Tahun 2013, ia bersema beberapa orang, memberikan kejutan karena menemukan aplikasi unik. Dia adalah pemuda bernama William Lautama.
 

Pengusaha Sosial


Dia menceritakan pengalaman memenangkan sebuah kompetisi ini. Sebuah kompetisi entrepreneurship yang diselenggarakan oleh 4Entrepreneurship, sebuah institusi gabungan empat universitas di Munich, lewat  kompetisi Global Entrepreneurship Summer School (GESS). 
 
William kala itu masih berkuliah loh disaat menjalankan proyeknya.

"Saya adalah satu dari 35 peserta yang lulus seleksi dari mahasiswa dunia. Kebetulan saya satu- satunya perwakilan Indonesia," ujarnya.

GESS sendiri mengusung aneka konsep entrepreneurship. Tak cuma masalah uang tapi juga sosial. Fokusnya bagaimana agar merubah kehidupan orang banyak, membantu lebih banyak. GESS sendiri waktu itu tengah mengangkat konsep Rethinking Education. 
 
Kemudian membagi 35 orang ini terpilih membentuk kelompok- kelompok sendiri. Beranggotakan 5-6 orang sosok William lah menjadi pelopornya.

"Seru sekali mengingat diskusi saat ini. Sebab, anggota tim kan berasal dari negara- negara yang berbeda," ujarnya.

Persoalan pendidikan perlu sentuhan khusus diulik. Uniknya, karena ke tim -nya sendiri juga memiliki latar belakang dari dunia pendidikan berbeda. Persoalan bahasa menjadi masalah tapi akhirnya bisa bertemu di satu titik. 
 
Pemuda kelahiran 7 Januari ini lantas melanjutkan ceritanya. Mereka kemudian menjabarkan apa- apa masalah pendidikan di negara masing- masing. Pemuda 26 tahun ini lantas menawarkan konsep bullying. 
 
Permasalahan pendidikan Indonesia disaat- saat ini yang jadi semakin menghawatirkan. Awalnya ia mencoba menawarkan masalah kekurangan guru, sarana prasarana, tapi kesemuanya tidak sesuai buat teman satu tim -nya. 
 
Mereka merupakan pemuda asal negara maju. Tapi jika berbicara tentang bullying atau intimidasi di pendidikan; mereka punya pemikiran sama. Anggota tim nya antara lain Priscillia (Argentina), Yara (Ukraina), kemudian dua Christian dan Melenie (Jerman). 
 

Aplikasi Bullying

 
Bullying merupakan masalah global bagi semua negara- negara. "Bullying ini sudah menjadi isu internasional. Bahkan, di Indonesia banyak terjadi," ujarnya. Bahkan menurut William ada anak yang memilih berhenti sekolah karena jadi korban bullying. 
 
Acara brainstroming menyimpulkan tim mereka lantas dinamai LoHoop (Love and Hope). Fokusnya adalah menangani bullying. Jadilah dibuatlah aplikasi curhat bullying itu sendiri. Alasannya karena korban bullying butuh solusi serta tempat berbagi. 
 
Faktanya korban bullying biasanya takut menceritakan kepada orang tua. Sementara teman sendiri belum tentu bisa memberikan solusi masalah.

"Salah satunya karena korban bullying selama ini kerap tidak memiliki saluran untuk curhat," jelas William lagi. Tak disangka ternyata konsep bisnisnya menang.

William berserta tim -nya lantas diundang ke Jerman guna mengikuti Cultural Inovation Network (CIN). Akan tetapi bukanlah pertama kali ini dirinya mengikuti ajang sejenis. 
 
Januari 2013, ia pernah diundang ke Hongkong, mengikuti acara menyangkut perubahan positif pemuda- pemuda di seluruh dunia. Undang ini katanya didapatkan berkat insiatifnya memberdayakan masyarakat di Cilincing, Jakarta Utara.

William bersama sejumlah teman kuliahnya bahkan mendapatkan bantuan dana. Dana donasi dari Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS), mereka mengajari sejumlah ibu- ibu menciptakan pendapatan sendiri melalui berjualan roti kukus dan susu kacang. 
 
Dia juga dikenal sebagai co- writer dari buku berjudul Proud and Rise. Di Juli- Agustus 2013, ia mendapatkan undangan mengkuti agenda tahunan tentang science, bernama London Youth Science Forum 2013.

Meski sudah mengikuti banyak belajar dari konferensi internasional. Jikalau berbicara tentang usaha beneran, William secara jujur, mengaku dirinya masihlah pemula soal ini. Meski sudahlah menjalankan aneka usaha sendiri sejak kuliah. Meski dari sana sudah bisa membantu membiaya kuliahnya. 
 
Dia pernah jatuh bangun merasakan berjualan aneka produk. Termasuk berjualan gadget dimana akhirnya ia bangkrut kena tipu.

"Sejak kecil saya diajari usaha mandiri oleh keluarga saya. Termasuk ketika saya kuliah, ditanamkan rasa malu untuk tetap meminta uang jajan," terangnya. Disanalah jiwa entrepreneurship tumbuh dalam dirinya.

Meski gagal dia terlihat menikmatinya. Buktinya ia tertawa ketika menceritakan bangkrutnya kepada pewarta Jawa Post. Dia belajar agar selalu belajar. Makanya meski sudah banyak jatuh tapi tak mau menyarah. 
 
Disanalah dia belajar terangnya lagi. Sekarang alumnus SMK 5 BPK Penabur ini tengah fokus menjalankan bisnis kuliner dan kerajinan di Bandung. Tak cuma meminta uang saku tapi juga sudah bisa membiayai kuliah sendiri.

Meski banyak waktunya dikerjakan buat berbisnis ataupun membedayakan masyarakat. Ia sama sekali tidak turun soal akademis. Buktinya, William mendapat beasiswa karena prestasi akademiknya dan akhirnya dia juga bisa lulus tepat waktu.

"Dari jatuh itu saya belajar. Makanya, semakin banyak jatuh jangan semakin menyerah, karena dari situlah kita belajar," ujarnya.

Omzet Jutaan Rupiah Bisnis Bonsai Kelapa

Profil Pengusaha Dimas Hafid Haryono

 

bisnisbonsai.png
 

Bisnis bonsai kelapa tersebut dikembangkan Dimas Hafid Haryono. Pengusaha muda usia 27 tahun yang mebudidaya kemudia dibonsai. Prosesnya layaknya menanam kelapa tetapi berukuran kecil. Warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sudah menjual sampai ke berbagai daerah di Indonesia.

 

Tanaman bonsainya dijual sampai ke Kalimantan, Sumatera, Lombok dan kota besar lainnya. Sebulan dia menghasilkan omzet Rp.4 juta.

 

Bisnis Bonsai

 

Ia mulai usaha semenjak Covid 19 melanda Indonesia. Pusing Dimas mencari pekerjaan tidak kunjung menemukan. Mencari pekerjaan susah tetapi dia tidak punya kegiatan. Iseng ia mebuka video- video di Youtube. Dia lantas menemukan video cara membuat bonsai.


"Belajar (bonsai kelapa) sendiri. Cuma lihat di Youtube aja. Awalnya susah dan sulit. Kalau dipelajari tidak ada yang susah," imbuhnya.


Baru empat bulan terakhir dia bisnis bonsai kelapa. Ia mampu menjual ke berbagai daerah, dan omzet jutaan rupiah. Pertama kali dia menjual melalui sosial media. Bisnis bonsai kelapa tidak butuhkan modal besar. Bahan- bahan mudah ditemukan semua mudah ditemukan di pasar.


Biaya tidak terlalu banyak. Di pasar tinggal beli kelapa Rp.7000, Rp.5000, sudah dapat satu kelapa. Ia menggunakan kelapa gading kuning dan kelapa gading oranye. Ia mendapatkan bibit dari Pacitan, Jawa Barat. Tiap pekan dia sudah sediakan 50 kelapa gading buat pembibitan.

 

Ia membeli kelapa utuh. Kebetulan sudah muncul tunasnya kemudian disayat. Media tanamnya juga beragam, pakai air bisa, pakai tanah biasa bisa, pakai sekam juga bisa. Dimas mengatakan kalau mau mendapatkan bentuk bagus harus rajin disayat.

 

Dia menyayat bagian bawah bonsai secara teratur. Proses penyayatan dilakukan rutin lima hari sekali. Proses penyayatan dilakukan hati- hati. Ini untuk menghindari kematian pada tanaman bonsai kelapa. 

 

Dia menjual bonsainya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp.20 ribu dan Rp.25 ribu. Tetapi bila itu sudah dibentuk atau siap pajang dijual Rp.130 ribu dan Rp.300 ribu. Adapula dia menjual sampai harga Rp.3 jutaan. Paling laku bibit. Hampir tiap hari dia mengirim keluar daerah buat pecinta tanaman.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba