Cari Peluang Bisnis Disaat Covid Coba Jualan Bumbu

Profil Pengusaha Ni'matul Khusna

 

caripeluang.png
 

Mau jualan bumbu online mulailah sekarang juga. Mau cari peluang bisnis disaat COVID inilah. Kisah Ni'matul Khusna, wanita 28 tahun yang memilih menjadi ibu rumah tangga, ibu anak 1 asal Kota Demak, Jawa Tengah.

 

Menjadi ibu rumah tangga berarti harus berangkat pasar. Dia akan mencari bahan sampai bumbu dapur. Ia menjelaskan kebetula ibunya jualan bumbu. Dia jualan bumbu di pasar tetapi mentahan. Ide bisnis disaat COVID ini bermula keinginan membantu ibu.

 

Cari Peluang Bisnis

 

Ibu Khusna berjualan aneka bumbu siap masak di Pasar Prawirotaman, Yogyakarta. "Nah, awal- awal corona itu kan orang taku ke pasar, jadi sepi jualannya," jelas Khusna. Kemudian dia memantapkan diri membantu ibunya jualan.


Dia mantap membantu ibu, tujuannya mempeluas jangkauan pasar bumbu ini. "Saya selain membantu ibu, dan juga memperluas jangkauan pasar. Karena ibu saya kan jualannya masih kecil, di pasar tradisional," tambahnya.


Memulai bisnis Raos Rempah pada Mei 2020. Dia mengolah rempah- rempah bumbu masak. Ada bumbu sop, tongseng, rawon, semur, opor, rica- rican dan banyak lagi. Dia menamai usahnaya Raos Rempah. Usaha tersebut disuntik modal Rp.15 juta buat membeli bahan dan peralatan masak.


Dia membeli peralatan masak baru. Mengajak tetangga untuk proses produksi. Sementara ibunya juga membantu tetapi tidak penuh. Jualan sudah menjadi hiburannya karena sudah sepuh. Pusat produksi di Demak, dibantu banyak orang, ibunya tidak lagi berjuang sendirian jualan bumbu.


Ia awal menarik satu orang membantu mengupas bawang. Kemudian dua orang buat membantu masak dan mengemas. Jadi total ia mempekerjakan tiga karyawan sekarang. Produksi pertama 200 kemasan bumbu masak yang habis dalam seminggu.


Ia baru memasarkan ke tetangga dulu. "Feedback -nya Alhamdulillah mereka suka, karena memang rasanya juga katanya sih enak," kata Khusna. Maka orang kembali membeli bahkan cepat- cepat takut kehabisan.


Berjalan waktu usahanya semakin besar melalui sosial media. Dia pun segera mempromosikan lewat influencer. Diakuinya, cara ini sangat membantunya dalam pemasaran dan meningkatkan penjualan. Dia mempelajari semua cara pemasaran melalui otodidak.


"Dulu saya pernah jualan buku online, tapi minatnya kurang. Nah lihat ibu masih jualan, ya sudah saya level up kan saja (bisnis bumbu)," ujarnya.


Dia menlanjutkan, "Saya ini langsung mulai bisnis, belum pernah jadi karyawan. Belajar marketing-marketing ini otodidak. Dan saya juga sudah siapkan budget dari omzet bulanan untuk endorse ke influencer," jelas Khusna.


Kapasitas produksi sampai 400 bungkus bumbu, omzetnya Rp.6 juta perbulan. Walaupun belum balik modal cukup,Khusna tetap meyakini akan bertahap membesar. Dia akan mencicil modal bertahap terus sampai balik modal.


Apalagi peluang bisnis ini masih berjalan setahun. Dia merasa masih panjang. Bisnis jualan bumbu ini harus dilanjutkan. "Dan ini bisa saya lakukan dimana saja, karena saya online, enggak menetap di suatu tempat," lanjutnya.


Produk dijual beragam ukuran mulai kemasan cup 5 gram seharga Rp.12.000, pouch ukuran 200 gram seharga Rp.30.000 dan seterusnya. Bumbu semua dimasak pakai minyak dan garam sampai matang, jadi bisa bertahan 10 hari di suhu ruangan, 2- 3 bulan di pendingin, dan 6 bulan di freezer.


Produknya ia pasarkan melalui akun rempah @raosrempah. Khusna mengaku penjualannya mulai dari Jabodetabek, Kalimantan dan Sumatera. Pesanan terbanyak di Jabodetabek, diluar Jawa juga banyak, dari Kalimantan Sumatra. 


"Alhamdulillah, pengiriman aman, karena bisa tahan sampai 10 hari di Perjalanan," tutupnya kapada Detik.com

Dosen Sukses Berbisnis Rumahan Coklat Coklatku

Profil Pengusaha Lin Oktris

 
dosensukses.png
 
Dosen sukses berbisnis rumahan coklat. Memang usaha berikut memang semanis untungnya. Indonesia merupakan negara ketiga terbesar penghasil biji coklat, nampaknya para pengusaha muda tak salah melirik prospeknya. Kami sendiri mencatat sudah ada banyak bisnis yang dibangun dari coklat. 
 
Dari Yogyakarta, Makassar, dan puncaknya di Jakarta. Berikut ini kisah unik lain tentang bisnis coklat. Yang manisnya itu bisa menggoda, benar kan?

Alasan karena suka, Lin Oktris lantas berbisnis coklat. Awalnya cuma hobi saja sih. Dia sudah lima tahun belakangan coba- coba membuat coklat di dapurnya. Caranya coklat cukup dibuat kecil- kecil, yang lucu, sehingga menarik untuk dinikmati.
 

Tips Berbisnis Rumahan

 
Ada coklat yang berbentuk siput, daun, kura- kura, bola- bola dan adapula boneka. Coklat Lin diminati terutama oleh anak- anak. Sejak awal dosen Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu selalu memilih coklat berkualitas bagus. Hasilnya coklat buatannya pun sedap. Coklatnya tidak mudah lumer. 
 
Tidak membuat tenggorokan sakit atau terasa gatal. Dia menyebut coklatnya sanggup bertahan hingga 3 bulan. Lin engga mencampur coklatnya dengan bahan rum ataupun pengawet. Dia khawatir karena penggemar coklat rumahannya adalah anak- anak.

"Kasihan anak- anak kalau sampai makan bahan pengawet," ujarnya singkat.

Jujur saja, usaha coklatnya cuma hobi diantara kesibukannya. Dia memang masih bekerja, namun semangat kewirausahaan itu ada. Lin bekerja sebagai staf keuangan di sekolah terkenal di kawasan Jakarta Selatan dan juga seorang dosen di UNJ.  
 
Awalnya cuma hobi membawa coklat manisnya kemudian dijual- jual ke orang, hingga rasa ingin berbisnis muncul. Dia ingin punya toko coklat sendiri. Dan akhrinya,  keinginan itu terwujud pada akhir Desember 2006.

Tak sendiri, dia bekerja sama dengan seorang rekan, Lin lantas membuka sebuah toko kecil coklat di JL. Margonda Raya, Depok.  Setiap hari libur, istri dari Ahmad Risa selalu sibuk di tokonya tersebut. Dia akan menyambangi tokonya bernama toko Cokelatku.

Di toko kecilnya banyak coklat warna- warni dipajang. Ada coklat dengan keju, kacang almond, mete, dan kurma. Harganya dibuat agar terjangkau. Untuk cokelat berukuran mungil akan dijual Lin masih dalam kisaran antara Rp 500 hingga Rp 1.500.  
 
Lin juga menambahkan pesanan cokelat untuk pesta, ulang tahun atau cinderamata. Selain di Depok, Lin berencana meluaskan jaringan dengan membuka toko lagi di kawasan Jakarta Timur.

Menurut penelusuran kami, tokonya yang di Jawa Timur, tepatnya di Malang lah yang paling laris. Di lokasi barunya itu, ia membuka toko plus tenda-tenda sehingga pembeli dapat menikmati cokelat dengan nyaman. 
 
Fokusnya kini bukan hanya cokelat- cokelat mungil, ada pula disediakan pula tart, tiramisu, brownies, dan makanan lain berbau cokelat. Dia juga menawarkan produknya melalui internet, bahkan pesan- antar! Jika anda berminat kunjungilah coklat-cantik-coklatku.blogspot.com.

Perempuan asal Batu Sangkar, Sumatra Barat, 7 Oktober 1978 ini, menyebut membuat berbagai coklat itu menyenangkan. Tambahnya modalnya juga murah dan mudah. Karena memang kita tau usaha macam coklat itu selalu laris disukai berbagai umur. 
 
Kesan bahwa coklat makanan orang berduit bisa dipatahkan, anda bisa membuatnya, karena memang kita penghasil coklat terbesar ketiga dunia. Modal awal Lin, katanya sih, cuma 10 juta rupiah namun sudah disuport promosi rumahan.

Anda tak harus membangun toko dulu. Cobalah tawarkan dari orang sekitar karena usaha sukses berasal dari lingkungan terkecil dulu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba