Jualan Dawet Lele Pengusaha Untung Bisnisnya Nagih

Profil Pengusaha Lele Eka 


bisnis dawet lele

Siapa sangka lele bisa dijadikan minuman. Siapa sangka wanita satu ini mampu mendulang omzet dari bisnis minuman dan camilan lele Rp.70 juta per- bulan. Ditangan Eka, daging lele diolah jadi aneka camilan hingga es dawet. Bagaimana rasanya ternyata sudah menjadi minuman khas juga loh.

Minuman khas Boyolali ini membangun kesadaran. Bahwa kita harus rajin mengkonsumsi ikan, dan khususnya masyarakat Boyolali, Jawa Tengah.

Konsumsi ikan rendah, pasalnya orang Indonesia sukanya digoreng, dibakar dan dikukus. Lalu ada ide Eka merubahnya menjadi es dawet. "Jadi orang tidak merasa sedang makan ikan," imbuh Eka. Ia mangatakan selain segar, melepaskan dahaga, kandungan tinggi protein tentu berbeda dengan dawet biasa.

Omega tiga nya juga tinggi loh. Kalau dibanding dawet tepung beras tentu jauh. Itu cuma ada karbo tidak ada proteinnya.

Dengan menjual 200 gelas sehari, satu gelas dijualnya Rp.5000, bisnisnya mampu mengantungi satu omzet juta per- hari. Satu kilogram butuh 300 gram daging lele. Eka sudah memiliki trik khusus agar lele tidak bau amis.

Pertama lele dipisahkan dari tulang dan kepalanya. Kemudian daging filet itu direndam di jeruk nipis selama satu jam. Lalu bersihkan dan diaduk memakai tangan langsung. Adonan dawet itu dibuat memakai tangan tidak blender. Alasannya agar masih terasa ada tekstur daging ikan lelenya ketika diminum.

Tahun 2010 usahanya tidak berjalan lancar. Banyak orang meragukan karena ia tergolong nekat yaitu bahan baku amis mau dijadikan makanan manis.

"Orang dulu pada bergidik. Mereka jijik lho kok lele dijadikan es dawet pasti bau amis, enek, tidak enak...," jelasnya.

Imej ikan lele jadi semakin buruk karena itu. Namun, sekarang sudah berbeda, aneka olahan lele sudah bisa kita jumpai maka kenapa tidak minuman cendol. Dia dan kawan- kawan memang pantang menyerah. Mereka tidak capek menginformasikan produk ini menyegarkan dan penuh gizi bukan menjijikan.

Eka tidak cuma berbisnis es dawet, ia mengolah daging lele menjadi abon, dendeng, kerupuk, bakso, sosis, otak- otak, kaki naga, tahu bakso, galatin, lalu lele crunchy. Adapula Lestari yakni lele segar tanpa duri, kerupuk kulit lele hingga nugget lele ada.

Bisnis sederhana


Produk bikinannya dijual dengan harga Rp.10.000 sampai Rp.35.000. Abon lele menjadi jajanan satu jajanan paling diburu. Bahkan produknya ini sudah pernah dibawa ke Moskow, oleh Kementrian Perdagangan. Dibawa 200 pak, alhamdulillah habis semua, "...mudah- mudahan bisa diekspor," ia menuturkan.

Eka bercerita pernah bercerita ditawari ekspor satu kontainer keripik kulit lele. Dia cuma bisa untuk menyanggupi 200kg- 300kg saja. "..kulit lele itu kan susah, ya mudah- mudahan ada jalan lain untuk ekspor," ia menambahkan.

Hanya berbekal jualan aneka olahan lele, dia mampu mengantungi omzet Rp.60 juta sampai Rp.70 jutaan. Margin omzetnya 25%, itu sudah termasuk biaya listrik dan air, karyawan, dan mereka itu cuma bekerja dengan 15 orang.

Awalnya dia memberdayakan tetangga yang menganggur, pada 2010 silam,"...Alhamdulillah terus sampai sekarang" tutur Eka. Abon lele miliknya juga sudah berstandar nasional (SNI) sejak 2015. Ia melakukan hal tersebut agar usahanya makin meyakinkan, untuk bisa lebih membuka jalan lebih luas pemasaran.

Pengusaha Sambel Jontor Pernah Kehabisan Modal

Profil Pengusaha Bagus Adinda 


resep sukses sambal jontor
 
Bagi penikmat kuliner wajib mencicipi rasa Sambal Jontor. Masakan baru yang dijamin membuat berkeringat karena pedasnya. Pengusaha muda dibalik bisnis ini ialah Bagus Adinda, pria 32 tahun yang sudah memiliki 24 cabang sambal Jontor di penjuru Jakarta.

Meskipun sesukses sekarang, dia masih merasa hidupnya masih belajar dan bekerja keras, bisa dikatakan meski usahanya terus berkembang tidak ada kepuasan. Dia dulu mantan vokalis band Punk Celebrand. Dan juga dikenal pernah bekerja sama dengan Aldi Taher lewat grup bernama Duo Kingkong.

Ia menjelaskan bisnis kuliner bukan yang pertama. Sebelumnya dia pernah berbisnis Bakso Tukul kawasan Tebet, Jakarta Selatan, namun di tahun 2009 tutup karena kurang modal. Padahal dia waktu itu sudah tidak lagi menjadi vokalis karena bandnya bubar.

"Hal tersebut tidak menyurutkan semangat saya untuk melakukan usaha," tuturnya.

Ia sempat rekaman band. Semangat pengusaha perantau asal Padang, meyakini kesuksesan menjalankan bisnis kuliner di Jakarta. Tahun 2010 bisnis lainnya didirikan, kafe Three Musketeer didirikan di kawasan yang sama yakni Tebet, sayangnya bisnis ini juga berakhir tanpa kelanjutan.

Karena pemilik kontraan tidak mau melanjutkan sewa kepada kafe yang sempat digandrungi ABG itu. Itulah usaha kuliner terus tetapi tidak kunjung sukses. Bagus akhirnya mencari metode berbeda mengembangkan bisnis kuliner.

Saran sukses buat kalian pengusaha baru, "mintalah kepada Tuhan agar ikut campur dalam usaha kita." Ia meyakinkan diri dan meluruskan niatnya berwirausaha. Yah hasilnya Alhamdulillah dia mampu mendirikan banyak cabang Sambal Jontor di Jakarta.

Sulit memang mengajak orang bekerja sama wirausaha. Bahkan dia sempat dicemooh idenya untuk bisa berbisnis sambal. Beberapa kali dicemooh orang yang diajaknya kerja sama; Bagus move on melanjutkan membuat konsep Sambel Jontor.

Hasilnya dapat dilihat berbekal dua resep andalan: Sambal Jontor Gendeng dan Sambal Jontor Mampus, ia meyakini kamu akan membeli lagi buat merasakan pedasnya.

Makanan khas Indonesia diolahnya serba penyet. Dari ayam, lele, dan bebek goreng, dimana dari rasa dan bumbunya pedas nendang. Levelnya 1- 6, bumbunya sedap meresap ke dalam ayam loh, "...rasanya pedas banget." Omzet didapatnya sampai Rp.183- 306 juta, investor meraup omzet Rp.50- 100 juta per- bulan.

Harga mulai Rp.15 ribuan, mulai sambal jontor biasa sampai mampus. "Indonesia soal makanan enggak ada matinya dan suka pedes," tutur Bagas. Ada sambal Jontor Cemen buat yang anak kecil baru belajar makan pedas. Paling pedas Jontor Mampus, "...ini yang paling pedes sampai jontor- jontor."

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba