Tampilkan postingan dengan label Agrobisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agrobisnis. Tampilkan semua postingan

Jual Arang Bambu Omah Arang Omzet 25 Juta

Profil Pengusaha Hidayat 

 
jualan arang bambu
 
Dia jualan arang bambu beromzet 25 juta. Bagaimana awal jual arang ala Omah Arang menghasilkan.
Usaha tersebut didirikan bersama dimana didirikan pada 21 Mei 2009. Sukses berkat mendapatkan pelatihan KDK (Kerabat Desa Kota). 
 
Produknya unik dan tak kalah dengan produk sejenis pabrikan besar. Tidak hanya punya fungsi tunggal namun macam- macam. Apakah itu? Arang bambu, produk sepele banyak manfaat jika kamu pelajari.

Pensiunan PNS Menjadi Pengusaha Budidaya Alpukat Miki

Profil Pengusaha PNS Suharno


pensiunan pns jadi pengusaha
 
Orang bilang jadi PNS enak punya penghasilan tanpa kerja. Kemudian pensiunan PNS ini menjadi pengusaha budidaya Alpukat Miki. Padahal Suharno mendapatkan jatah bulanan penghasilan. Alasan memilih wirausaha karena ingin tetap produksi di masa senja.

Mantan Pejabat Lingkungan Pemkab Banjarnegara, Jawa Tengah. Jabatan terakhirnya adalah Asisten 1 Sekertaris Banjarnegara. Kini disibukan pekerjaan barunya menjadi pengusaha. Dia membudidaya alpukat miki, melalui tanah miliknya di kawasan Komplek Perum Limbangan Baru.
 

Menjadi Pengusaha


Pensiunan PNS ini menjadi pengusaha selepas 2012 silam. Sibuk menggeluti usahanya karena sangat senang. Dia pandai memilih bibit- bibit tanaman unggul Salah satunya ya alpukat mini miliknya yang terkenal laris.

"Saya menyukai bercocok tanam sejak SMP," ia menambahkan. Dan lingkungan Suharno S.Sos yang memberikan dukungan. Keluarga memang senang dengan tanaman menghijaukan. Jika dulunya dia hanya lakukan untuk hobi, sekarang diseriusi sebagai usaha.

Sebagai catatan bahwa budidaya alpukat miki laris. Pasarnya tidak hanya dijual dalam negeri tetapi dijual ke luar negeri. Pasar ekspor- impor sudah ada ditangan pensiunan PNS ini. Suharno sekarang menjabat sebagai ketua harian HKTI Banjarnegara.

Alpukat Miki merupakan bibit varietas unggulan dataran rendah. Bibit ini dikembangkan oleh pihak Pusat Kajian Buah- Buahan Tropika ITB. Peneliti ITB Dr. Sobir berserta tim peneliti menghasilkan bibit alpukat yang sifatnya besar dan lembut.

Berat alpukat Miki mencapai 400- 600 gram dan produksi di usia tanaman 2- 3 tahun. Usia generatif tanaman ini pada usianya 5 tahunan. Sifatnya genjah sehingga unggul dibanding alpukat lain. Rasa dihasilkan alpukat pulen dan manis enak.

Umumnya berbuah satu kali dalam setahunan saja. Sedangkan alpukat Miki menghasilkan buah tiap tahunnya. Alpukat hijau ini menghasilkan domplan yakni rindah dan lebat buahnya. Alpukatnya juga mengkilat lebat diujungnya jadi menyenangkan.

Buahnya tebal berwarna kuning cerah ketika dibuka. Walaupun buahnya manis tanpa getir dan tahan hama. Buah alpukat ini sangat kuat jika digigit ulat buah. Kulitnya kuat tebal tidak mudah untuk bisa ditembus.

Pohon ulat juga dimangsa ulat utamanya jenis Cricula Trisfenestrata. Daun alpukat juga tidak cocok buat penceranaan ulat. Hati- hati karena ini juga berpengaruh kepada hewan sapi atau kambing. Ini sering disebut alpukat mentega sangat direkomendasikan untuk dibudidaya oleh masyarakat.

Cocok buat budidaya dataran rendah berkualitas prima. Produksi banyak meskipun usia masih muda. Ini merupakan kesempatan bagi pensiunan PNS juga.

Pensiunan PNS Tetap Produktif

Apakah syarat menanam alpukat Miki, adalah dataran tinggi setinggi maksimal 1.500 meter di atas permukaan laut. Cocok ditanam pada wilayah tropis maupun sub- tropis. Tidak masalah ditanam di tanah remah maupun tanah berlempung.

Kondisi penanaman tidak butuh cahaya matahari intens. Budidaya alpukat mentega memang mudah. Suharno menambahkan dia mendapat bibit lewat okulasi. Menurutnya ini merupakan cara terbaik mendapatkan bibit.

Bagi kamu yang berminat budidaya alpukat Miki. Jangan segan datang ke tempat Suharno untuk belajar. Juga memberikan layanan bibit unggulan untuk ditanam. "Kami akan berbagi ilmu, bagi yang ingin praktis saja kami menyediakan bibit siap tanam," ujarnya.

Teknik digunakan untuk menanam alpukat Miki. Adalah teknik okulasi yakni menempel batang ke pohon alpukat lain. Penyambungan dilakukan saat usia benih dua bulan dan tinggi 60 cm. Kenapa pensiunan PNS ini menjadi pengusaha budidaya alpukat.

Dia menjawab kegiatan bercocok tanam menekuni hobi. Selain itu kegiatan ini akan menghindarkan dia dari pikun. Memberikan dampak positif bagi kesehatan orang tua. Untuk teknik okulasi sendiri sangat membantu agar rasa tidak berubah.

Di usia senja sekarang 50 pohon saja sudah cukup jadi jaminan. Ayah dari dua putra dan dua cucu ini juga membudidaya pisang rajalawe. Pisang kondang dari Banjarnegara, buahnya panjang dan manis cocok dijadikan tanaman buah.

Dari jenis Euclyptus cocok untuk dataran tinggi seperti Dieng. Suharno juga membudidaya buah lain yakni jeruk keprok. Dia juga mengembangkan buah jambu air Deli Hijau. Segmen pasar yang dia target adalah mudah dijual, dan menghasilkan untung dibanding buah umum.

Burger Sehat Menjadikan Helga Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Helga Angelina Tjahjadi


burger vegan

Pengusaha muda harus memiliki impact di dalam bisnis. Burger sehat menjadikan Helga Angelina Tjahjadi masuk Forbes. Semua bermula dari kesehatan Anggi memburuk. Ia menderita penyakit yang kronis, dan bukan sebuah. Dia adalah penderita asma, eksim, dan sinus.

Usia 15 tahun, ia sempat mengalami gangguan liver dan ginjal. Dia mulai belajar mengenai nutrisi. Dari sanalah dia mengerti bahwa kita butuh makanan sehat. Akhirnya Angtgi memutuskan menjadi vegetarian. Dia beranjak dewasa mulai mempelajari makanan olahan sendiri.
 

Bisnis Burger Sehat


Dia masuk Fobes 30 Under 30 berkat bisnis ini. Bukan mudah dia membutuhkan perjalan panjang. Ia membutuhkan satu tahun sampai berdiri. Ide the Burgreens berjalan sembari menempuh kuliah di Belanda. Bisnisnya tersebut baru berjalan ketika pulang ke Indonesia.


Bisnis the Burgreens berdiri beranggotakan 5 orang. Helga mengajak empat teman SMA sepulannya ke tanah air. Kesulitan terbesar karena bisnis dijalankan lima orang. Mereka memiliki misi dan visi berbeda. Sisanya, mereka cuma dijalankan tiga orang, yakni Helga, suaminya, dan seorang teman.

Usaha vegertarian menjadikan dirinya pengusaha muda. Perjalanan menempanya apalagi dia tengah menawarkan produk asing. Burger inipun dirancang juga enak dikonsumsi semua. Walau dia memang peruntukan bagi mereka para vegetarian.

Sekali gayuh dua pulau terlampaui. Namun tidak semudah kalian bayangkan. Ia tetap bertahan karena ini bukan sekedar makanan. Burger vagetarian juga akan membantu alam lebih baik. Tidak cuma ia jualan, tetapi juga mempromosikan hidup sehat dan mengedukasi manfaat menjadi vegetarian.

Bukan hanya vegetarian tetapi 100% bahan organik. The Burgreens juga memakai peralatan restoran ramah lingkungaan. Sedotan digunakan disana menggunakan bahan bambu, plastik bahan singkong, dan alat makan kayu.

Restoran The Burgreens menawarkan konsep Burgreens Go to School dan Burgreens Go to Office. Ini menjangkau ribuan pembeli dari 60 sekolah dan lembaga. Bisnis ini berkembang menjadi usaha 70 orang.

Gerai mereka di Jakarta, ada di Plaza Indonesia, Pacific Place, Dharmawangsa, dan Pondok Indah.

"Max Mandias (suami) menjadi vegetarian sejak 2010. Kesamaan ini mendorong kami berkreasi menciptakan menu setiap hari," jelasnya.

Ternyata sang suami lah pemilik cita rasa enak tersebut. "Saya hanya bisa menikmati karena sampai sekarang saya tidak bisa masak," jelas Anggi. Keduanya saling mengisi dalam berbisnis. Helga akan memberi ide, sementara Max dengan bakatnya mengeksekusi dan hasilnya olahan menu variatif.

Pacaran Sambil Usaha Jualan Kerupuk Rajungan Crabby

Biografi Pengusaha Hella Ayu Setyaninda


usaha kerupuk rajungan
  
Inovasi bisnis harus dilakukan pengusaha muda kita. Pacaran sambil usaha jualan kerupuk rajungan. Nyatanya Hella dan Dani mampu membuktikan. Bahwa pacaran tidak selamanya merusak hidup kita di masa depan. Jalani gaya pacaran kamu dengan kegiatan lebih baik seperti usaha jualan kerupuk.

Pacaran sambil usaha jualan kerupuk. Kedua sejoli asal Semarang ini sudah dilakukan sejak SMA. Sejak 24 Agustus 2014 silam, sudah bertahun- tahun merintis usaha tetapi belum menemukan titik suksesnya. Apakah keduanya menyerah, justru mereka menikmati setiap usaha dijalankan.

Ide bisnis usaha jualan kerupuk rajungan karena kesempatan. Bahwa Semarang termasuk daerah yang menghasilkan rajungan. Sebagian besar tidak diolah melainkan di ekspor langsung.

Pengusaha Muda Sejak SMA

Keduanya berpacaran sejak SMA sudah berwirausaha. Kedua pengusaha muda ini mengambil para rajungan kecil. Pasalnya mereka tidak layak ekspor dan dibuang nelayan. Mereka juga mengingat seorang importir asal Amerika pernah berkata, "jangan cuma mengirim rajungan mentah saja, tapi perlu diolah juga."

Kerupuk mereka komposisinya tidak cuma daging, juga cangkang. Diolah sedemikian rupa hingga menjadi kerupuk. Sumber rajungan dari nelayan asal Mangkang Wetan, Semarang. Daging dan kulit mampu mereka olah hingga menjadi kerupuk.

Mendapatkan bahan baku termasuk gampang. Cara marketing mereka memanfaatkan sistem reseller. Mereka menarget ibu rumah tangga yang butuh tambahan. Kerupuk rajungan mereka hingga kini sudah berproduksi hingga lebih dari 200- 300 kg per- bulan.

Untuk awal mereka hanya beromzet 10 juta keatas. Tetapi belum beromzet sampai 50 juta. Produknya ada dua macam mentah dan matang. Ukuran produk mentah 250 gram, 500 gram, dan 1000 gram. Lalu produk kerupuk rajungan matang antara 80 gram sampai 100 gram.

Mereka menggunakan pasir untuk menggoreng. Tujuannya mengurangi koleterol pada kepiting.Di tahun 2016 jumlah reseller mencapai 100 orang. Mereka ingin mencoba ekspor tetapi ada kendala produksi. Kan kalau ekspor membutuhkan ribuan kilogram untuk diekspor ke luar negeri.

Kerupuk yang kemudian diberi nama Crabby dipasarkan ke berbagai daerah. Mereka menjual dari Jawa, Sumatra, dan Papua. Untuk reseller kabanyakan dari Jawa Tengah. Pasangan pengusaha muda ini mengikuti berbagai ajang wirausaha muda, seperti Wirausaha Muda Mandiri.

Merintis Wirausaha Jualan Kerupuk Rajungan

Lantas bagaimana wirausaha muda ini melanjutkan usahanya. Proses dilalui Hella Ayu Setyaninda memang tidak menghianati hasil. Gadis 21 tahun asal Kendal yang yakin bahwa kunci sukses satu usaha ialah keuangan. Kesehatan keuangan akan mendorong perusahaan berkembang dan bertahan.

Hella hanyalah gadis kelahiran Kaliwungu, Kendal, 10 April 1994 ini. Adalah mahasiswa Semester 7 Universitas PGRI Semarang. Yang mana peduli akan keadaan lingkungan kawasan Mangkang. Dia bersama beberapa teman bermodal cuma Rp.5 jutaan saja.

Sebenernya dia sudah berbisnis kerupuk rajungan sejak lama. Awalnya keprihatian orang tua teman yang membuang rajungan kecil. Ia lantas memutar otak bagaimana caranya ya. Dia tidak mau tinggal diam. Akhirnya Hella memutuskan menjadikan itu kerupuk rajungan saja.

Awalnya kerupuk dibuat terlalu tebal potongannya. Akhirnya dia mengkonsumsi sendiri deh kerupuk tersebut. "Tapi saya terus penasaran, karena kerupuk rajungan masih langka," tuturnya. Sulung dari tiga bersaudara ini kemudian melanjutkan usaha jualan kerupuk rajungan.

Butuh waktu hingga dia mencapai titik sukses sekarang. Banyak pengembangan Hella lakukan agar sesuai trend. Butuh waktu sampai masyarakat sadar bahwa ini bukan kerupuk biasa. Harga jual dari kerupuk rajungan memang diatas rata- rata.

Agak mahal jadi membutuhkan waktu memasarkan. Ukuran 100 gram saja dijual lumayan mahal yakni Rp.55 ribuan. Usahanya dijalankan di kawasan Mangkang, Semarang. Perbulan Hella mampu memproduksi 100 kantung dan terjual habis.

Respon konsumen bagus dijual sampai Batam, Bali, dan Kalimantan. Dia termasuk wirausaha yang super mandiri. Pasalnya Hella tetap bertahan tanpa meminjam ke Bank. Sebenarnya sudah banyak Bank yang datang menawari. Melihat perkembangan bisnsi kerupuk Crabby, ia optimis mampu tanpa hutang.

"Saya sejak awal enggan berhutang ke Bank, meski banyak yang menawari," ujar Hella.

Kemampuan menjaga kesehatan keuangan dibutuhkan. Memutar uang menjadi modal kembali tanpa menghentikan pertumbuhan. Ia mengatakan bahwa "Tidak apa- apa jika harus ngirit dulu, saya yakin hasilnya segera menyusul."

Dari gaji pegawai, pengadaan, dan biaya oprasional dibuat sedemikian rupa. Yang dinilai bukanlah keuntungan dan modal, tetapi kemampuan mengoprasikan keuangan. "Sebagai pengusaha pemula saya bisa mengurus keuangan tanpa masalah."

Bisnis Ekspor Tepung Singkong Pengusaha Muda

Profil Pengusaha Annisa Pratiwi


pengusaha muda eksportir tepung
 
Umurnya baru 28 tahun tetapi sudah memiliki bisnis ekspor. Pengusaha muda  ekpor tepung singkong ke berbagai negara. Lalu bagaimana sih caranya Annisa Pratiwi memulai. Bukan hanya tepung dia sebenernya mengolah berbagai produk berbahan utama tepung.

Tidak cuma bahan singkong, Annisa juga membuat aneka olahan mie dari sayuran dan lain- lain. Dibutuhkan riset yang lumayan lama hingga sekarang. Dia mengaku butuh waktu hingga menemukan takaran yang pas.
 
Pengusaha muda 28 tahun lulusan Universitas Airlangga. Asal Pasuruan, dia dan suami mendirikan pabrik pengolahan tepung bernama Ladang Lima di 2012. Produk sehat yang bisa menjadi alternatif kebutuhan karbohidrat. Tepung singkong cocok dijadikan aneka kue ataupun mie pengganti gandum.


Rahasia Pengusaha Muda


Dia memasarkan produk Rp.25.000 per- kg. Omzetnya dalam tiga tahun sudah mencapai Rp.80 juta dan Rp.100 juta. Produk tepung singkong Annisa sudah tersebar di seluruh Indonesia. Mereka juga sudah mengeskpor sampai Singapura, Hong Kong dan Amerika Serikat.

Taukah kamu bahwa tepung gandum dan terigu itu berat. Pencernaan akan bekerja tiga kali agar bisa mencerna. Hasilnya tubuh akan menyimpan menjadi berat badan. Inilah yang kita sebut gluten atau zat pengikat. Agar terhindar dari kegemukan dibutuhkan gluten- free, nah apakah solusi untuk itu?

Tepung singkong memiliki sifat gluten free. Tetapi juga memiliki sifat seperti tepung terigu ataupun gandum. Jadinya kita bisa mengolahnya menjadi mie ataupun roti. Awal bisnis Annisa tidak mudah karena awam. Dia meriset sendiri apasih tepung gluten free dapat dikembangkan di Indonesia.

Terus bagaimana cara mengolah singkong. Nisa berburu singkong sampai ke pelosok desa. Sekalinya bisa membuat tepung dia harus memikirkan penjualan. Dipakainya pameran bisnis di Surabaya, dan hasilnya menggaet konsumen besar, yakni ibu- ibu beranak kebutuhan khusus.

Mereka butuh tepung buatan Nisa tersebut. Menurut ibu tersebut, dia harus siap membeli sampai ke Australia karena di Indonesia susah. "Saya sangat senang kerena kini beliau membeli tepung buatan saya," ujar pengusaha muda ini.
 
 Inovasi produk meliputi produk turunan dikembangkan. Agar tidak jenuh dibuat variasi rasa yang bisa dipilih. Ada basil dan garlic, coffee, ginger atau jahe, cheese, dan green tea. "Rasanya enak, tapi tetap sehat," ia menjelaskan. Konsumen terbanyak malah berasal dari luar Surabaya dan Pasuruan.

Ia menjelaskan lebih mudah menjual keluar. Tidak perlu mengedukasi karena masyarakat sudah tau. Ia mampu menjual lebih banyak. Tetapi tersebar karena pesaing lebih banyak juga loh. Ongkos kirim yang mahal menjadi kendala. Biaya kirim masing- masing memberatkan dia dan konsumen sendiri.

Sekarang dia memproduksi tepung gluten 20 ton perhari. Dia tidak menjual eceran. Dijualnya ke pasar swalayan dan toko pemasok di Surabaya, Jakarta, dan Bali. Dalam perkembangannya dia juga punya reseller di luar negeri. Bisnis ekspor tepung Singkong banyak order di luar negeri tidak lokal.

Gimana agar jualan laku diterima konsumen. Nisa mengembangkan kemasan sendiri. Agar bisa bikin orang tertarik setiap kemasan ada resep. Dia juga memasarkan melalui brosur dan media sosial. Dia dan Ladang Lima juga mengeduksi konsumen tentang tepung gluten.

Dia mengedukasi seperti menceritakan pengalaman konsumen. Seorang anak yang terlambat bicara, sejak konsumsi tepung ini anaknya sudah mulai bicara. Ada anak yang alergi tepung gluten, dan ketika mengkonsumsi tepung gluten free ini, tidak lagi mengeluarkan cairan dari hidunya.

Terget mendatang ialah sertifikat ISO internasional. Dimaksud untuk makin mempermudah ekspor ke luar negeri. "Saya ingin menjadi salah satu produksen yang ekspor tepung asli Indonesia rutin," ia menjelaskan.

Ia bekerja bersama suaminya, Raka, dan berbagi tugas bisnis. Nisa bertugas dalam hal pemasaran ke konsumen. Sedangkan Raka bertugas dalam hal produksi produk. "Sering beda pendapat. Tetapi selalu dipecahkan dan tidak sampai terbawa urusan keluarga," ia menambahkan.

Biografi Abdul Latief Pendiri HIPMI Pengusaha

Biografi Pengusaha Abdul Latief


abdul latief

Biografi Abdul Latief, ayah dari pengusaha Dipo Latief dan pendiri HIPMI, kelahiran 27 April 1940, Kampung Baru, Banda Aceh. Sosok anak ke enam dari sembilan bersaudara, yang hidup di jaman perjuangan masih penjajahan.

Abdul kecil telah melihat ayahnya berdagang lama. Dua puluh tahun merantau, ayahnya pergi dari tanah Minang, lalu menetap di Aceh sambil berdagang. Umur empat tahun, Abdul Latief ditinggal oleh sang ayah, padahan suasana tengah memanas secara keamanan dan politik.

Hari- hari merupakan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Masyarakat Aceh tengah berjuang sementara dia masih kecil. Ibunya merawat anak- anaknya sendirian dengan keadaan seadanya. Dari jaman penuh pergolakan secara sosial- politik, membawa sosok Abdul kecil bercita- cita jadi politisi.

Masa Muda Bergelora


Namun ibunya sudah mengarahkan Abdul Latif menjadi pengusaha. Ingin menjadikannya pedagang besar tingkat nasional. Ibunya kemudian mewujudkan mimpinya melalui merantau. Dia telah menjadi pejuang hebat, membawa semua anaknya ke Jakarta, demi mendapatkan hidup lebih baik di 1950.

Kehidupan remaja Abdul dekat dengan kehidupan remaja Betawi. Tidak banyak dikisahkan tetapi dia mampu sekolah menengah. Dia melanjutkan pendidikan di APP kemudian masuk Sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Krisnadwipayana, Jakarta.

Tahun 1945 dan 1966, suasana politik kacau balau, demonstran bergerak memenuhi jalan raya sampai bakar- bakar. Tampak sosok Abdul Latief nampak membagikan makanan ke para pendemo. Dalam suasana kacau tersebut ia malah mendapatkan pekerjaan.

Dia belajar mengenai manajemen toserba dan supermarket di Seibu Group, Tokyo. Sepulangnya dari Jepang, Abdul menikahi Nursiah, gadis tetangga yang di Jakarta pada tahun 1967.

Abdul lulusan Akademi Pemimpin Perusahaan (APP), Jakarta. Pada 1963, dia meraih cumlaud dan mendapatkan tawaran kerja di Stanvac di Sungai Gerong. Perusahaan perminyakan asing yang telah menjanjikan gaji menarik dan karir menjanjikan.

Akan tetapi, gurunya di APP menyarankan lain, disuruhnya dia bekerja di Pasar Sarinah. Perusahaan pasar swalayan milik pemerintah tersebut dianggap lebih menjanjikan. Mungkin bagi pandangan kita yang sekarang tentu terbalik.

Tetapi Abdul setuju mengembangkan toko serba ada terbesar pertama yang ada di Indonesia. Anjuran sang guru belum nampak hingga perjalanan panjang. Abdul bertugas melakukan perencanaan. Dari sini, dia malah diajak belajar bahkan sampai keliling luar negeri, diminta pelajari iklim usaha negara- negara lain.

Dia berangkat ke Singapura, Jepang, Eropa, dan hingga Amerika. Berjalannya waktu dia mempelajari banyak hal mengenai perdagangan. Kemudian berselang beberapa waktu, Abdul Latief diangkan menjadi Pimpinan Promosi Penjualan dan Pengembangan PT. Department Store Indonesia Sarinah.

Banyak dia menimba pengalaman dan pengetahuan. Berkat bekerja di Sarinah, dia menjalin relasi bisnis kuat diantara pemain dalam negeri maupun luar negeri, dalam delapan tahun semua pekerjaan telah dilalui. Dia mampu menyelesaikan tantangan demi tantangan masa depan.

Abdul mampu membawa Sarinah menghadapi persaingan masa depan. Dalam biografi Abdul Latief, mendapatkan perhatian pimpinan Sarinah, itu berkat kemampuan mengaplikasikan konsep Jepang ke dalam negeri. Inilah cikal dirinya disekolahkan sampai ke Jepang demi mempelajari pasar swalayan.

Pulang dari Jepang seperti dikisahkan di atas, menikah dan sudah memiliki karir mapan, membawa pulang uang dan mobil. Relasi bisnisnya begitu luas terbesar diluar dan dalam negeri. Inilah cikal- bakal dirinya mapan mendirikan perusahaan sendiri.

Di tahun 1971, pengusaha konglomerat properti ini memulai usaha kecil- kecilan di bidang ekspor- impor.  Uang hasil keuntungan digunakan mebeli tanah luas temannya. Kebetulan dia tengah butuh uang. Di tahun yang sama, ia mulai menjaminkan tanah- tanah untuk mendapatkan kredit bank.

Total dia mendapatkan uang Rp.30 juta diperoleh dari BDN. Uang kemudian diputar buat menambah modal maka jadilah PT. Latief Marda Corporation, yang bergerak di bidang ekspor- impor. Dia tidak sendiri tetapi dibantu adiknya, Abdul Muthalib, bersama mengembangkan usaha ini.

Pengusaha satu ini getol membeli tanah sebagai investasi jangka panjang. Keberhasilan pertamanya ialah ketika menjual tanah sangat mahal di jalan Jakarta By Pass. Uang sangat banyak itu digunakan demi membangun PT. Indonesia Product Centre Sarinah Jaya.

Ya, nama tersebut memang didedikasikan buat tempat awal bekerja, perusahaanya itu juga di bidang sama yakni pasar swalayan. Nama tersebut begitu historis sampai kebawa sampai sukses sekarang. Ia mondar- mandir Jakarta dan Singapura.

Dari bisnis eskpor- impor kemudian mengembangan properti mandiri. Ia bukan lagi juragan tanah tapi mengembangkan bangunan. Proses bisnis panjang menghasilkan pundi- pundi rupiah. Abdul memilih menginvestasikan kembali melalui Pasaraya di Blok M.

Pasaraya Blok M menjadi salah satu gedung mentereng di tahun 1981. Ini mengukuhkan dirinya menjadi pengusaha, pedagang, yang patut diperhitungkan. Berkembang dia mampu mendapatkan julukan konglomerat -istilah yang tidak disukainya- , namun itulah dia mampu tumbuh menggeluti usaha dagang.

Pilihan Tepat


Tiap kesuksesan merupakan buah pilihan dahulu kita geluti. Abdul tidak salah ketika menerima kerja di perusahaan milik negara. Alhasil dia menjadi sosok kesayangan pemerintah ketika masa tersebut. Ia dihormati pemerintah karena meningkatkan ekonomi masyarakat Indonesia.

Sang pengusaha mampu menggairahkan usaha ritel ketika masa awal. Ia mampu memberikan banyak pekerjaan bagi anak muda. Keaktifan di HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia), membuat Abdul Latief mendorong lebih banyak anak muda, ini menjadi salah satu penyaluran kesukaannya akan organisasi.

Dia nampak segar dan sehat ketika menjadi pengusaha sukses. Pakaiannya trendi, gemar olah raga, dan selalu bersemangat menarik perhatian. Ia memiliki idealisme tersendiri mengenai membangun bangsa. Kesukaan akan berogranisasi disalurkan melalui organisasi himpunan para pengusaha ini.

Penampilan bugar dan nampak lebih muda daripada umur sebenarnya. Dia mampu menarik perhatian menjalin jaringan baru. Dikenal pula ia lihai bernegosisasi hingga mendapatkan mitra bisnis strategis. Dengan sifat profesional dan dedikasi membuatnya dipercaya oleh banyak orang.

Bahkan, rekan bisnis luar negeri sangat mengingat dirinya, walau jalinan kerja sama telah berhenti atau belum terealisasi. Orang mudah mengenal dia sebagai sosok pengusaha kawakan. Dirinya bisa dibilang menjadi penarik, sehingga organisasi HIPMI sangat digandrungi anak muda, untuk menjadi pengusaha muda.

Banyak diantara mereka anak pejabat dan pejabat. HIPMI dikenal menjadi wadahnya para prefesional dibidang kewirausahaan. Ia selalu terlibat menjadi pembicara atau diskusi tentang generasi muda. Dia dianggap memiliki pandangan luas, gesit bergerak, dan memiliki pemikiran jauh ke depan.

Alkisah dia berkisah kepada peserta acara diskusi, bahwa pernah barang kelontong di pasar swalayan miliknya seret. Tidak laku- laku sampai terjual begitu lama. Banyak pengunjung tetapi jualannya malah tidak tumbuh. Dia kemudian menceritakan strategi apa yang akan kamu mungkin ambil.

Pertama Abdul mengamati langsung dan mempelajari data angka datang. Ia berkesimpulan bahwa daya beli masyarakat rendah. Bahwa dibutuhkan gerakan meniakan pendapatan masyarakat. Inilah cikal lahirnya HIPMI, dimana dia menjadi pendirinya pada 1979, demi bisa menaikan ekonomi masyarakat.

Dia menggalang para pengusaha baru terlahir. Abdul Latief menjadi ketua umum pertama organisasi anak muda tersebut. Para anggota HIPMI didorong membangun usaha, demi menarik produksi dan pendapatan masyarakat. Abdul pun membantu mereka untuk menjual barangnya di pasar swalayan miliknya.

Ia juga mendorong ekspor alih- alih bertahan. Tidak perlu bergantung kepada daya beli masyarakat. Ekspor meningkat berarti membantu pemerintah mengelola ekonomi. Hasilnya daya beli masyarakat ikut naik melalui aneka kebijakan stimulus.

Pengusaha konglomerat ini melihat bahwa usaha kecil merupakan landasan. Mereka menopang daya beli masyarakat bawah. Ketika pengusaha lain berbondong melirik industri berat. Abdul Latief fokus meningkatakan ekonomi kerakyatan.

Ia dipercaya menjadi Ketua Kompertemen Perdagangan dan Koperasi KADIN masa 1979- 1982. Dia menjadi sosok yang menyadari kesenjangan diantara pengusaha. Semenjak ia menduduki puncak kepimpinan Pasar Sarinah memang sudah nampak berbeda.

Dia telah terlihat menjadi sosok yang peduli akan ekonomi masyarakat. Mampu membangkitkan pendapatan pasar swalayan berkat kerja sama. Abdul memilih merangkul usaha kecil- menengah dalam naungan usaha miliknya.

Ia empat dianugrahi gelar "Pahlawan pengusaha kerajinan rakyat Indonesia". Namanya juga dilirik Ir. Ganjar Kartasasmita, Menteri Muda urusan peningkatan penggunaan produk dalam negeri. Abdul digayang menaikan produksi dalam negeri, sekaligus membumikan produk tersebut ke khalayak ramai.

Pada akhir tahun 1984, Pasar Sarinah Jaya kepunyaanya di Blok M terbakar. Inilah cobaan pertama bagi Abdul sebagai pengusaha berpengalaman. Kerugian dialaminya mencapai ratusan miliar rupiah, kehilangan puluhan ribu pengunjung, dimana gedung hangus harus diperbaiki total segera.

Pasar swalayan berhenti total menyisakan 2000 usaha kecil suplier tanpa arah. Dia juga berhadapan dengan pilihan bagi kurang lebih 1.200 karyawan. Alih- alih dia memberhentikan mereka semua, malah disuruh belajar kembali dari manajemen, bahasa Inggris, dan accounting.

Ia bahkan merogoh kocek mendatangkan pelatih dari Singapura dan Hong Kong. Disisi lain pilihan buat bertahan menyisakan harapan. Bahwa pihak asuransi mau menanggung sebagian kerugian dari kebakaran.

Bantuan datang dari rekan, teman- temannya, juga dari pemerintah dan pihak swasta dikenal. Ini menjadi titik terang bagi Abdul membangun kembali. Kerugian puluhan miliar bertahap menghilang dari pikirannya. Dia menyusun kembali jalan- jalan bisnis yang sudah sempat terputus.

Bisnis Ritel Indonesia


Disana, di atas bekas gedung tersebut terbakar, berdirilah megahnya Pasaraya Sarinah lebih daripada dahulu. Bangunan sembilan lantai seluas 42.000 meter. Pengunjung pasar ini sampai 100.000 orang perharinya. Total 40% dari pengunjung merupakan pembeli rutin datang berbelanja.

Pertahun penjualan naik menambah modal Abdul berekspansi. Berdirilah Alatief Corporation dengan banyak rekanan perusahaan kecil. Mereka dibimbing dan diajak kerja sama dalam naungan. Dan tidak hanya ritel, usahanya juga merambah properti dan bisnis- bisnis lain.

Gedung Sarinah Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, telah menjadi tempat ikonik dengan banyak toko berderet. Dari pagi sampai malam, dalam gedung bertingkat sembilan tersebut, ada segala macam pakaian trendi, barang elektronik, dan macam- macam kerajinan.

Gedung bernilai Rp.200 miliar tersebut menaungi usaha- usaha kecil. Dia pun menyayangkan berdiri banyak toko modern tanpa sensitifitas. Mereka lebih senang menjual produk- produk ekspor. Para pengusaha bermodal besar bahkan membawa pasarswalayan asing seperti SOGO, asal Jepang.

Dia sempat memprotes karena otomatis mematikan usaha lokal. Mereka memangsa pasar tradisional dan mematikan bisnis eceran. Bayangkan SOGO, saat itu, bukannya memajukan produk dalam negeri malah membawa 805 produk impor.

Pasaraya Sarinah sendiri merupakan konsep berbisnis tanpa meninggalkan. Abdul mendirikan tempat ini diatas lahan luas Blok M. Dimana namanya belum seramai sekarang, hingga Pasaraya Sarinah menggaet lebih banyak, lambat laun terisilah kapling- kapling sekitaran Sarinah Blok M sendiri.

Memang bila memasukan barang ke pasarswalayan modern menjanjikan. Namun apakah sanggup, belum lagi pemilik gedung memiliki modal besar, mereka lebih memilih mematikan usaha kecil di sekitaran mereka. Mereka tidak mempedulikan produk apa, siapa, dipajang tetapi berapa banyak akan terjual.

Pasaraya Sarinah lebih memilih mendorong usaha kecil berkembang. Mulai dari model baju, yang mana dikembangkan desainnya, bahkan seperti model di negara- negara mode seperti Prancis. Ini tidak sulit karena dia memiliki kesenangan akan mode pakaian.

Bila supermarket lain mementingkan produk terstandarisasi bahkan impor. Maka Pasaraya Sarinah mengedepankan produk kreatif. Dibutuhkan staretegi khusus biar pembeli tidak merasa bosan. Abdul menginstrusikan melakukan aneka inovasi.

Biasanya toko- toko nampak monoton direnovasi nampak lebih menarik. Imajinasi digunakan buat mendesain ruangan toko lebih menarik. Pedagang juga harus kreatif menyusuk barang- barang. Dia menekankan budaya dalam penjualan dan pembuatan produk juga.

Selain berbisnis pasar swalayan, Abdul Latief merambah budidaya benur di Bulikumba, Sulawesi Utara. Usaha ini menghasilkan benur 100 juta pertahun. Ia lalu membuka tambak udang dengan luas 120 hektar menghasilkan 4 ton perhektar.

Usaha agro yang mampu panen dua sampai tiga kali dalam setahun. Abdul Latief juga mengelola usaha asuransi, perkebunan, penerbitan buku, jasa periklanan, dan lain- lain. Spesifik ia tertarik buat membangun bisnis pendidikan untuk membangun manusia.

Ia pernah tercatat menjadi Direktur Akedemi Pimpinan Perusahaan Department Perindustrian. Juga kemudian mendirikan Politeknik, yang mana dibawah Yayasan Abdul Latief dan diketuai dirinya sendiri. Abdul Latief sang pendiri HIPMI selalu nampak bugar walaupun telah setengah abad.

Dia masih sering disebut sebagai pengusaha muda. Penampilannya masih menarik, modis, dan trendi mengikuti perkembangan jaman. Demi kesehatan dia melakukan general cek up dua kali setahun, main golf, joging, senam, dan olah raga pagi.

Wirausaha Budidaya Ikan Penghasilan Miliaran Rupiah

Profil Pengusaha Sukses Bowo Purwanto


wirausaha budidaya ikan
 
Siapa sangat berbisnis sederhana hasilkan begitu banyak duit. Wirausaha budidaya ikan penghasilan miliaran rupiah. Budidaya ikan air tawar oleh Kelompok Tani Ikan Mina Jaya, dari Dusun Kaliwaru, Kalasan, Kabupaten Sleman Yogyakarta.

Mereka mampu menghasilkan Rp.8 miliar rupiah. Hanya berbekal membudidaya ikan air tawar, yang pembenihannya semakin maju. Aneka ikan air tawar seperti bawal, lele, gurame, ikan mas dan koi. Ia, Bowo Purwanto, selaku ketua kelompok tani mempunyai 56 orang aggota.

Dari kolam seluas 15 hektar, menyebutkan omzetnya bisa saja naik berlipat, jika semua sudah jadi terintegrasikan.

Usaha mereka meliputi pembenihan, pendederan, pembesaran, dan pemasaran. Usaha hulu sampai hilir dikuasai mereka. Ya, tidak meragukan, wirausaha budidaya ikan penghasilan miliaran rupiah. Bowo melanjutkan, mereka juga mengadakan pelatihan sebagai wujud berbagi ilmu.

Dibawah Kementrian Perikanan, Mina Jaya merupakan bagian dari Unit Pembenihan Rakyat (UPR), Kelompok Pembudidayaan Ikan (Pokdakan), Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP), dan Asosiasi Pemasaran Ikan Yogyakarta (Aspray).

Diakui masalah utama usaha ini ialah pada pakan ikan. Masing- masing anggota belum mendapatkan stok pakan mencukupi. Pihaknya sendiri baru mampu mensuplai 50 persen pakan untuk anggota. Ia menjelaskan menjual benih ikan, dan menjual sampai ke Lampung dan Kalimantan.

Penjualan benih bawal yang paling banyak dibanding lain. "Yang paling tinggi permintaanya adalah ikan bawal untuk yang lainnya biasa- biasa saja." Jadi apakah kamu mau menjadi budidaya ikan air tawar?

Desain Produk Pengusaha Bambu Harry Anugrah

Profil Pengusaha Harry Anugrah Mawardi


mahasiswa itb pengusaha

Terbukti banyak lulusan ITB menjadi wirausahawan sukses. Salah satunya pengusaha bambu, Harry Anugrah, yang menekankan desain produk modern. Mahasiswa lulusan Institut Teknologi Bandung, 2009 silam, yang mengambil jurusan Desain Produk Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Berkat kurikulum ITB memupuk para calon pengusaha maji. Kini, berkat program kewirausahaan ITB, Harry menjadi eksportir bambu ke Jepang. Berawal dari kegiatan mata kuliah. Bersama- sama beberapa dosen ITB, mereka mengajak mahasiwa untuk aktif mengamati kerajinan tradisional.

Produk Bambu Berkualitas

 
Mereka diharapkan mengamati dan mengembangkan sproduk baru. Harry dan kawan- kawan sedang bersama pengrajin bambu asal Garut, Jawa Barat. Bagaimana  kerajinan bambu tradisional jadi lebih bernilai. Berbekal coretan pena di kertas, para Dosen berharap mahasiswanya menemukan celah itu.

Harry didoktrin untuk merubah bambu menjadi produk tidak biasa. Jika biasanya bambu menjadi pagar rumah, atau bambu dipotong jadi tusuk sate. Ditangan anak muda bambu harus diubah menjadi hiasan mentereng kafe- kafe, atau dijadikan aksesoris eksotis wanita yang cantik.

Bersama mereka menghasilkan laporan penelitian. Sejumlah sentra bambu dikunjungi, dijajaki, hanya saja cuma menghasilkan makalah, jurnal, atau poster ilmiah. Tidak pernah menghasilkan keuntungan langsung kepada pengrajin bambu.

Itulah kenapa Harry berpikir ulang tentang kunjungan itu. Ada perasaan tidak puas tentang hasil yang mereka dapatkan. Dia memandang bambu memiliki potensi besar global. Pengrajin bambu sekarang cuma menghasilkan produk seadanya, dari segi desain ataupun fungsi, jadi dihargai murah.

Dia lalu membangun Amygdala Bamboo di tahun 2013. Bisnis tersebut cuma dimodali 1 juta rupiah dari kantong pribadi. Harry tidak sendirian membangun bisnis. Dia lalu mengajak pengrajin bambu, Utang Mamad, 45 tahun, asal Kampung Ciloa, Desa Mekarsari, Kecamatan Slaawi, Kabupaten Garut.

Harry meyakini usaha ini lebih bermanfaat, dibanding cuma lembaran kertas laporan. Memang di daerah bernama Slawi, sudah dikenal menjadi sentra bambu. Dia melihat disana ada potensi. Hingga akhirnya mengajak satu pengrajin untuk mewujudkan gagasannya.

Terdengar seperti mimpi ketika produknya menjual hingga Jepang.

"Saya mencoba memasarkan sendiri dari desain- desain tersebut," ia menjelaskan.

Produk yang awalnya prabotan rumah tangga dan sangkar burung. Harry bikin lebih kreatif dari segi desain hingga membuat produk baru. Bahannya murah banyak tersedia di daerah tersebut. Tinggal butuh didesain ulang. Di tahun 2014 Amygdala Bamboo mengembangkan tiga brand dibawahnya.

Berawal dari keaktifan dirinya dalam perkuliahan. Mata kuliah itu membawa dirinya menjadi sosok pengembang desain baru. Melihat potensi bambu menurutnya memiliki potensi global. Dia mulai mendesain aneka produk bambu sendiri.

"...pengrajin tidak memiliki akses dan wawasan tepat untuk itu," tuturnya.

Keinginan menjadikan kerajinan tradisional menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dia ingin menjadi contoh bagi desainer lainnya. Bahwa kuliah desain harus menjadi manfaat bagi orang lain. Kenapa harus bekerja untuk perusahaan lain. Jika kamu bisa membuat perusahaan kamu sendiri mewujudkan idealisme mu.

Antara pengrajin desa yang diwakili Bapak Utang. Pengrajin kota yang diwakili dirinya. Bagaimana menggabungkan dua desain menjadi kesatuan. Bagaimana mengadaptasi nilai tradisional demi bisa memenuhi kebutuhan pasar global. Utang berhasil membuat puluhan produk, harganya mulai Rp.50- Rp.2,2 juta.

Amygdala memberikan produk handmade. Juga emberikan solusi modern agar kecepatan produksi. Peralatan modern mendukung produk handmade ini. Meskipun memakai perlatan tanpa melepaskan sentuhan tangan dan teknik handmade khusus.

Per- bulan para pengrajin mampu memproduksi sampai 100 buah. Pola kerja bisnisnya adalah pola kemitraan. Tidak hanya mempekerjakan pengrajian. Harry mencoba memberikan wawasan kepada pengrajin juga. Tugasnya memastikan pengrajin meningkat dalam kesejahteraan mereka.

Ada lima hingga tujuh orang pengrajin bergabung. Jumlah akan tersebut terus meningkat. Bersamaan dengan jumlah pesanan meningkat. Permintaan meningkat didukung desain berkualitas. Memang ada kecenderungan meningkat. Pasar tertarik akan bahan alami yang dianggap mudah dibudidayakan ini.

Potensi Bisnis Kerajinan Bambu


Harry mencoba menangkap kebutuhan pasar. Meskipun sukses banyak pesanan belum terorganisir baik. Pasalnya kecepatan produksi tidak sejalan permintaan pasar. Belum lagi kalau bicara kebutuhan custom. Hingga ia melakukan segala inovasi memaksimalkan produksi.

Peralatan produksi sudah dimodifikasi. Jangka pendek mulai mempercepat proses produksi. Ini bukan perkara gampang bisnis ini tidak langsung bisa cepat. Dia membutuhkan waktu memperkenalkan produknya. Dia membuat promosi sejak 2014 silam.

Perkembangan pesat ketika media cetak, televisi, majalah, radio, ikut memberitakan kisah Hary. Dia memanfaatkan ini sebagai media promosi. Ia sekalian memamerkan desainnya. Menampilkan foto produk yang dibuat. Penjualan Amygdala melalui instagram dan penjualan kolektif lewat web.

"...kami bekerja sama dengan furnislab.com," unggahnya.

Marketing itu meningkatkan kesadaran orang atas produk buatannya. Keuntungan banyak didapat dari Instagram. Penjualan partai besar dipesan untuk kebutuhan kafe dan restoran. Penjualan selain dari Instagram juga punya blog sendiri, yakni amygdalaid.wordpress.com.

Bisnisnya viral dari mulut ke mulut. Penetrasi bisnisnya cepat melalui internet. Kemudahan internet memberikan kecepatan menjangkau wilayah terdalam. Bisnis tanpa bertemu tatap muka, berbekal brand yang sudah dikenal membuatnya mudah menjual meski barang tidak dipegang langsung.

Mendapatkan sorotan media, membuat bisnis Amygda berkembang pesat hingga meyakinkan bahwa produknya berkualitas. Dia tidak mau setengah- setengah berbisnis bambu. Pengusaha muda satu ini mulai mengembangkan berbagai strategi bisnis.
 
Meyakinkan bahwa mereka menjadi terdepan dalam produk bambu. Bisnis mereka sukses juga termasuk aktif mengikuti kompetisi. Amygdala telah mengembangkan sistem produk mereka sendiri. Ini berkat kreatifitas Hary menciptakan sistem crowd sourcing bisnis kerajinan.

Menjaring lebih banyak pengrajin bambu diluar daerah tempatnya beroprasi. Berbagai jenis produk lalu dikembangkan. Tidak terbatas pada produk tertentu. Workshopnya tidak lagi jadi cuma tempat produksi. Tetapi dirubah menjadi tempat menyimpan produk.

Disini menjadi tempatnya transit produk, diperiksa kualitas dulu, lalu barulah dipasarkan hingga jika produk dijual berkualitas. Membangun jejaringan menjadi andalan marketing Amygda. Visi dari Hary menjadi produk "Most wanted bamboo product in Indonesia".

Meraup Omzet dari Koneksi


Koneksinya meraup hampir semua pengrajin bambu di Jawa Barat. Dia rajin mengikutkan produknya ke pameran- pameran besar, seperti Trade Expo, Inacraft, IFEX, dan Crafina. Menggunakan strategi titip berjualan di situs. Ini mengurangi biaya promosi karena promosi sudah ada yang mengurusi.

Hary tinggal mengeluarkan biaya ke situs tersebut, timbal baliknya pemili situs itu mempromosikan produk Amygda. Marketing 500 ribu dikeluarkan Hary. Terbaru mengambil endorsing dari ilustrator Rukmanul Hakim, komikus Tika Larasati, hingga peneliti Jessica Milla.

Strategi ini dianggap berhasil membawa lebih banyak pesanan. Omzet kini telah mencapai kisaran ratusan juta rupiah. Sebenarnya orang Indonesia sangat pandai membuat kerajinan tangan. Buktinya ada orang Jepang menantangnya membuat sesuatu.

Orang Jepang tersebut menantang membuat sarung bantal bambu. Ketika produk itu jadi, orang Jepang itu kaget karena di China atau Vietnam tidak ada yang seperti itu.

"Ketika mesin tidak sanggup melakukan pekerjaan sesuai diinginkan mereka berhenti," ujar Hary

Berbekal satu mesin gerindra saja. Pak Utang mampu menciptakan karya- karya menakjubkan. Dia mampu mengikuti desain Hary. Padahal jika dilihat dari contoh di Instagram mereka. Desain yang ditampilkan merupakan desain modern.

Anugrah Jawara Wirausaha Sosial Bandung (AJWS) memberikan Hary penghargaan. Kriteria mereka adalah pengusaha yang mampu memberikan dampak sosial, memiliki model, mampu bekelanjutan bisnisnya, dan pasar.

Awal Kecamatan Slaawi lesu. Pengrajin tidak aktif berproduksi. Mereka merasa hasil kerajinan tidak memberi penghidupan. Mereka lebih memilih beralih menjadi buruh pabrik. Mereka lebih memilih pergi ke kota- kota besar. Utang kini membuktikan pengrajin mampu menghidupi lewat kreatifitas.

Pengusaha bambu Harry Anugrah semakin gemilang. Desain produk bervariatif disesuaikan dengan pemesanan. Ia membuktikan desainer tidak semata soal digital. Kamu tidak lagi berpatokan seorang desainer harus membuat fashion. Kerajinan kriya seperti inipun mampu menghasilkan ratusan juta.

Anak Medan Jadi Pengusaha Es Krim Salak

Profil Pengusaha Germadana Irza

 
anakmedan.png
 
Anak Medan jadi pengusaha es krim selak. Dia sudah berbisnis semenjak 2015. Namanya adalah Germadana Irza. Selain karena bisnisnya unik, tetapi juga ada satu fakta bahwa dia sendiri masih kuliah. 
 
Pengusaha muda yang masih duduk di bangku kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri, Universitas Sumatra Utara (Sumut). Meski memulai bisnis ketika ia masih berkuliah omzetnya menembus angka 20 juta. Idenya itu ada ketika melihat bagaimana salak begitu berlimpah.

Pengusaha Es Krim Salak

 
Disisi lain harga salak Padang Sidempuan tersebut tak laku diolah sehingga harganya murah. Loh, bukannya kalo murah justru harusnya laris diborong? Kenyataanya baru sedikit yang memanfaatkan ini sebagai bahan baku olahan. 
 
Selama ini, di Medan, variasi cemilan salak masih itu- itu saja dan sudah banyak ada di kawasan lain; sebut saja ada keripik salak, manisan salak, dodol salak, keripik salak, kurama salak dan lain sebagainya. Selain itu pamornya kalah dengan salak pondok.dll.

Oleh karena itulah muncul ide membuat olahan yang berbeda. Bersama seorang kawan Alyefi Asrar, diolah lah salak menjadi makanan es krim. Ya, salak- salak itu diolahnya jadi ice krim lezat. 
 
Ditemui oleh Medan Bisnis Daily, di tempatnya JL. Abdul Hakim, Gema begitu sapaan akrabnya, menyebutkan bahwa bisnisnya bermodal sebuah proposal. Kedua mahasiswa itu cuma bermodal proposal Dikti untuk lolos sebuah seleksi. 
 
Mereka coba- coba masuk sebuah program kewirausahaan di 2011. Menang bermodal proposal menghasilkan uang Rp.6 juta. Hadiah itulah yang digunakan untuk mengaplikasikan apa yang cuma tertulis. 
 
Usaha baru dibuka dipertengahan 2012, karena tak cukup modal, pada tahun itu mereka mengikuti lomba kembali dan menang. Mereka mendapatkan uang modal lagi dari Bank Mandiri. Uang tambahan sebesar 8 juta sudah ditangan mereka ketika memanangkan lomba tersebut. 
 
Sebelum masuk lomba kembali, Gema telah mencoba- coba dulu produk prototipe -nya. Ada beberapa kali gagal karena komposisinya salah. Ia mengaku tetap bersemangat meski gagal. Akhirnya komposisi baru benar, yang mana ia jabarkan berasa asam kelat dan manis. 
 
Harga salah yang satu kilonya cuma Rp.5 ribu disulapnya jadi gelas- gelas kecil berharga lumayan. Menggunakan bahan baku dari salak Padang Sidempuan dilakukannya secara sengaja. Semua untuk mendorong ekonomi lokal yang kalah dengan serbuan salak pondoh atau salak dari daerah lain.

"Makanya saya berpikir bagaimana caranya salak ini bisa naik derajat dan popularitasnya," imbuhnya.

Aneka cara sudah pernah dicobanya untuk mengolahnya. Tapi ia memilih es krim dengan alasan sederhana yakni semua orang suka es krim.

Apakah halangan berbisnis es krim terbesar. Gema mengungkapkan kepada media Detik.com, halangan itu ada pada bagaimana menyimpan saat penjualan. Ia mengakatkan es krim butuh suhu dingin yang stabil. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar baginya. 
 
Namun, Gema tak menyerah, pemuda ini tetap mencari- cari cara seperti halnya mencari resep es krim sempurna.

"Coba- gagal itu pernah. Yang lain juga pasti pernah. Dari yang mulai rasanya terlalu asam, sampai es krimnya terlalu keras sampai gak bisa dimakan," ungkapnya.

Kalau mau usaha, ya, gak boleh gampang menyerah ujarnya kembali. Idenya tentang es krim salak, kini komoditas salak Padang Sidempuan mulai dikenal. Dari coba- coba sampai akhirnya mendapatkan suntikan modal dari aneka lomba.
 

Bisnis Rumahan

 
Sukses bisnis es krim Zalacca membawanya hingga sampai ke Jakarta. Bermodal cuma enam juta dibelinya freezer, mixer dan juga bahan baku salak, untuk ketahanan produknya disisaitinya sedini mungkin.

Hobi bersepeda motor dijadikan modalnya memasarkan es krim. Ada sekitar 3 sepeda motor yang sudah ia modifikasi menjadi mesin pendingin. Ketiganya dijadikan outlate keliling Zalacca Ice Cream. Digunakannya motor- motor itu berkeliling menjajakan dagangannya. 
 
Dijualnya itu, awalnya, bermodal motor vespa karena memang ia hobi vespa. Uniknya motor tersebut ternyata cukup ampuh untuk memanggil pelanggan. Berkat ketekunan kini usahanya meraup omzet Rp.15- 20 juta.

"Tergantung, kalau hujan laku sedikit. Kalau panas laku banyak," candanya. Dalam sepekan produksi Gema sudah mencapai 6kg per- harinya. Totalnya 12kg untuk tiap pekannya, dan itu menghasilkan 48 kg es krim siap dijualnya. 
 
Bisnisnya dibilang tak monoton, selalu ada yang baru, khas anak muda maka ada beberapa jenis es krim; Zalacca Ice Cream Cup, Zalacca Ice Cream Wafer, dan ada yang palinga menggiurkan yakni Ice Cream Brownies dan Rainbow. 
 
Variasi rasanya juga tak melulu berasa seperti salak, adapula rasa nangka, coklat, vanila, strawberry, dan pandan. Uniknya bahan utamanya tetap salak tapi rasanya berbeda- beda. Es krim buatanya terjamin karena tak pakai bahan pengawet. 
 
Jadi jika kamu beli maka akan tahan cuma dua minggu saja. Untuk dijual es krimnya itu bisa habis dalam dua hari saja, menakjubkan bukan? Soal harga dari yang termurah Rp.3 ribu sampai 10 ribu per- cupnya. Pemasarannya untuk sementara secara berkeliling saja. 
 
Dari kawasan kampus USU lalu sampai ke SD Muhammadiyah dan Perumahan Setia Budi. Kedepan ada rencana untuk mengembangkan konsep waralaba. Itulah sebabnya ia sudah berancang- ancang untuk perizinan PIRT dan juga label Halal dari MUI. 
 
Adapula rencana untuk masuk ke pasar ritel di minimarket- minimarket. Berjuang keras membawanya hingga Jakarta melalui ajang bernama Mirausaha Muda Mandiri. Meski sempat tak lolos di tahun 2013, akhirnya, ia bisa kesampaian masuk ke jajaran finalis. 
 
Kalau dulu cuma mengirim biodata, Gema di tahun 2014, sudah punya 3 outlate sukses. Targetnya menasional membuatnya lebih bersemangat. Target jangka pendek ujarnya kepada media adalah membuka 10 outlate sendiri di Medan. 
 
Pengusaha muda ini memang memulai sedikit- demi sedikit tanpa mau berhenti dan putus asa. Berkat WMA tingkat regional Gema sudah mendapatkan banyak tawaran. Penawaran kemitraan tak cuma datang dari Kota Medan saja. 
 
Target jangka panjangnya, ia mengharapkan punya food truck sendiri, yang mana akan diusahakan selama tiga tahun sejak 2014.

Kulit Jagung Jadi Bunga Pengusaha Raup Puluhan Juta

Profil Pengusaha Nina Kartika 


kulit jagung jadi bunga
 
Bayangkan kulit jagung jadi bunga bernilai ekonomi. Pengusaha ini rauppuluhan juta. Siapa sangka kalau bungan tersebut dari kulit jagung. Teksturnya yang unik, hampir menyerupai apa bunga aslinya. Inilah kisah pengusaha Nina Karika dan ibunya. 
 
Kulit jagung yang tidak bermanfaat, yang sisa, dan menjadi limbah ternyata mampu menghasilkan omzet 30 juta. Bayangkan saja.
 

Bisnis Kulit Jagung


Bunga- bunga cantik buatannya sampai ke manca negara. Bersama ibunya bisnis tersebut diberinya nama Innovart Cornhusk Flower. Awalnya, tahun 1987, ibunya Nina berpikir banyak kulit jagung yang tersisih di pasar, butuh sentuhan.
 
"...daripada dibuang sebaiknya dimanfaatkan," tiru Nina.

Setelah bisnisnya berkembang, maka permintaan melonjak tajam alhasil mereka lumayan keteteran. Jika dulu cukup mengambil di pasar sekarang butuh suplier sendiri. Nina menambahkan apalagi pada jaman itu kertas mahal ditambah kain susah.

Awalnya mereka cuma menggunakan tangan. Lambat laun mereka akhirnya memilih menggunakan mesin juga. Permintaanya banyak sampai tembus pasar Eropa, Amerika, Jepang, Italia, Arab, Jeddah, Spanyol dan Amerika. Dimana bunga- bunga mereka dipajang di toko- toko souvenir mereka.

Tidak cuma toko, mereka masuk supermarket dan home decor. Hingga mereka diundang mengikuti aneka pameran- pameran di luar negeri sampai bisa ekspor terus.

Modal awalnya Rp.50 juta tahun 1987 silam. Bisnis kulit jagung tersebut mampu mengantungi omzet sampai Rp.50- 60 juta per- bulan. Dia juga mampu memproduksi sampai 10.000 tangkai perhari. Ia memulai dari menjual melalui booth kecil di Mall Taman Anggrek dan melalui online.

"Modal awalnya mungkin 50 ribuan ya, kalau omzet sekarang Rp.50- 60 juta," terangnya.

Walau ekspor tidak setiap bulan buktinya di pasar lokal menang. Dia menjelaskan bunga jagung yang mereka jual mampu bertahan sampai 20 tahun. Jujur mereka sedang mengalami kesukaran karena kelangkaan kulit jagung.

Asal tidak kena matahari atau air jaminan 20 tahun kuat. Harga jualnya bervariasi dari Rp.10 ribu hingga Rp.60 ribu per- tangkai. Kendala bertambah apalagi kalau musim hujan tiba, jelasnya kepada pewarta Detik.com

Usaha Bangkrut Kemudian Bangkit Bisnis Pentol

Profil Pengusaha Eko

 

pengusaha pentol lele
 

Eko punya usaha bangkrut kemudian bangkit. Dia mulai bisnis pentol dan ternyata menjanjikan. Dulu Eko pernah menjadi pengusaha roti. Bisa dibilang dia sudah menjadi boss roti. Pasalnya dia memiliki tidak kurang 48 orang pegawai produksi dan sales.

Eko sepuluh tahun berbisnis roti. Sampai dia mampu membelikan satu motor buat pegawai. Tujuannya biar mudah dipasarkan berkeliling kampung. Nyaman berjualan ternyata mengalami titik kemunduran kedepan. Jumlah return roti meningkat dibanding tahun- tahun sebelumnya.

 

Bangkit Bisnis Gagal

 

Tiba- tiba usaha rotinya merosot sampai tutup. Padahal dia tengah merasakan puncak kejayaan. Ini juga dipengaruhi jumlah pegawai ngebon atau hutang. Hingga, tanpa disadari modal tersedot, tercantol masuk ke hutang- hutang karyawan.

"Terus roti yang balik (return) lebih banyak dan menumpuk. Jika dibandingkan orang lain, juga enggak mungkin habis saking banyaknya (puluhan truk)," jelasnya.

Puncak kebangkrutan pada 2004 sampai ditutup total. Peralatan roti, mulai dari mesin oven, mixer, sampai puluhan motor dijual. Itu dilakukan buat membayar hutang bank. Namun, belum cukup, karena dia masih menyisakan hutang Rp.410 juta.

Dalam masa berikut Eko terbilang kuat tanpa frustasi. Malah bangkit, langsung merencanakan bisnis baru, Eko banting stir mencoba usaha lain. Pertama dia mulai melirik kolam lele belakang rumah. Dia membuat itu demi mengatasi kalau roti return.

Dia enggak buang roti ketika kembali tak laku. Eko langsung masukan ke kolam lele. Dijadikan makan hingga besar. Begitu bangkrut, rencananya mau dijual tetapi malah enggak cocok. Dia ingin jual buat modal usaha.

Eh harganya malah murah atau cuma ditawar Rp.8000 perkilogram. Eko pikir- pikir ulang. Mundur ia membiarkan lele di kolam, makin besar, namun harganya malah makin murah. Daripada dia jual murah mending diolah menjadi makanan.

Usaha bangkrut Eko merubah lele menjadi pentol. Itu terjadi di akhir 2004, enam bulan setelah usaha bangkrut total. Pentol hasil percobaanya jadi. Tidak serta- merta dijual. Malah Eko bagi- bagikan ke tetangga. Mereka kemudian menjadi taster menilai pentol buatannya.

Ternyata mereka bilang enak, dan gurih rasanya. Eko berhasil membuat pentol tidak amis. Pujian para tetangga membuatnya tergelitik membisniskan. Mulai dari September 2004, diputuskan sudah, Eko bangkit bisnis pentol dan sosis berbahan lele.

"Saat itu, saya kerjakan sendiri. Karena tidak punya modal, maka bungkusnya plastik es lilin itu, kami pecah jadi dua," ujar ayah dua anak yang dibantu istrinya.

Meskipun dia pernah punya 48 karyawan dan jualan roti banyak; ia tidak gengsi. Turun tangan sendiri Eko memakai motor keliling desa. Dibonceng pentol dan sosisnya dibelakang kemudian dipasarkan. Ia titipkan ke toko- toko.

Rasanya enak sampai dia ditelephon. Minta dikirimin rutin. Rasanya enak tidak kalah dari bakso yang berbahan sapi. Harganya malah lebih murah cuma Rp.40.000 perkilogram atau berisi 120 pentol. Kini dia menjual harganya Rp.52.000 kilogram.

Usaha tersebut sangat menjanjikan. Kini dia memiliki 8 pegawai produksi. Nanti, saban hari, mereka akan menyayat 2 kuintal lele, buat dipisahkan daging dan tulangnya. Lelenya, kini harus membeli karena kolamnya sudah tidak cukup memenuhi pesanan.

Eko mengajak peternak lele memasarkan ke sini. Harganya dia beli Rp.16.000 perkilogram. Dari dua kuintal lele itu, jika diolah pentol, sosis, siomay, dan naget, semuanya akan menghasilkan uang sampai Rp.4,5 juta Eko mengaku usahanya tidak kalah menguntungkan.

Pengusaha veteran tersebut merasakan tidak kesukaran. Pemasaran mengalir sampai menembus ke pasar Hong Kong. Eko mengaku lebih nyaman. Dibanding usaha roti, berjualan pentol lebih tahan lama, dimana roti cuma bertahan beberapa hari.

Cuma bertahan beberapa hari roti rawan return. Produk pentol, siomay, nuget, dan sosis dibuat kering hingga tahan lama. Bahan baku ikan lele mudah didapatkan. Harga bahan baku terjangkau tidak mudah naik turun. Usaha bangkrut kemudian bangkit bisnis pentol lebih untung.

Eko merasa lebih nyaman. Hasilnya tidak kalah, bahkan mampu menguliahkan sang anak ke Unibraw, Malang. Kamu bisa memilih meratapi kegagalan. Atau akan memulai bisnis lagi dan optimis meraih kesuksesan kembali.

Pulang Kampung Jadi Peternak Babi

Profil Pengusaha Babi Nie Ling Li


peternak babi
 
Bila kebanyakan oraang memilih mengadu nabis ke perkotaan. Nie Ling Li memutuskan pulang kampung jadi peternak babi. Ia sempat mencari nafkahh ke kota tetapi tidak mudah. Bukan menyerah dia merasa menemukan prospek di bisnis babi.

Taukah kamu bahwa kebutuhan akan daging babi sangat tinggi di China. Bukan tanpa cobaan buat memulai beternak babi. Ia pernah ditawari bekerja menjadi pegawai negeri oleh saudara. Jujur dia itu tidak tau menahu mengenai berternak.
 

Menjadi Peternak Babi

 
Dia merupakan generasi milenial China yang tengah maju. Li harus mempelajarai mengenai hewan babi. Dari awal  Li sangat buta mengenai cara beternak. Dia belakar otodidak tetapi kemudian semua hewannya mati.

Ling Li tidak menyerah mencari segala sumber referensi. "Babi biasanya terlihat sangat malas, tetapi bisa sangat agresif," ia tuturkan. Li membiasakan diri berlari kesana- kemari mengejar babi. Menurut dia ketika sedang aktif mereka bisa sangat cepat, lebih cepat dari orang berlari trademill.

Bekerja keras memenuhi kebutuhan perkotaan membuatnya kaya. Bayangkan Li menghasilkan tidak kurang Rp.2 miliar pertahun. Tidak sedikit para anak muda memilih mengundurkan diri. Tren para pekerja kantoran, seperti Xiang Xhu Mei, yang ikutan menjajal prospek jadi peternak babi.

Mei bahkan sempat menjabat manajer perusahaan elektronik. Dia ditari keluarga untuk beternak babi dan berhasil. Bahkan pemerintah daerah memberikan penghargaan atas kerja kerasnya. Ini membuka mata bahwa pulang kampung juga bisa meraih kesuksesan.

Inovasi UKM Jahe Minuman Herbal Berenergi Gujahe

Profil Pengusaha Wirausaha Mujiono

 
pengusaha gujahe

Cara inovasi UKM jahe mengembangkan bisnisnya mandiri. Pengusaha Mujiono telah merasakan getirnya berwirausaha. Dia pernah bertahan hidup sebisa mungkin, pada gempa 27 Mei 2006 silam. Gempa yang membuat pengusaha Mujiono harus memeras otak kembali wirausaha.

Dia menggunakan seluruh pengetahuan, terutama  ketika di SMTP Pandak, yaitu jurusan pengolahan hasil pertanian. Sebenarnya sebelum peristiwa itu hidupnya sudah berkecukupan. Selepas belajar di SMTP, dia sebenarnya sudah punya usaha tetap, bahkan bisa dibilang sudah menengah.

Tahun 1995/ 1996, Mujiono membuka usaha UKM bumbu dapur. Hasil usaha kecil itu sudah merata ke seluruh penjuru pasar tradisional, dari Bantul dan kota Yogyakarta pada umumnya. Keuntungan dari usaha bumbu dapur dirasa cukup menopang kehidupan keluarga Mujiono.
 

Pengusaha Inovatif

 
Usaha UKM meliputi pembuatan aneka bumbu rempah; jahe, kencur, kunyit, laos, sereh, dan juga gula jawa. Produksi rumahan yang berkapasitas lumayan besar. Ukuran penjualan waktu itu tak lagi berapa kilo tapi tonase.
 
Perjalanan hidup pengusaha ini berubah ketika gempa. Memulai usaha dari nol kembali tanpa tau arahnya. Apa yang bisa dilakukan Mujiono ketika bahan baku 15 ton jahe, dan kencur yang baru saja dibeli 23 Mei 2006, yang sudah tertimbun reruntuhan gudang penampungan.

Peristiwa gempa yang diikuti hujan, membuat jahe, dan kencurnya keluar tunas. Kondisi ini lantas menginspirasi Mujiono. Dia meyakini bahwa barang dagangannya harus diolah kembali. Dia mencari cara mengolah kembali untuk dijual kembali.

Ide bahwa jika dijual dalam bentuk serbuk akan kurang laku. Harus ada inovasi dalam bentuk padat terangnya. Carnya yakni dengan mengambil sari dari berbagai macam bumbu dapur, yang kemudian dia campur gula jawa sebagai bahan pokok.

Produk dihasilkan tersebut kemudian diberi label "gujahe" (gula jawa herbal). Pada awal pemasaran gujahe yakni saat pengikuti pameran di Segoroyoso, cukup mendapat respon pembeli dan mendapat pula support dari Camat Pleret.

Suatu penemuan baru dimana gula jawa hanya untuk memasak. Kini bisa dijadikan aneka minuman instan berkhasiat. Berkat inovasinya tersebut lah, UKM Mujiono yang sempat mandek, kini mulai bergairah kembali. Bahkan dia mulai meramu- ramu dengan berbagai rempah lain.

Hasilnya sedap serta menyegarkan dengan berbagai rasa alami rempah, dan juga menjadi minuman kesehatan untuk terapi dan berbagai penyakit. Selain rasa jahe, ada rasa beras kencur, kunyit asam, temu lawak, kunir putih, jaffemix, dan Gula Tawon.

Usaha tersebut dibantu ibu- ibu sekitar warga Bantul korab gempa. Satu 1 butir Gujahe diseduh dengan satu gelas air panas, siap untuk diminum. Pemasaran dari Gujahe sendiri sudah meluas ke berbagai daerah di seluruh wilayah Indonesia dengan dibantu oleh 11 Distributor.

Menginspirasi Berwirausaha Mandiri


Mujiono kemudian meluncurkan produk baru, yaitu Gulajoss ( Gula Jawa dikombinasi dengan jamu ) berfungsi untuk theraphy berbagai macam penyakit. Dalam kurun waktu 4 tahunan, Mujiyono telah menghasilkan kurang lebih 40 produk Gujahe maupun GulaJoss.


Dalam wawancara bantulbiz.com dengan si empunya. Wirausaha mandiri Gujahe sempat booming hingga banyak orang meniru. Sayang, mereka tak mengerti resep rahasia milik Mujiyono. Hanya ditangannya lah, gujahe tidak mudah mengeluarkan jamur, produknya lebih bertahan lama.

Akhirnya setelah lama para peniru menjadi capek sendiri. Mereka satu per- satu hilang entah kemana, sementara dirinya semakin berinovasi. Gujahe produksi Mujiono dengan teknik tertentu dapat bertahan hingga 1,5 tahun.

Memiliki 12 karyawan bagian produksi, setiap har Mujiono mampu memproduksi 5 sampai 7 kwintal gujahe, dengan 40 item aneka rasa. Gujahe yang dihasilkan tidak dijual eceran, melainkan semuanya melalui distributor. Ada 13 distributor resmi gujahe Mujiono di seluruh DIY. 

Harga jual ke distributor Rp. 6.000 per dos yang isinya 8 potong. Jika distributor memesan di atas 500 dos harganya jadi Rp.5.500 per- dos, di atas 1000 dos harganya Rp.5.000 per- dos. Sedangkan bila dipacking sendiri harga Rp. 4.500 per 8 potong.

Namun demikian, untuk menjaga stabilitas harga, distributor harus menandatangani kesepakatan. Yakni mereka tidak boleh menjual di bawah Rp. 6.000 per- dos. Rata- rata omzet per bulan penjualan gujahe saat ini Rp. 120 juta, dengan tingkat keuntungan dapat mencapai 15 % – 20 %.

Tak mau kalah pengusaha lain yang memanfaatkan internet. Mujiono juga melayani pemesanan di internet. Alhasil produk gujahe miliknya telah menyebar di hampir 90 % kota Indonesia. Harga jual pesanan melalui internet Rp. 8.000 sampai Rp. 12.000 per do.

Namun untuk menjadikan mereka sebagai distributor resmi, masih membutuhkan pertimbangan yang matang. Mujiono mengisaratkan suatu kebijakan, yaitu  kebijakan tersebut yaitu kehati-hatian dalam pengangkatan distributor dan jaminan kerusakan produk.

Distributor gujahe harus mempunyai kemampuan menjual, memiliki modal dan yang paling penting memiiliki sifat jujur. Lebih jelas lagi, Mujiono mengisaratkan 3 syarat pokok untuk dapat dijadikan distributor resmi.

Pertama telah menjalin komunikasi bisnis gujahe selama 1 tahun dan dapat disimpulkan mempunyai karakter jujur. Kedua dapat menjual produk gujahe dalam jumlah besar serta mempunyai modal usaha yang memadai. Ketiga harus konsisten terhadap harga jual minimal Rp. 6.000 per dos.

Sayang, meski dirinya punya visi 3 tahun ke depan, usahanya masihlah home industry. Dia sangatlah berharap usahanya bisa jadi usaha pabrikan. Akan tetapi untuk itu, dibutuhkan dana tak kurang dari Rp, 1,5 Millyar. Inilah kendala tebesar yang belum ditemukan jalan keluarnya hingga kini.

Contact Person : Mujiono d/a. Toko Arsy, Dusun
Kerto Rt. 09 – Rw. 08,
Pleret, Bantul - Hp. (0274) 7007754

Atau, http://bkmmajumakmur.blogspot.com/2011/10/gujahe-pleret.html

Sekilas Info Usaha Kolam Pemancingan

Artikel Bisnis Soal Pemancingan


usaha kolam pemancingan

Sekilas info usaha kolam pemancingan. Apakah masih berpotensi menguntungkan ? Pada dasarnya kembali ke kreatifitasan kamu dalam memasarkan produk itu. Jika berbicara produk, apa produk dari pemancingan ikan? 
 
Apakah jasa, kami rasa ini tidak ada hubunganya sama jasa, toh jika si pemancing pulang tak dapat apa- apa, apa mereka akan kembali. Disinilah kembali perlu kejelian memulai berbisnis karena bisnis satu ini gampang- gampang sulit.
 

Info Usaha Pemancingan


Pengunjung memancing di kolam pancing apanya yang enak. Mereka enak karena bisa memancing secara mudah, mudah dapat dan mudah caranya. Para pemula tak perlu repot capek- capek menyiapkan tenaga, jauh berbeda jika memancing di sungai. 
 
Para pemilik kolam menyediakan ikannya dalam keadaan lapar agar mudah dipancing. Tapi kamu tidak boleh membiarkan mereka mati kurus dan kelaparan. Pastikan waktu agar bisa sesuai.

Jika melihat dari prospek bisnisnya kolam pemancingan bisa jadi bisnis menggiurkan. Pengelolaan yang baik ditambah sedikitinya persaingan bisa jadi alasan. Siapa sih mau tanahnya dijadikan empang kata mereka orang tinggal di Jakarta. 
 
Dengen sedikit inovasi dan kreatifitas sekali lagi, bisnis ini bisa diutak- atik jadi bisnis serba usaha. Penggermanya pun beragam tak melulu orang tua, anak- anak saja, bahkan wanita bisa saja ikut menikmati.

Ini bukan memancing di tempat terbuka kita tau kapan kailnya akan dimakan. Semua orang bisa memancing di kolam bukan. Usahnya bisa saja tanah milik sendiri atau dengan sedikit kerja sama. Bisa saja pemilik lahan akan rela menyewakan tanahnya diubah jadi kolam. 
 
Tentu ini akan menambah modal kamu lagi. Kita bisa saja langsung membeli kolam jadi ataupun kalau tidak kita bisa membuat kolam terlebih dahulu. Setelah ada beberapa kolam maka kita bisa mengisi bibit ikan antara lain ikan mas, bawal, gurame, patin ataupun nila.  
 
Jika kita ingin cepat memulai maka masukkan saja ikan yang mampu menarik minat banyak konsumen. Kita bisa saja menyatukan usaha kita dengan rumah makan. Kamu cukup mangajak kerja sama lain, kamu jadi pemilik tanah sumber ikan, sedangkan orang lain membuka rumah makannya diatas tanah kamu.

Tarif pembayaran bisa dihitung dari berat ikan diperoleh saat memancing atau bisa juga tarif dihitung dengan tarif kolam harian. Misalnya jika menerapkan tarif hasil ikan diperoleh, Tombro harga per- kilogramnya bisa Rp 23.000, Nila Rp 21.000 dan Lele Rp 16.000 per kilogram. Dan,, jika menerapkan tarif kolam bersifat sewa harian yaitu pemancing hanya bayar tiket berkisar Rp 15.000 – Rp 50.000 berapa pun banyaknya ikan bisa dibawa.

Kerajinan Limbah Pisang Laku Jutaan

Profil Pengusaha Sholikin 

 
kerajinan lukisan pisang
 
Untung kerajinan limbah pisang laku jutaan. Itulah yang tengah dicoba seorang Sholikin. Dan hasilnya, sebuah lukisan cantik, dari batang pohon pisang yang biasanya dibiarkan membusuk dan jadi limbah setelah buahnya dipetik. 
 
Dia hanyalah warga kampung Desa Combongan, Kecamatan Sukoharjo, yang punya cita rasa seni bagiaman agar limbah pohon pisang bisa dimanfaatkan. Caranya bagaimana? Bagaimana cara mengolah batang pisang menjadi lukisan. 
 

Usaha Lukisan Pelapah Pisang

 
Pertama- tama, Sholikin mengumpulkan pelepah pisang yang banyak di belakang rumahnya. Pelepah itu dikumpulkan, kemudian dikeringkan. Setelah benar- benar kering barulah diubah menjadi lukisan. Untuk membuat satu lukisan kamu cukup membutuhkan dua- tiga buah pelapah pisang. 
 
Semuanya telah diseleksi dan dibentuk sesuai keinginan. Setelah pelapah pisang cukup. Cukuplah Sholikin menempelkan mereka diatas sebuah papan. Lantas ia memberikan lem pada pelapah pisang yang disusun sesuai desain lukisan. 
 
Satu- persatu itu ditempelkan hingga membentuk gambar. Jika dilihat kita tak akan menyangka bahwa itu terbuat dari pelapah pisang. Sebuah usaha yang telah dilakoninya sejak 1980, dimana ia sukses membantu berbagai gambar lukisan dari bentuk masjid, pemandangan alam, dan bentuk lain.

Pelanggan setianya datang dari tetangga, tidak jarang mereka meminta lukisan khusus. Ayah dari satu anak ini bisa membuat dua buah lukisan kecil dan satu lukisan besar dalam sehari. Ia menyebut sebenarnya bisa saja menggunakan bahan lain. 
 
Tapi kelembutan serat pisang membuat lukisannya mudah dibentuk. Hasilnya juga lebih bagus dari bahan umum dengan limbah kayu contohnya. Selain itu proses pembuataany juga jatuh lebih mudah dan murah. Semua cuma butuh ketrampilan dan kreatifitas.

Harga perlukisan dipatoknya seharga Rp.30.000 dan termahal Rp.300.000. Semuanya akan tergantung akan tingkat kesulitan, ukuran, jenisnya. Tidak hanya berhenti di usaha lokal. Ia juga telah merambahkan usaha lukisan pelapah pisang hingga berbagai daerah di Jawa dan Bali. 
 
Selain sibuk membuat berbagai hal dengan limbah pisang. Ternyata, sosok Sholikin juga dikenal sebagai pembicara, utamanya itu tentang bagaimana mengolah berbagai kerajinan dari bahan limbah.

Prospek Usaha Green Souvenir Ramah Lingkungan

Profil Pengusaha Fathul Maki

 
usaha green souvenir
 
 
Pengusaha sukses Fathul Maki tampatnya tak menduga. Awalnya sih, dia mau mengolah limbah saja, nyatanya usaha barunya ini terjual puluhan ribu. Green Souvenir, kiranya itu nama usahanya kini, produk kreatifitas dari tanaman yang kian populer untuk dibisniskan. 
 
 
Ditengah penjualan tanaman hias umum yang terus menurun, adanya green souvenir Maki setidaknya memberikan harapan baru.  Memanfaatkan hangatnya isu pemanasan global. Menjual tanaman hias yang kecil, mungil, dan imut, dimana kamu gak perlu repot merawatnya. 
 

Usaha Green Souvenir Viral

 
Seperti tagline souvenir, berarti produk satu ini bisa dijadikan oleh- oleh atau hadiah, beda dengan tanaman pot besar lain. Biasanya tanaman yang menggunakan konsep dari green souvenir antara lain adenium, kaktus dan sukulen, adapula soka, melati, serta aglaonema.

Hasilnya cantik, dan dengan kretifitas Maki, hasilnya bisa sangat dekoratif untuk diletakan di meja ruang tamu. Pria yang bekerja sebagai Marketing Manager Istana Alam ini, menunjukan kita usaha ini bisa dikemas apapun. 
 
Adapun dia menjelaskan kamu bisa menggunakan rotan, pot keramik, plastik, mika, atau bahkan kita bisa kemas dengan gelas, jelasnya. Pemanfaatan media berupa hidro gel sangatlah membantu. Pengaplikasian berbagai media inilah yang sukses membuat green souvenir lebih terjual. 
 
Maki juga menambahkan kreasi lain, melalui limbah steorofom, yang menumpuk. Limbah- limbah tersebut dibuat sekreatif mungkin olehnya menjadi produk menjual. Harganya? Kamu bisa mendapatkan harga sesuai kreatifitas dan jenis tempatnya selain harga tanaman pada umumnya.

Sebut saja ada souvenir adenium, melati dan soka ditawarkan Maki jadi seharga Rp 6.500,00 sampai Rp 11.500,00/pot. Sedangkan jenis kaktus bisa lebih mahal yang dihargai Rp 7.000,00- Rp 12.000,00/pot, dan untuk souvenir aglaonema dipatok harga Rp 10.000,00 sampai Rp 15.000,00/pot. 
 
Untuk pasaran produknya itu umum jadi bisa dijual untuk siapa saja, bahkan si kecil. Target pasarnya dari ibu rumah tangga, sampai perusahaan- perusahaan di Indonesia.

Biasanya, produk green souvenir akan ramai diburu konsumen, biasanya untuk souvenir pernikahan, souvenir acara seminar atau talk show dan workshop, serta sering pula dipesan oleh instansi dan lembaga pemerintah yang didalamnya mengusung Go Green. 
 
 
Harganya yang terjangkau, cara pembuatannya sederhana, maka bisa dibilang ini bisnis cukup menjanjikan. Untuk produk yang banyak dibeli, Maki menjelaskan produk yang menggunakan bahan mika paling laris. Mika itu akan dibuat menjadi tabung dengan bantuan pralon. 
 
Kemudian tabung itu akan dilem dan dilas dengan steorofom. Kamu cukup menambahkan pemanis pita dan tali untuk menenteng souvenir. Peluang dari usaha ini menurutnya masih bagus, hasilnya, Maki sukses memasarkan produknya ke berbagai penjuru daerah. 
 
Nama produk ini juga mulai terdengar, menggaung membuatnya banyak dicari masyarakata luas. Jadi bagi kamu yang punya ide buatlah green souvenir kamu sendiri, atau jadikan ini usaha.

Jual Kerajinan Bonggol Jagung Jutaan

Profil Pengusaha Eddie Juandi 


jualkerajinan.png

Jual kerajinan bonggol jagung berapa pendapat Eddie. Menjadi pegawai sebuah perusahaan pipa terkemukan tidak membuatny puas. Di dalam dirinya terdapat jiwa kreatifitas tinggi butuh penyaluran. Eddie Juandi memiliki penghasilan lebih dari cukup. 
 
Penghasilan rutin tidak membuatnya berhenti dan duduk nyaman. Pria 57 tahun ini benar- benar menginginkan lebih dari sekedar asik mengerjakan laporan.

Ia mulai memutar otak keras. Semenjak tidak bekerja di perusahaan, aneka usaha sudah dilakukan Eddie di rumah. Hingga takdir membawa hidupnya kepada bonggol jagung. Perjalanan mencari usaha berbahan baku mudah dan murah, tetapi menghasilkan produk elegan. 
 

Usaha Kerajinan Bonggol

 
Dia menemukan bonggol jagung menjadi solusi tepat usaha. Pasalnya, Bogor tempatnya tinggal, adalah tempat dimana jagung menjadi komoditas unggulaan. Sayang, ketika jagung banyak diolah menjadi manisan, maka bonggol jagung terbengkalai seperti sampah. 
 
Ia memungut boggol jagung tersebut. Dia teringat suatu hari ketika berkunjung ke rumah teman. Dia memberi Eddie sebuah hiasan dari tempelan bonggol jagung. Eddi tergelitik untuk mengutak- atik bonggol jagung itu menjadi aneka produk.

Imajinasi mengembara membawa pikiran produk dari bonggol jagung. Kebetulan memang di Bogor, jagung menjadi komoditas utama sebagai bahan manisan. Namun bonggolnya terbuang menjadi limbah. 
 
Eddie bisa kapan saja menggunakan itu cuma- cuma. Kecintaan akan seni kriya terekspresikan lewat aneka produk dari bonggol jagung. Awal usaha tersebut terbentur akan fakta: Bonggol jagung itu rapuh mudah rusak. 
 
Dia pun tidak tau caranya bagaimana mengeraskan bonggol jagung. Solusi pertama lewat cairan formalin, tetapi, setelah ia pikirkan ini sangat berbahaya untuk dirinya. Tidak puas membawa dirinya ke teman- temanya di Institut Pertanian Bogor (IPB). 
 
Lewat mereka lah Eddie mendapatkan campuran kimia yang relatif aman. Hingga pada suatu titik, perasaan tidak puas kembali menyeruak akan zat kimia tersebut. Dia meyakini pasti ada cara alami mengeraskan dan mengawetkan bonggol jagung.
 

Rahasia Usaha

 
Jawaban baru ditemukan ketika ia bertemu Suku Dayak Kalimantan. Kearifan lokal memperkenalkan ia dengan pengawetan alami, seperti menggunakan garam, pinang, pasak bumi, serta bahan lainnya.

Kerja keras Eddie terbayar mendapatkan hasil seperti diinginkan. Usaha kerajinan bonggol kayu Eddie pun dilanjutkan kembali. Dalam perjalanan sudah tidak terhitunga berapa kali dirinya gagal. Bahkan sang istri mulai meragukan apakah bonggol jagung tersebut laku. 
 
Lewat marketing mulut ke mulut usahanya mulai bisa menampakan hasil. Pesanan mengalir selama perjalanan waktu tersebut. Ia semakin bertekat menaikan nilainya. Eddie bersemangat mengikuti aneka pameran kerajinan. Tidak cuma di dalama negeri tetapi sampai ke luar negeri. 
 
Optimisme bertambah ketika mengetahui bonggol jagung jadi satu- satunya. Kini aneka produksi bonggol jagung bisa ditemui di Singapura, Jepang, Belanda, dan Prancis.

"Amerika Serikat saja sebagai negara penghasil jagung terbesar di dunia hanya mengolah bonggol jagung sebatas menjadi pipa rokok," tutur Eddie.

Eddie bisa menghabiskan 40- 50 karung bonggol jagung. Ini cukup bersumber dari satu pasokan pasar saja. Itu saja masih berserakan di jalanan menjadi limbah. 
 
Hasil karya Eddie meliputi kap lampu, khususnya kap lampu duduk, kemudian tatakan gelas, tempat tisu, anyaman tas, cooler laptop, sampai tas laptop.

"Waktu itu kalau nggak salah tahun 2008, ada teman ngasih vas bunga. Saya kaget, ternyata vas bunga itu terbuat dari bonggol jagung," kenang Eddie.

Untuk satu kap lampu bisa dikerjakan sampai 4 hari. Karena butuh ketelitian dan waktu lama tak ayal harga bisa mencapai Rp.350 ribuan. Meski karya bonggol jagung sudah dikenal, soal bisnis masih belum tumbuh signifikan. 
 
Eddie sadar gairah saja tidak akan mendatangkan modal tetapi prospek bisnis. Sementara kalau modal investasi dari pemerintah menurut Eddi masih kecil dari harapan.

Pendekatan sosial coba dijalankan Eddie. Seperti mengajukan aneka proposal pembiayaan lewat Pemerintah Kota atau Kabupaten. Banyak pemerintah daerah tertarik menjadikan bonggol jagung sebagai sarana. Ia pun lantas mulai mengajar di daerah- daerah. 
 
Eddie bersama pemerintah berhasil menginisiasi bengkel- bengkel kecil kerajinan bonggol jagung. Bertempat di showroom milik pribadinya di Jalan Pembangunan 2 No. 42 Kedung Halang, Bogor, Jawa Tengah, setiap harinya Eddie menghasilkan berbagai produk bonggol jagung. 
 
Usahanya cukup disuplai dari pasar- pasar tradisional di sekitar Bogor. Bonggol tersebut dibersihkan terlebih dahulu, baru itu kemudian dikeringkan. Lantas dia akan menambahkan cairan khusus pengawet disana hingga masuk cetakan.

Bonggol dibentuk lingkaran kecil melalui cetakan kayu. Setelah itu disusun menjadi landasan bentuk aneka kreasi bonggol jagung. Meski manual tetapi hasilnya ternyata sangat rapih. Untuk dijual harga kreasi bonggol ini saharga Rp.1 juta sampai Rp.3 juta tergantung ukuran dan tingkat kerumitan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba