Usaha Kue Kacang Kediri Modal Lima Ribu Rupiah

Profil Pengusaha Teguh Poerwono Edi


 
Teguh jualan kacang baru ketika tahun 1989 -an. Dia bersama keluarga baru saja pindah ke Kediri dan ingin buka usaha sendiri. Hingga berjalan waktu, Teguh Poerwono Edi, menjadi pengusaha sukses kue kacang di daerah tersebut. Kisah ini dimulai 26 tahun silam, yang mana ia sekarang kantongi omzet sampai ratusan juta rupiah. Kebetulan dia dan sang istri punya hobi sama, yakni membuat aneka kue.

"Awalnya, istri saya suka membuat kue, terus resepnya saya ubah- ubah," beber Teguh. Hobi itu pula yang melahirkan resep kue kacang bermerek Tidar. Selepas matang kue kacang cukup ditawar- tawarkan ke para tetangga dan teman- teman.

Hasilnya ternyata enak sampai banyak orang berminat. Ia serius akan hasilnya dan mulai meproduksi lebih banyak lagi. Keberuntungan dipihak Teguh karena sekitar rumahnya dekat kawasan pabrik. Mereka pekerja di pabrik ketika sore hari bisa mampir membeli ke toko miliknya. Awal usahanya masih menghasilkan 300 buah kue per- hari.

Modal awal cuma Rp.5000,- ditambah peralatan seadanya. Uang segitu dibelikan terigu 3kg serta gula dan aneka bahan lain. Saat itu, Teguh mengingat harga terigu per- kilo masih Rp.750, dimana bisa diubah menjadi ratusan kue kacang. Untuk peralatan cetak cukup memakai tutup botol minuman anaknya. Roti kacang yang sekarang menjadi khas Kediri ini dijualnya Rp25 per- buah.

Berkat usahanya tanpa menyerah, Teguh mendapatkan penghargaan Bogasari SME Award 2012 lalu.

Resep rahasia


Dia dibantu anak dan seorang pembantu mengerjakan pesanan. Meski keterbatasan, Teguh masih optimis usaha kue kacangnya akan berkembang. Banyak tantangan memang dilaluinya setiap waktu. Hingga selama bertahun- tahun usaha kue kacangnya semakin dikenal luas. Kini, ia memperkerjakan 45 orang karyawan, yang mana sudah punya tempat produksi sendiri.

Dalam sehari, rumah produksi menghasilkan 67.200 kue kacang. Ukuran kue kacangnya sebesar kue bakpia atau donat mini berbentuk bulat. Kue tersebut lantas dikemas dalam toples. Satu toples kue kacang sekarang dijual seharga Rp.240 per- butir. Bahan baku dibutuhkan mancapai 20 sak sampai 22 sak per- hari. Omzet kue kacangnya telah mencapai angka Rp.300 juta per- bulan.

Selain Kediri, kue kacang milik Taguh bisa melalang buana ke penjuru Indonesia, semua berkat internet yang membangun resellernya di berbagai daerah.

Modal memang terbatas tetapi Taguh tidak memilih pinjaman bank. Sebenarnya ada keinginan meminjam ke Bank tetapi dirinya sadar. "Akses terhadap pinjaman modal bank itu tidak mudah," jelasnya. Modal satu- satunya bisa ia tawarkan cuma berhutang ke warung. Lewat cara inilah ia bisa mendapatkan bahan baku tanpa bayar dulu.

Karena salalu bayar tepat waktu dan tidak pernah meleset, Teguh bisa dipercaya oleh pihak pemasok bahan baku. Bahkan sang pemasok menawarkan bahan baku lebih banyak lagi. Jujur, Teguh nyeletuk tidak punya uang buat bahan baku lebih banyak. Pemasok bahan baku pun meyakinkan Teguh dengan kemudahan. Ia boleh mengambil tepung terigu dan bayar kalau sudah akhir pekan.

"...mereka membolehkan saya berhutang," papar Teguh. Semenjak itu, dia mulai mengambil bahan baku buat enam hari ke depan. Dimana biasanya dia memakai tepung terigu sebanyak tiga sampai lima kilogram per- hari. Kini, ia bisa membuat lebih banyak berkali- kali dan laku semua dijual. Karena dipercaya pula usahanya bisa mendapatkan kemudahan lain.

Ia juga dipercaya sama pedagang peralatan kue. Beberapa kali dirinya mengambi peralatan kue seperti oven, plastik, serta barang lain, dan soal pembayaran akan dilakukan belakangan. "Hampir seluruh bahan saya hutang dari pedagangan," ujar Teguh. Berkat bahan baku lebih banyak serta peralatan lebih baik, tentunya ia bisa lebih banyak berekspansi lebih cepat.

Hasil keuntungan beberapa ditabung setiap hari. Di akhir pekan, ia akan membayar semua hutang- hutang yang dimilikinya. Ia tidak mau menyia- nyiakan kepercayaan mereka. Teguh sadar jika kita pandai merawat kepercayaan maka bisnisnya berkembang. Kue kacang bermereka Tidar semakin bersinar. Sekarang, ketika butuh terigu, pemasok tepung akan mudahnya menyuruh Teguh ambil.

"Berapa pun saya ambil pasti dibolehkan pemilik toko," celetuk Teguh lagi, disambut tawa. Ketika sekala dari usahanya membesar baru bank datang menghampiri. Ia memperoleh pinjaman sampai Rp.220 juta dari sebuah bank untuk membesarkan usaha. Uang tersebut digunakan untuk membeli kedaraan buat distribusi kue kacang Tidar.


Ambisi terbesar seorang Teguh adalah memasarkan Tidar ke seluruh Jawa. Jangkauan kue kacang miliknya sejauh ini masih di kawasan Jawa Timur. Bukan dipasarkan dia sendiri tetapi dibawa lewat internet. Reseller lah yang membesarkan usaha kue kacang miliknya. Karena sudah ada reseller, dia optimis bisa menjangkau lebih luas ke seluruh Pulau Jawa. Untuk itupula kapasitas produksi digenjot maksimal olehnya.

"Saya ingin punya mesin cetak kue yang sudah canggih," terang Teguh.

Untuk sekarang pembuatan kue kacang masih buatan tangan. Jika diganti mesin tentu produksi bisa naik sampai seratus persen. Teguh ingin dari 67.200 per- hari menjadi 270.000 kue per- hari. Karena memang itu jumlah pesanan terbanyak yang diminta pasar terutama ketika Lebaran. Ia juga berencana merubah kemasan kue agar tahan lebih lama.

Untung sedikit menjadi prinsip seorang Teguh. Yang terpenting untung sedikit asal bisa berproduksi kembali. Ia sendiri sadar resellernya menjual lebih mahal. Tetapi dia tidak ambil pusing akan hal tersebut,"Tidak apa- apa pedagang lain yang bisa menikmati keuntungan lebih, yang penting saya jalan terus," tuturnya. Hitunganya semakin banyak reseller semakin banyak permintaan dan untung pasti semakin besar.

Budidaya Burung Merak Sendiri Pertama di Indonesia

Profil Pengusaha Surat Wiyoto 



Di Indonesia cuma terdapat satu pusat penangkaran merak terbukti sukses. Itu pun bukan milik pemerintah bukan pula kebun binatang manapun. Pria itu bernama Surat Wiyoto, yang berhasil menurunkan sampai ke keturunan ketiga. Loh bukannya merak itu binatang langka dilindungi? Yah, tetapi pengecualian buat sosok pria satu ini, pasalnya tidak ada lain sosok mengalahkan dia.

Hanya lah seorang petani biasa berasal Dusun Suko, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun. Ia menjadi sosok fenomenal seketika. Bayangkan di literatur manapun tidak pernah tercatat seperti kisahnya. Bukan isapan jempol, karena pemerintah sendiri menyaksikan bagaimana mereka "nyata". Dia juga bisa membuktikan lewat silsilah biologis.

Jika biasanya merak cuma berada di kandang kebun raya atau taman wisata. Kini, kamu bisa mengunjungi langsung dan menatap langsung ke Dusun Suko. Letaknya memang jauh berada di dataran tinggi di kawasan hutan jati, jauh dari kebisingan. Mereka yang ditangkar sendiri adalah jenis merak hijau atau pavo muticus. Dari Kota Madiun, dibutuhkan sekiranya 1,5 jam memakai motor, hingga kita mencapai wilayah perbukitan itu.

Rumah Surat sederhana tidak tampak seperti sosok hebat. Pria 55 tahun ini mengaku kepada pewarta dari Republika tidak direncanakan. Ia sama sekali tidak khusus menangkar merak. Alkisah, ketika dirinya tengah mencari rumput di alas (hutan) kawasan Sampung, bertemulah sekelompok warga berkumpul. Ia melihat ada merak liar bersama mereka. Memang kawasan itu ramai cerita tentang merak liar penghuni hutan sekitar.

Sebagai hewan liar mereka sukar sekali dideteksi. Jikalau ditemukan warga, merak akan menjauh dan masuk ke hutan. Sampai di tahun 1999, ketika kembali mencari rumput, ia menemukan empat telur merak di hutan tempatnya mencari makan. Merasa tidak ada pemilik dibawalah pulang telur tersebut. Surat membawa telur sebesar telur angsa itu ke rumahnya.

Tidak untuk dimasak itulah pemikiran Surat. Sebuah firasat terbersit dalam dirinya agar tidak dimasak. Ia merasa akan ada hal baik soal keberadaan telur tersebut. Dibawalah pulang empat telur merak, lantas Surat tempatkan mereka di kandang ayam agar dierami.

Telur merak


Surat memanfaatkan ayam buat mengerami empat telur merak tersebut. Selang 15 hari, terlur itu menetas loh, siapa sangka ide sederhana itu berhasil menghasilkan. Empat merak kecil lahir jenis merak masing- masing itu dua jantan dan dua betini (F-0). Ia memisahkan mereka dari induk ayam. Proses tersebut terus dilakukanya memanfaatkan induk ayam.

Fakta dijelaskan oleh Surat bahwa merak dewasa enggan mengerami terlurnya. Ia pernah memaksakan induk merak buat mengerami telur; hasilnya nihil. Cara menangkar ya ketika sudah bertelur, Surat langsung bawa telurnya ke kandang ayam. Dierami lah telur- telur tersebut sampai menetas jadi merak kecil. Anehnya itu si indukan ayam selalu sukses menetaskan telur merak hingga menetas.

Cara merawat merak memang tidak tertulis. Ia hanya menyamakan mereka seperti layaknya ayam. Dia pakai cara tradisional merawat ayam ke anakan merak. Karena dianggap seperti ayam, maka makanan mereka pun jadi berupa jagung, pelet, sayuran. Pemberian makan tidak setiap hari, karena kita tau sendiri Surat itu bukanlah peternak sukses. Dia hidup sederhana dan makan seadanya begitu pula ternaknya.

Uang sebesar Rp.450 ribu untuk pelet tidak setiap hari. Terkadang ia bahkan bisa memberi makan mahal berupa beras merah. Karena tidak mendapatkan bantuan pemerintah setempat, usaha yang dilakukan pria ini cuma seadanya asal merak bisa tumbuh sehat. Memang beras merah dikenal memiliki manfaat memberikan stamina binatang unggas.

Apakah tidak dilarang mungkin pertanyaan menyeruak lagi. Yah, cobaan datang awal 2011, ketiga petugas Badang Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) melakukan operasi binatang langka. Maka Surat ketangkap tangan memiliki ungga langka dilindungi. Merak hijau memang masuk binatang langka daftar yang dilindungi. Ia tidak kehabisan akan agar merak- meraknya tidak disita oleh petugas.

Ia meminta bantuan dokter hewan yang sering ke kampungnya. Berkat bantuan mereka, petugas diyakinkan ini bukan sembarang merak. Kemungkinan karena merak tersebut merupakan keturunan kedua (F-1) dari indukan utama (F-0). Inilah mengapa pihak pemerintah rela menyerahkan nasib tumbuh kembang mereka ke Surat. Sesekali secara rutin mereka cuma mengontrol kesehatan mereka milik Surat.

Surat memegang surat ijin konserfasi merak. Kebahagiaan masih ditangan hingga malah kembali lagi datang seketika. Masa itu musim penyakit flu burung (H5N1) yang akhirnya membunuh merak miliknya. Total enam merak keturunan kedua atau hasil konservasi Surat mati. Mereka mati bersamaan terkana penyakit panas flu tersebut. Karena takut menular ke merak lain, maka Surat segera mengubur binatang langka tersebut jauh.

"Saya sampai menangis saat mengetahui merak peliharaan saya mati," kenang Surat.

Melahirkan banyak


Beruntunga karena merak tersebut sudah beranak pinak. Tahun lalu sudah melahirkan sembilan ekor merak generasi kedua (F- 2) yang berusia enam sampai sembilan bulan. Jika biasanya mereka bertelur sekali, tapi entah tahun itu bisa bertelur dua kali, Surat terkejut akan hal tersebut. Mungkin kasih sayangnya membuat si merak merasa nyaman seperti rumah sendiri.

"Ini baru pertama terjadi selama saya memelihara merak," akunya. Ini ditambah lima merak generasi pertama yang selamat dari flu burung total 14 ekor merak hijau.

Kemudian merak menjadi 14 ekor, yang dibaginya ke dalam enam sangkar di dua tempat berbeda. Kandang sederhana seluas 5x4 meter disekat tiga bagian. Yang paling banyak memakan tempat di kandang tengah, satu kandang berisi satu jantan dan dua betina generasi kedua. Satu tempat lagi berisi sepasang disiapkan untuk musim kawin bulan September hingga November.

Enam merak usia sembilan bulan dikandangkan bersama. Tiga lain ditaruh di kandang berbeda terbuat dari kayu, dan ditaruh di halaman rumah. Sepasang merak dikandangkan bersama di satu kandang. Lantas satu merak berusia enam bulan yang jinak dipisahkan. Pasalnya, Surat memang menyukai merak satu ini, dimana paling penurut dengannya.

Empat belas tahun bergelut menangkarkan merak. Suka duka menghadang karena merak- meraknya kadang tidak bertahan. Menurut pakar karena disebabkan perjodohan satu garis keturunan. Surat juga tahu benar bahwa merak- meraknya punya kelakuan istimewa. Pada bulan Februari sampai November, kecuali saat masih bertelur, mereka ini hobi nangkring di atas daripada berjalan di tanah. Mereka mau turun ketika makan saja.

Cuma memiliki satu merak dewasa jadilah cuma satu berbulu indah. Merak satu- satunya jantan dewasa yang bulunya mekar warna- warni. Nah, dimusim kawin, bulu merak akan rontok berganti bulu baru. Sekali rontok sampai 200 lembar bulu merak. Karena bulunya indah dan mewah, maka jadilah bulu saja ditaksir Rp.1000 per- bulu. Bulu tersebut akan digunakan sebagai bahan membuat hiasan ruma atau reog Ponorogo.

Pernah karena terdesak kebutuhan uang dijualah sepasang merak. Karena merupakan keturunan ketiga oleh karenanya pihak BKSDA membolehkan. Sebenarnya ia merasa sayang karena niat sejak awal memang mau dipelihara saja. Ia sendiri butuh uang karena sudah musim panen. Ini termasuk agar bisa mencukupi uang buat memberi makan meraknya sendiri. Orang iseng pun tertarik mengambil merak- merak tersebut tanpa ijin.

Ia sendiri tidak masalah kalau orang tertarik dan ikut menikmati keindahan. Pernah sepasang merak dijualnya ke Bupati Ponorogo seharga Rp.4 juta dan Rp.5 juta per- ekor. Kasus flu burung sebelumnya membuat dia lebih waspada lagi. Dia sekarang menyiapkan berbagai macam obat serta vitamin. Pengobatan sederhana yang disarankan mantri lembu katanya.

Merak ini punya ikatan emosi dengan Surat. Jadi tidak sembarangan orang bisa memiliki mereka. Ketika ada orang tidak baik datang berniat tidak baik, merak- meraknya tau, mereka seolah memberi taunya agar tidak mengiyakan kata orang itu. Ketika mereka berniat membeli merak, Surat akan langsung menolak. "Merek- merak ini memberi tau saya," jelas Surat.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba