Kerja Serabutan Menjadi Pengusaha Sukses

Profil Pengusaha Ichdal Husaini

 
keripikgabus.png
 
Kerja serabutan menjadi pengusaha sukses. Ichdal Husaini tak pernah menyangkan hidupnya berubah. Itu berkat tekat dan ketekunan. Dulu Ichdal bekerja apapun, pekerjaan benerin barang, pekerjaan tukang atau seadanya dikerjakan.

"Dulu ini saja kerja serabutan, semua saya kerjakan, bekerja untuk orang lain," terangnya kepada pewarta Detik.com. Sampai dia merasa menginginkan usaha sendiri.
 

Usaha Unik


Maka Ichdal mulai membuat keripik. Bahan bakunya berasal di sekitaran wilayah Kalimantan Selatan. Tapi ia bukan membuat keripik sembarangan. Dia malah bikin keripik ikan gabus. Nyeleneh tetapi bahan baku sangat banyak tersedia.

Selain ikan gabus ia juga membuat keripik bebek. Bahan bakunya berasal dari wilayah Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. Ichdal melihat banyak orang jualan keripik. Dia merasa sudah banyak saingan jualan keripik pisang atau singkong.

Di daerahnya sudah biasa orang bikin keripik ubi atau singkong. Ichdal ingin berbeda. Kalau kerupuk ikan banyak tetapi kalau keripik belum. "...di sini kan banyak saingan kerupuk- kerupuk jadi kita coba khas lain," jelasnya. Kan orang taunya ikan gabus atau bebek dibikin kerupuk, beda keripik.

"Jadi kita cari rasanya beda," lanjut Ichdal. Dia mengatakan bisnisnya bermodalkan Rp.100 ribu. Buat menjadi pengusaha sukses ternyata murah. Dia kini tidak perlu kerja serabutan kembali. Usaha keripik ikan dan bebek hasilkan omzet Rp.2 juta perbulan.

Harga keripik ikan gabus dan bebek dijual Rp.10 ribu ukuran 150 gram. Usaha pribadi tanpa modal diluar kantong sendiri. Dia dulu jualan ditawarkan ke tetangga- tetangga. Omzetnya sampai Rp.1 juta- 2 juta perbulan, mempekerjakan 4 pegawai, mampu membungkus 100 bungkus perbulan.

Penjualan ke depan dikembangkan lewat jalur digital. Promosi lewat platform WhatsApp digencarkan belum platfrom digital lain. Penjualan masih terbatas 100 bungkus dan masih terus dikembangkan.

Pengusaha Gorengan Sukses Terkenal Cendana

Profil Pengusaha H. Yusuf Amin

 
 
pengusahagorengan.png
 
Gorengan terkenal Cendan mematahkan pandangan orang. Pengusaha gorengan sukses mematahkan bayangan usaha remeh- temeh. Dulu usaha kecil- kecilan yang dianggap tak menghasilkan sesuatu, tetapi siapa sangka bisnis ini bisa berbalik 180 derajat. 
 
Bisnis kecilan juga bisa jadi jutaan bila anda kreatif. Kisahnya, kisah sukses H. Yusuf Amin, pengusaha gorengan Cendana asal Cirebon. Apakah ada hubunganya dengan pohon cendana. Tidak, tidak ada hubungan dengan pohon cendana.

Gorengan Cendana Cirebon

 
 
Lalu, apakah berhubungan dengan keluarga cendana. Tentu saja tidak ada hubungan sama sekali. Nama gorengan Cendana tak ada hubungannya dengan pohon cendana. Tidak pula ada hubunganya dengan mereka Keluarga Cendana yang ada di Jakarta. Nama gorengan ini hanyalah istilah yang diberikan oleh masyarakat kota Bandung kepada gorengan olahan H. Yusuf.

Kebetulan penjual gorengan yang satu ini berjualan di Jalan Cendana Kota Bandung. Hanya dalam sehari ia bisa menghasilkan omzet hingga Rp.3 juta. Omzetnya bisa bertambah sampai Rp.4 juta lebih disaat bulan Ramadhan tiba. 
 
Untuk menjajakan gorengan ini, Yusuf hanya bermodal satu gerobak besar dengan saung terpal di pinggir Jalan Cendana. Dia mulai membuka lapaknya dari pukul 3 sore sampai pukul 9 malam. Dia dibantu 10 orang yang didatangkan dari kampung halamannya.


Selama enam jam berjualan Yusuf akan membutuhkan 1 kwintal pisang tanduk, 2000 tahu, 75 kg tepung terigu, 45 kg ubi, 4 kg kacang hijau, 40 butir nanas serta 10 lonjor tempe. Semua dimulai ketika ia menikahi seorang gadis di kampung halamanya di Cirebon. 
 
Pemuda yang tak tamat SD ini menikahi seorang gadis bernama Sumarni. Orang tuanya serta merutuanya hanyalah buruh tani kala itu. Sehingga pria kelahiran 11 September 1952 ini ikut membantu di sawah. Setahun kemudian kemarau panjang melanda desanya. 
 
Apalagi ditambah sang istri yang tengah hamil tua. Yusuf harus melakukan sesuatu. Ia lantas merantau ke Bandung dengan berat hati meninggalkan istri. Disana, di Bandung, ia tinggal bersama kakak sepupunya bernama Maripah di daerah bernama Cihaurgeulis.

Dengen bermodal gerobak pinjaman dimulailah perjalanan bisnisnya. Usaha yang dimulai dengan berdagang sekoteng hangat. Setiap malamnya usai sholat Isya, Yusuf mulai menjajakan dagangannya sambil mendorong gerobaknya. 
 
Dia mendorong dari satu daerah ke daerah lainnya yang jaraknya puluha kilo. Pukul 02:00 dini hari Yusuf barulah akan pulang ke rumah. Setelah anaknya berusia delapan bulan, ia mengajak istri dan anaknya ke Bandung. Mereka masih tinggal di tempat yang sama di Cihaurgeulis. 
 
Yusuf menggunakan uang hasil berjualan sekoteng untuk menyewa tempat. Hanya cukup untuk menyewa bekas jongko pasar. Meski sebenarnya tak layak huni, mereka tetap bertahan bersama sebagai keluarga. 
 
Sisa uang hasil sekoteng digunakannya untuk membeli gerobak sekoteng milik temannya itu. Dua tahun sudah ia berjualan sekoteng, namun tidak menghasilkan sesuatu untuk keluarga kecilnya. Itu tak menghasilkan kesejahteraan mereka. Dia kembali memutar otak mencari cara. 
 
Dari sebuah ajakan temannya, H. Yusuf Amin membuka usaha gorengan pertamanya di tahun 1977. Sebuah gerobak gorengan yang dibelinya seharga Rp.67.500. Dia memulai usahanya di Jalan Ciliwung, Bandung. Sayang, usahanya itu hanya bertahan satu malam.

Pengusaha Gorengan Sukses


Alasannya menutup jualannya di Jalan Ciliwung mungkin terdengar menggelikan. Yusuf tak tega berjualan di sana ketika ada seorang ibu yang juga berjualan gorengan. Setelah berkeliling Kota Bandung, barulah Yusuf menemukan tempat di Jalan Cendana. 
 
Bersama istri tercinta dan anaknya yang barulah dua tahun, Zackia Yamani, mereka bersama membangun usaha gorengan mereka disana. Yusuf menjadi bersemangat karena dukungan keluarga. Dia membuka lapaknya selepas menunaikan sholat Dzuhur hingga pukul 10 malam. Meski awalnya selalu mengalami kerugian tak membuatnya berhenti. 
 
Alhasil dia berhasil mengumpulkan untung. Tahun demi tahun usaha Yusuf berjalan dengan berbagai halang rintang. Dia tetap belajar. Bisnisnya pun dikenal, masyarakat menamai gorengannya Cendana. Gorengen Cendana pun dikenal oleh masyarakat luas.

Tak ada resep rahasia dalam gorengannya. Hanya ada ketekunan dan selalu menjaga kualitas serta cita rasa. Akhirnya dia sukses mebawa nama gorengan Cendana menjadi terkenal. Gorengannya digemari tidak hanya orang biasa, juga mereka para anggota DPRD Jawa Barat membeli gorengannya. 
 
Yang paling spesial dari jualannya adalah gorengan pisang. Paling nikmat untuk menemani rapat- rapat di malam hari. Singkatnya nama dari gorengan Cendana ini membawa hoki.

Tidak hanya orang biasa, pejabat juga menyukainya. Mereka bahkan rela antri untuk mendapatkan gorengan panas yang baru. Apalagi di bulan Ramadhan. Gorengan Cendana ini pun digemari mereka para pendatang asal Jakarta dan Surabaya. 
 
Apalagi media masa membantu mengisahkan perjuangan si empunya. Apa yang membuat gorengan Cendana berbeda ialah warnanya yang coklat keemasan. Gorengannya tak menyerap banyak minyak. Gorengan ini juga terasa lebih renyah.

Selain pisang goreng, tempat ini juga menyediakan jajanan lain khas Sunda, seperti tahu isi, combro, ada juga gorengan kacang hijau, gorengan nanas, serta gorengan tempe. Waktu terakhir jualannya itu dijual seharga Rp.600 rupiah. Berkat ketekunan dan kesabaran ia membuahkan hasil. 
 
Bulan Oktober 1983 atau sudahlah enam tahun setelah berjualan jajanan gorengan, Yusuf akhirnya mampu membeli sebuah rumah sederhana dari tabungan. Dalam kurun waktu lima tahun kemudian, Yusuf Amin beserta istrinya telah berangkat ke Makkah untuk menunaikan rukun Islam ke lima. 
 
Sekarang H. Yusuf telah memiliki 5 buah rumah. Satu rumah ia dedikasikan untuk kepentingan umat dengan membuat Majelis Taklim ibu-ibu yang berasal dari Cirebon. Sisanya untuk anak-anak, serta karyawannya yang kini sudah mencapai 10 orang. 
 
Empat anaknya, ia kuliahkan hingga jenjang perguruan tinggi. Dua diantaranya sudah menjadi dokter umum. H. Yusuf membuatkan rumah untuk orangtua dan mertuanya di Cirebon, lalu memberangkatkan mereka ke Makkah.

Cerita Eka Lesmana Blogger Kaya Berkat Bisnis Online

Profil Pengusaha Eka Lesmana

 

ekalesmana.png
 

Kaya berkat bisnis online merupakan impian semua orang. Cerita Eka Lesmana, sosok tersebut sangatlah dikenal para blogger online. Berkat Adsense dirinya mampu hasilkan ratusan juta rupiah. Dulu dia pernah bekerja menjadi angon bebek.


Keluarga Eka tidaklah sempurna karena kehilangan ibu. Beliau meninggal dunia ketika usia empat tahun. Dan ayahnya kemudian menikah lagi dan menghilang. Eka tinggal bersama nenek. Pendidikan Eka tak sampai sekolah menengah pertama.


Bisnis Online Otodidak


Mentok bersekolah sampai SMP mau bekerja apa. Tetapi dia wajib mencari pekerjaan buat hidup. Dulu waktu sekolah semua- semuanya merupakan sumbangan. Bahkan baju seragam Eka merupakan pemberian orang. 

 

Orang- orang merasa iba melihat Eka, remaja berprestasi tersebut kesusahan ketika bersekolah. Eka pun memutuskan tidak bersekolah. Dia pernah menjadi angon bebek. Disarankan pamannya melihat cuma punya modal ijasah menengah pertama.


Sayangnya, Eka sering kehilangan bebek, lantaran dimakan binatang buas ketika dia lengah. Berhenti Eka kemudian bekerja menjadi buruh serabutan. Dia diajak salah satu keluarganya bekerja di pabrik di Solo.


Dia mengerjakan pekerjaan kasar. Apapun dia lakukan demi menghasilkan rupiah. Mulai dari bekerja kuli bangunan, operator mesin giling, dan kerja serabutan lain. Bekerja keras dia ditawari pindah ke Yogyakarta. Dia bekerja di pabrik bergaji lumayan.


Namun Eka ditawari kerja bersama mandornya sampai keluar. Pindah bekerja dia bertemu wanita yang merubah hidupnya. Dimana dia merupakan langganan toko bangungan tempat Eka kerja. Dari dialah didapatkan informasi mengenai jualan online.


Ternyata wanita tersebut penjual online. Penasaran Eka mulai mencari tau mengenai bisnis online itu. Dia bahkan menghabiskan sebagian gajinya. Itu semua demi membayar kebutuhan internetan di warnet dulu.


Lambat laun pembelajarannya secara otodidak membuahkan hasil. "Coba sesekali dolan ke warnet, cari tau apa itu toko online. Bagaimana cara membuat toko online. di Google banyak," Eka menirukan wanita tersebut, yang dijelaskannya kepada blog Sugeng.id.


Dia mampu membuat toko online. Tetapi tidak datang orang mau membeli. Ia kemudian belajar cara mendatangkan trafik pengunjung. Perhari biaya dikeluarkan di warnat sampai Rp.10 ribu. Lalu dia coba cashbon, dibelilah laptop, dan dipotong gaji perbulan.


Uniknya dia membuat toko online buat jualan barang milik tempat kerja. Hasilnya lumayan sampai Rp.50- 200 ribu. Begitu diketahui pemilik kemudian dimarahi sampai berhenti. Eka tak lagi berjualan barang milik atasannya.


Pikiran tentang masa depan menghantui Eka. Dia berpikir begini nasib karyawan. Apa dia akan terus berganti- ganti kerjaan. Apa pekerjaannya akan menghasilkan penghasilan cukup. Eka ingin memberi uang keluarga, ingin merajut masa depan (menikah), dan bagaimana kelak.


Eka berpikir apa kehidupan begini- begini saja. Dia mulai browsing tentang bisnis online. Diluar jalur berjualan online apasih menghasilkan lebih. Eka menemukan bisnis blog. Ia akan menjadi blogger lantas apakah prospek.


Tidak kepikiran akan kaya berkat bisnis online ini. Cerita Eka Leksmana blogger kaya berlanjut. Dia cuma hasilkan $3- 4 perbulan. Walau dia tidak yakin akan dibayar pihak Adsense. Tetap Eka lanjutkan sampai dapat surat dari Google, dapet PIN, dan verifikasi menjadi blogger.


Awal tahun 2012, dia berhenti jualan online tetapi pasang Adsense, web disulap menjadi blog sampai hasilkan $100 perbulan. Lumayan. Dia mengerjakan blog bahasa Indonesia. Kemudian tahun 2013, dia mulai beternak blog alias membuat beberapa lagi.


Prinsipnya satu blog hasilkan $100 maka bila banyak berlipat. Kemudian dia membuat 10 blog berbahasa Indonesia, menulis 10 kali, dan hasilkan $150 masing- masing. Bayangin capeknya mengisi 10 blog sendirian saban hari, tidak boleh putus, belum lagi optimasi lain.


Tahun 2014, ia menemukan rahasia blog Bahasa Inggris, tak perlu banyak blog cukup satu tetapi punya bahasa Inggris. Buat bikin blog Eka memaksa menabung. Pasalnya pendapatan mepet, mau sewa buat hosting dan keperluan optimasi mahal.


Dia terus belajar otodidak. Kendala datang justru ketika dia mendapatkan pekerjaan. Kerja enak dan gaji cukup maka membuat malas usaha. Pencapaian Eka Lesmana menganggumkan karena sudah pernah 3- 4 digit dollar.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba