Profil Pengusaha Ernawati
Tidak biasa wanita berbisnis pemancingan seperti Ernawati. Kisah pengusaha yang memang lulusan perikanan. Usahanya itu bernama Pemancingan 100 dan Pemancingan 1000. Dia sendiri loh berminat untuk usaha tersebut.
Dikisahkan dia mengenal pemancingan berkat bekerja di sana. Hj. Ernawati pernah bekerja di usaha kolam pemancingan. "Saya enggak nyangka akan berbisnis seperti ini," ucapnya. Dia bekerja di rumah pemancingan No. 10 milik tetangga.
Dia bekerja di sana selepas SMA Polanharjo pada 1994. Baru kerja setahun, anak pimilik kolam itu melamar Ernawati menikah. "Jadi, status saya berubah dari pegawai menjadi menantu," terangnya. Ia berkata bahwa tidak memiliki latar belakang perikanan.
Kolam Ikan Bekas
Ernawati belum kuliah disaat itu. Ayah dan ibunya bekerja menjadi petani transmigrasi asal Jawa di Bandar Lampung. Mereka sendiri adalah warga kelaten. Hj. Ernawati merupakan kelahiran Klaten pada 29 April 1976, dan akhirnya tinggal di Klaten.
Ia menikahi orang Klaten. Walau anak pengusaha pemancingan, sang suami dan dia cuma dimodali usaha toko kelontong. Sisanya ia akan bantu- bantu mengurusi kolam pemancingan No. 10. Ernawati punya hobi memasak. Maka dia akan diserahi tugas memasakan hasil pancingan orang.
Dia bantu- bantu mertua termasuk memasakan. Itu bermula dari ketidak sengajaan loh. Lama- lama ia menjadi sangat ahli memasak aneka olahan ikan. Konsep pemancingan 10 memang berbentuk tempat makan. Sehabis memancing mereka kemudian meminta dimasakan langsung.
Pengunjung ingin makan sembari menikmati pemandangan. Mereka ingin makan didekat kolam ikan tersebut. Nah, kebetulan Ernawati memang hobi masak, tiba- tiba dia diminta memasakan ikan tangkapan itu. Kolam- kolam lain sampai meminta Ernawati buat memasakan ikan.
"Akhirnya keterusan dan banyak mengundang tamu," kenang Erna. Dia menemukan kelebihan yang kelak sangat berguna.
Pengusaha wanita berbisnis kolam pemancingan kenapa tidak. "Saya suka memasak apa saja," ia melanjutkan. Dijelaskan di atas, bahwa suaminya mendapatkan satu toko kelontong kecil. Letaknya di pasar yang kemudian dijual dijadikan modal kolam.
Ernawati mengingat laku Rp.25 juta. Uang tersebut kemudian dibelikan kolam pemancingan. Itu berasal dari tanah sawah mertua seluas 3 ribu meter persegi. Mula- mula Erna bersama suami cuma bikin kolam kecil- kecilan.
Mereka bekerja keras sampai dipercaya pinjaman. Kemudian uangnya dipakai buat membesarkan usaha tersebut. Pengunjung semaki banyak datang. Kolam kecil tersebut diberi nama Pemancingan 100. Lama- lama lahan sudah terisi penuh air kolam, bukan lagi bentangan sawah.
Untung mengalir sampai mereka membeli lahan baru. Inilah cikal Pemancingan 1000 milik mereka yang ternama. Mereka membeli lahan seluas 6.5000 meter persegi. Tetapi keduanya malah menjadi bahan ketawaan orang.
Mereka membeli lahan bekas tempat sampah. "Tapi kami, kan, punya planning sendiri," Erna yakin akan keputusan mereka.
Bicara kesuksesan mereka juga pernah merasakan masa sepi. Di Klaten, mereka total sepuluh tahun berbisnis, ya sepi. Padahal mereka berdua sudah dibantu Balai Pembenihan Ikan. Sudah dibantu juga sama masak tetap tidak membantu banyak.
Pemancingan 10 kemudian mengalami kenaikan signifikan. Dari tempat pemancingan sampai semua ikut- ikutan buka rumah makan. Dulu kolam- kolam semua bernomor berurutan. Sekarang ya sudah terserah masing- masing dinamai apa.
Pemancingan 1000 memberikan kesan membawa hoki. Setelah ia memakai nomor 100 ramai, lalu dulu pakai nomor 10 juga ramai. Kalau nomornya 1000 mungkin akan membawa lebih banyak kesuksesan datang. Mereka sukses membesarkan dua kolam tersebut.
Mereka berkreasi termasuk menciptakan tempat bermain anak. Menjadi pelopor diantara pemilik kolam ikan yang monoton. Walau jauh dari jalan utama, pemancingan mereka menarik pengunjung datang dan nyaman mengajag anaknya.
"Saya full mengelola usaha ini," ucapnya. Suaminya yang menyiapkan semua keperluan bahan baku, dari pembinaan bibit, menanam beras dan sayuran. Unik, mereka menanam tomat, daun kemangi, padi, mentimun, dan cabai organik di kebun sendiri.
Mereka akan sibuk menghadapi event besar tahunan. Mulai dari liburan lebaran, natal, tahun baru, libur sekolah. Mereka juga mencukupi melalui pemasok bahan baku. Usaha pemancingan justru akan jadi ramai ketika musim liburan.
Hari biasa pemancingan ditutup pukul 18:00, walau pengunjung datang ditolak. Beda kalau liburan, jam 18:00 saja masih buka, ya, selama bahan baku masih tersisa maka pintu akan terbuka. Kan kasihan mereka udah jauh- jauh datang mau liburan.
Waktu istirahat biasa ketika tidak musim liburan. Ernawati sudah menyisakan waktu. Liburan berarti ditutup, mereka habiskan waktu jalan- jalan ke mal atau Toko Buku Gramedia; Erna menemani anak- anak. "Saya pribadi paling senang belanja buku masakan," lanjut Erna.
Putrinya, Putri Ike Nurmawati, sekarang kelas 1 SMA dan seorang putra, Putra Nur Mahendra, kelas 1 5 SD. Erna selalu menyisihkan waktu berlibur bersama. Ia dan suami juga spesial menyisihkan 12 hari buat berangkat umroh pertahun.
Total Erna memiliki 60 pegawai yang dianggap keluarga sendiri. Ia selalu melihat potensi mereka. Lalu menempatkan mereka sesuak kapasitasnya. Memperlakukan pegawai baik, maka mereka akan tumbuh kesadaran sendiri.
Misalnya, ketika musim liburan, para pegawai akan rela datang pukul 03:00 dini hari walau tidak ia pernah suruh. Ke depan mereka akan membangun gedung pertemuan. Daerah Jati memang belum ada tempat mengadakan acara besar. Suami membeli tanah luas dipinggir jalan ramai.