Mahasiswa Lulusan Terbaik Universitas Malah Jualan

Profil Pengusaha Fendra Agoprilla Putra 


pengusahamie.png
 
Ia memilih menjadi pengusaha tanpa kerja. Mahasiswa lulusan terbaik universitas malah jualan. Dia yakin menjadi wirausahawan. Padahal katanya nih, dia termasuk mahasiswa berprestasi di kampusnya. Fendra Agoprilla Putra, lulusan Ekonomi Manajemen pernah ditawari bekerja di sebuah bank. 
 
Juga pernah dia belajar berbisnis saham. Meski tampak hebat mimpi tentang jualan mie lebih utama. Ya Ago begitu panggilannya adalah pemilik Mie Nyonyor khas Banyuwangi itu.
 

Menjadi Pengusaha


Dimulai sejak masih berkuliah berkat kegemaran makan bakso. Ketika ada bazar di kampus maka keluarlah kegemarannya itu. Hasilnya bakso buatan sendiri yang menjuari bazar tersebut. Ago memilih mengikuti alur passion -nya. 
 
Bahkan soal berbisnis memilih berjualan apa yang dia suka. Bakso tersebut lantas diberinya nama bakso cinta. Bakso yang berbumbu aneka sayuran sehat. Ada sayur tomat dan beberapa sayur lain warna- warni.

Namun, setelah diamati, menurutnya bisnis bakso tidak bertahan lama. Dia berpikir ulang bisnis lain yang masih sejenis. Maka mulailah otak- atik selama dua minggu. Ago mulai mencari tau aneka resep mie enak. Hingga lahirlah resep sendiri yakni resep Mie Nyonyor. 
 
Untuk menarik perhatian pembeli ditambah konsep level pedas 1-5. Soal mienya cukup memakai mie kering biasa ditambah bumbu istimewa tersebut.

"Rahasianya ada dari saos yang saya buat sendiri," jelasnya.

Sukses membuat resep tinggal bergeriliya mencari pembeli. Awal berjualan ditawarkan kepada teman- teman satu kampus. Pria lulusan Untag Banyuwangi ini pun mendapat respon positif. Modal 1,5 juta digelontorkan untuk berjualan di depan rumah. 
 
Warung mie sangat sederhana berdiri bermodal teras rumah dan dua meja kecil bekas kosan. Uang tersebut merupakan uang pribadi juga dari mantan pacar.

"... uang mantan pacar yang sekarang menjadi istri saya. Uang itu juga termasuk uang "jaga- jaga" kalau gagal," pungkasnya.

Ia tngat betul pertama kali Mie Nyonyor diluncurkan. Pelanggan pertama mienya 20 orang yang sebagian besar teman satu kampus. Ketika pesanan datang Ago akan bergegas lari ke belakang. Letak dapur yang jauh dibelakang membuat keluar ekstra tenaga. 
 
Selepas itu barulah dibongkarnya garasi rumah dijadikan dapur. "... memanfaatkan garasi rumah yang dulu pernah jadi kamar saya untuk di jadikan dapur," kenang Ago. 
 
Memang kenangan pertama kali itu begitu membekas. Dia ya menjadi kasir, menjadi tukang masak, menjadi tukang bersih- bersih yang dibantu ibu. "Istri yang saat itu masih menjadi pacar," jelasnya lagi. Dalam tempo singkat Mie Nyonyor sudah memiliki 20 orang pegawai. 
 
Startegi marketing pertama Mie Nyonyor ialah lewat teman satu kampus. Kemudian marketing itu ditambah penggunaan aneka media sosial memakai nama sendiri. Untuk meramaikan medsos diadakan aneka lomba. Yakni aneka lomba ekspresi kepedasan ketika memakan Mie Nyonyor. 
 
Ternyata cara ini terbilang cukup ampuh menarik perhatian pelanggan. Hadiahnya berupa makan gratis atau bisa aneka diskon. Respon dari marketing tersebut cukup baik. Bahkan banyak pelanggan yang datang membawa teman dan seterusnya. 
 
Dari mulut ke mulut nama Mie Nyonyor mulai dikenal oleh masyarakat. Sukses Mie Nyonyor membuatnya percaya diri menolak pekerjaan. Lowongan pegawai bank atau broker saham ditolak. Semua demi fokus di bisnis mie buatan sendiri. 
 
Hasil kerja keras Ago terlihat dari berdirinya cabang di beberapa daerah. Ada cabang Sukowidi, Ganteng, kemudian di wilayah Banyuwangi. Di luar kota ada di Surabaya (dua cabang), Jember, dan Sidoarjo. Dia dibantu keluarga lewat bagi hasil 3-4 persen omzet.

Soal pengiriman bumbu utama serta ayam tabur khas memanfaatkan jasa travel. Pesatnya pertumbuhan Mie Nyonyor menarik tawaran membuka cabang lain jauh, seperti di Palembang, Batam, Sulawesi, dan Jakarta. Namun kesempatan ini ditolak karena masalah jarak tidak memungkinkan.
 

Lulusan Terbaik Jadi Pengusaha

 
Ago tau pesawat pasti menolak paketnya. Mereka menolak pengiriman paket berupa barang cair seperti pasta. Ago tidak berkecil hati soal ini.  Tidak mau berhenti cuma di mie pedas aneka level. Ago naik pangkat bermodal resep kreasi lain, seperti Mie Nyonyor Saus Bolognese, Ramen Nyonyor, Club Sandwich Panggang dan aneka buah salad. 
 
Adapula layanan tawaran tambah toping atau porsi. Ditanya soal apa resep Mie Nyontor, Ago menjelaskan sedikit rahasianya yaitu tanpa MSG dan cabe tanpa biji. Dimaksudkan agar lebih sehat dan tidak menyerang usus buntu.

Cabai diblender kemudian direbus hingga menjadi pasta. Lalu dicampurkan diatas mie kering siap masak. Ini ternyata menghasilkan kombinasi menarik. Kemudian tidak ada minuman soda karena selepas makan pedas tidak boleh minum soda. 
 
"Itu sudah saya coba sendiri," jelas Ago. Meski cuma berjualan mie, Ago mengaku tidak malu, meski dia menjadi lulusan terbaik dari kampusnya.

Berawal dari konsep mie sendiri yaitu Mie Nyonyor, Ago mulai melirik resep masakan lain seperti mie raman khas. Kebetulan sekali karena di Banyuwangi belum ada mie ramen. 
 
Ternyata hasil karyanya banyak disukai tidak cuma anak muda, tetapi segala usia. Ini bisa dilihat dari banyaknya sepeda motor berjejer. Mereka rela datang jauh ke rumahnya yang disulap menjadi warung. Total sudah ada 6 cabang yang bersebar di daerah Jawa Timur.

Satu porsi mie ramen Nyonyor ada ayam, wortel, sayur hijau, kembang tahu, sosis dan jamur. Tidak cuma itu ada pula potongan sayap ayam dicampurkan. Untuk minuman ada khas juga yakni Es Temulawak Ndut yang segar bergelas super besar. Ini disebutnya kombinasi makanan Jepang dan tradisional Indonesia, tutur Ago lagi.

"Rekomendasi buat mereka yang suka mie dan suka pedas. Apalagi ramennya lengkap toppingnya mulai sayur sampai telur dan jamur," ujar Herpein salah satu pelanggan tetap.

Tidak Punya Pekerjaan Sukses Memelihara Lele

Profil Pengusaha Agus Efendi


pengusahalele.png
 
Tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele. Pengusaha lele ini juga sibuk menjadi ketua organisasi kepemudaan GP Ansor Kecamatan Gudo. Ini yang dikerjakan Agus Efendi di kampungnya, adalah berbisnis sendiri. Usaha dijalankan kolam budidaya lele. 
 
Hasilnya lumayan loh, ia pun bercerita bagaimana bisnis kecilnya menguntungkan.

"Siapa bekerja dengan sungguh- sungguh, pasti akan berhasil," Agus membuka.
 

Sukses Memelihara Lele


Pemuda Desa Sukopinggir, Kec. Budo, Kabupaten Jombang ini, awalnya bermodal dari usaha kolam ikan satu kolam. Lumayan usaha kecil Agus menghasilkan 2 juta bibit per- bulan sekarang. Sudah dijalankan lebih dari 12 tahun bukan tidak ada halangan ataupun kerugian.

Ini ternyata usaha keluarga. Ia sendiri tidak begitu berminat meneruskan. Tetapi susah mencari pekerjaan lah mendorong Agus berpikir cepat. Anjuran orang tua didengarkan berkah hasilnya. Bermula dari satu kolam di pekarangan rumah lambat laun diperbanyak.

Dia sekarang jutawan. "Alhamdulillah hasilnya bisa dilihat sekarang," ujar pria 35 tahun ini. Seorang alumni Universitas Brawijaya sudah menekuni usaha sejak 2005. Kalau awal cuma satu kolam kini banyak kolam yang sudah menempati tanah seluas 2 hektar.

Usaha Agus menghasilkan jutaan. Padahal usaha lele dijalankan ayah sebagai sambilan. Ayah Agus seorang petani biasa. Cuma sebuah kolam ikan kecil di belakang rumah. Agus mengamati sang ayah serius beternak lele. 

Tamat SMU, dia tidak berminat meneruskan usaha ayah. Ayah Agus meninggal dunia ketika dia hendak dewasa. Dia memilih melanjutkan kuliah. Membiayai sendiri, dan akhirnya Agus lulus dan bekerja di sebuah Bank Swasta di Kediri.

Sebagai karyawan dia tidak tahan. Uang gaji dianggap pas- pasan. Dorongan menjadi wirausaha bergejolak sampai dia memilih keluar. Uniknya pertama terpintas dalam benak Agus hanyalah jadi petani. Ternyata dari sana hasilnya malah semakin tidak seberapa.

Mata Agus lantas melirik ke tanah galian ayahnya. Kolam ikan tersebut menggelitik Agus melanjutkan usaha budidaya ikan lele. Dia ingin beternak lele. Berbeda dengan sang ayah, Agus tidak mau menjadikan usaha budidaya lele sebagai pekerjaan sambilan. Dia kesana- kemari memasarkan hasil budidaya tanpa kenal lelah.

Ia menembus pasar. Kemudian mendapatkan kepercayaan menjadi penyedia bibit lele. Singkat cerita bahkan dia mampu mengirim sampai ke Kalimantan, Sulawesi, Sumatra, Bali, dan Kota besar lain. Pasaran diambil Agus meluas begitu pula tanah kolam lele miliknya. Menjadi dua hektar usaha lele Agus makin berjaya saja.

Omzet diraup Agus berlipat ganda sampai ratusan juta. Angka fantastis buat pengusaha asal desa yang tidak dia nikmati sendiri. Dia lalu membuka lapangan pekerjaan puluhan pemuda kampung. Omzet 2 juta bibit ikan lele dan omzet mencapai Rp.200 juta per- bulan.

Semakin bersemangat Agus mulia menyasar ikan Gurame dan Patin. Banyaknya permintaan, ia mulai aktif mengajak kawannya membantu usaha Agus. Ada 30 orang pegawai membantu Agus setiap harinya untuk membudidaya ikan. Ia percaya bahwa usaha apapun jangan dipandang sebelah mata.

Usahanya memang besar tetapi bukan tidak pernah rugi. Ia bercerita pernah bibit lele ratusan ekor miliknya mati. Agus lalu mencari solusi disetiap kegagalan pernah dia rasakan. Dia membuktikan, tidak punya pekerjaan sukses memelihara lele.

Akbar Karikatur Bisnis Online Sering Dituduh Menipu

Profil Pengusaha Akbar Satriawan


bisnisonline.png

Bisnis online sering dituduh menipu. Pengusaha Akbar Karikatur bercerita perjalanan bisnisnya sampai sekarang. Memang dunia digital memberikan kemudahan total. Tetapi tidak semua orang memiliki kemampuan. Itu adalah kemampuan membedakan dunia nyata dan internet. 
 
Beberapa malah kerepotan mengerjakan bisnis mereka disini. Dunia internet memberikan kemudahan juga kesukaran.
 

Jadi Pengusaha


Seperti kisah pemilik Akbarkarikatur. Dia mendapatkan banyak komplain tentang pesanan. Banyak mereka komplain bahkan merasa tertipu. Orderan tanpa didukung sumber daya manusia. Padahal Akbar katanya menyanggupi pesanan tetapi sulit dihubungi dan gagal memenuhi pesanan. 

Padahal sudah mengirimkan uang pembayaran. Penulis tidak menjudge tetapi menyoroti fenomena. Dalam berbisnis dibutuhkan profesionalisme. Ingat bahwa pembeli adalah raja. Maka sebagai pengusaha layaknya tidak menjanjikan jika tidak sanggup.

Kamampuan membuat karikatur digital Akbar berbuah bisnis. Kisah pria berambut gondrong, bernama Akbar Satriawan, seorang pengusaha muda asal Semarang. Bekal kemampuannya menggambar digital. Akbar lantas iseng buat memasarkan karyanya lewat sosial media. 
 
Salah satu hasil karyanya yang menarik ialah ketika Pilkada Kota Semarang. Akbar menggambar karikatur buat salah satu calon Wali Kota. Setelah gambar selesai, kemudian dapat ia perbanyak diatas kaos. 
 
Nah, lewat ajang inilah, nama Akbar semakin dikenal sebagai pembuat kaos asal Semarang. "Saya mulai serius membisniskan gambar karikatur digital sejak 2011 silam," jelas Akbar.

Pada awalnya dia mulai membuat blog sendiri. Diunggah kemudian dikomentari orang bahwa hasil karyanya bagus. Berjalan waktu dia mulai mengembangkan konsep kaos printing. Sebelum itu Akbar mendapatkan banyak job membuat gambar buat web Pemprov.

Lambat laun dia juga dikenal sebagai ahli dekor. Salah satunya menjadi pendekor aksesoris gambar untuk Achmad Dhani Masterpiece Karaoke. Kemudian menggambarkan ke kaos buat dipasarkan lewat berbagai event. Melalui bisnis kaos printing usahanya mulai menggurita tidak cuma online.

Tahun 2004 barulah kaos karikatur Akbar dipasarkan. Dengan pengalaman seadanya dia mencari tau, cara bagaimana sih menempelkan gambar ke kaos. Bagaimana dia menjahit, mendesain, dan bagaimana caranya menjual ke orang banyak.

Ia menyasar pasar backpacker awal. Dia menganggap pasar ini masih sepi. Memang kala itu demam traveling semacam ini belum booming. Kaos berkata- kata dan gambar simple diunggah Akbar. Isinya kebanyakan tentang sindiran untuk menikmati hidup dengan traveling. 
 
"Anda kerja, saya libur. Anda libur, saya liburan."

Kalau Akbar lebih memilih menjadi pelopor. Dia tidak suka mengikuti demam acara televisi. Seperti kaos yang bertuliskan My Trip My Adventure ataupun National Geography. Akbar memilih membuat gambar yang original dengan tulisan nyeleneh khas.

Pria asli Wonosobo, kelahiran 29 April 1990 ini, memang memiliki idealis dalam berkarya. Jiwa kesenian di dirinya lebih kental dibanding sekedar bisnis. Karya gambar Akbar lain seperti menggambar hewan- hewan yang hampir punah seperti gambar badak bercula satu.

Bisnis Online

 
Ia mendapatkan inspirasi selama menjadi backpacker. Ya Akbar memang hobi bertraveling jadi pantaslah kalau dia tau betul. Anak ketiga pasangan Supardi dan Yuli memang suka bepergian ke beberapa negara. 
 
Terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Bangkok. Dari sanalah ide tentang gambar dan kata muncul. Uniknya, Akbar menjelaskan, untuk memberikan kesan spesial setiap desain diproduksi maksimal 22 kaos jadi benar ekslusip.
 
Akbar juga mengadakan lomba quotes kata- kata unik. Melalui Instagram berhastag mengajak konsumen ikutan membikin kata- kata unik. Pemenang lomba akan mendapatkan dua kaos gratis. Satu kaos berdesain kata pemenang sendiri, dan satunya lagi bebas memilih. 
 
"Satu dengan desain quote tersebut, satu lagi bebas memilih."

Alumnus Universitas Dian Nuswantaro (Udinus) tahun 2014 ini, semakin eksis berbisnis lewat perpanduan antara sosial media dan nyata. Belum ada setahun sudah menghasilkan puluhan juta. 
 
Tidak cuma masuk ke pasaran Semarang tetapi juga luar Jawa, mulai Sulawesi, Kalimantan, sampai ke Papua.

Bahkan pernah dia mendapatkan pesanan sampai 150 potong dari Hong Kong. Memanfaatkan internet bagi Akbar adalah memperluas pasaran sekarang. Dia juga rajin bertemu konsumen langsung. Salah satunya yaitu lewat ajang Car Free Day Jalan Pahlawan Semarang.

Harga ditawarkan Akbar juga kompetitif. Yakni Rp.55 ribu untuk kaos lengang pendek dan harga Rp.65 ribu buat lengan panjang. Walau murah tetapi margin untung dihasilkan pria gondrong ini besar. Mungkin ini berkat uniknya karya Akbar.

Dia dibantu empat karyawan mampu mengerjakan 3 lusin per- hari. Baru setahun berbisnis omzet Akbar sudah menyentuh puluhan juta. "Kalau omzet bulanannya sudah cukup buat memenuhi kebutuhan sehari- hari dan uang saki backpackeran," selorohnya.

"Rencananya, akhir tahun mendatang, mau plesiran ke Turki sekalian bulan madu," tutupnya. Mungkin ini alasan utama kenapa Akbar menjadi sukar melayani. 
 
Disisi lain dia masih di luar negeri -seperti kasusnya dia katanya sedang di Bangkok tidak ada sinyal- sementara internet tidak pernah tutup.

Tidak Mau Melamar Pekerjaan Pengusaha Es Krim

Profil Pengusaha Adam Amrullah 


pekerjaanpengusaha.png
 
Dia tidak mau melamar pekerjaan memilih wirausaha. Pengusaha es krim sukses, yang beroperasi awal di wilayah Yogya. Tempat ini menjanjikan buat usaha kuliner tumbuh. Itu yang diyakini oleh Adam Amrullah. Ini kesempatan baginya menghasilkan penghasilan. 
 
Seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM). Disini gudangnya makanan enak tulis sebuah artikel. Banyak kuliner tersebar menjamur di Kota Gudeg ini. Adam tidak menyia- nyiakan. Ia ingin menjadi pengusaha kuliner seperti lainnya. 
 
Maka lulusan UGM tahun 2013 ini mulai coba- coba jualan di pinggir UGM. Target Adam ialah mahasiswa dan juga para pelancong yang tengah menikmati liburan. Berawal dari ajang Sunday Morning (Sunmor) UGM, berlabel RedBean Ice Cream.

Jadi Pengusaha Es Krim


Sejak lulus kuliah dia bahkan tidak sempat melamar pekerjaan. Dan dia tidak mau melamar pekerjaan dulu. Adam langsung mencoba membuat es krim sendiri dari bahan kacang merah, dan berhasil. Tepat sebulan sebelum lulus Kampus Biru, tepatnya di Desember 2013, lulusan Akuntansi serius berbisnis.

"Awalnya saya jualan es krim saat masih ramai Sunmor UGM setiap hari minggu," tutur dia. Waktu itu dia mengenang cukup banyak yang suka.

Awal usaha nama es krim Adam ribet. Namanya Green Tea Patbinsu. Bagi warga UGM familiar bagi anak- anak muda, pelajar, dan mahasiswa, sebagai es krim berbahan kacang merah. Kacang merah Adam dibuat dengan racikan aneka buah- buahan, susu, dan ditambah keripik jagung gurih enak.

Untuk meningkatkan kepercayaan diri. Dia mengikuti kompetisi digelar oleh PT. Nissan Motor Indonesia, berlabel Datsun Rising Challange, menyisihkan ribuan peserta lain. Dia bermodal nekat dengan uang sedikit buat berbisnis. 
 
Eh, ketika ikut ajang, ternyata sambutan masyarakat akan es krim kacang merah meriah. Dia beruntung ikut kompetisi. Karena juga mendapatkan pelatihan kewirausahaan. Adam memang dasarnya nekat. Belum bisa berenang malah langsung nyebur ke dunia kewirausahaan. 
 
Disana dia belajar agar tidak lekas tenggelam bagaimana mengambang ketika masalah datang. Untuk hadiah ajang diadakan perusahaan mobil ini terbilang "wah". Bayangkan selain Adam mendapatkan uang juga satu unit mobil Datsub GO+. 
 
Lewat uang tersebut Adam melebarkan sayap bisnisnya. Pertama ia lakukan adalah membuka cabang kedua. Lalu, ia tidak cuma menjual minuman tetapi juga mengembangkan makanan. Uang sebesar itu dibukakan satu cabang. 
 
Jadi Adam memiliki tempat di Jalan Gambir 142a, Karanggayam (Deresan), Depok, Sleman, dan Jalan Monjali 106a, Mlati, Sleman. Adam juga sudah punya 20 karyawan paruh waktu. Dia mangajak kalangan mahasiswa agar tidak cuma bengong begitu kuliah selesai.

Kemudian kedua tempat tersebut mengusung nama baru Minke Dessert Bar. Dimana kamu bisa berkunjung dari pukul 10.00 pagi sampai 22.00 malam. Omzet usaha ini menurut Adam sudah mencapai Rp.90- 100 juta.

Adam menyebut usahanya tidak cuma enak. Dilihat dari komposisi memang kelihatan sehat, sebut saja ada es krim Green Tea Patbingsu, Mango Saved Ice, Apple Puff, Matcha Crepes, dan lain- lain. Bahan dasar sih tinggal mencari sekitaran Yogya. 
 
Agam pun tidak mau berhenti disana. "Kedepan saya ingin bukan franchise, cukup 50 juta."

Pengusaha Teh Waralaba Murah Your Tea

Profil Pengusaha Indra Thamrin 


pengusahateh.png

Pengusaha teh waralaba murah Your Tea bukan murahan. Adalah pengusaha kelahiran 29 Juni 1988, pria asli Palembang, Sumatra Selatan. Namanya Indra Thamrin atau sering dikenal sebagai pemilik waralaba teh bernama Your Tea. 
 
Pendidikan formal Indra mulai TK sampai SMA di Yayasan Xaverius Lubuklinggau. Dia memiliki banyak prestasi dibidang akademis sejak bersekolah dulu.
 

Pengusaha Waralaba


Hanya pemuda biasa yang kini menjadi pengusaha sukses. Juga mengawalai hidupnya dari serangkaian kegagalan. Bermula di 2006, dimanan dia merantau sampai ke Bogor, Jawa Barat berniat melanjutkan kuliah Sarjana mengambil Komunikasi dan Pembenganan Masyarakat, Institut Pertani Bogor.

Dalam empat tahun berkuliah ia menyadari akan hal. Bahwa Thamrin memiliki passion dibidang bisnis. Maka dia mulai melirik berbagai peluang berbisnis sendiri. Sambil berkuliah, mengikut ekstra, dia juga sibu bisnis yang dibantu beberapa temannya.

Kemampu dibidang public- speaking yang terasah. Ia mampu meyakinkan bahwa bisnis dijalankan bukanlah sekedar bisnis. Tetapi peluang bagi kita semua mengusung konsep waralaba. Bisnis diusung Thamrin bukan tanpa perjalanan panjang, banyak trial and error dijalaninya.

Usaha dirintis sejak 2008 mengusung selogan bahwa teh menjadi minuman kedua. Setelah air putih makan orang akan melirik minuman lain, seperti teh atau kopi. Rasanya tidak berat serta kandungan nutrisi baik buat tubuh menjadi pilihan. 
 
Dibanding kopi teh lebih baik buat wanita apalagi kalau bukan buat kulit. Sebagai mahasiswa aktif mengikuti kegiatan. Terbersit dipikiran Thamrin disuatu siang akan minuman yang dingin menyegarkan. Menurut Thamrin pilihan minuman favorit orang pertama adalah air putih. 
 
Sedangkan kopi menjadi pihak ketiga setelah teh. Lalu kenapa tidak Thamrin membuka usaha teh di kampusnya?

Pemikiran tersebut disambut beberapa teman Thamrin. Mereka sepakat mencoba berbagai macam cara agar bisa menyuguhkan teh berbeda. Potensi mahasiswa IPB kan mencapai 20 ribu jiwa. Susana cukup panas ketika siang hari di musim kemarau juga mendukung.

Tiga bulan dia mencoba meracik. Memang teh biasa dibuat semua orang. Hanya saja, Thamrin ingin minuman teh berbeda yang akan menjadi sumber bisnisnya. Sekali dipasarkan cita rasa berbeda segera disambut oleh masyarakat sebagai peluang.

Maka nama CV. Sari Hijau Lestari didirikan. Brand andalan mereka adalah Your Tea beralamat lengkap di situs www.waralabateh.com. Tidak buru- buru diwaralabakan, Thamrin segera menyusun rencana sampai ia memasukan tehnya ke HAKI, serta membuat standar operasional.

Konsep waralaba diluncurkan pada tahun 2010. Kemudian Thamrin aktif melakukan digital marketing pada 2013. Tahun 2012 saja, dia sudah mengantungi 82 mitra yang tersebar dari Jakarta, Sukabumi, Bogor. Dan itu tidak berhenti disana bahkan merambah ke Surabaya, Sidoarjo, bahkan Papua.

Usaha Pengusaha Teh

 
Sebenarnya kalau dilihat sekilah sama seperti teh lain. Namun Thamrin mewajibkan pewaralaba memakai es batu kristal dari air matang. Agar tidak menjadi teh biasa, aneka varian rasa seperti honey tea, flavor tea, serta cappuccino tea dihadirkan. 
 
Kulitas daun teh juga diperhatikan betul oleh Thamrin agar aroma melatinya kentara.

Harga ditawarkan setara minuman teh di warung. Dengan kepraktisan bisnis model booth membuat usaha ini lebih mudah dijangkau. Harga per- gelas dibandrol Rp.3000- 5000 bukan pukul 08.00- 21.00. Jika jualan Thamrin mampu menjual 900 cup gelas per- hari dengan omzet Rp.900.00 per- hari.

"Yang paling banyak diminati pelanggan adalah varian rasa original tea dan milk tea," jelas Thamrin.

Paket investasi antara Rp.2 juta sampai Rp.4 jutaan. Dengan peralatan yang telah disediakan oleh pihak Your Tea. Menariknya kontrak kerja bersifat selamanya dan tidak ada royalti fee. Hanya saja kamu wajib membeli bahan baku dari Thamrin.

Agar lebih menarik banyak calon mitra. Thamrin memiliki kelebihan soal dukungan suport. Jika pengusaha biasa cuma melihat konsumen tetapi Thamrin lebih. "Saya juga akan membeberkan cara menjalankan bisnis teh kepada mitra," Thamrin menjelaskan. 
 
Ada panduan lengkap berbentuk e-book buat kamu sebagai mitra.Waktu balik modal menurut Thamrin tergantung pada cuaca dan lokasi. Kalau sukses mitra dapat kantongi omzet Rp.9 juta per- bulan yaitu menjual minimal 100 gelas saja. 
 
Finalis Wirausaha Muda Mandiri ini yakin bahwa tehnya memiliki kelebihan. Bisnis teh Thamrin memiliki segmen luas, tidak tergantung kelas ekonomi, tidak umur, ataupun jenis kelamin jadi ceruk pasarnya luas. Lokasi juga gampang karena sifatnya booth. 
 
Jadi kamu bisa jualan di pinggir jalan karena mudah dibawa- bawa. Selain memberikan peluang investasi ke banyak orang. Thamrin juga berinvestasi ke dirinya sendiri. Yakni ia hidup sebagai vegetarian. Dia juga menjadi pembicara berbagai acara kewirausahaan. 
 
Dia pernah menjadi asisten dosen di kampusnya juga loh. Pria perfeksionis ini sudah 10 tahun lebih menjalani hidup cuma makan sayur. Thamrin juga ketua Indonesian Vegetarian Society (IVS) cabang Bogor. Dia tertarik akan investasi properti dan emas. 
 
Ia melanjutkan kuliah pasca sarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor. Pria yang dikenal dengan motonya "Never Give Up" mengajak kamu menjadi wirausaha muda juga, yuk.

Inovasi Mesin Pemanas Pengusaha ITB

Profil Pengusaha Nafi Rasyid Parikesit 


pengusahaitb.png
 
Pengusaha ITB, Institut Teknologi Bandung, yang membawanya berpikir inovasu mesin pemanas. Apa yang bisa dia dilakukan. Keinginan mengaplikasikan ilmu itu semakin besar ketika melihat masyarakat kesusahan. 
 
Mereka adalah para perajin tahu di Desa Cibuntu, Garut, Jawa Barat, membutuhkan penyelesaian. Ilmuan asli Indonesia ini lantas memilih konsep entrepreneurship. Bermodal uang sendiri membuat mesin pemanas atau boiler untuk mereka.
 

Pengusaha Muda


Sekarang Nafi Rasyid Parikesit menjadi incaran pengrajin tahu seluruh Indonesia. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini tidak menyangka bisa begini sukses. Modal awal Rp.5- 10 juta, dalam perjalanan mesin boiler itu terus dikembangkan sampai sesempurna mungkin. 
 
Estimasi total modal dikeluarkan sampai total Rp.700- 800 juta. Terus balik modalnya? Per- mesin  dijual  Rp.45 juta dan dibeli oleh 50- 100 perajin satu gang.

Dimulai delapan tahun lalu, tepatnya tahun 2004, dimana Nafi tengah kebingungan soal tugas akhir. Dia tidak punya ide tentang inovasi teknologi apa. Hingga dia bersama seorang teman memutuskan membuat mesin boiler (pemanas). Konsep teknologi lama yang coba didaur ulang. 
 
Ia ingin menciptakan alat sederhana yang bisa digunakan masyarakat luas. Pengembangan pun terus dilakukan oleh pria yang akrab dipanggil Naf ini.

Tepat selepas lulus kuliah di tahun 2008, ia intensif terus melanjutkan pengembangan mesin boiler. Di tahun 2012 resmi mesin boiler bisa digunakan umum. "Saya buat desain sendiri, dari stainless dan las sendiri," ujar Naf. 
 
Soal biaya pembuatan memang tergolong mahal. Di tahun 2007 sampai tahun 2008 -an sudah keluar uang Rp.800 juta. "...karena pengembangan kita setiap tahun," jelas Naf.

Jadilah tidak begitu terasa biaya telah dikeluarkan. Tahun 2013 sudah dipasarkan di kampung perajin tahu Desa Cibuntu, Jawa Barat. Harga jual Rp.45 juta dan kebutuhan mesin boiler tersebut terus meningkat. Dia sendiri cukup kesulitan akan pesanan. 
 
Ada 19 pekerja mampu memproduksi 4 mesin sebulan. Pemesanan mesin sudah mencapai 1 gang atau 50- 100 orang perajin tahu. Untuk tenaga digunakan bahan bakar batu bara. Tapi tidak memungkinkan sumber energi lain. 
 
Naf sendiri mencontohkan cangkang sawit, kayu atau ranting kayu, batok kelapa, juga bisa memanfaatkan biomassa. Kemudian bahan bakar tersebut dimasukan kedalam mesin blower turbo. Kalau energi kurang itu bisa digantikan tenaga listrik berenergi 750 watt. 
 
Lantas siapa saja pengguna mesin buatan Naf. "Kebanyakan yang pesan itu di Bandung, Cimahi, Garut dan ada yang di Bantul, Solo, Cirebon," jelas Naf kepada Detik.com

Tidak cuma perajin tahu, ada perajin krupuk, kembang tahu, bahkan pengusaha agar atau minuman nata- de coco. Juga bisa digunakan oleh pengusaha jamur. Sebuah mesin yang hemat bahan bakar dan punya panas bagus. 
 
Kalau pakai gas menyerap panas 20%, mesin buatannya mampu menyerap panas 90%. Berkat mesin boiler tersebut banyak penghargaan dibawa pulang Naf. Yang paling bergengsi adalah penghargaan Bank Mandiri.

Nafi Rasyid memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri. Juara pertama dari ajang tersebut untuk kategori Young Mandiri Technopreneur. Masuk kedalam kategori Teknologi Non Digital atas produk mesin boiler pembantu UKM ini.

Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta

Profil Pengusaha Syahrizal Fadillah


anaksebelas.png
 
Ada berita menarik, berjudul "Anak 11 Tahun Jadi Pengusaha Beromzet 6 Juta Perbulan. Menarik karena si bocah ternyata bukan bocah biasa. Pasalnya dia sudah mepunyai jiwa entrepreneurship sejak dini. Ia bahkan sudah punya ambisi "mengalahkan" McDonald. 
 
Ketika ditanya oleh orang yang melihatnya berjual dari sepedanya. Syahrizal Fadillah umur 11 tahun entengnya menjawab hobi berbisnis.
 

Kisah Anak Jadi Pengusaha


Yah, selain membantu ekonomi keluarga, juga karena jiwa entrepreneurshipnya. Kalau anak sebayanya di kampung tengah asik dengan gadgetnya. Begitu pula dia, cuma bedanya dia membeli gadget dari jerih payah dia sendiri. 
 
Bayangkan dalam sebulan sudah mengantongi omzet Rp.6 juta. Gajinya lebih banyak dari upah yang dihasilkan oleh buruh kita. Miris, tapi menginspirasi sekali. terutama buat penulis membacanya.

Rizal begitu sapaan akrabnya. Tidak pernah sekalipun ibu Rizal dilarang ibunya. Karena berdagang juga hasilnya tidak diambil semua. Bahkan dia bisa membeli sendiri sepeda BMX -nya tersebut seharga Rp.700 ribu, lewat apa yang disebutnya hobi ini. 
 
Berbekal sepeda itulah dia berjualan aneka jajanan, seperti jus buah, roti coklat, dan cemilan kering. Dijualnya itu keliling daerah Minomartani Sleman, Yogyakarta. Bahkan sudah menghasilkan tablet sendiri seharga Rp.1 juta.

"Saya bercita- cita menjadi pengusaha. Mau ngalahin pemilik McDonald," ujarnya kepada keluarganya terus terang.

Teringat kisah Warren Buffett penulis ingin kembali lagi. Perlu kamu tau, diumur 11 tahun, seusia Riza sosok investor sepanjang masa ini sudah membeli sahamnya sendiri. Bukan dari mana, tapi dari aneka usaha, sejak kecil sudah bekerja seperti Rizal berjualan aneka jajan. 
 
Buffett juga pernah menjadi loper koran loh. Ada lagi kisah pengusaha seumuran Rizal sekarang. Cory Nieves baru berumur saja 11 tahun. Memulai usaha lewat berjualan aneka kue kering buatan sendiri. Tujuan si bocah ini yakni agar bisa membelikan ibunya sebuah mobil. 
 
Beda Rizal anak Amerika ini berjualan didepan pasar swalayan. Kamudian ada Bridges-Mo yang sudah memulai sejak 9 tahun. Ia memulai lewat dasi kupu- kupu rajutan sang nenek. Adalagi Madison Robinson yang memulai sejak 8 tahun lewat sandal warna- warni.
 

Mengajari Anak Wirausaha

 
Mengajari anak wirausaha memang sulit. Ada orang berpendapat anak bekerja berarti eksploitasi. Tapi, ketika anak sudah punya passion sejak kecil, dalam pendidikan manapun kami yakin harus mengakomodir. Bedanya ada di perlakuan kedua orang tua. 
 
Termasuk orang tua Rizal bocah asal Sleman ini. Anak kedua dari tiga bersaudara ini punya satu semangat perlu kita acungi jempol. Sekali lagi ia mengakui bahwa, "Saya jualan memang karena hobby", juga membantu keluarga.

Kepada pewarta dia bercerita bahwa keinginan itu timbul sendiri. Kedua orang tuanya tidak pernah meminta dirinya bekerja. Ia mulai berjualan bahkan sejak kelas 2 SD. "Saya jualan pulang sekolah. Lalu sore ngaji dulu. Lalu lanjut jualan sampai maghrib," ujar Rizal polos. 
 
Meski berdagang satu hal, dia tidak pernah tinggal soal sholat lima waktu. Bocah chubby berkulit sawo ini akan bermain ketika di sekolah dan di tempat ngaji.

Jualannya dari sandwich, nugget, jus buah, sampai juga coklat pisang. Rizal rata- rata menjualnya Rp.2.500 sampai Rp.3000. Untuk jus buah dibandrol seharga Rp.1.500, yang dibawanya lewat kota merah diikat di belakang sepedanya. Omzet per- harinya Rp.150.000 sampai Rp.200.000. 
 
Hasil jualan akan diberikan ke ibu. Lalu uang tersebut akan ditabungkan oleh ibunya Rp.50.000. Sang ibu juga tidak melarang ketika Rizal memakai uangnya. "Kadang saya pakai beli jajan buat adik," katanya lagi.

Dia pandai membaca Al- Quran di kampung. Ketika pertama kali meminta berjualan. Ibu sudah mewanti- wantinya agar nilainya tidak turun. Rizal penuh semangat bahkan dia ingin mengalahkan pemilik McDonald. 
 
Anak kedua dari tiga bersaudar ini nila ujiannya tidak pernah jeblok. Bahkan bisa masuk sepuluh besar, " Dia rajin belajar dan rajin ngaji sama enggak pernah bolong salat juga," kata Ibu.

Sudah tertarik jualan sejak SD. Ketika itu ibunya langsung mengamini keinginan tersebut. Syarat nilai tidak boleh jeblok dipegang Rizal. Ibu pun mendukung lewat aneka kue bikinan sendiri. "Saya buatkan roti, pisang coklat, dan jus buah buat jualan," tambahnya. 
 
Mulai kelas IV SD berjualan lah si Rizal, yang pertama- tama jualan di kantin sekolah. Padahal ibu dan ayahnya tidak pernah memintanya berjualan. Kedang ibu meras kasihan meminta agar tidak jualan. Cuma ia sendiri yang mau berjualan. 
 
Kalau dilihat dari kacamata awam, beberap ibu- ibu pembeli, melihat si Rizal sangat kasihan awalnya. Masih kecil kok sudah dipaksa jualan tutur seorang pelanggan Rizal. Namun, ketika perbincangan terjadi, sosok Rizal bukan lah anak kecil biasa. 
 
Rizal bahkan membuat anak pelanggan itu terinspirasi. Anak si ibu itu malah ikutan jualan di sekolah.

"Tapi begitu ngobrol-ngobrol saya jadi salut dan respek sama Rizal. Dia jualan karena kemauannya sendiri. Dia menginspirasi Sandy (anaknya)," ujar Santi.

Kegigihan bocah kelahiran 12 Februari 2002 ini juga menular ke kakanya. Dia yang sudah SMK sekarang ikutan berjualan di sekolah. Sejak dulu, ia memang sudah bercita- cita menjadi pengusaha. Meski harus mengayuh sepeda tiap hari dibawah teriknya matahari. 
 
Dia melakoni semuanya demi nama passion. Ketika ditanya siapa inspirasi maka jawabanya salah satu pengusaha Indonesia; bukan pengusaha McDonald.

Disabilitas Menjadi Pengusaha Keset Kaki Ratusan Juta

Profil Pengusaha Irma Suyanti

 

kesetperca.png
 

Tak terbayangkan disabilitas menjadi pengusaha. Wanita ini kini menjadi pengusaha keset kaki hasilakan ratusan juta. Irma Suyanti, warga Kebumen, Jawa Tengah, meyakini disabilitas bukanlah hambatannya mencari rejeki. Dia yakin menemukan celah hingga menghasilkan cuan.


Terbukti dia sukses berkat mengolah kain perca menjadi keset kaki. "Sebagai penyandang disabilitas saya selalu didiskriminasi; Melamar kerja selalu ditolak," ucapnya. Dirinya tau memiliki kelebihan bakat di bidang seni.


Inilah kemudian dieksplor ketika menjadi wirausaha. Dia ingin membuat produk. Dan membuat keset kaki merupakan pilihan. Menimbang dia juga mendapatkan bahan baku murah. Keset karakter yang dianggap ia mudah lakukan. Dia tidak mengeluarkan modal banyak karena bahan sisa.


Nama usahanya Mutiara Handycraft. Walau dia berhasil bikin sesuatu bagus. Itu berkat bakat seni dan ketrampilan. Namun pengusaha ini sempat kebingungan melakukan pemasaran. "Karena salah satu modalnya seni. Kami menjual dengan harga tinggi tapi dengan modal sedikit," lanjutnya.


"Saya sempat bingung pemasarannya," ia melanjutkan. Dia lalu mengingat bahwa Jakarta pusatnya berbisnis. Maka ia ke sana, mencari info pusat grosirnya seluruh Indonesia. Maka ia menemukan Pasar Tanah Abang sebagai tempat pemasaran.


Pengusaha Irma mengatakan usahanya lancar. Ia menghasilkan omzet sampai Rp.200 juta, dan mampu memasarkan sampai ke Australia. Disabilitas menjadi pengusaha keset menginspirasi. Ia mematahkan anggapan sinis akan kehidupan disabilitas.


"Saya bisa membuktikan bahwa penyandang disabilitas kalau diberi kesempatan bisa berwirausaha," dia melanjutkan. Pengusaha wanita ini kemudian diajak oleh pihak Kemenpora. Diajak ikutan festival Festival Indonesia Gathering di Australia.


Dia mendapatkan buyer lewat ajakan tersebut. "Dari situ saya dapat buyer dari Australia. Saya dapat kontrak 8 tahun," lanjut Irma.


Dikisahkan Irma mengalami disabilitas semenjak kecil. Penyebabnya penyakit polio yang diderita semenjak lahir. Dibantu sang suami, Agus Priyanto, keduanya mengumpulkan kain perca buat diolah menjadi keset.


Bermula Irma mengamati lingkungan sekitar banyak usaha garmen. Rumahnya di Semarang banyak hasilkan limbah kain. Dia kemudian kumpulkan kain tersebut. Ditumpuk kemudia dijahitnya menjadi bentuk keset kaki. Awal dia yang penyandang disabilitas harus berjalan jauh sampai ke Ibu Kota.


Dia membawa sendiri tiga karung besar. Pasalnya akan mengeluarkan biaya mahal bila sendirian. Irma langsung berhadapan dengan preman pasar Tanah Abang. Ia bertekat berjualan sampai ke Tanah Abang ini. Hingga ia menemukan jalan melalui ajang kewirausahaan.


Secarik kertas kemudian terbang menyambar wajah Irma. Ternyata isinya mengenai kesempatan ikut lomba wirausaha. Namun dia tidak memenuhi syarat mengikuti perlombaan. Tetapi pihak panitian lalu memberikan kesempatan.


Usaha mereka dirintis semenjak 1999 silam. Berjalan baik ia memiliki 5 otang karyawan. Usaha yang berbasis di Semarang, kemudian dia dan suami pindah ke Kebumen, dan ia membeli rumah di sana lalu menjalankan usaha kembali.


Beruntung tidak mengalami masalah namun tidak mudah. Produksi harus mengalami kendala ketika dia membutuhkan pegawai. Dari door- to- door dirinya menawarkan lapangan pekerjaan. Dia mengajak ibu- ibu rumah tangga menghasilkan uang.


Tetapi niat baiknya malah dianggap sinis lantaran difable. Irma berhasil membuktikan lewat produksi mereka. Ibu- ibu rumah tangga mulai melirik bahwa ini akan berhasil. Dan mereka ikut bergabung dan ikut membuat keset hingga produksi Irma membesar.


Tahun 2003, mereka sepakat mendirikan koperasi simpan pinjam, sekaligus menjadi badan yang memasarkan 1300 lembar kesetnya. Irma pun memanfaatkan 15 orang penjual. Ia juga menjualnya ke gerai- gerai ke berbagai kota.


Anggota koperasinya sampai ke Solo dan kota lain. Penjualanya tidak cuma mencapai Jakarta, tetapi sampai ke Australia, Jerman, Jepang, dan Turki. Omzet perbulannya mencapai Rp.40- 50 juta. Ada 24 jenis keset, diproduksi dan dipasarkan di dalam negeri 15 ribua perbulan, dan 45 ribu keluar negeri.


Usaha Mutiara Handycraft termasuk membuat kotak tisu dari lidi. Dia juga membuat sajadah dari tikar pandan. Kemudian dia mendirikan rumah 7m x 9m. Di rumah belakang rumahnya tersebut menjadi rumah penyandang cacat. Dia juga memberikan pekerjaan agar mandiri lewat membuat keset begini.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba