Aplikasi JajapGarut Memudahkan Warga Garut Berbisnis

Artikel Bisnis: JajapGarut Garut Berbisnis

 

aplikasigarut.png

Aplikasi JajapGarut menjadi pertanda kebangkitan UMKM lokal. Mendorong memudahkan warga Garut berbisnis. Tujuannya mengajak pelaku usaha berbisnis di dalamnya. Disisi lain, memudahkan warga Garut buat berbelanja kebutuhan sehari- hari tanpa meninggalkan rumah.

 

Wakil Bupati Helmi Budiman menyambut baik. Warga Garut juga menyambut baik kedatangan aplikasi. Ia menjelaskan kembali, "fasilitasnya sangat memahami kebutuhan saat ini, apalagi dengan motivasi untuk mengangkat UMKM di Garut dan membuka lapangan pekerjaan."


Pengelola aplikasi JajapGarut Ryan Rauf mengatakan ini merupakan aplikasi loka. Didirikan oleh anak- anak muda asli Garut. Ini diharapkan menjadi jawaban warga memenuhi kebutuhan serba instan. Ryan bercerita aplikasi tersebut berawal obrolan kopi.


Ia melihat besarnya peluang bisnis kuliner warga. Permintaan warga akan kemudahan membeli juga meningkat. Kebutuhan yang harus dipenuhi UKM dan UMKM lokal. Hingga terlintas dia ingin sebuah aplikasi pasar online lokal.


"Makanan enak di Garut itu sangat banyak hingga di gang kampung juga banyak ditemukan kuliner enak," tuturnya.

Bisnis Pakaian Militer Pengusaha Mahasiswa

Profil Pengusaha Arie Setya Yudha

 
pakaianmiliter.png
 
Pengusaha mahasiswa tersebut Arie Setya Yudha. Dia memilih mandiri. Arie bisnis pakaian militer sampai keluar negeri. Awal dia tercatat masih mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Gajah Mada Yogyakarta. 
 
Padahal dia memiliki latar belakang pendidikan mumpuni. Dia punya peluang besar menjadi pegawai hebat sepanjang hidup. Tetapi dia memilih dikenal bukan lewat berkas nilai. Arie sukses berkat kegemarannya bermain game tempur; Arie kini sukses menembak pasar bisnis pakaian militer.
 

Bisnis Pakaian Militer

 
Dengan bendera PT. Molay Satria Indonesia yang didirkan pada 2009, Yogyakarta. Arie menyediakan  menyediakan berbagai kebutuhan "kombatan" mulai dari topi, baju, celana, tas hingga sepatu. Kecuali sepatu dan tas yang masih diimpor.

Ide bisnisnya berawal dari kesukaanya akan game perang seperti Counter Strike atau Point Blank, dari sini, muncul ide untuk membuat seragam tempur. Pria yang menggunakan nama Molay sebagai akun game online -nya akhirnya mematangkan konsep bisnisnya. 
 
Dia menarget mereka baik militer atau sipil yang memang gemar bermain permainan perangan seperti air softgun. Modalnya hanya Rp.280 ribu, ditambah koneksi internet, Arie membeli kain sepanjang 4 meter untuk dijahitkan. 

Ia membuat desain dan polanya sendiri. Sementara soal penjahitan diserahkan kepada seorang penjahit di Pasar Terban, Yogya. Awalnya ia hanya memproduksi seragam sesuai permintaan pembeli saja, tetapi kini ia mampu memproduksi lebih dari 200 set seragam militer setiap bulan. 
 
Pada 2009, sampel seragam tersebut kemudian difoto dan diunggah ke forum maya Kaskus. Ternyata ada yang merespons. Seorang kolektor tertarik memesan seragam serupa.

Dari sinilah pesanan terus mengalir, hingga akhirnya dari setiap desain yang dibuat dibanderol seharga Rp. 560 ribu hingga di atas Rp 2 juta. 

"Saya memang membanderol harga yang tinggi karena bahannya benar-benar yang dijamin bagus," ungkap kelahiran Pekanbaru 31 Maret 1990 ini, kepada Kompas.com
 
Arie mengaku bahan pilihannya adalah bahan terbaik. Ia sangat- sangat selektif ketika membeli bahan baku. Sang pengusaha mahasiswa sempatkan melakukan riset mendalam, baik itu tentang bahan baku sebelum memesannya dari produsen langsung. 
 
Tidak jarang Arie memilih mengimpor bahan- bahan baku ini. "Jadi intinya harus pintar-pintar mencari via internet," tandasnya. Untuk menjaga loyalitas pelanggan, ia tak segan- segan membeli bahan baku dari luar. 
 
Bahan seperti benang, resleting, dan kancing baju menjadi hal detail yang perlu diperhatikan seksama. Bahkan, untuk membuat lubang kancing baju dan celana, ia memesan sebuah mesin khusus yang harga bekasnya saja bisa mencapai 30 juta per- unit. 
 
"Mesin jahit yang kami gunakan semua standar mesin jahit untuk militer," ujarnya. Ia lebih memilih bahan impor dari Malaysia bukan cuma ambil dari pasar.

"Kami hanya pesan kainnya di Malaysia, untuk proses jahit tetap kami yang melakukan," tuturnya.

Tak ayal harga yang dibandrol bisa dibilang kelas premium. Ia menambahkan karena sifatnya yang juga sebagai proteksi maka perlu perlakuan spesial seperti bahan impor. Dia bahkan menolak mengirim barang yang dianggapnya gagal. 
 
Uniknya, Arie mengaku tidak memiliki latar belakang dunia konveksi. Ia belajar secara otodidak dari dunia maya. Mulai dari pengetahuan soal bahan hingga mencari pemasok, ia dapatkan dari Internet.

"Dengan para vendor kami belum pernah tatap muka, semua menggunakan jasa online," kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Sebagian besar konsumennya adalah mereka orang- orang militer, kepolisian, pekerja tambang, maupun penggemar permainan airsoft gun.

Pasaran PT. Molay Satria Indonesia telah tembus Italia, AS, Swedia, Kanada, Austria, dan Norwegia. Usahnya memanfaatkan internet melalui forum Kaskus lalu forum dan situs jual beli asing. Permintaan akan Molay Military Uniform Devision terus meningkat ditiap tahunnya. 
 
Sepanjang tahun 2014 hingga Agustus ini, pria berusia 24 tahun ini mengaku sudah meraup omzet hingga Rp 2 miliar saja dari penjualan seragam militer lewat toko online.

"Hingga akhir tahun kita targetkan mencapai angka Rp 3 miliar," ungkapnya.

Selain pemasaran melalui media internet, Arie menggunakan reseller atau distributor ke daerah- daerah. Ada dealer resmi seperti di Jakarta Utara. Secara finansial kini Arie sudah tak lagi mengandalkan kiriman kedua orang tuanya untuk melanjutkan kuliah. 
 
Selain kuliah ia kini bisa bermain air softgun dengan lebih tenang. Apa lagi yang ingin dicapai seorang Arie Setya Yudha? Perusahaannya telah memiliki sekitar 17 karyawan. Sebanyak 10 di antaranya adalah staf pemasaran dan tujuh lainnya di bagian produksi.

Pengusaha Mahasiswa


Setelah mendapatkan banyak pesanan ia membuka rumah produksi di kawasan Yogyakarta. Modal sebesar Rp 25 juta dari keuntungan usaha yang dikumpulkan selama ini, Arie membeli mesin jahit dan beberapa peralatan lainnya untuk produksi lebih banyak. 
 
"Jadi sebenarnya saya beli mesin jahit dan saya kasih ke tukang jahit. Rumah mereka saya jadikan rumah produksi kami," kata dia kepada SWA. Ia memiliki tujuh penjahit langganan untuk produksinya. ementara, jika produksi sedang banyak, ia juga menyebar pesanan jahitan ke penjahit lain.

Pria berusia 24 tahun ini terus mengembangkan usahanya dengan modal terbatas dan seadanya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang mahasiswa. Kendati tak punya latar belakang di bidang konveksi, Arie merasa hal itu tidak menjadi kendala. 
 
Ia banyak belajar secara otodidak dari internet. Karena kegemaran akan segala hal tentang kemiliteran menjadi modalnya. Yang jadi persoalan untuk bisnisnya kini, jelas Arie lanjut, ia sangat kesulitan mencari tempat produksi dan penjahit untuk berproduksi sementara pesanan mereka kian meningkat.

Sepanjang tahun 2013 saja, ia mengaku bisa mengantongi omzet sebesar Rp 1,5 miliar. Pada delapan bulan pertama di tahun ini, omzet usahanya sudah sudah mencapai Rp 2 miliar saja. Dia optimistis hingga akhir tahun 2014 bisa saja mencetak omzet hingga Rp 3 miliar. 
 
Sebagai bukti kesuksesannya membangun bisnis, Arie  pernah menjadi salah satu finalis Wirausaha Muda Mandiri pada tahun 2011 untuk kategori bisnis. Meski begitu ia bukannya tanpa hambatan. Dia yang buta konveksi selalu belajar dari internet.

Meski sudah mendapatkan barang bagus dari luar, tetap ada pemasok yang tak masuk kretiria kerjanya. Terkadang ia juga mengeluh soal tenaga penjahit. Kapasitas produksinya sudah terlalu besar untuk pasar kelas garmen kecil. Saat ini rata-rata produksinya minimal 200 seragam per bulan. 
 
Harga jual produk berkisar Rp 560.000 hingga Rp 2 juta per unit. Salah satu cara mengatasi masalah ialah menggunakan satu konsep bisnis baru yaitu sistem pemasaran business to business (B2B) untuk memperbesar pasar.

Sukses di pasar internasional kebanyakan adalah mereka para pembeli ritel, merkea yang mendapatkan informasi produknya dari internet.

Startup TheLorry Cerita Pengusaha Diko Merintis Usaha

Profil Pengusaha Alzamendi Oatryany

 
startupthelorry.png
 
Alzamendi Qatryany, atau Diko adalah pengusaha muda startup terbaru Indonesia. Kisah Dito merintis usaha startup TheLorry, bermula dari keinginan mengembangkan jasa logistik. Dito merupakan pegawai perusahaan logistik selama 5 tahun.

Pengusaha lulusan Multimedia University, Malaysia, yang benar- benar ingin mengembangkan model bisnis baru. Dito bahkan mau melanjutkan S2 jurusan Supply Chain Logistic pada 2022, di Monash University Australia.
 

Startup TheLorry

 
"Dunia logistik memang tidak asing bagi saya. Dari pengalaman itu, saya terapkan di TheLorry," lanjut Dito. Awal dia merupakan lulusan IT, namun mempertajam di jurusan logistik, Dito nampak telah paham apa akan dia kerjakan kedepan.

TheLorry sendiri berbasis di Malaysia awal. Ada 5 orang termasuk dirinya, mereka mengerjakan jasa angkut masa depan berbasis aplikasi. TheLorry tidak sekedar menjadi jasa antar barang. Melainkan spesial jasa angkut barang dengan ukuran basar.

Berbasis aplikasi TheLorry akan membantu kamu pindahan. TheLorry unggul akan pelayanan. Startup TheLorry telah memiliki roadmap jelas jasa mereka. Mulai dari mitra driver hingga kendaraan angkut disesuaikan kebutuhan pelanggan.

Kini, di Indonesia, TheLorry telah memiliki 5 cabang di Bali, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Bandung. Mitra angkut merupakan profesional. Sebelum direkrut mereka diberikan pelatihan oleh pihak TheLorry.

Dukungan termasuk mengenai kepribadian dan penggunaan aplikasi ini. Pertiga bulan mitra dibekali pelatihan baru pendukung. Sistem pembayaran berbeda menawarkan kemudahan dari kartu kredit, debit, dan lewat minimarket.

Nanti mereka juga akan memberikan opsi pembayaran lain. Dito menjelaskan mereka memberikan layanan asuransi barang diangkut. Banyak metode angkutan tengah digarap TheLorry. Jadi tidak akan terbatas mobil pickup atau mobil box, adapula engkel bak/box dan double bak/box.

"Mengenai harga, kami sangat memikirkan mitra dan konsumen. Kami ingin memiliki ekosistem lebih baik. Jadi, tidak muraha dan terlalu mahal," terangnya kepada Liputan6.com

TheLorry juga memikirkan mitra sopir. Bayangkan kalau terlalu murah, maka kasihan mitra, kualitas mereka akan ikutan menurun. Jasa angkutan barang tidak melulu mengurus orang pindahan. TheLorry juga memberikan layanan bagi UMKM, dari memindahkan sembako atau lainnya.
 
Jasa angkutan mereka menyangkup seluruh Indonesia. Biaya dihitung berdasarkan perkilo meter, mulai dari Rp.45 ribu per 5 Km pertama.  
 
"Saya tidak mau hanya dbilang seseorang No Action Talk Only, lebih baik saya memberikan contoh supaya menjadi dampak positif bagi karyawan lainnya," imbuh Diko.

Pegawai TheLorry merupakan anak- anak muda milenial. Diko mengatakan anak muda haus akan pengalaman. Dulu 5 karyawan sekarang dia memiliki 40 orang karyawan. Dalam pekerjaan dia selalu menekankan pegawai harus membuat raport.

Laporan pekerjaan berisi kinerja pegawai dalam sebulan. "Buat raport itu spele tapi sangat penting. Jadi saya bisa tau terget dan laporan karyawan," ia menjelaskan. Skema tiga bulan laporan akan lebih meningkatkan kinerja, sekaligus menjadi bahan evaluasi bersama.

Dito menerapkan tim TheLorry terdiri pegawai berpengalaman dan milenial. Banyak anggapan bahwa kaum milenial susah diatur. Nah, TheLorry menjebatani, yang berpengalaman akan memberikan suatu pembelajaran, sementara milenial akan lebih terbuka memberi masukan.

Prinsip kerja Dito adalah selalu berbuat baik, dan bekerja dimanapun. Harapannya adalah TheLorry akan membuka cabang di seluruh Indonesia. Pengusaha Diko merintis usaha startup TheLorry, telah melihat peluang jasa angkutan di Indonesia.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba