Tak Suka Diatur Atasan Pengusaha Toko Olahraga

Profil Pengusaha Randy Fitranadi


pengusahatoko.png
 
Jadi pengusaha toko olahraga tak suka diatur atasan.  Dulu gagal usaha batik tak membuatnya lantas surut. Malah semakin menjadi- jadi berbisnisnya. Dia Rady Fitranadi, awalnya merintis usaha pakain batik tapi beralih pakaian lain. 
 
Beda bukan pakaian distro tapi malahan pakaian olah raga. Dan, hasilnya, tak terlalu buruk pengusaha kelahiran Padang, 25 April 1980 ini bisa bernafas lega. Usahanya terbilang lancar jaya dibanding sebelumnya. Randy bahkan jadi sorotan karena bisnisnya tak biasa.
 

Usaha Toko Olahraga


Randy cuma berjualan di kampusnya saja. Tiap berangkat ke kampus punggung Randy selalu terbebani. Tas ranselnya berisi barang dagangan aneka pakaian. Kemudian seiring waktu sedikit- demi sedikit mulai lah ia membangun toko perlengkapan olah raga sendiri. 
 
Ia memang suka sekali menjadi pengusaha muda. Berawal ketika mengikuti ajang Program Mahasiswa Wirausaha (PMW) oleh Universitas Andalas. Berlanjut ke bisnis batik pertamanya.

Sukses dari ajang tersebut didapatkannya modal Rp.8juta. Ia lantas gunakan sebagai modal membeli batik. "Saat itu saya melihat batik sedang populer di Indonesia," ujarnya. Ada prospeknya bagus disana di bisnis batik ini. 
 
Sayangnya, dalam beberapa bulan malah tidak ada perkembangan berarti. Dia berpikir sederhana mungkin batik di Padang belum sepopuler di Jawa. Secepatnya ia banting stir memilih berjualan pakaian olah raga; seketika keburu modalnya habis.

Randy memulai usaha dari nol lagi. Uang modal digunakan membeli pakain olah raga dari Jakarta. Idenya muncul karena kebiasaanya beli peralatan olah raga. Ketika membeli perlengkapan olah raga di tempatnya, ia lantas berpikir kenapa tidak berbisnis pakain olah raga. 
 
Peniliaian akan prospeknya memang tak salah. Terbukti pembeli selalu datang mampir. Peminatnya tak surut utamanya buat olah raga futsal.

"Apalagi saat ini, olahraga futsal menjadi olah raga yang top di tengah- tengah masyarakat," jelasnya.

Usaha pria penghobi futsal ini semakin berkibar saja. Dari awalnya cuma menjual peralatan atau kaos olah raga seadanya. Ia tawarkan kepada teman- teman sekampusnya. Kini, usahanya sudah punya tempat tetap, padahal dulu modalnya cuma tas ransel. 
 
Ini membuktikan bisnis tak harus bermodal besar. Kawan- kawannya pun mendukung langkah Randy mengembangkan sayap. Kawan- kawanya jadi pelanggan pertama tetap toko kecilnya. Ini memberikan dorongan motivasi baginya.

Ia jadi lebih percaya diri. Kerja kerasnya berbuah ketika itu dihargai. Penghargaan itu salah satunya dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) melalui pinjaman KUR. Putra ketiga dari pasangan Indra Nadhi dan Nursidah ini tak menyia- nyiakan. 
 
Toko pertamanya itu berdiri di Jalan Adinegoro No.11 Tabing di Simpang, tepatnya ada di arah ke kampus ATIP Padang. Waktu telah berlalu dimana usahanya tak seperti dulu. Kini, Randy bisa bolak- balik naik pesawat Jakarta- Padang cuma buat menyetok barang. 
 
Jumlah pelanggannya juga sudah bertambah seiring waktu. "Saya tidak menyangka, saya sekarang sudah bisa bolak- balik Jakarta- Padang," ungkapnya. Ia merasa senang karena tak perlu lagi susah kesana- kemari mencari kerjaan. 
 
"Ternyata jadi pengusaha itu memang enak," tambah pria berbadan atletis ini.

Randy blak- blakan mengaku kenapa jadi pengusaha. Ternyata semenjak merasakan enaknya. Ia malah ketagihan karena memang tak ada batasan. Tepatnya dia tak perlu diatur- atur orang. "Saya tidak suka diperintah," jelasnya. 
 
Dirinya merasa gaji menjadi pegawai itu kecil. Padahal jika dibaca dari pengalamannya diatas dia belum pernah bekerja. Padahal dia belum pernah jadi karyawan tapi langsung pengusaha, "Jadi pegawai itu harus siap seperti robot, yang senang tiasa dikendalikan orang."

"Itu bukan tipe saya," sebut Randy. Menurutnya menjadi pengusaha memberikan banyak manfaat. Bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain. Ia kemudian menjelaskan, kita tidak makan gaji pemerintah saja. Ini mungkin merujuk kepada pegawai negeri sipil. 
 
Malahan menurutnya pengusaha lebih berguna bagi negara. Tak makan gaji buta justru malah jadi sumber pajak negara. Mampu membantu masyarakat banyak.

Usaha Keripik Telur Pengusaha Mahasiswa

Profil Pengusaha M. Daimil Asfa

 

keripiktelur.png
 

Pengusaha mahasiswa bukanlah mudah. Usaha keripik telur merupakan bentuk keprihatinan. Itu bermula dari rasa prihatin melihat nasib peternak telur. Muhammad Daimil Asfa adalah mahasiswa semester akhir di Universitas Islam Blitar (Unisba), dimana ia melihat nasib peternak telur merugi.

 

Peternak ayam Desa Ariojeding, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungaggung, mengalami kerugian selain karena harga turun, harga pakan ternak juga naik tajam. Mereka resah apalagi beternak ayam telur merupakan mata pencarian pokok.


Jualan Keripik

 

Mayoritas warga desa merupakan peternak ayam. "Dari hal tersebut, saya menangkap suatu peluang di mana  telur yang jumlahnya sangat banyak itu ternyata dapat kita olah sehingga memiliki nilai jual yang semakin tinggi," terangnya.


Dari telur tersebut dapat diolah menjadi makanan matang. Nilai jualnnya juga berubah menjadi lebih tinggi. Ini pikiran Imil yang mengembangkan camilan keripik telur. 

 

"Telur yang jumlahnya banyak itu ternyata dapat kita olah sehingga memiliki nilai jual yang semakin tinggi. Saya mempunyai ide membuat kripik yang terbuat dari telur," ungkap Imil kepada BlitarNews.


Nama keripik telur sangat unik ditelinga dan belum ramai di pasaran. Dia percaya diri. Imil mencoba melakukan eksperimen. Ia menjelaskan, bahan utama telur ayam yang masih mentah dicampur dulu antara putih dan kuning. Kemudian dia beri rempah- rempah dicampur sampai menjadi merata.


Akhirnya dicampur diolah dicampur tepung tapioka dan terigu. Imil kemudian menambah bumbu- bumbu termasuk bawang putih, garam, penyedap rasa, dan lain- lain. Adonan dicampur merata lalu ditambah sedikit tepung crispy.


Hitungan tepungnya 70% telur dan 30% nya tepung. Itu kemudian digoreng. Tidak langsung kering sekali goreng. Imil menggoreng berulang. Dan dimasukan ke oven menjadi penutup. Lewat oven lah keripik berasa kering dan terasa crispy bila dimakan.


Ditiriskan dari oven, Imil melanjutkan memasukan keripik ke spinner buat mengeringkan minyak, lalu keripik telur siap diberi bumbu. Kemudian dia tiriskan, tambahkan bumbu perasa buat menambah cita rasa keripik.


Ada enam varian rasa keripik telur buatannya. Dia membuat rasa barbeque, ayam bakar, jagung bakar, pedas, original dan sapi panggang. Ide bisnis coba- coba tersebut membuatnya sukses. Pengusaha mahasiswa yang masih disibukan urusan kampus.


Dia membuat usahanya setahun lalu. Ternyata keripik telur lezat dan dinikmati masyarakat. Penjualan dikemas sabagus mungkin. Dia mengemas kemudian melabeli Bontot Egg Chips. Harganya juga cukup murah perbungkus Rp.11 ribu sampai Rp.30 ribu dibungkus plastik aneka ukuran.


Buat menjalankan usaha keripik telur dia dibantu dua karyawan. Mereka ditugasi produksi dan lakukan pengemasan. Sedangkan pemasaran melalui sistem getok tular atau mulut ke mulut. Imil juga jualan lewat sosial media. Dia pasarkan ke anak- anak muda penggemar camilan.


Ya menjadikan ini camilan buat menemani nongkrong anak muda. "Melalui penjualan produk saya ini, Alhamdulillah bisa untuk membantu biaya kuliah saya," terang Imil. Pengusaha mahasiswa ini kata berita hasilkan ratusan juta.

Aplikasi Bullying Menang Ajang Internasional

Profil Pengusaha William Lautama


pengusahasosial.png
 
Pengusaha tidak melulu soal cara menghasilkan uang. Inilah kisah aplikasi bullying menang ajang internasional. Definisi entrepreneur sudah beralih dari mereka pencari untung semata. Kisah kali ini datang dari seorang mahasiswa Teknik Industri Institut Teknologi Bandung (ITB). 
 
Ia telah mengharumkan nama Indonesia di aneka kancah internasional baru- baru saja ini. Tahun 2013, ia bersema beberapa orang, memberikan kejutan karena menemukan aplikasi unik. Dia adalah pemuda bernama William Lautama.
 

Pengusaha Sosial


Dia menceritakan pengalaman memenangkan sebuah kompetisi ini. Sebuah kompetisi entrepreneurship yang diselenggarakan oleh 4Entrepreneurship, sebuah institusi gabungan empat universitas di Munich, lewat  kompetisi Global Entrepreneurship Summer School (GESS). 
 
William kala itu masih berkuliah loh disaat menjalankan proyeknya.

"Saya adalah satu dari 35 peserta yang lulus seleksi dari mahasiswa dunia. Kebetulan saya satu- satunya perwakilan Indonesia," ujarnya.

GESS sendiri mengusung aneka konsep entrepreneurship. Tak cuma masalah uang tapi juga sosial. Fokusnya bagaimana agar merubah kehidupan orang banyak, membantu lebih banyak. GESS sendiri waktu itu tengah mengangkat konsep Rethinking Education. 
 
Kemudian membagi 35 orang ini terpilih membentuk kelompok- kelompok sendiri. Beranggotakan 5-6 orang sosok William lah menjadi pelopornya.

"Seru sekali mengingat diskusi saat ini. Sebab, anggota tim kan berasal dari negara- negara yang berbeda," ujarnya.

Persoalan pendidikan perlu sentuhan khusus diulik. Uniknya, karena ke tim -nya sendiri juga memiliki latar belakang dari dunia pendidikan berbeda. Persoalan bahasa menjadi masalah tapi akhirnya bisa bertemu di satu titik. 
 
Pemuda kelahiran 7 Januari ini lantas melanjutkan ceritanya. Mereka kemudian menjabarkan apa- apa masalah pendidikan di negara masing- masing. Pemuda 26 tahun ini lantas menawarkan konsep bullying. 
 
Permasalahan pendidikan Indonesia disaat- saat ini yang jadi semakin menghawatirkan. Awalnya ia mencoba menawarkan masalah kekurangan guru, sarana prasarana, tapi kesemuanya tidak sesuai buat teman satu tim -nya. 
 
Mereka merupakan pemuda asal negara maju. Tapi jika berbicara tentang bullying atau intimidasi di pendidikan; mereka punya pemikiran sama. Anggota tim nya antara lain Priscillia (Argentina), Yara (Ukraina), kemudian dua Christian dan Melenie (Jerman). 
 

Aplikasi Bullying

 
Bullying merupakan masalah global bagi semua negara- negara. "Bullying ini sudah menjadi isu internasional. Bahkan, di Indonesia banyak terjadi," ujarnya. Bahkan menurut William ada anak yang memilih berhenti sekolah karena jadi korban bullying. 
 
Acara brainstroming menyimpulkan tim mereka lantas dinamai LoHoop (Love and Hope). Fokusnya adalah menangani bullying. Jadilah dibuatlah aplikasi curhat bullying itu sendiri. Alasannya karena korban bullying butuh solusi serta tempat berbagi. 
 
Faktanya korban bullying biasanya takut menceritakan kepada orang tua. Sementara teman sendiri belum tentu bisa memberikan solusi masalah.

"Salah satunya karena korban bullying selama ini kerap tidak memiliki saluran untuk curhat," jelas William lagi. Tak disangka ternyata konsep bisnisnya menang.

William berserta tim -nya lantas diundang ke Jerman guna mengikuti Cultural Inovation Network (CIN). Akan tetapi bukanlah pertama kali ini dirinya mengikuti ajang sejenis. 
 
Januari 2013, ia pernah diundang ke Hongkong, mengikuti acara menyangkut perubahan positif pemuda- pemuda di seluruh dunia. Undang ini katanya didapatkan berkat insiatifnya memberdayakan masyarakat di Cilincing, Jakarta Utara.

William bersama sejumlah teman kuliahnya bahkan mendapatkan bantuan dana. Dana donasi dari Unilever Leadership Actions on Sustainability (ULAS), mereka mengajari sejumlah ibu- ibu menciptakan pendapatan sendiri melalui berjualan roti kukus dan susu kacang. 
 
Dia juga dikenal sebagai co- writer dari buku berjudul Proud and Rise. Di Juli- Agustus 2013, ia mendapatkan undangan mengkuti agenda tahunan tentang science, bernama London Youth Science Forum 2013.

Meski sudah mengikuti banyak belajar dari konferensi internasional. Jikalau berbicara tentang usaha beneran, William secara jujur, mengaku dirinya masihlah pemula soal ini. Meski sudahlah menjalankan aneka usaha sendiri sejak kuliah. Meski dari sana sudah bisa membantu membiaya kuliahnya. 
 
Dia pernah jatuh bangun merasakan berjualan aneka produk. Termasuk berjualan gadget dimana akhirnya ia bangkrut kena tipu.

"Sejak kecil saya diajari usaha mandiri oleh keluarga saya. Termasuk ketika saya kuliah, ditanamkan rasa malu untuk tetap meminta uang jajan," terangnya. Disanalah jiwa entrepreneurship tumbuh dalam dirinya.

Meski gagal dia terlihat menikmatinya. Buktinya ia tertawa ketika menceritakan bangkrutnya kepada pewarta Jawa Post. Dia belajar agar selalu belajar. Makanya meski sudah banyak jatuh tapi tak mau menyarah. 
 
Disanalah dia belajar terangnya lagi. Sekarang alumnus SMK 5 BPK Penabur ini tengah fokus menjalankan bisnis kuliner dan kerajinan di Bandung. Tak cuma meminta uang saku tapi juga sudah bisa membiayai kuliah sendiri.

Meski banyak waktunya dikerjakan buat berbisnis ataupun membedayakan masyarakat. Ia sama sekali tidak turun soal akademis. Buktinya, William mendapat beasiswa karena prestasi akademiknya dan akhirnya dia juga bisa lulus tepat waktu.

"Dari jatuh itu saya belajar. Makanya, semakin banyak jatuh jangan semakin menyerah, karena dari situlah kita belajar," ujarnya.

Omzet Jutaan Rupiah Bisnis Bonsai Kelapa

Profil Pengusaha Dimas Hafid Haryono

 

bisnisbonsai.png
 

Bisnis bonsai kelapa tersebut dikembangkan Dimas Hafid Haryono. Pengusaha muda usia 27 tahun yang mebudidaya kemudia dibonsai. Prosesnya layaknya menanam kelapa tetapi berukuran kecil. Warga Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, sudah menjual sampai ke berbagai daerah di Indonesia.

 

Tanaman bonsainya dijual sampai ke Kalimantan, Sumatera, Lombok dan kota besar lainnya. Sebulan dia menghasilkan omzet Rp.4 juta.

 

Bisnis Bonsai

 

Ia mulai usaha semenjak Covid 19 melanda Indonesia. Pusing Dimas mencari pekerjaan tidak kunjung menemukan. Mencari pekerjaan susah tetapi dia tidak punya kegiatan. Iseng ia mebuka video- video di Youtube. Dia lantas menemukan video cara membuat bonsai.


"Belajar (bonsai kelapa) sendiri. Cuma lihat di Youtube aja. Awalnya susah dan sulit. Kalau dipelajari tidak ada yang susah," imbuhnya.


Baru empat bulan terakhir dia bisnis bonsai kelapa. Ia mampu menjual ke berbagai daerah, dan omzet jutaan rupiah. Pertama kali dia menjual melalui sosial media. Bisnis bonsai kelapa tidak butuhkan modal besar. Bahan- bahan mudah ditemukan semua mudah ditemukan di pasar.


Biaya tidak terlalu banyak. Di pasar tinggal beli kelapa Rp.7000, Rp.5000, sudah dapat satu kelapa. Ia menggunakan kelapa gading kuning dan kelapa gading oranye. Ia mendapatkan bibit dari Pacitan, Jawa Barat. Tiap pekan dia sudah sediakan 50 kelapa gading buat pembibitan.

 

Ia membeli kelapa utuh. Kebetulan sudah muncul tunasnya kemudian disayat. Media tanamnya juga beragam, pakai air bisa, pakai tanah biasa bisa, pakai sekam juga bisa. Dimas mengatakan kalau mau mendapatkan bentuk bagus harus rajin disayat.

 

Dia menyayat bagian bawah bonsai secara teratur. Proses penyayatan dilakukan rutin lima hari sekali. Proses penyayatan dilakukan hati- hati. Ini untuk menghindari kematian pada tanaman bonsai kelapa. 

 

Dia menjual bonsainya dengan harga bervariasi, mulai dari Rp.20 ribu dan Rp.25 ribu. Tetapi bila itu sudah dibentuk atau siap pajang dijual Rp.130 ribu dan Rp.300 ribu. Adapula dia menjual sampai harga Rp.3 jutaan. Paling laku bibit. Hampir tiap hari dia mengirim keluar daerah buat pecinta tanaman.

Pengusaha Handuk Terry Palmer Anak Muda

Profil Pengusaha Wilson Pesik


pengusahahanduk.png

Anak muda berbisnis lain dibanding kebanyakan. Pengusaha handuk Terry Palmer merupakan penerus bisnis keluarga. Namun dia mampu melambungkan nama Terry Palmer. Namanya menjadi ikonik dari produk handuk premium berkelas.
 
 
Apa menariknya sebuah handuk dimata kita. Itulah sepenggal pernyataan memulai kisah pengusaha berikut. Bukanlah sekedar handuk biasa. Tetapi handuk memang sering identik sebagai produk impor oleh masyarkat. 
 
Faktanya ini bukanlah produk impor. Terry Palmer justru sukses diekspor ke manca negara, dan dikira produk asing. Inilah kisah handuk premium- lembut bernama Terry Palmer.
 

Handuk Terry Palmer


Produknya sudah biasa berada di hotel- hotel Indonesia. Handuk bernama kebarat- baratan, yang ternyata sudah ada sejak 1962, diproduksi perusahaan bernama PT. Indah Jaya. Yang kini dipegang oleh sosok muda berbakat bernama Wilson Pesik. 
 
Merupakan generasi ketiga dari suksesi perusahaan tersebut. Wilson hanyalah anak muda penuh gairah seperti halnya kita. Bedanya sejak usia dini sudahlah dibebani tanggung jawab besar memimpin perusahaan.

"Jauh sebelumnya, ketika masih sekolah saya sudah sering terlibat," jelasnya ke awak media.

Sejak tahun 2007- 2008 dirinya sudah diperkenalkan kepada lingkungan bisnis. Hingga ketika harus diberi tanggung jawab mengambil tongkat kepemimpinan; dia sudah merasa di rumah. 
 
PT. Indah Jaya kini dipegang oleh sosok lulusan Marketing dan Entrepreneurship salah satu univesitas Amerika. Merupakan genarsi ketiga yang mencoba mematahkan kutukan.

Kutukan tersebut adalah kutukan tentang perusahaan keluarga. Dimana generasi pertama adalah sosok dari fondasi bisnisnya. Kemudian dilanjutkan oleh generasi kedua yang menyempurnakan suksesnya. Sementara itu tidak lain sosok generasi ketiga menjadi "penghabisan". 
 
Wiliam sendiri mungkin sadar akan hal tersebut. Ia membuktikan diri bahwa dirinya layak. Hasilnya adalah cara marketing modern yang tidak biasa. Tidak biasa dari pendahulunya dalam soal urusan handuk.

Mengendalikan pabrik seluas 40 hektar berkaryawan sekitar 5.000 orang di Tangerang; tak membuatnya jadi gentar. Pengetahuan selama di Negeri Paman Sam nampaknya sangat berguna. Ia bahkan membawa gariah baru dalam marketing dan bisnis Terry Palmer. 
 
Sebagai sosok nahkoda, sosoknya masih unyu- unyu kata anak muda jaman sekarang, namun punya latar belakang pendidikan luar biasa.

Jikalau dilihat dari wajahnya bukanlah tipikal anak manja. Terlihat dari sorot matanya saja merupakan sosok  muda penuh visi.

"Sewaktu saya ditugaskan untuk memimpin perusahaan ini sudah sangat nyaman, dan saya sudah sangat memahami brand ini," jelasnya kepada majalah Marketing (www.marketing.co.id).
 

Pengusaha Handuk


Sebelumnya diakuinya perusahaan dijalankan dengan cara tradisional. Hingga ilmunya masuk merubah peta bisnis Terry Palmer dari sekedar handuk. Sekali masuk sudah percaya diri dan membuat aneka trobosan dalam hal marketing; tanpa keraguan dan trial- error. 
 
Langsung tancap gas istilahnya buat mengembangkan brand miliknya. Jangan salah, Wiliam paham betul soal proses produksi, dan baginya merupakan satu kepastian buat tau apa itu pemilihan bahan baku (raw material) dan barang jadi. 
 
Hal- hal mendasar itu sudahlah diajarkan bahkan sejak masih kecil. Dia sudah sering diajak ke eksibisi, pameran Home Textile di Jerman, pameran terbesar yang diselenggarakan di awal tahun. Produk Terry Palmer sudah pasti mengikuti ajang tahunan tersebut. Ia belajar banya disana.

Belajar tentang produk- produk handuk diluar sana. Wiliam bahkan sudah menganggap mereka menjadi satu pesaing. "Saya belajar dari segi desain dan taste," imbuhnya. Dari sang ayah dipelajarinya bagaimana cara agar membedakan handuk berkualitas dan mana jelek. 
 
Dia sendiri merasa tidak terbebani. Ketika pulang ke Indonesia dari studi di Amerika sama sekali tidak ada paksaan. Bahkan sang ayah santainya mengirim SMS ketika pesawatnya mendarat.

"Welcome home, mari kita jalani bersama- sama, meraih kesuksesan bersama- sama," kenang Wilson.

Itu hal paling diingatnya ketika kembali ke Indonesia. Ayahnya meyakinkannya bahwa dia percaya. Padahal dia baru saja pulang, belum mengerti, belum punya pengalaman di perusahaan. Tetapi ayahnya memberinya satu kepercayaan besar. 
 
Merasa terbebani? Ternyata tidak, karena sejak awal mau berkuliah, dirinya sudah diwanti- wanti akan tanggung jawabnya.

Suatu hari pasti akan memimpin perusahaan selanjutnya. Dari segi mental sudahlah sangat siap bahkan jauh sebelum memilih jurusan kuliah. Soal marketing menurut Wiliam, produk Terry Palmer terlalu bermain safe cuma berkutat di itu- itu saja. 
 
Marketing menurutnya adalah out side the box, dimana menurutnya diluar sana banyak sekali contohnya. Bahkan tidak terpikirkan sebelumnya pernah ada oleh masyarakat awam. Ia menyebut marketing tidak monoton.

"Saya baru tahun ini menjalani krativitas di Terry Palmer, di mana saya bisa melakukan out side the box," ujar Wilson

Melalui event Miss World 2013, nama Terry Palmer mencuat bahkan penulis sempat mengira ini produk apa ya. Penulisa sempat berpikir apakah Terry Palmer adalah produk impor. Melalui acara tersebut perusahaan ditangannya melalukan aneka branding. 
 
Tidak sama dengan ketika perusahaan dikontrol 100% oleh ayahnya. Terry Palmer begitu berani melakukan strategi marketing besar- besaran di televisi. "Padahal kami merasa bukan seperti produk elektronik atau makanan," jelasnya.

"Mana ada handuk di dunia yang mau muncul di TVC. Tapi, saya berani mengambil langkah itu," jelasnya penuh kebanggaan.

Bukan cuma mensponsori karena kalau sponsor sudah banyak. Lebih jauh lagi bahkan menjadi bagian dari tiap kegiatannya. Melakukan aktifitas promosi paralel jalannya acara tersebut. Tidak cuma berhenti di acara Miss World.
 

Perjuangan Anak Muda

 
Wilson meyakinkan kita bahwa Terry Palmer merupakan produk bernyali. Mereka sudah siap cara marketing lain di internalnya. Pokoknya akan menjadi surpraise jelasnya kembali. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk brand awareness.

Menarik perhatian masyarakat sekarang tak cuma kelas menengah- atas. Bahkan seluruh Indonesia sudahlah bertanya- tanya apa sih Terry Palmer. Fakta bahwa sosoknya masihlah sangat muda tak diambil pusing. Ia meyakinkan jangan menganggap remeh dirinya. 
 
Semuanya berjalan seperti biasanya. Wilson merasa dirinya telah mendapatkan respect dari orang sekitarnya. Ada target yang harus dipenuhinya yakni memperkenalkan Terry Palmer. Tidak cuma bermain dipasar lokal tapi harus berani mencapai pasar global. 
 
Ia melihat bahwa kualitas produknya tak kalah dari pemain bisnis handuk asal Eropa. Bahkan menurutnya sebagian lini- produknya lebih baik. Wilson masih sangat melihat ada peluang buat pasar global.

Tahun- tahun ini sudah masuk ke pasar Singapura, Malaysia, Australia, bahkan siap masuk pasar China. Jika ibaratnya handuk China masuk Indonesia, kini, giliran Terry Palmer asal Indonesia memasuki pasaran China. Ia terlihat percaya dirinya menjelaskan targetnya. 
 
Hasilnya cukup baik memang karena standar produknya itu sudah world class. Meski bicara soal teknik, Wilson meyakinkan kamu, bahwa teknik, mesin, dan bahan baku miliknya sudah terbaik. Ambil contohnya bahan utamanya menggunakan egyptian cotton atau kapas mesir terbaik. 
 
Dari halnya segi teknologi pun sudah bisa bersaing dengan produk dunia. Komposisi lokal- ekspor memang baru mencapai angka 70:30 sebelumnya 50:50. Eith... Jangan salah sangka menurut penjelasannya kenapa buat lokal jadi naik, ternyata ada startegi marketing khusus. 
 
Memang buat lokal naik karena memang ini khusus pasaran dari Terry Palmer sendiri. Untuk pasaran luar negeri sudah ada produknya sendiri bukan Terry Palmer. Wilson meyakinkan kita bahwa nanti akan sampai 80%:20%. Dimana dua puluh persen sisanya akan diperuntukan produk lain. 
 
Dimana dari 80% akan dibagi lagi dimana fokusnya ada di IKEA. Ia menyasar 40% pasar lokal IKEA dan 40% nya ada pasar internasional bersama merek Terry Palmer sendiri. Jadilah totalnya ada dua brand dibawanya hingga ke manca negara.

Pasar ekspornya masih difokuskan di pasaran Asia. Berapa banyak perusahaannya menjual makan jawaban darinya 1.000 ton per- bulan. "Kami memproduksi sesuai apa yang kami jual. Produksi kami masih kami maksimalkan hingga 1.300 ton per bulan," terangnya kembali. 
 
Tentang inovasi, Wilson masih terus mau untuk mengeksplor, tentu bermodal jiwa mudanya. Menurutnya orang masih menganggap handuk cuma bagian dari kebutuhan sehari- hari. Belumlah berbicara tentang mode (fashion) atau lifestyle. 
 
Nah, inilah tengah dicoba olehnya, bahwa handuk itu juga mempercantik kamar mandi. Jadi bahkan tanpa mengganti warna tembok kamar mandi terlalu sering sudah teratasi. Handuk berwarna akan membuat suasana kamar mandi berasa berbeda. 
 
Salah satu inovasi yang tengah dipikirkannya adalah handuk berkristal swarovski. Ini akan membuat handuk jadi berkesan lebih luxury.

"Inovasi pentinga agar makin sulit ditiru pesaing," jelasnya, dimana Terry Palmer sendiri sudah bisa menguasai 30% pasaran Indonesia. Di Indonesia sendiri masih sedikit pamain diproduksi kain handuk. Cuma 1 sampai 2 perusahaan besar mendominasi dan ini bisa jadi kesempatan bagi kita.

Arti karyawan baginya adalah memberikan kesempatan belajar dan membimbing mereka. Seperti halnya dulu ayahnya yang mensekolahkan dirinya sampai Jerman. Kesempatan itupula lah yang diberikan olehnya kepada karyawannya. 
 
Dia menciptakan suasana bersaing tapi menyenangkan. Tidak ada namanya generation gap antara dia dan karyawannya.

"Sebenarnya secara profesional hanya ada mutual respect. Tentu saya juga melihat ada beberapa karyawan yang ketika kakek saya memimpin, mereka sudah bekerja di sini," jelasnya kembali.

Memang ketika Wilson masih kecil sudah dibiasakan, umur 4 tahun, dia sudah diajak berkeliling- keliling ke kantor milik ayahnya. Dia melihat sendiri ada karyawan ayahnya yang masih bertahan. Justru dari merekalah dirinya belajar banyak. 
 
Disisi lain, ia mencoba menempatkan dirinya sebagai anak, meyakinkan mereka para karyawan tuanya agar mau mengikuti langkahnya. Dia meyakinkan mereka melalui cara hormat, penuh rasa menolong.

Dua Mahasiswi Cantik Pengusaha Tortilla Bayam

Profil Pengusaha Emilia Putri


pengusahatortila.png

Pengusaha tortilla bayam ini didirikan oleh dua mahasiswa cantik. Namanya pengusaha manfaatin apa saja menjadi keuntungan.  Berikut kisah singkat dua sahabat berbisnis unik. Yang mana kalau dilihat- lihat kok bisa ya jadi duit. 
 
Mereka, Emilia Putri dan Mutiara Baiti, sosok dibalik bisnis model roti tortilla berbahan bayam. Mahasiswi- mahasiswi cantik yang masih berumur 22 tahun ini memang tak menyangka akan seperti sekarang. Bisnisnya sederhana kok bahkan beberapa orang meragukan keuntungannya.

Pengusaha Tortilla

 
Coba saja bayangkan masak bisa untung Rp.128 juta/ bulan. Mahasiswi cantik asal kampus Universitas Prasetya Mulya, yang baru- baru saja meluncurkan konsep waralabanya. Mereka meramu makanan cepat saji tapi sehat. Kemudian diberinya nama It's Wrap. 
 
Ide awal bisnis dari keduanya ialah karena kemacetan lalu lintas di Jakarta. Agar jadi praktis ketika bermacet- macet ria, Emilia dan Mutiara, serta beberapa temannya membuat jajanan sendiri. Dimana terbuat dari dasara tortilla bayam yang lebih sehat serta rendah kalori. 
 
Kemacetan telah dianggapnya biang makanan fastfood makin menggila di jalan. Bahkan tak segan melahap apa saja ketika memenuhi perut lapar. Ini kebiasaan buruk perlu dihilangkan, ya, caranya lewat bisnis mereka ini. 
 
"Kita enggak sadar kalau kalori yang masuk ke tubuh kita melebihi batas tertentu," terangnya. Takutnya bisa menyebabkan penyakit jantung atau diabetes.

Kemudian keduanya sebagai leader memperkenalkan It's Wrap. Ketika ditemui pewarta detikFinance Emilia meyakinkan kita lagi bahwa ini sehat kok. It's Wrap rendah kalori aman dikonsumsi. Diakui olehnya bisnis ini memang diadopsi dari pengusaha Singapura. 
 
Pada dasarnya juga punya kesamaan dengan kebab. Hanya saja tidak menggunakan bahan pengawet. Dari segi rasa pun lebih ringan dibanding kebab.

"Kita bukan menggunakan daging kebab dan kita bukan kebab," imbuhnya.

Untuk gerainya ada di Pasar Santa, Jakarta Selatan, dimana ada tiga menu bisa kamu nikmati: Yaitu ada It's Warp ayam seharga Rp.30.000/pcs, ikan seharga Rp.30.000/pcs, daging sapi Rp.30.000/pcs. Di sinilah, di kafenya, para pengunjung bisa melihat proses pembuatannya. 
 
"Kita juga berikan sharing happiness," terang Emilia. Bahkan mereka siap memberikan informasi kalori serta pendampingan topping; kamu bisa aktif buat mengomentari topping -nya.

Konsep Open Kitchen membuat pengunjungnya "terhibur" akan proses memasaknya. Sejak Desember 2011, dia bersama empat kawannya, mengumpulkan modal awal Rp.80 juta. Bisnis ini dikatakannya akan punya pasar berkembang kedepannya. 
 
Omzetnya pun besar sekali yakni bisa mencapai Rp.128 juta/bulan. Ia sendiri tak menampik jika investor siap ikut masuk. Pasarnya? Adalah mereka yang mulai sadar akan apa makanan sehat itu.

"Pasar makanan sehat di Jakarta kita teliti potensinya ada 2,149 juta," terang Emilia lagi. Melalui konsep kemitraan, target pasarnya tak mau tanggung- tanggu yakni mencapai 537.000 dan barulah 7.025 konsumen potensial terbidik. "Jadi cukup besar pasar yang kita garap," tutup Emilia.

Cerita Mahasiswa Jadi Petani Bisnis Bareng

 Profil Pengusaha Ramadhan Nur Iman


mahasiswapetani.png
 
Cerita mahasiswa jadi petani penuh tantangan. Dulu mereka berkuliah bersama sekarang bisnis bareng. Tapi mereka harus panas- panasan di luar. Bermula kesadaran akan pentingnya makan tanaman organik menguat. Seiring waktu pula sukses kesempatan usahanya bisa tercium wangi. 
 
Untung karena gaya hidup sehat membuat beberapa orang untung. Kisah berikut kisah wirausaha muda yang bahkan belum lulus kuliah. Mereka belum lah dibingungkan berkeliling mencari kerja. Mereka justru mulai membukan peluang kerja.
 

Petani Mahasiswa


Meski masih beromzet kecil yakni 4 juta per- bulan. Nampaknya, bisnis ini bisa saja menjadi lebih besar lagi, apalagi mereka merupakan mahasiswa berprestasi di kampusnya. Ramadhan Nur Iman dan Febri Khafidzin merupakan pemilik Empat Serangkai Farm. 
 
Fokus bertani organik bermodal tanah seluas seperempat hektar tanah, dari menanam selada, caisin, dan kangkung organik, untungnya cuma 4 juta per- bulan. Merupakan petani- pengusaha baru dibawah bimbingan Agribusiness Development Station (ADS).

Ramadhan beserta kawan tercatat masih mahasiswa di IPB. Mereka menjadi bagian dari ADS, fokusnya ialah membangun aneka peluang usaha dibidang agraria mahasiswanya. Pertama kali memanen, kelompok mahasiswa yang bernama Empat Sekawan Farm, menghasilkan 80 kilogram per- minggu. Dimana mereka sudah bisa memanen dua kali seminggu.

"Alhamdulillah kangkung dan selada dari Empat Serangkai Farm mampu menjadi peringkat teratas sayuran organik terbaik di ADS," kata Ramadhan.

Usaha dimulai sejak setahun belakang ini menemui banyak hambatan. Ramadhan bercerita bahwa sayurnya pernah gagal panen satu bulan. Semua karena serangan hama datang mendadak. Ditambah adanya anggota yang memilih mengundurkan diri. Menanam sayur organik tidak lah mudah terangnya.

Para mahasiswa mencoba menjadi pengusaha ini tak menyerah. Memang ada perbedaan besar antara apa teoir mereka pelajari di kampus dan faktanya. Sempat tak panen satu bulan tidak membuat mereka lemah. Ia menyebut kelemahan ada pada mematok diri ke teori. 
 
Terlalu bermain di teori ternyata tak meyakinkan buat kamu sukses berbisnis. Untuk mendukung usaha mereka, para mahasiswa ini tak segan mendatangkan dua pekerja yang merupakan petani asli. Mereka, para petani sayur membantu sangat dalam hal praktiknya. 
 
Empat Serangkai Farm tidak memakai bahan kimia. Karena petani organik andalan mereka adalah pupuk- pupuk alami. Pupuk mereka dijelaskan berasal dari limbah- limbah organik. Ini membuat sayuran jadi sehat jika dikonsumsi oleh kita.

Empat Sekawan Farm memanfaatkan limbah kotoran ayam dan kambing. Selain juga memanfaatkan jamu sebagai pendukung. Ada limbah daun mimba, sereh, kluwek, dan batang brotowali buat pestisidanya. Ia senang karena pihak kampus mendukungnya melalui ADS. 
 
Ramadhan dan kawan mencoba konsisten dan terus berjuang meningkatkan kualitas sayur organiknya. "Untuk menjadi petani binaan ADS menuntutnya untuk menjadi kualitas hasil pertanian," terangnya.

Semua karena ADS sendiri sudah punya pasar di luaran sana. Mereka cukup memberikan kesempatan bagi petani baru seperti mereka. Pemilahannya ketat hingga benar- benar sayur organik berkualitas bisa dilepas ke pasaran. 
 
Meski orang- orang baru dibidang pertanian. Cerita mahasiswa jadi petani ternyata menguntungkan. Fakta bahwa ini punya prospek bisa menjadi prospek bisnis bareng.

Bisnis Buket Boneka Gabungkan Dua Usaha

Profil Pengusaha Mardiah

 

bisnisbuket.png

 

 

Gabungkan dua usaha Mardiah tekun promosikan. Mendengar nama bisnis buket boneka memang tak lazim. Bayangkan bunga dan boneka dijadikan satu. Namun Diah, begitu wanita tersebut akrab disapa bisa menjual untung. Memang memanfaatkan penjualan online menguntungkan.


Ia mampu menjangkau penjualan luas. Bisnisnya meraup keuntungan walau diluar kebiasaan. Diah gigih menjajakan dagangan. Ia meyakini bahwa berbisnis digital akan berkembang. Usaha buket boneka telah dia rintis selama dua tahun.

 

Bisnis Buket Boneka


Sebelumya dia pernah berjualan dompet, jam tangan, dan tas milik orang. Dia cukup lama membanding usaha- usaha tersebut. Ia lantas memutuskan berjualan boneka. Banyak orang yang senang mengoleksi boneka. Orang rela membeli baru demi menambah koleksi.


Suatu ketika, datang pesanan aneh pada Februari, dan Diah menyanggupi keinginan pembeli tersebut dan berlanjut. Pembeli meminta Diah merangkai boneka menjadi buket. Diah menyanggupi. Sisanya dia belajar melalui YouTube. Dan ia kemudian membuka usaha keduanya buket boneka.


Ide bisnis unik tersebut dijalankan. Rata- rata pembeli buket bonek buat wisuda, ulang tahun, ucapan cinta kepada kekasih. Usahanya laris dari Jabodetabek, sampai pemesanan ke Papua. Pelanggan nanti tinggal memilih tema warna yang diinginkan untuk sampul buket.


Lewat sosial media ia berhasil menjaring pembeli diseluruh Indonesia. Kisaran harga buket bonekanya Rp.150 ribu sampai Rp.650 ribu. Saat ini, Diah melakukan penjualan melalui sosial media. Fokus ia menjual di Instagram dan Tokopedia.


Kemudian dia memiliki reseller di Bukalapak, Kaskus, dan Tokopedia. Pemesanan boneka dapat kamu lakukan melalui akun @bonekaimportsabina atau istanabuket. Berkat terus berpromosi kini usahanya memiliki 24 ribu pengikut. Diah berharap usahanya akan berkembang pesat kelak.


Boneka sudah ready stok. Termasuk boneka wisudanya. "kalau mau pesan, bisa dicari boneka sesuai keinginan, misalnya babi, monyet, atau sapi," ujarnya. Diah mengatakan buket boneka miliknya punya variasi beragam. Mulai dari warna, boneka, hingga aksesoris pendukung tinggal ikuti kreatifitas.

Pengusaha Abon Bayi My Baby Inspirasi Usaha

Profil Pengusaha Oktavia Hasim


pengusahaabon.png

Inspirasi usaha datang karena kehilangan sang putra. Pengusaha abon bayi My Baby berubah sebab suatu pristiwa. Dia tidak mau menyerah berjuang hidup. Ada asa bagi kehidupan lain yang perlu dia dihidupi. 
 
Dia lantas bangkit melimpahkan semua berbentuk usaha bisnis. Siapa menyangka, sang putra, yang meninggal 8 Maret 2011, itu membawa berkah tersendiri bagi keluarganya yang masih hidup. Dia seolah membawa kesuksesan bagi Oktavia Hasim.
 

Inspirasi Usaha

 
Yang sejak putranya meninggal, dia telah bertekat merubah nasibnya lebih baik. Kemenangan dalam ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013, di kelompok pasca- sarjana dan alumni kategori Boga, menjadi bukti bahwa dirinya wanita telah berubah; dia wanita super- tangguh. 
 
Tak tenggelam dalam kesedihan justru membantu banyak ibu- ibu Indonesia. Pasalnya, berkat usaha abon My Baby, bayi bisa makan sehat berlauk ikan lele yang jadi lebih mudah dicerna.

"Usaha ini saya perpaksa, karena, satu, anak saya kebetulan meninggal, pada 8 Maret 2011, karena saya enggak ingin larut dalam kesedihan," ujar wanita 33 tahun ini.

Dia tak bisa memasak. Cuma saja merasa prihatin banyaknya usaha budidaya lele. Tapi masih sebatas buat dimasak biasa. Harga lele pun murah padahal nilai gizinya banyak. 
 
"Saya bereksperimen untuk menghasilkan satu produk," lanjutnya. Meski mengaku tidak jago memasak; Oktavia tetap berusaha. Segala percobaan ia lakukan berulang- ulang. Banyak kegagalan ditemui olehnya sepanjang jalan.

Memang daerah asalnya di Purbolingga, Jawa Tengah, memang cukup terkenal akan budidaya lelenya. Dan, hasil seperti yang dijelaskan diatas harganya jadi murah. Mudah didapatkan pula. Karena membuatnya dari bahan- bahan asli berkualitas. 
 
Jadinya abon lele buatannya justru jadi lembut. Sampai tetangganya nyeletuk abonya mirip makanan bayi. Yah, itulah awal mulanya abon bayi My Baby, abon yang bertekstur lembut cocok buat balita diatas 8 bulan. Ia menjelaskan ini menjadi satu- satunya di Indonesia loh. 
 
Untuk meyakinkan olahannya tak sembarangan saja membuatnya. Selepas menemukan ide bisnis abon bayi. Oktavia langsung mencari- cari berbagai resep abon. Hingga sukses menemukan resep yang cocok pencernaan bayi. Kemudian bahan- bahan tak cocok buat bayi dihilangkan.

Pengusaha Abon Bayi

 
Tidak ada cabe atau merica dalam olahannya. "Saya hanya pakai ikan, bawang, garam dan gula," terangnya. Seiring waktu usahanya maju apalagi dibantu oleh marketing online.

Keberadaan abon membantu bayi 8-10 bulan memenuhi gizinya. Siapa sangka sosoknya bisa menjadi satu pengusaha sukses. Bahkan, ia mendirikan perusahaan sendiri, dibawah bendera Pradipta Jaya Food pada 8 Maret 2011 itu. 
 
Awalnya cuma menjual abonnya ke tetangga- tetangga sekitar. Wanita lulusan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Malang ini, semakin mantap menjajaki jalannya sebagai pengusaha. Seiring waktu itu kualitas abonnya semakin mantap.

Jumlah penjualannya semakin banyak saja. Diminati oleh ibu- ibu muda buat anak- anak bayinya. Permintaan akan varian abon baru juga muncul; ada abon ayam, sapi, ikan patin, bahkan terakhir ada yang meminta abon ikan salmon.
 
Jujur saja konsumen lah yang "memaksa" dirinya semakin maju. Mereka tak segan minta produk olahan baru. Ukurannya pun dibikin macam- macam sekaligus harganya bervariasi. Semua agar ia tetap bisa menawarkan abonnya terjangkau masyarakat umum.

Misalnya abon ikan lele, ikan patin, dan abon ayam, ditawarkan Rp.22.000 saja. Sedangkan paling mahal itu abon ikan salmon yakni Rp.50.000.

"Cara menggunakan abon bayi ini hanya tinggal campurkan adonan ini ke nasi atau bubur banyaknya tergantung selera ibu, atau juga bisa dicampur sayur lain," terang Oktavia.

Seiring waktu usahanya maju, pelanggan menyarankannya agar tak cuma membuat abon lele. Dalam sebulan dia bisa memakai 750 kilogram bahan baku. Usahanya juga sudah punya brand dan kemasan sendiri, yang mana semakin menunjukan profesionalisme. 
 
Ia menjelaskan abonnya tanpa bahan pengawet. Bisa bertahan 1,5 tahun berkat tingkat keringnya tinggi. Satu kemasan biasanya sudah habis dalam satu minggu.

Dia memanfaatkan jaringan reseller bermodal koneksi internet. Jumlah reseller -nya kemudian tersebar di penjuru Indonesia total sudah ada 75 orang. Dari Sumatra sampai ke Papua terangnya. 
 
Pada September 2011, produknya sudah tersedia di pusat retail, yaitu sudah masuk ke Carefour dan Ranch Market. Tumbuh pesat puluhan juta, total Oktavia dibantu 15 orang karyawan dan 150 reseller, dimana resellernya tersebar luas utamanya di Pulau Jawa.
 
Modal awal usahanya cuma Rp.5 2juta. Namun, sejalan berkembangnya usaha, usahanya abon My Baby sudah bisa meraup omzet sampai Rp.75- 80 juta per- bulan. Modal awalnya digunakan untuk membeli satu set peralatan dan bahan baku. 
 
Selama tiga bulan mencari- cari resep abon bermodal Internet. Resep abon lele biasa diutak- atiknya agar sesuai dengan pencernaan bayi. Setelah tiga bulan barulah mantap menemukan resep tepat. Eit... jangan sembarangan kalau menilai abonnya asal- asalan. 
 
Faktanya setelah sukses langsung loh, Oktavia mengujinya ke Laboratorium Universitas Brawijaya Malang. Melalui pengujian itulah diketahui kandungan protein abon My Baby cukup tinggi. My Baby mengandung 48,9% karbonhidrat, lemak 20%, dan sisanya tentu protein itu sendiri. 
 
Agar awet makan My Baby kadar airnya harus dibawah 2%. Itulah sebabnya bisa awet sampai 1,5 tahun. Awalnya ia hanya menjual produknya ke tetangga saja. Hingga responnya tenyata bagus. Maka mulailah ia masuk menjajakan ke toko- toko di Purbolinggo. 
 
Permintaan akan My Baby ternyata terus meningkat. Itu telah merembet ke Malang sampai ke Surabaya. Ia sendiri sempat ragu akan kemasan My Baby. Saat itu, produknya cuma dibungkus pakai kemasan plastik. Oktavia lantas berpikir ulang apakah bisa masuk ke pasar disana.

Butuh perubahan mendasar untuk usahanya. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Perikanan Probolinggo. Karena memang perusahaanya Pradipta Jaya Food memang binaan mereka. Kemudian kemasan abonnya diganti alumunium foil agar tahan lama. 
 
Sementara itu kemasan luarnya dibuat dari kardus seperti kardus susu bayi. "Kami kemas secara higienis dengan alumunium foil," terangnya. Kemudian ia juga memanfaatkan situs online www.abonmybaby.com

Tenaga kerjanya cuma mengambil ibu- ibu lulusan SD tetangganya. Mereka diberi pembekalan dulu. Mudah saja cukup: ikan datang, masuk proses pencucian, perebusan, pengovenan, hasil akhirnya ikan akan jadi lebih lembut. Ada sepuluh orang produksi dan lima SPG. 
 
Soal BPOM, karena memang usahanya masih kecil, maka prosesnya disana tidak cepat. Tapi berbekal surat laboratorium saja, menurut kami merupakan cara baik memulainya.

Dari lima varian abon, yang paling banyak justru abon sapinya, bukanlah abon lele andalan dari Oktavia sebelumnya. Kalau abon lele sendiri menjadi favorit justru dari luar Jawa. Tak lekas puas, Oktavia membidik Carrefour, dan hasilnya ada tiga bulan masa percobaan. 
 
Hasilnya produk abon My Baby bisa betahan terjual laris disana. Karena itulah hingga sekarang produknya bisa ditemui di pusat retail besar ini. Kemudian mulai dijual di Rach Market buat pasar Jabodetabeknya.

Produk Herbisida Mahasiswa IPB Berbisnis

Profil Pengusaha Kukuh Roxa dkk.


mahasiswaipb.png

Mahasiswa IPB berbisnis tentu boleh dong. Mereka mengembangkan produk herbisida mandiri. Inilah contoh pengusaha asli Institut Pertanian Bogor. Beda dengan mahasiswa lainnya, mereka tak memilih bekerja di perusahaan tapi membuka perusahaan sendiri. 
 
Hebat karena modal mereka sangatlah minim. Itu semua berawal dari mengumpulkan tugas kuliah buat dosennya. Dari sana pula menghasilkan produk senilai Rp.600 juta/tahun.
 

Produk Herbisida Mahasiswa


Cuma bermodal botol kecil obat. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor ini cumalah bermodal 6 jutaan saja. Salah satu dari tiga mahasiswa itu, Kukuh Roxa P.H, menyebut ketiganya cuma berbisnis pupuk cari dan juga hebrisida organik. 
 
Lewat bisnis dibawah bendera Adjuvant Herbisida bersama dua orang rekannya. Berawal dari tugas sekolah kini sukses tak disangka- sangka.

"Waktu itu kami bikin tugas bertiga. Proses pengerjaannya hampir 6 bulan. Kalau ditanya berapa modalnya, mungkin dalam 1 bulan kami habis Rp 1 juta, total habis Rp 6 juta. Ini mulai produksi Februari 2013 lalu," terang Kukuh.

Hasil produksi perusahaan kecilnya adalah aneka obat pertanian. Salah satunya ada produk hebrisida dari bahan alami. Tahun lalu, seperti dikutip dari sumbernya, tahun 2014 jumlah permintaanya meningkat sampai berlipat- lipat. 
 
Perusahaanya bisa memproduksi sejak 2013, sudah memproduksi 500 botol per- satu bulan nya. Kemudian di tahun 2014 telah mulai mencoba memproduk angka fantastis. Yakni perusahaanya tengah aktif mencoba berproduksi 3 ribu sampai 7 ribu per- bulan.
 
Pemuda ini tak ragu berkisah sukses mudanya. Sudah lama berteman akrab dengan dua lainnya, yakni  Sigit Pramono dan Wahyudi, ketiganya mantap membangun usaha dibiang agri ini. Awalnya Kukuh tergerak akan fakta penggunaan bahan kimia 100% pada produk hebrisida. 
 
Atau, nama lain dari senyawa menekan laju pertumbuhan pengganggu tanaman atau gulma. Memang berhasil membuat hama kabur. Tapi pada akhirnya juga menghancurkan lingkungan hidup. Padahal di Indonesia kebutuhan akan produk ini sangatlah tinggi buat petani sawit. 
 
Ide awalnya dimulai sejak mengikuti kegiatan Festival Pertanian diadakan oleh Himpunan Mahasiswa ITB. Waktu itu, tepatnya di tahun 2008, kebetulan sekali Kukuh beserta dua temannya menjadi pelaksana acara. Sayangnya ditangan mereka acara tersebut malah membikin hutang 30 juta!

Untuk itulah, ia bersama rekan- rekan lainnya, satu kampus membuat aneka usaha guna menutupi hutang itu. Mereka bersama bekerja di laboratorium kampus. Dibantu oleh pihak dosen, lantas aktif bertemu petani di lapangan, Kukuh membaca kebutuhan akan adanya hebrisida.

Tahun 2012 barulah berdiri sebuah perusahaan dibawah ketiganya. Namanya CV Pandawa Putra Indonesia di Banyuwangi, Jawa Timur. Kukuh menjadi pimpinan perusahaan dibidang agrari ini. 
 
Ia menjadi pemimpin perusahaan penjual obat- obat pertanian, pupuk organik, dan berbagai macam benih padi, bahkan sebagian besarnya merupakan hasil karya mereka sendiri. Jangan salah loh... mereka ternyata meski kecil- kecil cabai rawit.

Perusahaan kecil mereka punya tujuh macam jenis padi. Mereka juga punya 14 produk sarana pertanian. Yang mana salah satunya adalah Adjuvant Herbisida. Awalnya para petani tidak mudah percaya atas apa yang mereka tawarkan. 
 
Kukuh sendiri tak pantang menyerah memperkenalkan, bekerja keras bahjkan rajin menyambangi para petani . Dia bahkan berani membandrol produknya dengan harga lebih murah. Dibanding produk sejenis memakai bahan kimia; produknya terhitung lebih murah.

Pengusaha IPB

 
Bermodal uang patungan senilai 50 juta. Mereka membangun bisnis dari kecil sejak 2010. Sayangnya bukan tanpa halangan karena pasarnya. Yah, pasaranya dikuasai oleh perusahaan mulit- nasional membuatnya jadi sulit berkembang. 
 
Apalagi lamanya proses perijinan utamanya ijin hebrisidanya. Biaya yang dibutuhkan itu bisa mencapai Rp.200 juta. Meski begitu, Kukuh bersama kedua temannya tetap mencari cara, agar para petani terbantukan.
 
Mereka mencoba meyakinkan petani menjadi prioritas. Bahkan meyakinkan mereka tak akan mengeluarkan biaya mahal. "Akhirnya, kami buat Adjuvant ini. Ini benar- benar produk baru," terang Kukuh. Bahanya itu alami yang bisa ditemukan di alam sendiri. 
 
Disaat mengujinya ke Kementrian Pertanian, dia dilemapar bolak- balik ke beberapa laboratorium, hingga akhirnya selama tiga bulan. Akhirnya bisa diproduksi masal dari perusahaan mereka.

"Karena produknya masih baru, belum ada laboratorium yang mengeluarkan ijin pengujian," terangnya.

Sepanjang tahun 2013 produknya mampu menghasilkan omzet 600 juta/ tahun. Mereka cuma bermodal 5 pegawai tetap dan 15 pegawai lepas. Sukses membawanya mampu untuk memproduksi hingga 500 botol per- bulan. 
 
Menurut penjelasannya 1 botol akan digunakan 1 hektar kebun kelapa sawit. Yah, produk ini tengah digandrungi oleh para petani sawit. Bahkan permintaanya terus tumbuh sampai Kukuh berani buat mencanangkan produksi 3 ribu- 7 ribu botol.

"Awalnya ini hanya untuk tugas kuliah, waktu itu kami bikin bertiga. Proses pengerjaanya hampir 6 bulan. Kalau ditanya modal, dalam 1 bulan kami habis 1 juta, total habis Rp.6 juta," jelas Kukuh, soal bagaimana produk ini diracik.

Tahun 2014 menjadi pesanan besar- besarnya dari petani kelapa sawit. Meski permintaan terus meningkat bahkan dalam pehitungannya bisa mencapai 3000- 7000 botol. Sayangnya, ada saja masalah dihadapai oleh meraka utamanya fakta mereka menghadapi pemain besar. 
 
Mereka berhadapan langsung dengan perusahaan multi- nasional. Tapi apakah mereka bergeming, faktnya, mereka tidak sama sekali bahkan memperkenalkan produk barunya Solut- Ion. Dan Solut- Ion merupakan bagian dari Adjuvant Herbisida itu sendiri. Diperkenalkan ketika acara Mandiri Young Technopreneur 2013 dibagian teknologi- non IT.
 

Berbisnis Agro

 
"Di Mandiri Young Technopreneur 2013, yang kami ajukan Solut-ioN-nya. Kami sebenarnya sudah memproduksi 14 produk, cuma yang benar-benar belum ada (di pasar) ini, Solut-ioN, makanya kami ikutkan ke ajang ini," terang Sigit, selaku COO Pandawa Putra Indonesia, kepada SWA.

Memulai bisnisnya sejak 2012, baru lulus di 2013, mereka tampaknya tak terhentikan sebagai pengusaha muda. Tiga orang alumni Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB ini menciptakan Solut- Ion sebagai produk ketiga. 
 
Dalam pemikiran penulis, menurut Kukuh sang CEO, produk ini digunakan campurannya produk hebrisida lain. Fungsinya agar mengurangi tingkat dosis racun di herbisida. Gunanya agar lebih aman tapi tetap mematikan.

Ini bisa digunakan disegala mereka dan jenis hebrisida kimiawi. Ini berbeda dengan produk utama mereka yang total 100% organik. Untuk hal ini dimaksudkan agar membiasakan para petani;. Utamanya para petani sawit yang kesulitan masuk kawasan Eropa karena standar RSPO. 
 
Semua karena penggunaan bahan kimia di hebrisida masih tinggi.

"Dengan penggunaan ini, katakan satu hektar butuh enam liter herbisida, cukup pakai tiga liter herbisida, tiga liter produk ini. Jadi, dosis racunnya jauh menurun, tapi tingkat kematiannya sama kualitasnya," terangnya lebih lanjut.

Perusahaannya juga aktif menggaet para petani organik. Mereka sangat membantu memberikan feedback bagi perusahaan Pandawa Putra. "Mas, tolong dong dibuatkan herbisida untuk mematikan rumput," ucap Kukuh menirukan. 
 
Karena bahan baku 50 persen organik jadilah tak ada masalah soal bahan baku. Ini bisa ditemukan banyak di alam.

"Tapi, tidak saya sebutkan apa, rahasia perusahaan," canda Kukuh.

Ini berbanding terbalik dengan pesaingnya yang menggunakan 100% impor. Dimana harganya mengikuti fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar.

Akan tetapi lagi- lagi persoalan produk baru membawa kesulitan tersendiri. Mereka dibutuhkan melakukan pengenalan pasar. Mereka pun aktif masuk ke perkebunan- perkebunan langsung. Awalnya menyasar perkebunan tebu dan kelapa sawit. 
 
Bagi kalangan petani tebu, produk herbisida dikenal sangat mahal bahkan jadi enggan menyemprot. Padahal jika dihitung mereka rugi jikalau tak menyemprot.

Pengusaha Modal Otak- Otak Warisan Ayahnya

Profil Pengusaha Sukses Rudianto


pengusahamodal.png

Menjalankan usaha warisan keluarga bukanlah perkara mudah. Pengusaha modal otak- otak warisan ayahnya. Bukankah bisnis memang buat diwariskan kelak nantinya. Soal bagaimana si anak kelak melanjutkan atau membangun bisnis sendiri; semua kembali ke diri sendiri masing- masing. 
 
Kisah pengusaha kali ini, adalah kisah seorang Rudianto, yang sukses mewarisi bisnis sukses milik sang ayah.
 

Modal Usaha


Bisnisnya Otak- Otak warisan Pak Agu merupakan olahan khas. Sudah didirikan sejak 1988 menjadi salah satu makanan khas Kepulauan Riau. Selain disana, Otak- Otak Warisan Pak Agu juga ada di Ruko Palm Spring B3 No.5 Batam Center. 
 
Dari segi tempat buat yang di Batam, memang masih terlihat baru saja mulai tapi peminatnya sudah menjalar panjang. Ini semua berkat sosok "revolusif" pemuda 26 tahun, lulusan STIE GICI Business School, Batam.

"Dulu yang mendirikan Pak Agu beliau ayah saya. Pada tahun 2006 ayah saya sakit keras dan akhirnya meninggal dunia," katanya.

Usai ayahnya meninggal dunia, Rudianto langsung mengambil alih bisnis keluarga tersebut. Meskipun sudah masuk generasi kedua, hingga tahun 2006, faktanya bisnis otak- otak ini sangatlah memperihatinkan. Bisnis otak- otaknya memang tradisional. 
 
Tetapi memiliki cita rasa kuat sehingga inilah yang digali olehnya. Bisnis Otak- Otak Warisan Pak Agu ini kombinasi ikan parang dan gong- gong. Serta rempah- rempah khusus dari resep keluarganya.

Otak- otak dihasilkan lembut, lebih wangi tak amis, dan sedap rasanya. "Satu gigitan saja akan membuat kita merasakan keistimewaan otak- otak yang begitu terasa keasliannya di lidah," promo Rudi

Bisnis awalnya berada di kawasan Vila Raflesia Batam. Hingga tahun 2011, Rudi bersama bisnisnya lantas mengontrak di roko Palm Spring Batam. Disini, ia mulai memikirkan mengkonsep kembali bisnis keluarga tersebut. Konsepnya dimaksudkan agar otak- otak tak terkesan kuno. 
 
Dia bahkan mengkonsepnya agar jadi lebih eklusip dan modern. Hasilnya ada berbagai macam varian rasa, otak- otak pedas, gong- gong, kukus, putih, sotong dan petai. Selain itu Rudi juga menerapkan konsep reseller di kawasan Batam. 
 
Hasilnya ada 4 outlet Otak- Otak Pak Agu di Batam dan 5 tempat sebagai reseller. Dibantu oleh 9 orang karyawan usahanya suah punya omzet 100 juta- an.

Pendapatanya, bisnis otak- otak memiliki beberapa poin penting agar bisa berhasil. Menurut pengalamannya kesan eklusip otak- otak harus dibentuk. Dimana gambaran tentang otak- otak adalah makanan nikmat bisa jelas. 
 
"Untuk kedepan kami bukan hanya di Batam, rencananya kami juga akan buka di Jakarta targetnya tahun depan," aku Rudi.

Memang eklusip bisnis miliknya menjadi khas berkunjung di Kepulauan Riau dan Batam. Di Batam sendiri, bisnisnya dikemas sedemekian rupa menjadi oleh- oleh. Makanan miliknya menjadi salah satu menu andalan jika wisatawan berkunjung. 
 
Konsumennya datang dari dalam Batam sendiri, dan dari luar kota bahkan dari luar pulau. Otak- Otak Pak Agu menawarkan rasa semakin kaya, paling baru yaitu ada rasa sotong, kukus dan petai, dan yang paling diminati adalah otak- otak putih dan pedas.

Soal harganya juga relatif murah dijual Rp.2.000 sampai Rp.3000. Soal apa kendala bisnisnya apa lagi kalau bukan kebutuhan akan bahan baku. Dimana memang beberapa menu aslinya masih tampak asing jenis ikan yang pernah penulis nikmati. 
 
Namun, penuh percaya diri, pengusaha muda ini menjelaskan bahwa soal bahan baku sudah bisa diatasi.Pengusaha modal otak- otak warisan ayahnya ternyata berhasil.

Tidak Malu Menjadi Pengusaha Gerobakan

Profil Pengusaha Muhammad Ferryal


beranipengusaha.png
 
Tidak malu menjadi pengusaha gerobakan. Anak muda berusia 20 tahun, namanya Muhammad Ferryal R, dan berbisnis kuliner bukan monopoli wanita. Suksesnya tidak disangka- sangka sebab berawal dari hobi makan.

Dia hobi makan hobi makan lumpia rebung. Ferryal cuma mencoba memperkenalkan kesukaanya. Nasib memang tak disangka arahnya. Bermodal resep di internet, pemuda 20 tahun ini, sukses besar menghasilkan omzet Rp.25 juta per- bulan.
 

Jadi Pengusaha Muda


"Saya suka makan lumpia rebung. Makanya badan saya melar begini. Dari situ dimulailah niat membuka usaha  lumpia," terangnya.

Pertama kali membuat tak langsung enak. Butuh waktu hingga rasanya sesuai harapan. Hampir 2 bulan sudah resepnya selalu bergonta- ganti. Sambil disela- sela bermainnya, Ferryal akan iseng membuat lumpia lagi, begitu sudah matang langsung diberikan temannya. 
 
Begitu terus prosesnya hingga ia mendapatkan resep enak. Dia tak kecewa jika komentar negatif muncul. Ia juga tanggap jika ada orang memberikan masukan.

Ketika sudah mantap akan resep lumpianya. Dia segera menjajakannya melalui grobak dorong. Pemuda 20 tahun, mahasiswa Bisnis Pariwisata Universitas Brawijaya Malang ini, tak malu harus mendorong- dorong gerobaknya keliling Kota Malang. 
 
Modal awalnya cuma Rp.5 juta hasil tabunganya sejak lama. Dia memang nekat mendorongnya menepi di tempat ramai dan strategis.

"Saat ini saya sudah punya 5 gerobak lengkap dengan pekerjanya," aku Ferryal bangga.

Jangan salah meski cuma modal gerobak dorong. Dia sukses mereguk omzet Rp.20- 25 juta. Bukan tanpa kendala dirinya menjelaskan. Harga bahan baku naik turun menjadi kendala besar. Kalau di hari- hari harga bahan bakunya turun, ia mengaku bisa mereguk untung lebih. 
 
Kalau pun bahan bakunya naik tak membuat Ferryal rugi; meski untungnya mepet aja. Di Malang, satu lumpianya dijual cuma Rp.2 ribu. Bisnis yang bernama Lumpi Kriuk ini, kedepannya, ia telah targetkan merambah Kota Surabaya. Pantang menyerah menjadi modalnya. 
 
Tapi menurut penulis, hal yang paling menonjol dari sosoknya justru keberaniannya. Sosoknya tak malu cuma berjualan gerobak keliling. Ia merupakan contoh pengusaha muda visioner.

"Tak ada modal itu bukan hambatan, yang penting kemauan dan tekad yang besar. Pokoknya banyak cara untuk memulai wirausaha," tegasnya.

Lumpia Kriuk itulah nama produk olahannya. Tak cuma terbatas di lumpia goreng biasa saja. Farryal sudah berhasil membuat varian rasanya. Olah lumpia tanpa bahan pengawet ini, mempunyai tiga varian rasa utama, rasa Jamur Ayam, Jagung Manis, dan Bhin Ayam. 
 
"Semuanya tanpa bahan pengawet," tuturnya. Di Malang sendiri sudah ada lima outlet resminya.

"Saat ini Lumpia Kriuk dapat dibeli di Pasar Besar, Blimbing, Watugong, kawasan Adi Sucipto, Sukun dan Sigura- gura," jelasnya lagi.

Keinginan menjadi wirausaha memang sudah lama. Dan, langsung itu sukses melalui resep rahasia Lumpia Kriuk miliknya. Berkat lumpia pula dirinya dipilih menjadi salah satu peserta Wirausaha Muda Mandiri. Namanya masuk menjadi salah satu perwakilah kampus. 
 
Untuk acara ekspo -nya Wirausaha Muda Mandiri memberi kesempatannya memperkenalkan. Bahkan sukses menjual tiga ribu buah di acara tersebut. Ia tidak malu menjadi pengusaha gerobakan. Tidak capai berkeliling Ferryal berkeliling berjualan.

Pengusaha Wanita Papua Sukses Mie Rumput Laut

Profil Pengusaha Yubelina Rumbino


pengusahapapua.png

Pengusaha wanita Papua namanya Yubelina Rumbino. Dia sukses berkat mie rumput laut. Sebagai masyarakat asli Papua, dirinya tau betul kualitas alamnya sampai ke dasar laut. Ia menjadi pertama yang melihat peluang tersebut.

Dia warga asli Kabupaten Kepulauan Yapen, Papua, yang membuat mie berbahan asli rumput laut. Ini benar- benar kering seperti halnya mie terbuat dari beras saja. Mungkin menjadi satu- satunya dan pertama kali di Indonesia. 
 

Sukses Mie Rumput Laut

 
Mie rumput laut diperjual belikan berwujud kering, membuatnya jadi awet dan tahan lama. Yubelina pun menceritakan kisahnya. Ide awal muncul ketika melihat harga rumput laut di daerahnya terlalu murah. Padahal di pesisir laut Kepulauan Yapen, rumput laut tengah pada musimnya buat dipanen. 
 
Di tempatnya tinggal pula dikenal sebagai sentra penghasil rumput laut terbesar di Papua. Apa yang salah?

Sejak dulu warga Yapen memang sudah pandai mengolah rumput laut. Namun, jika dijual bentukan mentah maka harganya tidak menjanjika. Oleh karena sejak empat tahun silam, Yubelin mencoba membuat aneka produk olahan rumpu laut. 
 
Daripada menumpuk dan dijual pun harganya tidak bagus. Proses pembuatan dari mie instan rumput laut masih terbilang sederhana; butuh sentuhan investai mungkin.

"Proses pembuatannya ada beberapa tahanp," jelas Yubelina. Pertama, ambil rumput lau segar kemudian ia keringkan, kemudian direndam, lalu dikeringkan kembali kedua kalinya. Selepas itu barulah diproses untuk dibuat adonan mie.

Kedua, rumput laut kering habis dikeringkan kedua kalinya, dimasak direbus hingga akhirnya berbentuk jadi bubur. Inilah bekal adonan mie rumput laut yakni bubut rumput laut. Bubur kemudian ditambahkan bahan- bahan lain agar pada seperti adonan. 
 
Layaknya membuat adonan kue saja, benar- benar masih berbahan sehat seperti telur, sedikit tepung terigu, dan garam. Karena namanya mie rumput laut penulis berpikir akan sengat sedikit tepungnya. Ia mengungkapkan tahapan diatas bahkan tidak membutuhkan sentuhan mesin berat.

Setiap harinya, Yubelina membutuhkan 10kg bubur rumput laut, yang bisa dibuatnya menjadi 20 sampai 30 bungkus mie rumput laut. "Satu bungkus isinya 400 gram," terangnya. Per- bungkusnya kemudian dijual 20 ribu. 
 
Jumlah produksinya masih terbatas karena kurangnya pasokan listrik. Dalam seharinya bisa produksi sampai 150 bungkus seharinya. Dia cuma dibantu satu orang pegawai. Hanya dibutuhkan satu keryawan membantunya merebus bubur. 
 
Soal pengeringan mie masih membutuhkan energi panas matahari. "Kalau pakai mesin pengering daya listriknya tidak akan cukup," jelasnya. Meskipun dibuat sangat sederhana tapi permintaanya membludak loh. 
 
Bahkan Yubelina sering kelabakan melayani permintaan pembeli. Dibanding mie telor atau mie instan, mie rumput laut keringnya dijamin lebih bebas dari bahan pengawet. Ia juga menambahkan mienya lebih kenyal. Menjadi oleh- oleh paling laris jika para pengunjung mengunjungi kawasan Yapen. 
 
Mereka akan membawanya ke Jakarta dan Surabaya. Omzetnya bisa mencapai Rp.8 juta per- bulan. Memang punya kekenyalan tersendiri ketika kamu memasaknya. Dan, yang pastinya dijelaskan ini lebih sehat dibanding mie lain. Apalagi rumput lautnya dibuat di perairan sehat yakni di Papua.

Menjadi Petani Lidah Buaya Prospek Wirausaha

Profil Pengusaha Suhandi

 

menjadipetani.png
 

Berikut prospek wirausaha mananam lidah buaya. Menjadi petani lidah buaya ternyata hasilkan omzet sampai kurang lebih Rp.500 juta pertahun. Bisnis ini ditekuni disebabkan Suhendi melihat peluang. Dia melihat lidah buaya banyak kegunaan.


Petani asal Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, yang bermodalkan lahan seluas 3 ribu meter persegi. Bisnis lidah buaya menjadi prospek wirausaha menggiurkan. Banyak kegunaan dan telah disadari masyarakat umum.

 

Prospek Usaha


Jujur tanah garapannya hanya ditanami tanaman spesifik. Dia biasa menanam pepaya. Tanaman lidah buaya memiliki banyak khasiat terutama buat kecantikan. Tanaman ini mengobati mag kronis, panas dalam, meriang, pilek, diabetes, masuk angin, pilek, diabetes dan juga antioksidan.


Inilah cikal Suhendi memiliki ladang pertanian lidah buaya. Menurutnya berbisnis lidah buaya butuh kreatifitas dalam pemasaran dan pengolahan. Hasil produksinya selain dijual mentahan, juga dibuat olahan lidah buaya.

 

Menjadi petani lidah buaya ia menghasilkan omzet Rp.14 juta perhari. Satu kali panennya dia hasilkan 2,4 ton. Harga jual perpelapah Rp.6 ribu. Kalau olahan Suhendi cukup menjadikan pil lidah buaya. Ia menjual sampai 500 botol.

 

Sekarang dia masih menjual pil ke orang terdekat dan kenalan. Kemudian ia masih dijual dengan cara konvensional. Masih menjual dari mulut ke mulut. "Satu botol isinya 50 pil. Satu botol harganya Rp 50 ribu, sebulan biasanya laku 500, total Rp 25 juta," tutupnya kepada Jpnn.com


Menjadi petani tidak hanya monoton melainkan butuh pandangan. Suhendi memiliki pandangan akan bisnis lidah buaya. Ia mengembangkan integrated farming dengan organik dan komoditas lidah buaya. 

 

Di tahun 1975, menjadi awal terbentuknya kelompok tani Antanan, yang komoditasnya berubah- ubah terus. Mulai dari menanam pepaya, talas bogor, jahe gajah, buncis Perancis. Tidak cuma sekarang menanam lidah buaya, petani dibawahnya juga menanam salak slebor dan produksi pupuk organik bokashi.


Mereka menjadi pelopor penggunaan pupuk bokashi. Yang mana sudah dipakai banyak petani asli di Indonesia. Merupakan teknik pengomposan menggunakan starternya aerobik dan anaerobik. "Waktu belum booming, disini kita sudah pakai pupuk tersebut. Buatan sendiri," ia lanjutkan.


Pengomposan bahan organik memakai sekam padi. Proses Bokashi lebih cepat dibandingkan proses pemupukan konvensional. Dibutuhkan 1- 14 hari semenjak proses pembuatan pupuk. Ini tergantung kualitas bahan baku dan metode pembuatan.


Ini bisa dilakukan buat skala rumah tangga atau pertanian. Salak Selebor sendiri merupakan salak asal Sleman ditanam di Bogor. Ia mulai bertanam pada 1997 dan menjadi ikon usaha taninya. Kelompok tani bimbingannya mampu hasilkan 10 kg paling banyak untuk 1 pohon, dan 5 kg paling sedikit.


Ia juga mulai memasarkan melalui online. Sudah datang pemesan begitu dipasang penjualan. Lidah buaya masih menjadi primadon P4S Antanan. Kini Suhandi telah memiliki lahan 1 hektar, sekitar 4 ribu meter persegi ditanami lidah buaya.


"Kami menjualnya dalam bentuk pelepah. Jual ke suplier untuk masuk ke Supermarket," lanjutnya. Dia juga menjual eceran di kawasan Desa Cimande. Desa tersebut memang dikenal menjadi pusat tukang urut dan patah tulang.


Pembeli boleh membeli eceran. Buat suplier dia diminta memasok 1 ton, namun itupun belum dapat dipenuhi oleh Suhandi. Beberapa dokter kecantikan datang ke Antanan. Mereka meneliti kandungan dari lidah buaya mereka. Lendir kekuningan dihasilkan ternyata menghasilkan anti- oksidan terbaik.


Lidah buaya terbukti mengobati mag akut milik Suhandi. Mengobati Suhandi sendiri, itulah kenapa dia meyakini prospek wirausaha lidah buaya ini. Penggunaan kapsul buat mempermudah konsumsi tanpa diolah. Unik lidah buaya dihasilkan Suhandi lebih besar dibanding biasanya.


Dimana dia satu pelapah hasilkan satu kilogram. Panen dalam sebulan 1 kali atau dua kali. Tanaman lidah buaya dapat ditanam di semua tanah. Dari lahan gambut sampai asam dapat ditanami lidah buaya ini. "Tidak ada hama tangan alias tidak akan ada yang nyolong," tuturnya kepada Tabloidsinartani.com

5 Blog Sukses Profil Pengusaha Blogger

Profil Pengusaha Blogger

 
pengusahablogger.com
 
 
Berikut 5 blog sukses buat ditiru dan profil pengusaha blogger. Menjadi blogger ternyata bukan tentang hobi semata. Kemampuan menulis, menghasilkan postingan bagus, original, dan informatif ternyata bisa menghasilkan pendapatan. 
 
Tentu tidak semudah yang dibayangkan, seperti yang sering kami tulis di label "blogger", beberapa diantara mereka rela melepaskan pekerjaan dan pendidikan. Sebut saja nama Thilak Raj Rao, blogger asal India, melalui Techbuzz.net menuliskan segala hal tentang teknologi melalui prespektifnya sendiri.

Tidak pernah melanjutkan kuliah, Raj menghasilkan $1.000 per- bulan setelah 3 tahun berkelana. Selain sekedar menulis informasi beberapa blogger menggabungkan idenya dengan bisnis asli. Tepatnya ada blogger yang menjual produk asli, tapi bukan seperti ecommerce. 
 
Mereka lebih menggunakan pendekatan profesional menunjukan apa yang mereka bisa lakukan. Mereka, para blogger semacam ini menjual produk yang mereka kuasai.

Profil Pengusaha Blogger

 
Tak perlu jauh- jauh ada Anastasia Novita, seorang blogger dan juga chef aneka kue. Dari blognya kamu bisa memesan kue langsung, bertanya ini itu, atau sekedar mencari informasi tentang kue. Jika tidak menjual produk apa yang membuat blogger berpenghasilan. 
 
Jawabannya mudah: dari iklan yang bisa pasang di blog mereka sendiri. Tentu kamu harus memiliki cukup pengunjung agar blog diminati mereka para pengiklan, terinspirasi?

Berikut ini para blogger yang bisa dibilang veteran, menguasai bidang yang berbeda- beda yang mungkin anda bisa tiru. Mulai dari blogger minuman wine, blogger otomotif, dan blogger gossip, berikut profil mereka:

1. Alborz Fallah (foto di atas)


Semua berawal dari coba- coba, Alborz Fallah tak akan menyangka akan meraih sukses. Awalnya dirinya bingung tentang topik yang akan dibicarakan. Dia mulai membuat 3 blog berbeda, lalu menunggung blog mana yang akan mendapatkan lebih banyak pengunjung. 
 
Dari ketiganya, blog tentang mobil lah yang ternyata paling berhasil membawa pengunjung. Ia kemudian memilih fokus pada satu blog tersebut. Blog itu ia beri nama caradvice.com.au yaitu blog yang berisi tentang mobil dengan segala permasalahannya.

Blog tersebut jadi yang terbaik di seluruh Australia, menghasilkan trafik hingga ratusan ribu. Nilai blognya adalah 6 dari 10 di Google. Ini memberikan kemudahan bagi blognya untuk selalu muncul di halaman utama. 
 
Setelah sukses barulah ia memasang iklan, pertama kali yaitu iklan Adsense. Awalnya hanya menghasilkan $10 tapi terus bertambah seiring waktu, menembus angkan $100 per- hari. Semakin fokus dia mengerjakan blognya menjadi mata pencaharian.

Ia pun beralih ke model iklan lain seperti iklan langsung. Melalui blog, setelah bertahun- tahun, ia meraup penghasilan sekitar $100.000 per- tahun. Angka yang jika kita dirupiahkan mencapai angka ratusan juta. Alborz tak berhenti setelah menghasilkan banyak, dirinya menjadi lebih profesional. 
 
Ia mengangkat tim untuk mengerjakan blognya selayaknya situs berita. Dia juga merangkul para investor yang rela mengeluarkan $5 juta. Saat ini Alborz menjadi bos media yang sangat diperhitungkan di Australia.

Caradvice.com.au terus menghasilkan pundi- pundi dollar dari blog saja.

2. Collis Ta'eed


Collis Ta'eed, pria kelahiran Inggris tapi pindah ke Papua Nugini di usia 3 tahun karena ayahnya ditugaskan di perusahaan IT disana. Ayahnya kelahiran Iran sementara sang ibu berasal dari Yorkshire. Saat usianya 17 tahun Collis memutuskan pindah ke Australia untuk kuliah. 
 
Di kampus, ia mengambil jurusan Matematika dan Sains tapi sadar bahwa minatnya bukanlah disana. Ia menemukan minatnya dibidang pemrograman berbasis web dan desain web. Dia cukup belajar secara otodidak di berbagai forum online.

Dari minta barunya mengenai desain web, ia bertemu Cyan yang kemudian menjadi istrinya. Dia sendiri adalah seorang sarjana desain grafis. Cyan berasal dari New York, ayahnya Yunani- Australia dan ibunya adalah orang Prancis. 
 
Kaluarganya kemudian pindah dan menetap di Asutralia setelah menikah, tepatnya mereka di Sydney. Di tahun 2004, keduanya sepakat mendirikan bisnis bersama bernama Good Creative, perusahaan yang melakukan desain festival film bagi orang- orang yang tidak punya rumah atau para gelandangan.

Akan tetapi bisnis ini tidak berjalan baik, mereka merugi besar dan bangkrut diakhir.

Collis dan Cyan Ta'eed sangat terpukul atas kegagalan ini tapi masih ingin menciptakan bisnis lain. Mereka lalu memulai bisnis baru berbasis web. Alasan bisnis semacam ini karena mereka tidak merugi besar serta biaya yang relatif murah biayanya. 
 
Pada tahun 2006, bertempat di garasi rumah orang tua istrinya, Collis Ta'eed memulai bisnis berbasis internet bernama Tutplus.com yaitu blog yang fokus memuat tutorial tentang internet, komputer, dan fotografi. Awalnya blog ini tidak diminati orang. 
 
Dan Collis sempat kecewa karena hal itu, namun semangatnya masih membara. Ia kemudian mengikuti berbagai kelompok di internet yang berhubungan dengan isi blognya dan meninggalkan backlink menuju blognya atau menyarankan orang untuk mengunjungi blognya. 
 
Sedikit demi sedikit blognya ramai dikunjungi orang. Mereka mulai datang ke blognya, mereka bahkan diperbolehkan untuk menulis di blognya. Pengunjung dibayar mahal kira- kira 40%- 50% dari penghasilan blognya untuk menggaji mereka. 
 
Collis Ta’eed hanya butuh enam bulan agar blognya menghasilkan sesuatu. Awalnya blognya menghasilkan $10 dan itu sempat membuatnya hampir putus asa lagi seperti saat ia bangkrut di usaha awalnya. 
 
Tetapi empat minggu kemudian blognya telah menghasilkan $ 1000 dolar dari pendapatan per- minggu. Itu adalah titik balik baginya dan istrinya, dari sana ia sadar bahwa kesuksesan tidaklah dibangun dalam satu malam.

Sama halnya dengan membangun rumah harus bertahap sebat-demi sebata. Pada Desember 2006, Collis telah memiliki sekitar 200 penulis konten untuk blognya. Ia menghasilkan lebih dari $ 1000 per minggu, dan uang tersebut cukup untuknya membeli rumah di banyak negara.
 
Dia bersama istrinya kini sering melakukan perjalanan seperti ke Hong Kong, Australia dan Kanda. Mereka benar- benar menikmati setiap jeri payah mereka disana. Tutplus.com menjelma menjadi pusat informasi terbaik untuk anda yang suka teknologi terutama soal desain grafis.

3. Darren Rowse


Darren Rowse, pria kebangsaan Australia kelahiran 27 April 1972, adalah blogger, pembicara, konsultan, dan pendiri beberapa jaringan blog. Blognya yang paling populer adalah problogger.com. Awalnya, jika kita bicara tentang dirinya, ia bukanlah siapa- siapa. 
 
Pernah bekerja sebagai pelayan paruh waktu, disela- sela kesibukannya, Darren mendirikan blog pertamanya livingroom.org.au, blog yang mengulas tentang segala sesuatu tentang spiritual, politik, dan topik lain yang sedang hangat dibicarakan.

Blog lain yang menyusul adalah problogger.com, blog tutorial tentang internet yang kemudian juga sukses. Dia bahkan menghasilkan $20.000 dari problogger saja. Blognya diminati banyak peselancar internet karena benar- benar original. 
 
Pada tanggal 22 Mei 2009, ProBlogger tercatat sebagai blog kedua terbaik dan jadi yang terfavorit di Technorati. Pada tahun 2006 Darren Rowse dianugrahi penghargaan Best Web Blog Programming yaitu penghargaan yang prestisius bagi para blogger.

Darren Rowse menjadi fenomena sekaligus disebut sebagai blogger terbaik. Tahun 2008 ia menulis sebuah buku berjudul  "ProBlogger: Secrets for Blogging Your Way to a Six Figure Income (Wiley)", ditahun yang sama ia mendirikan TwiTip -blog yang didedikasikan untuk pengguna Twitter. 
 
Dia bahkan dianggap sebagai selebriti di Forbes 2007, tapi kenyataanya hidupnya sebenarnya sangat sederhana. Dia juga sering diundang oleh berbagai negara mengenai web programing.

4.Gary Vaynerchuk 


Pria kelahiran Babruysk Unisoviet,14 November 1975, atau saat ini bernama Belarus Rusia, di usia 3 tahun Gary bersama keluarganya pindah ke Edison, New Jersey, Amerika Serikat. Dia adalah seorang ahli anggur. 
 
Ia sering muncul di televisis dan memberikan ulasan tentang anggur. Acara yang paling sering ia pandu adalah "Wine Library TV". Selain itu ia juga mendirikan sebuah blog yang berbicara tentang anggur. 

Beberapa tahun kemudian bersamaan dengan populernya blog buatannya, Gary menciptakan merek anggur sendiri dan dijual melalui blognya. Selain itu Gary juga sering diundang sebagai pembicara tentang anggur di sejumlah negara. 
 
Keahliannya tentang anggur membuat blognya semakin ramai dikunjungi oleh orang. Penghasilannya dari blog terbilang cukup besar belum lagi penghasilannya sebagai pembicara.   
 
Selain blog dan menjadi pembicara, Gary juga terlibat proyek pembuatan buku tentang anggur dengan Harper Studio dimana nilai kontraknya dikisarkan lebih dari $ 1.000.000. Dan buku-bukunya menjadi Best Seller di sejumlah toko buku online dan offline. 
 
Ia merupakan satu contoh nyata bagaimana menggabungkan bisnis offline dan online.

 Gary Vaynerchuk juga sering menerima penghargaan seperti berikut ini :

  • 2003: Market Watch magazine Business Award: "Market Watch Leader" (youngest recipient ever)
  • 2006: People's Choice Vloggie in the categories of "Cooking" and "Instructional/Educational"
  • 2007: American Wine Blog Awards, Best Wine Podcast or Videoblog
  • 2007: The Morning News's "Favorite Web Phenomenon, Soon-to-Be Culinary Celebrity, Web Bucket-Spitter" 
  • 2008: Bravo A-List Awards, 2008 Nominee for A-List Celebrity 
  • 2011: The Wall Street Journal Twitter's Small Business Big Shot

5. Harvey Levin


Harvey Levin atau Harvey Levin Robert adalah blogger yang cukup berhasil dan kaya raya Amerika Serikat. Ia mengawali karirnya sebagai pengacara, aktif mulai tanggal 12 Desember 1975 sampai 1 Januari 1996. 
 
Kasus yang ditanganinya adalah berkenaan dengan dunia intertainmen atau dunia hiburan, oleh karena itulah blognya sendiri berbicara tentang dunia ini. Selain itu ia juga pernah menjadi reporter hukum KCBS-TV di Los Angeles, saat itu terjadi aksi pembunuhan Simpson dan ia didaulat untuk menjadi reporter hukum.

Pria kelahirkan California, 2 September 1950 ini, menyelesaikan kuliahnya untuk mengambil gelar MBA di University of California, Santa Barbara dan gelar JD dari University of Chicago. Di tahun 1996 Harvey Levin memutuskan untuk lebih mendalami hukum dengan menjadi analis hukum. 
 
Dan pada tahun 1997 ia bekerja sebagai analis hukum bagi The People’s Court. Sifatnya yang kritis dan juga bersentuhan langsung dengan dunia intertainmen membuatnya sangat "gossip".

Dari pengalaman itulah ia mendirikan blog bernama TMZ.com, atau kepanjangan dari Thirty- Miles Zone. Ia menulis segala sesuatu tentang dunia hiburan namun masih berkaitan dengan hukum. Isinya yang tidak hanya tentang gosip membuatnya berbeda dengan blog sejenis. 
 
TMZ mendapatkan banyak pengunjung karena keunikan dalam membahas tentang dunia hiburan. Blog ini tak hanya mengulas selebriti dari sisi glamour dan gosip-gosipnya saja namun juga dari sisi hukum.

Telisik punya telisik, TMZ.com tidaklah murni kepunyaan Harvey Levin, itu adalaha leburan dari AOL dan Telepictures Production yang masih satu bagian dari Warner Bros. Harvey adalah redakturnya. TMZ.com memulai debutnya ditahun 2005 tepatnya tanggal 8 November 2005. 
 
Namun pada tahun 2009 Warner Bros sudah tidak menanam saham lagi di TMZ.com sehingga Harvey Levin hanya berkolaborasi dengan AOL News.

Sumber: Entrepreneur-journey.com, Gdusa.com, Fwdlabs.com,

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba