Pengusaha Usia 10 Tahun Bisnis Kue Coklat

Profil Pengusaha Cory Nieves

  
pengusahakecil.png
 
Pengusaha usia 10 tahun bernama Cory Nieves. Dia bisnis kue coklat pantang menyerah. Usianya baru enam tahun ketika memulai bisnis ini. Dia membuat kue- kue coklat buatannya sendiri, menjualnya beserta minuman coklat hangat dan jus lemon. 
 
Tujuan bocah tersebut kala itu hanya satu, yakni membantu sang ibu membeli mobil baru. Bukan apa mereka hidup di pinggiran kota, membuat sebuah kendaraan akan sangat berarti.  

Nieves dan ibunya, Lisa Howard, awalnya tinggal di New York City, di mana kelimpahan transportasi umum memudahkan untuk hidup tanpa mobil disana. Ketika dua pindah ke Englewood pada tahun 2009, semuanya harus berbeda untuk pergi sekedar mencari kebutuhan sehari- hari.
 

Bisnis Kue Coklat


Nieves menjadi salah satu pengusaha terkenal di Englewood. Bahkan dia lebih terkenal karena baru berumur 6 tahun ketika memulai bisnis. Sebagai warga baru di kota, Howard tidak punya teman untuk menumpang, sementara tarif taksi terlalu mahal untuk mendapatkan tumpangan ke supermarket lokal.  
 
Suatu hari, setelah absen 166 NJ Transit bus di Grand Avenue lagi, Nieves merasa hal ini sudah cukup dan butuh perbaikan. "Dia berkata 'Mom, aku tidak tahan lagi," kata Howard meniru ucapan putranya kala itu." "Saya pikir saya ingin sebuah mobil." ucapnya lagi.


Ketika Howard bertanya bagaimana mereka bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil, satu ide datang ke pikiran Nieves: menjual kue. Ini adalah hal yang luar biasa bahwa ketika ia memiliki pertunjukan di mana ia dapat menjual bisnisnya dan mencintai untuk menjual. 
 
Nieves yang pemalu telah tumbuh. Menjual kue- kue itu didepan rumahnya dan penginapan khas Roma disekitar. Gayanya yang keren membuatnya mudah untuk menjual dimana pun. 

Usut punya usut, ini bukan yang pertama, Nieves pernah berjualan kue sama ketika di Manhattan. "Itu sangat menyenangkan," ucapnya. "Disana banyak orang yang membeli".

Tak berjalan sesuai harapan. Ada seseorang yang melaporkan bisnis kecil ini ke Departemen Kesehatan, memaksanya untuk menutup bisnisnya. Nieves membutuhkan bantuan untuk membuat bisnisnya legal. 
 
Ya, seorang anak kecil tetaplah anak kecil yang membutuhkan bantuan. Bantuan itu akhirnya akan datang yaitu dari sosok Tod Wilson, pemilik Barat Hudson Street "Mr Tod Pie Factory", dimana Nieves telah kenal baik dengannya.
 

Perkenalan Wilson dengan Nieves untuk pertama kalinya, Wilson bercanda dengan "Mr Cory" bahwa blok (tempat berjualan) mereka tidak cukup besar untuk mereka dua. Ia menambahkan bagaimana reaksi bocah kecil itu. 
 
"Kau tahu apa yang dia katakan? saya ada di sini pertama," kata Wilson sambil tertawa terbahak, menirukan reaksi Nieves pertama kali. "Saat itulah saya pertama kali tahu saya berada disana untuk sesuatu."

Penasaran dengan pertemuan pertama mereka, Wilson membantu menunjukkan dia bagaimana menjalankan dan mempromosikan bisnis sendiri, memberinya tips pemasaran, membantu menciptakan logo dan menunjukkan kepadanya bagaimana benar harga produknya. 
 
"Dia memiliki keinginan untuk ingin menjadi baik, " kata Wilson. "Anak itu berbakat, bekerja keras, dan memiliki kepribadian yang tak mudah jatuh. Saya berharap hal- hal besar dari Cory "

Nieves sering menjual kue nya di Mr. Tod Pie Factory, atau juga di pasar petani Englewood, dan pasar petani Closter. Ke depan, Nieves berencana untuk menjual kue di pasar petani Cape May sebulan sekali. 
 
Sementara Nieves yang awalnya memulai bisnis untuk membeli ibunya mobil, Mr Cory Cookies telah mengambil tujuan baru dari waktu ke waktu.

"Saya bilang saya akan melakukannya (untuk mengumpulkan uang) untuk kuliah dan (untuk belajar bagaimana) menjalankan bisnis," kata Nieves.

Tidak hanya Nieves telah belajar berbicara seperti orang bisnis, tetapi juga cara berpakaiaanya. Nieves mampu membuat gaya pakaian sendiri dari majalah fashion ibunya seperti seorang pebisnis, dengan itu mempromosikan bisnisnya, termasuk koleksi kebesaran, gelas plastik ikonik nya. 
 
Mr Cory Cookies - yang memiliki 11 varietas yang berbeda - adalah "50 persen organik dan 100 persen alami," itu sangatlah penting bagi Nieves, untuk menjual kue bebas dari bahan pengawet.

Selebgram Faiz Saddad Ahli Photoshop dan Pengusaha

Profil Pengusaha Faiz Saddad

 

faizsaddad.png
 

Selebgram Faiz Saddad ahli Photoshop dan pengusaha juga. Dia sebenarnya mempunya usaha unik, dan layak kalian contoh kembangkan. Faiz memiliki usaha boneka kayu Bokumi. Usahanya terkenal ketika ia belum menjadi selebgram.


Belum mengedit- edit foto sudah bekerja keras. Faiz berwirausaha pertama kali dikala kuliah. Dikala Semester 6, dia mengerjakan usaha bokumi berbahan kayu bekas. Dia mengandalkan keahlian melukis karakter.


Faiz tidak menghabiskan waktu berfoya- foya. Dia bekerja keras. Menyalurkan hobi sekaligus menjualnya sampai hasilkan fulus. Usaha dijalankan di 2012, Faiz mangatakan bahwa idenya dimulai sejak 2008. Dia baru mewujudkan bersama ayahnya pada 2012 itu.

 

Photoshop dan Pengusaha


Faiz merasa bosan akan masa remajanya. "Tahun 2008, saya merasa bosan gambar di atas kerta. Iseng- iseng mau ngubah budaya bikin tantangan baru, jadi gambar ada medianya (kayu)," terangnya kepada Merdeka.com


Modal usahanya Rp.15 juta demi membeli bahan bayau. Faiz juga membeli mesin potong kayu. Bahan baku kayu dari limbah kayu yang diolah. Boneka Bokumi dibuat dari limbah palet kayu. Bahannya itu digunakan untuk alas pengiriman televisi, kulkas, dan lain.


Kayunya dipakai kembali buat dibentuk model kayu. Prinsipnya mengolah limbah kayu tidak dipakai. Usaha Bokumi kemudian dilepaskan khusus buat Faiz. Ayanya berhenti meminta Faiz meneruskan. Dan ternyata, anaknya memiliki kemampuan memproduksi hingga jualan.


Tidak mudah dia menjalankan. Sempat berhenti sejenak karena kesibukan kuliah. Faiz memang sangat menuruni keahlian ayahnya. "Buah jatuh tidak jauh dari batangnya," ujar sang pengusaha muda, yang memegang total sendirian di 2015 silam.


Usianya masih 19 tahun tetapi memiliki usaha sendiri. Usaha makin berkembang dikelola 2 tahun, ia sudah menghasilkan omzet Rp.10 jutaan. Namun kuliah cukup membuat keuntungan naik turun. Faiz tetap mencoba produksi dalam kesibukan berkuliah.


Keuntungan bersih bisa Rp.5 juta sampai Rp.8 jutaan. Kalau bagus dia sampai mendapatkan untung bersih 10 jutaan lebih. Usaha Faiz memang tidak semudah membalik telapak tangan. Sempat tutup, pada 2014 silam, dilanjutkan di 2015 dan terus menghasilkan.


Apakah segampang itu berjualan produk Bokumi? Ternyata tidak, Selebgram Faiz Saddad memberi penjelasan, Bokumi merupakan produk baru belum dikenal masyarakat luas. Alhasil Faiz diwajibkan memberikan edukasi mengenai produk ini.

 

Bokumi dikenal memba namanya dipanggil stasiun televisi. Namun Faiz belum dikenal sebagai ahli Photoshop loh. Dia masih dikenal sebagai pengusaha muda. Faiz diundang pula menjadi narasumber buat acara kewirausahan.

 

Faiz bermimpi produk Bokumi akan diekpor. Ke depan akan dikeluarkan produk baru, dan diharapkan akan menjadi produk dunia. Rencana ekspor Faiz sudah ditangan tinggal mewujudkan. Apresiasi dari pasar diharapkan besar banget, apalagi produknya dikenal memanfaatkan limbah kayu.

 

Bokumi diancang- ancang tidak sekedar menjadi hiasan. Bokumi diharapkan kelak menjadi kurikulum. Kelak akan diajarkan ke anak- anak agar meningkatkan kreatifitas. "Saya ingin Bokumi bisa masuk kurikulum pendidikan atau jadi ekstrakulikuler sekolah. Toh, ini juga produk asli Indonesia," tutupnya.


Pengusaha Faiz Saddad bisnis sukses tetapi masih terus berkarya. Dia juga dikenal sebagai selebgram dan menerima endors dong. Semua berkat kreatifitas yang terasah semenjak kecil. Selain ahli membuat kerajinan kayu, Faiz ternyata jago mengolah foto.


Pemuda kelahiran Jakarta, 12 Agustus 1996, yang berhasil "hangout" bersama seleb Hollywood. Tak nyata melainkan editan Photoshop yang rapih. Saking rapihnya sampai dikiran beneran dan membuat jagat maya ramai.


Keviralan editan tersebut menambah keterkenalan Faiz. Dulu dia cuma beberapa kali masuk berita, kini dia sering bahkan sudah punya channel Instagram sendiri. Namanya juga sudah terverifikasi alias sudah Selebgram. 


"Awalnya belajar Photoshop untuk keperluan bisnis Bokumi, bikin desain, bikin konten Instagram, poster.dll," jelasnya kepada idntimes.com

 

"Eh terus iseng2 bikin photo manipulation sama artis2.. Terus senang saja liat temen2 pada ketawa liatnya.. Eh lama kelamaan saya nemu beberapa refrensi orang yang bikin photo manipulation juga," ia melanjutkan.

Bule Italia Tak Malu Jualan Gorengan Wirausaha

Profil Pengusaha Fabrizio Urso

 
jualangorengan.png
 
Yuk wirausaha sepertik kisah bule bernama Fabrizio Urso ini. Bule Italia tak malu jualan gorengan di tengah malam. Sukses usaha tidak sekedar rasa dan kebersihannya. Pria 39 tahun asal Italia ini memberikan pembeda hingga laris manis. 
 
Logat bulenya jadi penarik bagi pejalan untuk melirik. Niat pertama para pejalan pastilah meneliti asal suara "lucu" itu. "OTE-ote, tahu isi, silakan beli..." begitu suaranya. Eh ketika dilihat, ternyata seorang bule, lantas, apa yang dijualnya di sana, pastilah jadi hal kedua setelahnya. 
 
Barulah para pejalan membeli untuk sekedar mencicipi dan merasakan bedanya. Tak tersa hampir setahun, seorang Fabriz telah menjalani usaha gorengan di pinggiran jalan Manyarkertoarjo, Surabaya.
 

Wirausaha Gorengan


Tak hanya gorengan. Andalan lapak kecil ini juga kopi robusta dan arabika racikannya sendiri. Pembelinya pun kebanyakan datang dari kalangan atas. Fabriz total menggunakan pengalamannya sebagai GM sebuah restoran untuk memberikan produk segar. 
 
Gorengannya jadi lebih renyah, empuk, dan tidak terasa gatal di tenggorokan. Penggunaan bahan- bahan berkualitas membuatnya jadi produk gorengan premium. Ia pun bersyukur kini usaha bersama sang istri bisa laris manis.

Usaha itu baru dibuka Maret tahun lalu. "Saya melihat pasar Indonesia. Apa yang laku saya jual," katanya.

Semasa muda, ia memang gemar memasak hingga sekarang. Masakan khasnya tentu apa lagi kalau bukan pizza dan pasta. Bukannya memilih menjual makanan Itali tersebut; ia memilih berjualan gorengan. Ada dua hal yang membuatnya memilih gorengan. 
 
Pertama, murah produksinya, lebih murah dari membuat makanan pizza tentunya. Kedua, ya, karena gorengan telah menjadi tradisi makanan orang Indonesia. Dinikmati siapa saja baik untuk lauk atau cemilan.

Dia memilih berjualan gorengan ote- ote, tempe goreng dan tahu isi. Beruntung istri dan keluarganya gemar makan gorengan. Istrinya yang asli Indonesia inilah yang mengajarinya resep gorengan. Perlahan tapi pasti, dia mempelajari bagaimana membuat gorengan renyah dan nikmat. 
 
Dia belajar layaknya orang lokal saja. Pekerjaanya sebagai GM restoran terbawa, menerapkan sistem kelas resto di dapur rumahnya. Misalnya, dapur harus bersih, makanan higienis, dan peralatan yang bersih.

Memang, jika dilihat- lihat lagi, lapak yang dimiliki Fabriz berbeda dengan milik pedagang lain. Lapak Fabriz bersih dari minyak maupun kotoran apapun. Pembeli pun merasa nyaman dan tidak merasa jijik, bahkan mau saja menunggu. 
 
"Itu salah satu sistem yang saya terapkan," ujar penggemar Francesco Totti tersebut. Selain tempat memasak yang higienis, bahan juga harus higienis begitulah bule itu membagi rahasianya. Dia lantas membatasi jumlah minyak goreng yang digunakan. 
 
Yang biasanya penjual gorengan akan memasak dengan jumlah minyak berlebihan, ia menyebut justru itu sebuah kesalaha. Kadar minyak jenuh dalam gorengan tersebut sangat tinggi jika minyak digunakan secara berlebihan dan berulang- ulang. Sistem yang memang boros minyak. 
 
Akhirnya, biaya pembelian minyak pun membengkak. Tapi, Fabriz tidak peduli, di pikirannya adalah bagaimana melayani konsumen. "Pelanggan juga semakin bertambah," jelasnya.

Awalnya hanya ada 3 jenis gorengan. Ia membatasi jumlahnya cuma 25 biji setiap produknya. Ini bertujuan untuk mengedukasi pasar agar pasar kenal dulu. Hasilnya, beberapa hari gorengan terus habis, barulah ada rencana untuk menambah jumlahnya. 
 
Fabriz kemudian menambah jumlah gorengan bertahap. Kini, hasilnya jumlahnya bisa lebih dari 150 biji untuk setiap gorengan. Untuk mendukung gorengan adanya produk kopi digunakan Fabriz untuk mengisi waktu para pembeli. 

Kopi digunakannya sebagai teman makan gorengan. Selain itu, ia akan menawarkan mereka yang menunggu gorengan matang. Caranya itu terbukti ampuh. Ini membuat gorenganya tetap segar karena baru digoreng, tidak digoreng dan didiamkan. 
 
Ketika berjualan gorengan, Fabriz selalu ditemani istri, Novita, keduanya bekerja sama mengerjakan bisnis ini. Baginya pekerjaan ini penuh kratifitas, tidak monoton seperti apa yang dikerjakannya dulu.

Orang tua dari Fransesco Alesandro itu kemudian menceritakan awal mula masuk ke Indonesia. Tepatnya pada 2014 ketika dia bertemu sang pujaan hati di Singaraja. Mereka menjalin hubungan yang berlanjut ke pernikahan pada 2011. 
 
Pada 2013, dia mendapat pekerjaan di Surabaya. Yakni, GM sebuah restoran di Jalan Imam Bonjol. Bagi dia, posisi sebagai GM di rumah makan bukan pengalaman baru. Ketika berada di Roma, Fabriz pernah bekerja di beberapa hotel terkenal di negara itu. 
 
"Saya nyaman dengan pekerjaan GM rumah makan," katanya. Namun,bekerja kepada seseorang tidak memberikan kebebasan waktu. Bule Italia pun tak malu jualan gorengan.
 
Dia mulai berpikir berwirausaha. Memang karena kebulean -nya lah yang membuat lapaknya ramai dikunjungi. Namun, perlu diketahui, ada peran cita rasa restoran yang disuguhkan dari proses pembuatan dan penjualan. 
 
Mereka yang datang kesana tidak hanya mendengar dari orang tentang bule yang berjualan saja. Mereka datang karena tau bagaimana ia menerapkan standarisasi untuk bisnisnya. Hasilnya, gorengan kelas premium yang selalu laris manis menyasar mereka dari berbagai kalangan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba