Tampilkan postingan dengan label Toko online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toko online. Tampilkan semua postingan

Entrepreneur Cilik Leanna Archer Minyak Rambut Ajaib

Profil Pengusaha Leanna Archer


entrepreneur cilik amerika

Berkat minyak rambut ajaib entrepreneur cilik menjadi miliarder. Wajah polos Leanna Archer tidak akan membuat kita menduga. Bahwa dia sudah menjalankan entrepreneurship sejati. Jangan salah, semua tentang menilai orang dari cover tidak berpengaruh, karena kini dia orang termuda di Nasdaq.

Sebuah buku tak lagi terlihat seperti sampulnya sekarang. Sebuah keyakinan ada pada diri sendiri. Leanna berani membuka perusahaan sendiri hingga sampai ke bursa saham NASDAQ. Bagaimana dia memulai?

Dia hanya memulai dari rambutnya sendiri. Leanna yang masih terlihat seperti gadis pada umumnya, sangat senang bermain dengan anak seumurnya. Tetapi, ada yang berbeda dengan dirinya, di umur 15 tahun sudah berhasil mengerti bagaimana sebuah bisnis berjalan.

Entrepreneur Pebisnis Aksesoris Hip Hop cCommerce

Profil Pengusaha David Levich


pengusaha aksesoris hip hop

Pebisnis aksesoris berikut melihat melihat jauh ke prospek. Dia adalah David Levich, entrepreneur yang berbisnis aksesoris hip- hop. Dia mampu lebih cepat dari orang lain. Siapa sangka aksesoris hip hop akan begitu digemari. 
 
Ia menerapkan konsep eCommerce David mencetak laba lebih banyak, dan menjadi salah satu pelopor bisnis eCommerce.

Entrepreneur Muda

 
Sejarahnya seorang pencinta musik Hip- Hop, dan ingin mempunyai bisnis dari itu. Maka lahirlah satu situs eCommerce, Iced Out Gear, situs yang fokus menawarkan segala sesuatu tentang musik ini. Slogan perusahaanya sangat lah manarik:

"Membuat anda terlihat seperi 10 juta dollar, tanpa harus habiskan ribuan dollar."

Di 2004, David dan beserta temannya tidak memiliki banyak uang. Mereka ingin terlihat keren layaknya selebriti hip hop. Mereka wajib mengeluarkan ribuan dollar, dan barulah tampak terlihat jadi bling- bling seperti mereka.

Akhirnya, mereka berencana menjadi pengusaha bisnis aksesoris hip- hop, menolong para penggemar Hip- Hop. Alasanya mereka ingin terlihat seperti para penyanyi Hip- Hop secara mudah, dan mereka juga berbagi perasaan kepada para pembeli; tidak harus puluhan ribu dollar.

Mereka mencari supplier dengan harga bagus kemudian menjualnya secara online. Berkaca dari hal sukarnya mencarian aksesoris Hip- Hop. David membangun eCommerce ketimbang cara bisnis konvensional.

Ia merasa butuh menciptakan kemudahan setiap pembeli, walau mereka bersusah payah mencari supplier sendiri. Pembeli akan dilayani secara baik olehnya melalui situs Icedoutgear.com, dan tidak menyusahkan mereka. Para pembeli bisa membeli aksesoris Hip- Hop dengan harga ramah.

Icedoutgear lantas menggandeng Yahoo sabagai media patner, serta beberapa organisasi perlindungan konsumer. Icedoutgear menawarkan aneka platform pembayar, paypal, kartu kredit, dan beberapa pembayaran online lainnya.

Tentang produk, Icedoutgear menawarkan bermacam- macam aksesoris, seperti gelang, kalung, rantai, kaca mata .dll.  Icedoutgear menentukan pembayaran macam apa, setelah pembeli mengklik produk mereka.

Mereka juga menawarkan diskon hingga produk premium. Mereka memberikan pengembalian produk jika terjadi masalah dengan syarat tertentu. David bekerja sama dengan DoubleClick menjadi media pemasaran produk.

Dia memilih menggunakan format gambar .gif dan berhasil meningkatkan penjualan. Icedoutgear menggunakan iklan transparan untuk lebih efektif, efisien, dan langsung ke pembeli. DoubleClick merupakan salah satu perusahaan iklan terkenal di dunia sebagai tempat bagus untuk bisnis online.

Berkat hobi menjadiakn dia pengusaha bisnis aksesoris hip hop. Ini bukan tentang uang sepenuhnya. Dia memilih bisnis tersebut karena kecintaan dunia Hip- Hop dan akan terus begitu. 
 
Icedoutgear.com menawarkan perubahan dunia pada jamannya; inilah kisah pelopor bisnis eCommerce dunia.

Elle Jess Yamada Beauty Blogger Selebgram

Profil Pengusaha Elle Jess Yamada


elle jess yamada
 
Bermula menjadi beauty blogger kemudian selebgram. Profil Elle Jess Yamada sudah terkenal lama di dunia maya. Mereka dikenal sebagai beauty blogger, dan sekarang fashion Selebgram. Kamu akan lebih banyak menikmati konten mereka di Instagram. 
 
Mereka ini kembar loh, dan sudah memiliki passion dibidang internet lewat aneka sosial media. Dari mempunyai blog, Youtube, Facebook, dan Instagram. 
 
Wajah cantik mereka juga terpampang di berbagai media lain. Fokus mereka memang lebih ke pasar wanita muda masa kini. Ketika viral lagu "Gwiyomi", keduanya ngevlog bersama benar- benar cantik dan cute banget.
 

Beauty Blogger dan Selebgram


Mereka bukan keturunan Korea bukan Jepang. Nama lengkap mereka Ellisa dan Jessica tanpa nama keluarga. "Nama asli kita sih Jessica dan Ellisa saja, tanpa nama belakang," tutur mereka. Namun orang penasaran mengenai Yamada. Dan ternyata, itu tuh bukan nama keluarga atau nama ayahnya.

Dikisahkan keduanya iseng memakai nama "Yamada". Itu berkat orang bilang mereka kembar, dan mirip orang Jepang. Waktu bermula mau mendaftar Facebook membutuhkan nama belakang. Si Elle iseng mencari nama "the common Japanese surname", dan ketemulah Yamada di Google.

Aktif di sosmed pastilah sering mengupload foto atau video. Diantara kegiatan tersebut, Elle dan Jess menyelipkan promosi ke dalam aktifitas wajar tersebut. Orang mungkin tidak "ngeh" tetapi mereka tengah promosi produk. Ternyata keduanya juga memilik olshop jadi sembari berjualan di sosmed gitu.

Mereka mulai serius mengadakan pemotretan seperti model. Passion mereka dari kecantikan dan juga fashion sejalan. Keduanya beralih dari seleb Facebook ke Instagram. Kedua menjadi suka mengikuti dunia modeling. Bahkan ditawari mengikuti kegiatan catwalk dan Jakarta Fashion Week.

Blog mereka ElleJess tidak kalah pamornya dibanding Facebook. Mereka aktif mengupload cerita dan foto. Berkat itupula mereka bisa ke Jakarta Fashion Week 2015 di Senayan City, Jakarta.

Boleh dibilang keduanya termasuk pelopor konsep endorse. Tetapi mereka memakain produk hasil mereka sendiri. Strategi bisnis melalui menjadi model onlineshop sendiri. Olshop mereka bernama Gowigasa atau Good Will Garage Sale.

Mereka berawal dari bisnis pakaian second. Elle dan Jess mampu mengolah sesuatu hingga viral. Alhasil blog mereka, ellejess.com, mampu menghasilkan pengunjung 1 juta perhari. Karena wajah mereka marketnya luas ke berbagai negara.

Pengunjung paling banyak dari Indonesia dan USA. Setelah sukses pakaian second, keduanya lalu mengembangkan bisnis fashion lain. Mereka memang tidak memilik latar belakang fashion. Jess pernah kuliah Komunikasi Visual Animasi, Universitas Bina Nusantara.

Elle sendiri pernah berkuliah manajemen di IMBT. Pada 2012, keduanya sempat masuk girl band bernama Hearts, yang didukung oleh Dea Ananda.

Pendiri Hijup Diajeng Lestari Startup Hijab

Profil Pengusaha Diajeng Lestari


profil diajeng lestari

Pengusaha Diajeng Lestari pendiri Hijup. Mendirikan startup hijab hingga namanya dikenal seperti sekarang. Dia adalah  istri dari Ahmad Zacky pendiri Bukalapak. Bagaimana perjalanan dia yang tak  terpengaruh nama besar suami. Ia mampu membuktikan dirinya patut diperhitungkan.

Pasalnya Hijup telah menggandeng nama beken dunia fashion. Mulai dari pengusaha Dian Pelangi, Restu Anggraini, dan Barli Asmara. Ibu muda kelahiran 17 Januari 1986, tidak menyangka akan bisa seperti sekarang.

Dia tidak menyangkan sukses lewat startup. Apalagi Ajeng menawarkan hijab menjadi produk utama. Berkat gebarakan ini menghasilkan berbagai prestasi. Mulai diajak masuk London Fashion Week di 2018. Tempatnya di Victoria House, Blomsbury London di 17- 18 Februai 2018.

Menjadi Pengusaha


Sudah menjadi darah keluarga Ajeng menjadi wirausaha. Sejak kecil dia sudah biasa melihat ibunya usaha. Ajeng sudah biasa  melihat transkasi penjualan. Gadis kecil itu sering dibawa ke bazar melihat ibu bekerja.

Ajeng terbiasa membuat kerajinan tangan. Itu kemudian dijual ke teman- teman. Tidak disangka, itu menghasilkan uang rasanya menyenangkan. "Mudahnya" mencari uang sendiri, tidak serta- merta menjadikannya pengusaha. Dia memilih hidup normal bekerja kantoran di perusahaan.

Rasa ingin menjadi pengusaha belum tumbuh. Hingga dia menjadi karywan belum kepikiran. Ajeng ditugasi menjadi marketing research. Bekerja membuat dirinya paham proses kreativitas orang. Pada tahun tersebut hijab belum menjadi kebiasaan.

Banyak orang ingin berhijab tetapi ingin tetap bergaya. Monoton dan tidak trendy membuat orang agak takut. Padahal dalam dirinya terdapat niatan baik. Tidak sedikit orang menganggap memakai hijab buat ibu- ibu. Terkesan kuno membuat Ajeng sendiri kesulitan bekreatifitas diri.

"Mungkin secara tidak sadar sudah terbentuk dari kecil menjadi pengusaha. Ibu saya juga pengusaha dan sering diajak ke bazar berjualan," tuturnya kepada CNN

Padahal dia adalah wanita karir berhijab kreatif. Tempat kerja pun menuntut berpakaian fashionable. Inilah cikal bakal eCommerce khusus hijab. Tidak hanya berhenti di sana, Ajeng tengah mencoba membuat brand fashion muslim sendiri.

Tahun 2011, ia memutuskan resign kerja dan membangun brand bisnis sendiri. Fokus membesarkan startup Hijup. Sang suami, Ahmad Zacky, memberikan dukungan moril dan tenagaa bagi istrinya. Dia membantu teknis pembuatan website. Itu semua dikerjakan dari nol dan tidak memiliki karyawan.

Dia berperan sebagai  manajer dan office girl. Keringat terkuras untuk memanggil pembeli masuk ke sini. Pandangan sebelah mata orang sempat membuat ngedrop. Tekanan batin karena ejekan bahwa ini tidak akan punya masa depan.

Banyak orang memandang sebelah mata. Suaminya sendiri masih merintis usaha Bukalapak. Jadi dia harus bisa mandiri mendirikan usaha ini. Hijup dianggap tidak punya masa depan. Ia sendiri punya rasa keraguan. Bertahap animo masyarakat berbelanja di situs eCommerce nya tumbuh.

Berani Jadi Pengusaha Menghadapi Persaingan

Biografi Pengusaha Diana Bismarak


pemilik below cepek

Berani jadi pengusaha jangan takut menghadapi persaingan. Kisah Donna Riana Bismarak, memulai bisnis yang tengah naik daun sekarang. Ia tidak takut menghadapi memanasnya eCommerce. Riana menciptakan platform marketplace jual beli bernama Below Cepek.

Namanya unik menunjukan jati diri. Bahwa produk dijual di sana adalah dibawah seratus ribu. Walau demikian Riana meyakinkan kualitas nomor satu. Mereka bekerja sama dengan UMKM Indonesia memenuhi kebutuhan pakaian masyarakat.
 

Menjadi Pengusaha


Sudah 14 tahun bekerja sebagai karyawan tentu nyaman. Namun bekerja bukan dibidang disenangi yakni fashion. Pekerjaan mapan Corporate Director of Sale & Marketing, untuk Water Boom Jakarta dan Bali. Bisnis Below Cepek berdiri November 2011 disaat dirinya masih menjabat itu.

Hobi belanja membuatnya berniat membangun eCommerce. Bermula pengalaman ketika belanja di Victoria Secret. Dia menemukan satu produk bikinan Indonesia di web. Siapa sangka situs besar itu menjual produk buatan lokal. Ia menyadari bahwa produk kita sebenarnya sangat berkualitas.
 
Berani jadi pengusaha langsung tancap gas membangun. Dia mendirikan belowcepek.com, bermodal Rp.50 juta, buat bikin situs mumpuni, menyewa tempat di  Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, dan biaya operasional. Dia merogoh kocek Rp.100 juta dimana sisanya nanti untuk pegangan.

Ia cukup mempekerjakan 2 orang staf. Riana bertanggung jawab total akan operasional. Agar irit buat model pakaian digunakannya teman- teman dekatnya. Urusan promosi Riana lakukan sendiri sembari tetap bekerja.

"Pastinya kalau dari promosi, saya kalah telak dari bisnis fashion lain, seperti Zalora, karena dana buat iklan sedikit," tuturnya.

Agar menarik banyak pembeli, maka Riana menerapkan strategi khusus. Below Cepek mengambil margin untung tipis. Alhasil situs ini menawarkan produk lokal dengan harga miring. Dibawah seratus ribu seperti namanya tercantum.

Harga jual telah terjangkau tetapi sulit mendapat pelanggan. Pasalnya tahun tersebut menjadi musim bermunculan eCommerce. Disisi lain banyak bermunculan penipuan toko online. Maka pembeli jadi lebih hati- hati terutama soal harga. Riana maklum tetapi bukan berarti berganti strategi bisnis.

Alumni Sahid Tourism Academy bekerja keras. Dalam waktu lima bulan menggaet 10.000 anggot aktif. Para pembeli pun memberikan testimoni positif akan pelayanan. Kualitas produk jga disoroti tidak kalah walau murah. Bukan berarti tidak terdapat masalah karena sudah langsung diatasi.

Kebanyakan masalah datang mengenai beda barang. Antara foto dan produk diterima ternyata malah berbeda. Mengecewakan sih tetapi langsung Riana atasi segera. 'Saya tidak akan membiarkan itu (beda foto dan paket) terjadi di Below Cepek, makanya pembeli yang pernah beli pasti beli lagi."

Tidak ada ketakutan ketika "dikroyok" pemain besar. Bisnis eCommerce memang tengah naik daun. Pemainnya juga banyak bermodal kuat dan berani promosi. Riana sendiri tetap berpendirian lebih mengutamakan membangun komunitas.

Tujuannya pembeli bisa mendapatkan barang bagus terjangkau. Senang rasanya, ketika pembeli puas tetapi masih menyisakan uang buat ditabung. Gempuran produk impor juga tidak menggoyakan sikap Riana. Below Cepek tetap didapuknya menjadi pusat belanjar produk lokal asli UMKM Indonesia.

Bekal Pengusaha


Pengalaman merupakan kunci sukses bukan sekedar modal. Riana mempunyai pengalaman manajer penjualan di Hotel Sahid, Jakarta. Buat kalian yang memiliki pengalaman korporasi manfaatkan. Bisa gak kamu melangkah menjadi pengusaha.

Below Cepek mengajarkan pengeluaran bisa ditekan. Mereka menawarkan produk berkualitas yang telah disortir. Ada kebanggaan melihat pembeli memakai produk lokal. Banyak pandangan melihat sinis produk lokal. Riana sendiri menyadari bahwa produk lokal tidak kalah.

"Kalau produk impor saja tidak berkualitas barangnya, apalagi lokal?" begitu ucapnya, menirukan gaya bicara orang.

Riana memilih menekuni apa hobi dan kemahiran. Rekan karyawan pun memuji penampilan Riana di kantor. Awal- awal dia berharap akan meniru cara orang menjadi pengusaha. Inginnya membuka satu butik atau toko di mall. Tetapi ia menyadari biaya sewa mahal dan berdampak pada harga produk.

Ia mengenalisa toko online jualan produk China, Korea dan Bangkok. Padahal di offline juga sudah banyak dijual. Riana berpikir mengapa jarang sekali produk made in Indonesia. Dibawah bendera PT. Fortuna Adi Buana, Riana tidak mau berjualan produk impor karena tidak berkonribusi.

Produk dijual aneka fashion seperti rok, celana, gaun, dan baju. Adapula produk aksesoris mulai dari cincin, kalung, gelang dan tas. Seperti nama toko onlinennya dia menjual produk dibawah seratus. Ia mengatakan harga tertinggi Rp.99.000.

Target pasar utamanya mereka usia dibawah 18 tahun. Mereka yang ingin produk fashion berkualitas dengan harga terjangkau. Pelanggannya merupakan komunitas dari Sabang sampai Marauke. Bisnis ini mampu memproduksi 500- 1000 item perbulan.

Model pakaian dalu memakai teman- teman dekatnya. Kini tentu beda, tetapi Riana memiliki prinsip harus orang Indonesia asli, mau kulitnya hitam, rambut keriting, atau dibawah standar cantik model bule tidak masalah. Riana menarget bukan cuma Jakarta tetapi seluruh Indonesia belanja di sini.

Below Cepek menggunakan bahan sesuai cuaca Indonesia. Tidak ada koleksi winter atau summer, ya semua disesuaikan dari Indonesia untuk masyarakat Indonesia. Riana tidak kaku bahwa memberi ruang pesan custom. Nanti pembeli mengirim gambar dan ia akan meminta tukang jahit kerjakan.

Menghadapi Persaingan


Masalah bukan berarti tidak ada menerpa Below Cepek. Selain pandangan sinis akan produk lokal, masalah datang dari pesaing bisnis lokal sendiri. Mereka menciptakan toko online dengan nama yang sama. Bisnis asal Bandunng tersebut membuat baju sampai aksesoris sama, bahkan cara pakainnya.

Ia mengatakan ini cara "steal visitor" atau mencuri pungjung. Untung bila mereka menjual produk yang sama berkualitas. Mereka malah membuat nama Below Cepek asli terpuruk. Banyang sekali yang protes mengenai pengalaman belanja mereka.

Curhatan mereka sampai menjadi pembicaraan publik di sosmed. Riana sendiri baru sadar ketika dia mendapatkan laporan. Bahkan bayangkan iklan mereka bahkan meniru milik Riana. Dia protes ke pihak sosial media. Butuh dua- tiga jam sampai iklan promo mereka diturunkan.

Namun mereka tetap memakai iklan promo tersebut. Bukan hal baru pristiwa tersebut sering terjadi di internet marketing. Dia cuma bisa mengelus dada sembari mengikhlaskan. Mengambil sisi positifnya ini menunjukan idenya keren.

Below Cepek sangat mengandalkan komunitas pelanggan. Sampai mereka pernah usulkan membuat baju ibu menyusui. Riana merespon dengan meluncukran produk unik "busui". Konsep baju untuk ibu- ibu menyusui. Pokoknya dia menerapkan konsep unik dan menarik untuk menggaet pelanggan.

Riana juga pernah mendapatkan permintaan hijab. Produk pakaian muslim besar dan lengan panjang sedang naik daun. Soal peluang bisnis, ibu- ibu juga meminta menjadi reseller, untuk satu ini Riana mempunyai promo menarik. Mereka tinggal melakukan deposit satu juta yang tidak akan terpotong.

Ibu- ibu boleh mengambil 11 baju. Mereka diberi waktu 3 bulan sampai produk terjual. Soal stok tak akan bermasalah ini sangat membantu. Kemudian waktu 3 bulan sebagai bentuk penyemangat dan cara pintar. Ada 100 orang terdaftar dalam bisnis berkonsep "Smart Shopper dan terbantu.

Aneka gaya promosi unik menarik perhatian masyarakat. Tak salah bila mereka mendapatkan gelar Top Ten Social Media Campaigne 2012. Salah satunya membuat aplikasi, dimana masyarakat bisa memainkan game "Miss Matching", tanpa diharuskan membeli produk yang dijual di Below Cepek.

Riana yang sukses belum puas membangun bisnis. Berani jadi pengusaha berarti siap membangun bisnis lain. Dia mengembangkan Restyle, yang mana pusat penjaring desainer lokal, jaringan network buat mereka yang ingin bergabung dengan Below Cepek.

Menjadi Pengusaha Muda Dita Berbisnis Sampingan

Profil Pengusaha Aphrodita Wibowo


dita pengusaha muda boneka

Memiliki kreatifitas tinggi ingin menjadikan pengusaha. Ini kisah pengusaha muda bernama Aphrodita Wibowo. Dia tak menyangka bisnis sampingan berkembang pesat. Sejak kecil memang sudah suka kerajinan tangan. Pengusaha wanita kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 1985 sudah lama berwirausaha.

Bisnis Rp.75 ribu kerajinan bermerek Cemprut diminati kaum hawa. Dita menawarkan kerajinan bonek yang lucu dan menggemaskan. Sejak masa kecil imajinasi Dita menciptakan karakter unik. Ia tidak menekuni bisnis ini awalnya.

"Sekedar sampingan membantu suami," tutur pengusaha wanita ini
 

Pengusaha Muda Sampingan

 
Ingin menjadi pengusaha tetapi sampingan. Dia suka membayangkan berbagai kerajinan tangan. Dita menjalankan ini sekedar hobi. Pindah ke Tangerang, berlanjut membuat sampai dibeli kerabat dan juga teman- teman.

Minat pasar terhadap merek Cemprut. Yaitu brand yang diambil dari nama masa kecilnya. Meyakini bahwa bisnis tersebut akan besar. Dita meminta ijin mengerjakan sepenuhnya kepada suami. Produk boneka warna- warni menabrak batasan dunia nyata.

Kita dibawah seolah datang ke dunia imajinasi. Pengusaha muda ini memanfaatkan mood dalam hal pembuatan. Kalau mood bagus bisa menghasilkan warna ceria. Hobi crafting tersembut ternyata bisa menghasilkan pendapatan tidak sedikit.

"Yang saya bikin adalah apa yang hati saya ingin bikin. Dan itu tergantung mood, hehehe," tuturnya kepada pewarta SWA.co.id

Tidak mengikuti keinginan pasar. Dita mampu menciptakan pasarnya sendiri. Untuk penjualan baru jual produk jadi. Belum memberi kesempatan made by order. Dita sendiri yang menentukan apa yang mau dibuat. Pengusaha wanita Dita memiliki fokus dan detail disetiap pembuatannya.

Sang suami juga ikut membantu urusan penjualan. Dari foto produk, proses pembuatan dan penjualan dilakukannya. Suami, Agung Nuzul Wibowo, sangat mendukung hobi istrinya yang menjadi bisnis ini. Produk dari boneka kaus kaki, syal bintang, tas denim, sarung bantal, dompet hingga masker.

Dita kecil memang punya hobi membuat kerajinan. Crafting diturunkan oleh kedua orang tuanya ke dia. Jadi setelah menikah dia semakin bersemangat. Hobi yang dulu terbengkalai, kini tersalurkan hingga jadi bisnis serius karena dukungan suami.

Suami Dita mengatakan dirinya bukan tipikal wanita kantoran. Ia kemudian menyalurkan energi ke crafting. Dimulai pertama memang berat, tetapi kelanjutnya terasa menyenangkan sekali. Dia belajar sendiri otodidak karejinan Cempluk sekarang ini.

Dari belajar membuat crafting kemudian dijual. Modalnya diputar sampai ahli seperti sekarang. Jadi bisnis serius karena respon pasar bagus. Untuk omzet sendiri Dita enggan menyebut. Kata pengusaha muda ini soal untung berapa relatif.

Harga produk antara Rp34- 350 ribu, menawarkan konsep "adopsi" di setiap boneka. Adanya konsep "lahiran" dan "adopsi" memberi branding tersendiri. Daya tarik dibalik marketing dan branding diluar bisnis konvensional.

Setiap produk milik pembeli sendiri. Tidak ada yang menyamai bentuk dan tema. Produk miliknya itu dipersonalia seolah hidup. Melalui fanspage Facebook Cemprut Indie Craft menanjak. Tidak cuma aktif marketing di sosmed, produk Cemprut juga diikutkan aneka pameran kerajinan wirausaha.

Menjadi Pengusaha Serius


Salah satu event diikuti yaitu Crafty Days, di Gedung Indonesia Menggugat, Kota Bandung. Dita mengusung tema rock n roll kala itu. Aneka boneka plushie berkarakter tokoh Elvis Presley, Kurt Kobain, Jimi Hendrix, dan The Beatles.

Produk tote bag, ada lirik dari The S.I.G.I.T, John Lennon, hingga Red Hot Chili Paper. Jika Dita aktif mengerjakan aneka produk. Maka suaminya fokus menjadi pembicara strategi bisnis. Melalui dunia maya produknya tidak sepi peminat.

Baginya bisnis online menjanjikan. Pengusaha wanita ini menyebut hemat biaya, waktu, dan tempat karena dapat diakses dimanapun dan kapanpun. Dita dibantu tiga orang tetangganya membuat aneka produk ini. Pengusaha muda ini menyebut mengikuti hobi bisa menghasilkan setimpal.

Tidak berhenti berjualan di lokal. Dia berencana membuka akun Etsy. Termasuk mengikuti craft day internasional. Dita menyebut nama Renegade Craft Handmade, ajang internasional untuk Camprut targetkan.

Menjadi pengusaha peran suami menjadi pendorong berkarya. Agung bahkan rela keluar pekerjaan untuk membantu marketing. Setiap produk dimarketing layaknya anak sendiri. Lahiran Cemprut satu bulan lahir dua kali dan dibagikan ke sosial media.

Nama Paijo, Marmoyo, Sukarto, dan lain- lain, akan lucu kamu dengar dari produk Cempurt. Itulah perbedaan Cemprut dibanding produk sejenis. Selain jualan adapula workshop yang mungkin kamu bisa ikuti. Karena merupakan jenis kerajinan makanya produk ini tidak dibuat masal.

Hobi yang Menjadi Bisnis Sukses Knit Knot

Profil Pengusaha Fannya Knit Knot


hobi kerajinan tali


Pengusaha muda kali ini berbisnis kerajinan tangan. Dari hobi yang menjadi bisnis sukses, Knit Knot dijalankan oleh dua orang sahabat. Digagas oleh Fannya, gadis 25 tahun, yang hobinya membuat aneka kerajinan. Ia menggeluti kerajinan benang rajut ini sejak dibangku kuliah dulu.

Hasilnya mengejutkan karena memang bagus- bagus. Banyak teman yang mau membeli, bahkan rela memborong. Dia bercerita dari sanalah motivasinya menjadi pengusaha muncul. Walau sempat tak percaya diri, toh akhirnya Fannya membuka toko onlinya yang pertama.

Aneka produk Knit Knot meliputi rajutan, akesesoris, dan keperluan pernikahan. Produk yang dirajut dibuat tas, syal, atau topi, dan yang lainnya dibuat menjadi bros, jepitan, kalung, sarung hp, dsb. Dia juga tak sebatas di produk rajutan, salah satunya crown dari bunga dan cepita rambut.

Pengusaha Muda Berkat Hobi


Ia sejak kecil memilik hobi membuat kerajinan. Mimpinya bisa membuat toko kerajinan sendiri. Dia mengerjakan aneka macam kerajinan. Tahun 2010, iseng- iseng membuat toko online, yang mana dia menjual produk aneka rajutan dan aksesoris.

Fannya membuka usaha itu sebagai pengisi waktu libur semester. Ternyata responnya lumayan bagus, dia lalu memutuskan untuk lanjut dan mengembangkan. Tak perlu mencari pekerjaan karena Fanny langsung punya usaha. Dia menyebut walau nampak menguntungkan tetapi tidaklah mudah.

Pekerjaan semacam ini membutuhkan pemahaman akan detail. Ia yang membuat handmade harus teliti. Alhasil dia menghabiskan lebih banyak waktu dari bekerja di kantor. Banyak waktu yang dia habiskan tidak sejalan pikiran konsumen, mereka yang tak mau mengerti dan meminta cepat- cepat.

Masalah berlanjut walaupun telah menghasilkan omzet lumayan. Tenaga kerja ahli menjadi satu dari masalah yang dia harus pecahkan. Banyak orang yang mendaftar, tetapi tidak sedikit yang mundur karena kurang cekatan. Tidak mudah baginya menemukan pegawai berkualitas membuat kerajinan.

Ia mau membuka toko offline juga menjadi masalah. Budget membuat toko layaknya di mall- mall membutuhkan dana. Itu tidak sedikit loh teman- teman buat UMKM sepertinya. Alhasil Fannya lebih memperkuat marketing dan sosmed, dari Facebook sampai Instagram dijajaki pengusaha muda ini.

Rata- rata Knit Knot mampu meraup omzet sampai Rp.15 jutaan. Untuk tetap bisa eksis di luar bisnis online, Knit Knot juga mengikuti aneka pameran. Mereka dengan senang hati memajang semua hasil produknya. Tips buat mereka yang berniat berwirausaha diusia muda; jangan ragu berkarya!

Kamu bisa membuat apapun seperti gambar desain. Pajanglah karya- karya tersebut di sosial media kamu. Foto yang baik akan menarik perhatian orang untuk berhenti. Kamu lalukan terus hobi yang dimiliki jangan ragu, dan temukan cara untuk membuat kegemaran kita disukai masyarakat.

Bisnis Bantal Donat Warna- Warni Kisah Tren Bisnis Online

Profil Pengusaha Bantal Warna- Warni

  
bisnis donat warna- warni
 
Bisnis bantal donat warna- warni tengah ngetrend. Salah satu pelaku usaha ini adalah Rara, pemilik Yura Shoop. Ia mengungkapkan untuk produk bantal donat dirinya bisa menjual 500 bantal per- hari. 
 
"Aku sih jualnya murah-murah aja, bantal donat dengan ukuran diameter 40cm dijual seharga Rp 50 ribu. Kalau pasarannya, paling murah Rp 60-75 ribu," ucapnya.

Modalnya cuma Rp.540 ribu perlusin bantal, Rara mendapatkan keuntungan Rp.250 ribu dari 500 bantal yang sukses terjual. Jika tiga minggu saja, bisa dipastikan dia sukses menghasilkan Rp.5 juta 25 ribu. Selama tiga bulan terang Rara, bantal donat memang jadi tren baru. 
 
Peminatnya terutama mereka anak- anak yang masih sekolah. Yura Shoop sendiri tidak hanya menjual bantal donat. Toko online satu ini menjual sendal, tas, baju, hiasan kamar, dan bantal foto.

Jualan Bantal

 
Ia memasarkan dagangannya melalui facebook dan pin bb 2A7933D0.

"Dalam minggu ini, saya akan membuka stand di kampus-kampus terdekat di Kota Bekasi. Pastinya bukan hanya bantal yang akan saya jual disana, tetapi semua dagangan saya, supaya semakin laris manis," ungkapnya.

Gadi belia yang sukses berbisnis online dua tahun lalu, memang sangat bersyukur. Meskipun dia waktu memulai masih berstatus mahasiswa di Universitas Bhayangkara Jakarta Raya, telah sukses membangun bisnis melalui media online.

Yuni Monalisa, 21 tahun, yang sudah berbisnis boneka dari kain perca. Benda yang sekilas mirip dengan roti berlubang bertopping warna- warni ini memang sedang digemari. Perempuan asal Jakarta ini awalnya menggeluti bisnis pembuatan boneka dengan berbagai karakter menarik sejak tahun 2007. 
 
Demi kepuasan pelanggan, tak jarang Yuni membuat produk baru yang unik. Salah satunya adalah perlengkapan tidur berupa bantal donat.

"Awalnya ada konsumen saya yang minta dibuatkan boneka berbentuk donat untuk souvenir. Ternyata, setelah jadi hasilnya bagus. Saya pun mulai memproduksi bantal donat ini dengan ukuran yang lebih besar," ujar perempuan yang menggeluti bisnis sejak SMA ini.

Bantal donat kreasi Yuni berbahan velboa bulu halus dengan dua warna di bagian atas dan bawahnya. Untuk bagian bawah, dia menggunakan bahan velboa berwarna coklat muda. Sedangkan di bagian atas, dia memilih mengaplikasikan bahan velboa warna cerah misalnya pink, hijau muda, coklat tua, oranye, kuning, dan lainnya. 
 
Tak hanya itu, Yuni juga  menambah aksen berupa garis-garis kecil dan garis melengkung panjang di atas bantal yang tampil menyerupai meses. 

"Bantal ini bentuknya mirip sekali dengan donat. Ada roti, butter cream, dan meses berwarna-warni," katanya. Dia mengisi bagian dalam bantal dengan bahan silicon supaya tak mudah kempes.

Agar lebih bervariasi, dia memproduksi bantal dalam empat ukuran yaitu diameter 30cm, 40cm, 42cm, dan 45cm. Yuni mengaku, ukuran yang paling dicari adalah bantal donat berdiameter 40cm. Berkat bisnis bantal donat ini bisnis yang digelutinya semakin moncer. 
 
Jika dulu dia hanya memiliki 4 orang karyawa, kini dia dibantu oleh 30 orang perajin. Masing-masing perajin bisa membuat 20—20 buah bantal donat setiap hari. Dia menambahkan, jumlah bantal yang laku setiap bulan mencapai 3.000 buah.

Ketika ditanya soal peluang bisnis, Yuni mengungkapkan peminat bantal ini masih sangat banyak. Meskipun saat ini banyak kompetitor yang memproduksi barang sejenis, jumlah konsumen yang memesan terus meningkat. 
 
"Saingan memang makin banyak. Bukan hanya produsen lokal, tetapi bantal impor dari China. Namun, saya tak gentar karena saya bisa kasih kualitas dan harga yang bersaing," ujarnya. Yuni sendiri akan membandrol harga bantalnya sesuai ukuran.

Bantal donat berdiameter 30cm dijual dengan harga Rp.25.000, ukuran 40cm seharga Rp.28.000, ukuran 42cm seharga Rp30.000, dan ukuran 45cm seharga Rp.35.000. Untuk mendapatkan harga tersebut, konsumen harus membeli bantal dengan jumlah minimal 25 buah. 
 
Mengenai margin keuntungan dirinya mengaku tak mengambil laba dalam jumlah besar.

"Untung yang saya ambil sekitar Rp3.000 per- bantal. Hal ini karena saya kejar kuantitas. Meskipun labanya kecil, saya kan tetap untung konsumen beli dalam partai besar." jelasnya

Yuni merasa bisnis bantal unik ini masih akan berkibar di tahun-tahun mendatang. Selain bantal donat, dia serius mulai membuat kreasi bantal baru yaitu bantal sosial media. 
 
"Saya bikin bantal yang menyerupai logo situs pertemanan, misalnya Facebook, Twitter, Instagram, dan Tumblr. Peminatnya tak kalah banyak dengan bantal donat." Apakah kamu juga merasakannya, bantal- bantal beraneka bentuk ini bersliweran di sosial media kamu?

Pembuat Mainan TK PAUD Pengusaha Fiber

Profil Pengusaha Sukses Sugiono


pengusahafiber.png

Pengusaha fiber tersebut bernama Sugiono. Hanya pembuat mainan TK PAUD, namun ia layak kita beri apresiasi. Sosok seorang manusia biasa yang beradu nasib berwirausaha. Setamat sekolah STM di Blora, dia pindah ke Solo dan bekerja serabutan. 
 
Mulai berjualan cilok, roti terang bulan, serta pekerjaan lainnya berkeliling kampung. Ide bisnis muncul ketika bersentuhan langsung dengan anak- anak. Bermodal ijasah STM -nya, Sugiono lantas melamar kerja ke sebuah perusahaan mainan elektronik.
 

Pengusaha Mainan PAUD


Cuma bekerja delapan bulan hingga mengantungi Rp.1 juta. Uang tersebut lantas digunakan untuk memulai usaha utamanya. Modal Rp.1 juta dijadikan produk papan seluncur anak TK. Ia cukup mencari tukang fiber yang biasanya digaji Rp.17.000 per- hari. Tidak mau setengah dikeluarkan uang Rp.45.000 per- hari. Inilah bukti bakat berbisnis seorang Sugiono terlihat.

Jadilah bisnis mainan anak ini berkembang. Semakin banyak pesanan, dirinya semakin percaya diri akan arah usaha kedepan. Meski begitu usaha barunya tidak begitu efektif. Usaha yang dimulai sejak 2004 ini cuma bermodal marketing door- to- door dari Pedan, Kelaten. 
 
Perlu usaha keras ekstra memang buat mainan fibernya laku tinggi. Akhirnya, Sugiono masuk ke ranah iklan di Internet, memanfaatkan berbagai situs iklan gratis.

Usaha tersebut berhasil membawakan pesanan besar. Suatu hari, dia ditelepon oleh sesorang asal Meulaboh, Aceh. Kala itu tengah diadakan proyek pembangunan playground pasca gelombang Tsunami. 
 
Semua untuk anak- anak Aceh yang tengah dirundung duka. "Itu pesanan pertama saya yang bernilai besar," kenangnya.

Semenjak itu pesanan datang tidak terbendung. Seperti pesanan dari Kota Bogor berupa 200 unit perahu bebek. Belum lagi pesanan dari Pantai Benter Purbalingga, Selecta Malang, hingga Sindrap Sulawesi. 
 
Ia juga mendapatkan pesanan dari mal- mal di kota- kota kecil. Mereka memesan kereta- kerat apian kecil beserta relnya dan paket wahana playground. Menjamurnya water park atau water boom di daerah, ternyata menimbulkan fenomena menarik. 
 
Orang pikir mereka adalah hasil buah karya orang Jakarta. Padahal kenyataanya tidak seperti pikiran kita. Siapa sangka bahwa beberapa wahana di Solo adalah hasil karya seniman lokal. Mereka merupakan pengusaha sekitar salah satunya adalah Sugiono.

"Ada orang Solo mencari pembuatnya ke Jakarta. Justru saat itu orang Jakarta sendiri yang memberi tahu bahwa mereka juga memesan dari Solo," ucap pemilik Rumah Fiber ini.

Tujuh tahun sudah sosoknya bermain di bisnis fiber. Sudah tidak terhitung berapa karyanya memanjakan kita dan anak kita. Fokusnya kini mengerjakan aneka pesanan water park. Nama Sugiono di Solo memang tidak begitu dikenal tetapi tidak di Jepara, Colomadu, Tasikmadu, dan Kudus. Dia lah sosok dibalik wahana air di kawasan tersebut.

"Sekarang saya sedang mengerjakan water park di Taman Puncak Sindrap, Sulawesi." tutunya kepada Solo Pos. Selain itu, usaha Rumah Fiber miliknya juga masih fokus mengerjakan yang kecil- kecil. Yang terbaru ia mengerjakan pesanan bak sampah pemerintah daerah dan perusahaan.

Juga termasuk mengerjakan wahanan mainan koin. Itu loh yang sering kita lihat dibeberapa mal ataupun di minimarket. Belum lagi pesanan buat taman kanak- kanak. Tidak terbayang sibuknya si mantan penjual cilok ini sekarang. 
 
Kalau memesan sekarang sudah dipastikan menunggu. Karena Rumah Fiber punya begitu banyak pesanan diterima. Sugiyono sendiri bukan karakter bekerja muluk- muluk. Pencapaian sekarang disukurinya karena memang masih buatan tangan. 
 
Pembuatan dan finishing menggunakan tangan menjadi andalan. Mungkin lebih berseni dibanding hasil karya perusahaan produksi masal.

Membuat Kaos Pengusaha Muslim Modal 3 Juta

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


pengusahamuslim.png
  
Pengusaha muslim modal 3 juta sukses menghadapi pandemi.  Pemuda 23 tahun yang telah memulai usaha semenjak dini. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. 
 
Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.
 

Pengusaha Muslim


Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. 
 
Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan.  Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. 
 
Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.. Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. 
 
Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok. Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. 
 
Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.
 

Aneka Usaha


"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. 
 
Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive. Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. 
 
Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. 
 
Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. 
 
Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. 
 
"...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Pengusaha IPB Membuat Boneka Domba Akar Wangi

aProfil Pengusaha Tatang Gunawan 


pengusahaipb.png

Akar wangi dikenal menjadi bahan utama pembuatan minyak. Pengusaha IPB ini membuat boneka akar wangi.  Menurut penelitian Indonesia menempati tiga negera terbesar untuk bahan mentah ini, selain Bourbon dan Haiti. 
 
Di daerah Jawa Barat pada khususnya, tepatnya di daerah Garut, nama Tatang Gunawan tersohor berkat akar wangi.
 

Usaha Boneka Domba


Sejak kuliah dirinya bersama rekan yaitu Larasati Widyaputri, Istiq Farila, dan Ihwan Nul Padli, punya tujuan yakni membangun bisnis hijau sendiri. Lewat green entrepreneurship memanfaatkan sumber daya alam lokal dan akhirnya menemukan akar wangi. 
 
Kesuksesan para alumni mahasiswa pertanian IPB ini, adalah produk bernama Ecodoe. Atau, buat kamu warga Jawa Barat, pasti sudah familiar akan ikon boneka bulu domba wangi ini.

"Produk pertanian tidak selalu identik berkutat dalam hal pangan saja," tuturnya.

Proyek Ecodoe bertujuan mengambangkan budaya lokal. Apa tanaman komoditas pertanian lokal yang bisa menjual. Selain itu disisipi misi- visi menghijaukan. Memang banyak limbah pertanian bisa dikembangkan menjadi aneka kerajinan. 
 
Inovasi dibutuhkan disetiap sentuhan termasuk akar wangi. Oleh Ecodoe, akar wangi akan diangkat menjadi tanaman pertanian produktif.

Jujur Tatang Gunawan tidak sadar akan akar wangi. Dia bahkan tidak tahu akar wangi itu banyak tumbuh di tempat kelahirannya. Ia juga baru tau kalau akar wangi bisa diambil minyaknya. Itupun baru tau ketika sudah masuk jurusan pertanian. 
 
Disaat kuliah di IPB itulah, dia menyadari kalo akar wangi bisa disuling menjadi bahan baku kosmetik, pelumas senjata, obat- obatan, dan lain- lain.

Sayangnya, menurut pendapat Tatang masih sedikit pemrosesan limbahnya. Akar wangi lebih dominan oleh masyarakat disuling minyaknya bukan akarnya. Padahal bau akar wangi masih tersisa meski minyak telah disuling. Ini menggelitik ide bisnis Tatang. 
 
Ia mencoba memanfaatkan konsep zero waste. Artinya tidak ada satupun tersisa dari tanaman ini menjadi limbah. Mahasiswa Institut Pertanian Bogor memang dikenal kreatif. Terutama mereka soal kewirausahaan membuat produk turunan tani.

"Kami kemudian mengumpulkan bulu domba itu dan mengolahnya menjadi Ecodoe," terangnya.

Dia mencoba mengambil aspek akar wangi segar. Memilik harus yang masih kuat khas dan tahan lama. Ia lantas bertemu tiga sekawan sesama mahasiswa IPB. Bersama mereka kemudian mengkonsep bulu domba dan akar wangi. 
 
Seperti halnya akar wangi, lain hal di negara seperti Australi dan Selandia Baru, Indonesia justru meliha bulu domba menjadi limbah. Padahal senyawa keratin yang ada didalamnya sulit terdegradasi.

Ini akan mencemari lingkuhan loh, jikalau tidak ditanggulangi bisa berbahaya. Dan, seperti hal bisnis online lainnya: Ecodoe mengkonsep matang marketingnya lewat online. Mereka berjualan lewat Facebook dan Instagram. 
 
Mereka juga punya toko online sendiri di www.ecodoe.com. Minim modal itulah kehebatan dari empat sekawan asal IPB ini. Menarik minat pembeli online, menarik investor datang menawarkan kerja sama offline.

Bisnis Ramah Lingkungan

 
Mereka resmi mendirikan toko offline di Bogor. Mereka juga bermitra gerai di SMESCO Jakarta dan juga di Kaliunda Gallery di Bali. Tim Ecodoe menyasar para turis dalam negeri maupun manca negara. Visi dari bisnis mereka pun semakin jelas "menjadi brand green souvenir andalan Indonesia. 
 
Tujuan mereka tidak lain sampai ke manca negara.

"Kami juga ikut bermacam-macam kompetisi bisnis untuk tambah modal, hingga yang kemarin di Singapura. Intinya, masalah modal karena ketidaktahuan jaringan," kata Tatang lagi.

Sempat ditentang orang tua ketika membangun usaha, Tatang dan kawan tidak menyerah. Mereka terus saja membuktikan bahwa peluang bisnis terbuka. Ecodoe bahkan memerkan diri mereka ke orang tua bahwa ini bukan sekedar berwirausaha. 
 
Buktinya ialah mereka bisa memberdayakan peternak asal Wonosobo. Bisa membuka lapangan pekerjaan, belum lagi ibu- ibu pengrajin akar wanginya di Garut.

Untuk pengemasan mereka bekerja sama dengan masyarakat Bogor. Banyak pihak terlibat dalam bisnis ini. Ia meyakinkan bahwa bisnis Ecodoe merupakan bisnis bersama. " Kami making money tak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Ada benefit buat masyarakat sekitar," tambahnya.

Hasil karya Ecodoe meliputi bros kupu- kupu seharga Rp.12.000. Kemudian paling mahal yaitu replika dari akar wangi seharga Rp.150.000. Bentuk nan- cantik ditambah wangi khas, membuat souvenir karya mereka begitu digemari. 

Pesanan pun sudah datang merata di kota- kota besar se- Indonesia. Bahkan merambah Singapura, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Italia. Tim Ecodoe lewat kerja kerasnya berhasil meraih banyak penghargaan.

Penghargaan meliputi emas dan perak di tahun 2014, untuk prestasi pada Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional oleh DIKTI di Universitas Diponegoro, Semarang. Kemudian pernah menjuarai juara 1 Sociopreneur Expo di UIN Syarif Hidayatullah tahun 2014. 
 
Terakhir ini bahkan mereka memenangkan ajang internasional Singapore International Foundation. "Kami akan ekspansi pada beberapa pekan ke depan," tutur Tatang kepada SWA.

Usaha yang dirintis sejak Februari 2014 ini, telah membuktikan ke kita bahwa berwirausaha tidak cuma lah soal berjualan. Tetapi anak muda berwirausaha juga berarti bisa menyelamatkan lingkungan. 
 
"Kami senang tiasa merubah desain agar lebih modern," tambah salah satu anggota Ecodoe, Ihwan Nul Padli mahasiswa dari jurusan peternakan IPB. Nilai ekonomis keduanya bisa diangkat setinggi- tingginya lewat aneka inovasi.

Untuk reseller Ecodoe sendiri masih dalam perencanaan. Banyak tawaran kerja sama yang sayang kalau dilepaskan. "Kami punya cita- cita turis asing yang datang ke Indonesia tak lengkap kalau tidak membawa pulang oleh- oleh dari Ecodoe," tutupnya.

Pengusaha Jaket Kulit Kalong Usaha Selepas PHK

Profil Pengusaha Sutarmanto 


pengusahajaket.png
   
Usaha selepas PHK membuat produk- produk kulit. Sutarmanto pengusaha jaket kulit Kalong. Meski sempat berbisnis donat, nyatanya, Sutarmato lebih asik menggarap bisnis fashion. Utamanya fashion kulit yang sudah dikerjakannya semenjak muda. 
 
Dia dulu pernah bekerja menjadi manajer PPIC sebuah perusahaan kulit asing. Mereka mensuplai aneka produk kulit dunia seperti Pierre Cardin, Tommy Hilfiger, Burton, Harley Davidson, dll.
 

Usaha Selepas PHK


Sayangnya, ketika krisis ekonomi menerpa membuat perusahaan tutup, begitu pula nasib pekerjaannya yang ia banggakan. Tutuplah tumpuan hidup seorang Sutarmato. Bekerja menjadi pegawai puluhan tahun begitu saja hilang. Ia terpaksa menghidupi diri lewat berjualan donat. 
 
Selain itu masih bekerja sana- sini tetapi tidak kunjung memiliki pendapatan tetap. Lalu perusahaan memilih merelokasikan pusatnya ke China.

"Setelah berhenti bekerja, saya sempat jualan donat yang saat itu lagi booming," pungkasnya.

Dia mulai berjualan ke sekolah- sekolah. Namun 2- 3 tahun kemudian mulai turun pendapatan. Apalagi kalau bukan terlalu banyak orang berbisnis sama. Masuk pertengah 2000 nasib baik datang kepadanya. Lewat apa yang pernah dulu dikerjakannya. 
 
Modal awal Rp.24 juta diambil dari dana pensiun. Modal lainnya, ya, pengalaman bekerja dibidang yang sama. Sutarmato membuka usaha kulit sendiri. Produksi awalnya adalah aneka jaket kulit dan celana kulit. 
 
Respon positif didapatnya. Dia mulai menghubungi mantan rekan kerjanya di perusahaan dulu. "Saya menghubungi teman- teman yang dulu sama- sama kerja di pabrik itu dan sedang menganggur," tuturnya. Mereka sepakat membuat kembali produk kulit standar ekspor.
 
Mereka adalah para pemilik keahlian khusus dari tukang potong, tukang pola, tukang jahit, dan lain- lain. Sukses kemudian dipajang lah aneka produk kulit itu di depan ruko kecil ukuran 2x5 meter.  Tempat itulah awal mula berdatangan pesanan aneka produk kulit milik Sutarmato.

Kisah Pengusaha Jaket Kulit


Andalan utama selain kualitas adalah marketing nama Kulit Kalong. Usaha yang terdengar ngejreng kalau kita sandangkan produk sejenis. Pengusaha lokal ini mengaku jaket kulitnya bukan dari kulit kalong loh. Dia mengambil nama tersebut juga bukan tanpa sebat. 
 
Sutarmato beralasan ketika memulai bisnis baru ini, para penjahit harus bekerja keras di malam hari. Mirip binatang kalong yang aktif bekerja ketika malam tiba.

Mereka para kalong bekerja keras tetapi menghasilkan. Hasilnya jaket dan celana kulit kualitas ekspor. Ia juga berani berekspansi lewat aneka produk lain. Semua berdasarkan permintaan pelanggan dari dompet, sepatu, tas, ikat pinggang, sarung tangan, bahkan topi kulit. 
 
Harga dipatok berfariasi sesuai jenis produk yang dibeli. Untuk bahan baku sendiri terbuat dari kulit kambing asli, sapi ataupun kulit domba. Kulit- kulit tersebut disamaknya ke pabrik besar agar terstandar. Dia juga punya suplier kulit dari Bandung, Jawa Barat. 
 
Selain lokal, usaha Kulit Kalong juga mengimpor kecil- kecilan ke Korea Selatan dan Italia. Ia bisa menjual rata- rata 200 item per- outlet. Kalau bicara produk paling dicari, yah apalagi, kalau bukan aneka model jaket kulit. Pelanggan datang dari Bogor, Jakarta, beberapa dari Sumatra dan Kalimantan.

"Biasanya mereka datang langsung," paparnya. 
 
Harga jual jaket kulit mulai Rp.650 ribu- Rp.3 juta, kemudian sepatu kulit Rp.400- Rp.500 ribu, dompet kulit harga Rp.200 ribu- Rp.500 ribu, topi seharga Rp.100 ribu- Rp.250 ribu, ikat pinggang mulai Rp.350 ribu- Rp.600 ribu, tas wanita Rp.700 ribu- Rp.4 juta, dan tas pria Rp.1,5 juta- Rp.3 juta.

Dia juga memanfaatkan internet berjualan secara online. Pembeli pun bisa berkunjung langsung ke tempat dia berjualan. Untuk target pasaran bervariasi menyesuaikan. Kalau remaja menurutnya lebih suka model yang lebih fashionable. 
 
Untuk kalangan pekerja memilih yang terproteksi berkendara, dan kelompok pekerja di kantoran lebih ke semi- jas. Soal kualitas dirinya siap diadu dengan produk sejenis; dibuktikan harga relatif mahal.

Tetapi bukan itupula lah patokannya tetapi nama. Brand Jaket Kulit Kalong sudah tersohor memiliki kualitas lebih baik. Dengan proses pemasakan yang sempurna. Kulit dibuat berdasarkan standar impor bukan cuma lah mengejar pasar lokal. Meski bahannya sama tetapi cara memasaknya sudah bagus.

"Kalau yang murah biasanya dipakai sebulan saja sudah kusut atau menyusut dan bau. Kalau produk kami jaminan tidak bau, tidak luntur, tidak mudah menyusut," ungkap Sutarmoto.

Kendala? Tidak ada, dia merasa mudah saja soal menjalankan bisnis jaket kulit ini, cuma saja tenaga kerja susah didapat. Bayangkan ketika bahan baku mencukupi tetapi penjahit handal jarang. Dia sendiri punya 3 outlet berlokasi di Bogor, Jawa Barat, dibantu 15 orang karyawan. 
 
Sutarmoto sendiri optimis akan kemajuan usaha miliknya. Pasalnya pertumbuhan sepeda motor terus meningkat.

"...orang makin tau kalau pakai jaket kulit asli lebih awet bisa sampai 20 tahun," ujarnya. Dia menambahkan lagi,"kalau sintetis paling 1 tahun."

Ia berharap usaha 13 tahun ini bisa terus berkembang. Sutarmoto berharap jaket kulitnya semakin disukai oleh masyarakat. Soal ekspor masih pada tahapan menjual lewat orang ke ketiga. "Sementara fokus pasar lokal saja," tutupnya.

Website: www.kulitbogor.com

Pengusaha Tas Kulit Berliano Menang Modal Internet

Profil Pengusaha Febria Purnomo Puspo


pengusahatas.png
 
Pengusaha tas kulit Berliano menang. Dia bermodal internet promosikan online. Febri Purnomo Puspo kini sukses berkat kegigihan mempromosikan. Febri adalah seorang pengusaha muda sukses. Berkat usaha kulit ditambah promosi online bisnisnya menjadi juara. 
 
Seperti ditulis oleh bisnisukm.com: Pria lulusan Akademi Teknologi Kulit Yogyakarta tahun 2008 ini cukup mempraktikan ilmunya Apa- apa yang didapatnya ketika masih berkuliah dulu. Ia mempraktikan cara menyamak kulit itu sendiri.

Bisnis Internet

 
Pertama kali, bersama rekan- raknnya memulai memproduksi kulit sendiri, kemudian mulai memproduksi aneka barang jadi. Hasil pertamanya ialah aneka jaket kulit dan lantas fokus di tas kulit. Usaha yang dimulai sejak 2011 ini memang bermodal pas- pasan. 
 
Dia mengandalkan sistem dijahitkan orang lain. Pertama kali itu Febri hanya memanfaatkan sistem titip jual di toko sekitaran Yogyakarta.

"Sebelum mengenal dunia online, kami memasarkan produk dengan sistem titip jual di toko-toko yang ada di sekitar Yogyakarta dan melayani beberapa reseller yang masuk," terang Febri.

Sejalan waktu bisnisnya berkembang, tanpa sungkan Febri membuka lowongan penjahit. Utamanya penjahit tas kulit lewat berbagai media. Melalui penjahit sendiri kapasitas produksi meningkat. Ia lantas menggunakan jasa sosial media. 
 
Tanpa keraguan dirinya memperkenalkan Tas Kulit Berliano. Tanpa disangka hasilnya itu malah diluar dugaan. Melalui sistem online itulah sukses pengusaha muda ini moncer.

Mereka punya Facebook dan toko online www.berliano.com. Disana lah banjir pesanan datang. Berjalanan waktu hingga bisa mendapatkan alur distribusi tepat. Fabri berani berekspansif usahanya telah memproduksi 3 ton kulit, yang sebelumnya 1 ton per- bulan. 
 
"Alhamdulillah sudah bisa berproduksi 3 ton kulit per- bulannya," ujarnya mantap. Mulai membuat bahan baku, penyamakan, dan proses produksi dilakukan di satu tempat.

Usaha hulu- hilir telah dikuasai Febri sendirian. Dulunya cuma bisa berproduksi dibawah 1000 sqf. Sekarang sudah bisa menghasilkan 5000 sqf per- bulan. Usahanya dibantu 3 orang karyawan dibagian penyamakan kulit, 8 orang dibagian tanaga jahit, dan 2 orang lagi dibagian admin web (toko online). 
 
Setiap bulan melalui mereka lah, Febri mampu memproduksi 200 pcs tas kulit dan dompet 150 pcs per- bulan. Soal kendala diakuinya adalah menganai bahan baku mentah. Dia mencontohkan harga yang terus naik tetapi kualitas cenderung tidak stabil. 
 
Lewati kendala itu Febri mulai membuat kulit artikel sendiri. Bahan yang cocok digunakan menjadi bahan baku tas. Sedangkan bahn kulit tidak memenuhi kecocokan dialihkan. Dia menjadikan itu barang- barang kecil seperti tasel, gantungan kunci dan lain- lain.

"Kedepannya saya ingin lebih fokus memperhatikan infrastruktur untuk operasional produksi," jelasnya. 
 
Ia mencontohkan lagi seperti drum besar untuk penyamakan. Drum yang semakin besar akan menampung lebih banyak kulit. Kemudian dia pengen mempunyai gudang kulit, membuka toko offline di pusat jantung ekonomi Yogyakarta.

Bisnis Kraukk Beku Produk Hangat Penghasilan

Profil Pengusaha Yudhi Dwinanto


bisniskraukk.png

Mantan pegawai negeri ini sukses usaha frozen food. Bisnis Kraukk beku bukan sembarangan. Lewat canggihnya dunia digital menjamur ke dunia nyata. Sukses Yudhi Dwinanto bisa menjadi inspirasi buat pengusaha toko online. Dia memulai dari sekedar hobi menjadi bisnis. 
 
Mencari ide bisnis mapan memang susah- susah gampang. Itulah kenapa konsep bisnis sampingan bisa dijalankan.
 

Bisnis Makanan Beku


Ide bisnis ditemukan disekitar kita. "Ide berbisnis itu bisa dari hobi, kemampuan, atau pengalaman," kata dari Direktur Utama Kraukk Indonesia ini.

Ia pernah menjadi pegawai negeri di Kementerian Agama sejak 2007. Karena mau menambah uang maka mulailah Yudhi berbisnis sampingan. Hasilnya lumayan dari usaha berjualan udang tempura. Dia mengambil barang dari pabrikan di Jawa Timur. 
 
Pertama kali cuma coba- coba kemudian sukses dinikmati oleh teman dan keluarga. Lama kelamaan Yudhi makin menekuninya seperti hobi. Ia meyakinkan tidak akan mengganggu kerja. Inilah kenapa awal sekali langsung memilih toko online. Usaha bermodal website gratisan. 
 
Ternyata usaha ini terus berkembang. Selepas tahun pertama, Yudhi mulai mengalami kendala, karena pabrikan itu tak mau mengirim barang lagi. Pasalnya perusahaan mau fokus di ekspor. Alhasil dirinya dan toko online kecilnya tidak dapat jatah.

Sempat terpuruk usahanya tidak membuat jatuh. Dia mulai mencari mitra kerja lain. Melalui dunia maya pada 2008, bertemulah dia dengan seorang mitra bisnis menawarkan sampel tempura udang. Sama seperti kualitas pabrikan asal Jawa Timur. 
 
Bahkan lebih enak kalau dari segi rasa. Menurut sang mitra produk tersebut asli buatan sendiri. Selain membuat tempura udang, ternyata mitranya tersebut bisa membuat produk- produk lain.

Jadilah keduanya sepakat bekerja sama. Sang mitra akan fokus dalam pengembangan produk, sementara ia akan fokus di pemasaran. Hasilnya luar biasa menjanjikan, dimana di tahun 2009, mereka resmi membuka toko online sendiri www.kraukk.com. 
 
Dari menawarkan 10 produk kemudian berkembang pesat menjadi 20 -an produk. Ia menjual produk beku dan pembeli tinggal goreng di rumah. Karena memanfaatkan media online, maka produk Kraukk menawarkan penggambaran menggoda. 
 
Lewat itulah pembeli tersihir membeli produk olahan mereka langsung. Yudhi diawal menawarkan produk sekitar 10 jenis yaitu aneka olahan udang, olahan kepiting, cumi- cumi, ikan dan ayam. Produk nugget lah yang menjadi andalan utama produk- produk Kraukk.

Harganya meliputi nugget kepiting satu kemasan Rp.12.000, udang Rp.19.500, breaded shrimp torpedo, udang utuh tanpa kulit dibungkus tepung roti seharga Rp.21.000, drumstick ikan Rp.19.000, drumstick cumi Rp.19.500 dan banyak lagi. 
 
Sekali lagi karena modal toko online, maka www.kraukk.com menampilkan rangkain foto- foto realistis dan semenarik mungkin. Dengan gambar bagus maka pengunjung akan betah di toko.

Lambat laun desain www.kraukk.com menjadi makin menarik saja. Dan semakin interaktif dengan pelanggan yang datang ke sana. Yudhi lantas memanfaatkan konsep reseller lewat situsnya. Melalui keanggotaan maka pelanggan bisa mempromosikan dan mendapat untung. 
 
Tahun pertama saja, ia telah memilik 1.000 anggota yang merupakan pasar potensial. Mereka juga saling aktif mempromosikan lewat sosmed masing- masing. Alhasil anggota terdaftar melonjak sekitar 5000 -an. 
 
Nah, karena Yudhi sudah merasa tidak lagi sanggup lagi, maka diputuskan mempekerjakan web admin. Dia sendiri akan fokus pada marketing tidak mengurusi web. Hasilnya adalah pendapatan terus melonjak lebih pesat. Kalau diawal cuma berputar- putar di kawasan Jakarta. 
 

Jualan Produk Beku

 
Yudhi kian memutar otak memaksimalkan usahanya marketing. Jadilah produk Kraukk bisa hadir di penjuru Indonesia. Ia mulai menawarkan konsep ditributor luar kota. Ternyata sambutan masyarakat bagus. 
 
Hal tersebut telah dibuktikan lewat dua distributor tersulit; Papua dan Maluku. Sistem ini menggampangkan pelanggan yang di luar jangkauan mesin pendingin. Sistem ini didukung pengiriman kargo setiap bulan kepada distributornya. 
 
Dia juga mencantumkan nama mereka di laman web. Kalau ada pembeli dari laur Jawa, maka cukup kontak distributornya.

Untuk Jakarta sudah tercipta armada khusus pengiriman cepat. Ini seperti bisnis makanan- makanan cepat saji asal Amerika itu loh.

Selain itu masih bisa menerima pembelian secara ecer. Yudhi juga berhasil bekerja sama dengan beberapa perhotelan di Jakarta. Lewat tangan dingin itu mampu mensuplai aneka nugget secara berkala. 
 
Meskipun sukses itu sudah ditangannya, pengusaha ahli makanan beku ini memilih mundur, bukan memilih mundur dari kewirausahaan tetapi mundur dari pegawai negeri sipil. Tepatnya di tahun 2012, ia memilih fokus berbisnis Kraukk.

Dia sadar bisnis Kraukk sudah terlalu besar buat "disambi". Hasilnya semakin berasa ketika ia memilih fokus disana. Hasil tersebut terlihat dari jumlah produksi meningkat tajam. Produksi bahkan menurutnya sudah ada 12 ton per- bulan. 
 
Usaha ini lantas merambah dunia nyata lewat aneka staff kantoran, termasuk ada manajer operasional. Untuk bagian produksi sudah 20 orang karyawan. Selama itu fokus Yudhi masih di bisnis online hingga. Ia sadar usaha Kraukk masih bisa berkembang. 
 
Itu adalah melalui media dunia nyata yakni lewat mengikuti aneka pameran. Hasil? Dia baru buka beberapa jam sudah mengantongi laku 100kg. Usaha lain yang tengah dikembangkan adalah restoran seafood berbahan Kraukk. Yudhi ingin memasang toko online menjadi usaha nyata tanpa menghilangkan akarnya; berekspasi istilahnya.

Kontak pengusaha:


Kraukk Indonesia.
Jl. Kostrad Raya No. 1 Petukangan Utara,
Pesanggrahan, Jakarta Selatan, DKI Jakarta
E-mail: kontak [at] kraukk.com | Ph. (021) 71559993
Hotline: 0813 2222 3580 - www.kraukk.com

Baggu Bags Jualan Online Shop Melegenda

Kisah Sukses Toko Online Tas


onlineshop.png
 
 
 
Jualan online shop melegenda Baggu Bags. Menurutu empunya bisnis tas tidak ada rugi. Tidak akan pernah mati sepanjang jalan. Tentu saja kita harus siap secara matang untuk persaingan ketat. Itulah penjelasan singkat Ion tentang bisnis Baggu Bags. 
 
Wanita yang belum jelas kami ketehaui identitasnya. Namun, menurut Warta Wirausaha, adalah ibu satu orang anak yang dulu pernah bekerja di sebuah perusahaan tas.
 

Bisnis Online Shop


Mengetahui untungnya, dia bersama sang suami memulasi usaha ini dari nol. Dia bermodal kepercayaan saja. Bisnis tas kulit produksi sendiri yang punya pasar tersendiri. Ion mendirikan perusahaan tas pada 2001. 
 
Ia berbekal ilmu pengetahuan dari pengalaman masa lalu. "Asalkan kita terus berinovasi dan memiliki strategi pemasaran yang baik," jelas Ion.

Apakah semudah itu?

Fakta Ion tidak lah semudah dibayangkan. Perjalanan selama tiga tahun, Ion harus rela berkeliling door-to- door. Berjualan dari satu rumah ke rumah lain. Dia mengadaptasi startegi marketing klasik. 
 
Dia menuturkan meski klasik atau kuno tetapi ampuh. Startegi lain adalah penguatan bahwa produk Baggu Bags merupakan hasil rancangan sendiri. Bahkan, Ion meyakinkan orang mereka punya perusahaan sendiri. 

Ini menjadikan tas mereka tidak pasaran. Alhasil, penjualan Baggu Bags diluar dugaan, sukses door-to-door kemudian disusul menyambangi perusakaan lain.

"Aku memberanikan diri saja. Aku sama sekali tidak punya jaringan waktu itu. Kira- kira 15 kantor yang aku sambangi" kata Ion.

Kunci sukses Baggu Bags ada pada keyakinan sang pemilik. Untuk klien pertama tuturnya, ada perusahaan yang bernama ACE Hardware. Awalan mereka menjual tas milik Ion dengan mereka mereka. 
 
Ya, diawal itu produk Baggu Bags belum tercipta. Nama tersebut kemudian disematkan sendiri. Tentu agar bisa menunjang konsep bisnis mereka selanjutnya.

Pemasaran berikut meliputi pameran- pameran dan online. Namun, menurut Ion waktu terbuang percuma ketika mengadakan pameran. Dia memutuskan menjual melalui online saja. 
 
Bagi wanita yang juga pernah bekerja sebagai marketing ini, menjual lewat online membuatnya mempunyai banyak waktu luang untuk keluarga. Baggu Bags memang tidak memiliki model umum. Ion merancangnya aneka model menurut konsep sendiri.

Untuk meyakinkan konsumen termasuk memberikan garansi. Selama satu tahun kalau produk Baggu Bags rusak; langsung diperbaiki.

"Kalau resleting atau aksesoris lainnya rusak kami bisa memperbaikinya," tutur Alumni Universitas Indonesia Jurusan Hukum.

Tidak menyakiti kepercayaan konsumen merupakan kunci Baggu Bags. Semua produk merupakan yang terbaik dan terjangkau. Baggu Bags dijual antara harga Rp.150- 350 ribu. Variasi Baggu Bags buatan Ion, meliputi pemilihan bahan kulit domba, kambing, dan sapi. 
 
Untuk berproduksi Ion dibantu oleh 15 karyawan. Dalam sebulan menghasilkan laba Rp.10 juta- Rp.15 juta. Seminggu ia memproduksi 400 buah tas aneka bentuk.

Tetapi itu semua belum memuaskan hasratnya dalam berekspansi. Meski sudah punya banyak reseller masih belum cukup. Selanjutnya, adalah keinginan untuk memiliki galeri sendiri khusus Baggu Bags. 
 
Ia masih yakin betul akan bertahan, karena Baggu Bags memang memilik ciri khas dibanding produk luaran sana.

Catatan: ketika kami mencari siapa sosok Ion. Hal mengejutkan kami temukan bahwa "online shop ini sudah tutup". Bahkan ditengarai terlibat penipuan dari testimoni Facebook. Melalui akun Baggu Bags di Facebook, kami menemukan situs toko onlinenya www.baggu-bags.com sudah tutup. 
 
Atau, apakah ini ada hubungan dengan pemilik merek Baggu milik Emily Sugihara.

Pengusaha Sendal Kelom Geulis Merambah Eropa

Profil Pengusaha Junjun Arif Nugraha 


pengusahakelom.png
 
Menjadi pengusaha sendal kelom menjanjikan. Kini Kelom Geulis merambah Eropa, berkat kegigihan dan kecerdasan memanfaatkan dunia digital.  Arif termasuk generasi kedua usaha keluarga. Sejak lulus dari kampusnya, mata Junjun Arif Nugraha sudah tertuju kepada sendal kelom. 
 
Usaha pembuatan sandal tradisional khas Jawa Barat. Maklum saja, usaha ini sudah digeluti kedua orang tuanya sejak 1980 -an. Oleh karenanya Arif merasa terpanggil meningkatkan nilai sandal kelom dimata masyarakat. Lewat internet marketing usahanya tersebut ternyata tidak sia- sia.
 

Jadi Pengusaha Sandal Kelom


Usaha sandal geulis dirintis kedua orang tuanya dari toko eceran di kawasan Pasar Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka awalnya pedagang yang mengambil dagangan. Mengambil aneka kerajinan dari para perajin sekitar wilayah Tasikmalaya untuk dijual kembali. 
 
Ayah Arif bahkan bisa memasok sampai ke Bogor hingga Jakarta. Kios kecil milik mereka terus tumbuh. Sebagai pedangan kedua orang tuanya termasuk jeli dalam mengambil pasar.

Terbukti, dari perjalanan permintaan pelanggan akan sandal geulis semakin banyak saja. Di wilayah Bogor khususnya sudah beberapa tempat dipasoknya, seperti di Pasar Cisarua dan Cipanas. Untuk wilayah Jakarta sendiri sudah masuk sampai ke Pasar Jatinegara. 
 
"Saat itu, saya sering bantu- bantu orang tua jaga kios," imbuh Arif. Karena jumlah permintaan semakin meningkat, kedua orang tua Arif memilih membuka bengkel sendiri.

Tepatnya di tahun 1995, orang tuanya membuka bengkel pembuatan sendal khas Tasikmalaya tersebut. Selain memproduksi selom geulis juga memproduksi sendal kulit. Kemudian dibawah bendera PD Zunzun semakin berjayalah usaha mereka. 
 
Berjalannya waktu modal kedua orang tua Arif semakin kuat. Sampai berdiri satu bengkel lagi memperkuat kapasitas produksi mereka. Sumber daya manusia pun naik menjadi 40 perajin berpengalaman. 

"Usaha orang tua saya menunjukkan kemajuan pesat saat krisis 1998, saat itu banyak pesanan yang masuk," kenangnya.

Arif menjelaskan kebanyakan pesanan datang untuk pasar ekspor. Sedangkan pemasaran dalam negeri terbatas Jawa Barat dan Jakarta. Kisah ini semakin berjalan apik ketika Arif mengambil alih bisnis. Jika cerita pengusaha banyak unsur kesedihan dan kegagalan. 
 
Justru kedua orang tua Arif semakin sukses berbisnis. Hingga, di tahun 2006, karena faktor usia mereka mewariskan ini ke tangan seorang Junjun Arif Nugraha.

Merambah Eropa


Usaha Arif terbilang makin memoncerkan PD Zunzun. Itu juga termasuk berkat pengetahuan selama kuliah di kampus Universitas Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah. Sosok Arif dianggap sebagai generasi kedua yang perlu kamu contoh. 
 
Di tangannya produk mampu merambah daerah- daerah lain. Bahkan sudah sampai ke tanah Eropa berkat internet. Tahun 2007 fokusnya adalah membangun internet marketing. Upayanya itu tidak sia- sia.

Tahun itu permintaan akan produk Kelom Geulis naik. Ia kebanjiran pesanan dari berbagai daerah di penjuru Indonesia. Pesanan bahkan naik sampai 200 persen. Semua orderan masuk melalui website buatannya. Arif bahkan mengaku kwalahan. 
 
Alhasil pemenuhan pesanan terkadang terkendala dan terpaksa harus dia tolak halus. Untuk saat ini, PD Zunzun hanya mampu memenuhi permintaan Kelom Geulis untuk 2000 pasang per- bulan.

Harga jual Kelom Geulis diantara Rp.15.000- Rp.25.000 per- pasang. Omzet penjualan mencapai Rp.160 juta- Rp.200 juta per- bulan. Soal laba bersih Arif blak- blakan menyebut 10 persennya. Pelanggan darinya sendiri adalah para pedagang grosir asal daerah masing- masing. 
 
Biasanya, ia menjelaskan mereka akan jual menjadi Rp.50.000 per- pasang. Untuk eceran jumlah permintaannya jauh lebih besar. Arif bahkan tidak sanggup lagi. Terobosan dalam marketing menggunakan online menjadi kunci. 
 
Namun ingat memperbaiki manajemen dan kualitas harus berjalan beriringan. Itulah kunci sukses Arif lewat pembelian 40 unit mesin jahit baru berbagai jenis dan ukuran. Adapula mesin pendukung lain yang lebih modern. 
 
Seperti mesin cangklong, mesin press otomatis, mesin penipis kulit, ruang oven, mesin oven elektrik, gergaji besar, penyedot debu, dan peralatan lain. Bahan dasar pembuatan sandal Kelom Geulis sendiri dari kulit sintetis atau kayu. Seluruh produksi sudah ada standarisasi satu atap. 
 
"Sehingga lebih gampang mengawasi quality control dari produk kami," ujar Arif lagi. Jadi tidak salah kalau namanya menjadi salah satu pengusaha muda rujukan. PD Zunzun meski kecil tetapi sudah memiliki berbagai inovasi dalam produksi. 
 
Tahun 2007, PD Zunzun mendapat pengakuan Dji Sam Soe Award.

Secara pribadi, Arif juga pernah mendapatkan penghargaan bernama Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 dari Bentoel.

Sejak mengambil alih dari kedua orang tua, sejak 2006, fokus Junjun Arif Nugraha ialah memperbaiki brand miliknya. Lewat penjualan interaktif berbekal media sosial digalang. Terobosan tersebut memang tidak sia- sia. Dia sukses membangun image kembali Kelom Geulis. 
 
Pesanan bahkan naik 200% dan semua orderan masuk lewat website toko online milik perusahaan. Trobosan lain adalah memperbaiki variasi desain dan bentuk kelom. Modal dan bentuknya Kelom Geulis menjadi lebih bervariasi. Bahkan motif mega mendung khas Cirebon sudah dimasukan. 
 
Selain itu, adanya ukiran cantik dari bahan kayu semakin menarik kaum hawa. Jadi tidak monoton berbahan kulit sintetis saja.

"Harga sandal ini menjadi mahal," tutur Arif.

Sandal khas Tasikmalaya ini makin moncer. Tidak cuma dikenal di dalam negeri tetapi hingga Eropa sampai ke Spanyol. Kalau dulu paling mentok sampai pasar Jakarta. 
 
Ditangan Arif, Kelom Geulis sudah merambah ke seluruh Pulau Jawa, sampai pula ke Indonesia Timur, seperti Sulawesi Tenggara, Manado, Gorontalo, Bali dan ke Pulau Sumatra. "Saya juga memasarkan kelom geulis hingga ke Sumatra," tutupnya.

Bisnis Cheese Cake Dalam Toples Instagram

Profil Pengusaha Cheese Cake 


bisnischeesecake.png
 
Bisnis cheese cake dalam toples menguntungkan. Kisah pengusaha Instagram memilih keluar dari pekerjaan mapan. Mereka ingin memulai entrepreneurship. Meski begitu harus punya landasan kuat untuk itu. Tidak bisa tiba- tiba berhenti bekerja begitu saja. 
 
Seperti kisah Selly, wirausahawan muda yang dulunya adalah pegawai perusahaan iklan. Awal mula dari perasaan tidak enak menjadi pegawai super sibuk. Dia merasakan betul tidak bisa bersantai, tidak bisa menjakan diri padahal itu mudah.
 

Pengusaha Instagram


Pengusaha kue cheesecake cantik dalam toples ini. Memulai landasan dari perasaan tersebut, perasaan kenapda tidak bisa bersantai merawat sendiri. Dia pernah bekerja di perusahaan iklan dimana deadline adalah makanan. 
 
Tekanan besar membuat Selly berpikir ulang. Dia memilih resign dan jadi ibu rumah tangga saja. Menurut ibu muda satu ini sebenarnya memanjakan diri sangat mudah. Itu tidak melulu harus ke tempat tertentu. 

Cukup makan- makanan manis saja sudah bisa kok. Hanya saja, saking sibuknya menjadikan hal tersebut menjadi sangat sukar sekali. Butuh inovasi menurutnya agar lebih mudah dilakukan. Jadilah bisnis bernama Treat Inc yang kemudian semakin berkembang pesat. 
 
Upaya untuk membantu orang merasakan makna dari memanjakan diri.

"Miris saja ngeliat orang di Jakarta sibuk banget dan nggak punya waktu nge-treat diri sendiri, mikirnya ribet, padahal treat itu mudah banget, dengan makan yang manis-manis, makan makanan yang enak-enak, itu sudah menghargai," jelas Selly kepada Detik.com.


Bersama seorang teman Amelia (29 tahun) memulai Treat Inc. Bisnis membuat cemilan manis dan sehat juga terjangkau. Adalah cheese cake dalam toples yang praktis dinikmati dimana saja. Makanan kelas premium yang bisa dinikmati siapa saja. Bahan- bahannya juga sehat dan mudah. 
 
Cocok buat segala jenjang usia dari anak- anak sampai tua. Dia telah menemukan caranya bagaimana memanjakan diri. Cheese cake yang tediri dari 8 pilihan rasa. Rasa cheese cake original, oreo, chocochips, M&M, greetea, ovomaltime, blueberry dan raspberry. 
 
Itu juga dibuat fresh baru dibuat ketika dipesan. Akan dikirim sehari itu juga dibuat atau dia menjelaskan kamu akan dapat keesokan harinya. Selly sendiri tidak memutuskan berhenti akan mimpinya. Dia bahkan berencana akan membuat treat lain. 
 
Makanan lain yang mudah dibawa dan enak dinikmati siapa saja. Dia juga membuka konsep reseller buat kamu. Saat ini memang masih di Jakarta tapi sudah punya konsep akan sampai ke Bali dan Jawa. Bisnis cheese cake dalam toples, baru beberapa pekan dimulai sejak itu sudah menjual 200 toples. 
 
Dimana ia mengaku omzetnya mencapai Rp.3 juta/minggu. Harga tergantung rasa serta lama pengiriman langsung yaitu seharga Rp.25-32 ribu. Jika kamu berminat cukup kunjungi online store nya lewat Instagram @treat_inc.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba