Profil Pengusaha Jessica Cornelli Anggita
Mahasiswa kreatif ini wirausaha sembari kuliah. Pengusaha basreng yang katanya masih mengerjakan skripsi, dan belum selesai juga. Adanya pandemi, ini mendorong gadis bernama Jessica Cornellia Anggita untuk membuka usaha.
Masa skripsi memang menyisakan waktu menunggu. Banyak waktu luang ditambah pandemi membuah kegiatan kampus berhenti. Gadis 24 tahun tersebut kemudian menjajal menjadi pengusaha. Dia sembari berjualan basreng disamping berangkat ke kampus.
Wirausaha Basreng
Pertama kali berjualan dia merogoh modal Rp.100 ribu kurang. Kenapa berjualan basreng lantaran melihat teman- teman suka. Mereka senang camilan terutama basreng atau bakso goreng. Jessica membuat camilan sembari aktivitas di ruma aja.
Bermodal kurang dari Rp.100 ribu dipasarkan lewat sosial media. Ia sendiri aktif bersosial media di akun sendiri.
Kata Jessica berjualan tidak begitu sulit. "Saya jualan sambil menyusun skripsi karena saya mahasiswa tingkat akhir di Universitas Tarumanagara. Puji Tuhan omzet dari penjualan basreng sudah lebih dari Rp 10 juta dalam 1 bulan pertama ini," imbuh sang pengusaha muda.
Dari omzet segitu cuma dipakai Rp.2,5 juta buat produksi. Untung besar bukan wirausaha basreng sembari kuliah ini. Dicretikan Jessica memulai usaha karena mengikuti ibu Jessica. Dia, ibu Jessica berjualan nastar. Nah Jessica ingin ikutan berjualan apa bisa dibikin di rumah.
Jessica awal membuat nastar tetapi tidak mau melanjutkan. Karena nastar sifatnya musiman laku kalau musim hari raya Lebaran atau Natal. Mahasiswa Akuntansi yang inginkan cuan, membutuhkan apa camilan digemari orang tetapi tidak musiman.
"Terus saya tiba-tiba kepikiran saja bikin basreng. Karena anak muda di rumah saja pasti butuh camilan, dan harganya terjangkau," kata Jessica kepada detikcom.
Dia menjual produknya Rp.12.000 perbungkus. Pekan pertamanya dia langsung menjual sampai 450 bungkus. Ternyata pengaruh work from home dan school from home akan berpengaruh. Penjualannya sangat tinggi ternyata banyak orang malah mencari camilan.
Penjualan pertamanya melalui teman- teman. Banyak review bagus masuk mendorong penjualannya naik. Pembeli juga baik- baik mau memberi review langsung di Instagram. Walaupun dia dan ibunya tidak bisa kemana- mana, sekarang mereka menghasilkan basreng, perhari membuat 60 bungkus.