Valentina Meiliyana Bisnis Online Shop

Profil Pengusaha Valentina Meiliyana


bisnis online shop

Mau bisnis online shop maka tirulah gadi belia ini. NamanyaValentina Meiliyana masih berusia 17 tahun ketika berbisnis pakaian dan sepatu pesanan (custom shoes). Kini, ia memiliki merek fasionnya sendiri yaitu Selkius Maxwell, dengan produk andalan yaitu Valentina Meiliyana Shoes.

Dia sendiri terilhami oleh karya perancang dan pengusaha sepatu, Manolo Blahnik. Jaringanya telah meliputi para desainer fasion, serta selebriti- selebriti dari Indonesia. Valentina menjadi salah satu perancang sepatu koleksi Eunika Joso di Jakarta Fashion Week 2011.

Bisnis Online Shop Sepatu

 
Dia juga mendapatkan pesanan sepatu khusus dari girl band, yang saat itu tengah naik daun; Cherry Belle. Lebelnya terlahir berkat ketekunan serta kegigihan. Semua demi dia mendesain baik pakaian dan sepatu sendiri.

Di 2008, ia iseng merombak pakaian bekas dengan bantuan seorang penjahit depan rumah.

"Saya sempat ganti penjahit beberapa kali, sampai akhirnya bertemu penjahit bagus lulusan sekolah Inti Mode," terangya.
 
 Sambil menjalani usaha sebagai perancang amatiran, dia juga menjadi agen penjualan sepatu secara online. Ia tergoda akan desain sepatu unik lalu mengusulkan untuk menjualnya secara online. Pada 1 Januari 2011, ia resmi menanda tangani kontrak kerja sama dengan si perajin tersebut.

Pengusaha muda Valentina mulai menjual produknya melalui situs jejaring sosial, kala itu melalui sosial media Facebook. Dia memasang foto- foto produknya kemudian menawarkannya kebeberapa orang.

Lambat laun, produknya itu mulai dilirik tidak hanya oleh pembeli baru, Valentina mendapatkan perhatian dari majalah model DRESSCODE, dan brand sepatunya ini mulai tersebar ke penjuru Indonesia. Seketika itu embuat bisnisnya melonjak jauh pendapatannya dan terus begitu.

Dia yang biasanya hanya menjual 20 pasang sepatu per- bulan, kini membuat 200- 300 pasang perbulan. Ramaja kelahiran 13 Maret 1995 ini, menjual produknya dengan berbagai macam harga sesuai kualitas produk.

Ia menjual dari harga Rp.200- 300 ribu. Dia lantas memutuskan keluar dari sekolah lalu melanjutkan home schooling. Alasannya, "Dia sulit membagi waktu antara bisnis dan sekolah. Sering terlambat," kata Hellen, ibunya.

Ia hanya belajar secara otodidak dari majalah dan televisi. Dia pernah dilibatkan sebagai perancang sepatu saat peragaan busana kelulusan sekolah mode, La Selle Graduation Show 2011. Lagi, ia pun tersanjung mendapatkan pengalaman lagi merancang sepatu untuk siswa- siswa di La Selle.

Saat usinya menginjak 17 tahun, Valentina pun sudah senggup menggaji menejer pemasaran. "Omset perbulan Rp.45 juta hingga Rp.50 juta," kata Valentina.

Apa rahasia suksesnya hanyalah satu yaitu berani menembus batas. Dia menunjukan dirinya sebagai desainer fasion meski secara akademisnya, dia bukanlah lulusan sekolah mode. Ia juga dikabarkan telah melanjutkan pendidikannya kejenjang lebih tinggi.

Bermodal bisnisnya sekarang ia tak perlu lagi pusing memikirkan biaya kuliah seperti anak muda biasanya.

Karyawan Mau Jadi Pengusaha Salon Merrie Elizabeth

Profil Pengusaha Merrie Elizabeth


pemilik blobar salon

Dulu karyawan mau jadi pengusaha salon. Tidak mudah bagi Merrie Elizabeth memulai. Namun siap sangka, namanya masuk penghargaan Forbes Asia 30 Under 30. Jadi bagaimana kisahanya sampai di posisi sekarang. Dia merupakan karyawan berprestasi dengan pengalaman panjang.

Nama- nama perusahaan besar pernah disinggahi seperti HM. Sampoerna. Dilubuk paling dalamnya terasa ada keinginan mandiri. Ingin rasanya membuka usaha sendiri dibanding bekerja. Ia ingin bisa membuka usaha salon sendiri. Mau punya penghasilkan sendiri tanpa merasa terbebani keadaan.

Apa enaknya menjadi pengusaha memiliki banyak kebebasan. Termasuk nanti menentukan tugas apa mau dikerjakan. Dia tertarikan akan dunia kecantikan wanita. Terutama perawatan dan tata rambut yang punya peluang. Merrie sendiri termasuk sosok sadar gaya termasuk trend anak muda.

Merintis Usaha Salon

 
Ia melihat gaya SWAG tengah naik daun. Idenya menerawang ingin mengembangkan konsep ini. Dia menyimpulkan bahwa pasar fashion dan kecentikan menjanjikan. Di Indonesia, terlihat petumbuhan gaya telah signifikan, ini membuat Merri semakin penasaran memulai usaha.

Arah telah ditentukan mau berbisnis apa sesuai passiona. Maka ia mengkolaborasi ide diluar dalam satu bisnis. Bisnis salon dengan inovasi dan mengikuti perkembangan tren. Ada gaya rambut ombre yang tengah naik daun. Maka salonnya akan memberikan pembeda seperti warna galaxy yang cantik.

Bisnis bernama Bolbar Salon memang bertumbuh stabil. Bertahap naiklah hingga menghasilkan dua cabang. Pengusaha wanita asal Malang, pernah juga mengalami masa naik dan turun, terutama bicara bisnis salon. Butuh pemahaman menyeluruh bukan cuma tren tetapi segementasi pasar.

Merrie tidak sendiri melainkan mengajak rekan. Ninda Ramadhiani, keduanya sepakat membangun salon Bolbar. Tidak mau bertemput di segmentasi pasar berdarah. Persaingan ketat tersebut diakali melalui spesifikasi. Mereka mengambil pasar spesialis pewarnaan rambut wanita.

Mereka memadukan antara gaya rambut dan teknik warna. Contoh kombinasi ombre dengan warna galaxy atau unicorn, balayage abu- abu, dan juga rose gold. Bisnis Bolbar berdiri di Kemang, Jakarta, pada bulan Desember 2012, dimana keduanya merupakan mahasiswi S-2 Prasitya Mulya Business School.

"Pasar beauty Indonesia terus berkembang karena perempuan pasti ingin tampil cantik, apalagi para perempuan urban Jakarta," jelasnya.

Berdirinya Blobar berdasarkan cerminan pekerja usia 18- 35. Menyasar kaum wanita milenia yang tidak habis marketnya. Jasa salon mereka antara harga Rp.75- Rp1,5 juta. Cocok buat kaum hawa yang baru mendapatkan job pertama.

Pengusaha salon Merrie menjelaskan modal awal Rp.10 juta. Mereka berdua lantas berbagi peran untuk menjalankan. Ninda menjalankan operasional dan SDM. Sementara dirinya, berurusan dengan marketing dan keuangan. Berdua mereka tidak mengaku saling dominan melainkan berunding selalu.

Tiap keputusan dirundingkan bersama menyangkut bisnis. Mereka memanfaatkan media Facebook dan Instagram. Pemesaran Blobar menyebar melalui kanal sosial media. Agar membentuk brand kuat dimata masyarakat, Blobar tidak segan mengadakan event kecantikan sampai bazar.

Tiga tahun Blobar eksis banyak inovasi dihadirkan. Mereka mengikuti trend tetapi juga menciptakan trobosan tersendiri. Soal tampilan salon diciptakan sedemikian rupa agar chic dan instagramable. Dia menciptakan singkronisasi agar wanita betas nyalon.

Hasilnya pelanggan mengaku bisa habis Rp.1,8- 2 juta demi mewarnai rambut.Itu sudah termasuk aneka treatment pasca pewarnaan. Treatment ini murah seharga Rp.500- 800 ribu, tetapi cukup buat mereka kembali lagi. Bisnis ini termasuk bergulit cepat, walau tetap melalui proses lumayan lama.

Tidak ada yang instan melainkan perjuangan. Pada bulan ke 9, usaha mereka langsung menarik orang berdatangan rutin. Pada tahun ke 4, barulah mereka mampu menghasilkan omzet mencapai ratusan juta perbulan. Mereka optimis termasuk merembah pasar maxing, eyelash extension, dan kuku.

Merrie kembali membuat gebrakan melalui Quo Studio. Mereka tengah menyasar pasar pria walau nekat. "Modal terbesar kami sebenarnya adalah nekat. Eksekusi kalah penting dibanding perencanaan dan persiapan. Justru kalau terlalu berencana, maka akan menjadi wacana," ucapnya kepada SWA.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba