Kisah Pengusaha Kerupuk Masih Muda Luar Biasa

Profil Pengusaha Saraya Tauris Dianti 


 
Jika pengusaha muda lainnya memilih bisnis fasion. Gadis 24 tahun ini malah memilih menjadi juragan kerupuk. Berawal seorang pengusaha kerupuk yang hampir bangkrut. Saraya Tauris Dianti kemudian datang mengambil alih -mengakuisisi pabrik kerupuk-, karena pemilik awal tidak mampu menutupi biaya oprasional.

Pemilik pabrik kerupuk awal tidak mampu membayar biaya. Pengusaha tersebut tidak mampu membayar uang pesanan tepung ke ibu Raya. Kemudian Ibu Raya dan dia sendiri, memberika penawaran mengambil alih usaha tersebut. Keduanya sepakat membangun usaha kerupuk miliknya kembali jaya.

Sang pemilik awal sama sekali tidak ikut campur. Total produksi diserahkan kepada Ibu Raya, dan kepada Raya pada khususnya menjadi puncak pimpinan pabrik. Sulit sih, bayangkan saja, Raya harus memulai dari nol karena jualan kerupuk biasa saja jaman sekarang susah.

Pengusaha dadakan


Dia bersama ibu membuat resep sendiri. Kesana- kemari keduanya coba membangkitkan kerupuk buatan mereka sendiri. Banyak komplain datang kepada mereka, mulai dari ukuran, warna, serta rasa yang tidak cocok. Sang ibu lantas menunjuk Raya menghadapi mereka, dari pemasaran sampai costumer service.

 "...agar kerupuk kami bisa menjadi lebih baik," ia menjelaskan.

Melalui aneka eksperimen mencoba menemukan komposisi. Dibawah bisnis Kerupuk Putra Jangkar, Raya mencoba menampung keluhan konsumen mereka. Pokoknya bagaimana agar usaha semakin kedepan. Ia tidak ingin cuma berjualan di kawasan Sidoarjo mulu.

Raya memiliki pandangan ke seluruh Jawa Tengah, Jawa Barat, sampai ke Lampung, Makassar, dan juga ke Balikpapan. Padahal awalnya, Raya sendiri tidak memilik pandangan segitu, menurut gadis berkacamata tersebut bisnis dijalani sekarang karena dia iba melihat sang ibu.

Ibu Raya sudah cukup tua buat mengurus semua. Apalagi mereka seperti memulai bisnis dari nol ketika menjalankan pabrik Kerupuk Putra Jaya. Dari awal, Raya sudah merasakan capeknya, perasaan bagaimana menghadapi kerasnya berbisnis ikut dirasakan.

Dia tidak ingin ibunya terporsir buat mengurusi pabrik. Untuk masalah dikomplain pembeli, kemajuan dari pabrik sendiri, ia berpikir biar lah Raya sendiri rasakan. Saat ini, kerupuk dihasilkan 2 ton dalam sehari berproduksi. Jumlah karyawan 60 orang dengan shift pagi- malam. Kisaran harga Rp.56 - Rp.57 ribu per- bal (5kg).

Harga masih bisa dinego loh. Disesuaikan saja dengan harga pasaran mau menerima. Bahan baku tepung tapioka dari Lampung. Kendala dihadapi sebagai pengusaha muda, dalam wawancara khusus bersama pihak bisnisukm.com, ia menyebutkan kendala terbesar ialah bahan baku.

Terkadang pada bulan tertentu kebutuhan akan tepung tapioka sulit. Sering mengalami kekosongan buat produksi karena harga naik- turun. Sehingga bahkan sampai sekarang Raya masih berjuang. Bagaimana biar bisa menangani kekosongan stok bahan baku ke depan, tetapi tanpa mengurangi kualitas produksi sendiri.

Banyak pesaing, usaha pembuatan kerupuk kecil- kecilan mulai nampak. Kebanyakan dibuat justru malah merusak harga pasaran. Untung Raya mempunya cara jitu mendekati pelanggan. Kendala tersebut dapat ia atasi dengan pendekatan persuasif.

Meskipun modalnya besar buat akusisi yakni Rp.800 juta. Ia mengaku sudah bisa mengantungi omzet hingga Rp.350 per- bulan. Pabriknya juga memberikan pahala karena memberikan lowongan pekerjaan. Ia merasakan betul perubahan masyarakat sekitar lebih baik. Inilah kenapa dia optimis bisnisnya berkah ke depan.

Ke depan, selain membuat kerupuk mawar, keong, rantai dan kepang, Raya ingin mengembangkan aneka kerupuk irisan, seperti kerupuk udang, tersanjung, dan kerupuk tahu. Untuk pemasaran sudah mencapai daerah luar pulau, dan akan mencoba masuk ke pasar ekspor.

Mimpi Pengusaha Dodol Keripik Ibu Popon

Profil Pengusaha Popon Suhaemah 



Sosok petani buah satu ini layak kamu tiru. Popon Suhaemah tidak mau 83 pohon mangga miliknya terjual murah, atau bahkan membusuk tidak laku. Ibu Popon lantas membuka usaha jus buah. Sasaran Bu Popon adalah sekolah dekat rumah. Meskipun usaha ini berjalan sebentar, aneka usaha lainnya menyusul lagi.

Pokoknya Popon tidak mau hasil perkebunan mubazir. Inilah cikal bakal usaha camilan dia kembangkan. Yang dari semula berawal buah mangga, Bu Popon terkenal membuat keripik nangka. Dia memanfaatkan segala sumber daya sekitaran daerahnya.

Ide bisnis muncul dari pelataran rumah, Kelurahan Cijati, Kab. Majalengka, yang sebelumnya berjualan jus lantas berbisnis dodol kemudian keripik. Sebelum bisnis buah, Bu Popon ternyata pernah jualan telur asin pada 2000 silam. Bisnis berakhir ketika musim kemarau karena bebek hilang di budidaya desanya.

Bisnis terus


Kenapa bisnis jus buah Popon gagal. Ternyata ada alasan dibalik kisah gagal tersebut. Menurutnya jus buah tidak awet. Dalam seminggu disimpan maka akan keluar bakteri pembusuk. Ia mulai memutar otak caranya agar jus buah mangga awet. Dia lantas berkonsultasi dengan Dinas Kesehatan, bagaimana biar tahan lama.

Ia mengenang awal usahanya: Cuma ingin bagaimana produk jualan yang bertahan lama. Atas saran Dinas Kesehatan, dia diberi surat mengikuti pelatihan, mendapatkan ilmu baru tentang bagaimana mengawetkan buah mangga. Dia merubah mangga menjadi dodol kemudian keripik.

Segera bisnis ini berjalan, dan sejak 2002, nama usaha Ibu Popon sudah terdaftar menjadi merek dagang. Ia menggunakan nama Ibu Popon biar nyarinya gampang. "..karena saya asli orang sini," jelasnya. Kan orang sana kenal sama Ibu Popon, jadi orang tau siapa pembuat camilan mangga menggiurkan itu.

Agresifitas bisnis Popon memang meningkat. Apalagi semenjak sang suami di- PHK, bisnis keripik ia jalankan semakin gencar promosi. Pada Oktober 2003, mangga Popon melimpah, menghasilkan banyak buah yang dijadikan modal usaha.

Popon lantas merubah mangga menjadi dodol, dengan berbekal pengawet. Semua berkat ilmu pengawet baik yang sudah berijin Dinas. Mengendarai motor GL 86, Popon titipkan dodol mangga ke warung, ada 20 bungkus dodol setiap warung disinggahi, dodol pokoknya harus habis tidak ada sisa di rumah.

Namun, berbisnis tidak semudah harapan, dodol Ibu Popon kok tidak selaku dibayangkan. Laku cuma 2- 5 bungkus setelah dia menagih ke warung- warung. Sisanya dikembalika ke Popon dan berlangsung lumayan lama. Popon tidak lupa membawa gunting, tidak laku dodol dipotong kecil, dan merek dibakar dibuang ke sungai.

Tetapi Popon tetap ulet menggarap bisnis dodol mangga. Meskipun hasilnya rugi tetap dia perjuangkan. Ia lantas menarik perhatian Dinas Pertanian. Senang banget ketika itu, tempat usahanya didatangi pejabat- pejabat berseragam cokelat. Mereka membeli dodol- dodol mangga Ibu Popon akan dijual ke Provinsi.

Mereka ingin memamerkan bahwa Majalengka punya khas. Dodol mangga menunjukan bahwa sumber daya utama Majalengka, yakni mangga, bisa diusahakan menjadi hal baru. Inilah titik terang bisnis Popon berkembang. Lewat obrolan dan sepucuk nomor telephon yang dia minta seolah membuka jalan.

Bisnis keripik


Selepas Lebaran, Bu Popon mampir ke Dinas Pertanian, untuk bertemu Kepala Seksi Usaha tingkat Kab. Majalengka, bernama Pak Nunu. Dia berkesempatan menceritakan mimpinya. Panjang lebar tentang apa yang hendak Popon capai dari bisnis dodol mangga.

Dia kemudian diajak menjadi warga binaan tani. Syaratnya Bu Popon harus membentuk kelompok tani dulu. Ada 4 orang dalam satu kelompok Popon. Mereka adalah saudaranya sendiri. Mengumpulkan uang Rp.50 ribu buat mendapatkan pelatihan. Mereka melakukan trial- error usaha dodol mangga bersama.

Dengan dukungan Dinas Pertanian, beberapa hal mendasar mendapatkan bantuan. Tetapi untuk bagaimana menciptakan produk berkualitas. Sepenuhnya ditangan kelompok tani Bu Popon. Sudah membuat dodol tapi malah sudah jamuran meski belum beredar. Dinas memberi saran lemak sapi tetapi dodol malah bau.

Didampingi Dinas, usaha terus dilakukan, hingga mereka diajak melalukan kunjungan ke Ciamis. Di sana dia belajar mengenai cara benar membuat dodol. Pokoknya Dinas Pertanian mendampingi pasca panen sampai akhirnya membantu memberi pencerahan.

"Ooohh... rupanya begini caranya membuat dodol," ujar dia. Mulai studi banding dodol ke Ciamis hingga Sukasena. "Kalau orang lain bisa, kenapa saya enggak," yakinnya. Pelatihan mulai cara membuat sampia ke pengemasan.

Dia pun belajar mengenai arti merek. Nama harus memiliki filosofi kuat dibaliknya. Nama merek berarti intergritas bisnis mereka. Popon mendapatkan bantuan dari Universitas Padjajaran (Unpad), dan juga Universitas Pasundan (Unpas). Semua masalah dikonsultasikan ke Jurusan Teknologi Pangan keduanya.

Bahkan Popon rela mahasiswa datang melalukan penelitian ke rumah. Berkat bantuan para mahasiswa itu, Popon dapat menempelkan kandungan nutrisi.

Tahun 2004, bisnis Popon makin maju, aneka camilan diolah yang berbahan dasar buah- buahan hasil pertanian. Dia kemudian mendapatkan tawaran mesin vacuum frying untuk membuat keripik. Aneka macam keripik buah dibuat. Dari kerpik pisang, dia belajar, bagaimana agar keripik tidak letoy kelamaan.

Ia belajar jenis pisang berpengaruh, disisi lain tingkat kematangan mempengaruhi. Kita harus tentukan dulu, pisangnya apa, kulit pisangnya seperti apa, kemudian harus kita goreng sampai ke tingkat kematangan berapa. Kalau gagal disortir maka akan diolahnya menjadi dodol.

Kalau awal, pisang dihajar, langsung kupas goreng tanpa mikir. Bu Popon belajar bahwa berbisnis adalah kesabaran. Meskipun dianggap sepele, Popon barulah mampu membuat keripik pisang sesuai dengan apa yang dia inginkan setelah tiga tahun. Nama dodol dan keripik Ibu Popon mulai dikenal khalayak ramai nih.

Bisnis tidak berhenti


Usaha dijalankan Popon terus berkembang. Dia terus belajar termasuk cara menentukan harga. Jika dia jual ke warung Rp.3.500 maka kalau ke pembeli langsung Rp.5000. Disisi lain ada orang jualan 1/4 ons dijual Rp.2.500. Alhasil keripik Popon tidak laku di pasaran, meski rasa lebih mantap, hanya karena harga.

Ia kembali dapat retur. Dia kemudian menentukan ulang harga. Disisi lain, permodal juga masalah, untung ada jaminan dari Dinas Koperasi. Alhasil Popon mendapat pinjaman bank BJB senilai Rp.9 jutaan di tahun 2009 silam.

Dia kemudian diajak ikut pameran oleh Dinas Perindustrian. Hampir seluruh wilayah Indonesia sudah dia kunjungi, contoh NTB, Makassar, Surabaya, Jakarta, dan Batam. Produk Ibu Popon juga pernah muncul di pameran Singapura Expo. Kemudian masalah packing produk juga mulai diperbaiki Bu Popon.

Dibantu Packing House asal Bandung, disarankan produk buatannya tidak cuma diplastik, tetapi dibentuk jadi souvenir lewat kardus. Melalui itulah nama Ibu Popon semakin besar -pemasaran merambah sampai ke Majalengka, Jakarta, termasuk rest area jalan tol dan kantor koperasi Jakarta.

Di Bogor, kamu bisa dapati produk Ibu Popon di sentra oleh- oleh Priangan Sari. Pusat perbelanjaan di Carrefur Yogya juga sudah ada. Sudah berkembang, Popon mulai berbagi ilmunya lewat pelatihan kepada ibu- ibu sekitar. Ada sekitar 40 kelompok tani, terdiri dari 10 orang, dimana mereka berkeahlian khusus.

Ada bagian pembuatan keripik pisang, karipik jagung, keripik salak. Soal SOP dan bumbu dikontrol oleh Bu Popon langsung. Dengan bantuan mereka bisa menghasilkan berbagai jenis keripik. Kemudian tidak cuma berhenti di keripik, juga ada peyek kacang hijau, sumpia isi oncom, dimana juga mak nyus.

Siapa sangka wanita sederhana ini, adalah pemilik pabrik memproduksi aneka jajan, banyak sekali dari aneka dodol sampai aneka keripik buah. Popon sendiri termasuk suka inovasi. Dia mengutak- atik setiap produknya menjadi lebih unik. Ia sekarang terkejut karena setiap idenya diminati masyarakat luas.

Dengan upah Rp.2000 per- kilogram, maka Popon mempekerjakan sumpia oncom. Lalu ada juga emping jagung yang diminati konsumen Bogor. Awalnya cuma bikin emping original. Permintaan konsumen mau lebih: Mereka ingin diberi taburan bumbu barbeque, ini menjadi jalan Popon mengembangkan produk lagi.

Inovasi selalu dilakukan Popon. Dia menyikapi hal tersebut seperti hobi. Biasanya dia membuat sesuatu yang baru di bulan sepi order yakni Maret hingga Mei. Banyak mimpi ingin direguk Popon akan produk olahan bermerek Ibu Popon. Seperti keripik nanas, dimana tengah dia agresif pasarkan dan berhasil.

Kerja keras 8 tahun Popon, apa yang telah dihasilkan wanita tersebut. Tidak banyak dibanding pengorbanan waktu. Dia menghasilkan omzet Rp.180 juta, dimana keuntungan bersih 15- 20 persen. Dimana Popon sudah memiliki lima buah mesin penggoreng sekaligus pengering keripik sendiri.

Kegemaran -atau hobi- Popon berkreasi praktis membuatnya sulit disaingi. Pokoknya selalu ada yang baru ditampilkan produknya ini. Selain mimpi pribadi menjadi pengusaha sukses, mimpi lainnya, yakni memberdayakan petani sekitarnya telah berhasil lewat kelompok tani binaan.

Semua kesuksesan karena dia ikhlas membantu orang. "Dengan membantu orang lain, Insya Allah urusan kita juga dibantu sama Yang Kuasa," tegasnya.

Hiasan Magnet Kulkas Lucu Berbentuk Makanan

Profil Pengusaha Megawati Suganda 


 
Kegemaran Megawati Suganda akan miniatur. Membuatnya berpikir tentang bisnis sendiri. Dia dan suami lantas mempunyai ide bikin hiasan kulkas. Berbekal kecintaan akan miniatur, dari minatur diubah mereka jadi pernak- pernik kulkas bermagnet itu.

Ide bisnis dimulai sejak 2009 silam. Dengan nama TechnoCraft membuat aneka miniatur. Lalu dijadikan pernak- pernik kultas menarik. Kebetulan sang suami bekerja sebagai arsitek. Jika orang berpikir mereka akan membeli barang impor. Salah. Mereka berencana membuat miniatur buatan sendiri hingga jadi.

Mereka berpikir desain khas Indonesia. Mereka mencari trend disekitaran sendiri. Pokoknya makanan apa yang dikenal masyarakat Indonesia. Dikaji dulu, membuat desain, dan mulai berproduksi. Awal bisnis ia dibantu suami membuat semua manual, tanpa mesin.

Siring perkembangan usaha, mereka sudah memiliki lima mesin. Menurut Detik.com ada mesin pencetak kemudian mesin pengecil miniatur. Macam- macam minatur tersebut lantas dipasangi magnet. Desain meliputi produk makanan dan minuman terkenal Indonesia, contohnya Freshmilk dan Teh Botol. 

Awal usaha mengeluarkan uang mencapai Rp.30 juta. Itu buat beli bahannya saja. Mesin beru kebeli ketika sudah berjalan bisnisnya.

Semakin dikenal usaha semakin banyak promosi. Mega mulai mengikuti aneka pameran bisnis, aneka ajang pameran kerajinan seperti di Jakarta Convention Center (JCC), dan Indonesia Convention Center (ICC) di BSD, Tangerang. Juga memajang produknya di pusat perbelanjaan kota wisata Bandung.

Biasa mereka membuka pameran kecil, di mal Kasablanka, tetapi memakai konsep tidak menetap seperti cuma dua bulan. Termasuk ke floating market Lembang, atau di Farm House. Mereka juga mengirim ke Siangpura, Brunei Darussalam, Malaysia, dan Timur Tengah.

Website: www.magnetkulkas.com

Usaha Kaos Limited Edition Nagud Banyuwangi

Profil Pengusaha Annisa Febby Chaurino dan Hendra Gunawan 




Bagi pecinta kaos khas Banyuwangi, nama Nagud sudah tidak asing didengar di telinga. Tetapi buat kita nih namanya Nagud adalah bisnis berkonsep unik. Kamu layak mencoba bisnis mereka. Bisnis kaos distro itu memang tidak ada matinya. Bagaimana jika membuat kaos distro limited edition?

Distro Nagud! Banyuwangi dipelopori pasangan pengusaha. Sang suami, Hendra Gunawan (34), melihat peluang ada di bisnis istrinya. Annisa Febby Chaurino, memulai brand Nagud! Banyuwangi sengaja untuk membuat desain tidak pasaran.

Annisa juga mengangkat nama Banyuwangi sendiri. Hasilnya tidak asal membuat kaos distro. Ia juga tidak mau memproduksi banyak, tetapi kualitas kaos rendah. Dimulai sejak 2012 silam, satu bulan selepas dia lulus Design Industri ITS Surabaya, modalnya cukup Rp.2 juta sudah bisa membuka distro milik sendiri.

Uang tersebut pinjaman orang tua. Berarti Annisa harus sukses mengembalikan. Dengan pemasaran lewat sosial media, ada Facebook, Twitter, ada webnya juga, desainnya original tidak copy- paste desain milik orang lain. "Desainnya juga asli karya saya dan mengharamkan copy- paste desain orang lain," ujarnya.

Memang sejak awal Annisa menawarkan sesuatu beda. Dia sendiri pernah dapat juara lomba desain kaos se- Jawa Timur pada 2010. Waktu itu dia masih aktif berkuliah. Dan, oleh karenanya, dia sangat percaya diri buat memulai bisnis clothing.

Dua bulan dia mengembangkan bisnis. Mulai belajar administrasi dulu, pembuatan kaos, lalu dia beranikan diri meminjam uang. Ia sudah perhitungkan betul perputaran uang. Akhirnya memberanikan diri meminjam uang kembali ke bank. Kemudian dia mengajak kerja sama kakak di Surabaya, untuk mulai membuat kaos.

Bisnis pintar


Harga produksi Annisa memang sedikit lebih mahal. Patokan harga kaosnya mencapai Rp.90.000 sampai Rp.150.000. Satu desain diselesaikan selama satu minggu. Tetapi terkadang juga malah mengikuti mood -nya sih, jadi bisa lebih panjang. Setiap dua bulan Nagud! dan dia minimal mengeluarkan dua desain.

Bersama sang suami Hendra, mereka menyasar konsep tradisi khas ke- Banyuwangian. Bisnis mereka juga sudah berkembang tidak cuma kaos, termasuk jeket, jamper, aksesoris, batik, pokoknya khas Banyuwangi lah.

Nama- nama tradisi diambil mengangkat Banyuwangi. Baik gambar ataupun tulisan semuanya Banyuwangi. Ia mengaku bisnis mereka berjalan. Alasan karena konsep ditawarkan mereka beda. Tidak ada produksi kaos banyak. Bisnis mereka cuma memproduksi 18 potong kaos.

Dimulai kaos anak- anak hingga dewasa diproduksi terbatas. "Sengaja terbatas dengan desain yang khas agar tidak pasaran," Hendra mempromosikan.

Pengalaman memakai pakaian branded berkualitas. Yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ada perasaan yang berbeda Hendra rasakan. Ditambah tradisi lokal membuat bisnisnya makin bersinar. Pengabdian akan tradisi lokal membuat Nagud! Banyuwangi makin matang.

Bisnis mereka sudah sampai ke Jakarta, Surabaya, Sulawesi, dan Denpasar, dan juga sampai ke luar negeri loh, seperti ke Taiwan dan Hongkong. Untuk jaket harga kisaran Rp.120.000 sampai Rp.150.000. Juga ada tas seharga Rp.60.000. Batiknya kisaran Rp.100.000 sampai Rp.600.000.

Bisnis kaos mereka berharap mampu memindahkan. Trademark tentang kota distro Bandung, ataupu kalau orang mau ke distro di Jawa Timur, ya Surabaya. Maunya nama Banyuwangi menjadi trademark tersendiri lewat Nagud! Soal omzet mereka mengaku pernah mampu mengantungi omzet Rp.60 juta perbulan.

Keripik Daun Apa Saja Jenis dan Untungnya

Profil Pengusaha Sri Lestari Murdaningsih 



Hobi memasak menghasilkan untung. Ketika banyak kaum hawa tidak pandai memasak. Banyak pengusaha lahir kerena masakan mereka. Mau belajar masak. Cobalah datang ke Ibu Sri Lestari Murdaningsih yang hobi memasak. Wanita 46 tahun ini memang suka membuatkan aneka camilan buat keluarga.

Tahun 2007, mencoba membuat camilan berbeda, gimana membuat keripik tidak berbahan umum. Tidak harus berbahan tempet. Tidak pula berbahan singkong. Ini keripik bayam dan daun singkong khusus buat keluarganya.

Karena bikinya terlalu banyak. Dia mulai membungkusi sisanya. Keripik daun- daun tersebut terkumpul 20 bungkus. Iseng dia tawarkan ke warung- warung dekat rumah. Eh, kok, antusias pembeli begitu besar terhadap keripik buatan Sri. Keripik daun tersebut laris manis habis diborong tetangga.

"Saya terkejut banyak yang suka," selorohnya. Kan dibuat tidak banyak juga. Malahan ada yang bertanya apakah Sri bisa buat lagi.

Melihat peluang bisnis terbuka sendiri. Sri membuat kembali keripik daun bayam dan daun singkong. Dia juga menambahkan keripik daun kemangi. Ketiga daun tersebut diolah kemudian dipasarkan. Tidak cuma dititipkan ke warung, Sri menyasar pula toko oleh- oleh sekitaran Solo- Yogya, hasilnya mencengakan!

Semua daun buatan Sri habis terjual. Mulailah dia semakin serius menekuni. Bisnis keripik aneka daun itu mulai dikembangkan bukan sekedar iseng. Ide bisnis Sri adalah bagaimana membuat pilihan keripik dari bahan daun.

Bisnis Puluhan Juta


Meskipun terlihat sukses besar. Tetapi juga membutuhkan jalan, hingga Sri sampai di titik dimana bisnis dia jalankan menghasilkan puluhan juta. Di awal, tentu bisnis Sri sekedar tambahan uang belanja keluarga saja. Selepas 1,5 tahun barulah terlihat hasil memuaskan, dan Sri memutuskan membuat inovasi lebih.

Dibuat lah keripik daun sirih, daun seledri, daun kenikri, terong, dan pare. Orang jaman dulu suka makan sirih. Nah, sekarang bisa digiatkan kembali lewat jajanan keripik daun sirih. Rasanya tidak pahit melainkan gurih dan renyah. Tidak cuma sirih, kemangi yang cuma lalapan bisa menjadi keripik buat dimakan santai.

Produksi awal sedikit jadilah dia bisa gampang. Sri mengaku cukup memetik di halaman rumah. Namun, ketika pesanan makin banyak, jika sekarang ia harus membeli ke pasar. Perlu kamu tau, Sri mengaku dulu sempat kesulitan meracik bumbu berbeda- beda. Mengkomposisikan pare dan daur sirih yang pahit tidak gampang.

Tiga tahun berjalan, bisnisnya menyebar, keripik aneka daunnya mulai meluas. Pemilik warung atau toko oleh- oleh dari Bantul, Klaten, Sleman, bahkan Solo, menyetok keripik daun milik Bu Sri. Pesanan luar Jawa juga banyak seperti Bali, sampai Sumatra.

Kalau musim liburan telah tiba. Bisnis Sri mengundang orang luar lokal ataupun luar negeri. Meskipun rumah Sri terletak di belakang Candi Ratu Boko, yang mana jalannya pedesaan sekali. Sri Lestari telah memiliki tiga karyawan memproduksi 40kg keripik berbagai jenis.

Keripik dijual per- 2 ons seharga Rp.5000 untuk daun bayam dan daun singkong. Adapun kemangi, sledri, kenikir, terong dan daun pare, per- 2 ons dihargai Rp.8000. Buat perkilo keripik bayam dan singkonga dia hargai Rp.35.000. Keripik kemangi, sirih, seledri, kenikir, terong, dan pare, harganya Rp.40.000 per- kilo.

Untuk tengkulak bisa mengambil sehari 35kg sampai 40kg. Stok sehari sering habis sehari, padahal dia juga menarget wisatawan Candi Boko dan Candi Ratu Boko belum makan.

Bisnis wisatawan


Pasar Sri juga termasuk wisatawan dua candi dekat rumah. Disini, awal mula, Sri semakin niat menyeriusi usaha keripik. Setelah sepuluh tahun pencapaian Sri tidak terduga. Pelanggan bukan lagi sebatas mereka dari kedua candi. Berawal dari lomba kelurahan bertema lingkungan hidup, Sri menjajakan aneka keripik daun.

Modalnya Rp.500 ribu saja, dan bisnis Sri berkembang dengan omzet mencapai Rp.15 juta per- bulan. Dia kemudian merambah aneka dedaunan lain. Contoh olahan laris adalah keripik daun sirih dan kemangi, yang sangat bercita rasa unik. Selain renyah daun keduanya memiliki khasiat buat tubuh kita.

Tiap hari dia menyiapkan 45 kilogram beraneka ragam. Untuk daun singkong, caranya potong batang, dia kemudian rebus, diperas airnya, untuk daun direbus dianginkan. Rebusan daun dicampur bawang putih, kemiri, ketumbar, garam dijadikan satu dengan tepung terigu.

Goreng pakai tungku berbahan kayu bakar agar renyah. Ingat panas api dan minyak harus stabil ya. Tidak mau berhenti di dedaunan. Keripik Sri sampai tempe, jamur tiram, usus ayam, serta daun seledri. Apapun jenis daunnya bisa diolah jadi keripik. Inti bisnis Sri selalu berkembang tetapi tidak "ngoyo" sendiri.

Bisni Sri bahkan menyentuh angka Rp.1 juta sehari. Bayangkan kalau dikalikan 30 hari saja. Sangat lebih dari cukup buat memenuhi kebutuhan perempuan sederhana ini.

Sukses keripik Sri membawa banyak media masa, baik lokal maupun nasional. Akhirnya membawa banyak orang menjajal peruntungan. Disisi lain, banyak pesaing, Sri juga kebanjiran orderan sampai dari luar Jawa berkat pemberitaan. Antrean pesanan bahkan sampai tiga hari, karena saking banyak pembeli.

"Saya sampai kwalahan memenuhi permintaan," ujarnya. Total ada 30 orang tetangga Sri ikutan berbisnis sejenis. Lumayan hasilnya bisa menambah dapur masing- masing. Sri sendiri merasa tidak tersaingi ya karena Sri sudah makan garam keripik daun puluhan tahun.

Quote Terbaik Yasa Singgih Pengusaha Muda

Quote Terbaik Pengusaha Muda 



Resep Bolu Tape Ibu Berkah Sekarang Pengusaha

Profil Pengusaha Norma Suhaedah 




Pengusaha Norma Suhaedah, wanita 31 tahun ini, bercerita bisnis dilakoni sekarang serba kebetulan. Awal dia ingin membawa bekal bolu tape buatan ibu. Ke kantor, dia kemudian didekati teman- teman, namanya teman kantor sering berbagi makanan. Inilah awal bolu tape Ibu Norma mendapatkan perhatian orang.

Mereka suka mencicipi bolu tape Ibu Norma. Lama kelamaan, muncul pesanan bolu tape, mereka beli buat dijadikan camilan arisan dan sebagainya. Iseng Norma mengiyakan keinginan teman- temannya. Dia kemudian mulai jualan bolu tape buatan ibunya sendiri.

Bisnis keluarga


Dia mengajak sang adik, M. Irwan (28), bersama membuat kue bolu tape. Mereka mulai berbisnis dari level paling dekat. Didukung pendidikan Irwan dibidang advertising, maka lahirlah brand bernama Mama Bolu. Guna menekuni bisnis bolu tape banteng, Norma bahkan rela melepas pekerjaan mapan.

Empat tahun sudah dia bekerja di sebuah perusahaan asing. Pekerjaan sebagai Sales Account Management, di PT. Siegwerk Indonesia, dimana gajinya menyentuh angka Rp.5 juta. Kejadian 2013 silam tersebut jadi titik tonggak perjalanan Norma menjadi pengusaha bolu.

Respon teman yang bagus langsung menjadi patokan. Nekat memang, Norma memutuskan melepaskan jabatan, tetapi di hati paling dalam sudah jenuh. Ia ingin menjadi pengusaha. Norma kemudian fokus buat bisnis tape bolu.

Modal awalnya cuma Rp.1,5 juta, dibelikan peralatan, packing, dan bahan baku. Uang tersebut hasilnya menyimpan selama bekerja. Bisnis tersebut berjalan dua tahun dan berkembang baik.

Dorongan menjadi pengusaha makin kuat. Selepas dia mendapatkan ilham dari Ustad Yusuf Mansyur, yang mengatakan semua orang bisa berbisnis. Karena itulah dia semakin giat mengembangkan bolu tape. Dia juga melihat kuliner khas kota lain. Dalam benaknya "kok di Kota Tangerang tidak ada", maka jadilah.

Landasan diatas membuat wanita berhijab ini makin mantab. Yang semula bermodal Rp.1,5 juta, kemudian menjadi omzet bulanan Rp.25 juta, dimana kapasitas produksi mencapai 100 boks. Agar semakin laris- manis maka tampilan harus dipermak.

Dia mempermanis lewat kreasi toping aneka rasa. Ada rasa strawberry, blueberry, cokelat, keju, kismis, keju cokelat, dan kacang. Harga bolu tape berfariasi mulai Rp.30.000- Rp.35.000 aneka bertoping. Dia berjualan lewat internet mulai dari sosial media, blog, dan banyak lagi.

Penjualan tape bolu sudah menyebar ke penjuru Indonesia loh. Dan, Norma dan Irwan, sudah memiliki satu gerai berkat dorongan Dinas Indagkop Kota Tangerang dan Angkasa Pura. Norma jadi sering diajak mengikuti kegiatan festival kuliner. Peluang bagus tidak ditampik Norma lewat aneka bantuan buat bisnis.

Dia mendapat bantuan modal Rp.20 juta. Dan, akhirnya, nama bolu tape dikenal laris manis menjadi khas Benteng, Tangerang. Tekstur lembut rasa tapenya terasa hingga diburu orang. Peminat dari Sumatra hingga Papua. Tidak ada bahan pengawet. Bisa bertahan empat haris tanpa lemari es, tujuh hari kalau didinginkan.

Untuk untung dibuka Norma, dipotong gaji karyawan Rp.10 juta, maka untung bersih mencapai Rp.18 juta perbulan. Diman sekarang dia sudah memproduksi 800 boks per-bulan. Atau omzetnya naik menjadi Rp.28 juta perbulan.

Pengusaha Hijab Paling Terkenal Malaysia Selebriti

Profil Pengusaha Noor Neelofa Mohd 




Baginya setiap ada kesempatan merupakan anugrah. Salah satunya, menjadi artis tenar asal Negeri Jiran, Malaysia, wanita kelahiran 10 Februari 1989 tengah diasikan bisnis hijab. Dulu, sebelum berhijab sudah berbisnis aneka macam. Noor Neelofa Mohd menunjukan gabungan antara karir dan bisnis keseharian.

Bukan sekedar artis tetapi ratu kencatikan Malaysia. Lihat lah jutaan penggemar mengikuti dia di sosmed, follower Twitter capai 1,4 juta, dan 2,2 juta pengikut Facebook. Ketika dia mengenakan hijab maka para penggemar akan segera memburu hijab dikenakan.

Dalam tempo setahun bisnis hijab Lofa, begitu dia akrab disapa, mampu menembus angka triliunan. Satu hijab dihargai $24 atau pendapatan $11,5 juta. Bisnis Lofa tidak cuma soal busana muslim. Aksesoris besuta perusahaan miliknya juga digandrungi wanita non- muslim.

Kemampuan dia melihat pasar tidak kebetulan. Pengalaman aneka bisnis sudah dijalani sambi berakting. Ia sudah punya banyak cabang, reseller juga tersebar menyebar ke penjuru Malaysia. Total reseller capai 700 orang mendongkrak penjualan online Neelofa Hijab.

Dia dibantu sang adik, Noor Nabila, sebagai Direktur NH Prima Internasional, dibalik layar Neelofa Hijab melalang buana. Sudah ada distributor di Brunei Darussalam, London, Australia, dan Amerika Serikat, ia sudah jajaki. "Kami terkejut dan kaget," ujar Noor, respon pasar yang tidak disangka- sangka.

Pengusaha terus



Banyak usaha pernah dijalankan Lofa sambil barakting. Masalah datang juga di usaha dijalankan. Banyak orang mendengar dia dilaporkan ke Utusan Malaysia, karena soal bisnis. Usaha pertama ialah jualan aneka sepatu berhak tinggi. Berawal kesukaan sang selebiriti membeli sepatu aneka warna berhak tinggi.

Dia dikenal pandai belajar. Tetapi juga hobi pengoleksi sepatu. Bahkan katanya nih, dia terobsesi, bahkan sampai selemari loh. Kemudian dia mulai mendalami bisnis pembuatan sepatu berhak tinggi sendiri.

Meskipun digelari jutawan hijab, Lofa hanya tersenyum manis, yang terpenting usaha dijalankan tidak lah melanggar hukum. "Alhamdulillah, apa yang saya telah capai merupakan puncak titik keringat saya dan keluarga," ujarnya.

Pasar bisnis Lofa menembus negara tetangga Asia Tenggara. Menjadi fenomen tersendiri berkat dorongan banyak pihak. "...tidak ada hal yang mustahil dalam hidup jika tidak berputus asa," dia menambah. Nama bisnisnya berkat seorang anak muda asal Johor, menjadi distributor awal bisnis hijab.

Ada kesenengan mendengar kesuksesan reseller ataupun distributor produknya. Menjadikan dia lebih lagi bersemangat membuat produk terbaru. Tidak lagi terhanyut akan duni gemerlap selebiriti. Fokus dia kini hanyalah mengembangkan perusahaan dibawah brandnya.

Walaupun tidak seramai dulu berakting. Dia masih menganggap seni merupakan rumah. Karena sudah lagi berhijab banyak batasa dia lakukan. Termasuk lebih selektif memilih peran. Tidak lagi banyak tampil di layar kaca berakting, kini, kesibukan Lofa adalah menjadi pebawa acara nomor satu Malaysia.

Termasuk sosok yang peduli akan pendidikan. Lofa dikenal mempunya nilai tinggi dalam ujian nasional. Dia juga rela terbang ke New York buat sekedar kuliah singkat. Ke New York, dia banyak belajar tentang kewirausahaan, dia memang lebih ingin bicara tentang bisnis dibanding hal lain.

Dia mengantungi gelar sarjana ilmu perdagangan internasional, Sunway University Collage, yang mana mau lebih berjaya dibanyak hal. Untuk bisnis dia berharap mampu mengimbangi selera fasion pasar. "Saya akan bersifat lebih berani," unggahnya.

Aneka Tas Ekspor Eropa Rico Yudhiasmoro

Profil Pengusaha Rico Yudhiasmoro 



Menjadi pengusaha muda merupakan pelajaran. Bahkan tidak tertulis detail dalam buku bisnis manapun. Kisah dari setiap pengusaha berbeda- beda. Satu pengusaha mengandalkan bekal pendidikan. Tidak jarang berjalan menjadikan kewirausahaan pendidikan itu sendiri.

Butuh kerendahan hati untuk selalu belajar. Juga butuh rasa tidak puas karena belajar sepanjang jalan. Ini kewirausahaan tidak semudah membalikan telapak tangan. Rico Yudhiasmoro, lulusan jurusan ekonomi dan advertising, Universitas Gajah Mada, memilih membuka usaha tas dibanding bekerja di perusahaan.

Ia nekat membuka usaha tas bermodal otodidak. Semua desain karangan Rico merupakan ide original. Dia lantas bertemu seorang pengrajin. Sosok dia membantu Rico tumbuh kembang. Dari seorang mahasiswa lulusan ekonomi menjadi desainer tas berkualitas ekspor.

Awal Juni 1997, seorang pengrajin bergabung dengannya, ialah pengrajin asal Kota Yogyakarta yang dia ketahui sumber bahan dan kerajinan kulit. Soal desain dia belajar banyak belajar sama si pengrajin. Dia hanyalah pemula ketika memulai bisnis. Semua barang dipelajari betul- betul oleh Rico layaknya kuliah.

Mulai pembuatan tas, dompet, sarung tangan, sampai jaket kulit. Berlanjut usaha mereka merambah bahan non- kulit. Menjadi pengusaha muda merupakan belajar di tempat. Apapun pesanan pembeli disetujui saja olehnya.

Bisnis besar


Bertahun bersama sang pengrajin mengundurkan diri. Perbedaan visi menjadi alasan keduanya pecah. Rico merasa bahwa sang pengrajin juga kurang soal kualitas. Padahal disadari betul pembeli mulai banyak, jadi kualitas harus diperhatikan agar tidak kalah bersaing -sesuai prinsip ekonomi dan advertising dia pelajari.

Usaha produk aneka kulit Rico natural. Bahan baku hampir semua dari dalam negeri. Ia tidak memakai cat supaya terkesan natural. Kulitnya ramah lingkungan atau istilahnya vegetable tanned. Soal modal tidak ada masalah karena prinsipnya kepercayaan.

Kredibilitas bahwa dia berkomitmen akan produknya. Soal uang akan mengucur sendiri, baik uang sendiri ataupun pinjaman bank. Atau terkadang berupa kucuran bahan baku. Orang akan datang rela menginvestasi ke bisnis Rico. Tunjukan prestasi dulu, kredibilitas, maka yang menawarkan modal tidak akan kecewa.

Lebih mudah soal uang dibanding teknis. Ambil contoh Rico bisa meminta pinjaman keluarga. Ketika dia diberi pinjaman maka tanggung jawab. Susah justru datang dari kebutuhan sumber daya manusia. Tidak ada sekolah atau pelatihan khusus membuat tas disini.

Pelatihan harus diberikan oleh Rico sendiri. Pelatihan khusus spesifik untuk pekerjaan tertentu. Ada yang diajarkan mengelem, menjahit. Setiap orang diberikan keahlian khusus. Mereka tidak mengerjakan semua dari awal sampai akhir. Awalan dia memiliki lima orang karyawan bekerja di garasi rumah orang tuanya.

Kalau sekarang sih, sudah ada 100 orang karyawan, dan usaha M Joint bergeser ke belakang rumah supaya menampung banyak karyawan. Usaha mereka fokus membuat tas dan dompet kulit. Alasan karena barang tersebut tetap ada sejak dahulu kala. Kualitas dia ingatkan merupakan urusan nomor satu pengusaha muda.

Bisnis terbang ke Eropa


Kualitas baik maka barang akan dicari oleh pembeli. Konsumen akan sendirinya mencari- cari. Contoh ringan ya kalau berbisnis kuliner: Makanan enak kalau tempat terpencil tetap laku. Orang akan datang ke pelosok buat menikmati kuliner.

Produk Rico dipasarkan utama lewat mulut ke mulut. Usaha lainnya, lewat aneka pameran, tujuan Rico ialah membangun relasi bisnis. Usaha pameran menghasilkan pembeli bahkan dari luar. Pameran yang dia rasa paling berkesan, ialah pameran di Frankfurt, Jerman, lewat Badan Pengembangan Ekspor pada 2007.

Promosi dianggap penting gak penting. Pokoknya harus meningkatkan kualitas produk kita. "...kalau belum layak kenapa promosi itu sama dengan mempermalukan diri sendiri," ujarnya.

Produksi Rico mencapai 2500- 3000 buah setiap bulan. Jumlah produksi ditentukan kesulitan desain dia miliki. Makin rumit semakin sedikit diproduksi. Jumlah produksi tas mencapai 90 persen. Sisanya dia fokus mengerjakan aneka dompet. Tahun 1998, produknya sudah masuk Jepang, meskipun tidak banyak.

Pengiriman ke Jepang tidak berlangsung panjang. Alasan karena produk M Joint kalah bersaing dengan produk China. Sekarang pasar eskpor dialihkan ke Eropa, dimana besaran 80%, sementara ke Australia 15% dan sisanya dalam negeri. Produk Rico mengisi etalase 450 toko, dijual lewat mereka setempat.

Pasar lokal Rico hanya menyasar pameran atau di rumah. Jadi kalau kamu mau tasnya harus ke rumah Rico sendiri. Kalau sekarang dia ingin mempertahakan penjualan di duna negara itu. Pernah dapat pesanan besar dia syukuri. Dengan cara kerja lembur semalaman buat memenuhi pesanan produksi dua negara.

Oleh karena penjualan lebih ke luar negeri. Dimana produknya dimereki orang lain. Rico mengaku masih kesulitan mengembangkan brand sendiri. Ia tengah mempersiapkan paten atas mereka sendiri. Sementara itu pasaran Indonesia mulai bergeliat minta dipenuhi. Omzet sendiri tidak bersedia beberakan detailnya ke Kompas.com

Isyarat bahwa penjualan pertahun miliaran rupiah. Namun jika dibandingkan usaha kulit sejenis. Usaha dia kerjakan masih kalah jauh. Harga jual lumayan jika diperhatikan. Antara Rp.50 ribu sampai Rp.150 ribu, itu untuk dompet saja. Harga tas kisaran Rp.300 ribu sampai Rp.600 ribuan, itu untuk penjualan grosir.

Omzet naik terus sampai 15 persen setiap tahun. Keuntungan luar negeri juga dipengaruhi Euro, makanya dia mencoba memasuki pasar Timur Tengah. Meluaskan kaki- kaki eskpornya sampai ke Dubai. Pembeli sendiri sudah mulai ada, Dubai sampai Belanda. Tetapi pembelian masih sebatas perorangan bukan ekspor.

Notaris Sambilan Pengusaha Sarung Tangan Musim Dingin

Profil Pengusaha Wing Mahareny 




Seorang notaris yang mendadak menjadi pengusaha. Apalagi dia menjadi pengusaha garmen. Uniknya ya karena dia sama sekali tidak bisa menjahit. Kesempatan itulah Wing Mahareny Yudiati lihat ketika melihat bisnis sarung tangan. Walaupun tidak bisa menjahit, dia tetap "paksakan" menjadi pengusaha dengan segala suka- duka.

Tugasnya menyuplai buat kebutuhan perusahaan lain. Dia membuat lalu dilabeli sendiri orang lain.  Dimana ada perusahaan asal Korea, batal investasi di Indonesia. Perusahaan Korea batal membangun pabrik di Magelang. Tetapi sudah terlanjur melatih 150 tenaga kerja lokal.

Semua karena Gunung Merapi meletus di 2010. Padahal mesin juga sudah berdatangan siap pakai. Disisi lain, bisnis Wing lumayan, menyetok tiga perusahaan melebeli produksi Wing sendiri. Ketika dia ditawari  kerja sama sang pengusaha asal Korea. Tinggal menyiapkan tempat buat berproduksi dan ia sanggupi itu.

Bisnis peruntungan


Bukan perkara mudah menciptakan sarung tangan. Awal bisnis usahanya gagal menembus pasar luar, juga tidak cocok di lokal. Usaha sempat mati suri tetapi tetap bertekat. Sempat berhenti produksi ketika rekan bisnis mereka berhenti berproduksi -mungkin perusahaan asal Korea tersebut ya.

Karena alasan keamanan ketika Gunung Merapi meletus. Untung kejadian bencana tidak berlangsung lama. Alhasil Wing kembali mencoba peruntungan bisnis sarung tangan. Perusahaan asal Korea tersebut juga membuka peluang berproduksi sendiri lebih banyak.

Dipikir mencoba sesuatu lebih baik. Ia mengambil alih 75 orang pekerja siap pakai -hampir semuanya perempuan. Laki- lakinya kecil jumlahnya, termasuk orang kepercayaanya, pimpinan perusahaan dibawah Wing langsung sebagai tangan kanan. Perusahaan berjalan lebih cepat, tetapi kok tidak semudah itu jualan.

Di Magelang sendiri, wanita muda lulusan SMP- SMA, lebih senang bekerja menjadi pelayan toko atau pembantu rumah tangga. Tempat kerja Wing sendiri memiliki tekanan tersendiri. Dimana ia menerapkan tempat kerja tenang, tanpa gangguan ponsel di jam tertentu, pokoknya tidak boleh mengobrol tapi kerja.

Inilah yang membuat karyawan Wing susah. Mereka merasa kurang nyaman karena ada tekanan. Terutama jika ada pesanan besar membutuhkan target waktu. Mereka belum terbiasa. Apalagi ditambah soal tempat tinggal yang jauh dari tempat produksi. Butuh waktu naik angkot, lebih banyak uang habis buat ongkos.

Ujung- ujungnya beberapa pegawai mengompori. Mereka mengajak teman buat keluar perusahaan. Ini jadi beban produksi karena butuh orang baru. Kemudian masalah pegawai lain dari orang dekat Wing yang ikut dipekerjakan. Karena merasa dekat secara pribadi, kebanyakan bermuka tetapi kerja nol.

Masalah lain umur pegawai, ya, karena pegawai kebanyakan perempuan umuran 15- 18 tahun. Kan kalau sudah saatnya ada cuti nikah, cuti hamil, kalau sudah begitu susah dipaksa bekerja lagi. Mangkanya dia banyak bongkar pasang pegawai. Susah mempekerjakan pegawai dari nol lagi, tetapi mau bagaimana lagi.

Sukses belajar mengenai manajemen otodidak. Ia menerapkan pegawai hanya bekerja satu pekerjaan. Jadi yang mengerjakan pola satu tugas, tidak dari semua pola sampai jadi dikerjakan pegawai. Pokoknya satu orang mempunya satu kerjaan yang harus diselesaikan. Ada khusus memotong, menjahit luar, variasi dan sebagainya.

Kacau, padahal belum balik modal, padahal dia beru merenovasi bangunan biar bisa memenuhi kebutuhan perusahaan Korea tersebut. Sampai sempat putus asa menyerah akan keadaan. Dua tahun awal bisnis itu dianggap paling emosional. Alhasil berefek hubungan dengan karyawan, manajemen, dan hasil produksi.

Setelah bongkar- pasang pegawai, akhirnya, Wing mendapatkan tim solid bekerja bersama. Ujungnya ya ia mampu memproduksi lebih banyak sarung tangan cantik. Ia menerapkan quality control ketat. Wing cari pegawai dari desa- desa, mereka perempuan yang tidak memiliki pekerjaan tetap, mereka dididik jahit.

Prinsipnya mereka mau kerja diberi pelatihan. Bahkan ia rela mengirimkan mesin jahit ke desa. Mulai lah sistem tersebut berkembang. Dimana perempuan desa dilatih, kemudian desanya dijadikan Wing tempat produksi, ada dua yaitu di Kecamatan Kajoran dan Kecamatan Grabag di Kabupaten Magelang.

"...dan satu lagi tempat produksi di rumah saya," tuturnya.

Kenapa memecah pusat produksi, ternyata ada alasan tertentu, lantaran bagaimana membuat mereka bisa bekerja dekat rumah. Urusan emosi memang wanita lebih rentan. Untuk kendali Wing sudah memiliki sosok tangan kanan.Tidak ada kerja sistem kontrak, mau kerja ya kerja, kalau keluar sudah punya skill.

Bisnis harus kuat


Kenapa bisnis garmen selalu menggunakan perempuan. Dasarnya perempuan telaten, sabar, dan persaaan halus, tentu terbawa ke produk mereka ciptakan. Kalau dikerjakan tangan kasar nanti lekas rusak. Ibarat dia karakter seseorang terlihat dari sentuhan di mesin jahit.

Oleh karenanya, pegawai tidak boleh pindah mesin jahit, satu mesin hanya diperuntukan khusus buat si pemegang sejak awal.

Pasar Wing adalah perusahaan di Korea, mereka bisa meminta label dipasang disini. Lalu perusahaan itu akan ekspor ke Eropa, atau negara bermusim empat lain. Katanya sih dijual di mal- mal besar karena dia memang buat sarung tangan musim dingin.

Si perusahaan Kore akan menjual ke berbagai perusahaan besar, seperti ada Adidas, Nike, dan Sanrio yang punya hak cipta Pororo. Adapula perusahaan alat olah raga lain, Eagle, menawarkan kerja sama langsung buat konsep sarung tangan. Wing becerita konsep sangat bagus, tetapi lebih rumit bila nanti dikerjakan.

Untuk sekarang ini, Wing merasa sangat beresiko, daripada nanti terlalu banyak reject. "...lebih baik saya tolak." Ada 10 jenis sarung tangan dan dikerjakan bertema permusim. Produksi juga mengikuti musimnya, contoh dikerjakan bulan Januari, maka dikerjakan 2- 3 bulan sebelumnya agar sesuai musim dinginnya.

Setiap sarung tangan memiliki perbedaan, baik bahan, material, dan kebutuhan pasar. Apalagi sekarang dia tidak lagi cuma memproduksi sarung tangan musim dingin umum. Kan ada sarung tangan golf, ski, atau aktifitas lainnya, yang tentu bahan berbeda, ada lycra, parasut, dan sebagainya.

Mesin jahit juga disesuaikan bahan. Jika tidak, ketika pergantian kain, satu jenis mesin jahit malah bikin mesin macet, jahitan benang ruwet, lompat- lompat, dan sebagainya. Mangkanya mesin jahit harus beda juga termasuk soal jarum. Pokoknya satu mesin jahit hanya dikerjakan oleh satu pegawai ahlinya saja.

Setiap bulan dia memproduksi lebih dari 5000 pasang. Pesanan tergantung musimnya, contoh lebih detail, sarung tangan golf pada bulan Januari- April, kemudian bulan Mei- Juli ada pesanan dari perusahaan sepatu boot asal Finlandia. Harga jualnya misal sarung tangan anak Pororo harganya mencapai Rp.400 ribu.

Perusahaan sendiri memang tidak menarget produksi besar. Pasalnya melihat pengalaman lebih baik kecil tetapi tetap dan bagus kualitasnya. Sesuaikan dengan jumlah karyawan 60 orang dan 75 mesin jahit, kira- kira bisa berproduksi 5- 6 ribuan lah.

Ternyata sepanjang perjalanan tidak semulus kelihatan. Kerja sama dengan perusahaan Korea sudah tidak lagi. Lantaran makin ke sini, pengiriman bahan makin berkurang dan terlambat, eh ternyata perusahaan itu sudah punya cabang lagi di Yogyakarta. Memotong uang sebagian tidak sesuai kontrak pertama mereka.

Sempat memegang 2- 3 pesanan dari perusahaan berbeda. Kini dia lebih nyaman fokus satu perusahaan rekanan. Untung dia menemukan perusahaan yang sesuai, jadi mereka kerja sama sudah empat tahun jalan, keduanya juga fokus membuka usaha bersama di Yogyakarta.

Wing sendiri ketika ditanya mau gak bikin merek sendiri. Kepada Tabloid Nova, dia memang ingin sekali menjual langsung ke pembeli. Dia juga melihat bagaimana beberapa pegawai masih dibawah UMR. Dia ingin sekali menjual tanpa perantara. Mungkin dengan meningkatkan kualitas produksi dan menjajal pasar lokal.

Memang kalau dijual buat lokal susah. Apalagi bahan baku impor, termasuk bulu dombanya, mangkanya tidak salah jika harga jual dikisaran Rp.400 ribuan. Oleh karena itu, untuk pasar lokal, Wing tengah hitung- hitungan biar produknya bisa diminati siapa saja. Yang jelas menurut Wing sumber daya manusia utama!

Selain menjadi pengusaha, ternyata Wing masih kerja menjadi notaris sejak 2005, dan juga pernah jadi anggota DPRD. Kegiatan lain menjadi semacam pelestari manian tradisional lewat sebuah komunitas di Magelang. Mengurus pegawai sudah jadi biasa, dulu, dia pernah bekerja di Salim Group pada 1991 -an.

Jualan Sarung Pas Lebaran Untung Kodian

Artikel Bisnis Pengusaha Tanah Abang 



Bisnis sampingan paling laku di Lebaran. Mungkin jawabannya bisnis jualan aneka kue kering. Namun, ternyata ada juga bisnis lain, yakni jualan sarung. Contoh sukses gampang kok. Mereka yang berjualan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Salah satunya pengusaha kecil bernama Upi, berbisnis dua bulan sebelum Ramadhan. Kalau bulan puasa ramai, lebaran tuh lebih ramai. Puncaknya ketika lebaran telah usai. Jualannya gampang musiman cuma 2 bulan sebelum Ramadhan cukup.

Meski musiman omzet kok mencapai Rp.300 jutaan. Selama tiga bulan periode tersebut sudah sangat lah cukup. Jualan Upi beragam merek dari biasa sampai terkenal. Penjualan perkodi menguntungkan karena per- kodi dibandrol Rp.900.000/kodi, dan sarung paling mahal per- kodi sampai Rp.2 jutaan.

Sabunan Gak Pakai Air Pengusaha Muda Afrika

Profil Pengusaha Ludwick Marsishane


  
Ketika dia masih duduk di bangkus SMP. Merasakan susahnya hidup di Benua Afrika. Ludwick Marsishane berpikir kenapa sih mandi butuh air. Padahal kita tau Afrika dikenal daerah tandus kekurangan air. Maka ia kemudian kuliah jurusan Ilmu Science di University of Cape Town.

Untung dia bertemu rekan bisnis baik, Lungelo Gumede, dan ketika bisnis mereka mulai berjalan. Mampu menggaet tenaga profesional, seperti Dr. Hennie du Plessis -ahli teknik kimia dan merupakan pimpinan formulasi industri- sebagai ujung tombak. Temuan mereka simple kok tetapi membantu banyak orang.

Awal ingin menciptakan lotion buat tubuh. Itu digunakan sebagai pengganti air mandi dan sabun. Tetapi dia berasumsi sudah ada. Hingga Lud mulai meneliti sendiri apakah ada. "Produk seperti ini tidak ada di luar sana," ia paparkan. Dia lantas belajar dari bahan lition, krim, atau pembersih tangan, agar bisa buat tubuh.

Bagaimana mereka diciptakan. Bagaimana menemukan sesuatu tenpa harus menggunakan air. Bahkan dia sudah merancang tabel formula sendiri. Berlembar kertas berisi teori serta table formula, tetapi apalah daya, Lud tidak memiliki sumber daya. Sayang sekali.

Ide awal


Ide awal memang bagaimana menciptakan mandi tanpa air. Namun, ternyata dibalik ide, ada celetukan dari seorang kawan yang malas mandi. Ketika suatu hari dia dan teman hendak jalan ke pantai. Dengan santai si teman berkata, "adakah seseorang menemukan sesuatu buat badan tetapi tidak perlu mandi."

Inilah ide awal, lampu penerangan terpancar, sebuah "oh" faktor yang dikaitkan dengan populasi Afrika dan dunia yang mana 2,5 juta orangnya tidak punya akses air. Tanpa ada arahan dia langsung membuka banyak hal. Dari halaman Wikipedia dan pencarian Google menjadi rujukan Ludwick agar tercipta sesuatu.

Dia tinggal di pinggiran Kota Limpopo, dimana sumber daya terbatas. Di tempat yang begitu jelek, yah di Afrika, banyak orang sakit karena bakteri kulit bahkan dalam air tenang. Bayangkan jarang air, adapun air bisa membunuh mu.

Bakteri tersebut, melalui kulit meresap ke sistem pencernaan kamu, menyebabkan diare, atau sekedar ada di mata kamu -membuat trachoma, infeksi mata yang bisa menyebabkan kebutaan. Kalau buat tempat yang sudah bersih penemuan Ludwick bisa digunakan sebagai pembersih tubuh aman, dengan atau tanpa air.

Inilah kelahiran bisnis bernama DryBath. Sebelum memasuki perkuliahan, sudah siap- siap dipatenkan, ia menciptakan formulanya sendiri. Dan akhirnya menjadikan dia orang termuda pemegang paten di Afrika. Masalah baru datang karena dia belum bisa memproduksi masal.

Formula sudah ada dua tahun sebelumnya, nah kalau masalah bisnis baru dikerjakan ketika dia masuk ke Universitas. Selepas sekolah menengah, dia dapat beasiswa nih, ke UCT dimana menjadi sumber daya dia menyempurnakan konsep awal. Hingga dia mengikuti lomba kewirausahaan sehingga uangnya jadi modal usaha.

"Itu tidak berhasil seperti saya pikirkan awal," ia melanjutkan.

Dia sudah pengalaman membuat paten -dulu tentang rokok sehat. Kini, dia ingin mengembangkan apa yang dia kembangkan dulu. Memang membuat tubuh wangi dari produk awalnya, namun meninggalkan jejak- jejak kering seperti layaknya ketombe, ketika gel yang digunakan kering.

Ketika itu dia mulai berpikir butuh tenaga ahli. Disinilah peran Dr. Hennie de Plessis ada, seorang teknisi yang sudah berpengalaman di bidang industri perawatan tubuh, hingga memperbaiki formula menjadi sempurna.

Atas sumbangsih dia, maka Lud memberikan saham kepada dia, menjadikan dia salah satu eksekutif di perusahaan bernama DryBath. Kenapa dia mau membantu? Karena Ludwick memiliki passion kuat. Dan mampu menujukan kerja nyata kepada Dr. Hennie.

Dukungan datang karena dia tidak ingin ide hilang. Tidak mau gagal mematenkan, mangkanya rela sekali memberikan data dia pernah kumpulkan. Dr. Hennie kemudian menyempurnakan. Dibantu pengacara yang juga melihat kegigihan dia. Jadilah Ludwick, umur 17 tahun, sudah memiliki paten sendiri buat produk itu.

"Tidak masalah jika Anda Apple, Google atau remaja yang mencoba untuk membuat bisnis T-shirt di perkampungan. Setiap bisnis adalah semangat. Orang tidak benar-benar menyadari bahwa kita semua pergi melalui hari di mana kita benar-benar sadar proses paket produk datang ke rumah, di malam hari, dengan pacar kita, dll ... Jadikan ini sebuah semangat (karena entrepreneurship adalah kerja keras)."

Tahun 2011, Lud menjadi salah satu finalis lomba kewirausahaan, Anzisha Prize. Dimana dia menjadi salah satu entrepreneur muda diantara 15 tahun sampai 22 tahun. Penghargaan seluruh Afrika yang bisa mengangkat namanya sebagai pengusaha di kancah Internasional.

Pengembangan produk


"Ketika kami menciptakan DryBath pada dasarnya kita hanya ingin menciptakan produk pengganti mandi yang sederhana dan tidak membutuhkan air sama sekali ...," jelas Lud, yang baru- baru ini disebut 30 orang muda dibawah 30 tahun yang merubah dunia, oleh Time.

"Jadi pertama kita harus belajar kebersihan dan apa artinya menjadi bersih," ia menambahkan. Awal pikir dia bersih berarti tidak bau. Yah kalau tidak bau berarti bersih bagi kebanyakan orang. Inilah indikator yang dia capai pertama kali.

Bagi orang kulit hitam mandi berhubungan dengan status sosial. Jika orang kulit hitam mandi air panas maka status ekonominya naik. Namun di Afrika kebanyakan mandi menjadi sukar, bukan tidak mau mandi, tetapi masalah sanitasi, kelistrikan, terutama Afrika Selatan membuat mandi bukan masalah utama.

Dari bisnis DryBath, kemudian menjelma menjadi industri kebersihan, Headboy Industries. Nama dari Ludwick menjadi sosok utama dalam perkembangan aneka bisnis. Utamanya menjadi pemain di industri yang pasarnya Afrika dan Asia pelosok.

Sayangnya perusahaan kesukaraan menciptakan produk berharga ekonomis. Tantangan utama pengusaha muda dalam berbisnis. Untuk masalah terget utama mereka mungkin belum terpenuhi. Tetapi mereka masih bisa menghasilkan uang untuk aktifiktas outdoor buat pasaran Eropa sampai Amerika.

Mulai dari camping, traveling, dan festival, maka DryBath adalah solusi, jadi 90% keuntungan perusahaan justru dari target di luar pasar mereka sebenarnya.

Pengalaman akan tinggal di komunitas yang kumuh. Tud membuat konsep paket pakai sendiri, dibanding membuat buat paket besar. Ia berpikir di Afrika, orang beli rokok sebatang, tidak sepak padahal kalau dirunut harga lebih mahal. DryBath dijual 50 cents untuk negara berkembang, dan $1,50 untuk hotel atau pesawat.

Harapan besar seorang pengusaha kepada bisnisnya. Tud berharap ekonomi membaik hingga menurunkan biaya produksi. DryBath belum dijual secara bebas. Tetapi dia tidak pungkiri akan menyebarkan produk itu ke penjuru dunia.

Masa Lalu Kelam Pengusaha Bakso Hitam

Profil Pengusaha Sigit Prihanto 


 
Jadi pengusaha apa batasnya. Hanya langit, jelas Ibu Risma, Walikota Surabaya dalam suatu kesempatan. Ia mendorong siapa saja jadi pengusaha. Menjadi pengusaha tidak boleh minder. Seperti sosok Sigi Prihanto salah satu pengusaha percontohan Surabaya, yang masa lalunya dianggap hitam di mata masyarakat. 

Mantan pemakai narkoba memilih membuka usaha bakso hitam. Aneka usaha bakso pernah dijajaki Sigit hingga ke Malaysia. Penggagas bakso Cokjudes (Coklat Keju Pedas), pernah membuat bakso berbahan daging kijang di Malaysia.

Warga Kembang Kramat II, Surabaya, meskipun dikenal hitam tetapi tidak minder. Ingin jualan yang halal, seperti bakso berwarna hitam, sehitam masa lalunya. Berawal terjebak di Sulawesi 1998, sudah tinggal luntang- lantung, dan sudah 10 tahun meninggalkan keluarga tanpa masa depan.

Ujung- ujungnya, Sigit cuma bisa meminjam uang tetapi bukan buat makan. Dia mengolah uang tersebut jadi usaha menjanjikan. Usaha pertama dijalankan pria 37 tahun ini adalah martabak.

Bisnis terus


Dalam perjalanan dia juga belajar membuat bakso. Keisengan belajar dari seorang teman lantas jadi ladang bisnis. Peruntungan dijajaki ketika ada kesempatan tinggal di Malaysia. Di sana Sigit kembali membuka usaha bakso. Tetapi bukan daging sapi malah memilih bakso daging kijang.

Tahun 2008 dia jualan bakso daging kijang. Pasalnya harga daging kijang lebih murah dibanding sapi. Lalu dia meninggalkan Malaysia. Ketidak puasaan membawa dia kembali ke Surabaya. Sigit kembali berjualan bakso. Daya tarik bakso seolah melekat dalam benak Sigit Prihanto.

Tahun 2010 dia sudah membuka usaha lagi. Selain bersyukur terbebas jerat narkoba. Dia bersyukur berkat usaha bakso bisa kembali ke Surabaya. Kerinduan akan orang tua membawa rejeki tambahan. Bisnis bakso buatan Sigit dimodifikasi ulang mengikuti jejak hitam masa lalunya.

Hidup kelam Sigit dimulai dari pergaulan di jalanan. Diracuni teman hingga memakai narkoba. Tapi juga bukan berarti kita tidak boleh berkawan. Sigit menuturkan memang dia salah karena terjerak buju rayu gratisan. Sejak SD memang Sigit dikenal sudah hidup keras bekerja sendiri.

Sejak SD dia "dipaksa" bekerja keras. "Saya sudah bosan sejak kecil menderita," paparnya. Namun masuk ke dunia narkoba hanya kebahagiaan semu. Dia membantu orang tua jualan es batu, sampai berkeliling buat jualan koran. Di jalan dia bertemu teman yang salah hingga terjebak jeratan narkoba.

Beberapa kali nyawa hampir terenggut. Agar terhindar jeratan narkoba, Sigit memilih cabut pergi ke luar pulau, yakni Sulawesi. Ke Palu tanpa memberi kabar apapun selama 10 tahunan. Sigit bekerja buat sebuah LSM untuk menjaga hutan lindung. Kala itu, tahun 1998, kemudian meminjam uang Rp.5 juta buat usaha.

Bisnis hitam


Mulanya dia membuka usaha martabak. Kemudian membuka usaha bakso setelah di jalaann lama. Belajar dari pengalaman Sigit menjadi lebih memilih dalam pergaulan. Berkenalan dengan sesama pedagang kaki lima dan tergabung dalam komunitas pedagang kaki lima di Sulawesi.

Berlanjut dia pindah ke Malaysia jualan bakso daging kijang. Untung lumayan bisa dibawa pulang kampung membuka usaha sendiri di Surabaya. Dia cuma pakai gerobak bakso biasa. Jualan bakso berkonsep coklat, keju, pedas. Di Surabaya dia ketemu teman lama sekolah, namanya Erika, yang seorang petugas Linmas.

Beruntung dia tidak ditankap. Memang Walikota Surabaya tengah gencar menanamkan kewirausahaan. Ia merangkul pedagang kaki lima lewat bazar Pahlawan Ekonomi, saat itu ada di Kecamatan Sawahan, tahun 2015 silam. Sigit dipilih lantaran cita rasa bakso buatannya beda, semua berkat inovasi tidak monoton.

Di acara tersebut Sigit bertemu Timothy Lee, pendiri desain gravis Keavi, ditantang buat membuat bakso berwarna beda. Kan lagi musim tuh makanan aneka warna mencolok. Entah dapat ide dari mana Sigi lalu membuat bakso pentol hitam.

Caranya dengan teknik pengasapan lewat berbahan aktif charcoal -atau arang bamb Jepang. Si Charcoal sendiri memiliki efek positif bagi kesehatan. Itu akan merangsang pencernaan lebih sehat. Mampu buat menetralisir racun dari pencernaan. Untuk racikan bakso hitam hanya memakai mie putih, touge, dan sawi.

Tidak pakai pangsit siomay atau gorengan. Memang khusus buat pentol hitam saja. Penggunaan coklat dan keju digunakan sebagai pengganti kecap dan saus. Nah, kalau bakso hitam, khusus dibuat dari tangan dia sendiri. Ia tidak mau menyerahkan ke istri karena nanti rasanya akan beda.

Kebanyakan pelanggan sudah tidak pakai kecap atau saus. Bakso hitam sendiri susah buat dibikin. Teknik khusus dibutuhkan untuk membuat warna hitam serta pembulatan. Bisnis bakso menghasilkan untung lumayan.

Bisa sampai Rp.200 ribu per- hari keuntungan dikantungi pengusah satu ini. Kalau bakso hitam beda, dia mampu mengantungi Rp.400 ribu per- hari. Jualannya di Kampus Unesa Lidah Kulon. Di sana dia sudah bisa jualan aman karena punya SIUP, jadi tidak usah takut diusir petugas keamanan.

Tidak mau berhenti cuma jualan bakso. Sigit membuka cakrawala lewat bisnis online. Jualan bakso online dia rambah. Pelanggan datang sudah dari Kota Batu sampai Salatiga. Dalam satu kota mengirimi 40 pack bakso aneka rasa -termasuk bakso hitam.

Pria Ganteng Pengusaha Muda Babe Bakery

Profil Pengusaha Tonny Rusli




Setiap pengusaha punya kisahnya sendiri. Situs pengusaha kami, kali ini, akan bercerita tentang pengusaha muda ganteng. Yang awalnya asisten direktur, memilih mengundurkan diri, hanya untuk membangun bisnis bakery kecil- kecilan. 

Pria bernama Tonny Rusli meskipun pesaing bisnis tepung terigu bermunculan. Tonny mengaku tidak akan gentar. Dia katanya asisten direktur sebuah lembaga pendidikan. Tempat kursus Bahasa Inggris selama 7 tahun. Ia nekat membuka jualan roti saja. Semua karena ibu yang sakit kangker butuh makanan sehat.

Tonny ingin buatkan roti sehat buat sang ibu -dan kemudian menjadi bisnis serius.

"Mama saya suka roti," jelas Tonny. Penyakit kanker payudara memang butuh perhatian serius. Mangkanya roti tanpa bahan pengawet butuh.

Usaha bernama Babe Bakery memang menjual aneka roti sehat. Memang tidak disangka justru tanpa ada "bumbu" tambahan. Justru menarik perhatian masyarakat luas. Alumni Universitas Tarumanegara tersebut memang memperhatikan kesehatan, layaknya kita adalah mamah dia sendiri.

Inilah kelebihan dari Babe Bakery. "Modal hanya sangat kecil, kami hanya membeli peralatan sederhana saja seperti oven, mixer, dan proofer," jelas dia. Tonny tidak sendirian menggarap bisnis. Ia mengajak dua adik ikutan bergabung.

Ia berani menyewa kios kecil. Selama tiga bulan mereka menyadari tempat tidak strategis. Dalam kurun waktu empat bulan mulai berkembang. Tonny tidak salah memindahkan tempat usahanya. Bisnis berslogan roti lembut,enak, sehat, dan tanpa pengawat, pelanggan pertama mereka adalah teman sekantor Tonny.

Bukan sekedar jualan roti


Empat bulan berjalan bisnis Tonny naik daun. Cepat, begitulah orang akan bilang ketika bisnis tersebut bis tumbuh. Dari satu gerai menjadi empat gerai berbeda. Gerai pertama dibuka di Puri Kembangan, lalu ia membuka satu lagi dulu di Jalan Wolter Mongsindi, Bandar Lampung, dan seterusnya sampai empat buah.

Tiga toko pertama sudah memiliki 30 karyawan. Untuk yang ke empat baru tahap pembangunan. Cuma ada 3 cabang sudah menghasilkan omzet Rp.270 juta. Rencana ke depan mau buka sampai ke Jakarta dan juga daerah lainnya.

Ingin rasanya membuat semua orang menikmati roti sehat mereka. Visi dan misi bisnis pengusaha muda berkacamata ini, adalah bagaiman merangkul mitra menyebarkan roti sehat tanpa pengawet. Banyak sudah inovasi rasa dan bentuk dia kembangkan. Kunci sukses meyakinkan pelanggan kualitas roti akan terjamin.

Memang banyak pengusaha roti di luar sana. Namun dia tidak merasa lemah karena pasar ketat. Justru ia lebih bersemangat menunjukan perbedaan. Bukan soal rasa enak ditawarkan tetapi mengedukasi pasar. Dia mau mengajarkan tentang roti sehat.

"...ketika tidak laku, kami akan tarik, setiap pagi selalu ada roti fresh," ia menambahkan.

Bagaimana agar orang tertarik. Ya melalui membagikan taster gratis di tempat- tempat ramai, seperti hal di sekolah, rumah ibadah, sampai ke bank. Inovasi dilakukan sejalan Tonny suka makanan enak. Hobi dia berburu makanan diaplikasikan: Seperti roti crunchy ovomaltine, smoke beef blanket, dan Mexico salted caramel.

Tips sukses pengusaha muda: Jangalah takut memiliki mimpi memulai usaha. Jangan takut memulai jika kamu belum tau akan berhasil atau tidak. Sukses bukan instan tetapi berani berinovasi. Contohnya adalah dia berani membagikan taster gratis yang mungkin merugikan keuangan usaha.

Mendirikan Usaha Seorang Diri Tanpa Bantuan

Profil Pengusaha Iwan Suprianto 



Meskipun mabel bambu cuma bertahan lima tahun. Bisnis Iwan Suprianto tetap mengemari. Ia ingin mengembangkan agar lebih efekti. Karena, di sisi lain, dari pohon bambu sendiri lebih gampang tumbuh kembang. Sukses Iwan bermodalkan kesederhanaan dalam desain yang minimalis. 

Harga murah namun dapat dijadikan aneka benda bermanfaat. Iwan mengolah tanaman menjulang tersebut. Aneka benda kerajinan dapat tercipta. Aneka furnitur unik klasik dapat dibentuk. Memang butuh ketekunan ekstra karena tidak gampang. 

Kerja keras Iwan sudah dimulai sejak tahun 1991 -an. Empat tahun bekerja di perusahaan mabel menjadi bekal. Iwan mantab membuka usaha mebel sendiri. Bermodal 150 ribu di saku, dia mulai membuat mabel bambu sederhana. Caranya mengumpulkan bambu gelonggong dirakit menjadi satu. 

Namun cara sederhana tersebut tidak tahan lama. Jualan mulai laku. Sementara serbuan mabel asing terus masuk. Agar bertahan kala itu, Iwan harus berinovasi dari segi desain dan ketahanan. Iwan mengklaim dia mampu membuat furnitur bambu awet selama 10 tahun hingga 15 tahun.

Usaha miliknya berkembang. Tahun 2000 Iwan menamai usahanya menjadi DK Milenium. Bisnis yang sudah berbadan tersebut mulai digalakkan. Nama Milenium diambil bertepatan akan isu unik. Tahun baru yang disebut tahun milenium -menyongsong tahun 2000 -an, dan meninggalkan dekade 1000 -an.

Iwan tidak mempekerjakan siapapun. Tanpa bantuan mendirikan usaha. Lewat tangan kreatif, bambu yang terkesan tua, sudah menjelma menjadi furnitur modern. Unsur klasik masih terasa tetapi dari segi desain sudah beda. Sudah tidak ketinggalan jaman karena Iwan sadar kelemahan bambu.

Masih menonjolkan kesan etnik. Ia sekarang mempekerjakan delapan orang karyawan. Menjual dua jenis bambu, yaitu bambu standar dan kualitas tinggi. Iwan juga merangkul perajin bambu lainnya. Usaha tidak dijalankan seorang diri lagi. Harga dipatok Rp.2,5 juta- 4 jutaan, yang mana produk kualitas tinggi.

Untuk biasa dihargai antara Rp.1- 2 jutaan. Dan bisnis dikembangkan Iwan beromzet Rp.25 juta per- bulan. Setiap bulan paling tidak menjual 5 buah set- furnitur bambu. Pemesan terbanyak datang dari Pekalongan, lainnya ya standar saja atau musiman.

Mengembangkan bisnis dia mengikuti aneka pameran. Target Iwan memasuki pasar Kota Jakarta. Dia juga membuka showroom sendiri di bilangan Matraman. Meskipun sudah ada showroom tetap tidak puas. Ia memang pengusaha sejati tidak mudah puas. Ingin sekali rasanya mampu mengirim sampai pasar ekspor.

Kesulitan meningkatkan kualitas produk masih dirasa. Masih butuh peralatan modern menunjang usaha ia tengah jalankan. Pokoknya dia terus berusaha agar maju. Apalagi tujuan tengah dia capai ialah menjual ke pasar ekspor -sampai ke luar negeri lah. "Mudah- mudahan dalam waktu dekat bisa ekspor," paparnya.

Sulam Usus Bisnis Mewariskan Budaya Lampung

Profil Pengusaha Siti Rahayu 



Hidup sebagai ibu tunggal membuat Siti Rahayu sempat goyang. Lantaran suami yang dicintainya, Andi Supandi, meninggal kan dia bersama anak- anak. Sebelum suami meninggal, Rahayu memang sudah gemar membuat kerajinan tangan. Lewat Rahayu Gallery Lampung mencoba mempopulerkan hobi uniknya.

Awal dia membuat aneka sulam tapis. Kemudian ibu empat orang anak ini melihat potensi sulam usus. Kan Lampung dikenal akan teknik sulamnya. Apalagi nama sulam usus tidak setenar teknik lain. Melalui usaha sulam usus dia mencoba mengisi kekosongan ketika sang suami pergi -untuk selama- lamanya.

Bisnis sulam


Tuntutan ekonomi makin berat, ketika 1997, sang suami meninggal. Tahun berikutnya yakni 98' terjadi krisis moneter. Nah waktu menjalankan bisnis sulam usus. Rahayu tengan merintis tepat ketika krisis itu tengah bergejolak panas. Beruntung bisnis sulam usus dijalankan tidak goyah. 

"Itu masa berat bagi tante," ujar pensiunan Pegawai Neger Sipil itu.

Meskipun sedih bercamput getir tetap berusaha. Kecintaan akan teknik sulam membangkitkan semangat. Ia semakin semangat ketika orang lain terdampak. Didukung nama besar sang kakak, Aan Ibrahim, yang dikenal sebagai desainer terkenal mencoba memasukan bisnis sulam usus.

Bertahap dia mulai membangun bisnis. Dibantu banyak ibu- ibu dan anak muda asal Lampung. Sulam usus menjadi usaha bersama. Ia seolah memberikan harapan bagi mereka yang kehilangan pekerjaan karena di PHK.

Wanita kelahiran Pagardewa, 10 Oktober 1957, juga merupakan anak seorang master jahit. Jadilah dia dan Aan Ibrahim klop kompak bisnis fasion. Keluarga mereka dikenal sebagai pesulam usus kenamaan asal Lampung. Namun dia baru benar berbisnis ketika kebutuhan menghimpit keluarga kecilnya.

Kakak Rahayu memiliki prespektif diluar keahlian Rahayu. Dia selalu menganggap sulam usus lebih punya potensi lewat fasion modern. Jadilah keduanya berkolaborasi bersama. Bisnis sulam usus menelan biaya Rp.20 juta tetapi omzetnya mencapai Rp.50 juta per- bulan.

Sulam usus tidak selalu monoton berkesan mahal. Bisa dijadikan akesoris lewat sarung bantal, tapak meja, alas piring atau biasanya yang mahal dijadikan kebaya. Pengunjung datang ke galerinya sekarang, paling tidak merogoh kocek 500 ribu sampai puluhan juta.

Macam motif seperti ukel- ukel, sulur, dedaunan, harga juga bervariasi. Mangkanya bisnis sulam usus bisa dibilang sama seksinya dengan tenun atau batik. Karena proses pembuatan yang sulit, pantas kalau harga bisa sangat mahal, apalagi kalau media sulam besar bukan sekedar taplak.

Bisnis berlanjut


Proses pembuatan terkadang Rahayu akali. Kalau- kalau dia membuat bahan kombinansi harga bisa sampai Rp.700 ribuan. Sulam berarti dikerjakan sangat detail, ia mengatakan tidak boleh emosional terburu- buru. Haruslah cermat agar sulaman rapih membentuk motif menarik.

Sukses Rahayu menurutnya karena pelanggan setia. Mereka tidak bisa meninggalkan sulam usus miliknya. Kualitas tinggi memang diandalkan Rahayu, tidak ada pilihan lain. Banyak pejabat dan sosialita memilih menjadi pelanggan Rahayu. Kain diubah bahkan menjadi gaun penganting menawan buat dipamerkan.

Untuk pelanggan setia cukup pesan lewat telephon sudah. Aneka kerajinan lain meliputi bed cover, hiasan dinding, juga sarung tapis. Yang paling mahal adalah pembuatan gaun pengantin. Terbuat dari kain kebaya senilai Rp.2 juta sampai Rp.8 jutaan, yang diatasnya ditaburi batu swarowski.

"Ada rupa, ada harga," jelas Rahayu.

Penjualan juga sudah merebak sampai ke pasar- pesar sekitar. Juga sudah masuk ke pasar Malaysia- Singapura juga loh.

Menggunakan prinsip binaan bisnis Rahayu berjalan. Dia berharap para wanita terinspirasi melestarikan budaya sulam Lampung. Pengen setiap ibu muda putus sekolah, remaja putri, bukan sekedar duduk- duduk tanpa melakukan kegiatan bermanfaat di rumah.

Untuk bahan dia beli dari Jakarta karena lebih murah. Sulam usus dibuat dari pilinan kain satin, dirangkai dengan jaring berbentuk jaring- jaring. Kemudian dihiasi payet- payet nan- indah memanjakan mata. Ia mengatakan pembuatan bisa sampai dua hari sampai dua minggu.

Pengusaha Dulunya Sangat Miskin Merantau di Lampung

Profil Pengusaha- Pengusaha dari Nol 


 
Sukses tidak harus ke Jakarta. Banyak orang tertipu oleh gemerlap ibu kota. Sementara di Jakarta orang datang hidup susah tetap susah. Di sini, daerah Lampung semisal, orang datang jika mampu bertahan hidup susah maka akan sukses. Apalagi mereka mengikuti program pemerintah transmigrasi.

Berikut kisah orang sukses tanpa bantuan. Mereka datang ke Lampung sebagai pendatang. Tanpa modal ataupun tanpa dukungan pemerintah. Namanya Lulut, Lesung, dan Suratmin, orang Magetan, Jawa Timur, kemudian jadi saudagar Lampung.

Tidak disangka Lulut, pria umur 55 tahun, dulu pernah tiduran di emperan. Sekarang Lulut bergelar Haji karena keuletan, kejujuran, dan kerja keras. Kini, dia memiliki kios di Pasar Terminal Induk Pringsewu, merupakan anak ketiga dari sembilan saudara. Dia memang terlahir dari keluarga sangat tidak mampu.

Nekat merantau


Pemuda asal Desa Karangrejo, Kecamatan Kawedanan, Kabupaten Magetan, di tengah ekonomi keluarga super sulit mau melakukan apa. Solusi Lulut tidak lain hanyalah merantau ke kota. Nekat dia berangkat ke Lampung dengan uang minim.

Sejak tiba di Lampung tidak ada saudara ditumpangi. "Tidur di emperan pasar hanya beralaskan kardus," ia melakoni itu mulai 1973- 1976. Sekitar tiga tahun tersebut ia kerja jadi buruh. Bukan buruh sekarang yang gajinya Rp.2 jutaan. Lulut menjadi buruh pengemas sayuran berupah Rp.25 per- karung.

Lelaki yang cuma tamatan SMP tersebut, lantas ketemu Sukati, wanita 55 tahun yang juga hidup sangat miskin seperti Lulut. Keduanya nekat menikah hingga hidup makin sulit. Sukati sendiri juga perantau dari Jawa, menjadi buruh juga di pasar sama. Sukati sendiri biasa tidur di pasar beralas ala kadarnya.

Sesudah menikah hidup mereka makin susah. Tidak cuma menerapkan konsep "Jipe Jinggo", atau baju yang dipakai satu, satu lagi dicuci kering kemudian dipakai lagi dan satunya dicuci. Makan sehari- hari pun juga cuma makan pisang sisir direbus. Mereka cuma bisa bekerja keras serta bertawakal mengumpulkan uang.

Hasilnya mereka punya rumah sendiri sekarang. Mereka punya kios jualan hasil bumi. Omzet dicapai oleh Lulut mencapai Rp.20 juta sehari. Bayangkan sekarang mereka bahkan punya mobil.

Kisah lain diretas pria bernama Lesung Sudarsono. Pria yang kini menginjak umur 55 tahun. Dikenal juga jadi saudagar kaya padahal cuma lulusan SD. Merupakan kelahiran Desa Nguntolonadi, Takeran, Magetan. Yang merantau ke Lampung juga berbekal minimal. Juga pernah dia merasakan dingin tidur di lantai pasar.

Dia bekerja sebagai buruh angkut. Sudah rantau ke Lampung sejak 1980 -an dan enam tahun sudah tidur di pasar. Lesung bekerja bisnis dari Haji Sarkun. Karena cerdik, tekun, jujur, dan kerja keras, Lesung berubah menjadi pedagang hasil bumi di Pasar Pringsewu.

Jualannya sukses, dia sudah punya rumah kos, sarang burung walet, dan sawah sangat luas. Untuk hobi, dia menekuni bela diri, dan mendirikan padepokan silat Persaudaraan Setia Hati Teratai, yang merupakan cabang perguruan silat asal Jawa Timur

Lesung sama halnya Lulut juga menangis. Terharu mengingat perjuangan menggapai keadaan sekarang. Dia pamit merantau kepada ibu. Dalam sungkem dia menangis bersujud meminta restu. Ibu tidak rela kalau ia merantau ke tempat jauh. Tetapi tekat merubah nasib begitu bulat berada dibenak Lesung.

Kemudian ada kisah dari Suratmin, pendatang asal Gorang Goreng, Magetan. Dimana ia sudah merantau sejak  Merantau sejak 1990 bermodal uang Rp.250.000. Uang tersebut digunakan ongkos bus, kemudian sisa baru dijadikan modal usaha, sederhana kok usaha dijalankan Suratmin.

Dia jualan sayur- sayuran, seperi ada bawang merah, kol, cabai, dan kacang- kacangan. Awalan cuma jualan sayuran dengan jumlah sedikit. Jualan sayuran sekedar 10- 20 kilogram. Kalau sekarang ya jualan sudah mencapai puluhan kuintal sehari.

Omzet sampai Rp.30 juta seharian, bahkan Rp.60 juta jika masuk musim Lebaran. Meskipun rindu pulang kampung, dia mengaku tidak akan tinggal di Jawa. Apalagi harus meninggalkan kerjas keras selama ini di Lampung. Walaupun dibayari sejuta sehari tidak mau meninggalkan kerja keras.

Pengusaha Muda Dari Nol Bisnis Batik Kartun

Profil Pengusaha Garina Irmayanti 



Pengusaha muda dari nol tersebut bernama Garina Irmayanti. Umur baru 22 tahun, tetapi sudah memutar uang senilai Rp.100 juta. Rahasia bisnis Garina ternyata adalah batik. Dia mengambil inisiatif dikala naik pamor batik Indonesia. Bukan perkara mudah karena mahasiswa aktif ini akan hadapai banyak pesaing.

Mahasiswa Universitas Airlangga, Surabaya, masih aktif kegiatan perkuliahan. Sembari itu dia memiliki pandangan ke depan. Berwirausaha menjadi pilihan. Kalau dulu kan batik terkenal buat pakaian formal. Ia mencoba merasuk lebih dalam. Dari sekedar pakaian keseharian lebih dalam lewat aneka motif berbeda.

Garina pun tidak sekedar membatik. Ia berlatih menjadi pembatik tulis sejak Juli 2010 silam. Aneka kaos batik memang sedang populer. Ia ingin mengambil langkah beda. Batik Garina menampilkan aneka batik tulis bermotif kartun, animasi, dimana ditabrak motif bunga dan binatang pada batik tradisional.

Bisnis Garina dimulai lewat menjadi reseller. Kalau dulu, dia menjual kembali aneka tas batok kelapa, kalau sekarang memproduksi sendiri. Bisnis ditekuni gadis berjilbab tersebut memang tidak jauh dari kesan etnik. Garina,  gadis manis berjilbab, menciptakan sendiri batiknya lewat belajar sendiri.

Jualan aneka souvenir dan tas batok kelapa. Uang didapat dijadikan modal usaha. Kurang, Garina memilih meminjam ke ayah Rp.3 juta. Tentu agar bisa membayar hutang tersebut. Garina lebih giat belajar batik dan mulai bekerja karena itu amanah!

Awal usaha pasti kesusahan. Ponta- panting Garina mencoba memasarkan produk. Kesulitan membacar apa kesukaan konsumen. Membuat batik bikinan Garina tidak sempurna. Lewat blog, dia mencoba buat langsung memamerkan desain, dari sana lah, ia menemukan cita rasa kegemaran pembeli dari desainnya.

Disisi penjualan memang dirasakan sulit. Namun dia bisa melewati hal tersebut seiring waktu. Hanya saja, masalah kembali tiba justru ketika usahanya mulai naik. Permintaan akan barang dagangan tidak diimbangi oleh jumlah pegawai. Susah mencari tim kerja yang sepandangan tentang bisnis batik tengah ia geluti.

Ada kesusahan sendiri ketika membatik di atas kaos polos. Proses tidak mudah. Diawali gambar desain lewat pensil. Dititik pakai malam kemudian barulah diwarnai. Harga jual berdasarkan ukuran yakni kaos anak Rp.85 ribu, dan kaos dewasa dihargai Rp.130 ribuan, tutup gadis kelahiran 20 Juni 1990 ini.

Emping Melinjo Sehat Bebas Penyakit Bantul

Profil Pengusaha Sukses Sukati 



Ibu bernama Sukati kemudian menceritakan kisah suksesnya. Orang bilang sukses tidak perlu mahal. Inilah sukses Sukati, seorang pengusaha emping melinjo, berkat usaha sederhana mampu mensekolahkan anak sampai lulus sarjana. Diawali rasa prihatin atas melimpah ruah biji melinjo di kampung halaman.

Warga Dusun Tegalkenongo, Desa Tirtonirmolo, Kec. Kasihan, Kab. Bantul, yang merasa kok banyak ya melinjo berceceran. Tidak dimanfaatkan secara maksimal. Hanya jualnya rendah sekali. Kesempatan buat Sukati membuat perubahan pada bisnis melinjo lokal.

Dia kan asi Wonogiri, Jawa Tengah, nah di tempat asalnya, buah melinjo diubah menjadi emping. Buah si melinjo dijadikan emping dan harganya jauh lebih mahal. Dia hanya mencoba membuat apa yang sudah ada di luar, tetapi tidak di lokal. Usaha dijalankan pada tahun 1980 silam berjalan lancar.

Tahun 80 -an itu, melinjo dihargai Rp.1000 per- kg, dan ketika dia bikin emping harga Rp.3000 per- kg. Laris manis jualan Sukati terutama ketika Lebaran tiba.

Uang Rp.3000 itu banyak jaman dulu. Penjualan cukup sekitar rumah saja. Atau ada pedagang yang datang mengambil buat dijual lagi. Tahun 2000 -an, bahan baku malah naik sampai Rp.60 ribu per- kg. Mangkanya dia tidak cuma membutuhkan dari lokal saja.

Cari sampai keluar Bantul, sampai ke Kulonprogo dan Sleman. Dia sudah punya penjual langganan. Sehari dia memproduksi 500kg permintaan. Bahan baku mencapai lima kilogram setiap kilogram untung sampai Rp.1000. Jika sebulan laku 150kg dikalikan saja Rp.1000, atau hasilnya sampai Rp.150.000.

Ia mengatakan emping melinjo miliknya beda. Karena rendah purin, maka tidak masalah dikonsumsi oleh penderita asam urat hingga darah tinggi. Ia berani kerja sama dengan Universitas Ahmad Dahlan sampai bisa menciptakan emping melinjo. Emping melinjo rendah purin dihargai Rp.90 ribu per- kilogram.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba