Solusi Teknologi Pendidikan Ditangan Disleksia

Profil Pengusaha Kopf Bersaudara


 
Anak disleksia bukan beban tetapi berkah buat kamu. Beberapa pengusaha dunia tercatat memiliki disleksia. Ambil contoh pendiri Virgin, kemudian Apple, Ikea, Tommy Hilfiger, dan juga HP, adalah sosok anak- anak disleksi sukses. Mereka benar terseok- seok menghadapi hidup. Tetapi mereka bisa selama sosok orang tua selalu mendukung.

Mereka terlahir untuk berjuang, maka kamu wajib mendukung mereka. Mental mereka lebih kuat dibanding kita orang normal. Kisah lain yaitu kisah Brett Kopf,  mungkin namanya belum sebesar mereka, tetapi ia jadi salah pengusaha muda perubah dunia. Bahkan Forbes secara khusus membahas dirinya dan juga saudarnya, David Kopf.

"Ketika saya memulai sebuah perusahaan, saya berkata pada diri saya sendiri, jika saya tidak bisa membuat Ms. Whitefields sedunia lebih efisien dan membantu mereka sebagai guru, itu seharusnya akan menghasilkan ledakan besar dalam dunia pendidikan," papar Brett.

Pemuda 27 tahun yang sampai sekarang merasa "minder". Tetapi perasaan tersebut dirubahnya menjadi satu semangat perubahan. Dia pendiri Remind101. Brett adalah anak penderita disleksi ketika sekolah. Bahkan ia menderita ADD dan itu semakin sulit buat fokus. Bayangkan, dia sangat aktif tetapi ketika mengerjakan soal butuh waktu berjam- jam.

Dia duduk sendiri dalam kelas tertinggal. Ia harus mencari tombol fokus ketika mengerjakan. Mungkin satu mesin bisa menolong dia membaca sampai akhir buku. Coba bayangkan dia cuma membaca secara jelas di bagian awal kalimat. Ini termasuk kesulit dalam mengumpulkan tugas sekolah.

Hingga ia bertemu guru bernama Ms. Whitefields di sekolah. Berkat perhatian serta dukungannya membuat Brett menjadi percaya diri. Dia akan duduk berjam- jam bersama Brett selepas sekolah. Ms. Whitefields itu dengan sabarnya mengoreksi pekerjaan Brett. Memiliki hubungan dengan guru yang pengertian dan perhatian membuat nilai Brett naik drastis.

Tetapi semua berubah ketika masuk kuliah. Dan, Brett sudah memiliki visi sendiri tentang masa depan, yakni sebuah aplikasi komunikasi kelas. Ia mencoba menciptakan itu. Sedikit- demi sedikit lewat kerja yang ekstra keras bersama mengerjakan kuli silabus. Kesibukan, tekanan sekolah membuatnya makin jelas, dia butuh satu sosok perhatian seperti gurunya itu.
 
Ia lantas bercerita kepada David Kopf. Nah, si saudaranya inilah, yang lantas membuatkan sistem sederhana modal Excel- Base (basa pemrograman) berbentuk SMS notifikasi. Sistem itu mengirimkan pesan SMS kepada Brett ketika akan ujian atau tugas kuliah. Melalui program itu dua bersaudara ini mampu mengajak kurang lebih 2.000 anak kuliahan di tahun 2010.

Mereka berterima kasih atas layanan mereka. Tetapi selepas dua tahun, pertumbuhan berhenti dan mereka Kopf bersaudara meras itu tidak akan mencapai apapun. Mereka memutuskan menghentikan proyek. Tapi mereka masih percaya akan kebutuhan aplikasi komunikasi kelas. Jadi mereka mengikuti incubator untuk proyek startup edukasi Imagine K12.

Mereka menemukan beberapa kesimpulan: Bangun lah produk sederhana, bicara lah dengan pengguna, dan selesaikan masalah mereka.

Untuk menciptakan produk lebih baik serta layanan sempurna. David mulai lewat belajar coding, mengurung diri di kamar selama 16 jam setiap hari. Sementara itu Brett bertugas mengunjungi guru- guru dan mulai ikut mendengar apa kebutuhan mereka. Ia bahkan mencari ratusan orang lewat Facebook dan Twitter. Brett memang bukan guru jadilah kesempatan membangun komunikasi di kelas.

Aplikasi sempurna


Brett menemukan fakta bahwa guru masih menggunakan cara kuno. Contohnya, beberapa guru, menempel stiker pengingat di bahu anak "pekerjaan rumah besok". Dari situ muncul ide pengingat pekerjaan rumah bagi siswa. Awalnya, David tidak begitu masuk kepada konsep Brett ini. Hingga ia didengarkan langsung Brett melakukan panggilan Skype dan mulai berbicara dengan beberapa guru tentang konsep aplikasi baru milik mereka.

"Brett memegang kertas dengan tiga kotak, menjelaskan jika anda menekan ini, ini akan begini. Dan para guru mulai berteriak! Mereka mengatakan, 'Oh Tuhan, jika hanya anda bisa melakukan itu...," tutur David.

Jadi di awal 2013, Kopf bersaudara merilis aplikasi mobile mereka bernama Remind. Ini ditujukan buat para guru dimana mereka bisa berkomunikasi langsung -mengirim pesan kepada murid. Jangkauan juga mencapai tidak hanya mengingatkan pekerjaan rumah, tetapi ujian juga, dan bahkan konfrensi wali murid. Atau, guru juga bisa mengirim pesan teks atau suara 15 detik motivasi.

Guru juga bisa melakukan survei kecil- kecilan. Murid bisa memberikan respon guru seperti saran kemana kita harus jalan- jalan. Ini menciptakan tempat komunikasi langsung antara guru, murid, bahkan orang tua, jadi semua orang bisa ambil bagian saling membantu.

Jadi semua orang bisa saling membantu efektif. Semenjak diluncurkan aplikasi ini benar- benar meledak. Di September 2013 saja, Remind sudah punya enam juta pengguna aktif serta kurang lebih 65 juta komunikasi tercipta. Sekarang, Remind mengaku punya 18 juta pengguna di seluruh negara, yang mana 25% -nya guru di penjuru Amerika.

Bulan Agustus 2014, menurut Business Insider sudah bertambah 365.000 pengguna baru per- hari, langsung membuat aplikasi Remind menjadi top 3 paling banyak didownload di iOS AppStore. Ada 50.000 orang yang mendaftar per- harinya dan miliar pesan -tanpa marketing khusus apapun. Karena hal inilah, banyak VC tertarik mendanai aplikasi Remind, dimana total dana terkumpul mencapai $59 juta.

Secara garis besar, sepintas, memang Remind terlihat sederhana dan sudah banyak aplikasi menggarap sisi mereka. Semua orang bisa meniru sistem mereka. Tetapi bukan uang tujuan utama, selain itu Remind telah didukung data ilmiah dibaliknya. Ini kesuksesan industri teknologi bukan berbasis uang semata. Mereka telah punya banyak data feedback dari guru, orang tua dan murid.

Faktanya, Remind sudah mempekerjakan banyak teknisis asal Facebook sebelum sukses sosial media, yang tangguh jika berbicara tentang aneka data sosial media. Kopf bersaudara menekankan buak soal uang. Ini diyakinkan lewat jarangnya eksploitasi akan fitur premium. Mereka lebih fokus kepada dasar fiturnya yakni tentang koneksi semua murid, guru, dan orang tua untuk dunia pendidikan lebih baik.

"Kita hidup di hari di mana anda dapat mengklik tombol dan memanggil Uber, atau mendapatkan pizza disampaikan dalam dua menit. Tetapi jika anak anda gagal di sekolah, anda tidak mungkin menemukan selama tiga bulan," jelas Brett Kopf. "Dan kami ingin mengatasi masalah tersebut."

Profil Feny Mustafa Pemilik Toko Shafira Zoya

Pencetus Baju Muslimah Indonesia


 
Tertarik akan fashion hijab adalah mutlak. Bagi Feny Mustafa, sejak muda adalah satu kesenangan berjualan aneka pakaian muslimah. Sosok Feny menjelma menjadi desainer fashion muslimah. Kepekaan akan fakta bahwa wanita muslimah Indonesia masih dibatasi tumbuh. Langkah wanita 25 tahun (saat itu) jadi semakin mantap mengerjakan bisnis ini.

Visi -nya mulai jauh kedepan yakni mensyiarkan Islam dan mensuport wanita Indonesia berhijab. Ide awal itu ketika mengikuti kerohisan ITB. Dia prihatin akan wanita muslimah kesulita berhijab. Waktu itu tentu belum banyak pilihan bagaimana mengenakan hijab yang baik. "Pada saat itu, jilbab tidak se- booming sekarang," kenang Feny.

Feny memang pandai bergaul. Tak ayal mampu menggaet perhatian banyak teman. Ketika ia membutuhkan modal awal maka disanalah teman. Mereka rela meminjamkan uang meski sendiri masih diberi orang tua. Ia lantas menekankan bahwa bisnis Shafira bukan atas dasar materi. Ini merupakan bentuk syiar dirinya lewat media fashion muslimah.

Momentum Shafira dinilai tepat merespon keresahan masyarakat. Alhasil, bisnis Feny bisa melejit, akhirnya bisa membesar dan membuka lapangan kerja baru.

Karyawan mepet


Modal mepet begitu pula karyawan cuma 1- 2 karyawan. Feny mulai "meminjam" uang teman dan keluarga dari yang Rp.200 ribuan, sampai Rp.1 jutaan, hingga terkumpul Rp.12 juta. Uang tersebut Feny gunakan untuk membuka toko. Ia masih ingat betul bagaimana ibu maupun teman- teman patungan berbisnis. Hasilnya jadi berkah karena permintaan akan busana muslim terus meningkat.

Hingga, ia memutuskan menyewa jasa profesional dibidang fashion. Mereka membantu Feny mewujudkan konsep Shafira lebih matang.

"Dengan bekal Bismillah, saya masih bisa menikmati hingga saat ini," sambungnya.

Ketekunan 25 tahun membawa keberkahan. Buah kesabaran itu terbayar lewat 24 gerai miliknya. Perjalanan terus berlanjut hingga lahir brand Zoya yang punya 140 toko di seluruh Indonesia. Seperempat abad sudah dirinya fokus mengerjakan bisnis ini. Banyak hal tidak menyenangkan ketika menjalankan bisnis. Ia mengakui hal tersebut dan membutuhkan orang- orang terdekat.

Ia memberikan saran bagi pengusaha muda pakain muslim: Jangan berpikir manisnya saja ketika kamu akan memulai bisnis. Usahakan berpikir bagaimana terus menjalani usaha. Masalah terbesar dihadapi mungkin, ia menyebutkan tentang plagiator dan tren bisnis ikut- ikutan. Inilah mengapa brand miliknya selalu melakukan rangkain inovasi.

"Kita juga harus kreatif, jangan sampai loyo di tengah jalan. Karena, kalau kita sudah mentok nanti, koleksi kita akan ketinggalan zaman dan kurang diminati pasar," saran Feny Mustafa kepada pengusaha muda.

Bisnis busana muslim memang menjanjikan. Pasalnya hanya satu model bisnis saja, pengusaha bisa produksi banyak varian produk, seperti hijab, busana, atasan- bawahan, dan aksesori pendukung lain. Saran lain adalah kepekaan akan tren dan minta pasar.

Moto bisnis Feny tersirat adalah kepercayaan. Antara dirinya sebagai pengusaha serta pegawai dibawah satu manajemen. Karyawan dipastikan tau berapa untuk perusahaan dan berapa bagian mereka. Semua jelas ia jabarkan hingga karyawan tidak masalah. Pengelolaan Shafira dan Zoya kini telah dipegang oleh tangan- tangan muda para eksekutif muda.

Meski begitu, Fany tidak lepas tangan, bahkan memberikan pelajaran akan pengalaman. Ia juga masih aktif berkeliling Eropa, khususnya Paris, Amerika Serikat, tujuannya melihat tren busana dunia. Dia masih melihat menjadikan mereka barometer perkembangan bisnis Shafira dan Zoya. Ibu dua anak ini juga membidik pasar dunia maya lewat toko online www.zoya.co.id.

Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Tepat menggambarkan perjalanan wanita ini tentang keluarganya kini. Ia menjelaskan anak keduanya mulai memperlihatkan bakat bisnis. Si anak bungsu tertarik mengerjakan bisnis seperti bundanya. Padahal Feny tidak secara khusus meminta  mengikuti jejaknya. Ia lantas bercerita suatu ketika ia pernah bertanya, "mau jadi apa?"

"Mereka bilang, saya mau jadi pengusaha dan punya bisnis seperti ibunya. Padahal, saya enggak nyuruh mereka atau kasih arahan jadi pebisnis, mereka sendiri yang ingin," tuturnya. Semangat anak membawa dia semakin bersemangat berbisnis.

Dia berpikir tentang masa depan bisnis untuk anak- anaknya kelak. Tetapi Feny tidak mau memaksa mereka belajar tentang bisnis khusus. Kalau mereka mau, yah, ia siap mengajarkan pengalaman serta ilmunya. "Nanti kalau dia sudah matang dan dewasa, baru saya beri masukan dan arahan, kalau sekarang masih pada kecil," tutup Feny.

Aplikasi Pembantu Rumah Anda Alfred

Profil Pengusaha Marcela Sapone dan Jessica Beck 


 
Mereka berdua baru saja lulus kuliah Harvard University. Arti kelulusan berarti membawa mereka ke dunia finansial sebenarnya. Tetapi Marcela Sapone dan Jessica Beck memilih melanjutkan pekerjaan mereka. Yah mereka sudah memulai itu semenjak bangku kuliah. Bukan tentang keungan tetapi tentang teknologi. Mereka merupakan pendiri startup Hello Alfred.

"Saya bekerja berjam- jam lamanya dan datang kembali ke apartemen yang itu sangat berantakan," Sapone bercerita kepada Business Insider.

Beck dan Sapone sadar tentang berantakannya bekerja keras. Dan, apakah mereka mempunya solusi untuk itu semua. "Jess seorang super, orang yang super berantakan, dan tidak akan pernah mengundang saya ke apartemennya," jelas Sapone. Hingga akhirnya dia bisa berkunjung ke rumah kawan karibnya tersebut.

Dalam delapan bulan sejak berkunjung, ia menemukan tumpukan cucian kotor dan itu seluas meja di dapur apartemen. Dia merasa ini sangat gila. Ini akan sulit hidup dengan cara begini tanpa bantuan orang. Akhirnya mereka menyewa jasa melalui iklan Craigslist. Orang itu akan datang ke rumah mengerjakan cucian dan juga membeli belanjaan mingguan.

Wanita yang disewa mereka, Jenny, datang ke apartemen melakukan permintaan mereka. Inilah awal kisah sukses startup Alfred.

Ini sebuah insiden yang membawa berkah. Mereka menciptakan layanan untuk mereka sendiri. Lantas mulai banyak orang menanyakan hal tersebut. "Hey, apa saya bisa mendapatkannya?" tutur Sapone.

Bisnis online


Alfred resmi diluncurkan di Boston Mei 2013. Di September 2014, mereka meninggalkan kuliah Harvard dan Boston untuk mengikuti ajang TechCrunch Disrupt's Startup. Awal usaha kecil yang dimulai dari langkah menciptakan banyak brosur menawarkan berbagai harga berbeda, dan layanan berbeda. Mereka menaruh mereka dibawah pintu mereka tetangga mereka di Boston.

"Kami sebenarnya berpikir bahwa ini adalah bisnis kecil- kecilan," ucapnya. Mereka mendapatkan pelanggan pertama mereka 10 orang. Melalui langkah tersebut Alfred sekarang bukan lah sekedar layanan normal. Mereka memiliki aplikasi sendiri seperti Uber atau Airbnb.

Mereka pun mulai mempekerjakan banyak orang. Mereka adalah Alfred Client Manager atau cukup Alfreds -menjalankan perintah untuk membeli belanjaan, memilah surat, mengantarkan paket, atau mungkin mencuci pakaian. Alfred memilik perbedaan dibanding layanan lain: rute! Melalui sistem tersebut maka setiap hal itu direncanakan.

Seperti halnya tukang susu yang mengantarkan layanan. Mereka selalu menjalankan rute khusus masing- masing tidak berubah. Seperti halnya mereka mengetuk pintu, mengambil botol kosong, kemudian tinggal taruh susunya. Sapone dan Beck masih kuliah bisnis ketika Alfred jalan; itu tidak mudah. Mereka sempat berpikir berhenti di bisnis ini loh.

Dan, ketika mereka menyatakan hal tersebut ke pelanggan, mereka ketakutan dan "memaksa" keduanya agar bekerja kembali ke layanan mereka. "Seluruh dunia akan menggapai mu ketika kamu menang," inilah dasar berbisnis sebenarnya. Ketika kamu memenangka hati pelanggan dengan layanan terbaik.

Orang membayar $99 per- bulan untuk layanan, dan tambahan untuk uang belanja. Tetapi ketika mendengar mereka akan bubar dan fokus di sekolah; mereka rela membayar $25- 90 per- minggu. Bahkan orang mau membayar $400 untuk layanan awal di Boston. Di November 2014, mereka mendapat uang $2 juta dari perusahaan CrunchFund, SV Angel, Spark Capital, selepas Alfred di New York.

Mereka sebenarnya akan meluncurkan di San Fransisco. Hingga mereka menemukan Kota New York lebih banyak pelanggan. "New York memiliki kepadatan penduduk tinggi dan ketersediaan tinggi dan aksesibilitas dari jenis vendor yang kita ingin gunakan," kata Sapone menambahkan.

Semenjak tuntutan akan "pegawai teta" digulirkan layanan seperti Uber, Lyft, dan Postamate mengalami satu perubahan -bisa dibilang tidak menguntungkan. Modal bisnis tidak terikat akan pegawainya ini memang mulai dipertanyakan oleh lembaga hukum. Tetapi beda dengan Alfred yang menyambut positif hal tersebut. Karena mereka menerapkan konsep berbasis pelanggan dan menyediakan layanan sebenarnya.

Alfred percaya akan pelanggan -gantinya adalah pelatihan, identitas jelas, instruksi, kepada setiap pegawai di Alfred. Total ada 86 Alfred yang mana mereka adalah anak rumahan. Menurut Sapone 70% tinggal bersama ibu dan mereka bukan orang biasa. Beberapa dari mereka adalah artis, penulis, aktor, atau mereka yang juga bekerja di kantor.

Sukses Alfred mampu membawa mereka bahkan diatas pesaing. Mereka bahkan akhirnya mengakuisisi si pesaing di New York, WunWun. Mereka memiliki konsep layanan berdasarkan permintaan pertama. Itu juga termasuk data base pelanggan mereka. WunWun juga memiliki teknologi menarik, pada dasarnya sistem yang hampir sama dengan Alfred.

"Sementara mereka menjalankan permintaan, mereka mengelompokan permintaan dulu dan mengoptimalkan rute, yang mana juga dilakukan kami. Kami hanya tidak melakukan hal- hal pada permintaan saja -kita membuat standar rute," papar Sapone. WunWun sendiri mampu mengatasi permintaan komplek dan panjang dari pelanggan.

Hari ini, Alfred memiliki 19 pegawai pusat dan terus tumbuh, dan mereka juga punya visi membuka di San Fransisco, Los Angles, dan berikutnya Washington DC. Sementara Alfred akan fokus di New York dan mulai menggaet pelanggan lebih. Untuk pendapatan it mencapai, di tahun 2014, kasarannya $350 per- member atau $4.500 per- tahun, dan terus tumbuh.

Fakta Pepatah Belajar Sampai ke Negeri China

Profil Pengusaha James Tan


 
Salah satu paling mudah memulai bisnis adalah mengamati budaya lokal. Itulah kiranya yang telah dilakukan oleh seorang James Tan. Pengusaha asal Singapura ini melawati harinya sebagai mahasiswa di Negeri Tirai Bambu. Hingga, ia sukses mendirikan perusahaan sendiri, pendiri dari 55tuan.com ini mencoba menceritakan sedikit kisahnya.

Ia menjelaskan dalam dua atau tiga tahun mulailah menyesuaikan diri. Temukan mereka teman- teman baru di tempat yang kamu tuju. Kemudian kamu akan menemukan orang- orang yang bisa dipercaya. Mereka lah yang mungkin menjadi mitra bisnis kamu kelak. Inilah seklumit penjelasan kenapa Tan getol belajar sampai ke negeri China.

Tan mengaku ingin menjadi bagian dari pertumbuhan ekonomi China. Meski dirinya sudah bekerja mapan di Industri Teknologi Singapura selama sembilan tahun; tidak membuat puas. Dia malah pergi ke China buat berkuliah lagi di China lewat beasiswa IE Singapore. Untuk satu ini beasiswa diberikan bagi mereka yang sudah berpengalaman kerja.

Kemudian, ia pun mengikuti program Master Administrasi selama dua tahun sejak 2008.

Kloningan Groupon


Perkuliahan S-2 berjalan ketika Tan bertemu pendiri lain situs 55tuan.com. Waktu itu Groupon masi segar didirikan di tahun 2008. Mereka memulai situs 55tuan.com ketika tahun 2010 tiba. Tidak terlambat karena ia menyasar pasar China yang tengah tumbuh. Dia sama sekali tidak memperhatikan kritisnya situs daily deal. Ia melihat tidak ada Groupon di China (belum ada.red).

Pertumbuhan perusahaan sejalan perkembangan ekonomi China. Dimana mereka mampu menghasilkan uang delapan digit dollar. Situs tersebut tidak terbatas di makanan, tetapi juga produk kecantikan, traveling, dan pakaian. Tumbuh perusahaan ini bisa mempekerjakan 3.9000 orang pekerja dan meluas sampai ke 150 kota di China.

Masalahnya ketika mereka berkembang 5.000 situs sama muncul. Tetapi Tan masih optimis usaha miliknya tetap bertahan. Ia bertahan karena kecintaanya akan dot com. Itu terlahir ketika dirinya memulai kuliah di Universitas Nasional Singapura. Ketika terjadi ledakan dot com langkah pertamanya adalah bekerja paruh waktu di Asia Images sebuah stok foto Asia.

Kala itu, tahun 1999, menjadi jalan Tan memahami seluk beluk internet keseluruhan. Pekerjaan barunya itu sangat menyita waktunya hingga tidak lulus. Dia lantas melompat bekerja di Singapore Computer Systems dan Nets, sebelum ia memutuskan pindah ke China. Dalam program MBA -nya Tan mendapat kesempatan berkunjung ke Silicon Valley.

"Saya bertemu dengan rekan- rekan saya yang sedang belajar ilmu komputer dan merupakan karyawan Google, Apple, dan Facebook," kenang Tan.

Dirinya semakin bersemangat menjalani hidupnya. Di China sendiri belum banyak BUMN yang bergerak dibidang internet. Kue yang dibagi masih milik pencari kesempatan seperti dia. Kebanyakn bisnis internet di China sendiri "meniru" di Amerika. Tetapi tidak semua ide bisa dikembangkan di China seperti halnya kisah Twitter (made in China). Ia berkisah butuh pemahaman dan relefansi akan kebutuhan pasar.

Dia cuma butuh dua minggu agar lisensi web hosting 55tuan.com disetujui. Sisanya adalah kebranian dirinya untuk bisa bernegosiasi dengan hukum, tentu itu dalam tataran legal ya. Ia cuma punya rencana bisnis terus menjalankannya sebaik mungkin.

Menjalankan 55tuan.com bukan perakara mudah. Situs ini sekarang salah satu situs jual- beli terbesar di China. Banyak kloning Groupon bermunculan tetapi tidak mampu bertahan. Mereka tidak bisa bertahan dari pesatnya pertumbuhan Internet di China. Tan pun sudah mengambil ancang- ancang mendirikan perusahaan baru berupa VC atau Venture Capital.

Dia bersama kawan lantas mendirikan QuestVC, sebuah perusahaan pendanaan asal China. 55tuan miliknya menarik banyak pendiri startup. Mereka pemilik eCommerce tentu tidak akan melewatkan satu sesi mentoring. Tan lantas menjelaskan fokus QuestVC adalah investasi angel. Bukti kerja kerasnya ada 6 perusahaan yang berumur 1,5 tahun dan dua perusahaan teknologi asal Singapura, Carousell dan Burpple.

Membuka Kursus Online Lewat Video iPhone

Profil Pengusaha Nick Walter 



Entrepreneur muda di era globalisasi sekarang ini. Bagaimana kisah pemuda 25 tahun asal Provo, Utah, mampu menghasilkan pendapatan miliaran rupiah. Suatu hari, Nick Walter tidak sengaja mendengar Udemy dari teman. Ini merupakan platform dan pasar pembelajaran online. Dimana, disini, siapa pun boleh menjual keahlian mereka menjadi kursus. Tetapi tidak mewajib meminta biaya kursus disini.

Walter sendiri merupakan seorang developer iOS. Dalam sekejab pikirannya menarawang jauh, "kanapa ia tidak menawarkan ini." Kisah pun berlanjut, dimana ia mengecek situs Udemy, menyadari bahwa apa yang ia harapkan tidak mudah. Banyak persaingan dimana mereka menawarkan pendidikan "mematikan". Mereka disana menawarkan pendidikan lengkap.

Dia tidak menyerah. Karena ia sendiri yakin akan kemampuannya tersebut. Ia sendiri baru saja diterima jadi internship di perusahaan konsultan teknologi asal Seattle Dalas, Periveda Solutions. Meski ia menikmati hal pekerjaanya disana. Dia tetap merasa jenuh bersama rekan dan temannya.

"Saya benci karena saya harus selalu di kantor untuk X waktu yang tidak lain apa yang mereka katakan saya harus lakukan," ujarnya. Dia juga tidak suka mengenakan pakaian polo dan celana kain. Hatinya lebih suka kebebasan seperti kaus oblong dan celana jean.

Bisnis sendiri


Meski dibayar setiap bulan -perasaan tak tenang terus datang. Ia lantas memutuskan tidak terlalu mengambil pusing. Dia kemudian bekerja part- time bersama di BYU untuk dua tahun kemudian. Walter memutuskan berhenti bekerja. Ia mulai mengerjakan aneka aplikasi iPhone. Total tuju aplikasi dikerjakan bersama teman salah satunya Weight Lifting Videos, menghasilkan pendapatan bulanan $1.2000 per- bulan.

Inspirasi entrepreneur baru ini: "Saya tengah membaca buku Tim Ferris, The Four- Hour Work Week," tutur Walter kepada Forbes.com. "Ferris bercerita bagaimana bisnis terbaik yang bisa kamu lakukan ada di bisnis pendidikan," paparnya. Walter sendiri sudah tidak lagi masuk kuliah sejak bulan Mei ketika usaha aplikasi How-to- nya berjalan baik.

Hingga, ia mendengar berita tentang bahasa pemrograma baru Swift. Dimana ini tengah digencar- gencarkan oleh pihak Apple dan disanalah ide muncul. Dia mulai belajar Swift, merekam itu dalam format video, lantas menjualnya sebagai kurus online. "Untuk empat hari selanjutnya apa yang saya lakukan masuk ke dalam situ bahasa pemrograman," jelas Walter.

"Itu adalah bangun tidur, makan, belajar, mengajar, makan, belajar, mengajar, makan, belajar... saya bahkan mematikan telephon saya dan pergi ke "gua" saya," jelasnya lagi. Ia cuma berpakaian piyama, mereka suara sendiri, dan melalukan pengambilan gambar, membuat 50 video dalam 4 hari saja.

Kemudian ia mengupload ke Udemy. Appla meluncurkan kelas belajar 2 Juni, dan Walter meluncurkan soal pelajarannya 5 Juni dan selama 24 jam GRATIS. Pertama ada 1.600 orang mendaftar. "Itu mengejutkan ku," katanya. Hari berikutnya naik harga jadi $199 dan omzetnya $20.000. Dalam tempo 30 hari, ia mengantungi $40.000. "Itu lebih banyak dari yang saya buat tahun lalu," jelas Walter penuh semangat.

Tanpa disangka Udemy malah mengirim email ke 60.000 orang yang kiranya tertarik oleh pelajaran Walter, dan website tersebut memberikan diskon $29. Kerja sama tidak terduga itu mampu menghasilkan angka $3.000 sampai $5.000 per- bulan. Orang yang belajar di kelas Walter mulai menguhubunginya apa bisa ia mengajarkan cara membuat app iOS. Ia kebetulan tengah mengerjakan "How to Make a Freakin' iPhone App".

Dia menyasar dua pasar Udemy dan KickStarter. Untuk KickStarter sendiri, ia menghasilkan $66.000 lewat pre- selling $199 di Udemy, cuma untuk $29. Angka $66.000 itu didapatkan cuma dalam satu bulan sejak peluncuran. Lantas untuk diapakan uang- uang tersebut? Menurut beritanya, Walter mampu membayar sewa rumah $350 dan makan selalu di restoran enak setiap hari. Dia bisa membeli $9.000 Toyota Corolla dan ditabung.

Aplikasi Caviar Bermodal Seratus Ribuan

Profil Pengusaha Jason Wang

 

Jason Wang salah satu lulusan terbaik Y Combinator. Sedikit tentang Y Combinator, adalah sebuah sekolah bagi entrepreneur mengembangkan startup. Salah satu alumninya, ya, si Jason Wang ini bermodal startup bernama Caviar. Kisahnya bukan sembarangan karena diakun banknya, Jason cuma memiliki $10 dan punya tunggakan sewa selama dua minggu. Ajaibnya dia tetap survive menghasilkan startup baru dan masuk Forbes 30 Under 30.

Ia mendirikan Caviar karena kelaparan. Bukan kelaparan akan makanan enak seperti tema startup miliknya. Dia kelaparan akan kesuksesan. Jason termasuk sosok aktif menghasilkan rangkaian startup. Bicara yang pertama, dia pernah membuat website tentang Cardcaptor Sakura. Lewat website tersebut ditumpahkan lah segala sesuatu yang ia ketahui. Hasilnya? Website ini menghasilkan 30.000 visitor unik setiap bulan dan $30 dari iklan.

"Beberapa bulan kemudian pencipta Cardcaptors mengemail saya dan menahan nama domain saya, itulah jadi akhir bisnis pertama saya," ungkap Jason kepada awak media Hyperlush.com

Hal selanjutnya dilakukan adalah membuat aplikasi sendiri. Kali ini, Jason menciptakan alat yang mampu menarik data dari Craiglist -salah satu situs promosi terbesar di dunia. Itu sangat menghasilkan tetapi lagi- lagi tindakannya dilawan balik. Pihak Craighlist memaksanya berhenti dan tidak melanjutkan.

"Itulah awal saya memutuskan mencoba bisnis besar," tuturnya. Seperti halnya para entrepreneur muda lain di bidang internet, Jason juga melihat "booming". Salah satunya ketika tengah naik daun situs daily deals maka jadilah dia ikutan nimbrung. Hasilnya sangat memuaskan karena memang dia benar memilih. Dia mengamati langsung dari sang juara Groupon.

Situs juara


Jadi kami memutuskan membuat situs tentang 100% makanan. Itulah awal mula MunchOnMe. "Kami mulai meluncurkan itu di UC Barkley karena mahasiswa suka deal. Peluncurkan MunchOnMe sendiri bertepatan dengan datangnya Paul Graham penggagas Y Combinator. Ini kesempatan bagi mereka merubah posisi di startup mereka. Hasilnya tidak lah buruk, dalam acara tersebut mereka mendapatkan 3.000 pengunjung pertama.

"Setelah peluncuran, kami segara mendapatkan 3.000 mahasiswa untuk deal kami, yang tidak lain adalah free taco," kenang Jason.

Kala itu usaha Jason mendapatkan suntikan dana $18.000. Selepas acara tersebut, mereka mendapatkan satu kesempatan memerkan usaha mereke ke investor. Pitching pertama mereka selam tiga menit dan dilihat banyak investor.

Sayangnya, setelah beberapa tahun berlalu, Jason sadar akan satu hal: Bisnis daily deal bukan bisnis yang bertahan lama. Jugalah tidak menguntungkan menurutnya kala itu. Rangkaian pencarian restoran untuk jadi patner sudah tidak berarti. Faktanya pemilik restoran sudah merasa mereka sudah punya "jalur marketing" -nya sendiri.

Disaat itu, mereka tengah menghadapi kesulitan keuangan. Tidak menghasilkan apapun cuma bertahan dari uang pemodal untuk bertahan. Tetapi tidak, mereka tidak bisa bertahan, dan memutuskan untuk tidak tinggal lama di MunchOnMe. Mereka juga butuh waktu hingga menemukan ide bisnis baru. Butuh waktu sekita satu tahun setengah hingga Caviar ditemukan.

"Pada satu titik waktu, kami hanya memiliki $10 di rekening bank bisnis kami. Biaya sewa sudah menunggak 3 minggu. Dan kita harus membayar $ 600," kenangnya kembali.

Menyimpan. Menjual barang- barang. Meminjam uang. Dan hidup dengan amat sangat sederhana.

Itu adalah masa paling galau penuh keputus asaan. Bayangkan jika tidak dalam tiga minggu membayar $600, mereka akan menutup perusahaan. Jason dan kawan belajar bagaimana caranya bertahan selama tiga minggu tersebut. Hingga Jason Wang menemukan ide bisnis tiba- tiba:

"Suatu hari kami benar- benar ingin makan sandwich yang kami cintai. Tetapi kami tidak ingin pergi ke sana restoran, yang mana butuh berjam- jam karena kemacetan, lalu menunggu dalam antrean untuk satu jam lagi, dan kemudian mengambil satu jam di lalu lintas untuk kembali ke tempat. Kami menelepon dan meminta mereka untuk pengiriman, tapi tentu saja, mereka tidak memberikan," jelasnya mengenai apa itu Caviar.

"Jadi kami mau makanan, tetapi kami tidak mau kehilangan 3 jam untuk mendapatkannya," paparnya lagi. Ini menjadi konsep matang dalam waktu beberapa jam. Jason menyebut konsep layanan pengiriman makanan. Dan menyasar restoran yang enak tetapi tidak memberikan layanan tersebut. Itulah ketika mereka menyadari suatu kesempatan.

Titik balik

Ketika memulai jasa pengiriman makanan, awal sekali, Jason dan kawan- kawan lah yang menjadi tukang kirim barang. Hingga mereka cukup modal mempekerjakn orang lewat Craigslist. Restoran pertama yang ia ajak kerja sama yaitu HRD. Jason menjualkan kimchi burtio mereka.

"Kami hanya memiliki satu item yang Anda bisa membeli di situs pada waktu dan kami hanya beroperasi selama 2 jam," kenangnya kembali.

Mereka memutuskan menjadi perantara mereka. Banyak restoran enak yang tidak mempunyai waktu dalam hal pengiriman. "Saat itu kami hanya bermodal $10," tutur CEO Caviar ini. Mereka menggabungka nilai di dunia maya ke dunia nyata. Hal yang mereka pelajari dari usaha sebulmnya di MunchOnMe. Mereka sadar bahwa situs daily deal mereka berguna, tetapi tidak menggenjot pemasukan perusahaan.

Fakta lain, situs daily deal tidak bukan 24 jam, padahal Jason sudah bekerja 24 jam penuh dari pagi sampai ke malam. Ada kendala logistik yang lantas mereka temukan. Kenapa harus bekerja pagi sampia malam jika masalahnya di logistik. Biaya logistik mahal dan rumit dimanfaatkan perusahaan mereka. Inilah nilai tambah yang coba dikerjakan olehnya. Jason membangun Caviar menjadi jaringan pengiriman lebih baik.

Restoran kemudian sadar bahwa ini bukan soal daily- deal lagi. Mereka menyadari maksud Jason, "kami pun membuka layanan di sejumlah titik di San Fransisco dan terus memperluasnya."

Mereka aktif lagi sendiri sebelum membangun staf. Ada empat orang dalam tim Jason, mereka mengerjakan seperti website, desainer, pengiriman makanan dan dukungan konsumen. Namun, ia masih kekurangan orang berpengalaman. Karena kekurangan orang, meski tidak punya pengalaman soal logistik, Jason turun tangan menjadi bagian pengiriman pesanan.

Ia bahkan mencantumkan nomor pribadinya. Jason ingin menjadi yang pertama tau jikalau kesulitan mungkin terjadi. Dia fokus dikendala mitra restoran dan konsumen. Hal terbaru adalah menambahkan fitur lebih baik soal costumer service ini. Mendirikan aplikasi Caviar berarti mengajak lebih banyak restoran. Awal sekali, mereka baru mendapatkan 2 restoran sudah bahagia setengah mati. Kini, mereka ingin lebih agresif merekrut mitra.

Caviar juga getol merekrut staf dan pekerja. Mereka juga mencoba melihat aspek lain. Tidak mau monoton di bisnis yang sama. Caviar merupakan aplikasi berbasis website. Kemudian tumbuh dijadikan oleh mereka menjadi aplikasi berbasis Android dan iOS. Mereka mencoba memperkenalkan layanan logistik lebih cepat. Alhasil Caviar sendiri tumbuh di 15 kota berbeda di Amerika.

"Meski kami mencapai hal banyak dalam waktu singkat. Kami terus berkomitmen pada mitra- mitra restoran kami dan pelanggan dengan prinsip yang sama yang kami miliki sebelumnya saat memulai bisnis ini," papar Jason. "Kami terus memberikan makan lebih banyak orang," tambahnya. Caviar masih terus memberikan kemudahan menyantap makanan.

"Dan saya bahkan kadang masih menerima pertanyaan konsumen," tutup Jason.

Alamat Twitter @jwang815

Biografi Wang Jianlin Orang Terkaya China Bisnis Properti

Pengusaha Properti Terbesar China



Sama halnya dengan sosok Li- Ka Shing, sosoknya bukanlah terlahir dari keluarga orang super kaya. Tetapi mentalnya lah yang membangun kekayaan tersebut. Wang Jianlin, presiden direktur Wanda Group, adalah putra seorang tentara. Seperti hal ayahnya, Wang juga pernah menjadi tentara diumur masih 15 tahun. Ini sangatlah berat. 

"Sebuah pelatihan musim dingin diadakah oleh Chairman Mao saat itu dan dimana anak muda harus melatih daya tahan lewat berbaris panjang dan berkemah untuk membentuk tubuh," kenangnya. "Itu sangatlah sulit karena saya masuk ketika ada the yeying- lalian military movement."

"Dalam dua bulan kami berjalan 1.200 kilometers!" jelasnya.

Tahun 1978, dia dipromosikan menjadi pimpinan platon, dan direkomendasikan mendapatkan pendidikan khusus kemiliteran. Meski memiliki mental tangguh, faktanya sosok Wang muda bukanlah seorang atletik, tidak pernah sama sekali baik dalam merayap, melewati rintangan, ataupun menyerang. Dia cuma memiliki apa yang disebut mental. Bahwasanya dia percaya akan kemajuan China dibawah komunsisme.

Ia seorang revolusiner. Dia merasa melalui komunisme bisa membebaskan seluruh China. Sementara itu di luaran sana China mulai berubah menjadi raksasa ekonomi dunia. Deng Xiaoping memimpin dan merubah tatanan ekonomi lebih marketif. Tetapi Wang tertinggal dan tidak aktif hingga memasuki tahun 1986. Sosok Wang memang bukanlah pengusaha sejak awalnya hingga tahun itu.

Setahun sebelumnya ebijakan militer ditegaskan. Dimana pemerintah mengurangi kebutuhan pasukan sampai satu juta orang. Inilah yang membawa Wang ke arah dunia bisnis. Ia merubah arah karirnya menjadi seorang administratif untuk pemerintahan. Dua tahun kemudian, di 1988, dia mengambil alih satu perusahaan terafiliasi pemerintah Xigang Housing Development. Bukan tanpa beban karena perusahaan itu telah memiliki banyak hutang.

"Inovasi berarti konsisten merubah pola lama," ucap orang terkaya China 2015 ini. Tetapi bukan cuma itulah kunci sukses Wang, tidak cuma inovasi tetapi kemampuan memprediksi dalam keberanian.

Raja real estate


Kekayaan pertama Wang datang dari perusahaan hampir bangkrut. Xigang Housing Development akhirnya mendapatkan hutang dari seorang kawan Wang. Orang yang bekerja di Bank tersebut memberinya modal untuk bergerak. Sukses Wang terbilang cepat sukses merubah kota kumuh menjadi ladang real estate. Lalu usaha Xigang Housing berubah menjadi perusahaan real estate model join stock terbatas.

Hal baik tidak selamanya bertahan. Itulah yang dirasakan seorang Wang ketika pemerintah melihat bisnis real estate bahaya. Terlalu banyak spekulasi dan tumbuh terlalu cepat, pemerintah China memutuskan meredam hal tersebut; pemerintah berhenti mengucurkan dana.

Tahun 1992, Wang mulai mencari hutang sana- sini, bahkan mengunjungi 50 bank berbeda. Dia sudah berdiri didepan kantor direktur sampai sepuluh kali dan yang terpanjang adalah sepanjang hari. Hanya saja hasilnya tidak sama sekali. Itu merupakan sebuah ingatan buruh bagi Wang. Sebuah penghinaan baginya yang punya jiwa tentara.

"Jadi saya berkata kepada diri saya sendiri saya harus kuat, membuat brand, dan memberishkan nama saya suatu hari," kenang Wang kembali.

Dia mengingat 17 tahun masa pelatihan militer. Itu membuatnya tetap kuat dan terus berusaha maju. Hingga sekarang, mentalnya masih terlatih di kehidupan sehari- hari, dimana ia tidur jam 11 malam dan tidak seperti pengusaha China lain; dia tidak minum atau merokok. Hal lain, dia suka menyanyi lagu Tibet atau Mongolian ketika meeting kantor sambil bergaya militer. Wang punya beberapa hobi tetapi tidak spesifik di olah raga.

Anehnya ketika ia sukses membalas rasa malu tersebut. Banyak permintaan dari pemerintah kota untuk Wanda Group agar membantu pembangunan. Wang pun mempunyai prinsip sendiri, yakni "Melayani mereka (pemerintahaan) yang menginginkan kota lebih baik." Dia juga meminta perusahaan jujur dan fokus ke tujuan. "Kami tidak menyuap pejabat dan, meski dekat dengan pemerintah, kita tinggal jauh dari politik," katanya.

Tidak masalah dari mana latar pendidikan kamu tetap keberanian yang utama. "Apakah anda sukses masuk Tsinghua dan Universitas Peking, atau Harvard dan Yale, nyali yang yang terpenting dan yang membuat orang kuat, " kata Wang kepada sekelompok mahasiswa Universitas Harvard beberapa tahun lalu.

Ia menyebut titik balik Wanda Group ketika menemui masalah. Ketika itu mereka menghadapi kegagalan di proyek komersial pertama tahun 2003. Tahun 2006, mereka memulai proyek perjalanan wisata kota, dan menunjukan perubahaan.

Wang meminjam uang $80.000 untuk Dalian Wanda Group membangun. Dia adalah pimpinan dari Wanda Group yang mana sekarang merupakan developer terbesar di China, sejak 1988. Wanda Hotels dan Wanda Resorts Co Ltd telah membuka 71 bintang lima dan sangat mewah disepanjang China. Dia juga berinvestasi miliaran dollar di Sydney, London, Chicago, dan Los Angles.

Wand Group juga mulai agresif masuk ke bisnis entertainment. Seperti membeli 150 teater di China, dan juga memiliki 380 teater di US, Kanada, dan negara lain. Wang membeli AMC Entertainment sebuah perusahaan frenchise untuk aneka bisnis hiburan. Wanda Group juga membangun usahanya sendiri lewat Superstar, satu tempat karoke berjumlah 90 buah dipenjuru China. Awal tahun 2015, Wang membeli saham 20% Atlitico Madrid.

Wang memiliki satu putra bernama Wang Sicong -media China memanggilnya National's Husband. Mungkin karena obsesinya akan uang, wanita dan kekerasan. Fakta dia memang dididik kebaratan telah memberikan kesan negatif. Tetapi Wang Sicon merupakan salah satu eksekutif penting Wanda Group bukan anak manja. Pria 27 tahun yang pernah membuat geger dunia maya lewat foto anjingnya mengenakan dua Apple Watch.

Berbohong Masih Bekerja Jane Membangun Mimpinya

Profil Pengusaha Sukses Jane Lu


 
Mencari kerja sangat sulit bagi anak muda jaman sekarang. Orang tua jaman sekarang cuma berpikir anak mereka kuliah di tempat tepat. Kemudian belajar hingga lulus, bisa masuk ke perusahaan berdasarkan latar belakang pendidikan. Tidak semudah itu ternyata menjalankan hidup. Langkah awal memasuki dunia kerja itu adalah tekanannya.

Jane Lu bukanlah anak bodoh. Bahkan dia punya pekerjaan sendiri sebelum lulus kuliah. "Saya mendapat nilai 99+ UAI (persentase tertinggi ranking di kuliah), saya belajar perdagangan di UNSW... Pada dasarnya saya berada ditempat nyaman tepat untuk gadis Chinese baik," ujarnya. "Maksud saya, saya bahkan belajar main piano di umur delapan tahun."

Dia pernah bekerja di perusahaan besar. Sebut saja, dia pernah bekerja menjadi akunting di firma Ernst & Young. Bekerja selama beberapa tahun disana membuatnya merasa kosong. Ada kehampaan dibali rutinitas membosankan di perusahaan.

"Saya hanya muak terjebak di ruang hijau," jelas Jane.

Ada suatu masa ketika Jane melihat ponselnya. "Saya berkata: Tiga jam telah berlalu, Tiga jam telah berlalu, saya secara harafiah tiga jam lebih mematikan dari sebelumnya dan dari semua yang saya lakukan hanyalah menghapus referensi kedua dari spreadsheet ini ... apakah ini hidup saya?

"Jadi saya keluar," tegasnya.

Pengangguran


Setelah cukup lama membahas hidupnya sebagai pegawai. Dia mulai berpikir apa hal selanjutnya. Itulah yang kemudian membawanya ke sebuah bisnis. Ketika Jane mendengar teman- teman dekatnya sedang memulai sebuah bisnis. Tanpa berpikir panjang keputusan keluar dari perusahaan bulat. Ia merasakan lega, tetapi lain hal rekan kerjanya yang menyebut "idiot". Pasalnya, ia memilih keluar ketika tengah krisis ekonomi global.

Berbisnis sendiri?

"Semua orang menjadi berlebih- lebihan. Dan di sana saya cuma pergi- berhenti dari pekerjaan saya untuk menjalankan toko pop-up, " katanya.

Dia memulai sebuah toko retail. "Jadi saya keluar dari pekerjaan dan secara buta mengikuti," tuturnya. Pada bulan pertama berjalan baik hingga akhirnya sepi. Patner bisnisnya bahkan memilih menarik diri dari bisnis mereka. Itulah akhir dari perusahaan bernama Fatboye Group. Keputusannya keluar dari pekerjaan saat itu didukung penuh oleh keluarganya.

Ia menyebut kedua orang tua adalah inspirasi. Mereka (orang tua) menyebut Jane sangat berani. Tetapi ia melihat keberanian adalah kedua orang tuanya. Bayangkan mereka adalah imigran China yang melepaskan pekerjaan sebagai tukang bersih- bersih dan sebagai buruh. Mereka jauh- jauh pindah ke Australia, memulai sesuatu yang baru.

"Itulah apa yang disebut keberanian," tutur Jane penuh bangga.

Keluarga memberikan pinjaman untuk membuka toko retail di pusat kota. Sayangnya, seperti dijelaskan apa yang diatas, usahanya bangkrut bahkan meninggalkan hutang $50.000. "Apakah saya lupa menyebut bahwa nama bisnis kami Fatboye Group? Yeah, go figure," ingat Jane sambil diikuti derai tawa. Pada umunya, ia dalam keadaan sangat jatuh, "...dan saya terlalu banyak harga diri untuk meminta pekerjaan saya lagi," tutur dia.

Tidak ada pilihan lain kecuali Jane haru kembali ke Ernest & Young. Tetapi tekanan itu kembali hadir bahkan semakin kuat apalagi darah Chinese -nya berdesir; seharunya tidak berakhir begini. Akhirnya, ya, ia memilih untuk keluar lagi. Dia melakukan sendirian atas keputusannya sendiri. Dalam benaknya bayangan orang tua tentang karir ideal.

"Jadi, saya hanya tidak bisa masuk ke diri saya untuk mengatakan bahwa saya telah keluar dari pekerjaan itu (lagi)," ujar Jane. Inilah dimana masa dirinya "membohongi" kedua orang tua. Kegagalan pertama kali itulah yang memaksanya berpura- pura menyesal. Faktanya dia malah berusaha mengembalikan usahanya lagi ke jalan. Meski hidupnya harus terseok- seok mengerjakan bisnis sendirian; tidak ada pegawai tersisa.

"Jadi, itu hanyalah keputusan logis untuk dilakukan. Saya tidak bercerita kepada mereka," Jane menjelaskan.

Dalam tekanan dirinya butuh akting sempurna. Apalagi faktnya dia masih tinggal bersama orang tua dan satu kesalahan menghancurkan semua. Untuk itulah selama enam bulan, Jane bangun jam enam pagi, langsung memakai pakaian kerja dan "berpura- pura" berangkat kerja. Dan menurutnya hal tersulit menjadi seorang pengangguran adalah harus bangun pagi seperti orang bekerja.

"Jadi, saya akan bangun pagi, mengenakan setelan saya, sarapan dengan keluarga saya. Menunggu bus ke kota, kadang- kadang dengan ibu saya." Sesampainya di pusat kota, Jane hanya lalu- lalang di CBD (Central Business District) mencoba mencari jalan keluar.


Toko online


Tidak ada hal yang bisa dilakukan Jane ketika itu. Ia pun kembali menggeluti bisnis sebelumnya. Bedanya, ia memilih membuka toko online sendiri dan masih berbohong soal pekerjaan. Tentu orang tua memang tidak akan paham soal jual- beli online dan ia merasa tidak untuk kali ini. Dia tidak menceritakan tentang usaha keduanya ini.

September 2010, Jane bertemu seorang gadis yang ingin membangun bisnis online sendiri, disinilah ia merasa terpanggil. Satu malan ditemani segelas wine munculah nama Show- Pony. Yang mana nama tersebut menjadi Showpo jika diucapkan. Perlua dijelaskan Jane punya hutang dari bisnis sebelumnya, juga hutang dari biaya kuliah, kemudian ditambah hutang karena keluar dari cadetship total, total ada $18.000 hutang baru.

"Itu totalnya $60.000 diumur saya ke 24 tahun. Bukan tempat nyaman untuk memulai usaha atau bukan juga nyaman untuk dimanapun," jelasnya, mau tak mau usaha kali ini harulah sukses.

Motivasi terbesar dalam mengerjakan bisnis adalah dia tetap bangun pagi. Cuma Jane tidak perlu lagi harus melapor dan bekerja atas apa passion -nya. Mungkin akan enak jika dia bangun kemudian jalan ke pantai bersama teman penganggurannya; tetapi tidak. Setiap hari merupakan bekerja keras dan lebih keras lagi. Ia sadar bahwa sukses akademis dan karir tidak membawa ia kemanapun.

Hidup itu panjang menurut Jane. Tetapi tidak cukup panjang untuk sekedar bersenang- senang saja. Justru ia meyakinkan bahwa kita harus bekerja cerdas bukan keras. Pola kerja kamu memang akan memenuhi setiap sisi kehidupan, tetapi itu tidak membuat kamu monoton. "Jadi mengapa tidak bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja, " tambahnya.

Dasarnya dia tidak punya uang sama sekali. Bahkan terlalu banyak hutang yang harus ditanggung oleh Jane. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah berpromosi lewat sosial media. Dia mencoba membuat komunitas dan mulai membranding ulang. Komunitas online dan beberapa orang staf akhirnya menjadi wajah dari produk itu sendiri. Ia juga aktif membangun kualitas disetiap foto produknya di Instagram ataupun Facebook.

Disinilah kemenangan produk Jane, ketika perusahaan besar belum masuk ke aspek sosial media. Mereka belum bisa juga mengkapitalisasi internet. Marketing lewat membangun komunitas loyal dimana disana tidak cuma menjual produk.

"Pada dasarnya, saya tidak punya uang ketika saya memulai bisnis sehingga saya perlu sosial media untuk memperkenalkan mereka kepada komunitas," tutur Jane.

Keluarga Jane merupakan imigran ketika ketegangan politik 1994. Dia masih berumur delapan tahun dan itu adalah pengorbanan orang tua hingga ia berkembang seperti sekarang. Meski menjadi pengusaha online yang ternama di Australia masih meninggalkan perasaan aneh -dijadikan role- model pengusaha wanita pantang menyerah.

Padahal menurutnya, dia hanyalah seorang pemula yang bahkan bisnis pertamanya bangkrut.

Latihan Pilates Online Lewat Play It Fit Now

Profil Pengusaha Amie Wang 


 
Berbisnis tidak selalu tentang mendirikan tempat sendiri. Kamu sekarang bisa memulai usaha kapanpun lewat jalur manapun. Termasuk usaha lewat sosial media atau internet. Cukup mengaplikasikan kemampuan kamu di dunia nyata disini. Contohnya Amie Wang, seorang ibu muda dari dua putra enerjik, yang menghabiskan waktunya menjadi instruktur senam. 

Dia menemukan internet kemudian mendirikan usaha pilates sendiri secara online.

Pilates disebutnya cinta- pada- percobaan- pertama. Itulah mengapa meski memiliki seorang putra; Amie tetap berpilates. Hingga, putra kedua lahir, memutuskan untuk menggabungkan hidupnya dan berlatih. Kedua putranya memang terlahir berdekatan. Pilates melatih kekuatan dan fleksibilitas. Setelah dua kali melahirkan, dia menggabungkan pilatis dan kehidupan sehari- hari.

Contoh: dia mengangkat anaknya yang berat 19 kilogram dan 13,6 kilogram. Tidak perlu kamu membawa lagi beban sendiri. "Saya yang terkuat yang pernah saya rasakan dan memiliki energi untuk tetap aktif dengan anak- anak saya tumbuh," terangnya. Perjalanan hidupnya itulah yang membawanya membuka usaha sendiri. Termasuk ikut mengejar sertifikasi pelatihan pilates sendiri.

Dalam perjalanan berlatih, Amie masih menyempatkan untuk berlatih dan menjaga anak- anaknya. Termasuk ketika waktu tidur siang tiba. "...saya melakukan latihan ditempat istirahat mereka." Beberapa waktu ia akan menggunakan mereka menjadi beban. Itulah awal lahirnya Play It Fit. Membantu ibu berlatih serta tetap bisa melakukan kegiatan sehari- hari.

Daripada berlatih capai selama satu jam penuh, para ibu melakukan lima menit, tetapi bisa dilakukan 5- 6 kali tanpa bosan.

Kelahiran Taiwan, Amie memang suka berpergian termasuk di kawasan Asia. Dia pernah bekerja dan tinggal di Hong Kong, Malaysia, dan Singapura. Hingga 2012, memutuskan untuk tinggal di Singapura, dimana ia meras inilah tempat tepat buat dia, suaminya, dan kedua putranya. Di negara ini begitu mudah menjalankan aneka usaha. Bahkan untuk faktor legalnya bisa dijalankan mudah.

Bayangkan kamu bisa membuat usaha cuma bermodal internet -dan legal. Ada perasaan suport buat para pengusaha disini di Singapura. Selain mengerjakan pilates Amie juga belajar tentan psikologi anak.

"Saya belajar neuroscience ketika anak tertua saya sudah berusia 2,5 tahun. Memahami bagaimana otak berkembang secara transformatif dan membantu saya menjadi orang tua jauh lebih damai," tuturnya kepada Asianentrepreneur.org.

Fokus usaha dari Plat It Fit adalah bagaimana edukasi, pola pikir, dan bermain.

1. Education (edukasi) -kami membantu ibu menjadi sadar tentang postur mereka dan kegiatan sehari- hari ketika pasca melahirkan. Kami mengajarkan mereka dasar pilates dan membekali mereka dengan perangkat latihan yang bisa dilakukan, di rumah, diantara lewat langsung atau melalui video Skype.

2. Mindset (pola pikir) -kami mengajari ibu bahwa latihan merupakan gerakan terintegrasi. Sebagai contoh, daripada memulia latihan selama 1 jam penuh, yang akan sulit ketika sudah punya anak, kami melatih para ibu berlatih 2-3 kali latihan dan lakukan 5 menit; mereka bisa berlatih enam kali dan itu 30 menit sehari.

3. Play (bermain) -kami menyemangati dan melatih gerakan dengan atau tanpa anak disekitar mereka. Jadi itu akan membantu mereka berlatih kapanpun. Mereka juga bisa melatih perasaan terkait dengan anak- anak mereka lewat latihan bersama.

Info lengkap


Email: amie@playitfitnow.com
Website: www.playitfitnow.com
LinkedIn: https://www.linkedin.com/in/amiew
Twitter @playitfit

Bentuk Testikel Menjadi Tas Punggung Kamu

Produk Paling Menjijikan 2015 



Mungkin awalnya cuma pamer di media sosial. Tetapi, ternyata usaha pria bernama Daniel Bitten ini malah jadi sensasi viral. Alhasil daripada dibuang sia- sia, akhirnya, tahun ini diputuskan untuk memproduksi secara masal. Atas ketidak nyamanan pada gambar berikut penulis memohon maaf.

"Semenjak saat itu, ribuan permintaan akan produk revolusi manusia ini semakin membesar," tuturnya dalam laman IndieGoGo.

Untuk mewujudkan obsesinya pastilah butuh uang. Tentu bukan dari tempat biasanya seorang pengusaha akan melalukan pitching startup. Butuh inovasi itulah kenapa situs pendanaan Indiegogo menjadi pilihannya. Ia pun meyakinkan produk ini akan fenomenal kelak. Berbeda dengan produk prototipenya, kali ini ia mulai lebih detail.

Mungkin menjadi agak lebih kecil tetapi lebih tahan tekanan.


Scroten Tote merupakan tas berbentuk testikel manusia. Dengan detail nyata berbahan dasar, apa yang ia lantas sebut "scro- tex" meterial. Dibagi menjadi dua jenis ebony dan ivory, tetapi secara keseluruhan dari segi tekstur sama.

"Saya dan beberapa teman memutuskan mengganggu kehidupan kami dalam rangka fokus berdedikasi pada produk- produk lifelike," tuturnya lagi. Memang perusahaan besutan Bitten dikenal fokus pada produk yang berbasis lifelike atau meniru bagian dari mahluk hidup.

"...tak tersembunyi, testiskel raksasa sebagai tas punggung," ujar Bitten tidak bercanda.

Tujuan utamanya adalah menghasilkan tas testikel yang nyata. Yang berfungsi secara fungsional sebagai tas ransel. Dan, tentu tujuan dari donasi ini adalah agar bisa berproduksi dan menghasilkan produk nyata. Lewat donasi diharapkan terkumpul $33.000, dimana harga jualnya perbuah adalah $120, dimana jika kamu aktif mendonasikan $10 saja; kamu bisa membeli seharga $69.

Donasi? Silahkan kunjungi

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba