Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Australia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha Australia. Tampilkan semua postingan

Pembuat Games Fruit Ninja Ide Bisnis Sederhana

Profil Pengusaha Shainiel Deo 


sejarah fruit ninja

Lewat ide bisnis sederhana pembuat games ini sukses. Kisah Pembuat game Fruit Ninja, Shainiel Deo, yang memulai karir dari sebuah perusahaan kecil miliknya sendiri. Perusahaan milinya fokus membuat game, atau karakter digital bernama Halfbrick Studio. 
 
Deo tidak pernah berpikir untuk menjadi jutawan. Tentu tidak, entrepreneur hanya ingin melakukan pekerjaannya penuh passion. Dia, entrepreneur 23 tahun, CEO perusahaan asal Australia. Perusahaanya Halfbrick Studio menghasilkan game kasual kelas dunia Fruit Ninja.

Entrepreneur Muda

 
Games Fruit Ninja yang memberikan rasa candu. Kenapa bisa karena sangat mudah untuk dimainkan dan unik. Game yang fokusnya kepada ketajaman grafik, speed, serta details. Fruit Ninja hanya dijual seharaga 99 sen.

Di April 2010, semenjak rilisnya lebih dari 10 juta pengguna telah mendowload game miliknya. Menurut Entertainment Software Association, game kasual memiliki nilai pelepas stress yang tinggi. Mereka melangsir setidaknya 47persen game yang beredar merupakan game tipe ini.

Mereka mendominasi bisnis serta penjualan tertinggi. Terutama, bagi pengguna iPhone dan iPad yang terus tumbuh. Pemiliki gadget menginginkan game semacam Fruit Ninja. Banyak entrepreneur dan developer berlomba- lomba menjajal peruntungan.
 
Deo memembangun Halbrick di tahun 2001 di Brisbane, Australia, sebuah perusahaan yang dulunya tidak terfokus di game kasual. Mereka lebih sering menciptakan karakter anak- anak di televisi. Geme tersebut dimainkan di Xbox, Playstation serta berbagai website; sebuah game umum.

Tetapi, iPhone menaikan nilai game kasual di 2007, membuat Halfbrick mencari jalannya. Halfbrick Studios meluncurkan Fruit Ninja, dan yang terbaru, meluncurkan Age of Zombies.

"Ketika mobile mengambil alih, pasarnya menyatu dengan kekuatan kami," dia berkata.

App- Store memberikan semacam kebebasan tanpa perantara. Mereka menciptakan kebebasan dalam pengembangannya designya. Kini, mereka  menciptakan peluang baginya Halfbrick Studios, sebagai perusahaan kecil.

Perusahaan tersebut berhasil memimpin menjadi multi jutawan. Formula sukses entrepreneur game Fruit Ninja? mudah, game memiliki detail tetapi mampu meninggalkan jejak- jejak kecil. Game haruslah tidaklah menghabiskan banyak daya baterai.

Deo melihat kedepan juga untuk ponsel Android yang mulai marak. Lainnya, dia dan perusahaan masih memegang kunci di game flash atau HTML5.

Deo percaya masalah lain cuma ada "bagaimana untuk masuk ke pasar". Dia menyebut segala hal baru segala tentang nexus, cloud computing dan sosial media, dimana Halfbrick perlu mengatur level tersendiri; bagaimana memasarkannya kepada para fans.

Terlihat lebih sulit, Deo sekarang hanya akan fokus menggunakan prinsip game kasual; mudah, langsung, membuat candu serta menghibur. Teknologi mobile memberikan ravolusi di pengembangan dari segi bisnisnya.

Dimana Halfbrick Studio tidak lagi mendapatkan untung dari sekedar penjualan. Mereka bisa menghasilkan dari game gratis yang disuport oleh pengiklan, atau menjual produk virtual seperti senjata online.

Yah, Deo berkata penjualan di dalam gamenya sendiri merupakan yang tertinggi.

 "Pengembangan merupakan 50 persen darinya," ucap Deo.

Dia menambahkan lagi,"tetapi jika kita ingin sukses, promosi menempati tempat lebih banyak. Kita harus memiliki relasi yang baik antara media dan platform. Kita juga membutuhkan viral video untuk sekedar promosi."

"Kita membutuhkan kontrol menejemen bagi komunitas pendukung untuk saling mempromosikan," ia melanjutkan

Teknologi mobile telah merubah developer berbisnis, seperti Halfbrick,  yang bebas mengontrol pendapatannya sendiri. Dulu, setiap orang membutuhkan lisensi serta orang ketiga memasukan ke pasar. Kini mereka bisa melakukan pemasaran langsung tanpa pihak ketiga.

Mereka bisa menjual tanpa menggunakan nama besar sebagai pendukung penjualan; bersaing dengan Nintendo, Gameloft, Sega. dll. Yang terpenting mereka mampu mencari celah ceruk peluang dari bisnis kasual.

Moses Lo CEO Xendit Sering Dikira Orang Indonesia

Profil Pengusaha Moses Lo

 

moseslo.png
 

Pengusaha muda Moses Lo sering dikira orang Indonesia. Wajar karena Forbes menuliskan dirinya jadi orang Indonesia. Faktanya dia memang memiliki ibu orang Indonesia. Keluarga ibunya masih berada di Indonesia. Tetapi Moses sendiri merupakan warga negara Australia.


Banyak memang orang keturunan Indonesia bermukim di Australia. Tetapi kasus Moses pernah pula dianggap orang Amerika. Mungkin karena dirinya berkecimpung dunia startup. Tampat sepertinya khas orang- orang Amerika disana.


Dia juga berkuliah di Amerika. "Saya menempuh pendidikan di Amerika, mungkin karena itu mereka menilai saya orang Amerika," ujarnya. Walau begitu nyatanya Xendit merupakan startup Indonesia. Itu mendapatkan dukungan YCombinator.

 

Passion Entrepreneurship


Fokus Xendit memang mengembangkan bisnis kawasan Asia Tenggara. Bisnisnya mengenai platform pembayaran berbasis peer-to-peer. Karena startupnya bertertuliskan Indonesia, dan memang berbasis di Indonesia, maka Forbes tidak salah bila menyebutnya orang Indonesia.


Kehidupan Moses memang banyak mengenai entrepreneurship. Bahkan dia masuk ke sekolah yang mengajarkan mengenai kewirausahaan ini. Moses merupakan putra seorang ibu asal Indonesia, dan ayahnya merupakan orang Malaysia.


Orang tua Moses merupakan pengusaha unggulan. Ibunya bekerja office boy hampir seumur hidup. Tapi suatu ketika dia mempelajari pasar saham. Berkat saham menghasilkan uang lebih banyak. Dan dari sisi ayahnya, kakek Moses merupakan pengepul stik kayu dan menjualnya ke pasaran.

 

Kemudian kakek menjadi ahli membuat perhiasan. Berkat bisnis perhiasannya memiliki banyak uang, sampai mengirim ketujuh anaknya keluar negeri dan berkuliah. Ini merupakan satu langkah yang merubah satu generasi berikutnya.

 

Legasi itulah yang coba dikembangkan Moses. Alih- alih dia menjadi seorang profesional, keputusan akhirnya mendirikan perusahaan menjadi entrepreneur. Ayah Moses juga pengusaha mengikuti jejak ayahnya.


"Jadi saya sudah memiliki darah entrepreneurship ini di tubuh," ungkapnya, dalam sebuah wawancara ekslusif bersama justin.quest


Terlahir di Australia tidak memberikan peluang. Dia menemukan di sana kurang kultur teknologi. Dan alasan lainnya, market tidak memungkinkan mengembangkan bisnis teknologi. 

 

"Di sana tidak terlalu banyak kesempatan. Saya pikir satu hal, kulturnya, kedua, ukuran market yang tidak cocok buat kewirausahaan berbasis teknologi," Moses menerangkan.


Maka pilihannya bersekolah ke Amerikan merupakan kesempatan. Dia ingin belajar apa orang pikirkan mengenai ini. Moses mulai berkonsultasi dan segera berangka ke Amerika secepat mungkin. Tetapi inti dari semuanya berangkat ke Silicon Valley, mempelajari pola pikir, landasan kerja, mungkin mentor.


Bila beruntung ia mungkin menemukan mentor tepat. Sejak awal, memang terdapat dua kata dalam benak Moses, yakni "Fin" untuk financial dan "tech" untuk teknologi. Itu berkat penemuannya soal capital reverse system yang dipelajari lewat enslikopedia, lalu Wikipedia setelah ada.


Moses kutu buku mencari apa capital reverse system. Suatu titik dimana dia menyadari akan mendapat sesuatu, lalu Moses sadar bahwa, "oh saya benar- benar mendalami finansial dan menariknya ke arah ke sana."


Maka di Universitas, dia mempelajari mengenai sistem informasi, hingga muncul ide menggabungkan kedua hal. Namun dunia finansial memiliki legasi bagi pemain dulu, sulit dimana sistemnya pasti akan menentang ide Moses.


Sementara teknologi merupakan dunia penuh kesempatan. Teknologi akan membuka peluang seluas- luasanya. Buat siapapun, baik orang yang memiliki keluarga mendukung tetapi tidak punya akses ke bisnis, akan diberi kesempatan membangun legasinya sendiri dan merubah dunia.


Dalam benak Moses selalu melakukan terbaik mendapatkan informasi. Termasuk ia mencari referensi lewat ebook berbentuk PDF. Moses mulai melakukan finansial dan sistem informasi teknologi Tetapi Australia tidak memiliki startup pada jamannya.


Sebelum Atlassian -startup asli Australia, yang pendirinya empat orang, dan mereka ternyata mendapat beasiswa sama dengan Moses. Mereka bersama dalam kamar asrama mengerjakan sesuatu. Mereka selalu berbicara ide besar mengenai menjual software berbasis langganan.


Atlassian memberikan pelanggan setahun langganan untuk software. Alih- alih orang akan membeli satu kali Windows, kita bisa membeli software lebih banyak sekali bayar. Ada dorongan besar buat Moses ketika mendengar nama Atlassian.


Tips Co- Founder


Hasratnya akan mendirikan startup bergejolak terus. "Tetapi dari Australia, saya tau saya tidak akan bisa melakukan startup dari Australia," jelasnya. Karena marketnya kecil, dan FinTech belum menjadi sesuatu bagi masyarakat Australia pada jamannya.



Begitu sampai California dirinya mendapatkan instal ulang. Pengalaman merantau di Amerika seketika hilang di California, di wilayah Silicon Valley. Moses mulai membuat komputer. Dia merakit komputer kustom bagi temannya, dan ia akan menerima bayaran.


Dia juga memberi layanan memperbaiki komputer terkena virus. Moses dapat bayaran dari sana. Inilah cara Moses bertahan hidup diluar negeri. Dia diajarkan seseorang bernama Rob Chandra. Dia dulunya mengajar di Brakely, yang sempat menjadi cofounder Xendit, sekaligus mengajarinya mencari founder.


Moses sadar bahwa dia membutuhkan founder. Ada waktu dua tahun dimasa sekolahnya berbuat suatu kesempatan. Banyak orang akan berbicara kepadamu mengenai teknik. Menjadi mahasiswa jurusan engineering membuatnya dikenal.


Dia baru menemukan co- founder ketika bermain hacktakons atau hack days. Keduanya pernah dalam satu tim olahraga hacker. Moses dan rekannya pernah memenangkan perlombaan. Paling besar mereka pernah menang bahkan melawan Stanford.


Pada tahun keduanya dia dan rekan berulah berbisnis. Ketika perkuliahan mengajak para mahasiswa membuat proyek entrepreneurship. Maka Moses memasukan tugasnya mengenai Xendit. Tujuannya adalah menciptakan kombinasi antara teknologi dan finasial dalam transaksi digital ini.


Proyek tersebut masih mentah dia mengenang. Teman- temannya ikut membantu mengembangkan. Itu seperti proyek Power Point. Banyak orang membantu membuatnya bereksperimen. Menjadikan ini sebuah proyek akademis. 

 

Banyak profesor tertarik salah satunya, Rob Chandra, yang sangat membantu soal ide dan adapula sosok Robin Toby, yang ikut mengeksekusi dan membantu investasi. Mereka para profesor sangatlah informatif akan apa mereka coba bangun.


"Seperti ibuku katakan, mungkin kita bukanlah paling pintar, tetapi kita akan bekerja keras dan akan lebih mengalahkan kerja siapapun," ujar Moses. Ia percaya bahwa etik kerja, selain keberuntungan, merupakan fundamental dalam kesuksesan.


Bahkan dalam mencari pasangan, Moses menulis daftar dalam empat halaman, 32 kalimat apa yang dia inginkan dalam pasangannya. "Dan seperti saya mau, saya akan menikah, jadi sangat mirip seperti mencari co- founder," selorohnya.

Bisnis Properti di Australia Pengusaha Iwan Sunito

Profil Pengusaha Iwan Sunito


bisnisproperti.png

Pengusaha Iwan Sunito  sering tidak naik kelas. Tetapi bukan berarti dia tidak mampu. Kini ia sukses bisnis properti di Australia. Dia mengakui menjadi orang bodoh itu membosankan. Dulu pernah tidak kelas di SMA, kini, ia adalah salah satu pengusaha keturunan Indonesia yang berprestasi. 
 
Meski telah menjadi warga negara Australia Iwan masih aktif menjadi pembicara untuk mereka para pengusaha muda Indonesia. Dia dikenal sebagai CEO Crown International Holding Group, perusahaan properti besar di Australia.

Ia menyebut hidupnya "fortunate life", keberuntung sekali. Dari Surabaya, lahir disana kemudian tinggal di Kalimantan, di sebuah rumah kayu sederhana. Pengalaman Indah. Baginya ketika berenang di sungai yang dalam, adem, yang ada buayanya.
 

Properti di Australia

 
Pengalaman malam- malam mencari udang bermodal tombak. Pengalaman indah berlari- lari di hutan Kalimantan, baginya semuanya adalah sebuah keberuntungan. Ya, Iwan tentunya kini tak akan merasakan hal itu lagi. Hidupnya tentang bersyukur dulu dan sekarang.

"Rain forest. Kalimantan Tengah. Pangkalan Bun, it's really beautiful," ujar pengusaha Iwan Sunito. Menjadi pengusaha ternyata sudah menjadi impian pria yang dikenal sebagai "Raja Properti Sydney". 
 
Ibunya hanya seorang pengusaha kecil begitu pula ayahnya. Namun pengalaman melihat mereka, terutama sang ibu, merintis bisnis dari bawah, dan menawarkan kue- kue tersebut memberikan kesan tersendiri. 
 
Hanya bisnis kue kecil- kecilan tapi kesannya mampu membangkitkan semangat Iwan. Meski sekolah berantakan sejak SD, SMP, sampai SMA, ia mengaku bukan orang bodoh. Mungkin karena lingkungan yang tidak mendukung. 
 
Atau, gurunya yang tidak baik ucapnya bercanda disela- sela wawancara dengan Vivanews. Iwan menirukan bagaimana dia dan kawan- kawanya selalu menyalahkan guru. Mereka bukanlah achiever lugasanya, selalu menyalahkan guru atas nilai- nilai jelek mereka. 
 
"Wah gurunya sentimen sama saya, kalau saya tidak naik kelas," tirunya.

Tidak pernah lulus dan harus mengulang satu tahun lagi, nilai Iwan semakin baik. Setelah pindah ke Australia ada tekat tersendiri dalam dirinya. Tekat untuk berubah. Buktinya ia sukses bersekolah di Australia dengan segala perbedaan kultur, ijasahnya Australia. 
 
Orang tua Iwan sendiri yang mengirim pura- putranya ke Australia untuk bersekolah meski harus bersusah payah. Singkatnya Iwan berangkat sendiri ke Australia menyusul kakaknya, sedangkan orang tuanya ada di Indonesia masih bisnis kecil- kecilan.

Di Australia Iwan memborong dua gelar sekaligus, serjana arsitektur dan master manajemen konstruksi. Dua gelar yang bermanfaat untuk mendukung bisnisnya kelak. Setelah lulus kuliah ia tak langsung memasang tarif, justru rela mengerjakan tanpa upah. 
 
Dia pun mau mengerjakan proyek- proyek kecil. Dia sembari mengambil gelar master manajemen konstruksi, ia sudah sibuk mengerjakan beberapa rumah. Iwan tak menyangkan akan bisnis properti di Australia.

"Sambil mendengarkan pengajar, saya tahu bagaimana practical prosess-nya. Kebanyakan student-student lain hanya dengar, tetapi nggak tahu di mana konteksnya. Saya dengar, saya menangkapnya lebih cepat," terangnya.

Iwan bekerja di sebuah perusahaan arsitek selama enam bulan. Bukan perusahaan biasa karena perusahaan itu pernah membangun konstruksi untuk Olympic 2000. 
 
"Saya kerjanya menggambar. Setelah enam bulan, saya nggak bisa berdedikasi, saya keluar. Setelah itu, saya mengambil master," jelasnya. Pada tahun 1994, barulah dia membuka bisnis sendiri yaitu bisnis arsitektur. 
 
Mulai dari satu bisnis itulah bisnis Crown Group berdiri, dari satu usaha bergabung dengan grup usaha lainnya.

(lihat wawancaranya di Vivanews)

Cuti Hamil Mulai Usaha Kisah Pengusaha Australia

Profil Pengusaha Stefanie Schwartz

 

iburumahtangga.png
 

Wanita bernama Stefanie Schwartz cuti hamil mulai usaha sendiri. Pengusaha Australia yang kini bahkan tidak ke kantor kembali. Diberitakan dia mengambil cuti beberapa bulan. Tiga tahun lalu, dia melahirkan dua anak sekaligus, dan sempat beberapa kali masuk kembali.


Ya dia tetap mengambil cuti kembali karena melahirkan dua kali. Nah, diantara sela waktu berdirilah usaha sendiri, namanya Chuchka yang menyediakan produk aksesoris. Dia berjualan pakaian sampai juga handuk. Cuti hamil mulai usaha ternyata sangat menyenangkan loh.

 

"Aku ingin pekerjaan yang cocok untuk jadi ibu penuh," tuturnya. Ibu rumah tangga mulai usaha sendiri juga harus senang. Dia mengatakan lakukan apa kesukaan kamu.

 

Belajar Wirausaha

 

Memulai usaha sendiri berarti mengeksplor kreatifitas. Stefanie tak ragu belajar sesuatu. Dia ingin bisa mengembangkan usahanya selalu. Ia sebenarnya tengah mengetes minat akan kewirausahaan. Ketika cuti hamil menjadi pilihan karena memang cukup panjang.

 

Dua pekan usahanya membuktikan bahwa dia sanggup. Ibu rumah tangga satu ini lebih memilih hal- hal dunia anak dan ibu. Maka dia menjual aneka produk mudah dicuci, produk terjangkau, dan bahan berkualitas.

 

Diakui wirausaha tidak mungkin akan sukses dalam semalam. Dia mengatakan kurang dari setahun baru nampak pesat. Tetapi dibelakang dibutuhkan proses panjang termasuk pemasaran. Stefanie pemilik Chuchke sudah mengirim 100 barang ke seller, dua departement store, dan punya toko galeri sendiri.


Stefani sudah percaya diri akan sukses nanti. Bahkan itulah pengusaha harus memiliki kepercayaan diri tinggi. Stefani mampu melihat celah bisnis lebih luas. Mulai mengikuti tren, menjual barang terjangkau, menjual produk trans- musim.


Buat kamu ibu rumah tanggau mau mulai usaha. Stefane punya tips biar tidak kaget memulai: Dia jelas menegaskan tidak gampang. Merintis membutuhkan waktu melewati kesulitan sampai berkembang. Itu bahkan akan menguras waktu seharian layaknya kantoran.


Maka kamu harus memilih usaha benar benar kamu suka. Kemudian kamu harus mulai membagi waktu antara keluarga dan bisnis. Namun jangan lupa buat refreshing biar semangat kembali. Kalau memilih antara anak atau bekerja kantoran; dia memilih anak.


Baginya akan selalu memiliki waktu mencari celah antara anak atau bisnis. Bekerja kantoran tentu tak memberikan pilihan. 

 

"Aku  memprioritaskan waktu untuk anak- anak ku, karena aku tidaak ingin kehilangan hal- hal besar dengan mereka. Aku memprioritaskan keluarga ku dan keluarga suamiku," tutupnya.

 

Brand Fashion


Nama Chuchka berasal dari bahasa Yiddish untuk "trinkers" atau "collectibles". Dimana dia memulai pada 2015, ciri khasnya adalah aneka tas tote berbahan neoprone atau bahan tahan air. Brand tersebut kemudian ekspansi dari tas tote mini, handbags, backpacks, diaper bags, gym bags, cluthes, dll.


Dari sekedar berbisnis jualan fashion menjadi brand iconic. Stefanie memilih membuat produk sendiri. Handmade tidak cuma tas perempuan dan tas fashion. Dan kelebihannya adalah semua tas tersebut bisa dicuci di mesin.


"Sejujurnya aku tidak tau itu adalah rencana tepat ketika aku memulai," ujar pengusaha wanita ini. Dia menjelaskan berbisnis merupakan memulai hal kreatif. Pada awalnya, Stefanie selalu berpikir menjual apa dia inginkan.


Dia mulai semua dengan berbekal sedikit jualan. Kemudian beberapa orang tertarik akan pandangan estetik Stefanie. Hingga mereka ingin memiliki produk buatanya tersebut. Butuh empat tahun sampai nama brandnya seperti sekarang. Rasanya sangat lama tetapi terkadang sekejap mata terpejam.


Chuchka telah memiliki 300 tempat penjualan dan masuk department store. Mereka bekerja sama dengan Soul Cycle dan Bendier untuk ekspansi ke Amerika Serikat. Tujuannya adalah menjadi brand internasional.


Disana akan selalu terdapat tujuan kecil. Baginya dia akan mengejarnya dahulu dan menyenangkan. Ini suatu pencapaian khusus. Stefanie menyenangi produk daur ulang. Seperti mendaur ulang gelas plastik kopi menjadi tas fashion.


Dia ingin mensuport industri melalui eco- friendly. Ingin menjadikan produk terjangkau tetapi trendi. Ia tidak ingin sesuatu mahal sekedar gengsi.

Bisnis Teknologi Pengusaha Muda Asal Australia

Profil Pengusaha Michael McCoogan


bisnis uber global
 
Pengusaha muda asal Australia ini bernama Michael McCoogan. Dia yang begitu dekat dengan bisnis teknologi. Bermula dari kesenangan mengutak- atik komputer, McCoogan sering dipanggil teman- temannya membantu. Dia dimintai tolong bila ada kerusakan pada komputer milik mereka.

Usianya masih 14 tahun mendapatkan banyak permintaan tolong. Dari bermain internet dia mampu menghasilkan uang karena menjual jasa. McCoogan membantu semua hal termasuk membuatkan situs web. Dia menyadari bahwa banyak usaha kecil membutuhkan bantuan online.

Bisnis Teknologi Internet


McCoogan mulai membantu usaha kecil berjualan online. Dia mendapatkan 500 dollar membantu orang- orang. Bila pemilik usaha membutuhkan admin tinggal bayar 50 dollar perbulan. "Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat," tuturnya.

McCoogan beruntung pintar internet sehingga dibutuhkan banyak orang. Jaman itu usianya masih 16 tahun, hingga mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, dimana mengerjakan otoritas sungai Murray- Darlin Basin.

Pemerintah Australia dilarang berhubungan dengan bisnis individu. Maka dia mendirikan perusahaan sendiri. Usianya masih 16 tahun, tentu tidak boleh menjadi pimpinan perusahaan, lantas apa solusi bagi pengusaha muda ini. McCoogan kebetulan menemukan tetangganya yang baru pensiun.

Pria bernama Michael Massop baru pensiun pegawai negeri. McCoogan lantar menawari sebagian dari saham perusahaan. Massop pun dilantik menjadi direktur utama, sampai McCoogan berumur 18 tahun. Massop merupakan sedikit dari orang tua yang mendukung McCoogan.

"Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang yang saya temui," ia melanjutkan.

Uniknya Massop malah meminjamkan uang $15.000 untuk modal. Uang tersebut merupakan iuran keluarga lain. Massop pun masih bekerja ketika usia McCoogan memenuhi syarat. Bisnis yang diberi nama UberGlobal.

Ayah McCoogan mampu melihat anaknya begitu memiliki visi. Bahkan dia setuju ketika suatu hari anaknya datang meminjam uang. Tepatnya, sang ayah membiarkannya memakai rumah senilai Rp.1,5 miliar untuk modal. Uang tersebut dipakai buat membeli perusahaan saingannya di bidang internet.

UberGlobal melakukan akuisisi pertama dilanjut perusahaan lain. Total omzet yang didapat mencapai $13,3 juta pada 2011. McCoogan semakin bersemangat dengan jumlah total klien 500 lebih. Upaya akuisisi ini terbukti menjur menambah kekuatan dan daya saing berbisnis ini.

UberGlobal menjadi perusahaan layanan internet dan webhosting terbesar di Australia. McCoogan membuka lapangan pekerjaan buat tiga sahabatnya. Diusia 18 tahun, dia telah memiliki rumah sendiri dan mobil bernilai Rp.2,5 miliar, dan membagikan saham 20% untuk keluarga dan sahabatnya.

Usianya masih 14 tahun ketika membuka usaha reseller webhosting Amerika. Dia membantu menjual dan membuatkan website untuk warga Australia, memakai layanan Amerika. McCoogan melakukan semua melalui kamar tidurnya pada 2002.

Usaha tersebut diberi nama McGooHQ dan dalam tiga tahun naik daun. Kemudian ia merubah nama menjadi AussieHQ. Usaha ini membesar karena diawal- awal sedikit sekali persaingan. Alhasil dia berhasil membuat layanan website terbesar bernama UberGlobal.

Hingga perusahaan bernama Melbourne IT menawar pembelian. Mereka membayar $15,5 juta untuk perusahaan, dengan memberi pendapatan sebelum pajak bagi pemegang saham. Total dikeluarkan dari pembelian tersebut $2,1 juta.

Melbourne IT memang tengah naik daun dibanding UberGlobal. Meskipun membeli nyatanya nilai UberGlobal cuma menghasilkan kecil. Usaha Melbourne sendiri mengalami lonjakan pendapatannya 14% dari 2014 senilai $124 juta.

Ini berarti bahwa McCoogan gagal menjadikan usahanya lebih besar. Nampaknya semakin terbuka internet membutuhkan lebih banyak kerja keras. "Kami hanya masyarakat menengah- kebawah, jadi ini cerita menarik untuk kisah sukses Australia miskin menjadi kaya," ujarnya.

Dia menangis ketika harus menjual perusahaanya itu. Usaha tersebut dilepas 2013, dimana melewati waktu yang panjang, bayangkan modalnya berbekal iuran keluarga. McCoogan berhasil mengangkat nilainya sampai lebih dari $20 juta.

Sayangnya, tidak mudah membesarkan perusahaan, bahkan McCoogan pernah lima kali bangkrut karena UberGlobal. "Semua pelajaran dari pengalaman merupakan paling bernilai untuk dibawa," ujar dia. McCoogan sendiri sekarang menjadi pimpinan perusahaan Crucial, sesama usaha hosting.

Jualan Cookies Lucu Tiru Entrepreneur Muda ini

Profil Pengusaha Stephanie Chan


tiru entrepreneur muda
 
Menjadi entrepreneur muda tidak melulu harus lepas pekerjaan. Kegalauan Stephanie Chan terlewati berkat jualan cookies lucu. Bila kamu bingung mau buka usaha apa. Tirulah Stephanie yang tinggal melakukan hobi sehari- hari selepas bekerja.

Gadis ini tidak buru- buru resign. Bisnis dijalankan berdampingan dengan pekerjaan utama. Bertahap dia mulai memahami pasar ingin dicapainya. Dia jualan cookies lucu dibanding umumnya. Stephanie menawarkan kue- kue imut dan lucu menggemaskan.

Awal Mula Berbisnis


Dikisahkan Stephanie merupakan konsultan keuangan di Melbourne, Australia. Jujur dia mengakui adalah "pembuat kue yang buruk". "Aku pembuat kue yang buruk. Sebelum ini, aku tidak punya pengalaman membuat kue dan masih jelek memanggang kue kecuali cookies!" tuturnya.

Keunikan cookies buatanya cocok dipasangkan feed Instagram. Ia menamainya Sugar Rush by Steph dan punya akun Instagram khusus. Berkat itulah orang mulai berdatangan dan memesan. Semua itu berkat tampilan menarik feed Instagram milik bisnisnya.

"Aku tidak ingin membuat kue yang sudah mainstream tapi mencoba sesuatu yang berbeda, terutama cookies," jelas Stephanie.

Dia berjalan dengan menjual kecil- kecilan. Seperti dilansir dari Daily Mail, masih bekerja ketika memulai semua sembari belajar. Stephanie mulai menemukan pasar cookies dekoratif. Bentuk kue yang unik, kekinian, misalnya berbentuk unicorn, emoticon, dan alpukat.

Warnanya "ngejreng" sangat cerah ketika dipasang di sosial media. Baginya kunci sukses itu adalah Instagram dan Facebook. Walapun begitu, suara dari mulut ke mulut sangat berpengaruh. Maka dia selalu mengembangkan kualitas rasa cookiesnya.

Beruntung dia memiliki teman- teman yang hebat. Masih bekerja, Stephanie iseng menawarkan ini ke kliennya, ternyata dia memesan sampai 2.500 cookies buat proyeknya. Kini, dia menjual cookiesnya ke kafe- kafe, adapula 7 toko ditambah beberapa pesanan dari perusahaan- perusahaan.

Dia pun resign setelah mendapatkan banyak pesanan. Buat kamu yang mau berbisnis cookies baik mengikuti tips Stephanie ini. Pertama kualitas bahan baku cookies merupakan hal utama. Kedua, ia menyarankan jangan buru- buru berinovasi tetapi lakukan sesuai resep asli.

Stephanie pun mengingatkan jangan mengambil jalur singkat. Bertahan nikmatilah kegagalan dan bangkit kembali. Mulailah berjalan dengan keras sampai mencapai tujuan kamu. Tapi ia memberi peringatan kalkulasikan semua, lakukan riset pasar, dan memahami pasar.

Stephanie ingin kamu bersemangat usaha. Entrepreneurs harus menekuni dan mencintai apa yang dilakukan. Taruhlah semua jiwamu itu dalam usaha kamu. Lantas kamu buat semua terorganisir dan buat struktur pendukungnya.

"Percayalah pada dirimu sendiri bahwa semuanya bisa terjadi jika kamu menaruh hati dan jiwamu di situ," Stephanie menyarankan.

Klien utamanya kebanyakan kafe- kafe tempat nongkrong orang. Dulu dia bekerja full time menjadi pegawai akuntan penuh, dan membuat cookies bisnis selingan selepas bekerja. Hanya saja, penjualan cookiesnya terus naik, alhasil dia memilih untuk melepaskan pekerjaan atau resign.

Nah sekarang cookies buatan Stephanie semakin menarik. Mengapa dia memilih menjadi entrepreneur

Berbohong Masih Bekerja Jane Membangun Mimpinya

Profil Pengusaha Sukses Jane Lu


 
Mencari kerja sangat sulit bagi anak muda jaman sekarang. Orang tua jaman sekarang cuma berpikir anak mereka kuliah di tempat tepat. Kemudian belajar hingga lulus, bisa masuk ke perusahaan berdasarkan latar belakang pendidikan. Tidak semudah itu ternyata menjalankan hidup. Langkah awal memasuki dunia kerja itu adalah tekanannya.

Jane Lu bukanlah anak bodoh. Bahkan dia punya pekerjaan sendiri sebelum lulus kuliah. "Saya mendapat nilai 99+ UAI (persentase tertinggi ranking di kuliah), saya belajar perdagangan di UNSW... Pada dasarnya saya berada ditempat nyaman tepat untuk gadis Chinese baik," ujarnya. "Maksud saya, saya bahkan belajar main piano di umur delapan tahun."

Dia pernah bekerja di perusahaan besar. Sebut saja, dia pernah bekerja menjadi akunting di firma Ernst & Young. Bekerja selama beberapa tahun disana membuatnya merasa kosong. Ada kehampaan dibali rutinitas membosankan di perusahaan.

"Saya hanya muak terjebak di ruang hijau," jelas Jane.

Ada suatu masa ketika Jane melihat ponselnya. "Saya berkata: Tiga jam telah berlalu, Tiga jam telah berlalu, saya secara harafiah tiga jam lebih mematikan dari sebelumnya dan dari semua yang saya lakukan hanyalah menghapus referensi kedua dari spreadsheet ini ... apakah ini hidup saya?

"Jadi saya keluar," tegasnya.

Pengangguran


Setelah cukup lama membahas hidupnya sebagai pegawai. Dia mulai berpikir apa hal selanjutnya. Itulah yang kemudian membawanya ke sebuah bisnis. Ketika Jane mendengar teman- teman dekatnya sedang memulai sebuah bisnis. Tanpa berpikir panjang keputusan keluar dari perusahaan bulat. Ia merasakan lega, tetapi lain hal rekan kerjanya yang menyebut "idiot". Pasalnya, ia memilih keluar ketika tengah krisis ekonomi global.

Berbisnis sendiri?

"Semua orang menjadi berlebih- lebihan. Dan di sana saya cuma pergi- berhenti dari pekerjaan saya untuk menjalankan toko pop-up, " katanya.

Dia memulai sebuah toko retail. "Jadi saya keluar dari pekerjaan dan secara buta mengikuti," tuturnya. Pada bulan pertama berjalan baik hingga akhirnya sepi. Patner bisnisnya bahkan memilih menarik diri dari bisnis mereka. Itulah akhir dari perusahaan bernama Fatboye Group. Keputusannya keluar dari pekerjaan saat itu didukung penuh oleh keluarganya.

Ia menyebut kedua orang tua adalah inspirasi. Mereka (orang tua) menyebut Jane sangat berani. Tetapi ia melihat keberanian adalah kedua orang tuanya. Bayangkan mereka adalah imigran China yang melepaskan pekerjaan sebagai tukang bersih- bersih dan sebagai buruh. Mereka jauh- jauh pindah ke Australia, memulai sesuatu yang baru.

"Itulah apa yang disebut keberanian," tutur Jane penuh bangga.

Keluarga memberikan pinjaman untuk membuka toko retail di pusat kota. Sayangnya, seperti dijelaskan apa yang diatas, usahanya bangkrut bahkan meninggalkan hutang $50.000. "Apakah saya lupa menyebut bahwa nama bisnis kami Fatboye Group? Yeah, go figure," ingat Jane sambil diikuti derai tawa. Pada umunya, ia dalam keadaan sangat jatuh, "...dan saya terlalu banyak harga diri untuk meminta pekerjaan saya lagi," tutur dia.

Tidak ada pilihan lain kecuali Jane haru kembali ke Ernest & Young. Tetapi tekanan itu kembali hadir bahkan semakin kuat apalagi darah Chinese -nya berdesir; seharunya tidak berakhir begini. Akhirnya, ya, ia memilih untuk keluar lagi. Dia melakukan sendirian atas keputusannya sendiri. Dalam benaknya bayangan orang tua tentang karir ideal.

"Jadi, saya hanya tidak bisa masuk ke diri saya untuk mengatakan bahwa saya telah keluar dari pekerjaan itu (lagi)," ujar Jane. Inilah dimana masa dirinya "membohongi" kedua orang tua. Kegagalan pertama kali itulah yang memaksanya berpura- pura menyesal. Faktanya dia malah berusaha mengembalikan usahanya lagi ke jalan. Meski hidupnya harus terseok- seok mengerjakan bisnis sendirian; tidak ada pegawai tersisa.

"Jadi, itu hanyalah keputusan logis untuk dilakukan. Saya tidak bercerita kepada mereka," Jane menjelaskan.

Dalam tekanan dirinya butuh akting sempurna. Apalagi faktnya dia masih tinggal bersama orang tua dan satu kesalahan menghancurkan semua. Untuk itulah selama enam bulan, Jane bangun jam enam pagi, langsung memakai pakaian kerja dan "berpura- pura" berangkat kerja. Dan menurutnya hal tersulit menjadi seorang pengangguran adalah harus bangun pagi seperti orang bekerja.

"Jadi, saya akan bangun pagi, mengenakan setelan saya, sarapan dengan keluarga saya. Menunggu bus ke kota, kadang- kadang dengan ibu saya." Sesampainya di pusat kota, Jane hanya lalu- lalang di CBD (Central Business District) mencoba mencari jalan keluar.


Toko online


Tidak ada hal yang bisa dilakukan Jane ketika itu. Ia pun kembali menggeluti bisnis sebelumnya. Bedanya, ia memilih membuka toko online sendiri dan masih berbohong soal pekerjaan. Tentu orang tua memang tidak akan paham soal jual- beli online dan ia merasa tidak untuk kali ini. Dia tidak menceritakan tentang usaha keduanya ini.

September 2010, Jane bertemu seorang gadis yang ingin membangun bisnis online sendiri, disinilah ia merasa terpanggil. Satu malan ditemani segelas wine munculah nama Show- Pony. Yang mana nama tersebut menjadi Showpo jika diucapkan. Perlua dijelaskan Jane punya hutang dari bisnis sebelumnya, juga hutang dari biaya kuliah, kemudian ditambah hutang karena keluar dari cadetship total, total ada $18.000 hutang baru.

"Itu totalnya $60.000 diumur saya ke 24 tahun. Bukan tempat nyaman untuk memulai usaha atau bukan juga nyaman untuk dimanapun," jelasnya, mau tak mau usaha kali ini harulah sukses.

Motivasi terbesar dalam mengerjakan bisnis adalah dia tetap bangun pagi. Cuma Jane tidak perlu lagi harus melapor dan bekerja atas apa passion -nya. Mungkin akan enak jika dia bangun kemudian jalan ke pantai bersama teman penganggurannya; tetapi tidak. Setiap hari merupakan bekerja keras dan lebih keras lagi. Ia sadar bahwa sukses akademis dan karir tidak membawa ia kemanapun.

Hidup itu panjang menurut Jane. Tetapi tidak cukup panjang untuk sekedar bersenang- senang saja. Justru ia meyakinkan bahwa kita harus bekerja cerdas bukan keras. Pola kerja kamu memang akan memenuhi setiap sisi kehidupan, tetapi itu tidak membuat kamu monoton. "Jadi mengapa tidak bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja, " tambahnya.

Dasarnya dia tidak punya uang sama sekali. Bahkan terlalu banyak hutang yang harus ditanggung oleh Jane. Jadi yang bisa dilakukannya hanyalah berpromosi lewat sosial media. Dia mencoba membuat komunitas dan mulai membranding ulang. Komunitas online dan beberapa orang staf akhirnya menjadi wajah dari produk itu sendiri. Ia juga aktif membangun kualitas disetiap foto produknya di Instagram ataupun Facebook.

Disinilah kemenangan produk Jane, ketika perusahaan besar belum masuk ke aspek sosial media. Mereka belum bisa juga mengkapitalisasi internet. Marketing lewat membangun komunitas loyal dimana disana tidak cuma menjual produk.

"Pada dasarnya, saya tidak punya uang ketika saya memulai bisnis sehingga saya perlu sosial media untuk memperkenalkan mereka kepada komunitas," tutur Jane.

Keluarga Jane merupakan imigran ketika ketegangan politik 1994. Dia masih berumur delapan tahun dan itu adalah pengorbanan orang tua hingga ia berkembang seperti sekarang. Meski menjadi pengusaha online yang ternama di Australia masih meninggalkan perasaan aneh -dijadikan role- model pengusaha wanita pantang menyerah.

Padahal menurutnya, dia hanyalah seorang pemula yang bahkan bisnis pertamanya bangkrut.

Developer Remaja Sukses Menarik Perhatian Dunia


Fakta bocah ajaib ini mengejutkan kamu. Karena dia cuma iseng ketika menemukan aplikasi iOS Impossible Rush, dan menjadi rebutan dua perusahaan besar. Apakah dia adalah 'next Mark Zukerberg' mungkin terlalu dini. Namun kita bisa meniru langkahnya setidaknya jika kamu bisa iseng- iseng berbisnis. 

Dia, Ben Pasternak, bocah 15 tahun yang memang sudah tertarik akan dunia komputer. Bahkan sejak dia sudah 10 tahun bersekolah di Reddam House, Sidney. Bagi remaja ini belajar itu membosankan. 

"Saya berjuang untuk bersaing dengan sekolah tetapi pada saat sekarang ini saya ingin fokus pada aplikasi saya sebanyak mungkin, " kata remaja satu ini.

Dia pun mulai mengerjakan game -nya untuk Apple Store. Bocah beranjak remaja ini tidaklah sendiri ketika itu ia bersama seorang teman, Austin Valleskey. Ben tengah jenuh kala itu. Dia pun segera menuangkan ide itu ke dalam aplikasi sesungguhnya. Tak disangka ketika diunggah di Apple Store; Impossible Rush menang besar di chart paling didownload.

Aplikasi iPhone sukses meraih 500.000 kali, yang awalnya saja, tiga bulan yang lalu masih diangka 50 -an ribu. Hampir satu juta unduhan pantaslah jika dia ditaksir banyak perusahaan. Facebook dan Google yakin bahwa bocah Australia ini bukanlah bocah biasa. Tidak cuma itu bahkan Yahoo sekonyong- konyong ikut masuk ke persaingan memperebutkan sang pengusaha remaja

Departemen magang Facebook telah mengundang Pasternak untuk berkunjung ke kantor pusat perusahaan di California, sementara Wakil Presiden Google Search, Yossi Matais, memintanya untuk kampus raksasa pencari, setelah akhirnya menyadari karya Pasternak. Meski tidak dikeluarkan dalam Android kala itu, ini jadi bukti bahwa Google tetap waspada, lalu, dimanakah kenapa perusahaan Apple tak ikut serta?

Nampaknya, Ben kuat menjaga kartunya dekat dengan dadanya. Dia tak mau langsung menunjukan semua apa yang dia punya sekaligus. Diajak berkeliling Google, Ben dan keluarga mendapatkan undangan gratis melalui program MIT Launch dan Google sendiri melalui Hack Generation Y. Tidak cuma dirinya ada 450 anak lain yang akan bersama membangun satu produk dalam 35 jam.

Tak sendiri


Meski dikenal mengejutkan banyak orang; Ben juga punya saingan. Disisi lain ada sosok Jihad Kawas, CEO asal Lebanon berumur 17 tahun, yang menjual- membeli aplikasinya bernama Saily. Ada pula bocah asal Israel, juga 17 tahun, bernama Gino yang sudah mendapatkan sokongan dana $300.000 untuk produknya yaitu RapidAPI.


Adanya batasan dari Twitter agar orang tidak menggunakan aplikasi pihak ketiga. Justru ini membuka satu peluang bagi Ben dimana dia membayangkan ini seperti batasan harga. Dia menerima tantangan Twitter dalam acaranya di Hack Generation Y. Ben yang sebelumnya sukses membangun game bernama Impossible Rush bukanlah langsung tentang uang.

Dia mengaku sempat menjualnya seharga $200 padahal telah didowload 750.000. Dia menjualnya kepada seorang teman di New York Charlos Fajardo. Nah, si Fajardo inilah yang menaruhnya ke toko aplikasi dan akhirnya meroket.

"Motivasi terbesar saya adalah mengetahui bahwa aplikasi saya membuat kehidupan masyarakat hanya sedikit lebih mudah dan sederhana. Ada perasaan yang tidak lebih baik daripada melihat orang yang menggunakan kreasi kamu," kata Ben kepada Mashable.

Sepertinya tidak ada yang bisa menghentikan pengusaha remaja ini. Dia sudah meliha pandangan luas dalam benaknya sebagai developer. Pada 2015 ia bahkan berencana mengalahkan top 5 untuk aplikasi Apple, lalu datang ke Apple Worldwide Developers Conference, kembali ke negara Amerika Serikat, dan mungkin dia akan mendapatkan magang di suatu tempat, di Google mungkin?

Dia memiliki satu pesan terakhir tentang proyek sampingan rahasianya kepada reporter Mashable: "Awas, eBay", inilah anak yang tepat untuk mengalahkan mu.

Download Impossible Rush (Android)
Download Impossible Rush (iPhone)

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba