Oscar Lawalata Sang Fashion Desainer Terkemuka

Biografi Desainer Pengusaha Kultur



Bernama lengkap Oscar Septianus Lawalata atau lebih dikenal Oscar Lawalata. Sang fashion desainer kelahiran Pekanbaru, Riau, 1 September 1977. Dia anak pertama dari pasangan Ragnild Antoinette (lebih dikenal sebagai Reggy Lawalata) dan Alexander Polii.

Saudara laki- lakinya, Mario Lawalata, dikenal sebagai sosok pemain sinetron terkenal. Oscar memang telah menunjukan sisi feminimnya sejak kecil. Pria yang berdarah campuran Jawa- Ambon- Manado ini lebih sering bermain dengan anak perempuan.

Karena itu, meskipun ia pandai bermain basket tetaplah menjadi olokan karena sifat feminim itu. Pembawanya memang gemulai, kulitnya halus, alis mata yang bagus dan bibirnya merah alami, membuatnya lebih diolok- olok oleh teman sebayanya.

Minat dan Bakat


Meskipun begitu Oscar bukanlah anak cengeng; ia selalu melawan ketika dirinya mendapatkan perlakuan tak baik. Prinsip tersebut ternyata diajarkan oleh sang ibu yang akhirnya merasuk ke dalam dirinya; selama tak salah, ia harus berani membela diri.

Ia tumbuh menjadi anak tahan banting di kehidupan sehari- hari, meski terkadang kenyataan memang sulit. Ibu Oscar, Reggy Lawalata, yang memilih bercerai serta membawa kedua anaknya dalam pengasuhannya.

Dia harus menjadi orang tua tunggal untuk Oscar dan adiknya yang masih dibawah umur. Reggy pun pontang panting menghidupi dua buah hatinya itu. Ia menjahit cempal pegangan panci sampai tengah malam untuk dijual seharga lima ratus rupiah sepasang.

Reggy pernah berjualan gado- gado dan es cendol, menjadi sopir bus sekolah, bahkan menenteng tas besar berisi barang kreditan ke rumah teman- temannya. Ia tak malu menawarkan barang di tempat arisan. Bahkan sambil Reggy menuntun Oscar dan Mario, semua dilakoninya.

Kehidupan sang ibu, membuat Oscar membuat dirinya kuat meski tau dirinya berbeda. Sifat feminimnya itu ternyata membawanya ke dunia fashion desainer. Dia tau betul apa bakatnya tersebut. Oscar mampu menyelami perasaan wanita berkat kepekaan, lahirlah karya- karya mengagumkan.

Berbekal bakat menggambar yang dimilikinya, Oscar mulai meniti mimpinya dengan bersekolah di Esmod, Jakarta. Program pendidikan seharusnya tiga tahun, hanya dijalani separuhnya saja. Oscar kemudian memilih berhenti sekolah saat terjadi krisis moneter tahun 1998.

Uang sedianya untuk biaya sekolah di Esmod, digunakan untuk membuka usaha sendiri. Meskipun belum menyelesaikan studinnya, jiwa wirausaha begitu kuat dibenaknya. Itu berawal dari kisah persahabatannya dengan seorang model, Novie yang dikenalnya mengikuti lomba model di majalah remaja ketika SMA.

Bersamanya yang sudah dianggap sebagai kakak, Oscar mulai memasuki dunia fasion dan mode Indonesia. Lantas bersama pacaranya, yang disapa Mas Awi, di EO (event organizer) nya, Oscar sering mendapatkan banyak pekerjaan sebagai show director.

Oscar dan Novie baru mencetuskan ide membangun butik di tahun 1997. Berkata pengalaman serta tekatnya keduanya mantap mengerjakan bisnis ini. Oscar bekerja sebagai pengelola, sedangkan Novie bertugas sebagai sang investor.

Mereka berkolaborasi dan membuka butik dengan nama Ne' Tes di Jalan Senopati, Jakarta. Itu cuma butik sederhana dibandingkan apa yang didapatkan Oscar sekarang ini. Meskipun sederhana, ia tetap telaten mengerjakan bisnisnya.

Bagian depan dijadikan tempat memajang baju- baju rancangan Oscar, sementara bagian belakangnya untuk tempat jualan barang interior, seperti kain-kain tenun dari Jawa Barat atau sofa dan lain-lain.

Walaupun tanpa promosi besar- besaran bermodal marketing mulut ke mulut saja, butik Ne' Tes berkembang cukup pesat. Tahun 1998, ia mengeluarkan produk tas dari bahan bulu. Ternyata sembutannya sengat baik bahkan hingga menjadi tren se- Jakarta.

Setelah pecah kongsi dengan rekannya Novie, Oscar mulai lagi membangun kerajaan fashionnya sendiri. Dengan bendera merek Oscar Oscar bisnisnya menjual pakaian siap pakain, yang dijualnya berkisar Rp.200 ribu per- potong.

Setelah semakin berkembang, ia mulai membuat gaun malam seharga Rp.1,5 juta bermerek Oscar Lawalata. Sebagai awalan berbisnis ini, dia musti mengumpulkan modal dulu, oleh karena itu ia tak malu mengambil pekerjaan non- fashion.

Ia pernah membuat rancangan seragam bagi karyawan di department store seperti Matahari. Lalu merancang seragam maskapai penerbangan Merpati, seragam perusahaan telekomunikasi, Telkomsel. Semua dilakoninya meski terlihat tak berkelas macam butik.

Namun, siapa sangka sejak itu, butik miliknya semakin berkembang, hingga ibunya mulai ikut turun tangan yaitu membantunya dalam hal urusan administrasinya. Pada tahun 1999, Oscar mengikuti lomba desain di Singapura dimana menjadi ciri khasnya sekarang.

Dia, kala itu, membuat rancangan yang terinspirasi baju Bodo, khas Sulawesi Selatan. Ia mengaku memang menyukai keindahan dan keunikan kultur Indonesia. Dia sukses membawa budaya dari Indonesia ke pentas dunia.

Berkat rancangan yang unik membawanya menjadi pemenang ajang di Singapura. Oscar meraih juara kedua ASEAN Young Designer Contest, Singapura. Namanya kian melejit hingga profil dirinya ditulis di berbagai media cetak seperti halnya Kompas.

Menurut Oscar, rancangan miliknya muncul disaat tepat ketika gaya hidup Kota Jakarta sedang berkembang. Saat dunia gemerlap kota metropolitan muncul, dirinya telah siap bercokol. Selanjutnya, di tahun 2000 an, dia mulai giat mengadakan fasion show dimulai dari kafe- ke kafe.

Hampir seluruh kafe di Jakarta, Bandung, dan Surabaya, acara grand opening-nya selalu diisi dengan pagelaran. Pergaulannya pun semakin luas. Ia banyak berkenalan dengan kalangan selebriti dan orang-orang kreatif lainnya.

Di dunia video klip juga mulai muncul nama Dimas Jayadiningrat dan Rizal Mantovani. Lewat sosok- sosok mereka lah, baju- baju rancangannya mulai sering dipakai di video klip.

Rancangannya telah dipakai artis- artis wanita yang tengah menanjak saat itu seperti Titi DJ dan Penyanyi, aktris Krisdayanti. Di usia belum genap 30 tahun, dia berhasil masuk jajaran 'desainer mahal', yang menawarkan tiga label utamanya: OscarOscar Couture, Oscar Lawalata etnik, dan OscarOscar ready to wear.

Ia juga jeli melihat peluang pasar di dunia fashion pada khususnya. Antara lain dengan menggarap seragam perusahaan besar dengan label khusus, Oscar L. for Uniform.

Tidak melulu tentang pakaian bermotif- motif. Dua kali setahun ia menunjukkan tren secara luas pada acara model kalender dan kreasi yang ditemukan di sejumlah majalah fashion dan banyak fitur iklan di televisi serta video klip musik.

Oscar juga berkonsentrasi di pengembangan nasional tenun tekstil sebagai warisan budaya Indonesia melalui label Oscar Lawalata Couture. Pada Februari 2009, Oscar lantas meraih penghargaan International Young Creative Entrepreneur (IYCY) yang digelar British Council.

Dia berhak atas hadiah uang sebesar 7.500 Pounsterling. Kompetisi internasional yang rajin digelar sejak 2005 itu diikuti 115 perancang dari 47 negara di Asia, Afrika, Eropa Tengah, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Dalam ajang tersebut, Oscar berhasil menyingkirkan perancang- perancang muda lain dari banyak negara, seperti Brazil, India, Polandia, Arab Saudi, Srilangka, Thailand, Tunia dan Vietnam.

"Saya merasa senang bercampur sedih, haru, dan merupakan suatu kehomatan bagi dunia mode di Indonesia," ujar Oscar, seperti dikutip di situs Surya.co.id.

Banner Bekas Dijadikan Tas Kisah Pengusaha Gita

Profil Pengusaha Gita Riska


 
Gita Riska memiliki pandangan mengenai berwirausaha. Banner bekas dijadikan tas kemudian dijual dan ternyata laku. Ditangan dinginnya kain bekas tersebut dijahit cantik. Dipola membentuk tas yang berwarna- warni namun serasi. 

Bisnis kerajinan tas yang dimulai pada 2014 ini mendapatkan respon positif. Masyarakat Palembang menyenangi tas bikinan Gita. Pesan mulai dari yang kecil sampai besar dia terima. Pesanan termasuk dari acara khusus seperti souvenir pernikahan. Baru dua bulan dia memakai bahan banner tersebut.

Tas berbahan baner dijual seharag Rp.35 ribu sampai Rp.150 ribu. Bentuk tasnya beragam jenis dari waist yang disenangi semua kalangan, tas tangan, dan selempang. Gita mengakui semakin rumit dan bermotif unik maka akan semakin mahal.

Pertama kali dia menggunakan sisa baner milik usaha sang suami. Karena pembeli banyak, maka tak jarang dia menyasati. Termasuk Gita menyasar baner- baner bekas calon legislatif dulu. Menurutnya, lebih baik dijadikan tas, daripada menjadi polusi pemandangan karena sudah lama tidak terpakai.

"Sembari berbisnis, saya juga ingin mengampanyekan gaya hidup minim sampah," Gita menjelaskan kepada Tribunnews.com

Semakin banyak pesanan dia tidak segan meminta bantuan. Masyarakat bebas memberi atau menjual baner bekas yang dimiliki. Pernah nih dia mendapatkan pesanan sampai 100 tas buat souvenir. Diakui Gita buat Palembang, bisnis berbahan baner bekas memang belum dikenal masyarakat.

Kalau diluar negeri malah lebih terkenal dibanding dalam negeri. Ia pun menyadari bahwa semua karena masyarakat kurang sadar lingkungan. Namun orang kesini semakin sadar bahwa bahan plastik sulit terurai.

Bisnis sepertinya sangat dianjurkan diperbanyak. Ini sangat bermanfaat membuat bumi lebih baik dan nyaman.

Situs Diskon Singapura Pengusaha Bersaudara

Profil Pengusaha Christopher Chong

 
situs diskon singapura

Tahun 2010 dua orang kakak beradik asal Singapura telah sukses merebut perhatian media. Siapa mereka? Pengusaha bersaudara Karl dan Christopher Chong, bertaruh atas nama sebuah situs. Keduanya berhasil menarik perhatian sistus diskon terbesar, Groupon.

Situsnya beeconomic.com.ph merupakan situs sejenis Groupon. Ini membuatnya menjadi Groupon versi Asia. Keduanya lantas bersepakat menandatangani pembelian senilai $24 juta. Bukan hanya itu, beberapa orang meyakini nilai tersebut bukanlah nilai sebenarnya.

Sementara itu keduanya tetap bungkam tentang seberapa besar nilai aset beeconomic sebenarnya.

Bisnis Besar


Beeconomic.com (sekarang bernama beeconomic.com.ph) telah menjadi sukses singkat. Situs yang dikhususkan bagi para pelancong di Singapura, sebuah situs diskon harian. Mereka lantas bercerita bagaimana keduanya memulai dengan mendatangi orang satu per- satu.

Tujuannya? Mereka mencoba meyakinkan mereka para pengusaha agar mau bergabung. Karl dan Christopher menawarkan situs deal of the day, atau nanti mereka pemilik usaha bisa menyediakan dan memberitakan tentang diskon apapun.

Kedua bersaudara kemudian mencari- cari cara agar banyak orangikut bergabung di dalamnya.

"Pada awalnya, kami harus mengetuk pintu bisnis dan meyakinkan mereka untuk bekerja sama dengan kami. Sekarang, bisnis baru, seperti restoran yang dibuka beberapa warga New York yang pindah ke sini, datang ke kami dan meminta bantuan," terang Chris.

Bersifat Deal of the Day, maka setiap diskon situs hanya akan berlaku satu hari. Kamu ingin makanan lezat murah, kursus tari, atau pelajaran membuat kue makan anda harus update setiap hari. Diawalnya banyak pengusaha yang tidak paham atas konsep bisnis keduanya itu.

Mereka tidak selama mengerti apa itu konsep membeli satu grup, lalu mendapatkan diskon khusus dan bla- bla. Oleh karean itu mereka harus secara khusus mengajari semua orang pemilik usaha dan konsumen tentunya.

Chris meyakinkan mereka melalui etika kerja. Yaitu konsep Beeconomic dimana seorang penjual mampu menjual produk lebih cepat. Melalui deal- of- the day ini, memungkinkan berita tersebar dari satu akun ke akun lain melalui sosial media.

Sebuah cara penawaran cepat membagi selebaran diskon setiap hari.

"Beeconomic membantu pelanggan kamu menemukan alasan untuk membuat kebisingan di jaringan sosial mereka. Bisnis tidak perlu mengeluarkan sepeserpun menciptakan buzz menggunakan layanan kami," tutur Chris.

Cukup pengusaha sebagai patner menentukan produk apa yang akan  di diskon atau penawaran apapun seperti "beli satu dapat satu". Soal marketing atau tentang solusi setiap harinya, saudara Chris dan Karl yang akan bekerja membantu memastikan lebih banyak pelanggan.

Christopher Chong sebagai yang termuda telah menyelesaikan pendidikan hukumnya. Ayahnya, John Chong, adalah pengusaha sekaligus migran. Dia sukses mendirikan The Singapore Monitor, majalah harian yang tutup di 1985.

Sedangkan ibunya, Kim, adalah seorang jurnalis sebuah majalah. Keduanya memiliki kisah sukses tersendiri ketika bermigrasi dari Singapura ke Australia. Di umur 8 tahun, ia mengaku dirinya sangat bekerja keras bersama kakaknya.

Mereka membantu bisnis keluarga mereka. Pada saat itu mereka bekerja di perusahaan percetakan sendiri. Berbicara tentang etik bisnis disinilah Chri mendapatkan pelajaran berharga. Keduanya selalu bersama dalam membangun bisnis termasuk Beeconomic.

 "Karena kami menjual konsep baru di Singapura, bahkan penjaga pintu dan pelayan akan menolak kami. Kami merasa berkeringat deras dalam pekaian jas kami," ingat Chris. Beeconomic.com sendiri diluncurkan setelah enam bulan persiapan, tepatnya di Mei 2010.

Apa yang dikorbankan mereka?

Yaitu Chris yang berhentik kuliah. Sedangkan Karl, sang kakak, yang nekat berhenti dari bank di New York. Mereka terbang ke Singapura dan berhenti di sebuah restoran. Keduanya memanfaatkan internet gratis selama berbulan- bulan.

Mereka harus menginap di apartemen kecil di Little India. Mereka punya tetangga yang bekerja di konstruksi. Keduanya hanya hidup dari makan mie instant dan berbagi tempat tidur.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba