Membuat Kaos Pengusaha Muslim Modal 3 Juta

Profil Pengusaha Sukses Warsandi


pengusahamuslim.png
  
Pengusaha muslim modal 3 juta sukses menghadapi pandemi.  Pemuda 23 tahun yang telah memulai usaha semenjak dini. Sejak kecil merupakan keharusan baginya agar bekerja keras. Ia sempat tidak melanjutkan sekolah. 
 
Tetapi dia tidak menyerah, malah pemuda bernama Warsandi ini makin gila bekerja saja. Akhirnya, Warsandi sukses di pendidikan, menjadi Sarjana Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, UIN Sunan Kalijaga.
 

Pengusaha Muslim


Perjalanan Warsandi memang terbilang unik. Ayahnya adalah tukang becak sedangkan ibunya cuma ibu rumah tangga biasa di Kaliurang. Semenjak kecil, Sandi bekerja mandiri mengumpulkan biaya sekolah sendiri. 
 
Keinginan tetap sekolah membuatnya tetap bertahan. Ia memang sempat berhenti satu tahun lebih ketika lulus sekolah dasar (SD) mau ke menengah pertama (SMP). 

Selepas cukup biaya, ia melanjutkan sekolah menengah atas sendiri (SMA), kemudian berhenti sejenak dan masuk perguruan tinggi.

"Lelaki sejati datangi ayahnya, bukan putrinya," seloroh Andi menunjukan bisnisnya sekarang. Sebuah kata- kata unik yang terlahir dari pengamatan dan pengalaman hidup.

Andi langsung hijarah ke Jogja ketika lulus SMP. Masuk ke SMK, semua biaya merupakan hasil kerja, salah satunya bekerja menjadi pembersih kuburan. Ia harus berpisah dengan kedua orang tua dan tinggal di sebuah panti asuhan.  Disana dirinya bekerja agar bisa menopang biaya sekolah. 
 
Pemuda asli Karawang, Jawa Barat ini, lantas menatap hidupnya dalam kewirausahaan.. Aneka usaha telah dijalani seorang Warsandi. Pertama kali berjualan buah- buahan, jualan gorengan keliling, berdagang asongan, kerja di penggilingan kopi, dan juga membersihkan kuburan. 
 
Untuk soal membersihkan kuburan ternyata dilakoninya pas tamat SDN 03 Rengasdengklok, Karawang, dan juga lagi selepas lulus dari SMP Terbuka 1 Rengasdengklok. Ketika kuliah lantas Warsandi berjualan sendiri. Modal Rp.50.000 disulapnya menjadi bisnis jual Snackdes. 
 
Atau, lebih jelasnya jualan panganan ringan asal desa yang di kampusnya menjadi favorit. Ketika sore telah tiba, Sandi berangkat ke Kaliurang membeli aneka snack, yang kemudan dijualnya kembali. Usaha satu ini berjalan sejak masih siang hingga larut malam.

Untuk malamnya, ia gunakan sebaik- baiknya mengerjakan tugas kuliah. Kemudian ia kembali ke makanan desa itu. Dibungkusinya satu per- satu untuk dijualkan besok. Tidak jarang Sandi bekerja larut sampai pukul 02:00 WIB dini hari.
 

Aneka Usaha


"Lumayan, dari asalnya hanya berjualan snack seharga Rp3.000 per bungkus hingga pernah menjual snack yang seharga Rp10.000 per- bungkus," papar Sandi.

Untung berjualan aneka jajanan desa itu sampai Rp.100.000 per- hari. Sedikit- demi sedikit usaha jualan itu berhasil bahkan bisa mengirimi kedua orang tua. Tetapi usaha itu tidak memuasakannya, sejak 2012, usaha lain sudah digenjotnya sebagai usaha utama. 
 
Matanya tertuju kepada tren usaha clothing di Indonesia sendiri. Dia lantas membuka usaha clothing bernama Naidu Positive. Bermodal awal Rp.3 jutaan sudah bisa berjualan. Ia terus kembangkan sampai menghasilkan omzet Rp12 juta per- bulan. 
 
Sandi mengaku tidak punya pengetahuan sama sekali soal clothing. Semua dijalankan sambil berjalan dan belajar dari berbagai sumber. Salah satunya ya ia pernah mengikuti seminar wirausaha mandiri.

"Selain dapat uang saku, saya juga dapet coaching, pemahaman soal visi- misi, pelatihan marketing, dan membuat laporan keuangan," aku Sandi.

Usaha clothing memang baru bagi pemuda kelahiran 1991 ini. Kios sederhana, namun rapih tertata, ukuran 3 m x 3,5 m memamerkan aneka kaus buatan sendiri. Di ruangan tersebut lah, Sandi melayani sendiri pembeli yang berkunjung. 
 
Namun, ia menjelaskan, usahanya lebih banyak menerima pesanan via online. Tidak kurang ratusan kaus diproduksi dan dipesan lewat internet sampai 1.000 -an.

Keuntungan menjadi pengusaha muda?

Ia sudah bisa meminang gadi impiannya awal tahun 2015. Dia juga mendapatkan pengakuan masyarakat luas lewat ajang Wirausaha Baru Bank Indonesia 2012. Andi juga bisa bersekolah kembali berkat beasiswa Uno Foundation (MRUF) periode 2013- 2014. 
 
Meski sibuk, ia tetap melanjutkan kuliahnya dan tengah mengerjakan skripsi.

"Pintar- pinta membagi waktu saja," katanya.

Selain itu berkat kerja kerasnya, Sandi sudah punya satu unit rumah di Kaliurang. Rumah yang rencananya akan ditinggali ayah dan ibunya, adik- adiknya, dan istrinya. Visi besar Warsandi pun akan tetap diuji dalam hal berwirausaha ini. 
 
"...impian saya mendirikan usaha tingkat internasional," lanjutnya. "Tapi saya mencoba dari hal- hal kecil dan lokal seperti usaha clothing dulu," tutup Sandi.

Bakmi Naga Kembangan Bisnis Waralaba 30 Tahun

Profil Pengusaha Susanty Widjaya 


bakminaga.png
 
Kembangkan bisnis waralaba membuat usaha 30 tahun bertahan. Dia adalah pengusaha wanita, yang melanjutkan bisnis warisan. Banyak pengusaha enggan melanjutkan memilih usaha. Tetapi beberapa orang berhasil bisa bangkit dari keterpurukan berkat keluarga. 
 
Lewat ketekunan dan cinta akan keluarga, Susanty Widjaya mencoba kembali lewat Bakmi Naga. Dia mencoba bangkit dari keterpurukan.
 

Bisnis Keluarga


Bakmi Naga merupakan usaha mie yang telah bertahan 36 tahun lamanya. Berdiri sejak 1979, didirikan oleh generai pertama yaitu Ny. Liong. Menjaga kualitas menjadi andalan produk ini tetap bertahan. "Dari nenek moyang saya rasanya tidak berubah," papar Susan.

"Keunggulan bakminya tidak mengandung air abu." Lantaran memang usaha ini mengandalkan bakmi buatan sendiri. Cita rasanya tidak sama dibanding mie lain. Ia menambahkan air abu berkaitan dengan penyakit mag. 
 
Karena kalau mengandung air abu, Susan menjelaskan, ini akan menyebabkan kembung dan kumat lah si penyakit mag tersebut. Kualitas terjaga mampu menghantarkan Bakmi Naga menjadi brand kuat. Ditambah melalui sistem franchise selepas 30 tahun; tidak terbendung lah pamornya. 
 
Bakmi Naga tercatat memiliki 59 outlet berbeda mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, hingga Ternate sejak 2010. Menurut catatan Susan rata- rata outlet barunya bisa menghasilkan Rp.5 juta per- hari, dimana untungnya 25 persen.

Bakmi Naga sendiri merupakan brand lama tangguh. Dimulai dari menjajakan lewat gerobak, kini masuk ke restoran dan diwaralabakan. Mungkin bukan dari nol ketika Susan mencoba masuk ke Bakmi Naga. 
 
Tetapi dia telah melewati masa kegalauan dalam hidupnya. Memilih antara menjadi pengusaha atau pegawai di satu perusahaan mapan.

Alasan keluarga menjadi sangat begitu penting bagi kehidupan Susan. Ketika nama Bakmi Naga telah begitu populer, ia kembangkan skema bisnis franchise. Usaha yang dimulai dari grobak tahun 1980 -an ini, telah sukses menjelma menjamur di mal- mal. 
 
Dia memang patut bersyukur usaha ini merupakan usaha keluarga. Kalau bukan dukungan anak, suami, dan keluarga, siapa lagi yang mengangkatnya menjadi seperti sekarang.

"Mereka memberikan pelajaran tentang hidup dan bisnis kepada saya. Jika mereka bisa, kenapa saya tidak," tuturnya.

Filosofi "never give up" dijadikan modal bangkit dari keterpurukan. Pantang menyerah dalam melewati segala keterpurukan. Dia adalah seorang ibu rumah tangga. Seorang pengusaha sukses, tetapi masih tetap menjadi istri yang baik. 
 
Semua itu dilewati karena dukungan keluarga dibelakangnya. Wajah usaha Bakmi Naga pun mulai bertransformasi menjadi PT. Naga Jaya Sejahtera Indonesia. Usaha Bakim Naga sendiri menyediakan tiga investasi: restoran, food court, dan gerobak. 
 
Untuk model dari restoran sendiri menyediakan investasi Rp.500 juta. Tipe food court sendiri dan gerobak masing- masing itu nilai investasinya Rp.250 juta dan Rp.55 juta. Biaya waralaba sendiri Rp.150 juta dan berlaku salama lima tahun. 
 
Bakmi Naga mengutip royalti Rp.6 juta dan biaya pemasaran Rp.2,5 juta. Perkiraan penjualan menurut Susan adalah 250 mangkok per- hari. Pemegang franchise diperkirakan balik modal selama 14 bulan.

Alamat Bakmi Naga

Jl. Janur Kuning VI Blok WL 2 No. 1B
Kelapa Gading, Jakarta
Telp. 021-45789688
021-96500688

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba