Bisnis Teknologi Pengusaha Muda Asal Australia

Profil Pengusaha Michael McCoogan


bisnis uber global
 
Pengusaha muda asal Australia ini bernama Michael McCoogan. Dia yang begitu dekat dengan bisnis teknologi. Bermula dari kesenangan mengutak- atik komputer, McCoogan sering dipanggil teman- temannya membantu. Dia dimintai tolong bila ada kerusakan pada komputer milik mereka.

Usianya masih 14 tahun mendapatkan banyak permintaan tolong. Dari bermain internet dia mampu menghasilkan uang karena menjual jasa. McCoogan membantu semua hal termasuk membuatkan situs web. Dia menyadari bahwa banyak usaha kecil membutuhkan bantuan online.

Bisnis Teknologi Internet


McCoogan mulai membantu usaha kecil berjualan online. Dia mendapatkan 500 dollar membantu orang- orang. Bila pemilik usaha membutuhkan admin tinggal bayar 50 dollar perbulan. "Itu terjadi di awal dimulainya industri internet, dan saya beruntung berada di saat yang tepat," tuturnya.

McCoogan beruntung pintar internet sehingga dibutuhkan banyak orang. Jaman itu usianya masih 16 tahun, hingga mendapatkan kontrak pertama dari Pemerintah Australia, dimana mengerjakan otoritas sungai Murray- Darlin Basin.

Pemerintah Australia dilarang berhubungan dengan bisnis individu. Maka dia mendirikan perusahaan sendiri. Usianya masih 16 tahun, tentu tidak boleh menjadi pimpinan perusahaan, lantas apa solusi bagi pengusaha muda ini. McCoogan kebetulan menemukan tetangganya yang baru pensiun.

Pria bernama Michael Massop baru pensiun pegawai negeri. McCoogan lantar menawari sebagian dari saham perusahaan. Massop pun dilantik menjadi direktur utama, sampai McCoogan berumur 18 tahun. Massop merupakan sedikit dari orang tua yang mendukung McCoogan.

"Saya percaya penuh dengan modal bisnis saya, dan bisa menjual kepada orang yang saya temui," ia melanjutkan.

Uniknya Massop malah meminjamkan uang $15.000 untuk modal. Uang tersebut merupakan iuran keluarga lain. Massop pun masih bekerja ketika usia McCoogan memenuhi syarat. Bisnis yang diberi nama UberGlobal.

Ayah McCoogan mampu melihat anaknya begitu memiliki visi. Bahkan dia setuju ketika suatu hari anaknya datang meminjam uang. Tepatnya, sang ayah membiarkannya memakai rumah senilai Rp.1,5 miliar untuk modal. Uang tersebut dipakai buat membeli perusahaan saingannya di bidang internet.

UberGlobal melakukan akuisisi pertama dilanjut perusahaan lain. Total omzet yang didapat mencapai $13,3 juta pada 2011. McCoogan semakin bersemangat dengan jumlah total klien 500 lebih. Upaya akuisisi ini terbukti menjur menambah kekuatan dan daya saing berbisnis ini.

UberGlobal menjadi perusahaan layanan internet dan webhosting terbesar di Australia. McCoogan membuka lapangan pekerjaan buat tiga sahabatnya. Diusia 18 tahun, dia telah memiliki rumah sendiri dan mobil bernilai Rp.2,5 miliar, dan membagikan saham 20% untuk keluarga dan sahabatnya.

Usianya masih 14 tahun ketika membuka usaha reseller webhosting Amerika. Dia membantu menjual dan membuatkan website untuk warga Australia, memakai layanan Amerika. McCoogan melakukan semua melalui kamar tidurnya pada 2002.

Usaha tersebut diberi nama McGooHQ dan dalam tiga tahun naik daun. Kemudian ia merubah nama menjadi AussieHQ. Usaha ini membesar karena diawal- awal sedikit sekali persaingan. Alhasil dia berhasil membuat layanan website terbesar bernama UberGlobal.

Hingga perusahaan bernama Melbourne IT menawar pembelian. Mereka membayar $15,5 juta untuk perusahaan, dengan memberi pendapatan sebelum pajak bagi pemegang saham. Total dikeluarkan dari pembelian tersebut $2,1 juta.

Melbourne IT memang tengah naik daun dibanding UberGlobal. Meskipun membeli nyatanya nilai UberGlobal cuma menghasilkan kecil. Usaha Melbourne sendiri mengalami lonjakan pendapatannya 14% dari 2014 senilai $124 juta.

Ini berarti bahwa McCoogan gagal menjadikan usahanya lebih besar. Nampaknya semakin terbuka internet membutuhkan lebih banyak kerja keras. "Kami hanya masyarakat menengah- kebawah, jadi ini cerita menarik untuk kisah sukses Australia miskin menjadi kaya," ujarnya.

Dia menangis ketika harus menjual perusahaanya itu. Usaha tersebut dilepas 2013, dimana melewati waktu yang panjang, bayangkan modalnya berbekal iuran keluarga. McCoogan berhasil mengangkat nilainya sampai lebih dari $20 juta.

Sayangnya, tidak mudah membesarkan perusahaan, bahkan McCoogan pernah lima kali bangkrut karena UberGlobal. "Semua pelajaran dari pengalaman merupakan paling bernilai untuk dibawa," ujar dia. McCoogan sendiri sekarang menjadi pimpinan perusahaan Crucial, sesama usaha hosting.

Lantunan Musik Bar Bisnis Tak Pernah Mati

Profil Pengusaha Edward Chia


bisnis bar musik

Mau tau bisnis apa tak pernah mati maka ini. Lantunan musik bar mengiringi pengusaha muda. Pria bernama Edward Chia, usianya baru 27 tahun, yang sudah menempati posisi strategis. Kebanggaan bagi pria seusianya memiliki karir dan bisnis sendiri.

Chia menempati posisi manajer direktur dan pendiri suatu perusahaan tercepat pertumbuhannya di Singapura. Bukannya terbang ke Boston University, dia memilih menetap tinggal di Singapura bukan berkuliah, kemudian menginvestasikan uangnya ke bisnis sendiri.

Ia, seorang pria ambisius yang menemukan bisnisnya di Singapura. Inilah bisnisnya Timbre Group, kelompok bisnis dimulai dari sebuah bar kecil bernama Timbre @ the Substation. Chia yang lulusan ilmu politik dan ekonomi di National University of Singapore, lebih memilih tak berkuliah kembali.

Bisnis Live Musik


Malah ia secara spontan menggunakan uang kuliahnya. Dia memilih mengerjakan bisnis musik bar bersama seorang teman, Danny Loong. Timbre Group memiliki misi sosial mengembangkan musik Singapura. Mereka membantu musisi lokal tampil dan menumbuhkan penggemar.

Edward Chia telah memulai bisnis musik sedari nol dari umur 23 tahun. Dia bersama patner bisnisnya, Danny Long, 39 tahun, kini telah sukses menjalankan 11 jenis bisnis. Bisnisnya meliputi bar, makanan dan minuman, dari cocktail bar sampai festival musik.

Dan, yang terakhir, ia mengerjakan bisnis pendidikan bernama music academy. Bisnisnya dimulai dari Timbre@the Substation, sebuah bar berkonsep live music, di umur masih 21 tahun. Dia kala itu masih berkuliah. Memulai bisnis bahkan ketika baru memulai kuliah pertama di universitas.

Chia, awalnya, kesulitan membagi waktu antara bisnis dan kuliah. Dia mengaku lebih ke kuliah sampingan (seperti hal kerja sampingan) daripada sangat serius kuliah penuh. Ia selalu melewati beberapa mata kuliah penting, kemudian mengejar pertemuan guna memenuhi absensi.

Hasilnya? Ia tidak terlalu mampu mengimbangi. Chia bahkan menyebut menyelesaikan kuliah sama seperti keajaiban. Bayangkan saja dia hanya mampu mendapatkan skor rata- ratanya dibawah 3 dari 5.

Akan tetapi, janjinya kepada kedua orang tua untuk tak berhenti membuatnya harus tetap berkuliah. Sejak itu pula, mereka, orang tuanya, sanggup menaruh harapan buta akan bisnis Timbre. Chia tak mau setengah- setengah selepas lulus kuliah.

Meski hati itu berkata akan memulai bisnis, nyatanya ia tak memilih jurusan bisnis. Ia justru memilih jurusan ilmu politik dan ekonomi, pilihan tersebut telah dipikir masak.

"Itu adalah hal yang sangat praktis, karena saya selalu merasa bahwa bisnis adalah sesuatu yang sangat nyata -anda harus belajar di jalanan dan melalui pengalaman praktis," katanya.

Apa diajarkan di sekolah bisnis hanyalah teori di matanya. Contoh mudahnya, dalam bisnis, semua hal bisa berubah sangat cepat; bisnis sekarang bisa jadi tidak sesuai besok. Prinsipnya bahwa bisnis selalu akan tumbuh karena mengikuti arah pasar bukan mengikuti jumlah lembaran buku.

Dia menambahkan bisnis masa depan mungkin belum terpikirkan hingga saatnya. Dan, kamu akan melihatnya dan bergumam tentang kenapa tak terpikirkan.

"Bagi saya, itu hanya mendapatkan dasar yang tepat. Banyak teori-teori bisnis ekonomi oleh alam, dan bagi saya yang terbaik untuk hanya menghabiskan waktu dengan bijaksana dan belajar sedikit dasar-dasar," katanya.

Berjuang dari nol


Memulai bisnis di usia muda memberikan berbagai rintangan dan tantangan. Utamanya Chia harus berdiri antara mengerjakan bisnis sambil berkuliah. Dia lalu menggunakan uang melanjutkan kuliah senilai $80.000 sebagai modal kembali.

Bukan tanpa masalah, uang tersebut bukanlah miliknya melainkan milik kedua orang tuanya. Dia harus membujuk keduanya agar mau memberikan uang tersebut. Syaratnya? Ia harus membayar $1.000 tiap bulannya dan tak boleh meminta uang apapun lagi.

Sebagai pengusaha muda, ia punya hasrat agar sukses itu cepat di tangan. Dia mulai mempekerjakan banyak pegawai lebih tua (lebih berpengalaman) darinya. "Cara saya menghadapi situasi seperti itu hanya dengan bersikap humble," dia berkata.

"Saya ikut berkerja langsung... saya melakukan segala sesuatu dari mencuci toilet, membersihkan kantor, menjalankan bar, dan kadang-kadang saya membantu di dapur juga."

Pengetahuan akan bisnis menjadi penting bagi bisnis baru. Chia selalu meluangkan waktu berdiskusi, bekerja, dan belajar dari mereka. Jika kita bersikap tulus hanya butuh waktu mereka mendekat bukanlah kebenaran, terangnya.

Melalu belajar praktik, membuat bisnisnya bisa tumbuh hingga sekarang memiliki ekosistem bisnis kuat. Di akademi buatannya, para musisi berlatih masuk ke berbagai lini usaha Timbre Group.

Mereka bisa saja masuk ke Timbre @ Old School, Timbre @ the Art House, atau Timbre @ the Substation. Mereka para "siswa" di Timbre Academy akan menunjukan kretifitas mereka di dalam bermusik.

Dan, bagi yang telah sukses akan mendapatkan jadwal mingguan. Chia bersemangat mengadakan festival musik setempat melalui Beerfest Asia dan Timbre Rock&Roots. Dia menjelaskan melalui Yahoo! Singapore bahwa bisnis ini tidaklah tentang uang.

Secara garis besar, Chia menyebut tentang menciptakan ekosistem musik di dalam tubuh Singapura. Inilah bisnis tak pernah mati. Chia menciptakan lantunan musik bar melalui berbagai nama.

Profil Timbre Group sini 

Website: Timbregroup.asia

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba