Cortana Kecerdasan Buatan Multi Platform

 
Cortana akan hadir tidak hanya di Windows 10. Kenyataanya, kini, asisten pribadi ini akan hadir di berbagai perangkat termasuk Android dan iOS. Asisten virtual milik Microsoft ini akan membantu kamu menjalankan aplikasi secara efektif. Untuk sistem Android dan iOS entah bentuknya akan seperti apa. Namun, intinya ini akan fokus menemukan jalan; membangun sistem.

AI atau artificial intelligence, yang mana bisa diartikan menjadi Einstein -nya, begitu kiranya Microsoft mau atas apa yang mereka buat. Sebagai awalan, jika kita mau mengetahui, maka sudah ada di Windows Phone yang merupakan proyek percontohan Cortana.

Cortana untuk dekstop akan hadir terlbih dulu. Selepas itu barulah pengembangan ke arah multi- platform. Untuk menjadikan AI sempurna, memang, dikutip dari Tech Crunch memang membutuhkan data panjang in- bound. Ini termasuk bagaimana Microsoft menjalankannya diatas sistem diluar dari apa platformnya sendiri. Perusahaan Microsoft dengan CEO -nya Satya Nadella memang terdengar 'gila'. Tidak cuma memberikan update Windows 10 gratis tapi juga menggeratiskan diri untuk platform lain.

Disisi lain, mereka memiliki ambisi tersendiri yang disebut AI atau Cortana di masa depan.

Apa itu Airbnb Tempat Kamu Para Petualang

 
Airbnb adalah perusahaan startup (dulu).

Perusahaan yang digagas oleh dua orang yaitu Brian Chesky dan Joe Gebbia, dan juga dibantu oleh seorang ahli teknologi bernama Nathan Blecharczyk di tahun 2008. Konsep yang unik membuatnya berbeda dengan layanan tempat menginap sejenis. Bergerak dibidang akomodasi tapi bukan seperti pemesanan hotel biasanya. Airbnb memilih sistem 'sharing economy' atau siapa saja bisa berbisnis di Airbnb.

Semua orang bisa menyewakan tempatnya untuk menginap. Disini, setiap orang bisa memulai bisnisnya sendiri tanpa harus punya surat ijin usaha. Meski mendapatkan kritikan termasuk soal pajak dan sebagainya. Namun apakah menyewakan rumah kamu bisa diber pajak seperti perhotelan? Karena itulah Airbnb, cuma berbagi tempat tinggal. Diluncurkan pada tahun 2012, mulai mengalami kesuksesan besar bersamaan dengan kisah Uber.

Mereka tidak hanya merubah bisnis perhotelan, tapi kebiasaan traveling orang, dan standar penginapan.

Perusahaan yang berdiri dari sebuah aplikasi dan laman website. Yang kini telah memiliki 300.000 ruangan, apatemen, dan rumah untuk disewakan. Adapula 500 kastil, 200 rumah pohon, dan 1.400 kapal. Ini bukan tentang bisnis perhotelan yang biasanya karena pengguna bisa menyewakan apapun di sini. Bahkan ada yang menyewakan pohonnya, kursinya, tamannya, atau apapun selama ada ruangan untuk disewakan.

Untuk satu ini Airbnb cuma mengambil fee cuma senilai 6% sampai 11% dari harga sewa. Dengan jumlah pengguna sekarang 4 juta orang dan terus bertambah. Nilai uang yang mengalir ke tangan para pendirinya pun tak sedikit. Cuma bermodal internet dan sebuah aplikasi, mereka menghasilkan miliaran dollar sejak tahun 2014, dan tidak cuma itu, semakin banyak orang merasakan sensasi traveling tak biasa.

Untuk mengatasi hal- hal terburuk. Perusahaan Airbnb cukup ketat bagi pemberi sewa dan penyewa di lamannya, itu sudah termasuk mengecek foto pasport dan lain- lain. Masih soal garansi, Airbnb juga memastikan menjamin kepuasan pelanggan atas deskripsi di situs mereka. Jaminan juga termasuk buat kamu yang menyewakan tempat atau apapun untuk traveler di Airbnb. 

Ambil kisah, dari theguardian.com, di tahun 2011 ada seorang wanita yang menyewakan apartemen. Tapi ia justru menemukan kekacauan dimana- mana. Ini termasuk ada barang- barang terlarang seperti sabu- sabu tertinggal di tempatnya. Airbnb menyediakan hotline 24 jam dan ganti rugi $50.000.

Website versi Indonesia: www.airbnb.co.id


4 Kesalahan Bisnis Adidas Parlu Kamu Pelajari

 
Produk Adidas dalam masalah. Itulah kiranya judul sebuah artikel di Business Insider. Jumlah penjualan yang menurun tajam di Amerika Utara. Ini menjadi pertanyaan besar apa yang dilakukan sang CEO sekarang. Dalam laopran di Wall Street Journal: saham perusahaan turun drasti sampai 40%

Apa yang salah? Dulu, Adidas merupakan kompetitor terbesar untuk Nike di Amerika. Tapi di satu tahun lalu, justru perusahaan berbasis Baltimore, Under Armour justru naik ke peringkat no. 2. Apa yang kita bisa pelajari dari khasus ini.

1. Perusahaan kehilangan selera pasar.

Dalam laporannya di Wall Street Journal. Masalahnya ada pada pihak eksekutif di cabang Adidas di Jerman yang mulai tak memperhatikan pasarnya. Christian Noah, pemilik distro besar berbasis di kota New York, Nohble, menyebutkan Adidas telah berhenti untuk mendata opini para retailer. Mereka berhenti bertanya kepada pasar modal macam apa yang masyarakat senangi.

Jika berbicara tentang pasar. Seharusnya Adidas tak memaksakan selera Amerika untuk cabang- cabang mereka. Itulah kiranya yang kami pahami dari artikel tersebut.

2. Perusahaan kehilang endors

Memilih orang untuk kamu endors di bisnis kamu merupakan pilihan. Namun, jangan sampai kamu tertinggal dengan pesaing kamu, mungkin tak terlihat sekarang tapi ini sebuah investasi jangka panjang. Sebut saja di tahun 1980 -an, dimana Adidas menganggap enteng pesona seorang Michael Jordan. Dimana mereka justru berpikir orang akan memilih menjadi 'fans' pemain yang tinggi di NBA.

Jangan terpaku kepada pasaran sekarang. Cermati betul bagaimana tokoh akan mengendors produk kamu. Hasilnya Nike 'mencuri' langkah dengan mengendors Michael Jordan. Semakin tertinggal ketika Nike rela untuk memberikan brand -nya kepada Jordan. Dengan model sepatu bernama Jordan, yang akhirnya, kini menghasilkan miliaran dollar.

Setelah tiga tahun kemudian, Nike masih mendapatkan uang dari penjualan spatu bermerek Jordan tersebut. Tidak cuma kasus di Jordan tapi secara keseluruan Nike mengendors lebih banyak atlit.

3. Perkembangan lambat

Dari produksi, hingga desain yang berkembang lambat, membuat brand tak punya daya saing. Menurut apa yang ada di artikel Adidas punya model cuma 18 bulan sekali. Inilah yang membuat perusahaan kesulitan untuk mendekati pasar, mengekapitalisasi trend, jelas Wall Street Journal.

Adidas, kini, mulai mengembangkan sistem agar pembaharuan setiap 6 bulan sekali. Tapi apakah terlambat.

4. Adidas membayar terlalu banyak untuk anak- brandnya

Mereka terlalu banyak membayar untuk akuisisi brand lain, Reebok. Hal tersebut mungkin bisa diatasi jika keduanya punya pasaran berbeda. Lebih banyak melakukan endorsment dan penyegaran di model. Mungkin ini tak akan jadi kerugian akuisisi $3,8 miliar. Ketika akhirnya Reebok harus berjuang keras untuk naik pamor kembali, sementara Adidas terus memasok investasi dalam brand -nya; tak fokus!

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba