Inspirasi Siswa SMK Berbisnis Sepatu Ajaib

Profil Pengusaha Pelajar Indonesia


berbisnissepatu.png
 
Berbisnis sepatu ajaib inspirasi dari siswa SMK. Disinilah tempat dimana siswa dikembangkan sifat profesionalnya. Mereka muda tetapi mata memiliki jiwa kewirausahaan. Para siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 6 Jakarta.

Mereka masih kelas X sudah diajarkan menciptakan produk. Siswa SMKN 6 Jakarta menghasilkan sandal multifungsi. Dijelaskan oleh Debya, remaja sederhana, yang ternyata sudah menduduki jabatan VP Produksi. Ia menjelaskan bisnis yang dikerjakan oleh mereka merupakan bisnsis serius.
 

Berbisnis Sepatu

 
Mereka menciptakan sepatu sandal unik. Dimana dilhat pertama kali cuma sepatu berbahan kanvas. Tetapi dibaliknya ada resleting yang jika dibuka. Akan merubah sepatu jadi sandal siap pakai seketika. 

Dia menjelaskan ketika ditemui DetikFinance. Debya menjelaskan sepatu ini memiliki resleting dibawahnya, yang mana menyatu atasnya. Ketika resleting dibuka sampai sol bim- salabim jadilah sandal. Mereka lantas membangun perusahaan mereka sendiri bernama Perusahaan Pelajar. 
 
Orang menginginkan sesuatu memang yang serba simple, disaat mau sandal, bagian atasnya bisa dilepas jadi sandal, jelasnya.

Jikalau kamu mau sepatu, ya, tinggal bagian atasnya dipasang. Ini bisa membantu kamu cuma membawa satu sepatu saja. Produk tersebut merupakan hasil karyanya dan kawan- kawan. Sudah ganti desain tiga kali agar produknya sesuai harapan. "Kami sampai 3 kali ganti desain. Ini kreasi kami sendiri," pungkasnya.

Usahanya dikerjakan Debyan dan 20 orang kawannya. Sejak Mei 2015, mereka terus berkreasi, modalnya cuma 1,5 juta. Jikalau dibagi 21 orang maka biayanya bisa dibilang murah. Mereka yakin pastilah bisa meski mereka masihlah berstatus pelajar. 
 
Bagaimana pembagian hasilnya? Inilah uniknya, dan bisalah kamu contoh, caranya adalah melalui bentuk saham. Mereka menyebar 75 lembar saham. Per- lembarnya akan dihargai Rp.20.000/lembar saham. Inilah cara menarik karena orang akan berminat mendanai jika ada hitam diatas putih. 
 
Satu pasang sepatu akan mereka jual seharga Rp.110.000. Dalam tahap awalnya mereka, Debyan, menjelaskan bahwa 15 sepatu haruslah dijualnya dalam 5 bulan saja. Barulah 2 bulan sudahlah bisa dijualnya 9 buah.

"Nanti setelah 5 bulan diharapkan sukses, kita akan lanjut lagi ke lebih serius," tegasnya.

Saat ini saja, perusahaan sudah mengantongi omzet Rp.450.000 per- bulan. Hambatan terbesar dibisnis ini, bisnis kreatif, apalagi kalau bukan mematenkan produknya. Bagi para siswa hal tersebut masihlah menjadi kendala sementara bisa saja ada peniru. 
 
Namun, nampaknya itu tak begitu mengganggu anak- anak SMK ini, karena visi mereka adalah:

"Visi kami menjadi perusahaan yang inovatif menciptakan produk-produk yang mendekati‎ dengan kebutuhan orang sehari-hari," tutupnya.

Penemu Kompor Gastrik Pengusaha Wahono Handoko

Biografi Pengusaha Inovator Pengusaha


komporgastrik.png
 
Pengusaha ini bukan sekedar berbisnis. Dia penemu kompor Gastrik. Ia yang tidak bergantung kepada pemerintah. Membiayai penemuanya sendiri, melakukan penelitian, hingga membuat produk cocok bagi masyarakat.
 
Beberapa penemu menyalurkan idenya dalam bentuk bisnis. Apakah sah- saha saja, menurut kami, tak perlu spesifik kamu penemu dibidang apa. Pada hakikatnya kita semua pengusaha merupakan penemu dibidang masing- masing. Nah, kali ini kita akan membahas sosok dari pria penemu kompor gastrik.
 

Penemu Kompor Gastrik


Namanya Handoko Wahono, dari seorang peneliti jadi pengusaha muda, sukses memproduksi masal apa yang kamu kenal kompor Gastrik. Bukan perkara mudah seperti sebelum- sebelumnya, terhalang biaya jadi satu kendala baginya memperkenalkan ini. 
 
Kisahnya diawali ketika masih berkuliah Semester 8 di Sekolah Tinggi Tekhnik Mandala Bandung, pria 36 tahun ini, sudah mengarang- ngara konsep penelitiannya. Berawal dari tugas kuliah penelitain saat itu.

Kompor Gastrik merupakan jawaban akan sulitnya energi alternatif. Apalagi jikalau kita mendengar baru- baru ini Pertamina akan menaikan harga elpiji. Hati berasa gondok terutama bagi pengusaha kecil menengah yang bertahan lewat tabung 3 kg. 
 
Bagaimana kalau pengusaha beralih ke produk milik Handoko ini?

"Ide awalnya Gastrik ini muncul saat masih kuliah di Semester 8, bukan tugas kuliah tapi penelitian mandiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknik Mandala Bandung," jelasnya kepad pewarta detikFinance ketika dirinya ditemui di Hote Bidakara, Jakarta.

Pria 36 tahun ini awalnya tak menyangkan hasilnya akan memuaskan. Bayangkan, berkat usaha berjualan kompor ini, dia bisa mengantongi omzet 36 juta. Awalnya, tak terlalu terbersit benaknya buat memproduksi masal ini apalagi sampai mengkormesilkan; banyak perhitungan dia pikirkan. 
 

Miris- memang miris ketika kita mendengar kisah- kisah inovator kita. Baru saja ada kita mendengar salah satu peniliti muda Indonesia mengeluh "kurangnya dukungan pemerintah". Handoko sudah mengamati hal- hal semacam ini sejak memutuskan mengkonsep Kompor Gastrik. 
 
Ia mengaku tak terburu- buru menjadikan produknya menjadi komersil. Dia telah belajar dari pendahulunya. Menurut pengamatannya, diperlukan satu proyek percontohan terlebih dahulu.

Nah, sayangnya lagi, proyek percontohan juga memerlukan biaya. Ia mengakalinya dengan aktif merogoh isi dompet pribadinya dalam- dalam. Hasilnya keberhasilan produk sudah ditangan. Tinggal lah bagaimana agar bisa menarik perhatian investor. 
 
Salah satu cara menarik buat kamu tiru ialah aktif mengikuti pameran -utama pameran riset dan teknologi pemerintah. Meski tak begitu ambisius, justru keberuntungan lah membawanya ke tujuan.

Hasil risetnya diikutkan acara bertajuk Pameran Inovasi Kementrian Industri. Hingga sebuah organisasi non- profi membidiknya menjadi calon inkubasi bisnisnya. Yayasan INOTEK lantas menghubungi Handoko yang mana tujuannya adalah membangkitkan wirausahawan masa depan. 
 
Didalam kegiatan diadakan organisasi INOTEK ini, Handoko mendapatkan wawasan tentang bagaimana menciptakan produknya, memasarkan itu menjadi usaha.

Kompor Gastrik merupakan energi alternatif. Lebih aman dibandingkan penggunaan gas elpiji yang kadang bisa meledak. Menurut Majalahinovasi.com, dijelaskan bahwa ini adalah produk ekonomis dan aman buat dipakai. Gastrik merupakan singkatan gas dan listrik. 
 
Diciptakan oleh tiga orang selain Wahono Handoko, yakni dua rekannya, Randy Ariaputra dan Han Harrison. 

"Kemudian saya dibina menjadi home industri, dan bagaimana menciptakan kompor sekaligus menjadi usaha yang menguntungkan selama masa inkubasi," terangnya.
 

Pengusaha Kompor


Konsep bisnisnya ialah menakar kompor gas elpiji makin mahal. Selain itu adanya fakta bahwa masyarakat terkadang mengalami kesulitan. Pristiwa- pristiwa meledaknya tabung gas agaknya menjadi faktor lain. Inilah yang disasar oleh produknya, yang memanfaatkan energi bioethanol. 
 
Kenapa lebih aman? Karena produk ini menggunakan bahan cair bukan gas mudah meledak. Loh bukannya listrik, ternyata meski bernama listrik ini tak seperti kamu bayangkan. Meski kompor listrik, dijelaskan oleh Handoko, bahwasanya meski bernama Gastrik. 
 
Adanya baterai listrik pada kompor bukanlah utama. Api kompor bukan berasal dari listrik. Penggunannya cuma menjadi indikator saja, dan fungsi pengaturan api. Kalau bahan bakar utamanya adalah bioetanol berasal dari molases rumput laut gajah. Ia sendiri loh menelitik fakta- fakta tersebut.

"Dari penelitian saya, bahan bakar bioetanol yang saya ciptakan komposisinya 80% bioetanol, sisanya 20% air," ungkapnya lagi.

Soal efisiensi disebutkan Handoko ini sama dengan kompor gas elpiji. Mungkin, menurut penulis, dari aspek jatuhnya habis bahan bakar kuat sebulanan. Selain ditawarkan bahwa produk ini aman. Ia juga menambah satu hal yakni penampilan familiar. 
 
Dimana bentuk kompornya mirip kompor gas elpiji. Jadi buat masyarakat akan mudah menggunakannya. Harapan terbesarnya adalah agar kompor ini tak seperti pendahulunya. Tak cuma akan hilang dari pasaran setelah beberapa lama. 
 
Di tahun 2010, INOTEK mengguyur proyeknya bermodal dana hibah senilai angka Rp.63 juta. Barulah di tahun 2014 kompor Gastrik resmi diluncurkan ke masyarakat. Dibutuhkan waktu bagi dia dan kawan- kawan menelitinya, yakni dari tahun 2007 sampai 2008, fokusnya pada kompornya yang berbahan bioethanol.

Bermodal uang seadanya mereka mencoba membangkitkan idelismenya. Handoko mengaku mereka menjual apa yang bisa dijualnya. Menurut pria kelahiran 6 Juli 1977 ini, mengaku leganya bertemu bisa orang- orang INOTEK.

Kompor bioetanol buatanya diklaim sama murahnya dibanding gas elpji 3kg. Harganya dibandrol di angka Rp.7.500 per- botol isinya 850 mililiter dipakai masak 3-4 jam. Ini masih murah dibanding harga elpiji yang kemungkinan naik lagi. 
 
Soal kompornya, Handoko dan tim menjualnya Rp.220.000 sampai Rp.440.000 yang dua tungku. Cuma dibantu 2 orang dalam sehari pabriknya, yang berlokasi di Gedebage, Bandung, bisa memproduksi 10 kompor satu tungku.

Soal bahan baku didugung oleh UKM Bioetanol. Dimana mereka adalah masyarakat binaannya yang telah dibantu mesin penuyulingan. Bioetanol disuling di Sumedang berbekal mesin yang dibaginya cuma- cuma.

Seiring berjalan waktu, usaha miliknya semakin sukses, bahkan permintaan dari Bandung meningkat tajam. Banyak rumah tangga yang beralih ke Kompor Gastrik. Ia sendiri sudah siap. Salah satu caranya ialah aktif menggaet investor agar bisa memproduksi sendiri bahan bakarnya di Bandung. 
 
Biar gak susah soal ditribusi mungkin. Soal omzet bisnisnya dari bisnis kompor bioetanol, ia mengaku bisa menghasilkan Rp.10 juta per- bulan.

"Tapi kalau dari Bioetanolnya bisa Rp.20- 25 juta per- bulan," katanya bangga.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba