Pengusaha Tempo Doeloe Kedai San Bao Long Semarang

Profil Pengusaha James Santoso


pemilik kedai san bao long
 
Kamu mau menjadi pengusaha tempo doeloe. Kedai San Bao Long Semarang merupakan perwujudan masa lalu. Tempat masyarakat menjelajah masa lalu ketika di kota lama, Semarang. Disini kita akan dimanjakan suasana etnis China tempo dulu.

James Santoso bisa dibilang pengusaha tempo doeloe. Dia serius menggarap kedai tersebut nampak otentik. Kedai San Bao Long sebenarnya perpaduan antara kuliner Jawa dan China. Alhasil cocok- cocok saja dilidah masyarakat siapapun yang berkunjung.

James mengatakan Semarang memang kental etnis Tiong Hoa. Dulu Kota Semarang memang tempat pelabuhan dimana kapal- kapal bersandar. Perpaduan suasana Jawa dan Tiong Hoa sangat harmonis terjaga. Semarang tempo dulu merupakan pelabuhan dan tempat pedagang China berjualan.

Kuliner Tiong Hoa


Budaya China masuk diantara masyarakat Jawa sekitar. Hasilnya adalah rupa- rupa masakan Jawa yang ternyata perpaduan. Olahan mie dan lumpia merupakan perwujudan nyata. Kedai milik James mencoba menggugah sejarah lebih dalam.

Karena faktanya wujud Kota Lama kurang otentitasnya dirasa. James mencoba menggali lebih dalam dari kedai San Bao Long Semarang. Dimana- mana masakan perpaduan tersebut dijajalan. Baik di jalan maupun restoran akan kita temukan.

Namun San Bao Long lebih dalam menciptakan atmosfer. Interior apik otentik mewujudkan suasana dahulu. 

"Dengan menjual masakan Semarang  saya ingin menunjukkan konsep tempo dulu sebab saya merasa banyak kebudayaan dan sejarah yang dimiliki oleh Kota Semarang yang patut ditonjolkan," ujarnya.

Restoran berkonsep kedai lebih menonjolkan kesederhanaan sejarah. Restoran jaman sekarang diisi interior jadul namun modern. Kesan ditampilkan dipaksakan berbeda milik kedai besutannya. Ya, karena James mengumpulkan sendiri pernik- pernik sejarah.

Restoran bagi James merupakan permainan membangun usaha. Ia ingin menciptakan suasana beda cenderung nyeleneh. Restorannya berdiri berbentuk rumah Belanda. Kesan kuno dan kokoh sudah tampak dari depan.

Interior merupakan perpaduan Jawa- China otentik. Dicari sedemikian rupa melalui aneka literaratur James temukan. Bahkan nih, dia rela berkeliling mencari interior, pernak- pernik, dan aneka benda kuno. Bahkan ia rela berburu barang antik sampai ke Jekarta dan bandung.

Itu demi mimpi sang pengusaha tempo doeloe terwujud. Demi mewujudkan mimpinya, James tidak malu bertanya kepada pecinta barang antik mengenai keotentikan. Mereka, para penggemar barang antik pun tidak jarang memberika masukan dan membantu menemukan barangnya.

Masukan penggemar barang anti mewujud melalui pernak- pernik terpajang. Seketika pengunjung masuk ke dalam akan menemukan pernak- pernik etnis. Kesannya kamu nanti akan dibawa masuk ke dalam muesum; seking detailnnya intertior terpajang.

Kenangan nostalgia masa lalu akan mampu terlintar terbayangkan. Buat mereka yang sempat merasa masa- masa tersebut. Maka ia akan serasa makan bersantap malam di rumah orang tua. Mabel di dalam juga merupakan benda tempo dulu. Ketika masuk pengunjung akan disuguhi suasana rumah.

Bukan restoran, melainkan orang akan merasa tengah berkunjung ke rumah kuno. Restoran berkonsep kedai dengan luas tanah 3000 m2, dengan luas bangunannya 600 m2, yang mampu menampung 150 tamu duduk dan 250 buat standing party.

Sisa tanah luas akan dipakai menjadi tempat parkir. Sudu- sudut tanahnya terdapat pepohonan yang rindang menambah keasrian. Menu masakan mereka khas Semarang bercita rasa oriental. Namanya sangat kental Chinese, alhasil banyak pengunjung ragu akan kehalalan menu restoran tersebut.

Dia meyakinkan semua masakan halal. Bahkan tanahnya berdiri di lingkungan mayoritas Islam. Inilah mengapa nama restonya lebih dikenal SBL. James sendiri merasakan betul bahwa restoran miliknya terlalu oriental. Itu dirasakan berjalannya waktu padahal James menjual makanan halal.

Pada Januari 2012, ia pun menggencarkan singkatan SBL biar lebih mengena. Ini upayanya agar masyarakat muslim juga mau datang dan menikmati. Menu andalan SBL Semarang adalah gurame goreng garing disiram saus mangga.

Menu oriental bebek panggang dicampur saos khas oriental. Ini dua menu sangat direkomendasikan bila kamu mampir. James juga menyediakan masakan familiar seperti capcay, fuyunghai dan ayam pandan. Biar lebih mengena di lidah maka dicampur sosis khas Semarang dan Solo.

Jemes lebih senang menyebutnya masakan khas Semarangan. Di sini juga terdapat menu western namun bukan diutamakan, seperti sandwich, french fries, dan camilan khas lain. James menyisipkan jajanan khas Semarang masa kecilnya dulu.

Publik Semarang umumnya antusias tetapi butuh trik penyesuaian. Pokoknya dia harus menyuguhkan sesuai selera orang Semarang. Mereka lebih senang masakan manis. James ke depan akan menambah daftar menu khas Indonesia.

Ingin menambah sop buntut dan iga bakar yang terkenal di manca negara. Tempat ini memiliki satu minuman khas koktail. Namanya triple SBL paling banyak dipesan. Lantas mereka punya dragon ballz berupa jus buah naga, SBL sunrise berisi campuran aneka jeruk, dan teh tarik.

Jemas meyakinkan banyak pilihan jus, cocktail, mocktail, dan aneka kopi. Harga makanan di sini sangat logis, yakni Rp.35 ribu sampai Rp.218 ribu untuk makanan, dan Rp.15 ribu sampai Rp.20 ribu untuk minuman.

Tahu Baxo Bu Pudji Bisnis Oleh- Oleh Khas Semarang

Profil Pengusaha Bu Pudji


tahu baxo bu pudji
 
Bila mampir ke Ungaran, Semarang, jangan lupa membeli Tahu Baxo Bu Pudji. Adalah oleh- oleh khas Semarang terkenal wajib dibeli. Namanya Sri Lestari pemilik usaha tahu bakso namun spesial rasanya. Ia memulai usaha semenjak 1995 dan sudah punya banyak pengalaman.

Dia cuma ibu rumah tangga. Belum pernah pengalaman berjualan. Ibu rumah tangga yang senang memasak. Salah satunya membuat tahu bakso khas orang Semarangan. Inilah kemudian dijadikan usaha dimana memang beda.

Berkat tahu maka Bu Pudji mendapat gelar usahawan inspiratif. Tahu nampak dipotong- potong di rumah. Adonan bakso dimasukan potongan tahu berbentuk persegi panjang. Ini enak dimakan panas- panas bersama cabe rawit pedas.

Menjajal Tahu Bakso


Aroma sedap terbangun ketika tahu bakso selepas ditiriskan dari wajan. Bu Pudji memang belum pernah usaha lain. Tidak mudah lantaran dia harus mengurusi rumah. Ia juga merupakan ibu dari tiga orang anak. Sekarang Bu Pudji mampu membuat ratusan tahu tanpa menyisakan sisa.

Dua tempat berjualan baksonya langsung ramai. Ia bercerita kepada tabloit NOVA, ternyata menjadi usahawan menyenangkan. Apalagi Bu Pudji melakukan apa yang disenangi yakni memasak. Pudji merupakan istri pegawai negeri.

"Saya pernah berjualan mie ayam, bakso, sembako, hingga pakain jadi," ucap Pudji, yang alasan berjualan menambah pemasukan.

Tidak bisa mengandalkan gaji suaminya saja. Pudji menyadari mereka menanggu tiga orang anak. Biaya sekolah terus naik belum keperluan lain. Dia memutuskan berjualan mie ayam, alih- alih ambil hutang bank.

Bukan sekali dua kali dirinya jatuh bangun berusaha. Ia tidak putus asa. "Mungkin saat itu usahanya belum cocok, jadi tidak berhasil," jelasnya. Pandangannya menjadi pengusaha mudah tetapi sangat mengena. "Kalau sudah begitu, saya akan mencoba usaha lain," ujar Bu Pudji.

Pengalaman menjalankan aneka usaha memberikan pelajaran. Bahwa dia harus berkomitmen ketika akan membuka usaha. Bila tidak maka dipastikan bahwa kamu akan gagal. Pudji membulatkan tekat membuka usaha. Bahkan dia berjanji bahwa harus sukses tidak boleh gagal kembali.

Dia mencoba memulai usaha tahu bakso. Bermodal jutaan rupiah hasil menyisihkan gaji suami. Pudji membuka usaha di rumahnya Jalan Kepodang, Ungaran. Usaha rumahan tersebut berukuran sedang merupakan rumah pribadi.

Di rumah pribadi bersama ditempati tiga anak dan suami. Pudji menggunakan dapur rumah dijadikan tempat produksi. Belum manghasilkan maka dia membuat dan berjualan sendiri. Sebelum menjual dibuatlah resep spesial hingga lebih enak.

Dia membuat formula khusus hingga enak. Berkali- kali dirinya menjajal bakso ke banyak pasar. Dia terus memperbaiki sehingga lebih enak lagi. Rupanya, Pudji menemukan bahwa bentuk persegi lebih disenangi. Hobi memasak membuatnya bersemangat tidak merasakan kecapaian.

Kalau kamu melakukan apa disenangi maka akan termotivasi. Sejak awal, produksi sendiri, demi menjaga kualitas maka Pudji tidak mamakai formalin. Menurutnya formalin jutsru akan merubah rasa menjadi berbeda. Dia tidak memakai bahan pengawet sama sekali.

Dia meyakini bahwa usaha tanpa komitmen akan gagal. "Apapun yang terjadi, usaha ini harus selalu maju," tuturnya. Dia memang senang memasak. Di tahun 1995, dia tengah mendatangi suatu acara kulineran. Disinilah Pudji menemukan makanan taksu bakso dan bertekat membuat.

Dia mencoba membuat tahu bakso. Awalnya, Bu Pudji menjual tahu bakso ke kantor- kantor, lantas teman sesama anggota PKK dan Darma Wanita. Pudji agresif setidaknya tiga kali dalam seminggu akan berkeliling. Lama- kelamaan, dia memproduksi tahu bakso setiap hari diikuti pesanan naik.

Menurutnya produksi berkelanjutan sangat penting. Ini langkah kongkrit menunjukan tekat menjadi pengusaha. Karena dia sudah memproduksi setiap hari maka tidak boleh sisa. Pudji bersemangat berjualan walau pesanan tengah sepi.

Ia akan putarkan tahu- tahu bakso tersebut. Nama usaha Tahu Baxo Bu Pudji memproduksi 150- 200 buah perhari. Itu dijualnya Rp.200 perbuah dipasarkan ke banyak tempat. Tidak cuma ke kantor- kantor, ia menjual tahu bakso ke pasar sampai perempatan kampung.

Kesungguhan Pudji membuahkan hasil dimana semua habis. Hampir tiap hari Tahu Baxo habis tidak bersisa. Kalaupun sepi, Tahu Baxo mampu terjual semua menyisakan 10 biji. Saat awal, usahanya masih dikenal Tahu Kepodang lantaran dijual di Jalan Kepodang.

Berkat kerja keras ia mampu membangun dua outlet dan banyak karyawan. Di tahun 1997, muncul kesempatan dari ASA- BRI, yang mempercayakan tambahan modal Rp.5 juta. Dimana uangnya lalu dibelikan perlengkapan, gerobak dan handphone untuk menrima pesanan.

Uang modal dibangunkan outlet termasuk satu dirumahnya. Dia tidak menjual ke outlet lain. Pudji memilih menjaga kualitas produknya begini. "Saya ingin harga dan kualitasnya sama," tuturnya. Dia juga mendapatkan tawaran berjualan titip ke orang lain.

Namun Bu Pudji bergeming tidak menerima tawaran tersebut. Dua outletnya dibuka di dua tempat, yakni di Jl. Letjend Suprapto 24 Ungaran dan Jl. Raya Semarang, Bawen Km 24 Babadan. Rumah Pudji lantas dijadikan pusat produksi sekaligus outlet.

Tahun 2002, pusat produksi alias rumahnya pindah dari Jalan Kepodang ke Jalan Kutilang. Mau beli di pabrik pembuatan maupun outlet harga sama.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba