Bisnis Coklat Makassar Makalate Pengusaha Irwan Miri

Profil Pengusaha Irwan Miri

 
coklatmakassar.png
 
Pengusaha Irwan Miri bisa meraup untung jutaan rupiah per- bulan. Semua berkat Irwan bisnis coklat Makassar Makalate. Padahal menurutnya Irwan hanya bermodal puluhan ribu rupiah. Memang dari Makassar dikenal akan biji coklatnya melimpah. 
 
"Sulawesi Selatan adalah penghasil cokelat terbesar di dunia," ujar pengusaha Irwan ketika ditemui di Kementerian Perindustrian, Jakarta. Banyak pedagang biji cokelat di Makassar. 
 
Namun, sedikit orang berinisiatif untuk mengolahnya biji cokelat dan produknya kemudian dijual. Dia bermodal hanya Rp.25 ribu. Awalnya, dia hanya menggunakan bahan 1 kilogram cokelat. Saat itu, ia memproduksi coklat tangkai semacam lolipop.
 

Bisnis Sederhana

 
Sasarannya waktu itu adalah anak- anak sekolah. Irwan lalu mulai memasarkan produknya ke sekolah- sekolah di wilayah Makassar. " Kami menaruh di kantin kejujuran di SD, SMP, dan SMA dari jam 08.00 pagi dan jam 11.00 sudah habis," kata dia.

Bisnis yang dirintisnya pada Agustus 2008 tak semulus terlihat. Kira- kira dua tahun lalu, Irwan baru mulai masuk ke pasar lebih luas. Irwan lantas mengembangkan produknya lagi, membuat desain dan mengemasnya sendiri. 
 
Melalui perusahaan sendiri, CV. Kasih dan Sayang, ia mencoba berbagai metode termasuk ke berbagai pameran- pemeran makanan. Bisnisnya kemudian mendapat bantuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari bank sebesar Rp20 juta. 

Pinjaman ini digunakan untuk pemasaran dan pengemasan barang dengan merek "Makalate". "Untuk packing saja, kami butuh biaya Rp10 juta untuk lima item," kata Irwan.

Nama "Makalate" sendiri, kata dia, berasal dari gabungan kata Makassar dan Chocolate. Ya, Irwan memang benar- benar fokus memperkenalkan cokelat Makassar. 
 
Menurut Irwan satiap pameran akan mempunyai peran yang dominan dalam mengembangkan usaha rumahannya ini. 
 
"Kami selalu ikut serta dalam pameran, terutama di Makassar. Sebelumnya kami masih asal menjual produk ini, namun dengan ikut dalam pameran, banyak yang melirik kami dan tentunya membantu penjualan Makalate," tutup Irwan.
 
Cokelat yang dia produksi menjadi beraneka ragam dengan kadar cokelat sebesar 54- 80 persen. Antara lain cokelat putih, cokelat hitam, cokelat non- pemanis buatan, dan cokelat isi buah-buahan dengan ukuran mulai dari 100 gram hingga 400 gram. 
 
Untuk pasokan coklat datang dari para petani di Makassar yang memang banyak. Irwan menjelaskan biji coklat itu telah terlebih dahulu melalui proses fermentasi di tempat para petani selama seminggu. "Tiga hari pengolahan untuk jadi makanan ringan, itu di saya," kata dia.  
 
Produk cokelat buatannya juga beraroma sangat khas untuk diingat. "Selain ada rasa cokelat, aroma cokelat sangat nampak," kata dia. 

Industri rumahan yang sudah selama 5 tahun berjalan ini, mendayaganukan waktu luang anak-anak, baik yang masih sekolah maupun yang sudah putus sekolah. 

"Kami masih mengolah cokelat dengan cara tradisional yaitu tanpa menggunakan alat melainkan dengan tangan. Makalate didistribusikan di kota ini sebagai oleh-oleh khas daerah Makassar," ujar Irwan.

Ditributor produk Makalete juga sudah ada dimana- mana. Irwan menyebut ada dari Gowa, Kolaka, Maros, Takalar, Papua, dan Jakarta. "Kami menggunakan sistem bagi hasil 70:30," kata dia. Dan untuk memproduksi Makalate, Irwan mempekerjakan dua belas karyawannya, lima orang di antaranya adalah pegawai tetap. 

Lalu, berapa omzetnya? 

"Omzet per hari sebesar Rp500 ribu. Jadi, per- bulannya saya mendapat Rp15 juta," katnya kepada VIVA News.

Selain digemari masyarakat Indonesia tapi juga mereka dari manca negara, "Biasanya orang Eropa suka rasa cokelat yang pahit. Orang Asia lebih suka yang manis," tuturnya.
 
Apabila kamu ingin membeli cokelat Makaleta, bisa berkunjung ke outlet di Jalan Sungai Saddang Baru Lr. Berkah No. 2 A, Makassar atau menyambangi Anttena Shop di Jalan Wolter Monginsidi No. 40, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. 

Jika ingin memesan langsung, kamu nanti bisa mengontak pengusaha Irwan di alamat email miliknya irwan_miri@yahoo.com. "Kami tidak membatasi minimal pembelian. Tapi, ya, sebaiknya memesannya (minimal) satu kilogram supaya biaya pengiriman murah," kata Irwan.

Mantan Menteri Saleh Husin Bermula Pengusaha Kecil

Profil Pengusaha Saleh Husin

 
mantanmenteri.png
 
Kisah mantan Menteri Saleh Husin. Dia bermula pengusaha kecil. Saleh bukanlah anak orang kaya. Anak ke 3 dari 7 bersaudara, Saleh terlahir dari  keluarga miskin dengan ekonomi pas- pasan. Ibunya Hj. Ma Aket hanya seorang pembuat kue, sedangkan ayahnya, H. Husin L adalah seorang nelayan. 
 
Saleh kecil tetap bersemangat menatap masa depannya. Usaha pertamanya yaitu membantu ibunya berjualan kue dan ikan hasil tangkapan sang ayah. Bekerja dan bersekolah itulah kegiatan yang dilakukan pria kelahiran Rote, 16 September 1963 ini. 
 

Merintis Bisnis

 
Sejak kecil sudah bekerja keras. Sejak SD sampai kelas 3 SMP Negeri-1 Baa, Rote, dia bersekolah sambil berdagang kue dan ikan dari 1974- 1978. Pada saat melanjutkan sekolah di SMA Palapa Kupang, ia mengejar mimpinya menjadi tentara. 
 
Selepas lulus segera Saleh mendaftar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Hanya saja diseleksi terakhir ia gagal, ini semua karena mata kanannya yang terganggu.


Tak patah arang, ia tetap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Karena cerdas maka biaya kuliahnya pun ditanggung negara. Ini sedikit membantu kedua orang tuanya. Hal lain dilakukan untuk membantu jalannya keuangan keluarga ialah dengan ikut bekerja. 
 
Saleh diketahui pernah bekerja di rumah kediaman keluarga Henuhili. Pada saat itu dia diterima dengan baik untuk bekerja disana. Tak diketahui persis apa yang dikerjakan, namun dia bekerja tak mengenal lelah.

Bukti kerja kerasnya dan pantang menyerah, ialah ia berani ikut tes Akabri untuk yang kedua kalinya pada 1984. Lagi- lagi tes kedua inipun gagal, karena penyebab yang sama. Mungkin bukan takdirnya menjadi seorang Akabri pikir Saleh. 
 
Di perjalanan ia akhirnya memilih berbisnis sendiri. Melalui bisnis pula dia bisa bertemu banyak orang hebat, membangun koneksi. Pertama kali berbisnis hanya bermodal Rp.500 ribu dari sang ibu di 1986- 1988. Dia menjelma menjadi pengusaha kecil. Bisnisnya kala itu hanya usaha pembuatan banner. 
 
Karena pergaulan yang baik, Saleh Husin banyak dibantu teman- temannya baiknya, yaitu Firman Setiabudi anak dari Try Sutrisno (saat itu menjabat sebagai Pangdam v Jaya ),Nanan ( anak dari Megawati Soekarnoputri ), Ferdi Hasan ( artis ) dll. 
 
Jadilah bisnisnya moncer dari berbisnis sendiri hingga menjadi komisaris perusahaan besar. Lulus tahun 1996, Saleh mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi dari Ekonomi Universitas Khrisnadwipayana. Dia sudah mapan. 
 
Menyandang gelar sarjana kemudian menjadi komisaris di PT. Ades Alfindo Putra Setia Tbk di 1993-2005 dan menjadi direktur di PT Shelbi Pratama pada 1989-1990. Kesuksesan itu terus lah berlanjut karena Saleh terus berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain. 
 
Tentu saja setiap dari kerja kerasnya menghasilkan kedudukan strategis di setiap perusahaan yang pernah ia duduki. Walaupun sudah sukses dalam karir, Saleh memang mengutamakan pendidikan setinggi- tingginya. 
 
Disaat ia berkuliah S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Khrisnadwipayana dan lulus pada tahun 1996, ia sudah bekerja di Ades. Pada saat kuliah itu pula, Saleh akhirnya memutuskan menikah dengan Andresca,SE pada tahun 1994. 
 
Tidak puas hanya mengenyam pendidikan S1, Saleh melanjutkan studi Magister Administrasi Publik di Universitas Khrisnadwipayana selesai pada tahun 2007. 
 
Pendidikan non formal dijalaninya untuk mendukung karir,diantaranya English Course in University of Oregon, Eugene, Oregon-USA (1992), Kursus Reguler Angkatan (KRA) XXXIX Lemhannas (2006) juga belajar public speaking serta mengikuti pendidikan kepribadian di John Robert Power. 
 
Ketertarikan akan dunia politik membuatnya terjun ke kegiatan kepartaian. Ayah dari Sadenza Haniyah Putri, Andzal Rizky Putra serta Deezal Annabel Putri ini mulai meniti karir di Partai Amanat Nasional (PAN) pada 2001.

Lalu ia melompat jauh hingga ke partai naungan Wiranto, Partai Hanura sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (wasekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Hanura pada 2010-2012 dan menjadi Ketua DPP Partai Hanura pada 2012-2015. 
 
Puncaknya ia dicalonkan menjadi Menteri Perindustrian, sebuah jabatan yang tertinggi di karirnya hingga kini. Meski sempat diragukan karena karirnya sebagai pengusaha, Saleh Husin tetap yakin untuk melenggang menjadi menteri. 
 
Bekalnya adalah kerja keras seperti yang dilakukannya hingga kini. Inilah kisah mantan Menteri Saleh Husin bermula pengusaha kecil.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba