Tertipu Puluhan Juta Pengusaha Putu Sudarma

Biografi Pengusaha I Putu Ngurah Sudarma


putusudarma.png

Pengusaha Putu Sudarma sudah ingin menjadi entrepreneur. Jiwa entrepreneurship nya harus dibayar mahal, ia tertipu puluhan juta. Ia ingin menjadi pengusaha sejak masih duduk dibangku kuliah. I Putu Ngurah Sudarma ancang- ancang buat cari modal. 
 
Dia lantas masuk STIE Pariwisata Yapri Aktripa Bandung. Sudarma sadar disinilah akan jadi ladang bisnisnya. Hanya saja, ada satu fakta tak bisa dipungkirinya, membangun usaha butuh modal besar. Untuk itulah keinginan menjadi pengusaha ditahannya.
 

Jiwa Entrepreneurship

 
Selepas kuliah hasrat terbesarnya menjadi bagian dari industri kapal pesiar. Sebuah batu loncatan pikir Sudarma. Lewat berkerja di pesiar, ia akan mampu mengumpulkan uang, karena di sana uang gajinya sangat besar. Ia segera melamar ketika selesai sekolah. 
 
Sayangnya, apa yang sudah ia rencanakan tak sesuai harapan. Sudah puluhan lamaran dimasukan ke aneka perusahaan kapal pesiar tidak terbalas, dari Royal Caribbean, Holland America Line, sampai Carnival Cruise Line.

Sialnya lagi malah terkena tipu sampai 40 juta. Dia tertipu agen cruise line di tahun 2006. Mungkin karena pola pikirnya kala itu yang berpikir bisnis itu mahal. Menjadi pengusaha buktinya tak selalu mahal. Ambil saja contoh pengusaha kami disini. 
 
Uang 40 juta sebenarnya bisa menjadi bisnis. Tapi entahlah bisnis apa yang ia ingin kala itu tak tersampaikan.

"Sampai sekarang uang itu tak kembali," sesalnya, padahal uang itu ternyata boleh pinjam orang tuanya lewat rentenir. 

Ayahnya telah menjaminkan tanahnya buat membayar rentenir. Nasi telah menjadi bubur, maka dia Sudarma seolah lupa tujuan jadi pengusaha, namun tak menyerah untuk bekerja di kapal pesiar. 
 
Sudarma kemudian bekerja di spa milik temannya yang berwarga negara Australia. Menurutnya bekerja di spa sebenarnya iseng. Sambil menunggu kesempatan buat bekerja di kapal pesiar dan menunggu uang Rp.40 juta kembali. 

Selepas tujuh bulan bekerja di spa, pikirannya berbeda dan menyerah menunggu panggilan ke kapal pesiar. Sebelum bekerja di spa tersebut, ternyata Sudarma pernah bekerja di Singapura. Menurut berita dia pernah bekerja menjadi pelayan sebuah kasino di kapal. 
 
Cuma bertahan 2 tahun, ini karena bukan pekerjaan yang ia inginkan. Mencoba kembali melamar ke kapal pesiar, enam kali ditolak perusahaan, dan akhirnya ia masuk bekerja di spa. Disaat bekerja di spa bertemulah ia dengan kekasih hatinya. Sosoknya seolah menjadi pelega disuramnya nasib hidupnya. 
 
"Untung saat stress itu saya tidak bunuh diri," kenangnya. Disaat galau tak menentu hadirnya sosok wanita membawanya damai. Akhirnya Sudarma memutuskan untuk menikahi sang pujuan hati. Disini keberuntungan seorang Sudarma seolah berubah.

Sang kekasih hatinya, Komang Astini, dinikahinya di awal 2007. Mereka berdua bersama bekerja di tempat yang sama. September 2007, ia memutuskan keluar dari tempat spa tersebut, alasanya karena dia merasa ide- ide bisnisnya ditolak sang pemilik spa. 
 
Ia pun memutuskan mengejar mimpi lamanya yaitu menjadi pengusaha. Sementara itu gajinya saja tak cukup membayar hutang ayahnya. Lantas mau modal berapa dia memulai usahanya. Sang ayah mencoba membantunya kembali. Dia rela meminjamkan uang Rp.60 juta, bermodal pinjaman lewat tanah warisan sang ayah. Sebenarnya ini adalah beban tersendiri baginya. 
 

Wirausaha Spa

 
Modal Rp.60 juta digunakan buat menyewa tanah. Ia membangun tempat pijat sederhana. Yang cuma berisi peralatan dan perlengkapan seadanya. Bahkan tempatnya mendapat julukan spa kandang kuda. Sudarma membuka tempat spa di kawasan Ubud.

Alasan khusus adalah karena tempat itu berasa aura spiritual dan seni budayanya. Ubud baginya adalah desa internasional. Menurutnya hampir setiap orang menatap Ubud. Baik aspek bisnisnya, tempat bekerja, tujuan wisata dan istirahat, atau buat mereka yang menikmati masa pensiun ada di Ubud. 
 
Menurutnya bisnis spa menjadi sebuah penyalur imajinasi. Alasan lainnya? "Itulah tempat termurah," jelasnya lagi, yang disusul tawa berderai Membuka usaha ternyata passion pria kelahiran Singaraja 10 Juni 1980 ini. Sang Spa berdiri di gang kecil di Jalan Jembawan, Ubud. 
 
Tempatnya tanpa polesan dinding, cuma punya dua ruangan, cuma punya dua terapis diawalnya yakni dirinya dan istrinya Astini. Pulau Bali memang surganya bisnis spa. Tetapi, tak semua bisnis spa memiliki kisah menarik, seperti halnya kisah Sudarma. 
 
Menarik karena bisnis ini dimulai dari nol. Cuma bermodal sewa tanah lokasi yang seluas 3m x 6m. Bersama dia dan istrinya, yang juga mantan pegawai spa, keduanya bekerja untuk spa milik mereka sendiri. Uang sewa tempat dibayar Rp.10 juta selama 10 tahun. 
 
Pekerjaan spa dilakukan semuanya oleh mereka berdua. Semuanya dimulai dari hal paling bawah, dari pembangunan gedung, layanan antra jemput pelanggan, dan pemberian treatment pijat, semuanya itu dilakukan oleh Sudarma dan istrinya tanpa bantuan. 
 
Bersama- sama pula mereka melakukan aneka promosi. Mulai membuat desain brosur sendiri. Hingga menyebar brosur pun bersama. Fokus awalnya ialah mempromosikan spa lewat restoran, hotel, villa, dan cottage di kawasan Ubud.

Usaha spa miliknya lantas dinamai Sang Spa. Sayang, Sang Spa tidak terlalu diminati meski keduanya agresif dalam berpromosi. Modal motor butut membantunya menyebarkan 1.000 brosur. Sebagian besar brosur dibuat fotokopi agar harganya lebih murah. 
 
Motor tua yang dikendarai Sudarma sendiri juga digunakan buat antar- jemput pelanggan. Hasilnya pengunjung cuma datang satu- dua orang maksimal lima orang saja per- hari. Terkadang juga tidak ada pelanggan sama sekali. Layanan ditawarkan pertama kali begitu sederhana dan simple. 
 
Bulan pertama pendapatan Sang Spa cuma Rp.980.000 (tergolong rendah di Bali). Dia tak berputus asa mempromosikan spa miliknya lagi. Pada bulan ke dua, mulailah ia fokus lagi membesarkan kembali bisnis Sang Spa. 
 
Kali ini mereka berdua tak sendiri lagi, dibantu oleh sang keponakan dan adik sepupunya. Mulai lah tampak pelanggan mulai bertambah. Pengunjung bertambah sampai kesulitan menangani. "... karena setiap hari dan bulan pelanggan yang datang ke Sang Spa semakin bertambah," jelasnya. 
 
Memasuki bulan kedua ini omzet bisnisnya melesat jadi Rp.5,6 juta. "Masih sangat jauh dari utang yang harus dilunasi," timpal Sudarma. Astini sendiri sempat merasa putus asa akan keadaan. Ia merasa ini akan sangat sulit, hingga memutuskan bekerja di tempat lain. 
 
Ini semua agar bisa membantu sang suami. Mereka berdua masih terus mencoba melunasi hutang. Kalau dihitung- hitung total hutang mereka berdua sampai angka Rp.100 juta. Cinta sang istri terlihat begitu kuat membuat Sudarma semakin semangat. 
 
Inilah asal mula nama Sang Spa. Ini merupakan kepanjangan nama tiga orang: "S" dari nama ayah yang memberi mereka hutang, "A" untuk nama istrinya Astini, sedangkan "NG" berasal dari dirinya, Ngurah. Bulan ketiga akhirnya omzet bisa menembus Rp.15 juta.

Sudarma akhirnya berani mengambil satu pegawai. Sejak saat itu pula usahanya semakin tumbuh pesat saja. Di bulan Agustus 2009, ia memutuskan memutar uangnya kembali, yaitu lewat membuka satu tempat spa lagi. 
 
Sang Spa 2 didirikan di tanah sewa seluas 600 m2, yang hanya berjarak 100 meter dari Sang Spa 1. Dibulan sama, di tahun 2010, ia mengambi alih kontrak bisnis spa di Jalan Monkey Forest, dijadikannya Sang Spa 3.

Sukses Sang Spa karena pelayanannya memuaskan. Pelanggan rela merekomendasi Sang Spa ke keluarga dan teman. Melalui mulut- ke mulut bisnisnya menyebar ke seantero Bali. "Jadi dari mulut ke mulut," ujarnya. Beberapa tamu spa -nya juga mempromosikan Sang Spa lewat internet. 
 
Senang hati mereka menyebarkan lewat Blog, Facebook, Travel Pod, Tripadvisor, dll. Hal lainnya ada standar pelayanan wajib yaitu pelatihan tiga bulan. Satu bulan pelatihan, terapis baru bisa lengsung praktik kerja dengan pengawasan satu terapis senior. 
 
Buat menyenangkan terapis baru, Sudarma bahkan rela membayari mereka meski masih di dalam masa training. Kalau mereka lolos pelatihan maka akan dikontrak dua tahun. Total sudah ada 68 terapis bekerja di tiga spa -nya. 
 
Bulan Agustus 2012, Sudarma sempat membuka Sang Spa 4 di Kuta, sayangnya, terpaksa harus ditutup. Kini, bisnis Sang Spa menyebar, setiap harinya ada 70 orang atau 80 orang per- hari. Mayoritas pengunjung adalah para turis asing.  
 
Mereka yang berlibur di Bali, asal Australia, Jepang, Taiwan, Malaysia, Singapura, Eropa dan lain- lain. Bisnis yang dirintis sejak Januari 2008 ini, mampu menghasilkan omzet Rp.3,5 miliar per- tahun. 
 
Sementara itu Sudarma dan Astini merasa lebih tenang hidup sederhana. Mereka tinggal di rumah kos sederhana sejak awal. Dari motor butut sudah berubah menjadi dua minibus dan satu BMW. Untuk spa lamanya yang mirip "kandang kuda", dijadikan mereka tempat mengasuh 13 orang anak asuh. 
 
Mereka bersekolah formal dan diajarkan menjadi terapis. Layanan antar jemput area sekitar Ubud masih gratis. Sementara diluar Ubud ada tarif sendiri. Dibawah bendera PT. Ngurah Sudarma, tahun 2014, sejak itu fokusnya membengun sistem manajemen.

Hasrat lain, Sudarma ingin menjadi konsultan spa di tiga tahun mendatang. Tambahan dia membuka satu kafe disebarang Sang Spa 2. Kafe yang akan menawarkan minuman herbal. Selain itu ada pula satu vila yang dibangun di daerah Pejeng. 
 
Atas prestasinya tersebut I Putu Ngurah Sudarma pernah memanangkan ajang Wirausaha Muda Mandiri 2013. "Semuanya memang bermula dari mimpi, motivasi dan semangat," tutur penggemar buku biografi dan motivasi ini.

Pengusaha Boneka Lucu Dewanto Purnomo

Profil Pegawai BUMN Jadi Pengusaha


pengusahaboneka.png

Menjadi pengusaha boneka lucu ternyata mengasyikan. Begitu pikir pria berkacamata, yang relakan pekerjaan mapan di sebuah perusahaan milik negara. Dia mau jadi pengusaha. Dalam sebuah episode di Kick Andy, kamu mungkin pernah melihat profilnya, rasa salut terasa buat bapak 
 
Dewanto Purnomo atas inspirasinya kepada kami. Bagi kamu yang belum pernah melihat episodenya, maka kami tuliskan kisahnya disini, untuk kamu bisa pelajari.
 

Usaha Mainan


Menjadi orang gajian seperti dirinya pastilah tak mudah beralih dari pegawai (apalagi BUMN) menjadi pengusaha. Apalagi bisnisnisnya berjualan boneka untuk pria setengah baya seperti dirinya, aneh, pasti berasa aneh gimana gitu tetapi it's work.
 
Tapi, it's work... Ia berhasil melewati fase- fase sulit, bermodal berjualan lewat internet, akhirnya menguasai bisnis jualan boneka lucu.

Awal karir dimulai dari menjadi pegawai perusahaan PT. Erlangga Mahameru. Kerja dibagian sales berjualan buku pelajaran ke sekolah- sekolah di tahun 2005. Selama empat bulan menimba ilmu menjadikan Dewanto ahli dalam penjualan. 
 
Sukses kerja membawanya bisa melompat ke perusahaan yang lebih mapan, Bank Danamon. Selama lima tahun mengabdi, dari 1995- 2000, ia mendapatkan gaji lumayan tinggi yakni Rp.2 juta per- bulan.

Kemudian bekerja di BUMN di PT. Permodalan Nasional Madani selama 11 tahun. Dia telah menjadi orang bergaji Rp.7- 10 juta. Awal mengenal wirausaha sebenarnya sudah sejak tahun 2005. Dimana dia pernah menjadi salah satu mitra waralaba mie ayam. 
 
Sukses bisa berkembang pesat hingga punya satu gerobak lagi. Tak puas dibelinya waralaba lagi di tempat berbeda sampai ada 45 master franchise di Bekasi. Total uang masuk ke kantongnya melonjak mencapai Rp.3.400.000 per- hari. 
 
Omzet perbulan sudah bisa dibayangkan mencapai Rp.102.000.000 per- bulan. Menakjubkan, tapi sayangnya, Dewanto harus rela menelan pil pahit kebangkrutan di tahun 2010. Ada dua hal yang mendasari bisnisnya gagal menurutnya. 
 
Satu adalah karena yang manajemen buruk. Keduanya dia yang masih sibuk bekerja di Permodalan Madani. Ya, ketika bisnis itu menjadi sangat besar. Justru ia mengalami kesulitan mengontrol bisnisnya lagi. Ini diakuinya lewat pewarta Detik.com. 
 
Perjalanan yang menjadi catatan khusus bagi bisnis selanjutnya. Dimana di bisnis selanjutnya ialah menjadi agen susu segar di tahun 2006- 2010. Sudah ada total 100 orang pelanggan setia menunggu Dewanto tiap pagi. Namun, sayang, lagi- lagi bisnis ini gagal dan dijual seharga Rp.25 juta.

"Saya beli bisnis itu dengan harga Rp.10 juta dan saya jual Rp.25 juta, saya untung Rp.15 juta," jelasnya.

Dulu, disaat bekerja di BUMN, ada kawannya yang juga aktif "nyambi" pengusaha. Sang kawan terlihat tengah  kwalahan menjual dagangan. Saat itu, Dewanto sudah cukup lama mengamati bisnis online dan sudah cukup ahli. Lantas dibantunya sang kawan membuat toko online. 
 
Masih ada peluang besar untuknya di bisnis online ini. "Tentu saja saat itu hanya sebagai usaha sampingan," jelas Dewanto.

Menurut pengamatan banyak orang mencari barang di mesin pencari. Oleh karena itu setelah mantap dicarilah kata apa yang paling diminati dibeli. Satu kata ditemukan yaitu "boneka". Segeralah dibangun tiga situs www.bonekalucu.com, www.bonekabesar.com, dan www.bonekabear.com. 
 
Ternyata animo masyarakat cukup besar. Ini mendorongnya semakin yakin, hingga mulai mencari- cari teman seperjuangan. Mulailah pria penghobi baca ini memilih masuk lebih dalam, bahkan rela merogoh kocek pribadinya sampai Rp.15 juta. 
 

Pengusaha Boneka

 
Mulailah pegawai BUMN kelahiran 1971 ini mencari dimana bonekannya. Dia mulai dari pusat produksi boneka terbesar di Indonesia yaitu di Kota Bekasi.

 "Selama wanita masih bisa melahirkan, bisnis boneka cerah," katanya.

Memulai bisnis boneka sejak 2009 -an. Semakin lama semakin mantap menatap bisnisnya. Aneka boneka telah dijual lewat toko online. Target eceran sampai grosiran disanggupinya. Pembelian juga tidak terbatas untuk hadiah tapi juga kebutuhan promosi. 
 
Beberapa perusahaan memesan boneka sekala besar untuk kebutuhan promosi. Mereka akan membeli lewat toko onlinenya. Ternyata boneka prospek omzetnya mencapai Rp.5- 10 juta. "Modal Rp 15 juta dan dapat omset perbulan Rp 5-10 juta dan akhirnya saya keluar dari BUMN," terang Dewanto. 
 
Tahun 2010 tekatnya untuk berpisah dari perusahaan yang digelutinya kesampaian. Ia memberanikan diri fokus berbisnis boneka online. Sejak keluar dari BUMN omzet bisnisnya naik menjadi Rp.10- 30 juta per- bulan.

Dan, terus berkembang, bahkan di tahun 2011 saja, sudah Rp.100 juta dan lebih.

"...target saya tahun 2012 adalah lebih meningkat dari Rp 100 juta rupiah," lanjut Dewanto.
 
Permintaan boneka khusus perusahaan jumlahnya besar. Diakuinya banyak pesanan ia tolak ketika awal- awal berbisnis. Alasannya apalagi kalau bukan keterbatasan sumber daya manusia. Tidak sayang loh, karena ia bertutur penjualan grosir dan eceran jauh lebih besar. 
 
Ini disebabkan perusahaan lebih banyak meminta diskon dari pembelian banyak.

"Selain itu, waktu pemesanannya pun kadang sangat mepet," katanya.

Dewanto masih menerima permintaan boneka korporasi. Tentu melalui peningkatan produktifitas, termasuk bersama teman- teman lain membuka gerai baru di sejumlah daerah. Gerai tersebut akan memenuhi kebutuhan boneka anak dan mainan lain. 
 
Termasuk memenuhi kebutuhan perusahaan sekitarnya. Penjualan grosir maupun eceran datang banyak dari luar Pulau Jawa. Ini memang sudah dibaca olehnya. Penjualan online menjadi cara mereka yang keuangan mampu. 
 
Tetapi ada batas ruang dan waktu menghalangi. Dia mencontohkan pesanan dari pegawai Freeport, dimana mereka bekerja di Papua, mau mengirim boneka buat anaknya di Medan sebagai hadiah ulang tahun. 
 
"Maka mereka pun mencari penjual boneka di internet dan meminta mengirimkan boneka itu ke Medan," paparnya.

Jumlah penjualan meningkat membuatnya semakin bersemangat. Ditambah beberapa mitra pemasok dan pabrik yang memproduksi boneka. Ada 12 mitra tercatat menjadi bagian dari usahanya. Mereka siap untuk mensuplai kebutuhan boneka. 
 
Apalagi beberapa permintaan menyangkut boneka spesifik (custom). Ini hanya bisa dipenuhi pabrikan boneka tertentu. Pengalaman berjualan boneka lama, membuat Dewanto seolah hafal boneka berkualitas.

Ciri fisik boneka yang berkualitas menurutnya, yaitu jika dipencet tangan bentuk boneka segera kembali ke bentuk semula. Penjualan boneka juga mengikuti trend. Ambil contoh warna merah laris di tahun baru China. Warna pink atau merah muda laris memasuki hari Valentine. 
 
Umumnya warna boneka yang selalu terjual adalah warna coklat. Trend sekarang ini, untuk warna- warna ngejreng sudah jadi pilihan seperti hijau atau ungu. Adalah "ketidak pastian" menjadi hambatan tersendiri, tidak pasti apakah sukses atau gagal. 
 
Ketika memutuskan keluar perusahaan, orang pertama yang akan protes keras adalah istri kamu kemudian keluarga besar kamu. Butuh waktu dua tahun lebih hingga Dewanto memutuskan keluar. Sambil bekerja di kantor, disela- sela waktunya, ia kerjakan untuk berjualan boneka online.

Cukup melelahkan sampai perasaan tidak enak itu muncul dan akhirnya Dewanto keluar.

"Apalagi saya sempat menerima surat peringatan (SP) dari atasan.Saya selalu ikhlas ketika dapat SP, karena memang sering telat kalau ordernya lagi banyak. Saya juga kerap meminta ijin" kenang Dewanto.

Oleh karenanya ketika surat peringatan muncul, Dewanto sudah siap untuk kemungkinan terburuk. Tercatat sudah ada 440 pelanggan eceran, 34 pelanggan grosir, 15 perusahaan, itu di tahun 2009 sampai 2012 saja. 
 
Padahal kala itu masih diantara menjadi pegawai atau pengusaha. 440 pengecer meyumbang 20%, grosir ada 65%, dan perusahaan menyumbang 15% pendapatan. Pelangganya tersebar dari Aceh sampai Papua.

Tahun 2009- 2012 pasaran lokalnya meningkat pesat seiring sadar eCommerce. Boneka miliknya juga aktif mengikuti trend teknologi. Seperti baru- baru ini menggarap boneka emoticon blackberry. Cuma dibantu 10 karyawan usaha yang terlihat kecil menghasilkan Rp.10 juta sekali pesan. 
 
Target selanjutnya adalah bagaimana agar produk karyanya go internasional. Ia yakin masyarakat luas akan melihat manfaat berbelanja online kedepan. Tips jualan online menurut Dewanto Purnomo lakukanlah riset terlebih dahulu. 
 
Pastikan kamu mencari apa yang digemari orang lewat situs seperti www.researchinternet.com, yang akan menjadi satu panduan mencari produk apa paling dicari. Selepas itu carilah distributor atau produsen produknya. 
 
Cari barang contoh dan potongan harga khusus. Barulah membuat toko online sederhana bermodal sekitar Rp.5 juta- 10 juta. Selain dari pengalaman juga kesiapan secara mental dan modal buat bergelut di dunia bisnis online. Kesiapan itu menurutnya adalah adanya produk apa yang akan dijual.

Modal Percaya Diri Pengusaha Keripik Durian Tamita

Profil Pengusaha Tawardi Ramli


pengusahakeripik.png
 
Mau jadi pengusaha modal percaya diri. Dia pengusaha keripik, yang dengan PD -nya bertanya kepada pengelola supermarket. Pria pemberani ini bertanya,"produk apa yang tengah dibutuhkan?". Tidak mau mencoba- coba menjadi pengusaha.
 
Dia langsung bertanya kepada marketnya. Bertanya panganan apa yang mereka inginkan darinya. Ternyata jawabannya adalah kebutuhan akan keripik nangka. Mendengar itu langsung menyanggupi permintaan mereka. Padahal, perlu kamu tau, ia sama sekali belum memulai bisnisnya.
 

Usaha Modal Percaya Diri


Bahkan bentuk keripik nangka pun tidak tau. Sebuah mall di Medan tersebut juga tak kalah aneh. Mereka mau saja "dibodohi" oleh Tawardi. Ini kejeniusan seorang pengusaha bukan penipuan. Ia menyanggupi langsung mengerjakan aneka bisnis apapun itu. 
 
Pria asal Deli Serdang, Sumatra Utara, akhirnya menjadi pengusaha dibidang aneka keripik buah.

"...bentuk keripik nangka saja saya tidak tau," jelasnya kepada Tribunnews.

Terlanjur menandatangani kontrak mau- tau mau haruslah mau. Terpaksa, akhirnya Tawardi mencari jalan dan menemukannya sampai di Malang. Dipesan keripik asal Malang dibawa ke Medan. Bukan pula untuk dijual malah dipelajari lagi. 
 
Diamatinya bentuk, terkstur, serta rasa khas si keripik nangka Malang. Sampai ia bisa memproduksi keripik nangka sendiri.

Bantuan datang dari LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), membantunya modal berupa mesin pemotong keripik. Ternyata bantuan tersebut ada prihalnya tersendiri. Tawardi menyebutkan dirinya merupakan korban konflik Aceh yang lari ke Medan. 
 
Dia pindah ke Sumatra sejak tahun 2000-an lalu. Sejak tahun 2004, ia sudah punya bisnis sendiri, yakni mengolah nangka menjadi keripik. Lewat nangka merambah ke kripik buah lain.

Tawardi punya keripik mangga, salak, cempedas, nanas, jamur tiram, tape singkong, hingga durian. Andalan pengusaha satu ini bukan keripik nangka. Justru keripik duriannya menjadi andalan karena menjadi keripik durian satu- satunya di Indonesia. 
 
Kemasan 60gram per- bungkus keripik durian dijual seharga Rp.30.000. Sementara itu keripik lain dijual Rp.20.000, itupun berisi 100gram. Ditambah olehnya keripik buatannya bebas pengawet.

Memakai pembukus alumunium foil membuat keripik awet sampai 4 tahunan. "Tapi saya tulis di kemasan expire hanya satu tahun," katanya. 
 
Keripik buah yang berlabel Tamita, diambil dari bahasa Aceh yang artinya yaitu "yang dicari", Tawardi berharap keripiknya memang menjadi incaran banyak orang. Sekali produksi, kini, ia menghasilkan 400 buah bungkus. Dibantu oleh kerabat dan keluarganya menjadikan bisnis ini lebih efektif.

Permintaan akan produknya memang banyak. Tapi dia belum bisa memenuhinya sendiri. Soal pemasaran pun baru di Sumatra Utara dan punya agen di Bandung. Ketika ditanya ekspor, ia mengaku tak sanggup, alasan karena tenaganya tidak ada. 
 
Keterbatasan modal dan peralatan menghalanginya. Namun tak mematahkan ia mengikuti pameran di Bangkok loh. Bukan perkara mudah ternyata berbisnis seperi ini.
 

Masa Lalu Pengusaha

 
Menelisik lebih dalam, menemukan Tawardi dalam kenangan masa lalu. Dia mulai menceritakan kisah masa lalunya kepada pewarta. Akibat konflik Aceh membuatnya kehilangan harta sampai Rp.1 miliar. Sekitar 12 tahun lalu, dia bukanlah orang biasa, namun pengusaha kopi asal Aceh. 
 
Dia sudah terbiasa soal jual- beli. Bisnisnya sudah mencukupinya buat hidup layak. Hasil berbisnis kopi kala itu sudah lebih dari cukup untuk -nya. Konflik Aceh memakan korban banyak penduduk sipil. Tak mau mengambil resiko nyawa, pergilah dia dari Aceh ke Medan. 
 
Dia mengontak sanak saudara disana. Sampai dia menyelamatkan diri meninggalkan harta, bisnisnya, dan kenangannya. Cuma menyisakan sepetak rumah sederhana di Kota Medan. Itulah harta yang tersisa dimana ia dan keluarganya tinggal. 
 
Meski sudah puluhan tahun masih tersisa gurat emosi ketika mulai bercerita. Kisah konflik Aceh membuat keluarganya terseok- seok di tempat orang. Air mata masih mengalir sedikit dari matanya itu, ketika mengingat kembali beratnya memulai kembali. 
 
Dia punya passion dibidang bisnis. Tawardi jatuh cinta kepada bisnis kopinya hingga hilang. Ketika di Medan pikirannya cuma memulai kembali usaha. "Saya tidak punya apa-apa lagi ketika tiba di Medan, tapi dengan modal nekat," ujarnya.

Seketika didatanginya Carrefour menanyakan peluang usaha. Buat awalan cuma bertanya produk apa yang bisa ia pasok. Gayung bersambut karena mall besar itu memberikan kesempatan buat UMKM. Dan mereka butuh pemasok buat keripik nangka. 
 
Padahal kita tau Tawardi bukanlah siapa- siapa kala itu. Bisnisnya tidak bersisa, yang tersisa hanya kemampuanya  meyakinkan orang lain. Tanpa berpikir panjang diterimanya secarik kontrak. Ditanda tangani tanpa tau apa itu keripik nangka. Ia pun pontang- panting sampai ke Malang. 
 
Berkeliling mencari informasi mengenai keripik nangka. Tak dirasa akhirnya bisa mengisi kebutuhan supermarket. Pria yang bernama Tawardi Ramli ini tak menyerah. Dia bisa memproduksi sendiri dan menyuplai kebutuhan orang. Sayangnya, dia harus menelasn pill pahit kehidupan sekali lagi.

Pasalnya, olahan Tawardi tak cocok buat supermarket tersebut, bukannya untung malah merugi. Jadilah ia hanya memasok dua kali pengiriman. Prinsipnya pengalaman adalah modal sejati. Itulah dirinya, justru jadi semakin bersemangat. 
 
Memutar otak bagaimana agar bisa berproduksi sempurna. Maka lah, di tahun 2004, Tawardi secara intens melakukan komunikasi dengan LSM. Lembaga nirlaba Swiss Contack lah menjadi solusi bisnis.

Lembaga khusus yang membantu masalah Aceh ini memberikan bantuan. Khusus buat mereka warga korban konflik dan juga tsunami Aceh. Nah, Tawardi beruntung kebagian satu mesin vacuum frying. Cocok, mesin penggorang krispiy ini digunakan buat keripik nangkanya lagi. 
 
Seketika ia bisa memproduksi kembali aneka jajanan kripik. Satu mesin itu diberikan mereka secara gratis.

"Mulanya saya hanya memasok keripik nangka saja, tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai membuat inovasi lain," ujarnya.

Omzet bisnisnya meningkat sampai Rp.3 juta per- hari. Karena Medan terkenal akan buah duriannya. Maka ia berinisiatif membuat keripik durian. Inilah andalan bisnis aneka keripik Tamita. Nama itu bisa merambah ke seluruh Indonesia lewat keripik durian dan pewarta digital. 
 
Di tahun 2008 dibukannya pasar dari Jakarta, Yogyakarta, Makasar, hingga Bandung. Sudah menjadi pengusaha lama membuatnya paham strategi. Dibuatnya harga bisnisnya bisa bersaing dengan produk sejenis. Hal unik dilakukannya yakni mengurangi pasokan di pasar ritel. 
 
Loh, bukannya banyak yang malah pengen masuk? Alasan utama sistem pembayaran yang tidak sesuai waktu produksi. Ia menyebut uangnya harusnya langsung masuk ke kas, diputar kembali jadi bahan, hingga bisnis bisa terus berjalan bukan lewat sistem konyasi.

Ayah gadis kecil bernama Mentari, lanta menjelaskan bisnis Tamita bisa naik 150% lewat musim Lebaran. Omzetnya mencapai Rp.4 juta per- hari. "Saya sangat bersyukur, dari tahun ke tahun usaha saya semakin meningkat deras," puji syukur Tawardi. 
 
Soal varian keripik baru? Ia tengah mengkonsep keripik berbahan ikan tawar khas Danau Toba. Kini, dia berharap bisnisnya makin besar dan berkembang dari sekarang.

Es Krim Durian Monthong 36 Pengusaha Awenk

Profil Pengusaha Awenk Liem


eskrimdurian.png
 
Es krim durian Monthong 36 milik pengusaha Awenk. Usaha durian memang enggak ada matinya. Ini contohnya durian menjadi es krim, hingga pancake durian. Rasa memabukan dan bikin nagih. Tekstur lembut bikin enak di lidah.  Harumnya, rasanya, benar- benar menggigit ketika kamu coba rasakan. 
 
Pengusaha ini bernama Awenk Liem. Tak banyak jejak kami temukan lewat internet tentang profil pribadi dan usahanya. Dia dikenal sebegai pengusaha dibalik brand Durian Monthong 36.
 

Usaha Es Krim Durian


Es krim Durian Monthong 36 sudah lama menawarkan kerja sama waralaba. Bisa dibilang Awenk lah pionirnya usaha es krim durian di Kota Jakarta. Waktu itu, katanya tak punya pilihan lain selain harus menjadi pengusaha, memilih mundur dari perusahaan. 
 
Mencari- cari bisnis hingga melihat penjual es krim durian di 1999 -an. Usaha sederhana itu belum setenar sekarang lewat aneka variasi.

"...saya coba jual es krim duran di tahun 1999. Alhamdulillah bisa bertahan dan berkembang," ucapnya.

Meski belum bermerek, usahanya laris manis berkat resep pribadinya. Mereka pecinta durian itu menikmati betul bisnis barunya. Baru satu tahun barulah nama Durian Monthong 36 barulah jadi. Es krim Monthong 36 memang spesialis durian. Harga jualnya seporsi 10- 15 ribu. 
 
Setelah sukses es krim tawaran lainnya buah dari inovasinya adalah pancake durian. Pancake durian original isinya monthong. Ada pula pancake durian rasa pandan berisi durian medan asli. 
 
Tak lekas berpuas hati, ada produk lain seperti puding durin dan es potong durian, pilihannya rasanya ada yang coklat, vanila, alpukat, strawbery, kacang hijau dan alpukat. Agar rasanya legit memang dibutuhkan durian jenis monthong yang tebal dan legit. 
 
Sedangkan durian Medan -nya dipasok langsung dari Medan langsung sebagai variasi. Hitungannya tak lagi kiloan tapi ton- tonan dikirim dari Sumatra Utara. Total ada 3 ton durian tiap bulannya, "tapi dikirimnya secara bertahap," ujar Awenk. 
 
Tanpa bahan pengawet membuatnya cocok dikonsumsi oleh anak- anak dan manula. Bahkan soal fla atau toping pun tidak ada campuran neko- neko. Ia mengontrol kualitas produknya sendiri. Melalui pengolahan yang baik, membuat es durian Monthong 36 bertahan sampai 3 bulan.

Ia bisa berproduksi 150kg es krim durian dan 2000 pancake durian. Keuntungan bersih dikantongi Awenk 300 juta. Keuntungan bersihnya dari sana 15% nya. Untuk meyakinkan mitra waralabanya, bisnis ini memiliki aspek legal lewat CV. Monthong 36. 
 
Tahun 2014, bisnisnya mendapatkan 3 penghargaan, yakni Best Brand Award 2014, Citra Pengusaha Franchise dan The Best Kulineraward 2014. Tepat lima tahun lebih bisnisnya bermodel waralaba. Awenk memiliki 60 cabang sendiri dan 62 milik mitra. 
 
Paket investasi ada 4 jenis, total investasi dari Rp.7,5 sampai 50 juta. Paket A, senilai 50 juta, terdiri seragam, gerobak, banner dan produk awal 50 bal es krim dan 200 pcs pancake durian. Dimana per- balnya ada 40- 50 gelas es krim, sedangkan Paket B, modal Rp.17 juta dapat booth 1,8 meter, seragam, banner, brosur, 100 cup dan 200 pancake durian.

Paket C investasinya Rp.12 juta, ada booth, seragam, banner, brosur, dan bahan baku awal es krim bernilai 100 cup besar, 100 cup kecil, dan 200 pcs pancake durian. Tterakhir ada Paket D yang investasinya Rp.7,5 juta dimana isinya seperti Paket C. 
 
"Sistemnya kita juga bisa retur," ujar Awenk. Dan, menariknya tidak ada batasan waktu kontrak, franchise fee maupun royalti fee! Hanya saja, agar tidak merubah rasa, Awenk mewajibkan membeli di pusat.

Ketika bisnis kamu sukses, kamu bisa membeli es krim lagi dari tempatnya atau berhenti. Namun ia menyarankan pembelian minimal 100 bal es krim dan 2000 pcs agar harga pengirimnya lebih murah. Harga satunya bisa ditanyakan Awenk langsung. 
 
Ia menjelaskan mitra bisa mencapai omzet Rp.30 juta dan untung 40%. Ini benar- benar menarik rata- rata balik modal dari mitranya hanya 2 bulan. Kendalanya, menurut Awenk ada pada buahnya yang musiman, ketika permintaan tinggi maka akan sukar buat memenuhi. 
 
Untuk mengatasi hal tersebut pihak CV. Monthong 36 telah menyiapkan ruang stok. Dimana ketika musim durian maka Awenk akan menyetok durian disana.

Ibu Pecinta Burung Berbisnis Mudah

Profil Pengusaha Ibu- Ibu Muda

 
pecintaburung.png
 
Kisah ibu pecinta burung membuktikan berbisnis mudah. Para ibu muda tak monoton berjualan itu- itu saja. Biasanya mereka berjualan baju atau makanan. Nah, kali ini para ibu pecinta burung, tak cuma berjualan mereka juga mampu menternakan.
 
Mereka sukses dari hobi, hingga menghasilkan banyak keuntungan. Berikut daftar perempuan- perempuan luar biasa berbisnis burung yang notabennya passion -nya laki.

1. Kisah Ny. Alex asal Depok


Ibu muda satu ini sukses menangkar burung cucakrowo. Bermodal cuma halaman rumah lamanya di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, terlihat kandang- kandang kecil berejer berisi Cucakrowo. Ny. Alex menyebut ini bukan hasil seberapa karena rumahnya ini sudah tak cukup. 
 
Saking banyaknya permintaan dan hasil dari tangkarannya ciamik. Pemilik CBS Bird Farm ini haruslah memindahkan bisnisnya ke tempat lain.

Dipindah lah bisnisnya ke rumah barunya semuanya ya berkat bisnis ini. Sukses menangkar cucakrowo ini mampu membuatnya bisa membeli rumah baru, di kawasan Jalan Sawang Permai Baya, Kampung Kupu RT. 02/RW. 08, di depan GKLH An- Nur, Bedahan Pasir Putih, Depok. 
 
Suksesnya menangkar Cucakrowo menghasilkam 28 kandang indukan produktif. Setiap bulan kadangnya mengasilkan anakan laris manis terjual.

Cucakrowo milik CBS Bird Farm memang eksotis. Beda dari biasanya dijual dipasaran. Ny. Alex tepatlah memilih cucakrowo kepala hitam. Dimana dikepalanya ada bercak bulu berwarna hitam. Warna itu menurun ke anak- anaknya dan ternyata mengundang perhatian pecinta burung. Anak menetas dalam perawatannya, akan ia biarkan diasuh induknya 1 minggu. Barulah diangkat dan dipanen, maksudnya dipindahkan ke ruang inkubator.

Sebuah ruangan hangat beralas rerumputan atau alang- alang. Siap dipasarkan setelah umur 1,5 bulanan dimana sudah bisa makan sendiri. Nah, sukses menangkar burung cucakrowo, kamu bisa mengikuti jejak Ny. Alex dalam budidaya jangkrik. 
 
Ini bisa menambah pundi- pundi uang keluarga loh. Sukses mengangkar cucakrowo apalagi burung idaman ibu muda satu ini; burung murai batu. Bahkan dalam jangka waktu dekat Ny.Alex akan mendatangkannya dari Sumatra.

2. Kisah Ibu Andri Bogor


Kalau ibu berhijab satu ini sudah lebih jago soal menangkar burung. Juga punya burung cucakrowo yang ia tangkar di lahan terbatas, tak jauh dari rumahnya yakni di komplek Mutiara Bogor Raya Blog E9/No 1, di daerah Kutalampa, Bogor. 
 
Pertama kali punya burung buat ditangkar. Ia mengaku cuma punya tiga pasang indukan cucakrowo, dan dua pasang indukan jalak bali. Berkat usahanya kini sudah ada 17 kandang permanen. Untuk jenis burungnya juga sudah bertambah, yakni burung jenis lovebird. 
 
Jenisnya juga beragam antara lain lution, albino, blorok, dan lain- lain. Yang mana dari setiapnya menghasilkan burung- burung nan- eksotis. Usaha bernama MBR Farm memberikan perawatan 10 hari buat induknya. Kemudian dimasukan inkubator dan dirawat sendiri selepas umur 1,5 bulan.

Dua minggu setelah dilepas dari induknya; sang induk bertelor kembali.

Diakuinya dirinya cuma penangkar pemula. Dari perawatan dan lain- lain dikerjakannya sendiri. Mulai proses penjodohan, memanen anakan, hingga perawatan sebelum penjualan. Sukses menangkar membuatnya siap untuk memperbesar folume kandangnya.

3. Ibu Sadimin dari Cibinong


Beda wanita diatas, ibu yang satu ini bertekat menjadi breeder, justru karena ingin membantu bisnis sang suami. Enam tahun lalu, Sadimin, memulai usahanya menjadi penangkar sendiri. Usaha bernama Dwi Jaya Bird Farm Cibinong ini khususkan menangkar burung cucakrowo. 
 
Mereka lantas bersama membangun ini dari nol. Modal usaha pun didapat dari menjual sepeda motor. Uang tak seberapa dibelikannya dua pasang induk cucakrowo. Hasilnya dari indukan produktif ini jadilah satu pengorbanan manis. Bayangkan dari satu pasang terus berkembang biak. 
 
Kesemuanya seolah tanpa ada hambatan. Memang jika tak berkorban mana ada kesuksesan. "Alhamdulillah, semuanya lancar. Baru sehari masuk kandang, induk langsung bertelur," kenang Ibu Sadimin.

Mau tau kunci sukses Ibu Sadimin breeder cucakrowo?

Pertama adalah kamu harus penyuka burung. Penangkar dari hobi atau hati biasanya akan lebih sukses. Ini jika dibandingkan mereka yang punya uang banyak tapi tak suka burung. Kalau hobi pasti sayang ketika nanti diharuskan merawat burung. 
 
Kedua, kamu tak boleh malu ketika harus belajar dari awal bagaimana cara merawat burung. Caranya ya kamu harus belajar -berteman dengan para penangkar burung yang lebih profesional. Bertanya lah dari mereka dan belajar lah dari mereka. 
 
Nah, terakhir atau ketiga, maka perlu kamu ketahui bahwa ini adalah mahluk hidup. Butuh tempat penangkaran yang baik bukan alakadarnya. Meski dari nol haruslah kamu paham resiko burung mati, sakit, terlepas, atau dicuri oleh orang, dan juga gagal beternak.

"Misalnya, induk sudah jodoh dan bertelur. Tetapi saat mengeram tidak menetas. Bisa juga sudah menetas, tiba- tiba anakan dibuang oleh induknya," ujarnya. 
 
Perlu sebuah kesabaran buat kamu menjalani prosesnya. Diperlukan kesabaran, dievaluasi kembali apa yang salah, jikalau gagal maka itu pengalaman yang nyata, yang bisa kamu ingat ketika menjalankan kembali.

4. Kisah Ibu Marni asal Samarinda


Kalau Bu Marni sama juga mau membantu sang suami. Wawan, nama suaminya memang hobi soal burung, tapi biasanya soal perlombaan jadi beda kalau mau menangkar burung. Karena merasa tidak kunjung merasa beruntung maka beralihlah menjadi penangkar kenari dan lovebird. 
 
Tiga tahun lalu, keduanya membangun satu kandang di kawasan Suryanata Air Putih, Samarinda. Usahnya tak disangka maju pesat. Dan, Wawan kwalahan untuk mengerjakanya sendiri. Dari sinilah sang istri datang ikut membantu nyemplung di bisnis penangkaran burung. 
 
Telaten sang suami mengajar Ibu Marni dari memberi minum, makan, kemudian membersihkan kandang. Memulai dari kenari dan lovebird, kedua breeder semua istri ini juga melirik cucakrowo.

Sayangnya, memiliki dua pasangan indukan cucakrowo, belum menghasilkan piyikan jadi tapi ini tak lantas menjadikan mereka menyerah. Mereka bersama tetap berusaha hingga mendapatkan piyikan cucakrowo.

Mantan Buruh Korea Berbisnis Sendiri

Profil Pengusaha Saipunawa Raepani


mantanburuh.png

Mantan buruh Korea korban krisis moneter. Dia berbisnis sendiri hingga menjadi pengusaha sukses. Ia menyebut pristiwa moneter 98 hikmah. Namanya Saipunawas Raepani. Modalnya mesin jahit lima buah dan juga pinjaman uang Rp.12 juta. 
 
Kini, dia dikenal jadi pengusaha boneka. Bahkan namanya tercatat diberbagai media masa termasuk Kontan. Seperti apakah kisahnya?
 

Berbisnis Sendiri


Hanyalah pria biasa kelahiran Bumiayu, Brebes, sekitar 45 tahun silaman dimana terlahir dari keluarga yang berkurangan. Ayahnya seorang petani dan ibunya cumalah penjahit. Makanya Saipun bisa menjadi sosok pekerja keras. 
 
Ketika kecil dirinya terbiasa hidup kekurangan. Ketika musim paceklik maka Saipun tak akan bisa membayar sekolah. Karena paceklik membuat ayahnya tak menghasilkan apa- apa.

"Kalau diomelin guru gara-gara belum bayar, saya sih ndableg saja," kenangnya.

Berbeda dengan anak- anak jaman sekarang. Sosok Saipun kecil justru malah suka namanya sekolah. Kalau dimarahi guru karena belum membayar sekolah; ia cuek. Bahkan terus berangkat ke sekolah menuntut ilmu. 
 
Ia baru berhenti ketika akan memasuki jenjang perguruan tinggi. Karena tidak bisa melanjutkan sekolah tinggi apa yang dilakukannya. Pria yang akrab dipanggil Nawas ini kemudian menceritakan lebih lanjut. Dia memilih merantau saja ke kota Surabaya. 
 
Mengadu nasib di Kota Pahlawan aneka usaha sudah dilakoninya. Yang penting halal, dari jualan mie ayam, bubur ayam, pokoknya apa- apa saja yang halal dan bisa dimakan katanya. Di tahun 1986, ia putuskan memilih pindah ke Bekas bersama kakaknya. 
 
Mulailah ia jualan ayam potong ikuti jejak kakaknya sejak 1990. Berjualan ayam potong dilakukannya saban hari di Pasar Bantargeban, Bekasi. Sayang, bisnis ayam potong sukses dijalaninya selama lima tahun itu bangkrut. 
 
Akhirnya Nawas menjadi pengangguran dan apalagi yang ia bisa lakukan. "Tapi saya di rumah enggak bisa diam," ujar Nawas. Bisnis apa saja, apa saja bisa dijualnya ya dijualnya. Semisal jualan boneka, alat elektronik, dan juga mesin jahit bekas.

"Nah, dari situlah saya mulai kenal dengan para perajin boneka. Barulah ada feeling ke sana (boneka)," tutur Nawas.

Di tahun 2000, akhirnya, dia diterima menjadi karyawan pabrik boneka di Korea. Mendapatkan ilmu disana dirasanya cukup barulah berani mandiri. Dia langsung membuka usaha sendiri. 
 
Bisnis dibawah bendera PD Dwi Putra Mandiri Toys, sayangnya, usaha patungan tersebut malah harus kandas ditengah jalan. Mungkin saja karena kekurangan modal dan masalah pribadi. Masalah tengah menguji ketekunan Nawas. 
 
Apakah ia akan berbisnis lain lagi atau memilih melanjutkan. Akhirnya ia memilih melanjutkan usaha PD Dwi Putra Mandiri Toys sendiri. Tak punya modal, beruntung, ada seorang kawan mau membantunya. Kawanya memodali Nawas Rp.12 juta ditambah lima mesin jahit ditangannya. 
 
Dari modal tersebut menghasilkan produksi 100 boneka per- hari. Dia tak sendirian bekerja, dimana dibantu lima orang mitra bersama. Usahanya tumbuh, dimana pesanannya dari 100 boneka menjadi 3000 boneka/bulan.

Rumahnya sekaligus tempat produksinya di Bantargebang Barat sudah kwalahan. Tahun 2006, ia membuka ruangan tambahan, tepat dibelakang rumahnya jadi tempat pembuatan boneka tambahan. 
 
Luas bangunannya 550 meter persegi, mempekerjakan 55 orang karyawan, dimana mulai bekerja dari 08:00- 16:00 WIB. Tempat tersebut untuk proses produksi, meliputi pemotongan kain, penjahitan pola, memasukan dakron dan finishing.

"Dengan menggunakan 18 mesin jahit, dalam sehari kami bisa memproduksi sampai 500 boneka," sebutnya.

Semangat Pengusaha


Bertambahnya permintaan akan boneka karyanya. Membuat Nawas berpikir bagaimana mendapatkan mesin jahit baru. Untuk hal tersebut diselesaikannya lewat mesin- mesin jahit bekas pabrik. Kalau ada yang jual mesin jahit masih bagus kualitasnya; ia beli. 
 
Begitu dibeli akan diserahkan langsung kepada para warga di sekitar rumahnya. Mereka adalah mitra Nawas dalam hal produksi. Mereka ikut membantu perusahaan kecil miliknya berproduksi.

"Satu orang mitra bisa sampai lima mesin dan mereka boleh mengerjakan di rumah masing-masing. Hasilnya, produksi boneka kami pada 2004 secara kumulatif bisa mencapai 2.000 buah karena yang kerja banyak," bebernnya.

Dengan hormat, Nawas selalu menyebut mereka sebagai mitra kerja bukan karyawannya. Hasilnya, berkat bantuan mitra kerjanya, perusahaan PD Dwi Putra mampu menghasilkan 8.000 boneka per- bulan. Usaha miliknya masih terus berkembang. 
 
Berkat kepandaiannya bernegosiasi penjualan produknya menyebar. Tak cuma terbatas di Bekasi, tapi sampai ke Jakarta, Samarinda, dimana omzet bisnisnya telah mencapai angka Rp.600 juta.

Cukup memanfaatkan jaringan ketika berjualan ayam dulu. Kegagal berubah menjadi kesuksesan. Kemudian kakaknya yang berdagang ayam banting stir jadi pedagang boneka. Sukses Nawas membawa kebanggan bagi keluarganya. 
 
Sambil bercanda ia menyeletuk, "Jadi, kalau dulu kami keluarga ayam, sekarang keluarga boneka." Untuk model bonekanya perusahaan ini menghasilkan 500 model. Kisaran harga perbuah cuma Rp.7000- Rp.125.000.

Jika ditanya model paling laris, maka ada pilihan boneka lumba- lumba, panda, bebek, bentuk pisang, juga bonek Spongebob. Kalau bicara paling laris maka haruslah yang mengikuti pasaran. 
 
Ia menjelaskan produk miliknya selalu mengikuti kebutuhan pasar. Mengawasi tren karakter- karakter booming seperti halnya model tokoh kartun Shoun the Sheep.

Roti Bakar Bandung Madtari Kisah Wirausaha

Biografi Pengusaha David Maidy


rotibakar.png

Roti bakar Bandung Madtari memang melegenda. Kisah wirausaha bersejarah seperti Cendol Elizabeth dan Rumah Makan Sederhana. Usahanya didirikan oleh pria bernama David Maidy. Pengusaha yang membuat kafe bernama Kafe Madtari asli Bandung.

Merupakan sebuah kafe di kawasan Dago. Mempunyai cita rasa mak nyus berkat kejunya yang banyak. Ini sudah dirintis sejak 1997 oleh Om David. Awal usahanya bermula dari bisnis kaki lima bukan mewah. Dan ketika itu ia sadar telah menemukan peluang emas. 
 

Usaha Roti Bakar

 
Pria asli Garut melihat pisang begitu bejubel di kampungnya. Pisang- pisang itu tak punya nilai jual tinggi. Dalam benaknya ada ide gila bagaimana mengolahnya menjadi sebuah bisnis. Itulah awal mula bisnis pisang bakar Madtari.

Pergi lah Om David ke Bandung bermodal Rp.6 juta ditangan. Mulailah berjualan kaki lima bernama Pisang Bakar Madtari. Kala itu, ia masih berumur 36 tahun, dari cuma berbisnis pisang bakar saja berkembang jadi kuliner lain. 
 
Seperti menyediakan aneka mie goreng, kemudian terpopuler juga yaitu roti bakarnya. Menurut Om David nama Madtari berasal dari nama orang tuanya. Agar selalu mengingat kedua orang tuanya ketika berbisnis.

Adapula kepercayaan bahwa ini akan membawa hoki. Meski terlihat sederhana pada jaman itu ceruk pasarnya mungkin masihlah luas. Om David sukses membuka usaha di kawasan Dago Plaza tahun 1997. Ketika ada penggusuran untuk pembuatan taman; Madtari juga ikut pindah ke BPRS. 
 
Kafe tempat favorit nongkrong anak muda itu lantas mengalami beberapa kali pindah tempat, dari Bank Bumi Putra, Dipatikur hingga sampai Ranggagading Dago. Masa tersulit bisnisnya menurutnya ada di empat tahun pertama sejak 1997- 2001. 
 
Empat tahun pertama ia akui menjadi hal tersulit dalam hidupnya."Empat tahun pertama itu jangan bicara soal keuntungan dulu, yang penting cukup aja buat makan dan hidup," ungkap Om David. Ia menyebut apa yang didapatnya merupakan buah kesulitannya dulu. 
 
Bicara soal rahasia sukses kafe Madtari tentu orang bisa sudah membaca. David pun mengamini hal tersebut. Harganya yang murah disebutnya menjadi faktor utama. Tapi bukan itu faktor satu- satunya menurut kami. 
 
Disisi lain soal pelayanan, tempat, dan kualitas disebutnya tak sebanding kafe lain. Meski begitu jikalau tidak punya cita rasa harga murah seberapapun percuma. Soal harga, Om David rela memangkas untungnya meski berada di tempat bersewa tinggi. 
 
Lebih murah dibanding pesaingnya di Kota Bandung. Siasatnya mengakali sewa tinggi cukup menjalankan bisnis buka 24 jam! Soal keju banyak khas Madtari, ternyata, Om David sudah mengerjakan kerja sama dengan Craft. 
 
Produsen keju tersebut istilahnya mengendors usaha miliknya. Kerja sama sejak 2007 ketika jumlah penjualan dari kafe ini sangat tinggi. Meski didukung Craft dan harganya jadi super miring, bukan berarti Craft kena imbas dari segi penjualan. 
 
Keuntungan Craft memang jadi menurun jelasannya, cuma beberapa persen saja. Hasil bagi Craft adalah brand- awareness oleh pelanggan Madtari. Meski tak memakai keju murah, meski tak diendors oleh Craft, Om David mengaku masih bisa mengambil untung. 
 
Tak lain adalah dari penjualan aneka minuman. Keuntunganya cukup besar loh menurutnya. Dalam hal pengelolaan keuangan tak menggunakan pembukuan. Oleh sebab itu dirinya tak tau pasti soal berapa ia dapat tiap harinya.
 

Kisah Wirausaha

 
Sambil bercanda Om David lalu menyebut satu bulannya bisa buat membeli Alphard. Sayang sekali memang dan dirinya sadar akan hal itu. Ia menyarankan buat kamu pengusaha baru aturlah pembukuan mu. Jangan dicontoh karena dia termasuk yang cuma beruntung. 
 
Modalnya kepercayaan dibayar kepercayaan kepada karyawannya. Dia yakin bahwa selama kita menghargai tiap keringat mereka; mereka tak akan berani macam- macam. Hal ini bisa dilihat ketika karyawannya sakit. 
 
Tak segan dirinya ikut sibuk memanggilkan dokter. Untuk marketing Madtari tak punya cara nyeleneh. Tidak ada namanya brosur atau iklan besar- besar. Modalnya adalah mulut- ke mulut, antara satu orang ke orang lainnya. 
 
Pria penghobi bikers ini juga menjelaskan buka tipikal ambisius. Dalam perjalanan baru ada tiga cabang dibuka Madtari. Dan, ketiganya tepat berada di tanah hak miliknya, ia memang memilih mencoba bermain aman yakni membeli asetnya total. 
 
Ketika itu sebenarnya tempat pertama miliknya sendiri adalah hasil sewa. Yah, mungkin belajar dari kafe utamanya yang sewanya semakin mahal. Dirinya memilih meinvestasikan apa miliknya dalam bentuk tanah. Jadi istilahnya membangun candi- candi kecil disekitar candi utamanya. 
 
Jikalau nanti canti utamanya ditengah runtuh; candi kecil dipinggiran akan menahan.

"Jadi Madtari pusat adalah candi besarnya dan ketiga cabang adalah candi kecilnya. Jika Candi besar runtuh, setidaknya masih ada candi-candi yang kecil," ungkap Om David.

Untuk kedepannya dirinya tak menutup cabang baru. Jika ditanya apakah akan diwaralabakan. Sepertinya hal itu jauh dipikirannya.

Sajak 1999 berdiri wujud Mandtari menjadi sosok usaha tak lekang oleh jaman. Kafe roti bakar sederhana ini katanya menghasilkan ratusan juta. Kalau tanya Bandung dan roti bakarnya, maka inilah pilihan utama bisa kamu kunjungi langsung. 
 
Rasa kejunya menutupi rotinya (menggunung). Menurut sang Manajer sekaligus pemilik, David Maidy, menjelaskan konsepnya masih sama tak berubah. Ia meyakini model warung kopi dimana pengunjung dinyamankan.

Namanya sebagai roti bakar rakyat belum lekang. Harganya dari Rp.5000 untuk roti biasa sampai termahal Rp.13.000 -an buat spesial. Bosan makan roti maka jawabannya ada pisang bakar. Masih tak puas bisa juga coba mie instan dan kopinya. 
 
Kalau badang meriang maka minumnya jahe kencod. Bisa menghangatkan tubuh dan mengusir penat. Ini terhitung murah kok cuma Rp.5000 sampai Rp.11.000. Fokus bisnisnya itu memang ada di pasar pelajar.

Bisnis Lampu Bambu Pengusaha Sederhana

Profil Pengusaha Roni Dwi Wijayanto


bisnislampu.png
 
Bisnis lampu bambu terinspirasi kejadian sepele. Kisah pengusaha sederhana ini kreatif dan punya rasa seni.  Inspirasi bisnis memang bisa datang dari mana saja. Kapan saja dan tentu buat siapa saja yang punya daya kreatifitas tinggi. 
 
Pria asal Desa Pehkulon, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, yang mengaku bisnisnya terinspirasi seketika. Memulai usaha sejak dua tahun silam, idenya bersumber dari dapur rumahnya. Usaha tersebut tak pernah terpikirkan sebelumnya.
 

Bisnis Sederhana


Suami wanita bernama Sunarti ini, sedang makan di dapur rumahnya yang sederhana di kampunya. Ketika ia tengah menunggu makan ditemani tungku berbahan bakar kayu. Disana lah, di rumah sederhana miliknya, yang dapurnya masih memakai bahan bakar kayu; ide muncul. 
 
Disaat  mengambil satu potong bambu untuk dimasukan ke tungku. Ada kegelisahan seketika ketika melihat si bambu tersebut. Sayang sekali kalau bambunya dibakar jadi abu pikir Roni Dwi Wijayanto. Terus bagaimana ya caranya agar bisa bermanfaat. 
 
Ia ingat betul bambu begitu melimpah di Desa Pehkulon. "Akhirnya saya mencoba membuat lampus hias," ujar Dwi.

Ditambah kreatifitas tinggi diubahnya sepotong bambu jadi lampu. Bambu yang berlimpah tapi sangat rendah nilai ekonomisnya itu; disulapnya kaya. Hasil kerajinan tangan Dwi ternyata berhasil menarik perhatian. Tak sedikit warga sekitar mau memesannya. 
 
Singkat cerita dibuatlah masal aneka lampu dari bambu. Berjalannya waktu bentuk dan ragam produk Dwi bertambah. Hasil kerajinannya ini ternyata begitu populer. Modal mengikuti aneka pameran UKM membuka satu jalan kesuksesan. 
 
"Salah satu pemasaran ya lewat pameran- pameran," imbuh pria yang cuma lulusan STM ini.

Sukses itu buat siapa saja. Seseorang apapun latar pendidikannya bisa menjadi pengusaha sukses. Dijualnya aneka lampu bambu seharga Rp.25.000 sampai Rp.250.000. Total sudah ada 10 macam model lampu yang bisa dibuat Dwi. 
 
Dalam sebulan bisnis lampu mampu mengantongi Rp.5 juta. Ayah dari Mita (5 tahun) dan Afika (10 tahun) ini tak lagi perlu kerepotan memenuhi kebutuhan sehari- hari.

Akunya, dulu, dia tak punya pekerjaan tetap hingga sering di rumah. Dia cuma nguli angkut pasir itupun kalau ada permintaan. Mimpi besar seorang Dwi sebagai pengusaha, adalah bagaimana membesarkan bisnisnya. 
 
Di desa yang bambu bahan baku utama begitu melimpah. Soal tenaga kerja tingal mempekerjakan pemuda sekitar rumah.

"Saya berharap nantinya bisa ekspor kerajinan dari bambu ini," jelasnya singkat kepada Kompas.

Untuk kendala utama ialah kurangnya peralatan. "Sedangkan kendala saat ini adalah terbatasnya peralatan," jelas pengusaha berkacamata ini.

Pengusaha Cendol Dawet Kraton Inspirasi Usaha

Profil Pengusaha Lai Moi


pengusahacendol.png

Inspirasi usaha datang ketika mencari resep kuliner. Dia pengusaha cendol dawet Kraton, berawal cari- cari minuman tradisional, resep kuno. Nanti tinggal kita praktikan atau memberikan sentohan inovasi. Ia memang tak gampang menjadi pengusaha.
 
 
Ini kisah Lai Moi, seorang wanita paruh baya, umur 54 baru memulai usahanya terinspirasi sang suami yang suka cendol. Ia tengah aktif mencoba menaikan derajat minuman ini. Ternyata orang bisa kaya berkat kuliner masa lalu. Memang Indonesia menyuguhkan aneka resep turun- temurun dari orang tua. 
 
Tinggal bagaimana kita anak muda mengemasnya. Contoh sukses pengusaha muda ya itulah Randol kepanjangan dari Raja Cendol. Kisah sukses pengusaha muda bermodal tipis. Modalnya itu cuma 13 juta -an tapi bisa sukses. 
 

Inspirasi Usaha

 
Lain halnya dengan Lai Moi karena menurut sumber Kompas, dia bukan wanita sembarangan. Sudah makan garamnya menjadi karyawan itulah dirinya. Dia, sekitar 7 tahun silam, adalah karyawan biasa di sebuah indutri garmen. Dia sama sekali belum pernah menyentuh bisnis kuliner sebelumnya. 
 
Bisnis pertama ialah bisnis garmen itu sendiri. Tepatnya dia pernah bekerja di sebuah garmen milik perusahaan asal Taiwan di Bogor. Lantas setelah jenuh memulai usaha garmennya sendiri. Usaha yang dirintis di tahun 1996, ia dan juga suaminya memutuskan membangun usaha.

Mereka bekerja di sebuah perusahaan yang sama. Akhirnya memutuskan membuka usaha garmen sendiri bersama seorang teman asal Taiwan. Empat tahun berselang selepas bisnisnya berjalan; Lai Moi memutuskan hengkang. Dia hengkang dari usahanya sendiri karena perselisihan usaha. 
 
Sukses membangun bisnis garmen membuat keduanya punya cukup uang. Mulailah sang suami, Agung Wiyono (52 tahun), berusaha sendiri yakni lewat bisnis kristal. Sayangnya, permintaan akan kristal itu tak menentu, akibatnya mereka tak mendapatkan penghasilan tetap di tiap bulannya. 
 
Padahal keduanya sudah membuka gerai di kawasan Sukasari, Bogor Timur. Permintaanya itu terbatas orang- orang tertentu yang gemar kristal. Sudah lima tahun berlalu bisnisnya masih dipertahankan. 
 
Hingga suatu ketika Lai Moi diajak sang suami menyantap es cendol. Kenapa gak membuka usaha cendol saja.

"Suami saya mendukung karena sense bisnisnya juga bilang bidang ini bakal bagus. Ini bisa jadi uang," jelas Lai Moi

Nah, kebetulan ada seorang teman memberinya resep cendol. Bukan perkara mudah ternyata mengerjakan bisnis ini. Meski terlihat sepele ternyata ada masalah juga. Dia berulang kali gagal membuat cendol. 
 
Ia cuma bermodal resep karena tidak pernah membuatnya sebelumnya. Idealisnya juga menuntunya untuk membuat bisnis sehat. Membuat cendol bebas pewarna buatan. Sukses Lai Moi selepas menggunakan daun suji jadi bahan pewarna hijaunya.
 
Cuma bermodal resep kuliner bisakah sukses. Akhirnya Lai Moi sudah bisa membuat cendolnya sendiri. Ia bermodal daun suji yang dia dapat dari pagar tetangganya. Kemudian disewanya sebuah lahan seluas 1.000 meter di Ciherang, Kabupaten Bogor, cuma buat ditanami daun suji. 
 
Awal- awalnya minuman cendolnya tak menarik pelanggan. Bahkan banya tersisa bahkan harus diminum sendiri. Atau, jika tidak ia akan membagi- bagikannya ke orang- orang gratis. Beda orang sukses dan orang gagal adalah berani menjalani prosesnya. 
 
Itulah sosok Lai Moi kembali buat usaha lagi. Orang sukses sadar harus ada harga dari sekolahnya. "Sekolah pengusaha" membawanya jauh ke apa yang belum digapainya. Usaha cendol bernama cendol Kraton tersebut tak surut. 
 
Dia punya cara sendiri buat memasarkan produknya. Ia memilih buat mengunjungi Institut Pertanian Bagor. Dicarinya informasi tentang kandungan kolesterol pada santan. Eh, ternyata kandungan kolesterol jahat tidak ada, selama santannya tak dipanaskan. 
 

Pengusaha Cendol Dawet

 
Selama santan tak memasuki proses pemanasan maka akan baik- baik saja. Untuk itulah ia memilih tak memasak santannya. Oleh karena tidak dipanaskan, sebagai hasilnya, ia memilih mencuci kelapanya dengan air panas. Selepas itu dicuci bersih barulah diperas santannya. Ia tak kunjung menyerah.

Dibantu oleh seorang karyawan mencoba menjual cendolnya lagi. Kali ini, dijualnya cendol di tempatnya berjualan kristal. Hasilnya ternyata tak membaik cuma laku 20 gelas cendol saja. Sisanya lagi- lagi diminum sendiir atau dibagikan ke tetangga. 
 
Karena hasilnya tak kunjung membaik. Sang karyawan satu- satunya memutuskan buat berhenti bekerja.

"Dia bilang, kasihan kalau usahanya enggak jalan, tetapi saya tetap harus membayar gaji bulanannya," ujar Lai Moi.

Usahanya terus dikerjakan terus- menerus. Hingga akhirnya membaik dalam perjalanannya. Cendol bernama de Kraton itu mulai mendapatkan pelanggan. Ia kemudian menawarkan cendonya ke pusat perbelanjaan di Kota Bogor. Hasilnya ternyata memuaskan. 
 
Memasuki tahun ketiga mulailah merubah konsep bisnisnya. Dia tak segan membuka konsep waralaba. Dengan modal investasi cendol Rp.6 juta sudah bisa mendapatak satu set perlengkapan dan 50 sajian pertama. 
 
Cendolnya terdiri dari rasa orisinal, nangka, durian, float, yang terbaru adalah cendol rasa jahe. Dulu cuma punya satu karyawan, kini, di rumah produksinya sudah ada 40 orang karyawan. Terdiri dari karyawan di bagian produksi, dari pembuatan sendol dan santan, kemudian masuk ke gelas kemasan.

Ia juga mewajibkan mereka mengenakan masker. Fungsinya agar mereka yang besentuhan langsung dengan si cendol menjaga higienitas. Penjualan cendol naik sampai 1000 gelas untuk wilayah Jabodetabek dan juga di Bandung. 
 
Kalau pada akhir minggu penjualan akan naik sedikit seperti dilansir oleh Surabaya Post. Soal masalah -selalu ada masalah tapi tak membuatnya jatuh. Lai Moi memang sosok pekerja keras sejak mulai bekerja di garmen.

Dia pernah bekerja berhari- hari. Bahkan sampai tak meninggalkan kantor karena mengejar target ekspor. Lain menjadi karyawan, hatinya jauh lebih gembira ketika melihat anak- anak mengantri cendolnya. 
 
Artinya hasil kerja kerasnya terbayar. Dan, membuktikan bahwa minuman tradisional masih diminati oleh anak- anak jaman sekarang. Minuman tanpa bahan kimia ini benar- benar masih disukai.

"Kan banyak anak yang suka minuman instan berbahan kimia. Saya senang bisa memberikan pilihan yang sehat untuk mereka," tuturnya.

Ia kemudian cepat menimpali, "saya juga senang bisa menyebarluaskan minuman tradisional Indonesia ini."

Kunci sukses cendol Kraton menurutnya ada di kegigihan, inovasi, serta pengendalian mutu. Karena itulah ia bahkan sudah menyiapkan diri go international. Dia sudah mempersiapkan satu gerai di luar negeri. Sudah ada seorang patner mau menawarkan cendolnya. 
 
Lai Moi salah satu sosok yang menaikan pamor kuliner ini. Kuliner tradisional ternyata bisa diolah sedemikian rupa. Melalui manajemen modern apapun produknya pasti bisa dipasarkan.

Website: www.cendoldekraton.com

Pengusaha Mantan Preman Hanya Lulusan SD

Profil Pengusaha Kaiman Jatiman


pengusahajamur.png

Dia pengusaha mantan preman. Hanya lulusan SD hidupnya sudah dilabeli gagal. Namun ternyata kunci kesuksesan melawan logika. Keberhasilan merupakan hak tiap orang di dunia. Tak selamanya hidup itu selalu susah. Ada saatnya dimana kita berada di posisi puncak. 
 
Bedangnya para pengusaha ialah mereka terbiasa gagal terus- terusan. Karena itu pula lah mereka bisa tampak menterang bergelar pengusaha. Setiap orang berhak sukses, apalagi sukses jadi pengusaha, sebut saja namanya Kaiman. Seorang pembudi daya jamur sukses menginspirasi banyak orang.
 

Pengusaha Hanya Lulusan SD


Pasalnya, pria ini bukanlah pria biasanya, karena dia adalah mantan preman. Si preman pensiun ini modalnya nol besar hingga sukses puluhan juta. Hanya lulusan SD, Kaiman cuma mentok menjadi serabutan hingga ia masuk ke dunia hitam. 
 
Dia berkisah semuanya berawal dari kejadian krisis moneter 97. Pekerjaannya saat itu hilang seketika terhempas krismon. Ayah dua anak ini sebelumnya bekerja menjadi sopir truk Surabaya- Bali.

Selepas di- PHK jadilah Kaiman masuk ke lembah durjana kriminalitas. "Dulu saya menjalani pekerjaan sing gak nggenah (tidak benar, Red)," tutur dia, sambil menghisap dalam- dalam rokok kreteknya.

Itu dulu, sekarang dirinya adalah seorang juragan jamur. Kaiman pun masih terlihat hidup dengan kesederhanaanya ketika ditemui awak media. Di tempatnya di Desa Bulu Kandang, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jatim, sosoknya tak tampak halnya seperti pengusaha sukses. 
 
Meski begitu julukan juragan jamur melekat pada dirinya. Dia sosok paham betul tentang budidaya jamur tiram putih. Padahal 15 tahun sisa hidupnya ia habiskan bekerja non- formal. Pria serabutan ini entah dapat ilmu dari mana. 
 
Dia seolah muncul tiba- tiba dari pekerja serabutan, preman, dan jadi juragan. Di umurnya yang setengah abad, ia masih betah mengenakan pakaian kerjanya, kaos oblong. Dari gaya dia berbicara ceplas- ceplos. Apa adanya nampak menunjukan tingkat pendidikannya. 
 
Namun, jika kita amati sebenarnya dia adala orang baik yang terjebak keadaan. Sukses berbisnis jamur membawanya jadi pemilik bisnis beromzet Rp.100 juta. Keuntungan bersih bisa dibawa pulang Kaiman hanya Rp.20 juta per- bulan.

Ketika menganggur membawanya ke sebuah organisasi kriminal. Bapak- ibunya sempat pusing melihat cara dia mengumpulkan uang. Kaiman pernah bekerja sebagai kepercayaan organisasi kriminal di pusat grosir terbesar di Surabaya. 
 
Kaiman sendiri tak menjelaskan rinci lebih dalam. Mencoba dikulik lebih dalam lagi, ternyata ia pernah menjadi joki kendaraan alias sopir mengangkut barang curian. "Tapi, sepertinya saya tidak cocok di pekerjaan itu," ujarnya.

"Sebab, komplotan saya selalu gagal saat beroperasi," sambungnya. Adapula pengalaman tersebut terbilang konyol. 
 
Bayangkan ketika ia dan komplotannya tengah beraksi. Ternyata pemilik kendaraan malah berilmu kebal senjata. Dia bersama teman- temannya malah lari kabur, jelasnya sambi tertawa renyah. Orang tuanya merasa sangat prihatin ketika tau apa pekerjaan anaknya. 
 
Kelakuan anak pertama dari enam bersaudara ini memang bikin geleng- geleng kepala. Memang tujuannya mulia, salah satunya, bagaimana agar bisa membiayai adik- adiknya. Melihat keadaan dari orang tuanya; Kaiman memutuskan berhenti. Dia merasa kasihan. Hanya saja selepas bisnis kriminal itu malah membuatnya bingung. 
 
"Saya malah binggung mau kerja apa," ujar Kaiman melanjutkan, kegalauannya akan hidupnya di dunia hitam, yang mulai ditinggalkan. Cuma lulusan sekolah dasar apa pekerjaan yang bisa ia kerjakan.

Pengusaha Mantan Preman

 
Bermodal nol besar sosoknya mulai meragu. Hingga, ia memutuskan mengikuti pelatihan, pria yang cuma bisa sampai sekolah dasar kelas 5 SD ini, memutuskan mencoba wirausaha saja. Modalnya sebuah ajakan untuk mengikuti pelatihan oleh PT. HM. Sampoerna.Tbk.

"Mau kerja, saya tak mungkin. Saya tidak punya ijazah karena tidak tamat SD. Maka, tak ada pilihan lain bagi saya, kecuali mengikuti pelatihan itu," ujar Kaiman.

Dijalaninya pelatihan secara intensif dan fokus, meski begitu tak ada dalam benaknya buat mempraktikan itu di kehidupan sehari- hari. Pelajaran budidaya jarum tiram itu akhirnya menjadi pilihan. Mau- tak mau ia pun mau mencoba, "pokoknya saya tidak mau menganggur. 
 
Tak ada niat menjadi pengusaha jamur," ujarnya lagi. Motivasi lain mulai tumbuh dalam benaknya yakni mengangkat derajat orang tua. Kebetulan pula, di desanya ternyata banyak limbah kayu tak terpakai.

Memulai menjadi pengusaha apa yang dilakukan Kaiman. Lewat bantuan pelatihan dari Pusat Pelatihan Kewirausahaan (PPK) Sampoerna, di tahun 2005 ia mendapatkan media tanam berupa baglog dan bibit jamur tiram sebanyak 100 buah. 
 
Adapula pendampingan insentif dari pihak mereka. "Awalnya, sering gagal. Nggak bisa dipanen. Dari nyetek seribu benih, yang jadi cuma 500 jamur tiram," tambahnya. Masalah yang pokok dalam budidayanya adalah masalah hama.

Terkontaminasinya benih oleh hama membuatnya tak mampu tumbuh. Karena sifatnya yang organik tentu ia tak bisa memberi pestisida. Sukses menghasilkan beberapa jamur masalah lain datang. Ialah masalah caranya pemasaran. 
 
Lima tahun lalu jamur tak setenar sekarang. Masih ada pikiran bahwa ini beracun tak aman buat dikonsumsi. Kaiman teguh meyakinkan masyarakat satu per- satu bermodal motor butut. Berkunjung dari satu pasar ke pasar lainnya.

Blusukan ke pasar ini guna meyakinkan jamur sehat, juga bisa diolah menjadi aneka variasi makanan. Aman buat dikonsumsi dan punya nilai gizi tinggi. Perlahan tapi pasti akhirnya bisa meyakinkan pembeli. Hingga ia bisa memenuhi permintaan 1.500 baglog. 
 
Sukses ternyata membawanya berpikir ke depan. Ada pikiran buat berekspansi. Tapi justru pikiran ini menjeratnya kepada hutang modal. Modal bisnis jualan bibit jamur juga tak membantunya. Akhirnya diagunkan lah BPKB mobil milik karabatnya. 
 
Terhitung nekat bahkan pinjamannya tak tanggung yaitu 10 juta rupiah ke bank. "Syukur, perhitungan saya tepat," lega. Dalam enam bulan dikebutnya target, ia pun bisa melunasi hutangnya tanpa jatuh tempo. 
 
Kegigihan Kaiman membuat pihak bank tak segan percaya kepadanya. Pria tak lulus SD ini kembali mendapatkan pinjaman dua kali lipat. Dua tahun berlalu, ia sudah bisa mengantongi laba bersih Rp.2 juta- Rp.2,5 juta per- bulan.

Padahal dihitung- hitung media tanamnya berisi serbuk kayu, dedak, tepung jagung, dan kalsium dibungkus plastik itu, tak lebih dari modal Rp.1000 (saat itu) dengan berat bersih 1kg. Sementara ketika dijualnya jika sudah lengkap bibit jamur bisa mencapai Rp.1.800- Rp.2250. 
 
Meski terhitung pengusaha pemula, instingnya sangatlah bagus. Mungkin ini dinamakan bakat tumbuh terlambat. Bisnisnya tokcer berkat kesadarannya itu bahwa penjualan bibit jamur lebih bagus. Tanpa mengurangi penjualan, fokusnya juga berjualan bibit, dimana sudah mencapai 80% pendapatan datang dari berjualan bibit saja. 
 
Jamur tiram sendiri tergolong tanaman cepat tumbuh. Kalau dihitung setiap dari baglognya bisa menghasilkan 1kg selama lima bulan. Barulah diganti media tanam baru. Tahun 2008, ia memberanikan diri berekspansi ke luar Jawa. 
 
Itu sudah bisa dipesan antar hingga ke Bali, NTB, sampai juga ke pulau Kalimantan. Satahun kemudian kemasannya diganti pakai styrofoam. Kemudian itu diberinya nama jamur Jatiman. Dari kemasan berubah membuat harga jamurnya naik dua kali lipat. 
 
Nama Jatiman sendiri diambil ketika dirinya mengikuti pelatihan HM. Sampoerna 2009. Singakatan dari Jamur Tiram Kaiman dari Jawa Timur. Disusul oleh jamur siap olah seharga Rp.10.000 per- kg. Sukses olah sendiri bahkan bisa mencukupi kebutuhan dari wilayah Pasuruan dan Surabaya.

Bisnis Jamur

 
Dia punya lima lumbung jamur terbuat dari gedek (anyaman bambu). Masing- masingnya seluas 50 meter per- segi atau 5 m x 10 m. Dia mampu menjual 60 ribu badlog tiap bulan atau 40 kali lipat banyaknya dari saat memulai usahanya. 
 
Keuntungan besihnya melonjak drastis yakni mencapai omzet tinggi Rp.130 juta- 150 juta atau laba bersihnya Rp.30 juta per- bulan. Dia sempat mengenyam bangku sekolah. Namun, tak sampai tamat, akhirnya cuma bisa jadi sopir dan juga preman. 
 
Untunglah petunjuk itu datang bagi manusia yang mau berubah. Kaiman adalah sosok "guru" setelah sukses berbisnis budidaya jamur. Dari mahasiswa, petani, atau mantan pemimpin perusahaan kini mendengar kisah inspirasinya. Mereka seolah tersihir kisah nyata preman pensiun ini.

Pengalaman unik pernah dilaluinya ketika baru mulai memberikan pelatihan. Pria kelahiran 1960 ini pernah didaulat jadi pembicara. Beberapa tahun silam, ia menjadi pembicara sukses, dan diberi uang transport serta uang saku 15 juta. 
 
Karena penerbangan telat, ia pun terlambat datang ke acara, semua orang sudah datang menunggu- nunggunya.

"Saat saya masuk, MC memperkenalkan diri saya sebagai dosen. Waduh, rasanya sangat malu ketika maju ke depan. Wong sekolah SD saja gak tamat, kok disebut dosen," kenangnya.

Pria berbedan kecil ini memang banyak dicari para petani jamur. Kaiman didapuk menjadi pembicara oleh Dinas UKM dan Koperasi Pemprov Jawa Timur ataupun pertanian. Kota- kota seperti Bontang dan Riau ia singgahi untuk menjadi pembicara. 
 
"Saya diajari Sampoerna untuk menjadi trainer mengenai jamur tiram. Juga sering diajak pameran. Lama-kelamaan jadi berani berbicara," ungkap dia.

Kaiman pun dikenal menekuni pengembangan bibit jamur. Dia memiliki dua jenis jamur. Ditangannya ada dua yakni bibit Formula 1 (F1). Harganya bisa mencapai Rp.150 per- botol kecil. Sementara itu ada pula bibit F2 yang dijual seharga seper- sepuluhnya. 
 
Nah, paling laris ini yang F1 dimana satu butol bisa dijadikan 60 botol kualitas F2. Untuk sesukses sekarang tak punya tujuan- tujuan khusus. Kaiman memang tipikal apa yang kita sebut pengusaha go with the flow.

Tak punya cita- cita muluk- muluk. Hidupnya cenderung sederhana dibanding apa diperolehnya sekarang. Ia memang mengandalkan intuisi. Selain itu menikmati prosesnya sebagai passion. Dia cuma mau usahanya bisa untung terus. Bisa terhindar dari masa luntang- lantung seperti dulu. 
 
Asetnya bisa dibilang tidak sedikit, ia sudah punya tiga rumah, 1 hektar tanah buat budidaya jamur, kemudian empat kendaraan umum, ada juga dua kendaraan beroda dua. Dia aktif membantu petani budidaya jamur. Kaiman rajin membantu anak muda agar tak seperti dirinya dulu. 
 
Di bisnisnya, ia mempekerjakan anak- anak yang dibilang nakal, mereka bertato dan jugalah mantan anak jalanan. "Lihat saja, semua anak buah bertato. Tapi, jangan takut, semua sudah insaf, kok," tegas dia. 
 
Ayah dari dua orang anak ini juga mempersilahkan peneliti datang. Mereka tertarik karena dia memang bukanlah pengusaha biasa.

Usaha Dimsum Pernah Dicemooh Teman

Profil Pengusaha Bayu Trisnoaji


usahadicemooh.png
 
Ia membuka usaha dimsum pernah dicemooh teman- teman. Pengusaha muda tersebut bernama Bayu Trisnoaji, pengusaha belum banyak disorot, kebetulan penulis menemukan profilnya. Sangat singkat tapi mampu menginpirasi pagi kamu. Hobinya memang menyantap dim sum. 
 
Makanya bisnisnya ya juga tentang kuliner satu ini. Bayu pun rajin berburu kuliner dim sum di semua tempat. Kalau dihitung- hitung mungkin saja sudah seluruh isi Jakarta diputarinya. Makanan khas China ini memang membuatnya ketagihan luar biasanya.

Merintis Usaha Dimsum

 
Sampai- sampai hobinya tersebut masuk ke tahap berbahaya. Bahkan sang Ibu mulai khawatir kepada anak laki- lakinya ini. Ada apa dengan dim sum? Apalagi katanya hobi makan dim sum sudah mulai mengganggu kuliahnya. 
 
Kemudian Bayu secara tersirat menjawab kekhawatiran ibunya. Dia tak lagi cuma penghobi dim sum; ia adalah pengusaha muda dim sum.

Dibuatnya hobi makan dim sum menjadi usaha menjanjikan. Sebelumnya tak lupa ia meminta ijin membuka usaha terlebih dahulu kepada ibunya.

"Karena ibu saya pintar memasak memberikan resep dim sum buatannya," jelasnya.

Modal bisnis dim sum cuma 300 ribu saja. Berbekal resep ibunya dimulailah perjalanan seorang anak muda, alumni Fisip Hubungan Internasional, memulai apa itu membuka usaha sendiri. Tak perlu berlatar belakang suka berdagang. 
 
Bayu juga tak tercatat pernah membuka usaha sebelumnya. Mengalir seperti air bermodal kemampuanya menilai masakan. Ia memulai usaha dim sum -nya pada September 2008. Modal segitu cuma menghasilkan 25 porsi dim sum siap jual. 
 
Dia pun memulainya dengan mengikuti bazar sekolah. "Pada awalnya saya menjalankan usaha saya mengikuti bazar ramadhan di sekolah al zara," kenang bayu. Cuma buat memperkenalkan produknya saja. Itu ternyata berhasil.

Pilihan mengikuti ajang bazar ternyata tepat. Di empat tersebut masyarakat beramai- ramai memborong dim sum -nya.Variasi dim sum -nya meliputi rasa ayam, wortel, beef, kepiting, cumi, hakau, dan juga ceker ayam. Berkat inilah permintaan dim sum -nya meningkat. 
 
Lebih mantapnya ternyata dim sum miliknya cuma seharga Rp.8 ribu isi 4 dim sum. Melihat pasarnya sudah terbentuk. Dia yakin menjual dari 25 porsi jadi 100 porsi per- hari. Jangan salah kisah suksesnya Bayu belum selesai. Mulailah berpikir bagaimana konstan berjualan. 
 
Dia nekat menyewa grobak buat jualan. Gerobak modal sewaan digunakannya buat berkeliling kampung. Kendala dari bisnisnya adalah panasnya matahari. Selain itu dim sum sulit jika dijual keliling layaknya bakso. Dulu mungkin bisa laku 100 porsi. 
 
Namun, saat memilih bergerobak, malah jatuh terpuruk cuma menjual 5 porsi per- hari. Saat itulah cemooh datang bertubi atas keputusannya. Dia mendapatkan cemooh dari teman- teman. Terasa berat karena mereka teman- teman dekatnya. 
 
Alasan mereka itu ya apalagi karena ia berlatar belakang S- 1. Dia sempat merasa goyah. Tapi semangat entrepreneurship itu masih membara. Bayu tak berhenti berjualan dim sum. Semangatnya masih membara optimis bahwa kelak akan ada jalannya.

Usaha Diejek Teman

 
"Melihat latar belakang pendidikan saya yang S1 banyak teman yang menyarankan saya untuk berhenti berjualan Dim Sum, namun saya tetap optimis bahwa usaha yang saya jalankan ini akan maju," ujar Bayu.

Pengalaman adalah guru yang baik. Begitupula baginya hingga akhirnya memutuskan buat berhenti berjualan berkeliling. Dia memilih berjualan di kios. Pilihan jatuh di sebuah kios sederhana. Tak besar cuma strategis buat berjualan. Kios dim sum -nya ramai dikunjungi pelanggan. 
 
Dalam satu hari, selepas berbisnis di kios, ia mampu menjual bahkan 500 porsi sehari. Kini jangan ditanya berapa omzet bayu tiap bulannya. Sukses dari dim sum membuatnya jadi jutawan.

Omzet Bayu mencapai Rp.150 juta. Ini sebuah pencapaian luar biasa. Berkat kerja keras serta rasa percaya tinggi membuatnya tetap berbisnis. Bahkan bisnisnya bisa berkembang hingga sekarang. Saat ini Bayu cuma dibantu 6 orang karyawan. 
 
Sukses Bayu menurutnya sendiri adalah karena sang bunda ternyata selalu ada. Ia selain menjadi sumber resep, ibunya juga selalu menyemangatinya meski dalam susah. Bicara strategi khusus ialah menjaga kualitas produk. Adapula pelayanan prima kepada pelanggan. 
 
Beranilah buat mengerti apa yang diinginkan pelanggan. Berkat kerja kerasnya ia kini sudah punya serangkaian aset pribadi. Meliputi 3 sepeda motor, 1 unit mobil Avanza, kemudian satu buah rumah bertingkat. 
 
"Serta saya berniat ingin membuka cabang di kota lain seperti Bandung," ungkapnya. 
 
Pengusaha muda ini sangat bersyukur karena berkat hobinya. Kini kehidupan dari keluarganya semakin membaik. Dulu keluarganya sederhana bahkan terhitung susah telah berbeda. Bentuk dari rasa syukur lainnya ialah ia mengangkat adik.

Dia mengangkat seorang pengamen cilik. Anak kecil yang sering mengamen di tempatnya itu dijadikan adik angkat. Dibiayai sekolah dan kebutuhan sehari- harinya dari keuntungan bisnisnya.

"Saya selalu tidak lupa saya dulu seperti apa sehingga sekarang menjadi seperti ini, alangkah baiknya saya mencoba membantu orang yang sangat membutuhkan," lirihnya

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba