Bisnis Yogurt Singapura Butuh Pengorbanan

Profil Pengusaha Muda James Ong


bisnis yogurt sukses

Selalu bermimpi tentang memulai bisnis sendiri butuh pengorbanan. Suatu hari, James Ong akhirnya membuka bisnis yogurt dengan outlet pertama bernama Frolick. Pengusaha muda yang berusia 26 di tahun 2008, dia bersama 3 orang mitra yang tidak lain temannya di Hwa Chong Junior College.

Mereka membiayai bisnisnya tanpa mendekati bank atau tanpa bermodal hutang apapun. Mereka berprinsip menggunakan uang sedikit mungkin, namun tetap memastikan produknya kompetitif. Bisnisnya terbilang lumaya cepat karena pasarnya luas.

Sejak pembukaan kios Frolick pertama pada Februari 2008, bisnis telah berkembang dari hanya satu kios sederhana seluas 100 meter persegi, ke lebih dari 10 kios baik di Singapura dan luar negeri. Yang terbaru, mereka telah membuka beberapa kios di Myanmar.

Bisnis lucu


James Ong (30) sendiri tidak akan menyangka bahwa keputusannya berbuah manis. Dimulai dari memutuskan berhenti bekerja sebagai konsultan manajemen resiko. Ong bersama ketiga temannya, Mr Ken Hsu Chen Kang, 28; Mr Leslie Ang, 30 and Mr Lee Yingxin, 28, mencoba berbisnis.

Ia memulai bisnisnya bermodal cuma $.100.000. Mereka telah berempat memulai dari paling bawah. Kuartet ini telah tahu satu sama lain sejak di sekolah di Hwa Chong Junior College dan tetap berteman dekat bahkan setelah berbeda universitas.

Selama bertahun-cangkir kopi dan sesi brainstorming, mereka mendiskusikan spektrum ide bisnis mulai dari penjualan teh gelembung ke mengoperasikan diskotik. Mereka akhirnya menetap di yogurt beku setelah Hsu kembali ke Singapura dari Amerika Serikat.

Dia disana melihat bagaimana permintaan yoghurt beku akan kuat bahkan terus meningkat. Yougurt tidak butuh waktu banyak untuk meyakinkan teman- temannya bahwa mereka bisa meniru konsep bisnis tersebut.

Ong menjelaskan setelah dari pembicaraan tersebut, mereka berempat mulai aktif mencari informasi segala sesuatu tentang resep yogurt terbaik. Ketika berbicara resep yogurt yang kaya, lembut seperti resepnya sekarang tidaklah mudah.

Ia menjelaskan semuanya bermula dari mencoba, gagal, dan mengulang kembali. Semuanya berulang hingga delapan bulan berlalu. Makanan ringan tersebut dibuat oleh mereka di dapur milik ibunya. Mereka berempat berharap akan menyempurnakan resep itu disana.

"Ide untuk memulai sebuah merek yogurt beku muncul terutama karena mitra saya dan saya selalu ingin memulai bisnis, kita semua dibesarkan di yami yoghurt (ironi), dan yogurt beku adalah konsep yang terbukti di luar negeri (di kedua Korea dan Amerika Serikat ).

Adapun merek "Frolick", saya kira itu selalu dalam pikiran kita bahwa apapun yang kita mulai, merek harus mewakili karakter kita," terangnya. Uang modal mereka kemudian digunakan mencari kios dan tentunya membangun merek mereka, Frolick.

Ini cukup memakan modal besar ($100.000 besar buat bisnis di Indonesia) karena mereka ingin cepat sukses. Benar saja mereka ingin mematangkan bisnisnya dalam satu tahun, bahkan berani menyewa sebuah agensi.

Mereka menyewa sebuah agensi lokal yang pernah memenangkan penghargaan, Ayslum, tujuannya membangun merek serta menciptakan promosi terbaik.

Mereka kemudian berbagi pekerjaan agar membuat semua berjalan baik. Alokasi waktu menjadi hal yang terpenting karena ia hanya bekerja bersama tiga mitranya; tanpa ada pegawai. Sebagai kepala bisnis, Ong, telah menerapkan strategi khusus yang agresif lalu ditambah sedikit keberuntungan disana.

Ia dan rekannya sepakat akan membangun outlet dimana pun hingga di seluruh penjuru Singapura. Mereka didukung keberuntungan karena outlet pertama adalah tempat paling strategis.

Keputusan terbaik ialah keputusan bekerja sama dengan agensi Ayslum jelas Ong melanjutkan. Mereka adalah sebuah perusahaan terbaik yang mampu menciptakan merek sesuai apa kepribadian mereka. Adapun itu yaitu Frolick yang penuh rasa humor, mereka mampu membangun brand milik

Ong jadi terkesan ceria. Ong pun bercanda bahwa dirinya dan rekan memang belum melewati masa puber (keluarlah sebuah tawa darinya).

Seperti sebelumnya konsep kecerian dan humor terasa ditiap kemasan Frolick. Dimana mereka menawarkan semua produk melalui cara profokatif. Sebagai contoh ketika kita menemukan salah satu kios yogurt milik mereka.

Kita akan disuguhi sebuah selogan- slogan aneh di depan outlet seperti "We stay hard longer" dan "Spankingly Good" (bahasa slang terdengar nakal). Kita, sebagai pembeli, akan juga sangat cepat menganalisa ada sesuatu di layanan mereka.

Kita akan disuguhi para pelayan muda. Mereka pelayan berumur sekitar 20 tahun ke bawah dimana masih segar, sesegar yogurt milik mereka. Terasa bagaimana? Jangan salah paham, yogurt Frolick sendiri memang dipasarkan bagi mereka di umur 14 tahun hingga 24 tahun.

Kesegaran itu menjadi pilihan utama selain humor dan kecerian warna. Hari ini Frolick melihat rentetan persaingan dari merek- mereka baru yang baru-baru ini memukul pantai Singapura, seperti Berrylite Frozen Yogurt, Oio Frozen Yogurt dan yoguru.

Tapi Ong yang melihat oleh persaingan ini, yakin bahwa yogurt milik mereka dapat menahan panas dari ini anak-anak baru di blok.

"Saran saya adalah bahwa hal itu selalu lebih baik untuk memulai bisnis dengan teman dekat. Kata kuncinya adalah "dekat". Dengan cara ini, kamu tidak akan memiliki harapan palsu satu sama lain terutama soal hal kemampuan dan komitmen," jelasnya.

Juga, menjadi teman dekat yang membuatnya lebih mudah untuk menyelesaikan konflik, dan "kita semua tahu konflik yang pasti akan terjadi!," sebuah saran dari pengusaha muda.

Perusahaan: FROLICK (JKNG LLP)
Alamat: 21 Toh Guan Road East, Toh Guan Centre #05-18 S608609
Website: Frolick.com.sg
Facebook: Frolick

Demi Membayar Hutang Gadis Cantik Menjadi Pengusaha

Profil Pengusaha Kim Su Kyung


pengusaha cantik korea
 
Demi membaya hutang ayahnya, Kim Su Kyung memilih tidak melanjutkan sekolah, dan gadis cantik korea ini memilih menjadi pengusaha. Dia mencoba membuka usaha sendiri demi membayar Rp.23 miliar. Beryukur Su Kyung sejak remaja telah memilih untuk hidup mandiri.

Umurnya 15 tahun memutuskan berhenti sekolah. Dia mulai mengerjakan aneka usaha. Demi bisa membayar hutang sebesar itu sangat sulit. Tidak mungkin bisa mengumpulkan miliaran dengan usaha biasa. Namun Su Kyung tidak mau terus- terusan berpikir langsung membuka usaha.

Pilihannya ialah bisnis toko online yang dianggap mudah. Tetapi tentu Su Kyung harus menanggung resiko bila gagal. Banyak masalah muncul bukan sekedar permasalah tidak laku. Mulai dari masalah marketing sampai mengurusi barang jualan.

Bisnis Sejak Muda


Su Kyung mencoba sembari belajar ditengah jalan. Umurnya telah 21 tahun sudah melewati aneka hambatan usaha. Dia berhasil belajar mengatur keuangan perusahaan. Alhasil Su Kyung mampu buat membayar hutang ayahnya. Bisnis yang dijalankan serius membuat Su Kyung berhenti bersekolah.

"Banyak orang mengira menjalankan bisnis online tidak terlalu sulit. Tinggal unggah foto dan orang akan membeli, tapi sebenarnya tidak mudah," ia menjelaskan.

Agar bisnis online miliknya menarik maka dibutuhkan model. Su Kyung lantas meminta bantuan teman- temannya menjadi model. Ia sendiri juga cocok menjadi model pakaian. Selanjutnya, tinggal Su Kyung menunjukan selera fashionnya, nah ini sulit karena membutuhkan rasa dan pengetahuan.

Dia mengerjakan semua tahapan sendirian. Semua dilakukan sendiri dari memilih pakaian, aksesoris, siapa modelnya, pengeditan foto dan pengiriman. Pengepakan dilakukan ia sendirian sampai segitu banyaknya. Sibuk dan repot membuat fokusnya sekolah terganggu tetapi semua menyenangkan.

Gadis cantik Korea ini sedari kecil ingin menjadi pengusaha. Meskipun merepotkan Su Kyung masih bisa bergembira. Semenjak SMA, Su Kyung senang membuat scrapbook dan mengoleksi majalah fashion. Ia bersikeras menjadi pengusaha walau mengorbankan sekolah, demi membayar hutang.

Inilah cikal bakal sang CEO pusat perbelanjaan online asal Korea Selatan, Victoria Garconne. Sedari awal, Su Kyung senang memulai usaha dan mengerjakan semua sendirian. 

"Aku juga suka memperhatikan bagaimana cara orang berpakaian," tutur dia.

Su Kyung senang menata busana dan punya mimpi menjadi desainer. Ia punya cita- cita meluncurkan merek sendiri. Su Kyung senang bila baju buatanya dipakai orang banyak. Diusia 15 tahun, tentu dia tidak mengerti apa- apa mengenai bisnis.

Sembari berjalan dia belajar mengenai semua aspek bisnis. Su Kyung mengambil banyak referensi dari berbagi sumber, mulai dari internet sampai baca- baca buku kewirausahaan. Su Kyung senang mengunjungi perpustakaan.

Demi mendapatkan modal maka ia bekerja sambilan dulu. Itu sekaligus menjadi cara belajar sembari semua berjalan. Pengetahuan akan fashion yang bersumber sedari kecil sangat membantu. Su Kyung pandai memilih pakaian dari suplier di wilayah Dongdaemun.

Ia menata semua sendiri di berbagai bergaya. Dicarinya aksesoris dan perhiasan yang cocok dipadu- padankan. Lima bulan berjalan dia mampu menghasilkan Rp.350 jutaan. Bulan berikutnya, nilainya tambah menjadi keuntungan Rp.1,1 miliar dari jualan pakaian saja.

Bertahap ia mampu melunasi hutang ayahnya tersebut. Bukan sekedar itu, Su Kyung sekarang bisa membiayai enam anggota keluarga. Dia mampu memberi mereka pekerjaan. Kunci sukses Su Kyung terletak diusianya, karena masih remaja ia mampu menyasar target seumurannya.

"...jadi aku mengerti apa yang mereka butuhkan," jelas Su Kyung. Harga dipatok juga tidak terlalu tinggi tanpa mengorbankan kualitas.

Su Kyung senang meminta feedback dan berinteraksi dengan pelanggan. Di waktu tertentu, dia akan mengadakan kumpul- kumpul dan pesta diskon. Ia senang berinteraksi dengan pelanggan mengenai fashion.

Su Kyung pernah ditagih debt collector yang banyak dan bengis itu. Tidak mudah ya perjalanan sang CEO muda. Demi membayar hutang dia kehilangan masa muda termasuk teman. Su Kyung cuma punya sedikit teman dekat. Dia bertekat harus menjadi pengusaha sukses demi masa depan.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba