Pengusaha Harus Belajar Kepemimpinan Bos XL Axiata

Profil Pengusaha Dian Siswarini


bos xl axiata

Kamu pengusaha muda harus belajar kepemimpinan. Belajarlah dari sosok bos XL Axiata bagaimana mereka dapar bertahan. Pengusaha harus belajar kepemimpinan dari Dian Siswarini. Pemimpin harus melewati jaman menghadapi tantangan. 
 
Mereka harus mampu beradaptasi perubahan dan menyelasikan masalah.  Dian telah bekerja selama 20 tahun di dunia telekomunikasi. Tahun 2006, Dian masuk sudah jaringan 2G, dan langsung tersalip 3G. Perubahaannya cepat diantara tahun 2000 -an tersebut. 
 
Masuk tahun 2000 ke atas sudah ditimpali jaringan 4G, dan yang disusul jaringan 5G memasuki 2020. Lihat perubahan tersebut begitu drastis termasuk bisnis XL. Masalah internal sempat melanda hingga membuat kepanikan. Dian tidak bekerja sendirian. 
 

Belajar Kepemimpinan

 
"Saya enggak bisa sendirian. Saya akan berhasil bila mendapatkan dukungan seluruh karyawan XL," jelasnya.

Manajemen konflik dibutuhkan setiap pemegang jabatan. Sebagai CEO, menurutnya masalah akan selalu hadir dengan keputusan. Wanita kelahiran Jawa Barat, 5 Mei 1968, mengatakan masalah harus menghasilkan keputusan yang baik.

Konflik harus terbuka dan dihadapi bersama seluruh karyawan. Ada semangat kebersamaan maka konflik akan menjadi kesempatan. Masalah yang ditutupi akan meledak suatu ketika, akan menjadi jelek dan berbahaya efeknya, alih- alih akan menghasilkan resolusi.

Dunia telekomunikasi ia contohkan dalam 3 tahun bisa basi. Satu teknologi langsung digantikan yang lain. Pengusaha teknologi baiknya belajar kepemimpinan Dian. Ia memilih mengalokasikan belanja guna mengikuti perubahaan. Pengeluaran terbesar ialah memperbaiki jaringan agar tidak ditinggal.

Investasi besar sampai 40 triliun guna pengembangan jaringan. Perjalanan tidak mudah karena kamu butuh belajar. Dunia merupakan ruang pembelajaran tidak berhenti sampai akhir hayat. Dian memulai karir dari level terbawah. Ia pernah menjadi staf engineer sampai 11 tahun hingga naik level tinggi.

Tahun 2007, dia diangkat menjadi jajaran dirut XL, yakni direktur network service. Semua karena dia pandai dalam satu bidang yakni teknik. Ia selalu bekerja dalam masalah teknikal. Dian sendiri adalah lulusan Teknik Elektro, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan langsung yakin masuk dunia ini.

"Telekomunikasi merupakan industri yang perubahannya cepat, dinamis, dan memberikan dampak yang luas," Dian menjelaskan.

Tahun 2011, dia sempat dipindahkan ke posisi digiat service, meliputi digital commerce, advertising, dan payment. Ini merupakan bisnis baru diluar core bisnis seperti layanan teks, suara, dan data khas operator jaringan.

Banyak orang menyangsikan karena dirinya perempuan. Kok bisa, ibu kan perempuan, Dian lantas menjawab karena perempuan bisa. Menjadi pemimpin selaraskan semua kepentingan. Selaraskan kepentingan para karyawan, costumer, pemegang saham, dan pemerintah.

Bagi karyawan kamu harus memberikan rasa nyaman. Layaknya rumah kedua bukan sekedar kita memberi benefit dan gaji. Perhatikan kemampuan karyawan mengembangkan diri. Doronglah mereka untuk naik, biarkan mereka memiliki karir yang baik dan naik level ke posisi berikutnya.

Paling susah ialah kepentingan pemegang saham. Istilahnya mereka telah menaruh uang, maka kasih mereka keuntungan kembali. Ini akan berhadapan dengan kepentingan costumer, dalam pelayanan, dan maunya beda- beda.

Bisnis Telekomunikasi


Beda dahulu pasti sekararang sudah sangat berbeda. Orang dulu lebih mengenal SMS, kepanjangan dari Short Message Service. Dimana bila disandingkan dengan layanan suaranya atau telephon. Kita dulu mengenalnya servic voice; tidak terlalu berbeda.

Jaman sekarang akan lebih komplek karena data banyak.  Mulai dari YouTube, file transfernya tidak sekedar menerima data tetapi visual. Kebutuhan berbeda membutuhkan data jaringan berbeda dan data beda. XL ini menjadi contoh jatuh bangunnya usaha jaringan operator di dunia.

Sudah pernah mengalami masa 3G pada 2005 peralihan. Dimana baru 30% orang memakai jaringan ini. Handphone pun masih belum berkembang masih transisi. Kita mengenal hp pada zaman feature handphone. Begitu tiga tahun belakangan malah melesat pesat tidak terbendung.

Dimana pertumbuhan handphone cepat sampai 50% lebih. Pengguna sudah memakai jaringan 3G dan diperkuat 4G. Taukah kalau kamu memakai 2G maka akan sangat lemot. Disisi provider jaringan juga sangat mahal. XL sebagai perusahaan menawarkan gebrakan harga lebih terjangkau.

Masyarakat berbondong- bondong memanfaatkan jaringan 3G. Perusahaan juga melakukan akuisisi Axiata. Perjalanan panjang beresiko karena 20% akuisisi mengalami kegagalan. Paling lama datang dari ijin pemerintah mengakuisisi Axiata.

Ini berarti memberikan jangkauan lebih luas di dalam jaringan. Proses ini meliputi integrasi network, teknologi, jalur distribusi, marketing dan costumer. Perusahaan juga mengarahkan pengembangan produk digital.

"Trust itu penting, dan juga openess.... Memberikan kesempatan karyawan untuk memberikan masukan," tuturnya kepada Beritasatu.com.

Perusahaan tidak sekedar menjual sim card. Terbukti dengan meluncurnya aplikasi mFish di Lombok, Nusa Tenggara Barat, agar nelayan lebih produktif. Ini memberikan kesempatan masyarakat lebih handal dalam teknologi.

Tahun 2006, pencapaian Xl luar biasa bahkan menempati nomor 3, dan terus sampai setengahnya nomor 2. Kemudian perusahaan dipercaya masyarakat menjadi nomor 2 di Indonesia. Dian mencoba menciptakan value, baik bagi pemegang saham, costumer, dan pemerintah itu sendiri.

Bagi pengusaha hal terberat ialah membagi waktu. Antara perusahaan dan keluarga tidak boleh jadi terbengkalai. Ketika anak- anak bersama Dian maka harus mencurahkan semua waktu. Tidak boleh berpikir soal perusahaan.

Anak- anak tau, sadar tubuhnya disini, tetapi pikiran masih terbang ke pekerjaan. Maka yang kita nanti butuhkan ialah kuantitas bukan kualitas. "Saat berada di rumah, saya fokus pekerjaan rumah, di kantor saya fokus bekerja," jelasnya. Suami harus menjadi patner bukan sekedar pemimpin di rumah.

Diposisi sekarang tidak kurang dukungan keluarga. Dari suami mendukung karir istrinya, caranya ikut menjaga anak- anak ketika ada waktu. Anak- anak pun pengertian akan perjuangan orang tua. Dia juga ditolong sang ibu, yang siap membantu menjaga mereka agar Dian dapat bekerja.

Pemilik Usaha Waroeng Steak Pengusaha

Biografi Pengusaha Jody Brotosuseno

 
jodysteak.png
 
Dialah pengusaha dibalik usaha Waroeng Steak. Biografi Jody Brotosuseno, pemilik usaha yang berani mengorbankan tenaga dan pikiran. Otaknya dituntut harus membuat terobosan baru. Wirausahawan dituntut memiliki ide- ide segar,  tak cuma berpatok apa yang tersedia di bumi Indonesia.
 
 Menjadi pengusaha dibidang kuliner butuh pembeda. Perlu identitas kuat untuk membedakan kamu dengan binsnis kuliner lain. Jika menjadi pengusaha bakso sudah umum ada disekitar, maka bagaimana jika jadi pengusaha steak. 
 
Tak perlu memanggil chef asing. Kamu cukup belajar keras untuk membuat menu itu menjadi nyata. Ini kisah pasangan Jody Brotosuseno dan Siti Hariyani. Kisah jatuh bangun membangun berbagai usaha sudah dilakoninya.
 

Pengorbanan Pengusaha

 
Peluang aneka kuliner sudah mereka coba, dari roti bakar, berjualan susu, sampai bisnis kaos partai, yang cuma musiman. Semua usaha mereka jalani tapi tak bertahan lama. Belum ketemu chemistry -nya kalo kata orang. 
 
Nah, karena wirausaha sudah mendarah daging, keduanya lantas memulai bisnis kembali. Awal kesuksesan bisnisnya baru di tahun 2000, Jody dan Anik cuma membuka usaha warungan. Bukan lah juga warung biasa keduanya membuka warung steak. 
 
Ya, makan ala barat itu mampu diolahnya jadi usaha di warung makan. Hasilnya, mengejutkan, usaha yang mengawali semuanya di teras rumah. Keduanya sepakat membuka usaha warung steak pertama di Jalan Cendrawasih 30 Demangan Yogyakarta.

Mereka mencoba sesuatu cuma bermodal jiwa entrepreneurship. Waroeng Steak n Shake, atau terkenalnya bernama WS, hanya dibangun di pekarangan rumahnya. Idenya jika steak makanan barat itu cuma untuk orang tertentu, WS mencoba menghadirkannya. 
 
Tak kan lagi jadi makanan mahal khas hotel karena WS mencoba membuat sedemikian mungkin. Jody dan Anik, keduanya telah membuat satu gebarakan baru.

Mereka mencoba menawarkan steak dan shake di warung pinggir jalan. Tak ada kesan mewak ketika kita menyambangi pusat atau cabangnya. Semua cuma bermodal 5 hotplate, 5 buah meja makan, dan sebuah ruang berdaya tampung 20 orang, kini usahanya tumbuh pesat. 
 
Usut- punya usut ternyata sosok Jodi sendiri bukanlah orang susah seperti kita akan bayangkan. Ayah Jodi, Sugondo dikenal pemilik jaringan restoran Obonk Steak dan Ribs.
 
Berlatar belakang pengusaha sukses, kaya, tak membuatnya jadi anak orang kaya manja. Justru dia sangat pekerja keras. Dia pernah berkuliah Arsitektur, Universitas Atma Jaya Yogyakarta, tapi berhenti ditengah jalan. Jadilah ia hanya berijasah SMA saja. 
 
Karena tak melanjutkan pendidikan Jodi harus putar otak untuk bekerja. Sayangnya, tak mudah bekerja dengan ijasah SMA saja. Mau- tak mau dia akhirnya memilih untuk bekerja di restoran ayahnya.

Ketika itu ia cuma bekerja menjadi pegawai biasa. Gajinya tak sanggup memenuhi kebutuhan, apalagi setelah ia memutuskan untuk menikah dengan Siti Hariani atau Aniek pada 1998. Gajinya itu dirasa tak lagi cukup. Jodi pun tak merengek meminta jabatan. 
 
Justru ia makin getol berusaha sendiri. Pertama kali usaha, ia mulai dengan berjualan aneka makanan sambil bekerja di Obonk. Awalnya ia berjualan susu segar, roti bakar, dan jus buah. Namun semua usahanya itu sia- sia ketika perlatannya banyak dicuri orang. 
 
Jodi lantas berjualan kaos partai, dimana saat itu partai membengkak dari tiga jadi 48 partai. Alhasil menjual kaos partai jadi prospek bisnis yang menguntungkan saat itu. Hasil penjualannya, akhirnya, ia bisa mengontrak rumah sendiri di kawasan Demangan, Yogyakarta.
 
Selepas pemilu, Jodi dan Anik memutar otak kembali, apalagi dengan kehadiran putra pertama mereka, Yuda Adiaksa. Akhirnya pasangan pengusaha ini memilih berbisnis steak. Tapi tak mau mencontoh bisnis milik ayahnya. Jodi memilih usaha steak warungan. 
 

Usaha Waroeng Steak

 
Usaha pertamanya dibuka di teras rumah karena tak punya modal menyewa tempat. Jodi memilih kata "waroeng" agar menegaskan apa yang dijualnya tidak mahal. Namun usaha baru itu terbentur modal dimana Jodi dan Aniek cuma punya 100.000 dikantong. 
 
Akhirnya ia menjual motor satu- satunya untuk modal. Dalam biografi Jody Brotosuseno dikatakan bahwa mereka kerjakan semua sendiri. Pertama- tama Jodi mengerjakan dapur dan melayani pembeli, sang istri bekerja sebagai kasir. 
 
Warungnya itu tak langsung sukses. Pernah dalam sehari mereka cuma menjual 30.000. Pembeli masih sepi karena memang konsep bisnisnya sangatlah baru. Siapa yang berpikir bahwa steak itu murah waktu itu. 
 
Beberapa pembeli pun ikut memberi saran agar warungnya lebih ramai. Sarannya, ia lantas membuat spanduk besar berwarna mencolok di depan warung steak -nya. Di spanduk itu dituliskan harga steak yang murah itu. Ia juga mempromosikan melalui selebaran. 
 
Dari semua usaha promosi itulah, warung milik Jodi mulai ramai, utamanya mereka dari kalangan mahasiswa dan pelajar. "Malah kami mulai kewalahan," ungkapnya. Meski sudah ramai, nyatanya, Jodi cuma punya 10 hotplate di meja. 
 
Jadilah orang- orang sampai harus mengantri untuk dilayani di mejanya. Untuk mengatasi hal itu Jodi pun mengambil hotplate dari meja. Prinsipnya habis pakai, cuci, langsung bisa digunakan lagi untuk pelanggan lain. Pelan tapi pasti Waroeng Steak mulai menambah peralatan. 
 
Ia juga merekrut pegawai untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Setahun ia telah berbisnis di Demangan, ia lantas membuka cabang. Gerai kedua tak begitu sulit dimulai. Kerabatnya mau untuk ikut menanamkan modal. Dengan konsep bagi hasil jalanlah gerai keduanya.

Pola yang sama digunakan hingga ke 8 gerai tercatat dibuka. Selanjutnya Jodi bisa mendanai sendiri gerai ke 9 dan seterusnya.
 
"Asal bisa menyesuaikan inovasi dengan kebutuhan pasar, bisa berkembang terus. Masukan pelanggan selalu kami perhatikan," tuturnya.

Masukan menjadi ciri khas WS untuk berkembang hingga sekarang. Jodi selalu bertanya apa keinginan dari mereka para pelanggan. Menu- menu baru pun disuguhkan menyesuaikan permintaan. Meski warungnya itu mengusung menu steak dan shake, Jodi masih menyediakan menu nasi. 
 
Jika biasanya kamu ketemu steak dan kentang tidak khusus untuk Waroeng Steak. Saat usahanya makin berkembang ia pun yakin memilih untuk konsentrasi dibisnisnya. Sejak 2002, ia terus fokus menambah jumlah gerai di seluruh penjuru Indonesia. 
 
Total ada 50 gerai telah ia buka di sejumlah kota. Jodi pun membuka gerai aneka makanan berbendera Festival Kuliner.  Konsep ini ia sebut sebagai konsep dimana tidak hanya ada WS, ada pula Waroeng Penyetan dan Bebaqaran serta ada delapan gerai waralaba lain. 
 
Untuk ekspansi lain, diluar bisnis kuliner, Jodi memilih membuka arena futsal. Sukses Waroeng Steak menariknya tak menerapkan konsep waralaba. Ya, tak ada waralaba Waroeng Steak, namun untuk pangsa luar negeri, Jodi memilih mewaralabakan miliknya.  
 
Wajarlah jika ia sanggup membangun bisnisnya sendiri.  Untuk satu gerai, di wilayah Yogyakarta contohnya, ia mengantongi 500 juta. Jumlah cabangnya jadi 30 gerai yang tersebar di Jakarta, Medan, Bogor, Bandung, Semarang, Malang, Solo, Palembang, Yogya, Bali dan terakhir ada di Pekanbaru. 
 
Omzetnya ya, bisa kita bayangkan, bisa mencapai miliaran rupiah. Melalui mottonya "bukan steak biasa" berfokus pada menempatkan makanan mahal jadi milik siapa saja. Di konsep ini kamu bisa membuat kuliner eklusip jadi umum. 
 
Contoh lain yaitu gerai makanan susi yang juga mulai diwaralabakan. Tak semua bisnis harus diwaralabakan juga bisa kita ambil hikmahnya dari kisah ini. Tapi menggunakan konsep waralaba kamu bisa lebih cepat. 
 
Dia hanya memanfaatkan konsep warlaba dari bisnis barunya Waroeng Penyetan dan Bebaqaran. Ini konsep bisnis bagus jika kami rasa.

Cara Membuat Produk Paten dan Aman Dijual

Artikel Bisnis: Cara Membuat Produk Paten

 
produk paten dan aman
 
Ketika ide itu muncul sejalan pula keraguan akan produk yang dihasilkan. Ada banyak pertimbangan muncul sebelum produk itu dibuat. Bicara tentang keaslian, keamanan, dan apakah produk kamu benar- benar bisa diterima pasar. 
 
Ide besar belum tentung menghasilkan sebuah produk. Bagaimana nanti kamu akan menjual produk kamu, langsung atau dilisensikan melalui waralaba, ada proses yang harus dilalui. Memang, beberapa pengusaha melewati beberapa hal, beberapa orang menyukai spontanitas.

Namun, perlu dicermati pula, ada beberapa langkah yang kamu perlu ketahui. Langkah bagaimana lampu ide itu benar- benar menjadi produk berkualitas dan terjaga. Dikutip dari entrepreneur.com, situs tentang ide- ide kreatif wirausahawan menyebut lima langkah. Cukuplah rumit jika dibaca. Kamu harus melewati lima langkah bagiamana merubah ide kamu menjadi produk, berikut langkahnya:

1. Langkah 1: Dokumentasikan


Hanya punya ide akan jadi sia- sia -tidak ada bukti bahwa kamu pemilik ide atas temuan tersebut. Tulis lah semua tentang ide kamu sebelum menjadi produk, mulai dari produk apakah itu dan bagaimana caranya. 
 
Ini adalah langkah awal mematenkan produk kamu. Jika perlu tulislah pada selembar dokumen atau mungkin jurnal pastikan kamu memiliki saksi atas dokumentasi tersebut. Dokumen atau jurnal tersebut akan menjadi satu kitab yang diturunkan dari generasi ke generasi bukan hanya omongan.

2. Langkah 2: Teliti dahulu


Kamu perlu mencari tau atau menteliti dari aspek legal hingga bisnisnya. Sebelum dipatenkan, ini dimulai dari:

a. Cari hak cipta atau paten sejenis.


Jika kamu bilang itu temuan kamu bukan berarti tidak ada yang telah mematenkan. Sebelum mematenkan itu secara resmi cobalah kunjungi situs paten seperti dgip.go.id, memastikan tak ada produk lain seperti temuan kamu. 

b. Teliti pasar kamu


Mungkin saudara kamu bilang ide bisnis kamu sangat menakjubkan, tapi apakah tetangga kamu akan beli? 
 
Ini bisa jadi masalah serius, di Amerika, lebih dari 95% paten tidak menghasilkan UANG. Daripada sibuk untuk mematenkan produk kamu, lebih baik mulai menjajaki pasar. Beberapa pengusaha sukses melakukan ini, dan ingat ada berbagai jenis paten seperti merek atau produk itu sendiri. 

3. Langkah 3: Buat prototype


Atau buatlah barang contoh terlebih dahulu untuk dikerjakan lagi. Kamu akan memastikan produk tersebut siap dipasarkan, caranya tarus semua di catatan ke dunia nyaata. Bagaimana jika gagal? 
 
Kamu pastilah akan menemukan kegagalan pada produk baru, beberapa pengusaha mengulang hingga puluhan kali. Bahkan untuk seorang Kolonel Sanders harus mengulang prototype miliknya hingga ribuan kali.

4. Langkah 4: Patenkan


Setelah lama berkutat dengan prototype yang disempurnakan. Atau, kamu telah menjual cukup banyak untuk produk baru ini, barulah patenkan. Ada dua jenis paten: paten utilitas (untuk proses atau mesin baru) atau paten desain (untuk manufaktur baru, desain ornamen yang belum ada). 
 
Kamu dapat menulis paten kemudian mengisi aplikasi sendiri, tapi jangan mengarsipkannya sendiri sampai kamu benar mendapatkan pengawasan dari orang yang profesional dibidang ini

5. Langkah 5: Buat produknya


Ya, ada beberapa yang telah terlebih dahulu menjual namun dengan patensi hal lain bisa terjadi. Kamu akan lebih luas memasarkan produk kamu tanpa perasaan was- was. Cobalah memilih waralaba atau franchise ketika produk kamu telah dipatenkan. 
 
Kamu cukup menjual kesempatan menggunakan produk kamu untuk orang lain berusaha, dan kamu dibayar dari royaltinya. enak kan? Ketika kamu hanya meroyaltikan paten kamu mungkin kamu akan hanya mendapatkan sekitar 2- 5 persen, lain hal berusaha sendiri.

Catatan: sebelum produk kamu dipatenkan anggap apa yang dihasilkan hanyalah prototype. Kita tak pernah tau apakah satu tahun lagi, dua atau lebih, produk kamu akan ditiru. Jadi, kamu harus bersiap ketika bisnis itu sudah moncer dan menghasilkan cukup biaya paten. 
 
Untuk Indonesia sendiri, biayanya memang cukup mahal dan ribet, inilah beberapa pengusaha tidak terproteksi baik produknya.

Penghasilan Triliunan Reiner Bonifasius Rahardja

Biografi Pengusaha Reiner Bonifasius Rahardja


pengusahariener.png
 
Pengusaha muda Reiner Bonifasius Rahardja mungkin belum kamu kenal. Tapi bukannya tak terkenal karena dia memiliki penghasilan triliun. Mungkin kamu kurang gaul berbicara apa bisnis anak muda kekinian. Modalnya tekat kuat khas anak muda merintis bisnis.
 
Biografi Riener Bonifasius Rahardja, sosok pengusaha muda yang sukses menembus angka setengah triliun, bukan perkara mudah baginya karena umurnya saat itu baru 26 tahun. Kisah hidupnya bisa dibilang begitu inspirasif buat dibaca. 
 
Ia terlahir dari keluarga sederhana sehingga menjadi sosok tangguh. Lahir dari keluarga sederhana memutuskan hidupnya harus lebih baik. Dia telah bertekat membiayai sendiri hidupnya sejak lulus SMA di tahun 2006. 
 

Penghasilan Triliun

 
Dulu, jauh sebelum memutuskan itu, dia adalah sosok minderan atau tidak percaya diri karena "merasa jelek". Cibiran perkatan kecut sudah makanan sehari- harinya disaat mengenyam pendidikan formal. Bahkan teman- teman sudah men- judge dirinya tak punya masa depan. 
 
Padahal masa depan baginya masihlah panjang karena baru belasan tahun. Alasannya karena sosok fisiknya enggak banget buat anak sekolah. Masa itu bobotnya mencapai 100 kg. Ia pun tak punya prestasi akademis menonjol. Dia juga bukan anak orang kaya. 
 
Siapa sangka berkat tumbuh rasa rendah diri karena di bully. Menjadikan hati pemuda kelahiran 13 Juli 1988 ini punya hati yang besar. Mudah memaafkan mareka dari masa lalunya. Rasa pahit tak membunuh karekternya ini sama sekali.

Ia selalu menggenggam semangat,"jangan takut, terus berusaha dan mencoba! Semua itu akan berubah." Itu ada dalam benaknya terus. Riener pun memutuskan menjalankan entrepreneurship.

Seorang entrepreneur menurut penjelasannya. Adalah mampu merubah apapapun bahkan merubah kotoran jadi uang. Dunia bisnis bukanlah hal baru loh. Dimulai ketika masih masa- masa Sekolah Menengah Atas ketika memutuskan untuk mandiri. 
 
Dia bahkan tak mau menerima sepeser pun uang dari orang tuanya. Tahun 2006 -an, Riener mulai menjual kartu kredit. Kemudian membagi waktunya antara berjualan dan kuliah. Tak cuma menjual kartu kredit tapi juga bekerja paruh waktu di beberapa perusahaan. 
 
Sukses berjualan tak berarti meninggalkan pendidikan loh. Semenjak memutuskan menjadi kuat. Nilai akademisnya meningkat dan bisa berkuliah hingga ke Australia. Dia harus bekerja untuk membiayai segalanya dari kuliah sampai makan. 
 
"Ya saya harus kerja sambilan di beberapa tempat. Akibatnya, sehari hanya tidur empat jam," kenangnya lagi.

Menjadi Pengusaha


Tekadnya kuat agar bisa mematahkan stigma akan dirinya. Dia dianggap banyak bicara kala sekolah. Namun terbukti dia tak cuma berbicara kosong. Tercatat bekerja di tiga perusahaan sekaligus yaitu ada perusahaan kartu kredit, broker saham, hingga jadi marketing planner buat satu perusahaan konstruksi. 
 
Dia sudah menghasilkan lebih dari 20 jutaan ketika masih berumur 20 tahun. Catatan akademisnya pun memuaskan selepas SMA. Dimana ia pernah berkuliah model distant learning atau kuliah jarak jauh di Inti Collage Indonesia. 
 
Ia mendapatkan gelar pertamanya yaitu Sarjana Business Administration dari University of Southern Queensland, Australia. Itu semuanya tidak mungkin akan diraihnya dengan mudah. Riener harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. 
 
Tiap harinya dia cuma bisa tidur 3 sampai 4 jam saja per- hari selama dua tahun.  Puncaknya ketika kesehatannya menurun dratis. Dia dinyatakan sakit batu ginjal hingga diharuskan dioperasi. Padahal umurnya baru 20 tahun, sang ayah pun jadi orang pertama menegurnya, bagi ayahnya buat apa ia sukses jika mengorbankan kesehatannya. 
 
Kalimat itulah merubah pola pikirnya jadi karyawan ke wirausaha. Dia menjadi entrepreneur muda inspiratif kita. Sadar akan ritme kerja tak sehat di perusahaan memutuskan menggunakan semua jirih payanya.

Pengusaha Reiner mengorbankan uang tabungan, membangun perusahaan sendiri di tahun 2008. Saat itu, ia memberanikan buat mendorong gerobak cireng. Mungkin buat beberapa orang memalukan dari anak kantoran jadi cuma, ah, cumalah penjual cireng keliling. 
 
Hasil kerja kerasnya kini dijadikan tepung kanji goreng (cireng). Usaha itu dinamainya Cireng Isi Kodjo. Usaha ini ternyata berbuah menjadi bisnis menjanjikan. Hanya butuh waktu satu tahun sudah menghasilkan 20 gerobak cireng.

Bisnisnya tersebar di minimerket sampai supermarket. Dimulai cuma 5 cabang didekat kawasan rumahnya jadi 20 buah setahun kemudian. Hebat tapi belum berhenti disitu. Berbekal pendidikan bisnis semasa kuliah membuatnya melek bisnis beneran. 
 
Usaha cireng digabung konsep perusahaan hingga menghasiklan apa itu difersifikasi. Riener kemudian membuka usaha rumah makan Jepang, Minori Bento Restaurant. Pemilihan tempat pun sudah diperhitungkannya matang- matang.

Usaha tersebar di kampus- kampus dan sekolah. "Puji Tuhan, dari dua usaha ini selalu ada profit, meskipun awalnya selalu gagal," ucapnya.

Tantang menjadi tak begitu beban baginya. Seolah semua sudah ada dibelakang hidupnya. Dia malahan bersyukur pernah merasa "dibully" teman. Kedua usahanya tersebut dijualnya. Semua karena ia ingin fokus mempertajam penjualan dan marketing. 
 
Nah, berkat pengalaman panjang itulah, ia bisa dipilih menjadi sosok presiden direktur perusahaan asing tahun 2010. Dia sukses meningkatkan penjualan perusahaan. Sayangnya cuma memuaskan hasratnya selama dua tahun. 
 
Ia memutuskan keluar dan maunya menjadi pengusaha kembali. Meski cuma jadi karyawan ketika itu. Dia membuktikan bisa jadi bukan karyawan biasa. Berkat pengalaman panjang di entrepreneurship membuatnya mudah masuk perusahaan besar. 
 
Perusahaan besar asal Malaysia itu menjadikan suatu catatan menarik dalam biografi Reiner Bonifasius Rahardja.

Mendirikan Perusahaan


Bekerja menjadi direktur lagi- lagi memakan waktunya. Memang menjadi pengusaha bisa lebih fleksiberl soal waktu. Sukse meningkatkan penjualan, dia dihadapkan kepada keluarga yang merasa dirinya semakin jauh dari mereka. 
 
Sibuk terus, sibuk terus, itulah hari- hari seorang Renier ketika menjabat menjadi karyawan bertitle presiden direktur.

"Orang sibuk membuang kesehatan demi mencari uang, tapi nantinya mereka sibuk membuang uang demi mengembalikan kesehatan. Menginspirasi orang bukan dengan sakit-sakitan dan tidak punya waktu untuk keluarga!" tegasnya, mengenang ketika sang ayah lagi- lagi mengingatkan.

Pemuda yang terlah merasakan serunya berkeliling 130 kota di 32 negara ini, memutuskan keluar saja dari perusahaan asing, seperti kisahkan diatas. Keingan mapan di umur 25 tahun sudah tercapai. Ia juga sudah bisa membahagiakan mereka secara materi. 
 
Tapi bukan soal waktu luang yang tak bisa dipenuhinya. Inilah mengapa dirinya memilih membuka usaha sendiri lagi.  Dari nol, Renier memilih membangun perusahaanya sendiri, yakni Reitech Solusindo tahun 2011. Usahanya begerak dibidang ekspor- impor. 
 
Total sudah menghasilkan seperempat triliun semenjak usahanya baru saja dibuka. Kunci suksesnya adalah fokus, jikalau gagal, ya harus berusaha kembali. Apa mimpi selanjutnya adalah agar bisa menginspirasi anak muda. Ia berharap bisa membuka sekolah non- formal bagi wirausahawan muda.

Lahirlah sebuah organisasi non- profit ONE (Opportunity Never Ending). Ia bersama timnya bekerja sama agar mencetak pengusaha baru. Apalagi Indonesia sendiri barulah punya pengusaha kurang dari dua persen. Padahal idealnya negara berkembang harunsya punya tujuh persen. 
 
"Maka, kami mencoba hadir membantu melahirkan generasi muda yang ingin menjadi pengusaha sukses," tekad pria ini. Bicara soal modal ternyata ia punya prinsip sendiri.

Bisnis tak selamanya butuh modal besar. Semua bisnis katanya selalu dari nol berapapun modalnya. Karena itu akan berjalan sejalannya waktu. Semua usaha bisa dimulai dari modal kecil, dan semuanya sama- sama menemui kegagalan, dimana 50 persen -nya sama- sama gagalnya. 
 
Yang membedakan ialah apakah kamu bisa merubah pola pikir sukses mu. Jangan hanya mau jadi pengusaha saja. Akan tetapi jadilah pengusaha yang sukses usahanya.

"Sukses itu sama dengan persiapan ditambah kesempatan," tegas Reiner

Riener kemudian mengingatkan. Jangalah berangan jadi motivator tapi jadilah inspirator. Buatalah kisah mu sendiri dulu. Menurutnya motivasi cuma kata- kata membuat orang mau melakukan sesuatu. Sementara itu inspirasi berasal dari pengalaman nyata. 
 
Kiprahnya di dunia entrepreneurship memang gaunya tak lah setenar sosok Merry Riana, tapi menurut penulis, kisahnya lebih inspiratif karena menggambarkan sendiri siapa saja bisa jadi pengusaha.
 
Sukses berbisnis dan berorganisasi, impianya kini bagaimana menciptakan wirausahawan dibawah 40 tahun. Sebuah gerakan sosial dimana akan mengajak 1.000 orang wirausahawan. Ini akan disatukan jadi satu dibawah Entrepreneurs Convention Under 40. 
 
Acara yang mampu mengangkat semangat wirausaha agar bisa mempercepat lahirnya pengusaha baru. Riener kemudian memberikan pesan kembali. Yakni jangan sibuk saja ber- doa saja tapi lakukan lah sesuatu.

Entri yang Diunggulkan

Biografi Jack Ma Orang Terkaya China Alibaba